Presentasi, angka kematian seseorang menurut Dr. Franklin artemus adalah 70% tergantung faktor dan penyebabnya terkadang bervariasi.
,ohh maaf lupakan author yang ngomong tadi, maklum itu hasil, Uambn kemarin punya author yang hasilnya, yah ada yang bagus, atau tidak,
Otak Author begitulah, kadang ada tajam seperti pisau asli dan ada kalanya tumpul setumpul pisau mainan.
Jika, fic saya, tak berkesan atau apalah, menurut kalian, maaf sajalah, saya hanya ingin yang terbaik.
Suka, atau tak suka sih, t itu menurutmu, oh yah author udah Fix bakal ganti ke Rate M .
Bukan chapter sekarang tapi, besok. Jika typo yah sorry, author menulis di hp, karena maklum saya gak punya komputer.(malah curhat)
.
...
.
Sekarang hari penantian yang di tunggu, untuk setiap insan manusia, yang telah cukup umur, yup! Yang bisa di bilang lebih tepatnya sbuah pernikahan. Sebuah acara sakral yang memperikat Wanita dan seorang Pria menjadi satu dalam sebuah rumah tangga.
Bahagia? Tentu saja siapa yang tak bahagia bahkan untuk pasangan yang masih muda, di mana mereka berdua akan menjadi satu, menciptakan hubungan yang dulunya hanya terpisah, kini terikat sebuah tali. Tali yang kuat dan kokoh yang tak bisa di putuskan oleh apapun, Tali Pernikahan.
Tapi, pernikahan yang bahagia ini tidak berlaku untuk seseorang. Dia adalah Erza Scarlet entah karena ada perasaan apa tapi, sedari tadi ekspresi wajahnya menunjukan leau dan banyak pikiran, bukan raut wajah bahagia dan senang.
Memang sekarang hari di mana di laksanakan pernikahan antara Erza scarlet dengan Jellal Fernadez semuanya sudah di undang termaksud dari beberapa dari Guild lain macam Sabertooth,Mermaid heel,Blue pegasus,Lamia Scale,Quatro Ceeberus Dll.
Tidak kebanyakan pesta pernikahan lainnya, pernikahan ini cukup besar, dan yang di laksanakan di gereja Katerdal. Dan saat ini kedua mempelai tengah mempersiapkan diri masing-masing.
Erza hanya menatap cermin dan melihat wajah dirinya. Di dalam kamar itu ada Mirajane,Cana,Lucy,Bisca dan Juvia.
"Hei, wajahmu kusut sekali, seperti bukan kau saja" celetuk Cana dari pintu kamar dia menenggak bir di tangannya.
Erza hanya menghela nafas"Entahlah, aku tak tau".
Mirajane merangkul pundak sahabatnya"mungkin kau hanya gugup"
"Benar, aku juga dulu seperti itu ketika menikah dengan Alzack" sambung Bisca mengelus rambut anaknya.
Erza hanya membalasnya dengan tersenyum, dia mengenakan Gaun panjang putih tanpa bagian atas dan sarung tangan, selendang putih menutup kepalanya,Rambutnya diikat dan mengenakan sanggul(a/n : maaf jika tak faham author penjelas yang buruk, dan sebisa kalian sajalah!)
Entah kenapa, pikiran Erza saat ini melayang entah kemana harusnya yang dia pikirkan adalah hari pernikahannya tapi, entah kenapa dia memikirkan seseorang tapi, dia tak mau menyebutkannya.
"Oke, tak usah ragu, kau hanya perlu percaya diri" ucap Mirajane dia menenangkan kawannya ini.
"Baik, tak seperlunya aku khawatir begini" balas Erza dia kembali tersenyum dan menghilangkan rasa pemikirannya yang terlalu berlebihan
.
.
Acara sudah di mulai semuanya berkumpul di dalam Gereja, sang mempelai pria sudah berdiri di depan Altar dan kini tengah menunggu sang mempelai Wanita yang akan berjalan ke dalam.
Semuanya sudah berada di dalam gereja tak terkecuali, dan nasib lagi beruntung karena Gildarts sudah tiba di kota, dan yang membuat Makarov lega karena sang penyihir penghancur ini bisa diam tanpa menghancurkan apapun. Dan yang kini tengah membaca majalah Dewasa.
Makarov saat ini sebagai, Master dan sekaligus Pendeta dan Perantara pernikahan ini, sebenarnya ini usulnya, karena tak mau ketinggalan Moment bahagia anak asuhnya, yang akan di lepas dan di biarkan tanpa awasannya tapi, dia menganggap Erza sebagai anaknya. Ibarat orang tua yang akan melepas anaknya ke kehidupan luar.
Pintu gereja terbuka, dan menampakan sang mempelai wanita dengan diiringi taburan bunga dan musik, Mirajane dan Lucy di belakangnya dengan iringan sebuah musik, para tamu segera berdiri dan menyambut sang mempelai wanitanya.
Kedua mempelai sudah saling berdampingan Makarov di tengah-tengahnya, Musik berhenti dan keadaan kembali membuka penutup wajah yang di kenakan Erza.
"Kau terlihat Cantik sekali" puji Jellal dia mengenakan kemeja putih dan Jas putih dengan Celana panjang, hiasan bunga mawar di dada kirinya dan sepatu slop putih.
Erza hanya blush"kau juga tak terlalu buruk"dia menatap lelaki yang akan menemani hidupnya sampai mati, dan akan jadi suaminya selamanya.
Makarov hanya tersenyum memperhatikan interaksi itu tapi, yang dia pikirkan salah satu anak asuhnya ini, karena hampir semua dari Fairy taill datang untuk melihat ini tapi, hanya dia sajalah yang tak mengikuti acara ini.
"Baik, kedua mempelai di bersiaplah" ucap Makarov dia mulai bicara tanda acara itu di mulai.
"Dengan Segala Rahmat tuhan yang maha esa, dan segala anugrah yang ada, saya berdiri di sini di hadapan dua orang ini dengan ikatan janji suci" ucap Makarov mulai bernarasi.
"Jellal Fernandez bersediakah, kamu menjadikan Erza Scarlet sebagai istrimu sehidup semati dan selalu di sampingnya tak peduli apapun suka maupun duka dan melindungi istrimu dengan segenap tenaga dan mengasihinya sepenuh hati?"
"Saya bersedia!" jawab Jellal.
"Dan Erza Scarlet dan bersediakah kamu menjadi Istri dari suamimu sehidup semati dan mendampinginya di saat suka maupun duka kau tetap di sampingnya menyayanginya dan memberinya kasih sayang?"
"Saya bersedia" jawab Erza.
"Baiklah, kalian boleh mencium pasanganmu" Makarov tersenyum dia segera mundur.
Erza dan Jellal saling bertatapan, Jellal mengeluarkan sebuah kotak dan berisi dua Cincin berhias permata dan memasukannya ke kelingking begitupun Erza melakukan cara yang sama
akhirnya bibir mereka menyatu dan berciuman, setelah beberapa menit mereka melepaskan Ciuman itu dan menatap ke depan.
Erza tersenyum terlihat semua teman-temannya bertepuk tangan dan ada pula yang menyorakinya dan beberapa dari mereka memberi salam dan ucapan Selamat.
Tapi, senyum Erza kembali redup, bukan karena pernikahannya atau apa tapi, ada salah seorang temannya yang tak melihat moment bahagianya ini.
Benar dia memang Natsu, sepanjang mata memandang dia tak melihat Dragonslayer itu, mungkin saat ini dia entah di mana tapi, ada rasa rindu ketika orang itu tak ada.
'Apa, yang kupikirkan sekarang aku sudah menjadi istri orang lain'batin Erza dia memang sekarang sudah sah jadi istrinya tapi, dia tak bisa menolak rasa khawatir terhadap pemuda berambut pink itu
Dia tau keadaan Natsu saat ini, mungkin parah dan tak bisa di bayangkan pertengkarannya waktu itu, membuat dampak yang cukup signifikan yaitu, persahabatannya
Erza hanya menghela nafas dan hanya tersenyum kembali terhadap kawan-kawannya dan tak peduli untuk masalah tadi yang dia pikirkan saat ini hanyalah masa depannya bersama pemuda yang ia cinta.
.
.
Xxxxxxxxxx
.
.
Saat ini setelah semuanya menjalani pesta pernikahan yang cukup meriah, kini kebiasaan dan ciri khas dari Fairy tail yakni, berpesta kembali di dalam Guild, hanya para anggota lah yang menikmati ini.
Tapi, yang namanya pesta pasti, tak berjalan baik ada saja keributan dan kekacauan yang di timbulkan tapi, rasanya meskipun membuat kekacauan tapi, ada sesuatu yang kurang.
"Ah, man sepertinya tampak tak seru jika tak ada naga api itu" keluh Gray dia mulai angkat suara atas tanpa kehadirannya si dragonslayer itu.
"Setuju! Tak jantan jika keributan tanpanya" celetuk Elfman dari pojok bar dia duduk di sebelah Evergreen.
"Bukannya, kau malah senang jika tak ada tanpanya?" Lucy Sweatdrop dia hafal betul kebiasaan pemuda berambut hitam ini.
"Tidak, Maksudku saat ini dia jarang sekali tampil di guild" balas Gray dia membuat alasan yang tak jelas tapi, yah dia khawatir juga.
"Benar juga tapi, tadi aku tak melihatnya ketika di pernikahan Erza tadi" celetuk Droy
"Mungkin, dia sedang misi dan belum kembali" balas Makarov dia memang mengetahui alasan yang sebenarnya mengapa anak asuhnya itu tak ada. Dan mungkin bukan waktu yang tepat.
Hanya Mirajane yang tau soal masalah itu dan Kaxus terkadang ia cuek dan tak peduli tapi, memikirkannya saja dia sudah pusing dan mungkin saat ini nasibnya masih beruntung di banding dengan Natsu.
Jika bicara soal Natsu, Gildarts lah yang merasa Khawatir dan ketika melihat gaya bicara Makarov sepertinya kakek tua itu sedang berbohong dan menyembunyikan sesuatu yang tak ia ketahui tapi, untuk saat ini dia lebih memikirkan pestanya.
.
.
Xxxxxxxxxx
.
.
Sementara ini orang yang di cari hanya berada di jalan Magnolia dia tau hari ini, acara pernikahan wanita itu. Yah wanita yang pernah menjadi cinta di hatinya tapi, itu dulu dan sekarang kini dia hanya seorang manusia biasa dia tak mau berlarut-larut dalam situasi ini tapi, bagaimana?
Selagi memikirkan cara, hal yang menyebalkan kini baginya kembali bertemu dan ia tak tau harus bagaimana tapi, Natsu tak peduli dia hanya membiarkannya saja.
"Wah, wah tak kusangka bertemu di sini pasangan muda" celetuk Natsu dia memang saat ini berpapasan dengan Jellal dan Erza.
"Seperti biasa kau berlebihan" balas Jellal menatap orang itu "tapi, memang benar sih"
"Oh, kalian dari mana? Bukankah harusnya pasangan muda melakukan itu?" tanya Natsu membuat kedua orang itu blush.
"Yeah, kita akan melakukannya" Jellal menggaruk kepalanya.
"Oh, baiklah aku pergi dulu" Natsu langsung berlari dan melewati kedua orang itu.
Sementara Erza sendiri, entah karena apa atau masalah penyebabnya, lidahnya seperti tergigit dia sulit, berbicara jangankan bicara, ketawa pun sulit, dia seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam tenggorokannya.
Dan saat dia melihat Natsu sendiri, dia sepertinya tak menyapanya, bahkan lebih tepatnya yang saat ini dia lihat sepertinya Natsumembencinya itu terlohat ketika dia mengobrol, dan tak menyapanya.
'Apa benar, kau membenciku Natsu? Tidak bisakah kita seperti dulu?'
.
.
Xxxxxxx
.
.
Malam ini hujan sangat deras sekali, di Magnolia bahkan saking derasnya orang-orang memilih dia di rumah menghangatkan diri, karena hujan itu di sertai angin dan petir yang menggelegar.
"Deras sekali" gerutu Mirajane dia memegang payungnya yang hampir terbawa angin dia saat ini terjebak hujan dan berusaha pulang.
"Kuharap Lisanna tak menunggu" Mirajane memang dari sebuah kedai dan membeli bahan makanan tapi, malangnya dia terjebak dengan hujan ini.
Mirajane berjalan terus hingga ia melihat sebuah bayangan yang tengah duduk di sebuah kursi panjang Mirajane mendekati bayangan itu dan melihat yang sebenarnya.
"Natsu?!" Mirajane shock dia melihat kondisi Natsu yang terlihat begitu buruk, posisi Natsu saat ini duduk dengan kepala menghadap ke bawah, tubuhnya sudah terlanjur basah dan membiarkannya begitu saja, hanya diam tak bergerak.
Mirajane berlari dan mendekati Dragonslayer api itu
"Natsu?" panggil Mirajane dia khawatir jelas terhadap dragonslayer itu, dia melihat ekspresi wajah Natsu yang terlihat begitu menyedihkan.
Natsu menoleh dan siapa yang memanggilnya dan melihat gadis Barmaid tengah menatapnya dengan wajah sendu.
"Mira?" Natsu shock bagaimana bisa Mirajane bera di sini"apa yang kau lakukan di sini?"
Mirajane tau Nada suara Natsu tengah sedih
"Aku sehabis berbelanja, dan sedangkan kau apa yang kau lakukan di sini di tengah hujan lagi?" tanya Mira dia tau kondisi Natsu yang saat ini tengah terpuruk.
Natsu tak mau menjawab, Mirajane mengetahui itu, Natsu tengah sakit, dia butuh sebuah dorongan. Dorongan rasa percaya diri dan semangat, dia merasa iba terhadap pemuda, dan dia ingin memarahi Erza saat ini tapi, yang dia pikirkan saat ini bagaiman membuat pemuda ini kembali ceria seperti biasa.
"Mira?" Natsu hanya kaget karena Mirajane memeluk tubuhnya.
"Aku, tak peduli apa yang kau sedihkan tapi, tolong jangan kau bertingkah seperti ini, dan itu membuatku sakit!" Mirajane mulai menangis dia tak peduli bajunya yang basah karena hujan, dia hanya ingin membuat Natsu menjadi lebih baik. Dan tak terpuruk seperti ini.
"Mira, maafkan aku jika ini membuatmu khawatir" Natsu langsung membalas pelukannya, mereka melakukan ini beberapa saat hingga melepaskannya balik.
"Ayo, ke rumahku akan kubuat makanan yang hangat" ajak Mirajane dengan senyuman
"Yeah~!" Natsu mulai berjalan tapo, tak selang beberapa lama dia langsung ambruk di tempat.
"Natsu!" Mirajane panik dia memegang tubuh Natsu yang panas, tanpa basa-basi Mirajane langsung membawa Natsu ke rumahnya secepat mungkin.
.
.
Xxxxxxxxxx
.
.
-Strauss Home
.
Saat ini kedua kakak beradik ini dengan berbeda Gender tengah menunggu seseorang kakaknya yang sedari tadi belum kembali.
"Lebat sekali hujan, kuharap Mira-nee baik-baik saja" Elfman dengan wajah khawatir dengan menatap jendela luar.
"Tenang Elf-nii chan Mira-nee baik-baik saja" Balas adik bungsunya ini yang tengah mengelus Happy, yang atas perintah Natsu untuk diam di rumah Mirajane
Brakkk!
Pintu terbuka paksa, kedua orang itu menoleh dan nyatanya orang yang di carinya tengah berada di depan pintu dengan keadaan basah tapi, dia tak sendiri karena Mirajane tengah membawa Natsu.
"Mira-nee kenapa kau basah?" tanya Lisanna agak panik.
"Apa, yang terjadi dan kenapa dengan Natsu" Happy paling panik sendiri takut sesuatu yang terjadi terhadap majikannya itu.
"Tak ada waktu untuk bertanya" Mirajane dengan nada suara tegas "Elfman cepat bawa ke kamarku dan ganti pakaiannya!"
"Siap!" Elfman langsung bergegas tanpa bertanya lagi, dia tau jika nada suara kakaknya seperti berarti sesuatu tengah terjadi.
.
.
.
Setelah semuanya beres kini Natsu tengah terbaring di kamar Mirajane. Saat ini di kepala Natsu tengah di kompres oleh air dingin, dan berbalut selimut tebal.
Kedua adiknya bertanya apa yang sebenarnya terjadi, dan Mirajane menjelaskannya sangat detail tentu saja kedua orang ini dan Exceed shock dan terkejut.
"Suhu tubuhnya sangat panas sekali" Lisanna sesekali mengecek Natsu dengan menempelkan tangannya ke kening Dragonslayer itu.
"Ya, ampun terkadang dia melakukan sesuatu yang bodoh dan merugikannya sendiri" keluh Elfman mengusap dahinya "kuharap dia segera baikan"
Setelah itu Mirajane menyuruh kedua adiknya segera tidur dan biar dirinya dan Happy yang menjaga Natsu Elfman sempat protes tapi, kakak tertuanya itu memberinya Deatglare dan membuat lelaki besar itu keduanya menurut saja.
"Ini pasti karena Erza, benarkan Mira?" Happy angkat bicara dia tau sebenarnya kenapa Natsu sampai seperti ini.
"Entahlah! Mungkin saja" balas Mirajane dia hanya menatap pemuda itu.
"Padahal Natsu tak pernah menyakitinya tapi, kenapa dia seperti itu!" Happy bersedih.
"Aku tau tapi, ini cinta Happy kau tak bisa memaksa seseorang menyukai yang tak di sukainya" bakas Mirajane meluk Exceed itu
"Memang tapi, tak bisakah dia mengerti setelah Natsu lakukan padanya? Padahal aku Natsu membuatnya bahagia tapi, dia malah tak membalasnya seperti yang Natsu lakukan" ucap Happy
"Sudah Happy waktunya tidur" perintah Mirajane dia tak mau meneruskan percakapan ini karena ini akan memperparah hubungan Natsu dengan wanita Scarlet itu.
Happy langsung tidur di samping kiri Natsu sementara Mirajane hanya menatap Natsu dia mengelus rambut pemuda itu.
Dia tau dirinya memiliki perasaan yang sama terhadap Dragonslayer itu sejak kecil tapi,dia tahan perasaan itu karena adiknya memiliki perasaan yang sama.
Tapi, pada saat Natsu memberitaukan bahwa dia hanya menganggap adik terhadap Lisanna tapi, hatinya kembali di tahan ketika Natsu memiliki rasa terhadap Erza
Tapi, setelah melihat kenyataan yang sebenarnya dia akhirnya faham akhirnya bagaimana nasib Natsu setelah melihat semua kejadian yang di alami Dragonslayer itu.
Dia tak sepenuhnya menyalahkan Erza atas itu. Tapi, dia juga tau hati seorang wanita tak bisa di paksakan atas segala sesuatu yang tak di sukainya.
Mirajane hanya dudyk, dia membenamkan kepalanya ke lengan Natsu dan langsung memeluknya
Mirajane langsung memejamkan matanya dan membiarkan rasa hangat menjulur di seluruh kembali tidur.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
Nah, maaf saat ini bukan chapter lemon tapi, namun saat ini no saya mau mencoba dan kini tengah menulis chapter lemon.
Dan auhor kasih spoiler chapter besok ada lemon bagi yang tak suka lemon skip ajah bagian lemonnya
Ingat besok chapter ada lemon saya masih belum bisa rubahin Rate karena belum ada lemon jadi Nanti saja jika sudah ada lemon
.
PM
.
RnR
