Buat yang pm saya yah terima kasih saja dan hatur nuhun atas yang di berikan jawabannya tapi, untuk refrensi saya cari sendiri dan soal kenapa saya jarang baca Novel?

Yah mungkin Novel berupa tulisan saja beda dengan komik yang ada penggambaran karakter nah, mungkin kalian atau apa yang saya maksudkan tuh, yaitu Crossover.

So, kalau nurut atau, critanya sedikit orang lain terlalu bosan apalagi, Summary yang pasaran dan mudah di tebak tapi, itu sih hak-hak mereka dan ngapain pula saya protes, gak ada kerjaan juga sih.

Untuk DxD sendiri, oke bisa di bilang kalau cukup buat ngakak juga, kalau enggak kesampingin Ecchinya, coba pikiran dapat kekuatan baru hanya dengan nyentuh p*****g perempuan dan parahnya lagi kayak tombol bel pintu di pencet bakal bunyi.

Wtf! Men, tapi ada sedikit bumbu romantisnya juga yah, itu menurut saya yang cukup menghibur dan well berharap ceritanya nanti bagus tapi, nantilah jika tak sibuk dan punya waktu.

Dan pengumuman penting Fic ini, dua chapter dari Fic ini adalah terakhir dengan kata lain tamat dan yeayyy!

Kita lanjut.

.

...

.

Hari ini adalah hari bersejarah dan bahagianya mungkin bisa di bilang adalah hari yang di tunggunya setelah hubungan dengan lelaki yang dia sayang membaik, dan dia mengandung anak lelaki itu, dan sekarang dia akan menikah dengan lelaki itu.

Lelaki yang sama, lelaki yang menjadi kawan kecilnya, selalu mandi bersama, dan paling banyak mengerjakan misi bersama, dan lelaki yang telah banyak menyelamatkan dirinya, dan siapa lagi kalau bukan Natsu.

Bicara soal Natsu, ini adalah sepuluh hari setelah Erza menyatakan dirinya Hamil dengan kata lain Empat hari lagi, acara pernikahan mereka dan sekarang pasangan ini tengah duduk di sebuah depan toko kue.

Yah, mereka mungkin mendiskusikan tentang acara pernikahan mereka yang hanya tinggal menghitung jari. Jadi, mereka saat ini sibuk dan jarang menjalankan misi. Paling juga misi kelas rendah.

"Tak, usah megah asal meriah dan kita undang-undang kawan-kawan yang lain"celetuk Natsu dia tak habis fikir bahwa wanita di depannya ini terlihat sibuk menulis sesuatu.

" tidak bisa begitu Natsu, ini acara sakral dan harus buat kesan"Erza bersihkeras dia tampaknya sibuk mengatur-ngatur jadwal.

"Bukan begitu, maksudku Erza, pernikahan itu harus di maknai dasar kasih sayang, percuma saja megah tapi, malah kelihat kesan pamer" Natsu tentu saja yang punya watak egois memang seperti itu dan membuat Erza berhenti menulis.

"Oh, itu cukup manis untukmu Natsu" Erza memeluk kepala lelaki itu dalam dadanya "baiklah, jika kau berkata seperti itu"

"Yeah baguslah" Natsu tersenyum tapi, tiba-tiba dia teringat sesuatu.

"Hei, Erza?" panggil Natsu

"Yeah!"

"Apa, kau berfikir belakangan ini, ada yang aneh dengan sikap Mira?" Natsu berbicara seperti itu.

Yah, bagi Erza sendiri memang, ada yang aneh dengan sikap bartender itu belakangan ini semenjak dia mengatakan dirinya hamil, dan terlebih seolah-olah agak menjauh diri ke yang lain.

Dan untuk Natsu, dia memang menyadarinya jauh lebih lama sebelum Erza dari raut wajah Mirajane yang terlihat sedih, dan Mirajane yang sedikit bicara kepadanya tapi, ke yang lain banyak, dan juga raut wajahnya terlihat menyimpan sesuatu yang di pendam.

"Oh, ya bagaimana kita kesana?" usul Erza.

"Kemana?" dahi Natsu berkerut

"Tentu saja ke rumah Mira idiot?" Erza mencubit hidung lelaki itu.

"Ahhh, iya tak perlu begitu" Natsu memegang hidungnya dan membuat Erza tertawa kecil. "Tapi, Nanti saja setelah ini?".

" kemana?"Erza mengangkat alis.

"Lihat saja!"

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

Natsu dan Erza berjalan terus ke rumah Mirajane mereka di perjalanan bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih. Memang kenyataanya sepasang kasih jadi, hal itu wajar saja.

Natsu di saat perjalanan langkahnya terhenti. Erza menoleh ke arah lelaki di sampingnya dengan ekspresi bingung dan ingin bertanya tapi, Natsu menyela.

"Kuharap, aku bisa seperti itu Nanti" Natsu menghela nafas lega

Erza melihat ke arah Natsu yang kenyataanya menatap sesuatu yaitu sebuah ayah yang melatih anaknya cara menendang bola dan ibunya di belakang memberi support.

"Natsu?" Erza melirik kembali ke Natsu ekspresi wajahnya bertanya-tanya.

"Yah, mungkin setelah ini ku berharap seperti dia mengajari anak sebuah sihir, sama yang selalu Igneel ajarkan padaku" Natsu hanya tersenyum dan memikirkan ke depannya.

Bagi Erza itu bisa di bilang, hal yang cukup langka baginya karena, yah kita tau ini cukup mengejutkan siapa duga Natsu punya berfikiran seperti itu dan mungkin ini cukup dewasa dan berubah bagi seorang Natsu. Mengingat lelaki itu terkenal yang urak-urakan.

"Yah, itu cukup bagus aku juga berfikir, untuk mengajari anakku" Erza hanya menatap ke depan.

"Apa, kau yakin?" Natsu bergidik dia tau cara pengajaran Erza yang di kenal brutal. Karena, dia adalah korban dari keganasaan itu "kau, tidak bermaksud mengajarinya dengan keras?"

"Tentu, tidak baka!" Erza menjitaknya dan membuat Natsu meringis "ibu macam apa yang membuat anaknya terluka!"

"Oh, maaf" Natsu mengangandeng pasangannya tapi, saat Natsu jalan Erza menahannya.

"Ada apa?" Natsu berbalik.

"Begini, begitu sampai di rumah Mira, kau turuti aku sebentar" Erza raut wajahnya terlihat serius sekarang.

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

Kini berlaih di kediaman Strauss tampak di dalamnya yang masih ada seseorang yang tampaknya tidak, terpengaruhi sibuknya pekerjaanya nanti.

Siapa lagi, kalau bukan Mirajane Strauss dia hanya duduk di kasurnya tak bergerak sedikitpun dengan tak bermaksud untuk pergi dari itu dia hanya menatap ke bawah.

Jari-jemarinya membuka lembaran buku, dia hanya tersenyum kecil dan ternyata lembaran itu adalah sebuah album foto pribadi miliknya dan banyak sekali kenangan yang terjadi di dalamnya selama ia di Fairy taill.

Tapi, yang namanya sebuah kenangan pasti ada sebuah foto kenangan Favorit yang bahkan sangat sayang jika di hancurkan tapi, foto itu bukan di album foto, melainkan di bawa bantal.

Tangan Mirajane bergerak dan mengambil sepucuk Foto favoritnya. Yaitu foto di mana ini adalah hari di mana Ulang tahun dirinya setelah dua tahun kematian palsu Lisanna.

Di mana dirinya hanya tersenyum ke depan sambil menerima hadiah bonek unicorn putih yang di berikan Natsu kepadanya yang di mana lelaki itu hanya tertawa riang.

Dia masih cukup mengingat di mana dirinya bertanya kepada Natsu alasan dia memberi boneka itu? Soalnya dia dengar dari Gildarts saat memberikan hadiah harus pas dan sesuai dengan orang yang kau beri hadiah.

Saat itu Natsu bilang dia melewati Sebuah toko boneka dan melihat Unicorn di pikir itu mirip dengan Mira rambut putih panjang dan mata biru yah, alasan yang cukup sederhana tapi, mengingat Natsu saat itu masih tidak mengerti hal tentang cinta..

Yah Mirajane hanya tertawa kecil jika mengingatnya, kalau di pikir sampai sekarang boneka itu masih awet dan bahkan masih di pakai pada saat tidur yah alasannya dia selalu hangat ketika memeluk boneka itu. Saat dia mengingat kenangannya itu.

Ada seseorang yang mengetuk pintu dia langsung turun dan membukanya seorang wanita berambut Scarlet kini berdiri di hadapannya.

"Erza?" Mirajane shock yang terlebih lagi dia sendiri tak bersama Natsu.

"Hai?" Erza menyapanya "boleh aku masuk?"

"Ahh iyah" Mirajane mempersilahkannya.

"Di mana Lisanna?" Erza langsung duduk.

"Sedang misi, kau tau? Kau ke sini bukan hanya untuk berkunjung bukan?" Mirajane hanya mengangkat alisnya.

"Yah memang" Erza hanya menghela nafas panjang "tapi, kau harus jawab jujur"

"Tentu saja, kita ini teman!" Mirajane berteriak.

Erza menghela nafas dia tau, ini sudah tidak bisa di tolerir lagi. Atau, lebih tepatnya Erza ingin menanyakan sesuatu dan tampak di wajah Scarlet itu terlihat serius.

"Katakan Mira! Apa kau menyukai Natsu bukan sebagai adik? Melainkan sebagai lawan jenis?"

Ini cukup mengejutkan bagi yang di tanya soalnya, pertanyaan Erza sudah bersifat pribadi dan tak di ketahui hal layak. Dan yang membuat Erza bertanya demikian adalah cuma satu yaitu Natsu sendiri.

"Apa, maksudmu? Aku hanya menganggapnya adik" Mirajane hanya kelabakan dan gugup.

"Jujur saja, kau tau tak bisa menyembunyikannya" Erza berbicara serius.

Mirajane hanya memegang roknya erat-erat dia tau sudah tak bisa berbohong lagi dan yah memang benar dia memiliki rasa pada pemuda itu dan tampak butiran air keluar dari mata gadis barmaid itu.

"Yah, aku menyukai Natsu tidak! Lebih tepatnya mencintainya aku tau yang kulakukan ini salah tapi, pada saat kalian berhubungan kembali itu cukup membuat hatiku sakit tapi, kalau aku merebutnya darimu mungkin persahabatan kita berakhir dan aku tak mau itu terjadi maka dari itu aku mengalah saja" Mirajane menangis sejadi-jadinya tak peduli jika ada orang lain mendengar.

Erza akhirnya mendapat jawaban yang pasti dan jelas dugaannya selama ini jelas dan alasannya mungkin dia juga bisa memahami jika dirinya berada di posisi wanita itu tapi, melihat kejadian ini dia tak tau harus bagaimana.

"Jadi, begitu" Erza menghela nafas.

"Maaf, jika itu mengganggumu dan mohon maafkan aku" Mirajane hanya menutup matanya berusaha menghentikan tangisannya walaupun tak bisa.

"Tak, apa aku senang kau mendengarnya" Erza menoleh ke pintu "kau bisa masuk sekarang Natsu!"

Mirajane shock mendengar ini dia melihat ke pintu di mana Natsu yang tengah berdiri di depan pintu. Dengan kata lain dia mendengar suara hatinya sendiri. Dan Natsu hanya duduk di samping Mirajane.

"Jadi, itu benar yang kau katakan?" Natsu melihat Mirajane yang membuang muka.

Mirajane hanya tak menjawab dia sedari tadi mengalihkan pandangannya dia tau bahwa Natsu tengah menanyainya dan cara yang terbaik adalah menyuekinya

!

Mirajane merasakan sesuatu yang hangat dia melihat Natsu melingkarkan tangannya ke tubuh wanita itu Mirajane hanya diam membisu dia membiarkan ini begitu saja.

"Kalau, tak terus terang malah akan menyakitimu" Natsu membenamkan kepalanya ke pundak gadis Barmaid.

"Kau, yang bodoh! Kau tak mengerti!" Mirajane hanya berteriak raut di matanya memerah karena banyak mengeluarkan air mata.

"Maaf, kalau aku menyakitimu" Natsu mempererat pelukannya dan tak pernah lepas dia tau ini dari Gildarts.

"Baiklah tapi, dengan satu hal" Mirajane berbalik dengan berkedip genit "tapi, aku ada permintaan?"

"Apa itu?" tanya Natsu.

"Cium aku!" Mirajane berdecak genit menunjuk bibir.

"Apa! Tunggu dulu bagaimana bisa kau!" Erza yang kali ini emosi yah bagaimana tidak? Soalnya lelakinya harus bercium wanita lain di depannya.

"Oh, ayolah! Hanya kali ini saja!" Mirajane mode mata anak anjing saat ini ke dalam mode manja dan keras kepala.

Untuk Natsu dia yang tak meminta izin dahulu langsung merangkul kepala wanita berambut putih dan mencium bibir dan Mirajane dia merangkul kepala lelaki itu dan menciukmnya balik dan Erza mendengus dan beralih ke arah lain.

"Puas?" Natsu melepaskan ciumannya

"Yah, tentu saja" Mirajane bersuara tapi, kembali ke mode puppy Eyes "tapi, jika anakmu lahir? Bolehkah aku ikut merawatnya?!"

Mendengar pernyataan Mirajane reaksi dua orang itu berbeda Natsu menepuk dahinya keras-keras sedangkan Erza hanya pokerface

"Yah yah!

" yayyyy!"

.

..xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

Empat hari berselang setelah kejadian waktu itu hari yang di tunggu telah tiba yaitu pernikahan yah sebenarnya bagi Erza ini pernikahan kedua kalinya jadi, dia biasa saja dan bagi Natsu ini memang untuk pertama kalinya jadi, yah sekarang dia gugup.

"Heh, kau beruntung kepala api, bisa menikahinya" Gray melipat tangannya dan kembali telanjang.

"Apa maksudmu?" Natsu mendelik tajam "dan sebelum bicara pakai bajumu!"

"Woahhh! Kapan ini terjadi lagi" Gray berlari keluar mencari pakaian.

"Jadi, bagaimana perasaanmu tuan !" Gajeel menyeringai dan merangkul sahabatnya.

"Yah, agak gugup juga sih dan belum terbiasa" Natsu hanya garuk-garuk kepala.

"Kupikir itu hal wajar mengingat kau baru pertama kalinya" Laxus hanya melipatkan tangannya.

"Menikah adalah hal jantan!" teriak Elfman mengangkat tangan.

"Hei, kau juga harus menyusul setelah ini" celetuk Laxus ke pemuda itu.

"Yeah, jika jantan kau juga harus menikah" Gajeel meniru gaya Elfman

Dan sekarang kembali di mana ruang pengantin wanita berada yah, Erza hanya menatap cermin dengan tersenyum senang.

"Hoho! Pengantin muda, ini adalah hari bersejarah bukan?" Cana hanya menggodanya.

"Begitulah" Erza membalasnya dengan pipi panas.

"Hei, tak usah grogi begitu, seperti bukan kau saja" Mirajane tersenyum menggoda.

"Ahh, sepertinya beberapa dari kita akan menyusul nanti" Lucy penuh harap.

"Siapa juga, yang mau orang aneh sepertimu" Happy meledeknya.

"Diam, kau! Kucing sialan!" teriak Lucy.

Hari itu semuanya telah tiba yaitu pernikahan Natsu berdiri di depan Altar dia mengenakan jas hitam motif garis merah dan topi hitam dan celana panjang hitam di sampingnya pak pendeta.

"Dia, cantik!" Natsu tertegun melihat Erza yah memang dengan pakaian biasanya dia cantik tapi, ini bisa di bilang wow baginya.

Erza mengenakan gaun putih panjang dengan bagian atas terbuka dan sarung tangan putih sebuah bunga mawar ia pegang dan sebuah penutup wajah. Erza berhenti ketika di depan Natsu.

"Kau terlihat cantik juga" puji Natsu.

"Kau pun sama, tidak terlalu buruk" Erza mode tsunder pengalaman langka bagi Natsu melihatnya pendeta itu membuka sebuah buku

"Dalam sakit dan sehat dalam kaya maupun miskin berjalan bersama-sama hingga maut memisahkan kita apa kalian bersumpah mencintai satu sama lain?"

"Yah, aku mencintainya juga sampai kapanpun" jawab Natsu dia membuka penutup kepala Erza.

"Aku pun mencintainya lebih dari apapun" balas Erza tersenyum

"Dan sekarang kalian boleh mencium pasanganmu" pendeta itu mundur.

Erza menatap Natsu lekat-lekat dia merangkul kepala suaminya dan menciumnya Natsu hanya menerima itu dan semuanya langsung bersorak dan bertepuk tangan semeriah mungkin.

"Uwohhhh! Natsu! Tunggu! Sampai Gildarts melihat ini dan membuatnya bangga!" Makarov menangis terharu melihatnya.

"Master tenanglah!" Macao menghentikan kakek tua itu.

"Sebelum itu bersihkan ingusmu" Romeo mengerang jijik.

"Selamat Erza-san Natsu-san" Wendy bertepuk tangan.

Erza dan Natsu hanya berbalik mereka tersenyum dan langsung melemparkan karangan bunga itu dan berhasil di tangkap Elfman dan Evergreen.

"Sepertinya bakal ada pasangan baru" Levy senyum menggoda.

"Aku tak sabar jadi bibi" Mirajane matanya berkilat-kilat

"Mereka menyukai benar?" Bixlow menjulur lidahnya

"Benar!"

"Benar!"

"Benar!"

Dan setelah itu Evergreen langsung mengejar orang yang meledekanya dengan wajah merah dan semuanya tertawa lebar melihat itu.

Hari pernikah itu berakhir dan bahagia semua itu terlihat dari wajah mereka semua terutama kedua pasangan yang menikah dan setelah ini mereka akan menjalani hidup mereka menjadi satu yaitu.

Keluarga.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

Well ini chapter akhir dengan kata lain chapter besok adalah epilogue dan kata penutup buat kalian semua dan sorry gak bisa nambahin lemon lagi, karena udah ada di chapter lalu.

Dan saya ucapkan terima kasih dan saya rencana buat publish fic baru nanti, tetap Stay yah.

Pm

.

RnR