Senandung lembut Hinata mengudara di pagi hari yang dingin. Jemari mungil sibuk berkutat di balik konter dapur dengan cekatan. Neji tersenyum, kemudian duduk manis menggeser kursi meja makan. Hinata menoleh.

"Pagi, Hinata."

Hinata mengangguk sembari memasang wajah binggung, "dimana nee-san?"

"A-ahh Tenten?" Neji gelagapan sesaat, tak lebih dari dua detik untuk kemudian kembali dalam ekspresi biasanya. "Kurasa ia kelelahan."

"Hmm, apa ia sakit. Aku akan mengantarkan sarapannya," katanya terdengar khawatir.

"Tidak perlu. Maksudku, biar nii-san saja yang akan mengantarkannya nanti." Neji berucap dengan pengendalian penuh.

Hinata tidak bertanya lagi, walau dalam hati ia bertanya-tanya apa yang membuat kakak iparnya itu kelelahan, sedangkan Tenten seharian ada di rumah.

Hinata menaruh secangkir kopi yang baru saja di buatnya di hadapan Neji yang sedang mengoleskan selai kacang pada rotinya.

Tiba-tiba pintu kamar utama menjeblak terbuka. Suara gaduhnya membuat dua pasang mata bulan melirik heran. "Ah, gomen Hinata. Seharusnya aku membantumu menyiapkan sarapannya," kata Tenten pelan, ia merasa bersalah juga membuat adik iparnya itu kerepotan di hari pertama gadis itu tinggal bersama dengannya.

"Tak apa. Aku tak merasa kerepotan." Hinata tersenyum maklum lalu memandang cemas, "apa nee-san sudah baikan?"

Tenten tampak binggung, sejurus kemudian memandang sengit suaminya yang sedang asyik dengan roti dan selai. Neji melirik takut-takut, manik coklat Tenten jelas mengisyaratkan apa-yang-kau-katakan-pada-Hinata. Juga tatapan tajam yang berarti awas-kalau-kau-bicara-macam-macam.

Dan telepati sepasang suami istri itu terus berlangsung, mengabaikan Hinata yang menatap keduanya tidak mengeti dari seberang meja.

Hinata harus menyesuaikan diri. Kemarin, tepat setelah insiden 'hampir ditilang'nya, Neji memaksanya untuk tinggal bersama lagi. Kakak sepupunya itu bahkan menyapu bersih semua barang di kost-annya untuk dipindahkan kemari. Sebenarnya tidak masalah sih, tapi sekarang keadaannya tidak sama lagi seperti dulu. Hinata merasa canggung berada di antara kemesraan pengantin baru yang resmi sebulan lalu itu. Ia seperti pengganggu saja.

Hinata tidak tahu bahwasanya Neji telah memulai 'permainannya' dengan sang Uzumaki.

"Hinata. Kau,,, membawa bekal?" tanya Neji mengalihkan topik telepatinya. Ia menatap heran Hinata, tidak biasanya adik sepupunya itu membawa bekal.

Kali ini Hinata yang gelagapan.

"Apa yang salah dari membawa bekal Neji. Kau terlalu paranoid." Tenten lebih dulu menjawab, tanpa sadar menyelamatkan Hinata yang sedang memikirkan seribu satu alasan.

Neji memicingkan bulannya saat Hinata tersenyum sembari menatap kotak bekal berisi bento buatannya.

Sekuel:Hatiku Ditilang Polisi Ganteng © NaouraIda

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: AU, Typos, Abal, Aneh, OOC, NaruHina.

Just for fun

Don't like? Don't read

.

~o0o~

.

Naruto melirik cemas jam tangannya. Kalut hebat melanda hatinya. Berdetak kencang pacu jantungnya. Ini bisa di bilang pertemuan keduanya dengan Hinata. Tolong jangan hitung yang kemarin itu, karena Naruto tak suka jika ada pengganggu.

Mereka sudah berjanji akan bertemu di taman kota dekat dengan pos jaganya. Naruto memanfaatkan waktu istirahatnya yang singkat. Sedangkan Hinata mendapat 'rezeki' karena dosennya mendadak tak bisa hadir, sehingga jam masuknya diundur. Kemudian terciptalah janji temu secara mendadak.

Naruto tersenyum lega saat saphirenya memantulkan bayang Hinata yang menghampirinya dengan mengendarai sepeda motornya yang lucu. Dengan anggun Hinata menghampiri Naruto lalu tersenyum lembut, mencoba menutupi gugup yang bergemuruh.

Hening mendominasi selama beberapa menit awal, keduanya sibuk mewarnai pipi.

"Apa Neji tahu kau kesini?" kata Naruto memutus canggung.

Hinata menggeleng, Neji nii-sannya mungkin mengira ia sudah berangkat kuliah.

"Hinata!" lantun Naruto lembut.

Hinata menoleh dengan mata bulan yang menatap antusias, Naruto mendadak gugup sebelum menguasai dirinya.

"Ah kau tahu Hinata, aku memiliki peliharaan. Yah, semacam hewan pemburu." Err, apa ini topik yang wajar dibicarakan saat seseorang bertemu dengan pujaan hatinya? Ternyata seorang yang pandai bersilat lidah ini bisa gugup juga.

Hinata diam mendengarkan, seorang polisi tentu wajar jika memiliki anjing pelacak bukan? "Umm, pasti anjing Naruto-kun sangat hebat dalam berburu," tanggapnya pelan.

"Eh, anjing? Aku tidak bilang anjing ttebayou."

Hinata terkesiap, ternyata polisi muda ini bisa bertingkah kekanakan juga, apa memang sifat sebenarnya seperti itu? "La-lalu apa?"

"Kucing, aku memiliki kucing. Namanya Kucing Merah Manja tapi aku biasa memanggilnya kurama."

Hinata berkedip lucu, kurama sama dengan kucing merah manja? Hinata tertawa sembari menutup mulut dengan tangan mungilnya.

Naruto tersipu melihatnya, tawa itu tampak sangat tulus dimatanya. "Kau pasti menyukainya, dia pemburu tikus yang hebat," katanya sembari tersenyum membuat Hinata mengangguk senang.

"Apa yang kau bawa, Hinata?!" Biru menangkap kotak berbungkus kain di tangan Hinata. Ia sudah penasaran sejak tadi.

"A-aku baru saja membuat bento. Jika Naruto-kun mau, kau bisa mencobanya." Hinata tak bisa jujur jika bekal itu dibuatkan khusus untuk Naruto

"Tentu saja, aku mau ttebayou!"

Sang gadis membuka kotak belalnya hingga Naruto dapat mencium aroma lezat menggelitik penciumannya. Ia beruntung mendapat (calon) istri yang pintar memasak.

Tapi sebelum Naruto sempat mencicipinya, Neji datang, berdiri dua meter di hadapannya dengan tatapan menantang. Mengirim sorot persaingan, tanda pertarungan mereka dimulai.

Naurto yang tak pernah menolak tantangan seketika bangkit berdiri. Sang pirang menggulung lengan baju seragam dinasnya hingga siku, sedang Neji masih berdiri tegak. Naruto akan berjuang untuk mendapatkan Hinata, meski jalan terjal harus dilewati.

Hinata menatap cemas keduanya. Angin pagi yang lembut meniup pelan helai indigonya, membuatnya melambai, bagai tanda dimulainya perang antara dua lelaki yang dicintainya.

Naruto memasang kuda-kuda saat Neji melambaikan tangan kanannya. Naruto menatap heran, sedetik kemudian saphirenya membola lantas segera berbalik pergi dengan jurus langkah seribu.

Di belakangnya sepasukan murid akademi kepolisian mengejarnya dengan membabi-buta.

"GRROOOAAAAAA." Kumpulan kepala cepak itu berteriak ganas.

"Hooyy, aku ini senior kalian! Kenapa kalian mengejarkuuu?"

Para pengguna jalan yang kebetulan lewat tersenyum bangga. Para polisi memang seharusnya menjadi contoh yang baik bagi para sipil, dari hal kecil sekalipun. Dan lari pagi dengan semangat masa muda juga termasuk di dalamnya kan?

Neji menyeringai kejam. Ini baru permulaan Uzumaki, batinnya keji

Sedang Hinata hanya bisa berdoa dalam hati. "Na-naruto-kun."

.

.

.

To be Continued

.

.

.

Err, semakin absurd ya? Hehe, tolong abaikan ketidaksinambungan panggilan dengan sufiix khas jepang dengan setiing yang membuatmu teringat negara tercintahh...

Peringatan: selanjutnya akan tambah absurd.

Semoga tetap maniss~

Terimakasih untuk semua yang sudah merespon fic ini, review kalian penyemangatku~ Gomen ga bisa sebutin satu-satu.

.

.

.

Omake

Naruto berjalan lesu menuju pos jaganya yang disambut wajah bangun tidur Shikamaru. Ia meringis nyeri karena wajahnya kini lebih bewarna.

"Apa kau baru saja menangkap pencuri?"

Naruto mendengus. "Lebih tepatnya mungkin dikejar antek-antek pencuri?" jawabnya kesal. Ya, pria katarak itu pencuri Hinatanya kan?

"Mendokusai," gumannya. Dengan tampang malas Shikamaru memberikan bungkusan kain bewarna biru. Naruto memandangnya bingung.

"Si Hyuuga incaranmu itu dengan lancangnya memangunkanku hanya untuk menitipkan benda ini untukmu," jelas Shikamaru. "Mendokusai, dia bahkan menolak untuk masuk ke pos, dan memaksaku untuk menggambil benda itu dengan menghampirinya. Sebenarnya siapa yang butuh bantuan disini," gerutunya kesal namun tidak bisa menyembunyikan seringainya.

Naruto berbinar dengan mata berkaca. Ah, Hinata memang (calon) istri yang pengertian.