Tenten memandang khawatir adik iparnya yang melamun di depan balkon kamarnya. Sudah tiga hari Hinata tidak seceria biasanya. Ya, Hinata memang bukan orang yang ceria, mungkin lebih tepat dideskripsikan dengan anggun, cantik, sopan, seperti itulah. Tapi kini Tenten lebih merasakan aura suram yang mendominasi sang pemilik surai indigo.
Tenten mengutuk Neji atas perubahan yang terjadi pada Hinata. Pasalnya, sikap murung Hinata bertepatan dengan disitanya ponsel sang adik ipar oleh suaminya. Neji memang keterlaluan, bagaimanapun mahasiswa macam Hinata pasti membutuhkan alat komunikasi mungil itu bukan?
Mendadak, kucing dengan bulu jingga kemerahan baru saja naik memanjat balkon kamar Hinata yang berada di lantai dua. Tenten dapat melihat Hinata yang tersenyum manis bagai menyambut kedatangan mahluk mungil berbulu itu. Manik coklatnya membulat kala mendapati sang adik ipar berbicara pada seekor kucing.
Tenten mengucek matanya pelan. Ya ampun Hinata berbicara pada hewan! Tenten merinding ngeri. Hinata pasti sudah terlalu stres menghadapi keoverprotectivan kakaknya selama dua puluh satu tahun hidupnya.
Tenten tak perlu berpikir dua kali untuk melabrak suaminya.
"Nejiiii!"
Sekuel:Hatiku Ditilang Polisi Ganteng © NaouraIda
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: AU, Typos, Abal, Aneh, OOC, NaruHina.
Just for fun
Don't like? Don't read
.
~o0o~
.
Hinata tersenyum manis saat apa yang ditunggunya datang juga. Kucing Merah Manja atau Kurama —panggilan kesayangan dari pemiliknya—baru saja berhasil memanjat balkon kamarnya. Sang gadis bersimpuh cantik lalu mengelus kepala si manja hingga sang empunya mendengkur nyaman, keenakan. "Kerja bagus, Kurama-chan. Arigatou ne."
Si kucing menggeram pelan, tidak menyukai panggilannya. "Ah, maksudku Kurama-kun," katanya sambil tertawa pelan.
Lengan mungilnya mengambil lipatan kertas yang diselipkan di sisi kalung si kucing. Hinata terkikik pelan. Entah karena Kurama yang mengelus-ngeluskan kepalanya ke kaki Hinata atau karena pesan dari sang terkasih yang baru saja dibacanya.
Hatinya menghangat.
Sosok Naruto-kunnya begitu pantang menyerah. Walau mereka sempat lost contact, tapi sang pria pirang dengan cepat menghubungkan kembali komunikasi keduanya. Tak ada alat komunikasi, kucing pengantar pesan pun jadi.
Hinata sudah dibuat meleleh berkali-kali oleh kejutan manis sang polisi ganteng. Rasanya hatinya sudah ditilang, diborgol dan ditawan pun Hinata rela, jika itu untuk si pirang pujaannya.
"Meow!"
Suara Kurama mengambil alih lamunan Hinata. Sang gadis terkesiap lalu memasang tampang bersalah. Tidak seharusnya ia mengacuhkan mahluk semanis ini.
"Untukmu Kurama-kun." Hinata menyodorkan semangkuk susu yang segera dihampiri si Kucing. Sementara Kurama menjilati susunya, Hinata menuliskan balasan pesan dengan cekatan. Merajut kata penuh cinta untuk sang pujaan hati.
.
.
.
Ketegangan menyelimuti ruang keluarga di kediaman Hyuuga. Sang kepala keluarga berusaha tampak berwibawa di bawah tekanan sang istri yang mengintimidasi.
"Jadi, Hinata Apa kau sudah memutuskan kontakmu dengan si pirang itu?" kata Neji tegas.
Tenten mengernyit pelan. Bukankah seharusnya mereka membahas tentang ponsel? Ish, apa pria Hyuuga itu tak mendengarkannya?
Sedangkan Neji menatap lekat-lekat Hinata yang berusaha mengalihkan pandangan dari manik lavendernya. Neji menghela nafas pelan, "Jika kau masih berani bertemu dengannya, aku tak akan mengembalikannya."
Hinata menatap kakak sepupunya itu dengan tatapan melasnya. Ia tak bisa jauh dari benda mungil itu lebih lama lagi.
Di sisi lain Neji bergerak gelisah kala jiwa sistercomplexnya hampir tersentuh. Ia berusaha membentuk benteng pertahanan untuk tidak jatuh pada jurus memelas itu. "Kau harus berjanji untuk tak bertemu lagi dengannya jika menginginkan ponselmu kembali," katanya setelah menelan saliva.
"Ta-tapi meskipun Neji-nii tetap menyitanya, Naruto-kun tetap bisa menghubungiku," cicit Hinata pelan yang dihadiahi tatapan menuntut penjelasan dari Neji. "Uhm, Naruto-kun mengirim surat untukku," katanya polos membuat Neji menggeram murka.
Brakk
Kepalan sang Hyuuga masih mengerat usai menghantam meja. Amarahnya memuncak. Bagaimana bisa ia kecolongan hingga Uzumaki sialan itu bisa menyusup ke kediamannya. Ini tak bisa dibiarkan.
Tenten tersentak kaget, ia baru melihat sisi Neji yang meninggikan suara hingga seperti ini. Gadis keturunan cina itu mengelus punggung Neji, berusaha menurunkan amarahnya. "Tenanglah Neji. Selesaikan dengan kepala dingin."
Neji menarik nafas dalam-dalam mengikuti instruksi Tenten. Ia melakukannya beberapa kali.
"Ne Hinata, kenapa kau masih berkontak dengannya meski tahu banyak rintangan yang harus kau lewati?" Tenten mendadak diserang kepo. Ia sudah gatal bertanya sedari tadi. "Apa kau jatuh cinta padanya? Ya kan?" tanyanya dilengkapi kerlingan jahil. Yang ditanya langsung tersipu malu-malu membuat Neji menarik nafas lebih dalam hingga membuatnya sesak nafas.
"Sudah kuduga. Kyaaa manisnya... Aku bahkan selalu memimpikan sosok pangeran romantis yang mengirimkan surat cinta dalam mawar merah yang dikirimnya. Kau beruntung mendapatkan pemuda romantis sepertinya, bukan pria kaku yang tak peka." Tenten melirik Neji. "Pokoknya kau jangan melepasnya Hinata. Neji akan menjadi urusanku, tenang saja!"
Neji melotot tak terima dan sedikit cemburu atas pernyataan istrinya. Terang saja, Tenten tak tahu bagaimana mesumnya si Uzumaki itu. Ia merasa bersalah karena tak bisa menjaga adik sepupunya itu dengan baik. Dan ia tak bisa membiarkan dirinya terus merasa bersalah dengan membiarkan hal ini berlalu begitu saja.
"Katakan Hinata," suara Neji berat. "Katakan kenapa kau mencintainya?"
Hinata menunduk dalam membuat Tenten khawatir. Sebenarnya ia tak ingin banyak campur tangan pada permasakahan duo Hyuuga itu. Ia bahkan tak menyangka topik yang ia ajukan bisa berujung pada masalah pria. Hey, sebenarnya ini topik favoritnya, tapi tidak seharusnya Neji mengecam Hinata untuk dekat dengan pemuda-pemuda ganteng di luar sana kan?
"Neji-nii bertanya alasanku mencintainya?" Dua amethys bersibobrok. Hinata tersenyum lembut, "aku tidak memiliki alasan."
Neji melempar tatapan menantang, alisnya naik sebelah.
"Cinta tidak memerlukan alasan. Jika cinta memiliki kata 'karena' maka itu bukan cinta, melainkan kalkulasi. Ketika cinta berlandaskan 'karena', kemudian apa yang menjadi alasan seseorang mencintainya telah hilang maka hilang pula cintanya. Dan aku tak ingin seperti itu."
Hinata berucap dengan nada tegas yang mengagumkan membuat Neji terpana, ini benar Hinatanya kan? Hinata adik kecilnya yang manis, kenapa bisa menjadi sedewasa ini?
Pada akhirnya sederet kalimat itu berhasil meluluhkan hati sekeras batu Hyuuga Neji.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
Sebenarnya Nao lagi sibuk inih, tapi ada yang neror PM (cung yang ngerasa!) nagih lanjutan fic ini. Hehe ternyata ada yang nungguin yah#terhura.
Apa isi surat mereka ya? Nao juga pengen tau#masang muka polos.
Terima kasih untuk yang sudah review, fav n follow. Maaf ga bisa sebutin satu2.
So, semoga tetap manis...#tebar gula
.
.
Omake
Huacim
Naruto mengelus hidungnya yang mendadak gatal. Sungguh bersin berkali-kali itu tidak enak. Apa ada yang membicarakannya? Atau karena kamarnya yang mulai berdebu?
Sang polisi ganteng menghela nafas lelah. Sekarang ia harus belajar mandiri demi sang Hyuuga incarannya. Ah, apapun akan ia lakukan demi pujaan hatinya. Termasuk menyewa kost-an mungil di dekat kediaman Hyuuga. Alasannya tentu saja agar ia bisa terus berkomunikasi—dengan menjadikan kucing kesayangannya sebagai kurir pengantar pesan—dengan gadisnya.
Naruto berbinar saat melihat kedatangan si Kucing Merah Manja. "Ah, Kurama kau sudah bawa balasan pesannya?" tanyanya antusias, tapi Kurama menjauh. Sang uzumaki terkekeh gugup. "Baiklah, baiklah, tapi hanya ada ramen. Makanlah!"
Si kucing mengeong ketus(?) tak terima. Naruto berkeringat dingin, "Ayolah kita kehabisan susu saat ini."
Kurama makin menjauh hingga sudut kolong meja. Uzumaki mulai kesal, sepertinya mahluk berbulu itu mulai menyebalkan. "Hee, Kurama. Cepat berikan pesannya ttebayou." Ia merangkak berusaha menagkap si Kucing yang berniat kabur, hingga—
Duakk
—kepalanya terbentur meja dengan menyakitkan. Naruto meringis nyeri. Batinnya menangis nelangsa.
Apapun demi pujaan hatinya...
Semangat Naruto!
