Siang itu, sang surya begitu bersemangat memancarkan sinarnya hingga ke penjuru bumi. Menghasilkan panas menyengat hingga ke tulang pipi. Namun tidak mematahkan semangat sang penentu masa depan di kemudian hari. Himpunan mahasiswa berdiri teguh, mewakili rakyat dan menyuarakan jerit hati.
"Mahasiswa sebagai pemuda tulang punggung bangsa ini, tidak akan pernah tinggal diam. Kami akan melawan dan turun ke jalan saat hak-hak rakyat dirampas, sebagai bentuk ketidakpuasan serta protes yang kami lakukan guna mencapai keadilan." Uchiha Sasuke bersuara lantang mewakili para demonstran di belakangnya. Vokal bass itu terdengar tegas dan dingin secara bersamaan, membangkitkan jerit kagum gadis-gadis diduga fans sang ketua BEM Universitas.
Sakura menjerit tertahan saat suara pemuda incarannya mengudara di tengah hiruk pikuk masa yang membludak. Bagai pemicu ledakan, suara sang Uchiha mampu membuat suara penuh persetujuan di belakangnya. Aura pemimpin jelas menguar membuat aksi mereka tetap berjalan damai di tengah banyaknya massa yang ikut serta.
Jangan mengharapkan perubahan, tapi ciptakanlah perubahan.
Hinata teringat nasehat dari salah satu dosennya, kegiatan seperti inilah langkah awal dari perubahan tersebut. Jika bukan mahasiswa, siapa lagi yang akan menyuarakan aspirasi rakyat? Siapa lagi yang menjadi tolak ukur dalam mengayomi rakyat?
Orasi sang Uchiha masih berlanjut. Hinata melirik maklum Sakura yang kini sudah memerah bak udang rebus. Sang pelaku yang menyeretnya ikut dalam kegiatan ini, berdesak-desakan di bawah terik mentari hanya untuk melihat sang pangeran kampus memimpin aksi demo.
"Hinata!"
Sakura mendadak dipenuhi semangat membara. Hinata bertanya-tanya apa semangat Lee-san, pemuda bermabut mangkok berlebih energi, telah tertular pada sahabatnya.
"Sekarang aku yakin Hinata... Aku akan menyatakan perasaanku pada Sasuke-kun," ucap sang gadis merah muda cepat. Emerlandnya menatap lavender dengan tegas, menyatakan tekad yang bulat. Ia tak akan membiarkan lelaki bersurai pantat ayam yang langka itu jatuh di tangan gadis lain.
"Eh? Kau serius Sakura-chan?" Bukannya mau meruntuhkan keteguhan sahabatnya, hanya saja setahu Hinata, selama ini Sakura belum mendekati sang ketua BEM secara terang terangan. Sebagai sahabat curhatannya, Hinata tahu betul bagaimana perjalanan cinta sahabatnya itu mulai dari nol. Dihiasi pendekatan pada pangeran es super cuek, dibentengi para fansgirl, belum lagi persaingannya untuk mendapatkan hati sang Uchiha dengan rival abadinya, Ino.
Membahas soal perjuangan cinta, entah mengapa Hinata jadi malu sendiri ketika mengingat pembelaan cintanya pada sang polisi ganteng di depan sang kakak. Bagaimana bisa ia telah memberitahukan perasaanya terlebih dulu pada kakaknya?
Hubungannya dengan Naruto terkesan berjalan di tempat. Terlebih setelah Neji-niisannya mengendus kedekatan keduanya, komusikasi menjadi lebih terbatas. Naruto masih menggombalinya, tentu. Entah sabagai teman, sahabat atau kekasih Hinata tak tahu. Sang polisi sendiri belum membubuhkan status untuknya, membuat hati sang lavender meragu.
"Hinata kau mendengarku?" Sakura melambaikan tangan di depan wajah manis sang Hyuuga.
"Ah ya, Sakura-chan."
Sakura mengepalkan tangannya kuat lalu secepat kilat menggenggam kedua tangan putih di depannya. "Hinata aku akan menunjukan jika wanita juga berhak untuk memperjuangkan mimpinya. Ini zaman emansipasi. Tidak ada yang salah dengan perempuan yang menyatakan perasaannya lebih dulu! Kau setuju denganku kan?!" katanya menggebu, sinar matanya berkilat lucu. Menghantarkan semangat pada Hinata yang mengangguk sembari tersenyum lembut.
Menyatakan perasaan lebih dulu ya? Terkadang Hinata iri karena ia tak bisa seberani Sakura dalam mengunggkapkan apa yang sedang dirasanya.
Apa Hinata juga harus menyatakan perasaannya lebih dulu!?
Demi kepastian hubungan mereka...
Sekuel:Hatiku Ditilang Polisi Ganteng © NaouraIda
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: AU, Typos, Abal, Aneh, OOC, NaruHina.
Just for fun
Don't like? Don't read
.
~o0o~
.
"Kalau begitu semangatlah! Semoga berhasil!" Hinata melempar senyum, menularkan semangat untuk sahabatnya sekaligus juga untuk dirinya.
"Kau memang yang terbaik Hinata," ujar Sakura ceria, ia memeluk gemas tubuh mungil itu. Sang gadis bublegum merasa beruntung mempunyai Hinata sebagai sahabatnya. Hinata itu tipe yang bisa menjaga rahasia, karenanya ia nyaman untuk mengumbar rahasianya. Bukan seperti rival di seberang yang bermulut ember. Si ino pig saingannya untuk mendapatkan sang pangeran kampus. Ia melemparkan tatapan permusuhan yang di balas glare mengerikan sang pirang yang membawa poster Sasuke, entah apa hubungannya dengan demo kali ini.
Di sisi lain Hinata terkikik pelan melihat tingkah lucu sahabatnya, dibalik pertengkaran mereka sesama rival, ia tahu mereka peduli satu sama lain.
"Hinata, ada polisi bodoh yang mengawasi kita," serunya memperingati. Sakura kini mengerti kenapa ia merasa di awasi, diseberang sana tepat di depan Ino, berdiri polisi berperawakan jangkung yang tersenyum bodoh di tengah mengamankan masa yang sedang berdemo.
"Eh, polisi bodoh?" Hinata melirik cepat hingga lavendernya bersibobrok dengan saphire yang lama tak dijumpainya. Maniknya berkedip lucu. Benar Polisi pirang itu jelas memperhatikan mereka, err tepatnya mungkin memperhatikannya. Kini polisi itu melambai ramah padanya.
"Hii~ ayo kita pindah Hinata, sepertinnya polisi itu berniat jahat."
"Tu-tunggu Sakura-chan."
Lengan Hinata sudah di tarik paksa menerobos kerumunan masa saat ponselnya bergetar minta perhatian.
"Tunggu aku di taman dekat posku. Kuantar kau pulang."
Kemudian Hinata tak bisa menyembunyikan senyum manis yang terbit dari bibir merah mudanya.
.
.
.
Jika Sakura sudah bertekad bulat maka Hinata berusaha menata hati untuk menyatakan cinta.
Hinata duduk gelisah di kursi panjang taman dengan sejuta kata pilihan yang akan digunakannya untuk mengungkap rasa. Ia tak bisa menyembunyikan gugupnya disaat jantungnya saja sudah berdetak lebih cepat dan tangannya membeku layaknya es di kutub utara.
"Selamat sore hime."
Deg.
Naruto tiba-tiba muncul dari belakang Hinata lalu membungkuk dan berbisik tepat di telinganya. Jantung Hinata telah melompat rasanya dengan kemunculan mendadak pemuda itu, hingga refleknya mengambil alih membuat pundaknya melonjak kaget.
"Na-naruto-kun kau mengagetkanku!"
"Ahaha maaf Hinata. Apa aku membuatmu menunggu lama?" Naruto tertawa lepas melihat respon gadisnya, lucu sekali, seperti reaksi Kurama saat tersentuh air. Tunggu! Bukannya Naruto ingin membandingkan reaksi sang gadis dengan seekor kucing, hanya saja sikap Hinata itu terlampau manis nan menggemaskan layaknya anak kucing yang sedang lucu-lucunya.
Hiks―
"Eh? Hi-hinata." Naruto panik bukan main saat mendapati raut muka Hinata memerah menahan tangis. Apa bercandanya sudah keterlaluan? Selama ini Naruto terbiasa bersikap seenaknya dan cenderung kasar. Ditambah dengan pengalamannya saat bekerja di lapangan, membuat hatinya yang sudah sekeras batu menjadi sekokoh berlian, keras dan tak tersentuh. Kini, hati kerasnya harus berhadapan dengan hati lembut sang gadis pujaannya. Ia sungguh tak bermaksud membuat manik cantik itu berkaca-kaca. Fix sang polisi dilanda galau untuk mendiamkan tangis tertahan sang gadis berhati seputih salju.
Naruto menghapus setitik bening di matanya, berusaha bergerak sehalus mungkin agar pipi yang memerah itu tak tergores jemarinya yang kasar. "Maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk mengagetkanmu. Sungguh maafkan aku, Hinata," katanya lirih, birunya memancarkan perasaan tulus.
Hinata mendapatinya, tatapan lembut sang polisi ganteng. Mau tak mau ia tersentuh juga dengan ketulusan sang pria. Sesungguhnya ia juga tak berniat jadi secengeng ini. Ia gadis tangguh, tentu. Hanya saja saat Naruto mengagetkannya, untaikan kata yang berhasil disusunnya terbang entah kemana. Rangkaian kata cintanya telah hilang tak berbekas. Sekarang bagaimana caranya ia menyatakan cinta? Bahkan tawa sang Uzumaki bagai tawa ejekan di matanya, hingga tanpa sadar setitik bening lolos dari manik lavendernya.
"Tak apa, Naruto-kun tidak salah. Aku hanya sedang...uhm banyak pikiran." Hinata mengulas senyum lembut, berusaha menenangkan sang pria hingga mengundang desahan nafas lega dari tunggal Uzumaki.
Naruto tiba-tiba bangkit berdiri. "Yosh! Sebagai permintaan maaf, aku akan mentraktirmu ramen. Bagaimana, hime?" Tangan tan terulur halus, kemudian menerima sambutan hangat.
Hinata mengangguk setuju. Setidaknya ia punya waktu untuk memikirkan kembali kata cinta yang tepat. Lalu mendapatkan suasana yang mendukung untuk mengutarakan isi hati. Benarkan? Atau mungkin tidak?
.
.
.
To be Continued
.
.
.
Gomen ga bisa up cepet, Nao ga bisa sempetin nulis kalo lagi ga mood. Alesan lain, karena lagi bernapsu namatin game muehehe...
Fic ini dasarnya memang mau dibuat kumpulan ficlet, tapi kepanjangan akhirnya kaya oneshoot yang bersambung gitu. Jadi yang minta dipanjangin, maaf ga bisa direalisasikan. Panjang wordnya akan tetap 1k+ per chapnya.
Terima kasih untuk yang sudah review, fav n follow. Maaf ga bisa sebutin satu2.
So, semoga tetap manis...#tebar gula
.
.
.
Omake
Hyuuga adalah keluarga yang menjunjung tinggi sopan santun termasuk manner dan atitude. Karenanya Hinata terbiasa untuk tidak berbicara sedikitpun saat menyantap makanan. Ataupun mengajak seseorang yang sedang mengisi perut untuk berbincang. Jadi saat Naruto sibuk mengosongkan bermangkuk-mangkuk ramennya, Hinata menunggu dengan senyum yang bertengger di bibirnya.
Lalu saat perjalanan pulang mereka―dengan Naruto yang memaksa mengantar hingga depan gerbang rumahnya― sang pria dengan semangatnya bercerita tentang tugasnya di hari itu. Gadis berhelai indigo tak kuasa merusak moment bercerita sang polisi ganteng dengan pernyataan yang dapat membuat jantung melompat kaget. Jadilah ungkapan hatinya harus tertunda untuk sementara waktu.
Menyatakan cinta itu perlu memberikan kesan yang membekas, karena bisa saja orang tersebut adalah pendamping seumur hidup kita.
Itu yang diucapkan Sakura padanya sebelum berlari melemparkan diri pada Uchiha. Adalah cara mengekspresikan cinta yang terlampau ekstrim bagi gadis pemalu sepertinya untuk mengikuti jejak sahabatnya.
Sang Hyuuga hanya ingin mendapatkan moment yang tepat dengan suasana mendukung sebelum mengungkap rasanya. Ia tak tahu waktu bisa berjalan secepat itu. Hingga keduanya berpijak di depan kediamannya bersama sang kakak., Hinata tahu ini kesempatan terakhirnya sebelum hari berganti dan mereka akan semakin sulit bertatap muka.
Tapi nyatanya naluri wanitanya terlalu mengambil alih hingga terseret perasaanya sendiri. Rasanya ia ingin bertukar otak dengan lelaki saat ini juga, setidaknya agar logika lebih mendominasi perasaannya.
"Na-naruto-kun!," suara lirih itu nyatanya mampu menarik atensi sang polisi. Hinata menarik nafas dalam berusaha mempersiapkan mentalnya untuk segala kemungkinan terburuk. "Ada yang ingin kubicarakan... Aku―"
"Hinata, masuk!"
Dari sorot pucat yang serupa dengannya itu, Hinata tahu ia tak bisa membantah. Sang gadis memutuskan untuk menutup mulutnya.
"Dan kau, Uzumaki. Kita perlu berbicara empat mata!" Neji berucap mutlak lalu menyeringai.
Sudah ditetapkan beberapa jam kedepannya sang polisi ganteng akan bertaruh hidup-mati.
