Naruto tahu, sejak mereka tiba di kedai ramen Ichiraku, Hinata bergerak gelisah seperti menunggu sesuatu. Naruto tahu, saat perjalanan pulang, Hinata menelan bulat-bulat apa yang ingin diucapkannya lalu menutupnya rapat. Naruto tahu, ada yang ingin disampaikan Hinata padanya.
Maka sebelum pamit ia menunggu. Memberi kesempatan untuk gadis melankolis itu bisa mengungkapkan kata yang bercokol di hatinya. Hening beberapa menit hingga sang polisi ganteng tersadar jika ia melupakan satu hal. Mereka berdiri di depan kediaman Hyuuga dan lawan pertarungannya itu bisa memergokinya kapan saja.
Dan benar saja, dalam hitungan sekon ketiga Neji berdiri di depan pintu dan menegur gadisnya untuk segera masuk. Ketika seringai terpampang di bibir pria bersurai panjang itu, Naruto bertekad untuk mengakhiri pertarungan ini dengan kemenangan mutlak dalam genggamannya.
'Pertarungan' keduanya dimutasi ke ruang tamu kediaman Hyuuga. Aura tegang nan mencekam jelas mendominasi seisi ruangan. Namun Tenten tetap menyuguhkan dua cangkir ocha dan cemilan, meski ia yakin keduanya tak bisa ngeteh ditengah suasana semacam ini.
Tenten menghela nafas, ia tak bisa mengusik suaminya yang sedang dalam mode tegasnya. Tapi ia percaya jika nahkoda dalam kapal rumah tangganya itu dapat mengambil keputusan yang bijak untuk permasalahan Hinata. Sang wanita keturunan china meninggalkan dua pria dengan menyerahkan kepercayaan penuh dari hati.
"Jadi―" suara berat memecah hening, menarik Naruto dari lamunan. "―apa tujuanmu mendekati Hinata?"
Naruto menaikan alis, apa Hyuuga-senseinya ini sedang mengujinya. Ia bertanya tujuannya? Bukankah sudah jelas? "Tentu saja, karena aku ingin membuatnya menjadi miliku," serunya lantang dengan kepercayaan diri selangit.
Neji menggeram, si Uzumaki itu berkata seolah semua dapat dimilikinya dengan mudah. Perlu dicatat, adiknya bukan barang yang bisa diubah-ubah kepemilikannya. Ia tak terima mengingat betapa besar cinta adik sepupunya hingga sanggup membela pria bodoh ini di depannya.
"Apa kau serius dengan adikku Uzumaki?" lanjutnya dengan ketenangan mengagumkan.
Naruto menyilangkan kaki berbalut seragam dinasnya dengan santai. "Tentu saja."
Amethys menyorot tajam. "Kalau begitu tunjukan keseriusan itu padaku Uzumaki. Buat aku yakin jika aku tak salah menyerahkan Hinata kepadamu," sahutnya lugas.
Saphire berkilat antusias, ia tak salah dengar kan? Jika Hyuuga-senseinya itu meminta bukti, bukankah berarti ia telah merestuinya untuk bersama Hinata? Naruto setengah mati menahan senyum lebar yang nyaris terbit di bibirnya. Sungguh jika di depannya bukanlah seorang Hyuuga Neji, ia akan meloncat-loncat salto karena bahagia berlebih. Ternyata dosen killernya ini tidak sekejam yang ia bayangkan. Apa mungkin waktu telah berhasil mengikis kegalakan sang dosen?
"Tapi jika kau 'kalah', jauhi adikku dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi," lanjut Neji dengan seringai kejamnya.
Naruto memejamkan mata pelan, heh ternyata masih sama kejamnya... Jelas ia sedikit dirugikan disini. Definisi kalah dengan Neji sebagai jurinya jelas membuahkan penilaian subjektif. Bisa saja Neji mengelak untuk mengakui kemenangannya hanya karena alasan sepele dilatar belakangi dirinya yang bertindak sebagai juri. Tapi tetap saja Naruto tak bisa membiarkan kesempatan langka ini lenyap begitu saja. Ia akan memastikan Neji menyematkan gelar kemenagan padanya.
"Tentu. Aku akan memberikan bukti secepat mungkin."
Sekuel:Hatiku Ditilang Polisi Ganteng © NaouraIda
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: AU, Typos, Abal, Aneh, OOC, NaruHina.
Just for fun
Don't like? Don't read
.
~o0o~
.
Braaakk.
"Kaaa-chaan..! Tou-chaan!"
Pintu mahogani berukir rumit menjeblak terbuka dengan decitan nyaring. Sang pelaku pendobrakan melenggang masuk melangkahkan kaki jenjangnya cepat. Saphire beningnya menjelajah ruangan besar yang didominasi warna gading dengan cekatan. Hingga didapatinya sepasang manusia yang sedang bersantai di sofa ruang keluarga, keduanya asyik bercengkrama.
"Kaa-chan aku mendapatkannya!" suara nyaring Naruto menginterupsi candaan sepasang suami istri itu, hingga yang dipanggil menoleh sembari menyelipkan helai rambut merahnya dibalik telinga. Kushina menghela nafas. "Naruto, kau sharusnya mengucapkan salam saat masuk rumah! Bukan berteriak seperti itu ttebane," ujarnya santai sembari mengelus surai pirang suaminya yang sedang berbaring di pangkuannya. Sedangkan Minato tampak tidak terganggu dengan kegaduhan yang dibuat kedua orang yang dicintainya itu. Ia masih setia menikmati usapan tangan sang istri sembari memejamkan mata.
Naruto tak mengacuhkan teguran ibunya dan memilih meneruskan kalimatnya. "Aku mendapatkannya Kaa-chan. Calon menantumu yang kujanjikan, hehe." Diakhir kata uzumaki muda itu tak kuasa menahan cengiran lebar yang muncul memamerkan giginya yang putih.
"..."
"..."
Brakk.
Bukan. Kushina tidak memukul meja hingga suara nyaring tersebut menyapa gendang telinga. Tetapi wanita bersurai merah itu terlampau kaget hingga membuatnya berdiri mendadak. Melupakan eksistensi sang suami yang tadinya berbaring nyaman di pangkuannya hingga jatuh terguling dan membentur meja dengan sadisnya. Sontak Minato meringis nyeri, ia mengelus kepala penuh surai pirangnya prihatin. Ia yakin benjolan sudah bersarang manis menghiasi kulit kepalanya.
"Ya tuhan!" manik Kushina berkaca-kaca. Minato memasang wajah malaikatnya, bersiap menerima uluran tangan istrinya. Kushina pasti merasa bersalah karena telah membuat suami gantengnya jatuh dengan tidak elit.
"KAU SERIUS TTEBANE!" Kushina menghampiri putranya yang mengangguk dengan semangat untuk kemudian membawanya dalam pelukan erat nan menyesakan. "Ah, akhirnya kau berhasil Naruto." Ia menepuk pelan pungung putranya yang kini jauh melampaui tingginya. Kadang waktu terasa berlalu begitu cepat. Seingatnya dulu ia masih suka menggendong Naruto kecil yang hanya setinggi pinggangnya, sekarang rasanya Narutolah yang bisa menggendongnya kapan saja dengan tubuhnya yang tinggi tegap itu.
Kushina bahkan masih berat hati mengizinkan putra tunggalnya untuk tinggal seorang diri. Tapi setelah mendengar alasannya bahwa sang putra sedang mengejar cintanya, Kushina jadi yang terdepan dalam mendukung perjuangan cinta Naruto. Syukurlah jika usaha Naruto tak sia-sia, ia sudah tak sabar menantikan calon menantunya yang cantik itu.
"Kita harus cepat bersiap ttebane." Kushina mengurai pelukannya, secepat kilat semangat merasuki raga. "Naruto kau harus pastikan penampilan terbaikmu, putraku harus tampil sempurna. Ah aku juga harus merapikan gaunku." Kushina terus mengoceh sepanjang jalan menuju kamar sembari menggandeng lengan tan uzumaki muda.
"Kita juga harus siapkan bingkisan. Bagaimana menurutmu Naruto?"
"Aku menurut saja pada Kaa-chanku yang cantik."
"Ngomong-ngomong bagaimana caramu menaklukan kakak sepupunya untuk mendapat restu ttebane? Bukankah kau bilang dia sangat kejam?"
"Hehe tentu saja tidak ada yang bisa menolak perintah dari putramu yang ganteng ini."
Dan obrolan akrab keduanya terus mengalir, meninggalkan Minato yang masih terduduk dengan tangan menengadah minta perhatian. Ia meratapi nasibnya yang harus berebut perhatian wanita satu-satunya di rumah ini dengan putranya sendiri. Ia kalah telak kali ini. Serius. Ia bahkan sempat melihat seringai penuh ejekan dari putranya sebelum berbalik dan menggandeng lengan istrinya tadi.
.
.
.
'Hinata 08.10 pm itu pagi atau malam?'
Hinata mengerutkan kening saat membaca pesan dari sang polisi ganteng. Untuk apa Naruto bertanya hal kecil seperti itu? Hinata mendadak diserang panik. Ya ampun, apa ini efek dari interogasi kakaknya tadi sore? Apa Naruto-kunnya begitu tertekan hingga sikapnya jadi aneh? Hinata mengeleng kecil. Naruto itu seorang polisi, jadi dia pasti sudah terbiasa menghadapi situasi rumit, termasuk introgasi paket lengkap aura sister complek ala kakak sepupunya. Ia harus percaya Naruto baik-baik saja.
'Malam Naruto-kun. Memangnya kenapa?' ketik Hinata cepat.
'Malam juga Hime~'
Blush.
U-uh jadi Naruto hanya menggodanya? Padahal Hinata sudah khawatir tadi.
'Hinata besok aku akan berkunjung ke rumahmu bersama 'keluargaku'. Pokoknya pastikan kau harus bilang 'ya' oke?'
Aish makin lama Naruto makin aneh saja, perkataannya melantur. Sekarang apa maksudnya coba? Ia tak mengerti. Hinata tidak mau terjebak lagi, maka tanpa pikir panjang ia menghubungi nomor sang pujaan hati.
"..."
"Hallo Hinata."
"Apa maksudmu Naruto-kun?" Hinata berujar cepat sesaat setelah suara bass Naruto merambat. Ia bisa mendengar gumaman sang pria sebelum menjawab pertanyaannya.
"Seperti yang kubilang, kau cukup berkata iya saat besok aku berkunjung. Jadi persiapkan dirimu oke? Sekarang aku sedang sibuk. Mungkin esok akan ramai, jadi siapkan saja jamuan untuk tiga―" Naruto menjeda perkataannya untuk kemudian berteriak pada seseorang, "ya Kaa-chan. Tunggu sebentar!"
Hinata dapat mendengar suara di seberang begitu ramai. Naruto sedang di rumah orang tuanya kah? Ia masih belum puas dengan jawaban si pirang yang makin membuatnya tak mengerti, namun sebelum ia sempat bertanya...
"Yah karena disini begitu sibuk jadi sampai jumpa besok. Jaa Hinata."
"Tunggu Naru―"
Tut tut
Hinata memandang ponsel pintarnya sendu. Ini pertama kalinya Naruto menutup sambungan telepon terlebih dahulu. Bahkan tanpa menjawab segala tanda tanya yang berkeliaran di kepalanya. Padahal sesibuk apapun pekerjaannya, pria pirang itu selalu bisa meluangkan waktu untuknya. Sekarang pria itu bagai membawanya ke awang-awang dan melepaskannya jatuh begitu saja. Pria itu... Naruto seperti tidak mengacuhkannya lagi...
.
.
.
To be Continued
.
.
.
Gomen ga bisa up cepet, tapi akan Nao usahakan ficnya sampai selesai.
Terima kasih untuk yang sudah review, fav n follow. Maaf ga bisa sebutin satu2.
So, semoga tetap manis...#tebar gula
.
.
.
Omake
Hari itu masih pagi. Sang surya masih memancarkan sinar penuh vitamin pada penjuru bumi. Tenten bahkan masih menyiapkan sarapan keluarganya untuk mengawali hari. Ia tak menyangka pagi yang tenang itu dapat berubah sedemikian tinggi. Disaat kediamannya tiba-tiba dikepung sepeleton polisi.
Tentu saja ia terkejut, hingga tanpa pikir panjang segera menyeret suaminya menuju ruang depan. Keduanya membuka sedikit gorden jendela, berusaha mengintip keadaan depan rumahnya yang dipadati puluhan orang berseragam kompak.
"Kau serius tak mengundang murid-muridmu, Neji?"
Sang suami yang masih terpaku pada pemandangan dibalik jendela, mengernyit pelan. Ia mengamatinya dan merasa tak familiar dengan wajah mereka. Neji memang tidak hafal nama muridnya satu per satu, tapi setidaknya ia akan mengingat wajahnya. "Tentu saja tidak. Untuk apa aku mengundang sebanyak itu di hari liburku."
Tenten yang gelisah mulai mondar-mandir tak tenang, ia tak habis pikir dengan tujuan mereka menginjakan kaki di kediaman Hyuuga. Apa akan ada penangkapan gembong narkoba? Atau ada teroris yang sedang bersembunyi? "Huee Neji... Bagaimana ini?"
Neji berdehem pelan, berusaha berfikir tenang. Ia harus memastikan kedua orangnya aman, terlebih Hinata masih di kamarnya di kantai dua. Sang Hyuuga sulung menatap istrinya penuh perhatian, "Tenten naiklah dan temani Hinata! Pastikan kalian aman. Aku akan mengurus mereka."
"Tapi―"
"Tidak ada tapi. Cepat naik!" ucapNeji mutlak.
Tenten dapat melihat sorot tegas dalam amethys suaminya, ia tahu dirinya tak bisa membantah. Jemari lentiknya menggapai lengan kekar Neji, meremasnya pelan. "Pastikan kau kembali dengan kabar baik!" ucapnya pelan. Neji mengangguk, membuat Tenten lebih tenang saat meninggalkannya mengghadapi permasalahan di balik pintu. Semoga semua baik-baik saja.
Neji menarik nafas dalam sebelum melangkah membuka pintu dan menghadapi mereka di luar sana. Sebenarnya ia tak ingin berfikir negatif, hanya saja ia tak menemukan alasan positif untuk puluhan orang itu berkumpul di depan rumahnya. Jadi lebih baik ia berjaga-jaga, sedia payung sebelum hujan.
Neji memotong jarak cukup dekat pada para polisi yang berbaris rapi, berusaha menarik atensi. Kalimat interogasi sudah di ujung lidahnya ketika manik bulannya mendapati pemuda pirang pengganggu adik tercintanya muncul dari balik kerumunan dengan tampang watados.
Sang uzumaki muda bersedekap dada dengan gaya santai. "Hyuuga sensei. Aku datang untuk memenuhi janjiku," ucapnya congak.
The Hell. Apa lagi ulah si pirang ini?
