"Hyuuga sensei. Aku datang untuk memenuhi janjiku," tutur Uzumaki muda dengan lantang, tak lupa senyum penuh percaya dirinya.
Yang disapa mendengus jengkel. "Apa maksudmu dengan semua ini, Uzumaki? Jika kau ingin membuat keributan, aku tak segan untuk mendepakmu dengan tidak hormat."
"Wo-wow tenang sensei. Seperti yang kubilang, aku akan memenuhi janjiku. Dan ini semua adalah bukti cintaku pada Hinata." Ekspresinya tetap tenang dibawah tatapan perak yang menghujam cermin birunya.
"Kau sudah gila! Apa tujuanmu membawa orang sebanyak ini hah?"
Naruto rasanya ingin tertawa. Ia memang sudah gila, kehilangan kesadaran, terlalu mabuk dan terobsesi karena mencintai Hinata. "Hinata, keluarlah! OOOYY HINATA...!" teriaknya menggema membuat puluhan pasang organ pendengaran tuli mendadak seketika. Neji menggeram marah melihat kelakuan si pirang yang membuat gaduh hingga menarik atensi para tetangganya. Tak terkecuali juga Hinata yang bergegas membuka jendela kamarnya di lantai dua.
Uzumaki muda menyeringai kala mendapati paras ayu sang pujaan hati yang membola terkejut. Ia bertepuk tangan tiga kali membuat salah satu prajurit yang dibawanya mendekat ke arahnya dengan pistol di tangan. Naruto mengambilnya santai dan bersiap dengan posisi menembak.
"Uzumaki!" Neji membentak keras dengan suara rendah. Ia berdiri tegak dengan pose memasang kuda-kuda. Tak segan menunjukan keahlian bela diri tangan kosongnya, jika si pirang berbuat macam-macam.
Mengarahkan selongsong senjata api kearah Hinata, saphirenya menatap dalam lavender di seberang.
Doorr
Sekuel:Hatiku Ditilang Polisi Ganteng © NaouraIda
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: AU, Typos, Abal, Aneh, OOC, NaruHina.
Just for fun
Don't like? Don't read
.
~o0o~
.
Hinata baru saja membaca pesan singkat saat Tenten membuka pintu kamarnya dengan tergesa. Ia tak mengerti dan masih memikirkan maksud dari pesan sang pujaan hati ketika Tenten menceritakan keributan di depan rumah. Separuh menyimak Hinata hanya sesekali menanggapi hingga kemudian namanya diseru dengan lantang. Suara itu mengalun masuk ke telinganya, suara yang ia rindukan.
Bergegas ia membuka jendela kamarnya untuk kemudian mendapati pemandangan yang menakjubkan. Hinata yakin mata bulannya membulat karena terkejut, netranya berkaca-kaca. Naruto membuat semua ini untuknya?
Amethysnya memantulkan puluhan polisi berbaris rapi membentuk suatu kalimat pernyataan cinta. Kalimat yang diwakili tiga hal bermakna dalam; huruf I, bentuk hati dan huruf U. Tenten bersorak girang kemudian memilih untuk menjadi fotografer dadakan disaat Hinata terdiam kaku. Putri Hyuuga tersebut terlalu haru untuk mengekspresikan perasaannya yang bagai telah diterajang tsunami, ditimpa angin ribut lalu tenggelam di laut biru.
Hinata tak tahu apa yang mereka bicarakan di bawah sana, dan ketika situasi berubah sedemikian tajam hingga senjata api mengarah lurus padanya, ia hanya mengingat pesan singkat yang dikirimkan Uzumaki sebelumnya...
'Bersiaplah! Aku akan menembakmu. Kau hanya perlu percaya padaku'
Tanpa sadar mulutnya berguman pelan. "Aku percaya padamu."
Doorr
Peluru mainan yang terbungkus kertas memantul di tiang jendela hingga sampai di samping kaki beralas sandal putih berbulu. Hinata berkedip sekali saat sang polisi ganteng melempar cengiran lebar padanya. Mengabaikan raut wajah bodoh kakak sepupunya yang jauh dari kata Hyuuga, ia memungut buntalan kertas kucel itu. Tak lupa Tenten mengabadikan ekspresi langka suaminya.
"Bukalah."
Yang Hinata tangkap hanya gerakan bibir, tapi mampu membuatnya menuruti perintah Uzumaki muda itu tanpa protes. Kertas kucel dibuka, ia tatap irish biru dari kejauhan sebelum membaca peluru cinta sang pujaan hati.
Sejak kau membela diri dari tuduhan tilangmu, aku sudah mencintaimu
Saat kau tersenyum tulus karena candaanku, aku sudah mencintaimu
Bahkan saat kau melintas di depan posku setiap pagi, aku sudah mencintaimu
Sekarang aku sendiripun tak ingat kapan aku mulai mencintaimu
Aku hanya bisa berkata aku sangat mencintaimu dan hanya dirimu
Bening haru mengalir dipipi. Semua yang terjadi terlalu mengejutkan untuknya. Terlalu banyak rasa yang membuncah. Terlalu banyak kata yang ingin dilontar. Terlalu banyak ekspresi yang ingin diungkap.
Namun, motoriknya dengan cepat mengambil alih. Kaki-kaki mungil itu menapak dengan langkah lebar, menuruni tangga dengan cepat. Sejurus kemudian tangannya membuka pintu dengan tergesa untuk kemudian berlari memeluk polisi yang memasang wajah kaget disana. Semuanya tak bisa ia ungkapkan dengan kata, hingga aksi mewakili apa yang dirasa.
Memeluk erat gadisnya, Naruto tak kuasa untuk terkekeh. Ia lebih dari tahu apa jawaban dari pernyataan cintanya.
"Kyyaaa akhinya menantuku datang ttebane." Teriakan tertahan muncul dibalik semak.
"Stt... Kushina bukankah kau yang bilang untuk bersembunyi." Suara protesan yang tidak pelan terdengar jelas.
"Tapi itu sepuluh menit yang lalu. Ne, ne Minato bukankah ini saatnya?"
"Tunggulah sampai Naruto memberi tanda."
Naruto menggaruk tengkuknya canggung. Jelas saja Ayah-Ibunya sudah ketahuan, harusnya ia tak perlu memberi tanda, tapi tangannya tetap bertepuk tiga kali.
"Naruto kau memang putraku ttebane. Kau benar-benar menembak Hinata-chan." Kushina menghambur sembari berseru heboh. Sedetik kemudian violetnya beralih pada calon menantunya. "Ah kau pandai memilih, Naruto. Menantuku manis sekali."
Hinata tidak siap dengan pelukan mendadak itu, tapi kehangatannya mampu membuatnya merasakan kembali pelukan ibunya. Pelukan ibunya yang lama dirindukan, hingga menimbulkan sesak di dada. Tanpa sadar ia balas memeluk lebih erat.
"Ahaha kau bisa memelukku sampai puas asal kau mau menjadi menantuku," ucapnya mencoba merayu.
Hinata sontak tersadar dan segera mengurai pelukan. "Ah maafkan aku Uzumaki-san."
"Mou, panggil aku Kaa-chan ne?" Wanita berambut merah panjang itu masih mencoba rupanya. Air mukanya yang merajuk sungguh tak mencerminkan usia sebenarnya. Mau tak mau Hinata tertawa pelan, tingkahnya yang kekanakan sungguh mengingatkannya pada seseorang.
"Baiklah Kaa-chan."
"Ah manisnya... Minato cepat lamarkan Hinata-chan untuk Naruto!" titah Kushina. Yang diseru menampakkan diri dengan bingkisan di tangan. Hinata seperti melihat Naruto versi lebih dewasa tepat di depan matanya, mereka bagai pinang dibelah dua.
"Maafkan kedatangan kami yang mendadak. Kuharap Naruto sudah memberitahukan perihal kedatangan kami, tapi sepertinya bocah itu lebih memikirkan kejutan untuk Hinata-chan. Dia merengek untuk melamar Hinata-chan secara pribadi terlebih dulu sebelum kami yang memintanya pada keluarganya." Minato berkata tenang mengabaikan tatapan tajam dari saphire serupa miliknya. Pilihannya jatuh untuk menatap Neji tepat dimata, "Jadi bisakah kami masuk untuk membicarakan maksud tujuan kami, Neji-san?" lanjutnya dengan senyum charming terbit di bibir.
Neji tertegun melihatnya, orang ini...
Tenten yang telah menyusul segera menyadarkan sang suami yang terpaku. "Ah tentu. Silahkan masuk Namikaze-sama," jawabnya setengah sadar.
Rombongan yang membuat heboh para tetangga itu pun masuk dengan bingkisan di tangan masing-masing yang entah darimana. Masuk satu per satu hingga memenuhi ruang keluarga Hyuuga yang luas. Duduk lesehan sementara Tenten dan Hinata menyiapkan suguhan seadanya.
Pembicaraan itu mengalun lancar, bahkan Neji sesekali tertawa pelan. Sepertinya mereka sudah saling mengenal dan kini mereka mengobrol santai bagai sahabat yang sudah terpisah lama. Naruto tak tahu bagaimana ayahnya bisa mengenal Neji, dan kenapa juga sang ayah tidak pernah cerita. Ah Tou-channya itu memang berniat mengerjainya rupanya!
Sedang wanita dengan rambut sepinggang lama-lama merengut. Ia memang menyerahkan negosiasi ini pada Minato karena ia tak pandai berbicara, kalau mengomel sih iya. Tapi tidak berarti boleh mengabaikannya juga kan? Ah lelaki dan pembicaraan seriusnya yang menyebalkan.
"Tapi bagaimana bisa? Naruto putra Anda, tapi marga kalian berbeda?" tanya Neji setengah penasaran. Saat melihat Naruto ia memang merasa tak asing, tapi kelakuan Naruto yang jahil dan nama marga yang tak dikenalnya membuat Neji tidak berpikir lebih jauh. Siapa yang mengira Naruto, mahasiswa paling susah diatur di AKPOLnya dulu adalah putra dari kepala kepolisian Tokyo yang terkenal itu. Terlebih lagi putra dari mantan atasannya dulu saat masih bergabung di kepolisian.
"Ya begitulah. Istriku protes karena putra kami tak mengambil fisik satu bagian pun darinya, walau kenyataannya sifat Naruto mengambil lebih banyak dari Kushina. Lagipula Uzumaki marga nenek moyang Kushina dan aku tidak keberatan."
Nah kan, kini mereka bicara diluar topik. Seseorang tolong ingatkan mereka tujuan mulia Naruto kesini!
"Kurasa kita tak perlu berbasa-basi lagi Namikaze-sama."
Minato berdehem pelan. "Baiklah, lagipula basa-basi bukan gayaku. Jadi apa yang kau inginkan?"
"Yah melihat semua yang sudah terjadi, aku memang tidak punya pilihan lain. Tapi sebelum aku mengambil keputusan ada satu hal yang ingin aku tanyakan." Neji menatap tajam pemuda di depannya, membuat Naruto tanpa sadar menelan ludah gugup. "Apa yang bisa kau berikan pada Hinata?"
Kedatangan Tenten dan Hinata menginterupsi obrolan serius itu. Sang gadis lavender mendudukan diri di samping sang kakak setelah mendistribusikan camilan pada para tamunya. Ia sempat menangkap kilat saphire yang tertuju lurus padanya.
Hembusan nafas pelan sang pemuda terdengar sebelum sang empunya menjawab.
"Kesuksesan," ujarnya mantap. "Sukses bukan berarti punya banyak uang, rumah mewah, mobil selangit. Aku tak bisa menjanjikan itu semua, karena bagiku sukses adalah ketika kita dapat mewujudkan apa yang menjadi cita-cita, mimpi, impian menjadi kenyataan. Aku akan berusaha untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita dan tujuan kami berdua. Karena kebahagiaan Hinata adalah kebahagiaanku juga."
"..."
Hening merajai selama beberapa detik menemani ketegangan para Uzumaki hingga helaan nafas Neji terdengar. "Baiklah, sekarang semuanya terserah padamu Hinata. Aku akan menghargai semua keputusamnu," ucapnya lugas mendeklarasikan kata menyerah yang menandai kekalahannya atas 'pertarungan'nya dengan sang pirang Uzumaki.
"Jadi apa jawabanmu Hinata?" tanya Naruto tak sabar. Oh ayolah, jantungnya sudah cukup banyak berolahraga hari ini. Ia ingin semua cepat berakhir dengan rasa lega membanjiri hati.
Hinata menunduk malu, semua mata kini tertuju padanya. Memejamkan mata lalu membuka perlahan kelopak putihnya untuk kemudian mendapati tatapan saphire penuh harap yang memelas padanya. Apakah ia punya alasan untuk menolak?
"Ya," cicitnya pelan. "Aku mau menikah denganmu, Naruto-kun."
.
.
.
To be Continued
.
.
.
Hahaha... duh chap ini kerasa drama banget ya wkwk. Biarlah namanya juga fiksi, jadi bebas2in imajinasi. Btw ada juga loh polisi yang ngelamar bawa pasukan, tentu saja ga segila Naruto disini hehe.
Kayaknya satu chap lagi tamat deh, doakan cepet up ya~ Terima kasih untuk yang sudah review, fav n follow. Maaf ga bisa sebutin satu2.
So, semoga tetap manis...#tebar gula
.
.
.
Omake
"Kyaa akhirnya menantuku datang ttebane! Aku tak sabar menanti cucu pertamaku." Kushina sibuk menghayalkan cucu-cucu lucu yang bisa ia pamerkan pada teman arisannya nanti. Cucu dengan mata biru berambut indigo tampak sangat menggemaskan dimatanya.
Minato tersenyum maklum melihat kelakuan heboh istrinya. "Kushina mereka belum menikah dan kau sudah membicarakan cucu?" sahutnya berbisik namun terdengar jelas dalam auditori.
Naruto tertawa gugup lagi melihat tingkah orangtuanya. Dengan cepat ia mengambil alih situasi, "Hinata terimakasih telah menerimaku." Naruto tersenyum lebar memamerkan barisan giginya yang putih. "Tapi sebuah lamaran tak lengkap tanpa acara tukar cicin. Jadi bisa kau berikan jarimu, Hime?"
Hinata tersenyum lembut bersiap menyambut uluran tangan prianya, sebelum Neji berdehem keras.
"Sebelum menikahi Hinata, kau harus berjanji satu hal."
"Apa itu? Katakan saja!"
"Kau yakin, Uzumaki?"
"Tentu saja. Apapun akan kulakukan untuk Hinata."
"Berjanjilah bahwa Hinata hanya akan menjadi Ibu setelah lulus."
"..."
"..."
"Huee itukan masih lama ttebayoo!?" Naruto bergerak gusar dalam duduknya, kalau tidak salah Hinata itu masih semester lima atau enam atau- pokoknya itu masih terlalu lama untuknya. Ia memandang wajah cantik Kaa-channya yang kini berguman 'cucu' berulang kali bahkan Tou-channya hanya mengirim tatapan 'bersabarlah, Nak' yang membuatnya semakin jengkel.
Pada akhinya Hinata menerima cincin kembar itu dengan raut wajah pemasangnya yang di tekuk, sedang ia hanya tertawa kikuk.
