Naruto tetap milik Masashi Kishimoto

Yuuki hanya meminjam chara-nya saja

Rate : M

Warning : Alurnya gaje, Lemon aneh in chapters 2

Don't like don't'read

Special Thank to

PeachEmerald99, zehakazama, Luca Marvell, Jamurlumutan462, dan Arum Junnie

Happy Reading…

Jerman, waktu menunjukan hampir tengah malam namun seorang lelaki bersurai merah semerah darah masih berkutik dengan laptop di kantornya. Matanya mulai memerah dan raut muka kusut menandakan dia perlu istirahat bahkan pergi tidur untuk menyambut kesibukan esok hari untuk reuni kecil bersama sahabat satu tim akatsuki, sahabat ketika dia mejalani wajib militer angkatan udara. Kemeja warna merahnya yang pagi begitu rapi dengan jas berwarna hitam membuat kesan pria berkarisma namun sekarang jasnya terlepas entah dimana dan 2 kancing di dada kemejanya terbuka. Deidara yang merupakan sekretaris pribadi sekaligus wakil direktur hanya menggelengkan kepalanya saat melihat direktur utama perusahaannya masih bekerja dengan raut muka kusut, ia mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Tidak mau mengganggu atasannya deidara mulai mejauhi pintu itu.

"Sasori-danna mungkin sedang mengejar deadline pekerjaannya karena besok akan dihabiskan dengan reuni dengan tim akatsuki yang diadakan di Italia" pikir Deidara.

Deidara yang merupakan bawahan yang sangat royal terhadap atasannya tidak ingin meninggalkan kantor begitu saja walau rasa kantuk sudah menghinggapi matanya. Dia berjalan ke dapur dan membuatkan secangkir kopi hitam dengan gula hanya 1 sendok teh, sehingga kopi tersebut tidak terlalu pahit dilidah. Kopi dengan 1 sendok teh gula adalah rasa kopi favorit atasannya yang tidak begitu menyukai rasa manis. Wangi kopi yang sedap menguar di indra penciumannya ketika air panas melarutkan kopi dan gula.

"wanginya, danna pasti suka" kata-kata tersebut iya ucapkan di keheningan dapur kantor pada tengah mala mini.

Deidara berjalan melewati lorong yang pencahayaannya kurang karena kantor yang sudah kosong ditinggal oleh kariawannya sehingga banyak ruang kerja yang lampunya telah dimatikan. Lorong tersebut cukup seram untuk dilewati Deidara yang sebenarnya sangat penakut.

Suara derap langkah sepatu di tangga darurat yang ada di ujung ruangan di sebrang dapur yang tadi ia lewati membuat bulu kunduk Deidara berdiri. Dengan langkah seribu setengah berlari dengan membawa cangkir panas berisi kopi. Sesampainya didepan pintu ruangan sasori tanpa pikir panjang lagi ditendangnya pintu itu tanpa memikirkan orang yang didalam ruangan tersebut akan mati karena serangan jantung mendadak akibat ulahnya yang mengagetkan. Deidara masuk dan segera membanting pintu lalu menguncinya dari dalam.

Deidara langasung meletakan cankirnya di atas meja ataannya tanpa melihat tatapan horror atasannya dengan mata merah yang kelelahan bekerja bercampur merah karena marah.

"danna di lorong sana ada hantu, dia sepertinya mengikutiku" dengan nafas yang tersenggal-senggal ia masih dalam posisi menunduk kelantai dan menyangga tubuhnya yang gemetar dengan memegang lututnya.

"kyaaa setan" Deidara mundur kebelakang ketika mendokrak kepalanya untuk melihat atasannya. Melihat mata merah yang cukup seram dalam suasana mencekam seperti sekarang. Namun itu hanya berlaku bagi Deidara yang sedang ketakutan.

Sasori berkata "sekalian saja kau hancurkan pintu itu dei" dengan tatap membunuh dan suara menahan amarah.

"ah gomenne danna" sedikit rasa takut karena menyebut atasannya sebagai setan. "a-aku hanya ingin memberikan mu secangkir kopi, karena aku kira kau akan bergadang untuk mengerjakan tumpukan berkas itu" dengan berbicara sedikit gagap, deidara menunjuk kopi yang diletakan di atas meja sasori tepat sebelah tumpukan dokumen pekerjaan.

"pulanglah dei, besok kita akan ke itali untuk bertemu sahabat kita dan terimakasih untuk kopi ini" ucap sasori sambil menyeruput kopi buatan deidara.

"en, iya danna aku akan pulang. Tapi sebelum itu aku ingin memberi tahu bahwa vila-vila mewah yang di bangun di lereng Mount Everest telah siap diresmikan dan hotel bawah laut di pulau Madives juga telah selesai di bangun. Jadi setelah kita pergi ke itali besok, lusanya kita akan kemana terlebih dahulu?" tanyanya deidara pada orang yang sedang duduk sambil memegang sebuah kalung dengan liontin berlian berbentuk silinder segi delapan.

"usai reuni aku akan pulang ke Jepang, aku sudah janji akan pulang pada putraku" jawab lelaki itu dengan mata yang tak teralih pandangannya pada batang silinder segi delapan tersebut.

"oi oi, Gaara-chan pasti merindukanmu ya danna? Terakhir kali aku melihatnya pada ulang tahun ke 2 nya, itu juga karena aku harus mengantar pulang nenek Ciyo dari pertemuan bisnis di Amerika. Ah sudah setahun yang lalu, sekarang pasti Gaara-chan sudah semakin besar" dengan mata yang berbinar sambil membayangkan duplikat sasori kecil yang mempunyai mata emerald milik sakura.

Sasori tersenyum tipis ketika mengingat kecerdasan puntranya dan manjanya "hm, dia tumbuh dan semakin besar. Dia anak yang cerdas dan jenius tapi dia memiliki sifat manja melebihi sifat manja sakura" .

"en, sebulan lagi Gaara-chan ulang tahun yang ke 3 kan danna? O iya itu apa danna? Oleh-oleh untuk Sakura-chan yang sedang mengandung adik Gaara-chan?" tanyanya sambil melirik benda yang ada di tangan sasori.

"ah ini… ini kunci harta karun akasuna. Sudah turun temurun, Akasuna sebenarnya sangat kaya dei, bahkan melebihi kekayaan keluarga mantan kekasih sakura yaitu Uchiha namun dunia tidak tahu bahwa akasuna memiliki harta terpendam berupa 7 berlian legendaris yang memiliki berbagai warna. Harga 1 berlian itu sebanding dengan membeli 10 pulau di jepang. Dan benda yang aku pegang ini adalah kunci. Aku sangat ingin memberikan ini pada Gaara ketika dia ulang tahun sebulan lagi, namun aku merasa bingung Gaara masih terlalu kecil sebagai pewaris kekayaan akasuna." Cerita sasori

"Danna tidakah kau takut aku mencuri kunci itu ? aku bisa saja membunuhmu" candanya pada sasori.

"hm? Sebelum kau mengambil berlian itu mungkin tubuhmu sudah hancur berkeping-keping dei. Apa kau lupa core bisnis keluarga Akasuna dari zaman dahulu adalah teknologi? Tentu saja sistem teknologi yang mutahir sebagai sistem pengamannya, selain berlian yang ada di tanganku sebagai kunci memasuki ruangan tempat penyimpanan 7 berlian itu. Ada sensor darah yang bekerja sepanjang lorong tersebut, hanya keturunan akasuna yang dalam tubuhnya mengalir darah akasuna lah yang bisa melewatinya. Karna kau bukan keturunan akasuna mungkin kau akan menjadi potongan daging steak yang siap di bakar" Sasori sedikit terkekeh.

"Akasuna memang hidup sederhana en, jika semuanya kau wariskan pada Gaara-chan lalu anak yang mungkin sedang dikandung sakura tidak akan mendapatkan harta warisan?" deidara sedikit berpikir dengan memposisikan duduk di kursi depan meja sasori. Dengan telunjuk didagunya.

"aku saja belum yakin sakura benar mengandung atau tidak. Lusa aku akan memastikannya dei." Jawabnya sekenanya

"Danna apa kau merangkap sebagai dokter kandungan sehingga kau dapat memastikan Sakura-chan hamil atau tidak?" tanyanya dengan raut wajah yang sedikit bingung akan perkataan yang di lontarkan oleh sasori.

"baka, aku sudah menjalin hubungan hapir 7 tahun. Menikah dengannya sudah 4 tahun dei. Tentunya aku tahu jadwal dia menstruasi, bahkan aku tahu masa subur dia." Seburat garis merah samar menghiasi pipi lelaki berambut merah tersebut.

"oi oi ternyata danna no hentai. Aku jadi iri padamu danna. Pantas saja sebulan setelah menikah Sakura-Chan langsung mengandung Gaara-chan. Atau kau jangan-jangan sering melakukannya setiap malam danna?" deidara menatap horror pada sasori.

Sasori hanya membuang muka "hm, bukan urusanmu baka. Sebaiknya kau cepat menemukan gadis untuk kau nikahu dei. Sahabat Sakura si Gadis Yamanaka itu saja sudah bersuami, sampai kapan kau akan berharap pada Yamanaka itu?" terselip nada kesal pada tiap kata yang keluar dari mulut sasori.

Hening sesaat sebelum ada seseorang yang mengetuk pintu

Tok tok tok, "Tuan, apakah tuan didalam?" tanya seseorang di luar ruangan

Dengan segera deidara melangkahkan kakinya menuju pintu dan dibukanya kunci pintu tersebut. Kenop pintu berputar dan memunculkan sesosok lelaku paruh baya sengan seragam satpam.

"ah Tuan, maafkan saya mengganggu anda, saya hanya ingin memastikan tuan masih berada di dalam sini atau sudah pulang. Apa tuan akan di sini sampai pagi?" tanyanya sedikit gugup.

"ah iya aku akan tetap disini, dan tolong antarkan lelaki yang disisimu itu karena di seorang penakut" ejek sasori pada deidara.

"Danna ! ah ya apakah robot itu akan danna bawa pulang ke jepang?" deidara sedikit tidak terima atas perkataan bosnya tersebut.

"ah iya dei tolong masukan kedalam koper dan urus keberangkatan besok, besok kita berangkat jam 9 pagi. Pastikan pesawat dalam keadaan baik, konfirmasi jam keberangkatan pada Baki-san"

"baiklah danna, aku pulang dulu. Dan hati-hati dikantor ini banyak arwah gentayangan" deidara menakut-nakuti sasori.

"Tuan saya tidak akan mematikan lift, kalau begitu saya permisi."

Satpam dan deidara pun pergi dari ruangan itu. Ruangan itu menjadi hening. Sasori masih teringat dengan kata-kata deidara "jangan-jangan kau sering melakukannya setiap hari". Kata-kata tersebut bagai mantra yang membuat mengingat pergulatan sepanjang malam diatas kasurnya, suara erotis sang istri. Dengan membayangkan kelembutan kulit tubuh sakura yang halus membuat sesuatu dibawah sana menegang.

"Sial si banci itu mengingatkanku pada sakuraku" kata-kata itu keluar dari mulutnya entah berkata pada siapa disana, bahkan ruangan tersebut tidak ada orang selain dirinya.

Sasori menyambar smartphone-nya lalu mengotak atik sebentar sehingga dilayar smartphonenya terlihat Calling My Wife. Sambil menunggu jawaban di sebrang sana, sasori masang headset pada smartphonenya. Tiba-tiba disebrang sana terdengar suara sakura.

"Hallo, sasori-kun ada apa? Aku harus bekerja, dan sekarang aku masih diperjalanan. Aku baru saja mengantar Gaara-chan kerumah Kaa-san." Sakura masih mengemudikan mobilnya dengan mengurangi kecepatannya karena konsentrasi menyetir terbagi dengan konsentrasi mendengarkan suara suaminya.

"eng ahhh saku" suara desahan sasori dengan nafas berat disebrang sana terdengar oleh sakura. Sedangkan sasori disalam ruangannya sudah mulai membuka ikat pinggang bahkan menurunkan celananya yang menyisakan boxernya saja.

Sakura sedikit kaget dengan suara suaminya sisebrang sana. Sakura yang kaget tersebut dengan segera mengaktifkan videocallnya sehingga menampakan wajah sasori dengan ekspresi yang tidak terbaca. "saso-kun apa kau sakit? Ada apa denganmu? Kenapa kau belum tidur ?" tanya sakura yang khawatir melihat suaminya.

Sosori sedikit menyeringai, dengan masih nafas berat yang tak beraturan sasori menanggapi pertanyaan sang istri "mmm aku ingin tidur dengan memeluk tubuhmu saku, aku ingin menciumi setiap inchi tubuhmu, aku ingin bersandar di dada empuk nan halus itu, dan ahhhh aku ingin menikmati pijatan hangat didalammu pada kejantananku saku".

Sakura begidik mendengar suami tercinta menggodanya, sakura yang sedang mengemudikan mobil pun hampir tak melihat lampu lalulintas yang berwarna merah. Sontak sakura mengerem mendadak, sehingga dada sakura membentur setir kemudi mobil tersebut.

"enghhh sakit" sakura mendesah kesakitan dan memraba dadanya yang terasa sakit "engghhh saso dadaku sakittt, ahhh"

Sasori tidak melihat kejadian sakura membentur kemudi kerena matanya mulai merem melek dengan tangan mulai mengocok kejantanannya, ekspresi kenikmatan. Dan entah kenapa suara desahan sakura yang kesakitan terdengar erotis di telinga sang suami. "ahh sakura sebut namaku dalam desahanmu, suaramu seksi honey. Apa kau terangsang honey sampai kau meremas payudaramu sendiri?" dilihatnya sakura yang seperti meremas-remas payudaranya sendiri. Sasori menyeringai dan melanjutkan gerakan tangannya dibawah sana.

Sakura yang mendengar permintaan suaminya tersebut langsung melotot dengan mulut hampir menganga. "sa-saso-ri kun…." Hening dan sakura melamun sejenak masih belum bisa mencerna apa maksud dari perkataan suaminya.

Setelah beberapa detik, baru sakura menyadari maksud dari perkataan suaminya melalui penglihatannya di videocall yang memperlihatkan raut muka sasori yang kenikmatan akan pijatan dan kocokan di kejantanannya. Dan sakura pun menjerit "Kyaaaa Sasori-kun Mesum" dengan mukanya yang berubah menjadi merah seperti rambut suaminya.

Taklama setelah itu bunyi kelakson di belakang mobil sakura menyadarkannya. Dan sakura mulai mengemudi lagi. Sedangkan disebrang sana, suaminya hanya tersenyum puas.
"Ne, Saku-chan lihat ini" sasori memfokuskan kameranya pada kejantanannya yang sudah sangat membesar dan keras, bakan warnanya memerah siap menyemburkan cairan tubuhnya.

Sakura melihat video tersebut yang membuatnya malu bahkan wajahnya seperti kepiting rebus. Sakura kehilangan konsentrasi mengemudinya dan "BRAKKKK" mobil yang dikendarai sakura menabrak trotoar di sebuah tikungan.

Sakura masih tebengong-bengon dan tidak mengalihkan perhatiannya pada smartphonenya yang menayangkan aksi sang suami, bahkan ia tidak menyadari bahwa mobilnya telah menabrak trotoar. Sakura terus memandangi smartphonenya dan tidak menyadari orang-orang diluar mobilnya terlah mengerumuni mobil itu.

"nona… nona…" seorang lelaki paruhbaya mengetuk-ngetuk kaca jendela mobilnya. Namun pandangan sakura masih tertuju pada smartphonenya yang menampilkan kejantanan sasori yang mulai mengeluarkan cairan putih kental. Dan disebrang sana sasori hanya mendesah nikmat menyebut nama istrinya.

"Nona… nona…" ketukan dikaca mobilnya lagi dan akhirnya menyadarkannya.

sakura berbicara sebentar dengan sasori sebelum dia keluar dari mobilnya dan sebelum menyadari bahwa iya menabrak trotoar. "Saso-kun aku malu, aku mau kerja" telpon tersebut diputus sepihak oleh sakura.

Sasori hanya tersenyum puas, dan merebahkan tubuhnya di sopa untuk menjemput mimpi indahnya yang mungkin melanjutkan aksi intimnya bersama sang istri di dalam mimpinya.

Sakura keluar dari mobilnya dengan muka yang masih memerah.

"nona.. apakah nona baik-baik saja, apakah ada yang terluka?" tanya seseorang yang tadi mengetuk pintu mobilnya.

"sebenaranya ada apa?" tanya sakura dengan polosnya.

"apakah kepala nona terbentur? Nona telah menabrak trotoar." Perkataan seorang tersebut menyadarkan sakura.

Sakura melihat mobilnya yang rusak akbat bertubrukan dengan trotoar. "Kyaaaa mobil kesayanganku, mobil yang aku beli dari hasil menabung dari gajiku" tangisan sakura membuat suasana terasa heboh.

Sementara dua Uchiha berbeda gender yang diketahui seorang direktur utama uchiha muda dan ibunya sedang menunggu dokternya datang. Mereka telah menunggu hampir setengah jam.
"kaa-san, mana dokter yang akan menangani kaa-san?" tanya pemuda uchiha itu pada sosok ibunya yang sedang duduk di kursi tunggu dalam ruangan dokter.

"ah, mungkin dokter akasuna-san masih dalam perjalanan. Kau tidak mau menunggu dan menemani kaa-san ya?" tanya ibunya dengan raut muka sedih.

"bagaimana bisa kaa-san mau dirawat oleh dokter yang tidak professional?" kesalnya sang anak karena menunggu dokter sang ibu tak kunjung datang.

"ah harusnya kaa-san check up besok, namun berhubung dokter cantik akasuna-san piket hari ini dan kamu sedang pulang ke rumah juga bisa mengantar ibu hari ini. Jadi ibu putuskan check up hari ini,,, dan lagiiii ibu mau kau berkenalan dengan dokter cantik ini." Raut sedih sang ibu tergantikan dengan raut muka ceria saat menceritakan sang dokter.

"hm, terserah kaa-san" jawab pemuda itu dengan dingin.

Sang ibu berharap putranya bisa tertarik dengan wanita yang selama ini menjadi dokternya. Sosok dokter itu bagi sang ibu adalah sosok wanita sempurna yang dapat menjadi istri putra bungsunya itu.

Dikediaman Haruno tepatnya di sebuah kamar dengan cat warna pink dan furniture purih, seperti kamar seorang perempuan. Di ranjang yang berselimut putih itu terbaring balita sekitar 3 tahun dan seorang wanita paruh baya sedang membelai-belai rambut merah sang bocah. Sedangkan sang bocah tertidur dengan memeluk sebuah teddy bear yang pas dipelukan bocah seumurannya.

Bocah tersebut merasa terusik dengan belaian sang nenek, lambat laun matanya mulai terbuka yang menandakan ia terbangun dari tidurnya. Lalu bergumam "mama…" sambil menggeliat dan membuka sepenuh matanya.

"hmmm Gaa-Chan sudah bangun? Mama Gaa-chan sudah berangkat. Gaa-chan hari ini Oma yang temani." Sambut riang sang nenek pada cucunya yang menurutnya sangat menggemaskan.

"Kyaaaa Gaara dimana?" kaget dengan suara yang sangat dikenalnya bahkan bagi Gaara kecil suara bagai nenek sihir. Sebenarnya suaranya riang dan lembuat tapi sifat Mebuki Haruno yaitu nenek bocah tersebut yang memperlakukan cucu semata wayangnya sebagai seorang cucu perempuan. Bahkan Mebuki sering memakaikan baju perempuan dan mendandani Gaara bak seorang bocah perempuan.

"tentu saja di rumah Oma, Gaa-chan ayo mandi kita akan jalan-jalan ke mall, kita akan beli baju baru buat Gaa-chan." Senyum Mebuki pada cucunya yang masih dipeluknya.

Nenek bocah itu tersenyum sangat manis tapi bagi bocah ini itu sebuah senyuman nenek sihir yang siap kapan saja merubahnya jadi makhluk mengerikan. Makhluk berupa bocah cantik dengan gender laki-laki. Gaara hanya bergidik melihat senyuman neneknya.

Gaara hanya menurut dan digendongnya gaara dan menaruh teddy bearnya di kasur tersebut lalu dibawa memasuki kamar mandi yang berada di kamar tersebut. Di kamar mandi tersebut sudah tersedia air hangat di beatub dengan 3 buah bebek karet yang mengapung di air hangat tersebut. Disampingnya terdapat berbagai macam perlengakapan mandi anak kecil.

Gaara Yang melihat pemandangan dalam kamar mandi tersebut hanya memutar bola matanya, neneknya sungguh memperlakukan Gaara secara berlebihan. Masih saja menghisi bak mandinya dengan bebek mainan itu. Satu atau 2 tahun yang lalu mungkin Gaara masih suka dengan bermain bebek karet ketika mandi, tapi bagi bocah berumur 3 tahun itu, dirinya merasa sudah besar dan tidak mau bermain dengan bebek karet itu.

"kenapa benda menjijikan itu ada di bak mandi Gaara? Singkirkan itu Oma, Gaara sudah besar" Gaara mulai mengembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya.

Mebuki melihat wajah lucu cucunya yang manja itu, tingkahnya yang merasa udah dewasa tapi kelakuannya masih seperti bocah. Memang pas dengan usia bocah bersurai merah itu. Mebuki hanya tertawa dan sesekali mencubit pipi yang di kembungkan cucunya.

"Ne, Gaa-chan kau mirip dengan mama mu kalau lagi merajuk seperti ini" ucap mebuki sambil mebuka piyama yang dipakai Gaara.

Tanpa ba bi bu lagi Gaara di mandikan dan beberapa menit kemudian balita tersebut sudah segar dan harum khas stowbery.

Gaara yang masih terbalut handuk didudukan di kasur yang tadi sempat ditidurinya. Sedangkan Nenek sang bocah itu terlihat sedang memilih-milih baju yang menurutnya cantik untuk dipakai Gaara.

Tanpa menunggu lama baju yag dipilih telah diputuskan oleh mebuki haruno. Hari ini Gaara akan memakai gaun brukat berwarna pink dengan pita besar berwarna merah di bagian pinggangnya. Baju tersebut akan terlihat manis jika dikenakan bocah cantik termasuk Gaara, yang sebentar lagi akan disulap jadi bocah cantik.

Gaara yang melihat baju pilihan neneknya hanya bisa berpasrah diri dan siap disihir jadi seorang balita cantik berambut merah yang terlihat lucu dan menggemaskan. Baju yang dipilih neneknya tersebut dapat ditebaknya dengan mudah, karena dari pengalaman-pengalaman selama ini neneknya tersebut tidak pernah mau memakaikan baju laki-laki padanya ketika berada di rumah mewah keluarga Haruno. Stok baju itu solah tidak ada habisnya, entah didapat dari mana, neneknya itu selalu saja punya baju bocah perempuan yang pas dengan tubuh Gaara. Hal yang memungkinkan adalah baju tersebut adalah baju sakura ketika masih kecil.

Gaara dipakaikan baju tersebut dan didandani seperti orang bocah perempuan, bahkan sekarang di kepala merahnya itu tersemat sebuah jepit kupu-kupu berwana putih. Bahkan dikakinya terpasang sepatu kaca mungil yang cantik sehingga Menambah kesan manis pada dirinya.

"wahhh Gaa-chan cantik sekali" pujian mebuki pada cucu kesayangannya.

Gaara Nampak tidak suka dengan pujian itu, bagi Gaara itu sebuah kata-kata yang tabu baginya. Gaara hanya memasang muka tanpa ekspresi.

Mebuki menggendongnya ke ruang makan dan menyuapi cucunya tersebut dengan bekal yang sakura bawa dari rumahnya. Sebuah menu 4 sehat dan ditambah segelas susu menjadi 5 sempurna. Sakura memang sangat memerhatikan makan anaknya untuk menjaga kesehatannya. Ilmu pengetahuan tentang kesehatan yang didapat semasa kuliahnya dulu di tanamkan di keseharian anaknya, Termasuk dalam hal makanan. Setelah selesai sarapan, Gaara dibawa oleh Mebuki untuk shopping.

Di butik di mall mewah tersebut, mebuki sambil menggendong cucu kesayangannya sedang memilih-milih baju anak perempuan yang tentunya akan dipakai Gaara.

"Ne Gaa-chan, sepertinya ini cocok dengan warna rambut Gaa-chan yang seperti papa Gaa-chan. Gaa-chan suka kan gaun ini." Sambil memperlihatkan gaun berwarna merah dengan renda diujung gaun tersebut.

Gaara hanya diam tak menanggapi pertanyaan dari neneknya.

"diam berarti Gaa-chan setuju dengan Oma ya, baiklah ayo kita coba." Mebuki membawa cucunya menuju ruang pass untuk mencobakan gaun itu pada Gaara. Pelayan butik tersebut mengekor di belakang dengan membawakan gaun yang tadi dipilih oleh mebuki.

"Gaa-chan, berbalik sayang. Oma akan melepas bajumu" mebuki membuka baju sang cucu.

Pelayan butik tersebut tersenyum mengamati cucu dari keluarga Haruno tersebut dan berkata "Nyonya, cucu andah sangat lucu dan menggemaskan. Sepertinya akan semakin cantik dengan memakai gaun ini. Dan sepertinya akan lebih cocok jika rambutnya sedikit dipanjangkan, kalau pendek seperti ini malah terlihat tampan." Ujar pelayan tersebut.

Gaara dengan kesal langsung menyahut dengan setengah bertriak "aku memang laki-laki" dan Gaara langsung mengerucutkan bibirnya.

Pelayan tersebut sepertinya cukup kaget dengan sahutan yang cukup keras dari sang bocah.

Mebuki yang menyadari sang pelayan yang terkejut hanya bisa tertawa "Ne, cucuku memang seorang laki-laki" yang msih tertawa.

Setelah selesai dipakainya gaun yang tadi dipilihkan mebuki, pelayan tersebut seketika memuji Gaara yang terlihat cantik dengan gaun itu "Nyonya sepertinya cucu anda sangat cantik dengan gaun ini".

Gaara yang tak suka dibilang cantik oleh orang lain langsung bertriak "aku seorang laki-laki". Dan tingkah Gaara membuat beberapa pelayan yang menyaksikan Gaara yang terlihat cantik, soktak semuanya tertawa. Bahkan mebuki tidak dapat berhenti tertawa sampai proses pembayaran pun mebuki nenek sang bocah cantik itu masih tertawa. Sedangkan sang bocah yang menjadi bahan tertawaan karena tingkah lucunya hanya bisa bersembunyi di dendongan neneknya.

Seorang wanita bersurai merah muda berlari tergoproh-goproh di lorong rumah sakit dan menabrak seorang suster.

Bruukk suara benturan dari kedua wanita itu dan selang 1 detik terdengar ringisan sakit "ahhh pantatku" kata seorang wanita bersurai merah muda tersebut.

Wanita yang bertabrakan dengannya tersadar bahwa ia menabrak seorang dokter yang sedang ia cari keberadaannya.

"dokter akasuna… gomenne" guman suster yang bertabrakan dengan sakura.

"ahh sesame pantatku terasa pecah, oh iya apakah Mikoto-san sudah lama menunggu" tanya sakura.

"hai sensei, Mikoto-san telah menunggu hampir 45 menit bersama putranya" sahut sang suster pada dokter merah muda tersebut.

"ah baik lah aku akan segera kesana, terimakasi Sasame-san" jawab sakura dan langsung bergegas menuju ruangannya.

Tap tap tap suara langkah sepatu mendekati ruang dokter akasuna sakura. Derap langkah tersebut dihasilkan oleh benturan sepatu hak sang dokter merah muda dengan lantai marmer rumah sakit.

Diputarnya knop pintu tersebut, dan memunculkan kepala merah muda tersebut dalam ruangan yang bertulisakan Dr. Akasuna Sakura. Dan 2 orang yang telah menunggu sukses menolehkan kepalanya pada pintu yang mulai menampakan sosok merah muda.

Beberapa detik kemudian Mikoto Tersenyum, namun si merah muda dan anak Mikota terluhat syok dan serempak keduanga berucapa "KAU…."

TBC

Halo mina, maaf ya kalau ceritanya masih kurang seru, yuuki akan selalu berusaha dan beajar untuk menulis cerita yang bisa di anggap seru. Jadi mohon reviewnya.

Chapter ini harusnya update hari minggu nanti tapi berhubung laptop yuuki masih belum di servis gara-gara terjatuh dari meja. Ini saja yuuki selesaikan chap pakai Laptop milik kakanya yuuki. Laptopnya besok mau di bawa ke Bandung, jadi yuuki memajukan jadwal updatenya.

Untuk chap selanjutnya, yuuki minta sarannya dong. Mau ceritain masalalu sasusaku tau sasusaso ?, di chap 3 baik mau cerita sasusaku atau sasosaku tetep ujung-ujungnya bikin sakura nangis. Yuuki minta sarannya ya