Naruto tetap milik Masashi Kishimoto
Yuuki hanya meminjam chara-nya saja
Rate : M
Warning : Alurnya gaje, kecepetan, typo akut
Don't like don't'read
Happy Reading…
Onyx dan emerald berbeda gender tersebut masih saling menatap kaget. Bahkan pemilik indah masing-masing itu setengah menganga karena syok. Cukup lama mereka harus tersadar bahwa di sana juga ada seorang paruh baya yang sedang terheran-heran menatap dua insan muda itu. Mikoto yang tak nyaman dengan suasana itu akhirnya memecah keheningan sekaligus membawa kedua orang yang saling bertatapan itu tersadar dari syoknya.
"ekhemm" Mikoto dengan sedikit kikuk karena canggung dengan gaya seperti tersendak, memegang lehernya dengan sedikit menggelengkan kepalanya.
Sontak kedua orang yang tengah asik menikmati dunia syok itu sadar. Sakura terlihat sedikit salah tingkah dengan memamerakan senyuman yang begitu di paksakan. Sedangkan sakuke kembali ke sikap stay cool nya. Sakura langsung berjalan memsuki ruangannya dan menuju meja tugasnya yang didepan meja tersebut telah berdiri dua orang Uchiha berbeda gender.
Sakura meletakan tasnya di mejanya dan menyapa kedua orang itu dengan muka memerah seperti malu "O-Ohayou Mikoto-San dan …" sakura sedikit bingung. Bukan sakura tak mengenali pemuda itu tapi kenapa pemuda itu bersama pasiennya dan pemikiran aneh dari innernya.
Sakura POV
Uchiha Sasuke, apakah benar dia si uchiha sombong itu? Kenapa dia ada disini?
Apa hubungannya dengan Mikoto-san ?
"Dia semakin tampan dan cukup seksi" tiba-tiba inner sakura muncul.
Tidak tidak tidak dia adalah monster yang sedingin es
"saku lihat dia sekarang bertubuh tinggi dan gagah, bahkan sasori pun kalah saing. Sasori tidak berbadan tinggi. Sasori kalah tinggi dan mungkin kalah seksi"
Sakura menyangkal perkataan innernya "Tidak Saso-kun lebih seksi walaupun saso-kun tidak setinggi sasuke. Dan lagi Kejantanan Saso-kun sangat perkasa seperti tadi pagi. Kejantanannya besar dan menyimpan banyak cairan kental itu. Dan eragan kenikmatan yang keluar dari mulut Saso-kun itu sangat erotis. Aku sangat suka itu."
Kyaaa apa yang aku pikirkan.
End Sakura POV
Mikoto yang menyadari perkataan sakura terhenti langsung menyahutinya "Sasuke, Uchiha Sasuke. Ini putra bungsuku. Ah Ohayou akasuna-san"
"eh, Ohayou Uchiha-san" dengan gugup sakura mengulurkan tangannya, memberi kode pada orang didepannya sebagai salam perkenalan.
Sasuke menyambut tangan sakura "Panggil aku Sa-Su-Ke nona Akasuna Sakura" dengan seringai tipis di wajah tampannya ketika mengeja namanya.
"Baiklah Sasuke-san" sahut sakura dan langsung mengajak Mikoto ke ruang pemeriksaan.
di pegangnya tangan Mikoto oleh dokternya "Ne, Mikoto-San mari saya periksa keadaan anda terlebih dulu"
Dan sang Uchiha muda hanya melihat dua wanita itu berjalan menuju ruang pemeriksaan. Namun pandangannya terfokus pada wanita mereh muda yang menjadi dokter ibunya. Memandangi wanita yang sedang berjalan menjauhinya, memandang dari unjung kaki hingga rambut. Walaupun posisi gaadis itu membelakanginya tapi pemuda itu sepertinya terhibur dengan adanya gadis itu sebagai pemandangan indah yang mampu menggambar senyum di wajah tampannya.
Setelah sampai di ruang pemeriksaan Mikoto berbaring dan mulai di periksa oleh sakura. Mulai dari Detak jantungnya, tekanan darah, melopak mata. Sampai beberapa menit berlalu pemeriksaan itu telah berakhir dan sakura mulai memberaskan peralatan dokternya itu ketempat semula. Sedangkan sang pasien hanya terus memandanginya.
"Akasuna-san tadi aku kira kau telah mengenal anakku, tapi ternyata aku salah. Habisnya tadi kalian terlihat sangat terkejut. Dan wajah akasuna-san memerah, ne apa karena anakku tampan?" ocehan pasiennya tanpa henti menemani sakura yang sedang membereskan peralatan dokternya.
"eh, hahaha" sakura kaget mendengar pertanyaan dari pasiennya tersebut. Ia hanya bisa menanggapinya dengan tawa canggungnya yang terlihat dipaksakan.
"apa mukaku merah? Ah memang benar sasuke memang tampan tapi sepertinya perubahan warna di mukaku ini bukan karena anakmu mikoto-san tapi karena aku mengingat apa yang suamiku lakukan ketika perjalanan untuk memeriksamu mikoto-san" sakura berkata dalam hati.
Sakura yang telah beres mengembalikan posisi alat kedokterannya pada tempat semula, dan keluar dari ruang peeriksaan, mulai berjalan ke meja kerjanya yang diikuti oleh mikoto. Sakura mendudukan dirinya di kusinya dan mikoto mendudukan diri di samping putranya yang sedang melamun dengan senyuman di bibir tipisnya itu.
SASUKE POV
Jadi marga wanita itu Akasuna, cih pantas si Dobe mengatakan bahwa gadis itu pindah ke suna setelah aku putuskan. Ternyata wanita merah muda ini adalah keturunan akasuna. Penerus akasuna dari isu yang beredar berusia tidak jauh dari usiaku dan merupakan anak tunggal. Akasuna yang sedang mengibarkan sayap dari perusahan teknologi ke bisnis property. Sepertinya akasuna akan menjadi partner kecil dari perusahanku. Mungkin akan beralih tangan jadi miliku. Kekayaan perusahaan itu cukup untuk menopang uchiha ketika saham uchiha dalam keadaan keritis. Sepertinya aku akan memikat gadis ini.
Dari dulu gadis ini memang cantik, oleh karena itu ketika gadis itu menyatakan cinta aku menerimanya sebagai bonekaku ketika aku sedang bosan dengan Karin.
"Sa-Sasuke-senpai aku mencintaimu, ano maukah kau menjadikanku sebagai kekasih?" ungkapan pernyataan gadis gulali itu, aku masih mengingatnya.
Cih dia culun sekali dulu, bahkan tubuhnya kecil dan tidak seksi. Tubuh seperti itu mana bisa memuaskan hasratku.
Tapi ternyata sekarang ulat yang menjijikan menjelma menjadi kupu-kupu yang cantik. Walaupun tubuh itu tak terlalu tinggi tapi dadanya sangat pas jikaku genggam dan pantatnya sekal, padat berisi. Mengingatkanku pada gitar sepanyol. Untuk fisiknya yang sekarang sangat mampu memberikanku kepuasan.
Oke Akasuna Sakaura kita tunggu tanggal main kau akan menjadi bonekaku lagi.
End Sasuke POV
"Sasuke-kun…" suara ibunya membuyarkan lamunannya.
"Sasuke-kun kau kenapa? Apa kau sakit" tanya ibunya lagi dengan raut muka penuh cemas.
Sasuke menggelengkan kepalanya. "hm, tidak kaa-san aku hanya teringat dengan Sarada-Chan" sangkalnya.
"Ah, kenapa dengan Sarada-chan?" tanyanya yang tambah khawatir.
"aku yang akan menjemputnya di sekolah setelah aku selesai meeting. Kebetulan tempat meetingku berdekatan dengan sekolah Sarada-Chan" bohongnya pada ibunya. Kebohongan itu membuatnya harus benar-benar menjemput anaknya. Padahal lokasi meeting nanti sore cukup jauh bahkan berbeda arah dengan sekolah anak itu.
Mikoto hanya manggut-manggut dan tersenyum pada putranya dan dalam hati Mikoto berbicara " Sasuke-kun sangat penyayang bahkan menyempatkan menjemput putrinya di sekolah, aku sungguh beruntung mempunyai anak sebaik sasu-kun. Mungkin Sasuke-kun juga sangat merindukan Sarada-Chan setelah beberapa bulan Sasu-kun harus mengurus perusahaan di Amerika yang hampir bangkrut".
Sang dokter yang sedari tadi terus mencatat di laporan kesehatan pasiennya itu tidak memerdulikan apa yang kedua orang itu bicarakan, dia hanya fokus menetukan formula pas untuk resep obat yang akan di berikan pada Wanita paruh baya di depannya.
"Mikoto-san sepertinya kesehatan anda mulai membaik, dan Mikoto-san tolong banyak istirahat berhubung sekarang memasuki musim dingin. Dan ini resep obatnya, mungkin mikoto-san Cuma membutuhkan vitamin saja untuk menjaga kondisi tubuh mikoto-san agar tidak mudah terserang sakit" sang dokter menerangkan dengan jelas pada pasiennya.
Mikoto menerima resep obat itu dan kedua Uchiha itu berdiri, bersiap untuk keluar dari ruangan dokter. "Arigato Akasuna-san… ah apakah Akasuna-san besok malam ada waktu luang? Aku hanya ingin mengundang Akasuna-san untuk makan malam." Tanya mikoto pada dokternya.
"eh, ah.." sakura terkejut dengan pertanyaan dan pernyataan bahwa dia di undang makan malam oleh keluarga Uchiha yang terkenal sangat kaya.
Beberapa detik sakura melirik sasuke. Sasuke juga meliriknya dan sedikit menyeringai dan seringai itu dilihat oleh sakura, seketika sakura merasa ngeri dan meneguk ludahnya sendiri.
"ah, ya sudah kami permisi dulu akasuna-san, kalau anda sempat datang berkunjunglah untuk sekedar makan malam di rumah kami. Jaa" pamit mikoto pada sakura.
mikoto melambaikan tangannya dan menghilang di balik pintu bersama putranya itu.
Setelah mikoto menghilang di balik pintu, Sakura terlihat kesal dan menghembuskan nafas panjang lalu menggerutu sendiri di ruangan itu "huuuhhh pagi-pagi sudah membuatku lelah, jadi mikoto-san itu ibu sasuke. Salahkan Tsunade sensei yang tidak mencantumkan marga mikoto-san pada data pasien, aku hampi mati jantungan". Tanpa sakura sadari akibat kesalnya ternyata tangan lentik yang memegang pena yang sedari tadi menulis laporan kesehatan di buku piketnya, dicoret-coret membentuk bola kusut.
"Kyaaa bukunya" triaknya panic ketika menyadari tindakan bodohnya itu. Buru-buru sakura mencari buku piket cadangan di lemari buku yang terletak di belakang kursi yang tadi dia duduki. Yang secara otomatis ketika mencari buku itu membelakangi pintu masuk ruangannya.
Seorang Dokter berambut pirang dan terlihat cantik di usianya yang teah menginjak 52 tahun, dokter yang sepertinya awet muda itu memasuki ruangan Dokter Akasuna Sakura tanpa permisi.
Sakura yang sedang mencari buku cadangan itu hanya mendumel dan tidak menyadari ada seseorang masuk ruangannya. "Dasar Nenek Tua, emang si Tsunade itu ya kalau menulis data pasien itu tidak pernah lengkap, bahkan marganya tidak di tulis. Hah maklum saja nenek-nenek emang sudah pikun."
Perempatan siku sudah muncul di jidat dokter pirang yang terlihat muda itu. "Sakura" triaknya pada dokter merah muda yang masih membelakanginya.
Bagai petir yang menyambar, sakura langsung gemetar, keringat dingin sudah mengucur di jidat lebaarnya. "T-Tsu-Tsunade Sensei" gumam sakura yang memcoba membalikan tubuhnya untuk melihat orang yang dia panggil Tsunade.
"Apa yang kau lakukan Sa-ku-ra" sahutnya dengan wajah yang cukup menakutkan seperti ingin memakan orang didepannya secara hidup-hidup.
"Ano, sensei kenapa sensei tiba-tiba ada disini" pertanyaan bodoh yang sukses keluar dari dokter berkepala merah muda.
"Sudah berapa tahun kau menjadi dokter hah? Jelas saja aku kesini ingin mengecek dokter yang piket dan kenapa malah kepala merah mudamu itu yang jaga untuk hari ini? Mana si Ino yang belaga bak artis itu?" tanyanya dengan marah-marah.
"ano sensei, ino harus menghadiri lomba menggambar yang di ikuti inojin karena Sai sedang mengadakan pameran di Inggris. Aku bermaksud untuk untuk bertukar jadwal piket. Besok suamiku pulang dan aku ingin menjemputnya atau setikdaknya ada dirumah ketika dia datang." Jawab sakura mencoba menjelaskan pada Tsunade.
Entah kenapa raut wajah Tsunade melunak ketika mendengar sasori akan pulang. "Ne, Saku jadi Sasori-kun besok pulang? Pulang dari mana dia?" tanyanya dengan wajah berbinar.
"ah sepertinya Saso-kun pulang dari Italia sensei"
"waw itali, bisa kah kau minta saso-kun membelikanku oleh-oleh itali, anggur italia" tanya tsunade yang berharap dapat dibelikan oleh-oleh luar negeri.
"Jadi wanita tua ini tidak jadi marah karena ingin di belikan oleh-oleh itali sama Saso-kun" dalam pikiran sakura. Dan sakura berkata pada Tsunade "ah baiklah sensei nanti sore aku akan menelponnya untuk meminta membeikan oleh-oleh untukmu". Sakura tersenyum sinis pada tsunade.
Tsunade terlihat sangat senang "Ne, ne , ne mana anak manis kesayanganku?" mata tsunade melihat sekeliling ruangan mencari anak kecil yang selalu dibawa tugas oleh sakura.
"Gaara-Chan aku titipkan di rumah kaa-san sensei karena hari ini aku akan lembur mengerjakan berkas yang harus aku kerjakan besok, biar walaupun aku besok tidak masuk tugas tapi pekerjaanku telah selesai dan tidak menumpuk." Jawab sakura sambil memindahkan catatan piket ke buku cadangan yang baru saja dia temukan.
"apa-apaan kau ini, anak itu tidak menyukai sikap Mebuki, Mebuki secara tidak langsung mendidik anakmu menjadi seorang banci. Gaa-Chan itu laki-laki." Sewot Tsunade ketika tahu anak kecil kesayangannya yang selalu bermain di taman rumah sakit miliknya sedang berada di tangan yang di anggap bocah itu sebagai Nenek Sihir.
Sakura yang mendengar itu menjadi tertawa saat mengingat kalau pulang menjemput Gaara yang dititpkan di ibunya selalu saja berubah jadi Bocah manis dan cantik dengan baju yang terlihat menggemaskan, baju untuk bocah perempuan "Hahaha tapi Kaa-san sangat menyayangi Gaa-kun sensei".
"sebaiknya kau nasehati ibumu itu Saku, aku tak pernah rela anak manis kesayanganku yang ku bantu saat persalinannya dengan geratis, dan lagi dia akan menjadi seorang yang sangat tampan ketika dia dewasa. Aku takan pernah rela jika sikapnya menjadi feminim" tegasnya pada sakura.
"hai sensei" jawab sakura dengan senyum yang sangat manis yang mampu membuat Tsunade yang di takuti karena sifat kerasnya selaku pemilik rumah sakit dan juga sebagai dokter senior dirumah sakitnya. Tsunade memang sudah menganggap Sakura sebagai anaknya. Dan menganggap Gaara seperti cucunya sendiri.
"Baiklah aku akan melanjutkan berkeliling, dan Saku kerjakan saja berkas pekerjaanmu. Pasien-pasienmu biar aku saja yang mengurusnya. Setelah selesai dengan berkasmu pulanglah, jangan sampai anak manis kesayanganku berlama-lama dengan ibumu. Dan sepertinya kau harus banyak istirahat Saku, akhir-akhir ini kau telihat pucat." tutur Tsunade dengan melangkahkan kakinya keluar ruangan sakura.
"hai sensei, sepertinya aku masuk angina, karena pagi-pagi sekali aku sudah mula-mual, ne Arigato Sensei.." setelah itu sakura mengerjakan dokumen-dokumen pekerjaannya.
Akatsuki School, merupakan sekolah elit di jepang milik Team Akatsuki lebih tepatnya 10 alumni Militer Angkatan Udara Jepang. Sekolah ini memiliki fasilitas yang sangat lengkap dengan tenangga pengajar professional dari dalam dan luar negeri. Sekolah yang berada di Kota Konoha ini terdiri dari PAUD, TK, SD, SMP dan SMA. Akatsuki School sekolah favorit, bahkan dari berbagai belahan dunia pun ingin menyekolahkan anak-anaknya di sekolah ini. Maka tidak heran di sekolah ini banyak berbagai macam anak dari yang berkulit putih sampai berkulit hitam. Di Akatsuki School memiliki kegiatan wajib yang mesti di ikuti muridnya yaitu pendidikan pelngenalan militer kemiliteran setiap jam 15.00 sampai jam 17.00.
Jam menunjukan 17.20 , gadis kecil dengan berkacamata mata kelamnya terlihat sedang menunggu seseorang, lebih tepatnya yang menjemputnya. Sekolahnya dari 10 menit yang lalu sudah terlihat sepi. Hanya satpam yang sedang bertugas di pos dekat gerbang sekolah itu yang menemani gadis berkacamata. Gadis itu terlihat bahagia ketika mendapati sebuah mobil audi hitam yang dikenalinya.
Ketika mobil audi itu berhenti tepat didepannya dangan riang Sarada menyapa orang yang sedang membuka pintu mobil mewah itu. "Papa… Papa menjemputku?"
Sambil berjalan kaki untuk menuju pintu penumpang di sebelah kemudi mobil mewah yang berwarna hitam, manusia tampan yang di panggil ayah itu hanya merespon dengan gumaman "hn.." yang sebenarnya bermakna ambigu. Hn bisa saja iya atau tidak. Tetapi setelah pemuda itu membukakan pintu penumpang menegaskan bahwa Hn yang di ucapkan itu berarti ya. "hn, masuklah kita akan pulang"
Gadis kecil itu menuruti apa yang diperintahkan oleh ayahnya, dia memasuki mobil dan duduk manis. Setelah ayahnya juga mendudukan diri disampingnya, mobil mewah itu pun melesat meninggalkan Akatsuki School.
"ne, papa. Tadi aku sempat di hukum Ebitsu Sensei karena tidakan Boruto yang mengacau di kelas. Aku, Shikadai, dan Chocou dihukum karena tidndakan bodohnya itu. Dan aku kesal pada Konan Sensei yang seminggu lalu memberi PR banyak tapi hari ini tidak masuk" Curhatan anak kecil itu pada sang ayah.
"hn, anak itu sama saja sama ayahnya. Hanya bisa mengacau, biarkan saja dia dan kau tak usah ikut-ikutan menjadi pengacau." Tegas ayah anak itu.
"Hai papa" jawab anak itu.
Mobil mewah itu melesat di jalanan konoha yang ramai. Dengan banyaknya volume kendaraan dijalanan, terlihat jalanan yang sedikit macet. Volume kendaraan bertambah karena ini adalah jam pulang kerja. Karyawan-karyawan pulang dari tugasnya dikantornya.
Dr. Tsunade Hospital of Konoha, nama rumah sakit yang didalamnya kini terlihat seorang dokter merah muda sedang terburu dengan lari-lari kecil di lorong rumah sakit yang terlihat sedikit sepi. Namun ada beberapa suster dan orang-orang yang melewati lorong itu juga.
"Kyaaa Jam 17.40 saking asyiknya mengerjakan dokumen kesehatan pasien aku sampai tak melihat waktu. Sampai-sampai hari sudah semakin gelap dan Handphoneku malah lowbatt, aku tak bisa memesan taksi. Gaara-Chan pasti marah padaku." Kata-kata dokter cantik berambut merah muda dengan tergesa-gesa menelusuri lorong rumah sakit itu.
Sesampainya di luar rumah sakit terlihat oleh emerald indah itu jalanan yang padat, dan ia segera menepi di pinggir trotoar untuk menunggu taksi kosong yang lewat di depannya. Namun naas tidak ada taksi yang kosong dan jika ada itu sudah dipesan oleh orang lain. Sakura hanya menggerutu "huuhh taksi sialan, masa ga ada taksi untukku. Ahh Gaara-Chan pasti marah. Sudah cukup nanti aku akan di berikan pandangan dinginnya karena aku menitipkannya pada Kaa-san seharian, dan jangan sampai tambah marah karena aku pulang telat. Saso-kun semuanya salah kau, mobilku masuk bengkel gara-gara kau." Sekilas sakura seperti orang gila berbicara sendiri.
Tak jauh dari sana terlihat sebuah mobil mewah audi berwarna hitam berisi 2 orang yaitu ayah dan anak. Sepertinya sang pemilik mobil melihat sosok merah muda yang tadi pagi bertemu dengannya. "Sarada-chan, sepertinya orang itu sedang butuh bantuan. Ah itu dokter yang tadi memeriksa nenekmu. Apa kita akan menolongnya? Memberi tumpangan dia? Sarada mau di pangku olehnya?" sasuke sambil menunjuk sakura yang terlihat sedang cemas dengan melihat setiap taksi yang lewat di depannya. Terlihat jelas oleh sang pemilik mobil bahwa dia sedang mencari taksi kosong.
"hai papa, sarada tidak keberatan" sarada mengangguk patuh.
Taklama dari anggukan patuh anak gadis itu mobil yang mereka tumpangi menghampiri dan berhenti di depan dokter cantik itu.
Sakura mengernyitkan dahinya "mengapa mobil ini berhenti didepanku, menghalangi saja untuk memberhentikan taksi kosong" katanya dengan wajah kesal san mulai melangkah menjauhi mobil itu.
Taklama kaca mobil itu mulai tuhun dan seseorang dengan suara yang taka sing bagi pendengaran sakura pun terdengar di telinganya "Akasuna-san" panggil pengendara mobil itu.
Sakura membungkukan badannya untuk memastikan orang yang memanggilnya. Dan benar saja orang itu adalah Uchiha Sasuke. "siapa gadis kecil itu, seperti sasuke versi anak perempuan namun sedikit berbeda dengan kaca mata yang betengger dihidung mungil gadis kecil itu. Kacamata itu… sepertinya aku pernah melihatnya dulu, tapi siapa… ?" pikir sakura.
"Akasuna-san apakah anda sedang mencari taksi? Ikutlah bersama kami, kami akan mengantarmu." Ajak pria dalam mobil itu.
"eng, …." Sakura sedikit bingung apakah dia harus menerima tawaran itu atau tidak, tapi kembali lagi ia berpikir, dia tidak mau membuat putra semata wayangnya buah cinta dia dengan sasori lebih marah karena pulang sangat telat sekali. Akhirnya sakura menyetujui penawaran itu. "baiklah"
"ah masuklah bibi kita akan berbagi tempat duduk, karena mobil papaku Cuma punya 2 kursi." Sarada membukakan pintu untuk sakura.
"ah, …." Sakura terhenti bicara.
Sarada menyadari "ah panggil aku Sarada, namaku Uchiha Sarada"
Sambil mendudukan dirinya dikursi penumpang mobil itu "ne, arigato Sarada-chan. Salam kenal Nama bibi Akasuna Sakura, kau boleh memanggil bibi Sakura." Sakura tersenyum manis pada anak gadis yang sedang memandangnya takjub.
"Hai bibi sakura" jawab sarada dengan riang.
Sebelum pintu mobil itu tertutup rapan sakura berkata "Ne sarada-chan lebih baik bibi pangku sarada-chan saja ya, biar duduknya lebih nyaman." Sarada pun menurut dan duduk dipangkuan sakura. Pintu mobil pun ditutup rapat, dan mobil itu siap mengantarkan sakura.
"Akasuna-san dimana rumah anda?" tanya sang pengemudi.
"ano rumahku di komplek Senju" jawabnya dan hanya direspon anggukan.
Sepanjang perjalanan sarada dan sakura mengobrol, mulai dari sarada yang mempunyai cita-cita menjadi seorang dokter sama seperti sakura, cerita teman-teman sarada disekolah, cerita liburan sarada di luar negeri sampai cerita makanan favorit sarada. Namun sang ayah yang sedari tadi menyetir hanya diam dan menjadi pendengar setia dua wanita manis yang duduk di sebelahnya. Jika orang melihat dari luar, mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia.
"ne bibi, sarada sangat suka ice cream terutama rasa stowberry kalau bibi suka apa?" tanyanya pada sakura.
Sakura yang Mendengar kata ice cream mengingatkan pada putranya "bibi juga suka ice cream rasa stowberry". Dalam pikiran sakura "Gaara-Chan juga suka ice cream tapi lebih cuka rasa coklat. Karena katanya lebih manis. Gaara-Chan ternyata mirip sepertiku, dia suka rasa manis. Ah aku jadi ingin membelikan Gaara-Chan ice crem coklat, mungkin bisa meredam marahnya."
"Sasuke-san bisa berhenti di minimarket sebentar, aku ingin membeli ice cream. Dan Apa sarada-chan juga mau?" tanyanya pada dua orang uchiha sekaligus.
"Iya bibi aku mau, ne papa bisa berhenti kan?" tanya anak itu pada ayahnya yang hanya di respon dengan anggukan.
Tak lama setelah itu mobil mewah berwarna hitam itu berhenti di sebuah minimarket dipinggir jalan.
"apa sarada-chan mau ikut masuk kedalam mini market untuk memilih ice cream yang sarada-chan mau?" tawar sakura sambil membuka mobil hitam itu.
"Sarada mau ikut bibi" sambutnya dengan riang. Mereka berdua memasuki minimarket namun sang pengmudi mobil itu memilih menunggu di dalam mobil.
Sesampainya di tempat ice cream sarada memilih ice cream yang ber cup kecil dengan rasa stowberry. Dan sakura memilih 2 cup ice crem besar rasa coklat.
Sakura yang melihat sarada memilih ice ceram yang bercup kecil heran dan bertanya "Sarada-chan kenapa megambil yang kecil? ambil lah yang besar. Bibi yang akan bayar."
"ah tidak bibi, aku ingin yang kecil, kalau aku banyak makan ice cream aku takut gemuk. Tidak baik buat seorang gadis jika berat badannya berlebih" mengungkapkan alasannya.
Pikir sakura "hei hei hei kau masih anak kecil, pikirkan itu ketika remaja saja. Aku yang seorang wnita saja tidak peduli, tapi sepertinya tubuhku mengerti. Aku sekeluarga Gaara-Chan maupun Saso-kun sangat suka mengemil dan makan ice crem tapi berat badan kami masih ideal. Tapi mungkin memang pipi Gaara-chan memang sedikit chuby." Lalu sakura berkata pada anak gadi itu "hahaha baiklah, apa sarada mau beli cemilan? Bibi akan beli cemilan untuk dibawa kerumah."
Sarada menggelengkan kepalanya yang berarti tidak mau membeli cemilan. "ne bibi, kenapa bibi membeli rasa coklat? Tadi pas di mobil bibi bilang suka stowberry." Tanyanya heran karena melihat iceream yang dipilih sakura rasa coklat semua.
Sambil memilih cemilan dan memasukannya ke keranjang belanjaan Sakura yang sebelunya telah terisi 3 cup ice cream. "karena rasa coklat di sukai oleh orang-orang dirumah bibi." Jaawabnya dengan senyuman.
Setelah dirasa cukup untuk oleh-oleh Gaara dirumah, sakura membayar semua belanjaannya dan mereka kembali kedalam mobil. Sarada langsung memakan ice creamnya namun sakura tidak memakan ice cream itu karena memang ice cream itu untuk anak manisnya di rumah yang sedang menunggunya pulang.
Mobil yang sasuke kemudikan telah sampai di pinggiran kota konoha, dan memasuki komlek Senju.
"Ah Sasuke-san saya akan tuhun di depan sana" tunjuk sakura pada daerah Komplek Senju Blok H.
Sasuke memberhentikan mobilnya di tempat yang sakura tunjuk, dan sakura mulai keluar dari mobil itu dengan menenteng kontong belanjaan dan tas kerjanya.
"ah akhirnya sampai. Arigato sasuke-san dan sarada chan. Jaa ne sarada-chan" pintu mobil ditutup dan mobil itu melaju meninggalkan wanita merah muda itu sendirian. Dan wanita itu berjalan menuju rumah dengan nama Haruno.
Sementara dalam mobil yang tadi dokter merah muda itu tumpangi terjadi percakapan kecil antara anak dan ayah.
"ne, papa, bibi sakura sangat baik dan cantik. Aku suka pada bibi sakura." Pernyataan sarada pada ayahnya.
"hn, kau suka padanya. Baiklah cepat atau lambat dia akan jadi milik Uchiha. Kita tunggu saja tanggal mainnya." Jawab sasuke dengan seringai licik.
Sementara di kediaman haruno, Nampak sosok merah muda memasuki rumah mewah haruno.
"Tadaima" ucapnya dengan ceria berharap anaknya berlari dan memeluk rindupadanya. Namun sang anak yang diharapkan memeluknya tidak terlihat batang hidungnya. Di rung keluarga hanya terlihat ayahnya yang sedang menonton televisi.
"Okaeri Sakura-Chan, ah Tou san tidak mendengar suara mobilmu" jawab ayah dari wanita bersurai merah muda itu.
"Ne. MObilku ada di bengkel, tadi pagi aku menabrak trotoar karena tak konsen menyetir. Tou-san dimana Gaara-Chan ? Tidak mungkin kan Gaara-Chan tidur karena biasanya dia tidur larut malam. Dan harus dinyanyikan lagu oleh papanya." Tanya sakura yang terlihat mencari anaknya di sekitar ruangan tengah.
"oi Oi dasar ceroboh. ah Gaa-Chan sedang dimandikan oleh Kaa-san mu Saku-chan. Tadi Gaa-Chan sempat menolak untuk dimandikan Kaa-sanmu, sampai akhirnya Gaa-Chan menangis karena tubuhnya gatal, akhirnya Gaa-Chan mau dimandikan Kaa-san mu. Ah tadi Gaa-Chan bilang ke Tou-chan Apa ya? bukan memanggil oma, oh iya Gaa-Cahn menyebut Kaa-sanmu Nenek sihir. Ah anakmu itu sungguh menggemaskan." Ayah sakura hanya tertawa menceritakan kelakuan cucu semata wayangnya itu.
"ah anak itu, Tou-san bilang Kaa-san jangan mendandani Gaara-Chan seperti anak perempuan, Gaara-chan sudah semakin besar dan dia malu. Jadi pantas saja Gaara-Chan memanggil Kaa-san Nenek Sihir karena Kaa-san di mata Gaara-Chan seperti Nenek Sihir yang menyihirnya jadi makhluk mengerikan. Walaupun di mata orang lain Gaara-chan terlihat lucu, tapi Gaara-chan anak laki-laki tulen. Saku juga tidak ingin Gaara-chan jadi Feminim. Gaara-chan harus seperti Saso-kun yang Gagah." Jelasnya panjang lebar pada sang ayah.
"iya Tou-san juga sudah sering bilang begitu, tapi Kaa-sanmu bilang akan berhenti kalau Gaara-Chan sudah genap 3 tahun. Tunggu sebualn lagi saku, bersabarlah. Dan sebaiknya kau selamatkan putramu itu dari nenek sihir yang akan menyihirnya." Seru sang ayah.
"ah baiklah, sepertinya Ratu kerajaan akan menyelamatkan anaknya dari nenek sihir, hahaha" sakura tertawa dengan melenggangkan kakinya menuju kamar yang dulu ia tempati semasa belum menikah dengan Sasori.
Sakura Membuka pintu kamar dengan pintu yang berwarna putih, ketika pintu itu terbuka menampakan kamar pink dengan furniture putih yang Nampak anggun untuk anak perempuan, dilihatnya Ibunya yang menggendong ankanknya yang terlihat masih sesegukan menangis dengan kulih yang memerah karena alergi yang masih terbalut handuk keluar dari kamar mandi. Sakura setengah bertriak "Tadaima".
Keduanya menoleh ketika mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
Anak di gendongan mebuki yang terlihat sedang menangis langsung berbinar ketika dilihatnya sang ibu telah pulang. Dengan segera anak itu meronta turun dan sukses lolos dari gendongan sang Oma, mebuat handuk yang melilit tubuhnya terjatuh dan meloloskannya dari handuk itu dari tubuhnya. Gaara langsung berlari memanggil ibunya.
"Mama…." Namun beberapa saat sebelum sakura menyambut dan memeluknya Gaara berbalik dan terlihat pipi mengembung dengan mulut mengerucut.
"Ne, Gaara-Chan tidak mau mama peluk?" tanya sang ibu dengan sedikit jahil berpura-pura sedih karena melihat ekspresi wajah yang mengembung dengan mulut mengerucut.
"Gaara tidak mau di peluk sama mama yang suka bohong dan pulang telat" terlihat mulut yg semakin mengerucut dan menghindari ketika Sakura ingin menatapnya. Sedangkan sang nenek hanya melihat kelakuan anak dan cucunya yang dianggap pemandangan yang lucu dan menggemaskan.
"Ne Gaara-Chan maafkan mama ya, tadi mama telat karena ingat gaara-chan suka ice cream dan cemilan kesukaan Gaara-chan. Mama mencari-cari dulu ice crem rasa coklat dengan cup besar. Tapi ternyata Gaara-chan tidak suka ya?" sakura menjahili dengan menutup mukanya seperti adegan sedang menangis.
Gaara yang mendengar penjelasan sakura langsung berbinar, pipi kembung dan bibir mengerucutnya hilang dalam sekejap menjadi senyuman manis. Gaara langsung berbalik untuk menatap sang ibu. Sambil memutar badannya Gaara berkata "Benarkah ?"
Namun muka sengnya berubah menjadi kaget ketika dilihatnya ibu tersayang dalam pose seperti sedang menangis dengan telapak tangan menutupi wajahnya.
"Ne, mama jangan menangis, Gaara Cuma bercanda. Maafkan Gaara, Gaara Cuma kangen mama." Ungkapnya menyesal karena dia telah marah pada ibunya. Gaara mencoba menyentuk tangan ibunya, dan beberapa saat kemudian.
"Taaaraaa…. Mama sayang Gaara-chan" sakura mengagetkan Gaara dan langsung dipeluk dengan sayang oleh sakura, dan memberikan ciuman sayang di kedua pipi gembil dan kening yang diberi tato kecil bertuliskan Ai yang sedikit tersembunyi di sebelah kiri itu. Tato yang semakin diperhatikan membentuk kalajengking yang indah.
"Mama" riangnya dengan mambalas pelukan ibunya dan menenggelamkan kepalanya di dada empuk sakura.
"Ne, Gaara-Chan sekarang di baju dulu ya, mau dipakaikan sama mama atau sama Oma?" tawarnya agak sedikit jahil.
Sang nenek yang mendengarkan ikut menjahilinya, "ah sepertinya Gaa-Cahn mau di pakaikan baju sama Oma k an?"
Dengan secepat kilat Gaara menolak tawaran neneknya itu "tidak.. Gaara mau dipakaikan baju oleh mama" Gaara menatap horror neneknya.
Kedua wanita dewasa yang melihat tingkah laku bocah itu hanya tertawa dan bocah yang di tertawakan hanya mengembungkan pipinya. Dengan mengembungkan pipinya Gaara terlihat makin menggemaskan.
"Baiklah nenek tidak akan memakaikan baju Gaa-Chan. Nene mau menyiapkan dulu makan malam." Kata mebuki yang masih tertawa.
"Ne, kaa-san aku sepertinya mau langsung pulang setelah mandi. Jadi aku tidak makan malam disini. Aku sudah lelah dan ingin segera pulang" kata sakura pada ibunya.
"ah kau belum makan malam saku, Kaa-san akan membuat bekal makanan untukmu saku." Kata mebuki yang khawatir pada sakura yang terlihat pucat beberapa hari kebelakang.
"souka, baiklah nanti aku akan makan sebelum tidur." Jawab sakura sambil menggendong Gaara ke atas kasur untu memakaikan baju.
Sang ibu yang mendengar persetujuannya langsung melenggang ke luar kamar untuk membuatkan bekal yang akan dibawa pulang oleh sakura.
Sakura memakaikan baju pada Gaara,dengan menja Gaara terus ingin dipelukkan ibunya. "Ne, mama ice cream untu gaara benar mama beli?" tanya yang sedang asik dalam pelukan hanyat ibunya dengan memaikan rambut merah muda sakura.
"tentu saja mama tidak bohong, coba liat saja di ruang televise. Atau mungkin Opa sudah memakannya karena tadi Opa sedang nonton televise disana." Sakura lagi-lagi menjaili anaknya.
"kyaaa Opa tidak boleh memakan ice cream Gaara" dengan cepat Gaara melepaskan pelukan sakura dan berlalari keluar kamar.
"ne Gaara-Chan mama mandi dulu ya, setelah itu kita pulang" kata sakura bertriak ketika anaknya sudah dengan kecepatan cahaya berlari keruang televisi keluarga Haruno.
Sebelum memasuki kamar mandi, sakura menyempatkan diri mencharjer Smartphonenya, ketika batrai mulai terisi sakura langsung menghidupkan smartphonenya.
18 misscall dan 3 message
Dilihatnya siapa yang memisscall nya sebanyak 18 kali itu dan semuanya dari suaminya. Terus sakura melihat inbox ke tiganya juga dari suaminya.
From : My Husband
Ohayou Honey, ah telpon mu tak bisa dihubungi. disini pagi mungkin disana menjelang sore dan kau pasti sedang sibuk. Jangan pulang telat Saku-Chan, Gaara-Chan masih kecil dan membutuhkan perhatian ekstra darimu. Love u
From : My Husband
Masih tidak dapat dihubungi, kemana saja kau? Sibuk sekali kah di rumah sakit hingga suamimu kau acuhkan? Aku sebentarlagi take off. Jangan kerja berlebihan, ingat kesehatan. Love u
From My Husband
Astaga, masih belum aktif kah handphonemu. Sepertinya aku harus membelikanmu handphone cadangan. Kau pasti belum pulang. Ah Saku-Chan kalau kau lewat waktu dari jam kerja, besok-besok aku minta Tsunade-san memecat mu. Ingat dengan Gaara-Chan Saku. Ingatlah kau sekarang seorang ibu. Maaf saku aku sudah cerewet. Aku hanya ingin memberi tahu aku sampai Italia dengan selamat. Segera hubungi aku, karena aku merindukan kalian berdua. Love u.
"Maafkan aku saso-kun, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, aku akan merawat Gaara-Chan kita dengan baik" gumamnya merasa bersalah karena pulang telat. Lalu melangkahkan kakinya mamasuki kamar mandi.
Di ruang tengah Keluarga Haruna, Sepasang suami istri Haruno sedang menertawakan cucu semata wayangnya yang sedang makan ice cream dengan rakus, pipinya yang aga kemerahan karena alergi itu terlihat lucu dengan coklat yang menghiasi pipi dan sudut bibir anak manis itu.
"Ne, Gaa-Chan makannya jangan terburu buru nanti tersendak." Sambil tertawa nenek sang bocah memperingatkan cucunya akan makan ice creamnya dengan perlahan. Namun sang bocah tidak menghiraukan perkataan sang nenek.
Gaara memakan ice cremnya dengan terburu-buru seakan-akan akan segera menghilang jika dia tidak menghabiskan secepatnya. "Uhuk uhuk…" Gara terbatuk karena tersendat, mulut mungilnya yang penuh ice cream itu menyemburkan isinya.
Sakura yang terlihat freash memakai kaos santai dan celana pendek dengan rambut yang masih di keringkan oleh handuk juga melihat adegan dimana gaara menyemburkan ice crem yang berada dalam mulutnya di ruangan tengah keluarga haruno yang akhirnya mengotori lantai di ruangan itu.
"Gaara-Chan kau mengotori ruangan" omel sakura pada Gaara yang sedang menyeka mulutnya yang berlumuran dengan ice cream rasa coklat, namun bukan terlihat bersih tapi ice cream tersebut malah memenuhi pipi gembilnya itu. Bahkan baju yang Gaara kenakan sudah penuh dengan ice cream. Sakura mengambil tissue dan mencoba membersihkan pipi gembil putranya itu.
Gaara yang sedang di bersikan dari ice cream oleh sang ibu hanya tersenyum riang, dan "Bruk" Gaara langsung memeluk ibunya.
Perlakuan Gaara membuat Sakura kaget "Kyaaa Gaara-Chan jangan peluk mama" namun terlambat baju yang Sakura kenakan sudah ikut kotor karena menepal dengan baju Gaara. Sakura memandangi anaknya sekan di akan marah, namun rasa merah menghilang karena di lihatnya senyuman hangat anaknya itu. Sakura tidak jadi memarahi putranya, dan ia memeluk putranya dengan erat tak peduli bajunya ajan semakin kotor karena sakura sangat bahagia mempunya anak manis seperti gaara.
"ne, Gaara-Chan kita ganti baju itu kita pulang karena besok papa pulang" ajaknya pada sang anak untuk mengganti baju.
"Kaa-san bisakah pesankan taksi untuk kami?" mintanya pada sang ibu.
"mobilmu kemana saku-chan? Di tinggal rumah sakit ?" tanya mebuki heran kenapa anaknya meminta memsankan taksi.
"ano, aku menabrak trotoar tadi pagi dan mobilku masih di bengkel untuk 3 hari kedepan" jawabnya dengan tawa canggung. Karena malu dengan kecerobohannya.
"Apa?" triak mebuki kaget. "ya sudah cepat kalian ganti baju, sudah jam 8 lebih" kata mebuki pada anak dan cucunya.
"ne, ayo Gaara-chan" kata sakura pada anak semata wayangnya.
Sang anak hanya menganggukan kepalanya dengan tertawa riang karena papanya akan puang. Sakura mengelus pucuk merah seperti milik sasori itu dan salngsung menggendongnya memasuki kamar untuk ganti baju.
Sekarang ibu dan anak itu memakai kaos putih santai dengan senyuman lebar tak henti-hentinya terlukis di wajah imut Gaara.
"Kaa-san Tou-san Saku dan Gaara-Chan pamit ya" ucap sakura dengan tangan kiri menenteng plastic belajaan, tas dan sebuah kotak bekal makanan. Sedangkan tangan kanan mengendong putranya yang memeluk teddy bear kesayangannya. Sakura berjalan menuju taksi yang telah menunggunya di depan rumah keluarga haruno.
"Hati-hati Saku-Chan, Jaga Gaa-Chan kami" kata mebuki dengan melambaikan tangan.
Sakura dan gaara telah memasuki mobil, sebelum mobil itu melesat gaara melambaikan tangannya pada kakek dan neneknya "Jaa ne, Oma Opa"
Di perjalanan pulangnya Gaara terlihat mengantuk, Gaara yang duduk di sebelah sakura itu sakura pangu agar sang anak nyaman dan bisa tertidur. Namun anak itu merajuk pada ibunya.
"mama Gaara ingin telpon papa, gaara ngantuk." Gaara yang berada dipelukan sakura dengan memeluk teddy kesayangannya mendongkrak kepalanya untuk memohon dengan mata yang sengaja seperi Puppy eye.
"hm tapi papa sepertinya sedang reuni dengan teman-temanya. Sebaiknya kita tunggu papa yang menelpon kita ya sayang." Bujuk sakura pada anaknya.
Gaara terlihat sedih, dan itu membuat sakura tak tega apa lagi Gaara sudah setengah mengantuk. Kalau tidak dituruti untuk sekedar mendengar suara ayahnya, dia tidak akan tertidur.
"Ne, baik lah kita coba telpon papa" sakura memainkan smartphonenya dan terlihat Calling My Husband.
Suara nada tunggu tersengar di telinga ibu dan anak itu. Tak lama kemudian terdengar suara lelaki di sebrang sana.
"Hallo, Sakura-Chan" sura lelaki di sebrang sana.
"ah, Hallo.." sakura mengernyit karna suara itu bukan suara suaminya dan bukan juga suara sekretaris pirangnya.
"ah, ini aku Pein Saku-chan, maaf mengangkat telpon milik saso. Saso sepertinya sedang mandi." Jelas lelaki di sebrang telpon itu.
Ketika laki-laki disebrang telpon menyebutkan namanya, dengan cepat Gaara bertriak pada ibunya. "mama Gaara mau bicara dengan paman Pein"
Pein yang mendengar triakan anak kecil di telpon itu tersenyum senang "saku-chan bisa aku bicara dengan Gaara-Chan. Aku sepertinya merindukan kembaran saso kecil itu" pintanya pada ibu sang anak.
"ah baiklah" sakura memberikan smartphonenya pada sang anak.
"Ne, Paman Pein apa kabar? Ini Gaara" tanyanya dengan riang.
"Hallo Gaa-chan, paman dan yang lainnya baik-baik saja, Gaa-chan sendiri pasti baik-baik saja karna suara Gaa-chan keras sekali" Pein tertawa karena Gaara dengan semangat menyapanya. "Gaa-chan sepertinya sudah siap jadi komandan pilot pesawat tempur akatsuki dari suaranya".
"Tentu Gaara kan mempunyai cita-cita yang sama dengan papa Gaara, menjadi militer angkatan udara" jawabnya dengan percaya diri.
Di sebrang sana Pein hanya tersenyum jahil "ah Papa Gaa-chan tidak mempunyai cita-cita menjadi militer angkatan udara. Waktu itu papa Gaa-chan ikut wajib militer karena…" Pein semakin tersenyum jahil.
Gaara yang penasaran dan tidak sabar menunggu kelimat lanjutan dari Pein "karena apa paman?" tanyanya tak sabaran.
"ah, coba tanya mamamu Gaa-chan, sepertinya mamamu lebih tau dari paman" Pein sukses tertawa ketika mengingat apa yang menjadikan alas an sahabatnya itu mengikuti wajib militer.
Gaara yang penasaran pun langsung bertanya pada sakura "Mama, mama tau kenapa alas an papa mengikuti wajib militer?"
Pertanyaan anaknya sukses membuat wajah sakura seperti kepiting rebus "Ano, itu…. Itu karena…"
TBC
Hallo mina, terimakasih pada yang sudah baca dan review fic yang yuuki buat.
Fic ini banyak sekali pengorbanannya, yuuki harus ke warnet hanya untuk sekedar mengetiknya. Hiks hiks laptop yuuki rusaknya parah, dari pada di servis perlu biaya besar mending tidak usah di service sekalian dan nabung buat beli yang baru.
Ah maaf karena keterbatasan fasilitas jadwal update yuuki jadi tak beraturan. Untuk chap 4 mungkin aga sedikit telat update karena yuuki mau bekerja paruh waktu dengan ikut berbagai lomba menulis. Ya siapa tau saja bisa menang dan dapet tambahan uang untuk beli laptop baru. Doain yuuki supaya menang ya.
Mina, buat yang review untuk yg chap 1 itu yuuki reply by PM. Tapi yuuki liat dari fic orang ternyata reply reviewnya di tulis di bagian bawah cerita. Apa yuuki harus balas seperti di fic orang lain ? untuk chap 3 ini tolong minta reviewnya ya buat saran dan masukan, nyampein unek-unek juga boleh hehe.
75% moodbooster menulis yuuki itu ya dari riview kalian yang sudah baca. Karena karya yuuki merasa dihagai.
Ah baik lah yuuki balas review sebelum-sebelumnya dan untuk orang-orang yang sudah review, yuuki ucapkan terimakasih banyak.
Zehakazama : wah makasih atas pujiannya. Iya ada pair sasusakunya tapi sejauh ini baru pengenalan ya. sasu aja baru muncul di chap 3 ini. Dan ya sasu jadi pihak ke 3. Terimakasih dan terus baca fic yuuki ya hehe J
Arum Junnie :wah hebat belum baca tapi sudah komen dulu, hehe . Sasunya sebenernya ga merebut secara langsung sih, dan sasu ga mungkin bisa balikin saso kecuali ini fic dunia ninja mungkin bisa menggunakan jurus ninja. Hehe.
Jamurlumutan462 :tenang saja ya mengapa aku masukan pair sasu juga karena ada bagiannya juga, namun sekarang masih ya sedikit bahkan baru muncul di chap ini. Wah iya aku sendiri membayangkan Gaara kawai, lagian gaara beneran seperti campuran sasosaku jadi aku pilih chara Gaara sebagai anak Sasosaku. Hehe
Luca Marvell : ya sepertinya sasuke memang sangat bermasalah mungkin untuk gaara. Tapi Gaara anak jenius kan, dia tidak akan kalah dengan sasuke. Anak kecil itu punya banyak trik ko untuk mengatasi masalah dengan sasuke.
PeachEmerald99 : iya ini genre family tapi hurt. Ya itu lah sasori di fic ini yang cukup mesum pada saku hehe. Gaara ga akan jadi feminim ko, tunggu sebulan lagi ya saat gaara umur 3 tahun mebuki akan berhenti mendandani gaara seperti anak perempuan. Tapi sungguh aku membayangkan gaara memakai baju perempuan itu sangat lucu dan menggemaskan hehehe.
Rizkyanne : wah makasih pujiannya, pasti lanjut dong walau jadwal updatenya tidak menentu. Tetap ikuti saja ya fic ini.
Permen lemon : iya sasosaku. Ga akan putus di tengah jalan ko, tapi mungkin jadwal updatenya memang tidak menentu karna keterbatasan fasilitas. Hehehe terus baca fic ini ya hehe
Saso : iya saso saku hehehe tetap baca ya J
Zarachan : tetap baca aja karena jadwalnya ga menentu jadi yuuki mohon maaf ya.
See you next Chapter 4
