Disclaimer : Masashi Kishimoto
Autor : Yuukikiraina (hanya meminjam character Naruto)
Genre : Family/Hurt/Comfort
Rated : M (Cahp 5 no lime)
Pairing : [Sasori, Gaara, Sakura] [Sasuke, Sakura]
Warning : typo, alur cepat,AU OC, OOC, RnR, dll
Happy Reading…..
Continue of Flashback
Ketika lelaki itu medudukan diri di sebrang Sakura, dan Sakura melihat siapa orang yang duduk di sebrangnya. "Kau-"
Sakura membulatkan matanya dengan mulut yang menganga lebar. Beberapa detik mata emeraldnya tak berkedip. Sedangkan Lelaki berambut merah menyala itu hanya mengangkat alis dan sedikit tersenyum.
"Hei apa-apaan kau disini. Pergi dari hadapanku, Pria sialan…." Gadis itu memaki peria itu dengan amarah yang meletup-letup, terlihat dari wajahnya yang memerah dengan mata yang tajam. Cukup menyeramkan untuk seorang gadis yang sedang marah.
Sang pria yang sedang dimarahi sang gadis hanya tersenyum dengan menggukan kepalanya. Senyuman yang begitu tulus dan sangat manis dengan mata hazel yang sedikit terpejam.
"En, Sakura-san ini temanku pemilik Pesawat ini" Deidara menengahi petengkaran Sakura. Posisinya berdiri diantara kedua kursi Sakura dan Sasori.
Lagi-lagi sakura kaget dengan kata-kata yang keluar dari orang yang beberapa menit yang lalu berkenalan dengannya, Deidara. Mata Sakura kembali membulat, dan kali ini tidak butuh waktu lama untuk menganga, Sakura yang malu memalingkan wajahnya ke arah jendela pesawat.
Sakura POV
'En, Sakura-san ini temanku pemilik Pesawat ini' apa maksud perkataan Deidara. Jadi pria tampan menyebalkan ini adalah pemilik pesawat ini.
Wajahnya sangat manis dan senyumnya itu… ah sialan kenapa dia malah tersenyum ketika aku memarahinya.
Aku merasa bersalah. Kyyaaa aku malu telah memarahinya.
Tidak dia menatapku… Lebih baik aku menghindari tatapannya.
'Namaku Akasuna Sasori, kau bisa memanggilku Sasori'
Apa katanya? Akasuna? Dia dari Akasuna Family ? Mati saja
Akasuna
End Sakura POV
"Akasuna" gumam gadis itu yang masih membuang muka ke arah jendela pesawat, namun gumaman itu masih bisa di dengar oleh kedua lelaki di sampingnya.
"Hm, ya aku Akasuna, tapi lebih baik kau memanggilku Sasori saja." Sasori masih memandang kerah gadis itu. "Dan maafkan aku untuk kejadian seminggu yang lalu" tambahnya.
Sakura menoleh pada pria bernama Akasuna Sasori itu, tepat membalikan kepalanya matanya langsung bertatapan dengan mata sang pria. Hazel yang sedari tadi menatapnya sekarang mendapatkan sambutan dari Emerald. 'Deg' jantung Sakura seakan berhenti 'Mata itu lagi'. "Tidak ada kata maaf yang gratis, anggap saja tumpanganmu ini sebagai ganti kesalahanmu. Akasuna Menyebalkan…" Sakura salah tingkah dan yang keluar dari mulutnya adalah makian untuk Sasori.
'Kya Sakura no Baka… baka baka baka. Kenapa aku memarahinya lagi dan lagi' Sakura merutuki dirinya. Sakura memukul-mukul kepalanya dan mengacak-ngacak rambutnya. Namun sang pria hanya tersenyum mendengar hadikannya dan melihat tingkah konyol wanita di depan matanya.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan. Siapa namamu nona ?" tanyanya menyelidik.
"Haruno Sakura" Sakura membuang muka kearah jendela lagi dengan tangan yang memukul-mukul kepalanya. Sedangkan Sasori dan Deidara yang berada di belakang kursi Sasori, keduanya memandangi sakura dengan senyum geli.
Pemberitahuan dari pramugari bahwa pesawat akan segera take off, sehingga para penumpang pesawat harus mengenakan sabuk pengaman.
Deidara telah mamakai sabuknya, dan Sasori baru akan mengunci sabuknya namun Sakura tengah kebingungan mencari sabuk pengamannya.
Sakura melirik kedua lelaki di samping kursinya itu "Ano, kenapa di kursi kalian ada sabuk pengaman dan di kursiku tidak ada?" tanya polosnya kepada kedua pemuda tampan Suna itu.
Deidara yang mendengar penuturan polos Sakura tertawa geli, "HAHAHA kau lucu sekali sakura", sementara Sasori hanya mengangkat kedua alis sambil menyeringai tipis.
"Kenapa kau menertawakanku ? apakah kalian berniat mencelakaiku dengan memberikanku kursi tumpangan yang tidak ada sabuk pengamannya ?" Nada suara sakura meninggi sarat akan kemarahannya ditambah dengan pipi yang mengembung.
Deidara semakin tertawa keras sampai memegangi perutnya yang sakit karena tertawa. "Apa untungnya aku mencelakaimu nona Haruno ? Setiap kursi ada sabuk pengamannya." Ucap Sasori menahan tawanya.
"ini buktinya, mana sabuknya? Jelas-jelas tidak ada sabuk di kursiku." Sakura benar-benar merasa kesal. Namun Sasori melepas kembali sabuk yang hendak dikunci itu. Ia mendekati Sakura dan membungkukan badannya tepat di depan Sakura, sehingga tubuhnya begitu dekat dengan Sakura. Bahkan wajahnya sangat dekat, nafas keduanya terasa di permukaan wajah.
'Tubuhnya wangi, eh Apa yang pria ini akan lakukan ?' sakura terdiam "Kyaaa jangan menciumku" Sakura tiba-tiba bertriak dan menutup bibirnya secepat kilat.
"trek… sreettt" Sasori menekan sebuah tombol di sisi kursi Sakura dan menarik sebuah sabuk pengaman. Sasori mengangkat alisnya "hm, siapa yang akan menciummu nona?" Sasori menyeringai lalu mengunci sabuk Sakura.
Sakura tertunduk dengan muka memerah karena malu akan kebodohannya, entah tentang sabuk pengaman yang sangat canggih atau tentang tuduhan akan menciumnya. Membuat Sakura membisu sepanjang perjalanan.
000
Perjalanan pesawat berlangsung satu jam lebih, Pesawat pribadi milik Akasuna Family terlihat terparkir di Suna International Airport. Gadis berambut merah muda sedang menuju cabin untuk mengambil barang-barangnya sedangkan dua pria tampan terlihat mengekor di belakangnya.
"un, baiklah aku pergi duluan. Aku ada urusan sampai ketemu di kampus." Deidara yang sudah menyeret kopernya pergi meninggalkan Sakura dan Sasori yang masih terlihat kaku, dia masih merasa malu dengan kejadian di pesawat.
"Hei nona, tujuanmu selanjutnya kemana?" Sasori mencoba mencaikan suasana yang begitu kaku diantara keduanya.
"eh, ah… aku… tujuanku bertemu Master Chiyo selaku pemberi beasiswa selama aku kuliah disini." Jawabnya sedikit kaku dan mencoba menahan malu karena dia harus menemui bagian Akasuna Family, Master Chiyo.
"Kau mahasiswa transferan dari Otogakure University?" tanyanya sedikit shock ternyata gadis di hadapannya adalah calon mahasiswa yang akan di bimbing langsung oleh Neneknya.
Sakura mengangguk "ya, aku mahasiswa transferan. Apakah Master Chiyo masih kerabat dekatmu ? ya berhubung kalian sama-sama Akasuna" Sakura sedikit penasaran pada sang pria berkepala merah itu.
Sasori melihat ke arah sakura sejenak, di lihatnya tangan lentik nan lembut itu menarik beberapa koper besar dari cabin pesawat,Sakura terlihat kesulitan. "Ah, kau tak perlu menurunkan dan membawa barang-barangmu sendiri, biar pelayan yang akan mengangkatnya." Sakura menoleh pada Sasori. Seolah diminta penjelasan Sasori pun kembali berbicara "Orang yang akan kau temui adalah Nenekku, mungkin lebih baik kau ikut bersamaku."
Mata Sakura membulat dengan mulut yang sedikit menganga 'Jadi pemuda ini cucu dari Master Chiyo'. Sakura yang masih belum sadar dari shocknya itu di tarik oleh tangan kekar Sasori. "Kau orang baru di Suna, kau bisa saja tersesat saat mencari alamat rumah Nenekku. Jadi masuklah kedalam mobil ku, tujuan kita sama."
Sakura tersadar dari shocknya, Sakura tersenyum ketika melihat mobil yang hanya berjarak 1 meter darinya itu adalah mobil impian Sakura. Sebuah mobil berwarna Merah menyala yang dikenal dengan Lamborghini Gallardo LP 560-4 keluaran tahun 2013 ini membuat sakura tertegun. "Ini mobilmu?" tanyanya dengan wajah tersenyum sumbringah.
"Ya ini mobil kesayanganku, masuklah…" Sasori membukakan pintu mobil super keren itu.
'Dia membukakan pintu mobilnya untukku? Ah Sasuke-senpai saja belum pernah melakukan hal sekecil ini, hanya membukakan pintu mobil' Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya untu mengusir pikirannya yang mengingatkan pada lelaki yang menyakitinya. Sakura tersenyum "Terimakasih, ah barang ku" Sakura melihat koper-koper besarnya di bawa beberapa orang ke dalam mobil yang terparkir di belakang mobil yang sekarang Sakura duduki, mobil super mahal dan keren.
"tenang saja brang-barangmu di bawa oleh pelayanku" triak Sasori sambil belari ke sisi mobil tepat kemudi mobil super itu berada. Sakura pun mengangguk mengerti.
Mobil itu mulai bergerak menjauhi bandara, betapa kagumnya Sakura bisa menaiki mobil mewah itu. Sakura juga terhipnotis akan indahnya bangunan-bangunan di kota Suna. Semuanya Serba coklat seperti pasir. Bangunan yang unik yang satu dan yang lainnya terlihat sama.
000
Pintu rumah yang terbuat dari kayu jati itu di buka begitu saja oleh peria berkepala merah. "Tadaima…." Triaknya dengan suara yang cukup membuat seisi rumah dapat mengetahui kedatangannya. Dengan percaya diri dia merentangkan tangannya bersiap menyambut pelukan sang Nenek tercinta.
Sang Nenek yang sedang duduk memanangi sebuah album photo di kursi goyangnya pun langsung menyambut kedatangannya. "Okaeri…"
Sang Cucu yang sudah merentangkan tangannya siap menyambut pelukan neneknya pun memejamkan mata sarat akan kesiapan merasakan pelukan penuh kasih dari Nenek yang sedang sedikit berlari kepadanya.
1 detik…
3 deti….
10 detik…
Pelukan tak kunjung datang, di bukanya mata pemuda yang terpejam itu dan terheran-heran sang nenek yang tadi setengah berlari dengan siap memeluknya kini menghilang. Mata hazelnya mulai mencari-cari keberadaan sang nenek yang tiba-tiba menghilang. Ia menoleh kebelakang, di lihanya sang nenek yang diharapkan memeluknya tengah memeluk seorang gadis merah muda yang berada di belakangnya. Dia hanya tersenyum melihat wajah sang nenek yang memeluk sayang seorang gadis yang terus berada di sisinya semenjak dari Bandara oto itu.
Sakura yang di peluk sang Master Chiyo tak mampu berkata, dia terlalu senang dengan sambutan sang Master Chiyo yang selalu di hormati di dunia Kedokteran. Saat ini Sakura mungkin berada di langit ketujuh serasa mimpi dan melayang karena terlalu bahagia.
Sang Master setelah puas memeluk sang gadis merah muda mulai melepaskan pelukannya. "Ne, Saso-kun ternyata perjalananmu ke Oto membawakan hasil. Kau membawakanku seorang menantu" Nenek itu tersenyum senang. Dia menggandeng Sakura memasuki rumahnya, begitu pula dengan Sasori.
Sakura tersenyum kaku mendengar pernyataan dari Sang Master Chiyo. "Ano, aku – "
"Sayang siapa namamu?" Nenek itu memotong perkataan sakura yang akan menjelaskan siapa dia. "Saso-kun bawa barang calon istrimu ke kamar sebelahmu" Perintah sang Nenek langsung dituruti sang cucu.
Master Chiyo melirik Sakura "Jadi Siapa namamu cantik?" nadanya sangat lembut.
"Haruno Sakura, panggil saja aku Sakura" jawabnya dengan tersenyum kemudian tertundak malu dengan rona merah menjalar di kedua pipi putihnya. "Ano, aku bukan pacar cucu anda" Sakura menggigit bibirnya, dia sangat gugup. "aku mahasiswa tranferan dari Oto"
"ah jadi begitu" Nenek itu terlihat menyesal dan sedikit sedih. "Aku belum menyiapkan apartemen untukmu, aku masih terlalu sibuk dengan bisnis keluargaku. Jadi maaf untuk sementara kau tinggal di rumahku, mungkin kau bisa berteman dengan Saso-kun".
"ah tidak masalah bagiku Master" Sakura tetap tersenyum dalam gugupnya.
"Panggil aku Nenek ketika di luar kampus Saku-Chan" Nenek itu tersenyum lembut. "Nah beristirahatlah terlebih dahulu, kamarmu ada di lantai dua, jangan segan meminta bantuan pada aku dan cucuku" perintah sang Master.
Sakura pun mulai berdiri, melangkahkan kakinya menapaki langkah meninggalkan sang Master yang terduduk di sebuah kursi yang empuk, ia menuju kamar yang akan menjadi bagian dari kisah hidupnya. Kamar yang akan menghiasi perjalanan hidupnya menemukan arti cinta yang sesungguhnya.
Kaki jengjang nan mulus melai menaiki tangga yang di lapisi oleh karpet merah, tangga yang sangat indah. Kakinya menapaki tiap anak tangga itu sampai tak tersisa lagi anak tangga yang ia pijaki. Ia berada di lantai dua rumah milik Akasuna Family. Rumah yang berdesain klasik nan artistik bercat putih gading. Kaki itu terus melangkah menuju pintu jati yang menjulang tinggi dengan ukiran yang sangat indah.
"Kriet" suara pintu kamar terbuka, menampakan seisi kamar yang indah bak hotel berbintang lima, luas dengan furniture yang dihasilkan suatu tempat yang dia kenal. Furniture itu berasal dari kota kelahirannya Konoha. Mata itu terus menelusuri tiap inchi pemandangan yang tersuguh di depannya. Kamar yang indah dan cukup dengan sebuah bonus seorang pria berambut merah yang sedang mencoba membuka koper kecil milik wanita berambut merah muda ini.
"Kyaaa jangan di buka" Sakura dengan secepat kilat berlari untuk melarang Sasori membuka kopernya. "Jangan sentuh koperku, Hentai !" wajahnya memerah menandakan ia sedang marah. Sedangkan yang dimarahinya malah menaikan sebelah alisnya memberi kode untuk sebuah penjelasan.
Sakura menghempaskan tangan Sasori yang sedang memedangi resleting kopernya. 'Koper itu berisi pakaian dalamku… hentai !' geramnya dalam hati. "A-Aku tak suka orang lain membuka koperku" jawabnya sedikit gelagapan.
"hm, begitu ya nona" Sasori menganggukan kepalanya, dia mengerti maksud Sakura.
"Panggil aku Sakura… aku tak suka di panggil nona nona nona, kau mengerti Tuan Baka yang super Hentai" Bentaknya pada Sasori. Mata emerald itu memandang tajam sang Hazel.
Betapa salahnya Sakura menghardik Sasori dengan kata BAKA dan HENTAI, Sasori bukanlah seorang pria bodoh bahkan IQnya 160 sama dengan Albert Einstein bahkan ia dipercaya menjadi Presiden Mahasiswa di Sunagakure University. Diusianya yang tak berbeda jauh dengan Sakura, 20 tahun Sasori telah siap menjadi sarjana muda dengan predikat cum laude. Hentai (?) Sasori bukanlah seorang yang mesum tapi mungkin dia akan berubah mesum karena diri Sakura.
"Ah Sa-ku-ra… Hime ?" Sasori mengedipkan matanya untuk menjaili wanita yang tengah marah.
"Tuli…. Sakura Sakura Sakura bukan Himeeeee…." Sakura benar-benar marah kali ini.
"Baiklah… aku hanya bermaksud membantumu membereskan barangmu, karena tadi aku sempat menguping pembicaraanmu dengan nenekku. Aku harus membantumu juka kau membutuhkan bantuanku jadi aku mengira kau butuh bantuanku untuk membereskan barangmu" Sasori memandang secara intens Emerald itu "Maaf tadi nenekku mengira kau adalah pacarku, tapi sesuangguhnya.." Sasori memejamkan matanya dan menghembuskan nafas dan menarik nafas kuat-kuat lalu membuka matanya kembali dan dipandangi lagi sang Emerald "Aku menyukaimu semenjak kita bertemu di taman, aku menyukai matamu" terlihat sebuar garis merah di pipi putih Sasori.
'Deg' Sakura terkejut dengan penuturan Sasori. Sakura menggeleng cepat "aku tidak akan mau berpacaran denganmu Hentai !" Sakura marah dengan menatap geram Hazal itu, semakin mendekat, kini Hazel dan Emerald hanya berjarak sepuluh centi meter.
Sasori menyeringai menanggapi pandangan sakura yang seakan siap memakannya hidup-hidup. Seperkian detik ia melangkah mundur, berbalik dan berjalan menuju keluar kamar. "Suatu hari nanti pasti Sakura !" Ucapnnya tanpa sedikit keraguan, ia sangat yakin dan percaya pada tiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Sebelum Sasori menutup pintu Sakura bergumam yang masih bisa terdengar oleh Sasori "Hatiku sudah hancur, aku sudah tidak mempercayai seorang lelaki bahkan sampai mencintai makhluk yang benama lelaki" begitu pelan namun kata-kata itu sarat akan kerapuhan.
"Suatu hari nanti Sakura, aku akan memunguti dan menyusun tiap keping hatimu yang hancur" Sasori menutup pintu kamar itu.
Sasori memang jatuh cinta pada pandangan pertama saat memandangi Emerald yang sedikit basah oleh air mata yang ia yakini air mata ke pedihan. Ketika di taman seminggu yang lalu, saat cinta Sakura di khianati oleh seorang pria bernama Uchiha Sasuke. Pertemuan singkat yang menumbuhkan keinginan Sasori untuk menghidupkan kembali sinar mata Emerald yang redup karena kepedihan cinta.
Hari-hari berlalu di kediaman Akasuna Family, rumah yang biasanya sepi kini selalu di ramaikan oleh pertengkaran kecil anatara pemilik mata Hazel dan Emerald. Sasori memberikan perhatiannya dengan cara yang berbeda dari lelaki pada umumnya, dia membantu Sakura melupakan sakit hatinya dengan berbagai pertengkaran kecil. Sampai saat ini Sasori masih mencintai Sakura dengan caranya sendiri.
000
Di suatu malam, Sakura pulang terlambat karena telah menonton film horror. Ketika kuliah pun Sakura praktikum dengan menggunakan tubuh manusia sebagai objek praktikum pengenalan organ dalam. Matakuliah itu menggunakan alat praktikum sebuah mayat manusia. Rumah yang setahun lebih di tempatinya sudah terlihat sepi. Di ingatnya kembali di rumah ini memiliki ruangan laboratorium milik sang Master Chiyo yang berisi awetan dari organ-organ tubuh manusia. Rumah Akasuna Family sudah sangat sepi, jam 23.00 cukup membuat rumah yang bergaya klasik itu cukup menyeramkan. Lampu tengah rumah yang memang selalu dimatikan ketika semua tertidur.
Sakura memasuki rumah dengan sedikit rasa takut, ia baru pertama kali pulang selarut ini. Ia berani keluar karena memang sang Master Chiyo sedang ada urusan di Kanada. Langkah kakinya begitu sangat waspada, Sakura ingin segera sampai ke kamarnya dan langsung tertidup melupakan apa yang dia takutkan.
Ketika kaki jenjang Sakura akan melangkah menaiki tangga, tiba-tiba terdengar suara aneh "Srettt duk duk srettt" Seperti sesuatu yang di seret. Sakura kemabali teringat pada film yang tadi dia tonton bersama sahabat-sahabatnya di bioskop, Setan itu membunuh manusia lalu memasukannya kedalam karung lalu di seret untuk di potong-potong menjadi beberapa bagian. Mengingat hal itu wajah sakura memucat, Sakura kini bener-benar ketakutan. Suara it uterus terdengar dari ruangan sebelah laboratorium Master Chiyo, ruangan yang ia ketahui milik Sasori. Ia belum pernah memasuki ruangan itu.
Sakura memberanikan diri untuk mendatangi asal suara itu, Sakura sangat takut tapi dia juga merasa penasaran dengan suara itu. Di raihnya kenop pintu ruangan itu 'eh tidak di kunci' Sakura memutar kenop pintu itu "Clek"
"Kyaaaaa….." Sakura bertriak sekeras mungkin ketika pintu itu dibukanya, Menampakan pemandangan di ruangan itu. Sebuah pemandangan Seorang pria berambut merah yang terlihat masih basah dan hanya mengenakan handuk di pinggangnya disedang menyeret sebuah etalase yang di dalamnya terdapat sebuat robot.
Sakura menutupi mukanya dengan telapak tangannya "Pakai bajumu Baka".
"Singkirkan tanganmu, jangan so polos Sakura… kau bahkan sering melihat lelaki hanya mengenakan boxer di pantai atau bahkan di kolam renang. Handuk lebih baik dari pada boxer bukan?" Sasori mendengus.
Sakura mulai menyingkirkan tangannya "Tapi mereka mengenakan boxer" Sakura bertriak tak ingin kalah dari Sasori.
"Aku juga memakai boxer Sakura" Sasori melepas handuknya dan secepat kilat suara triakan Sakura terdengar lagi.
"Kyaaa, baka…. Pakai lagi ha- ….. Kyaaa gelap" secara reflex Sakura memeluk Sasori karena seluruh ruangnan benar-benar gelap gulita, malam itu Suna gelap karena mati lampu.
Sakura masih memeluk Sasori malah semakin erat dengan mata terpejam, Sakura sangat takut dengan mati lampu. "Sakura lepaskan aku tak bisa bernafas" Sasori memberontak, ia memberontak bukan karena sesak tetapi jantungnya berdegup amat kencang, seakan akan loncat dari dadanya, Sasori tak ingin Sakura mendengarnya.
"Tidak mau, aku takut. Hidupkan dulu lilin baru aku mau lepaskan" Sakura masih bersi keras mempertahankan dirinya untuk tetap memeluk Sasori dengan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sasori.
Sasori mulai berjalan menggunakan cahaya dari handphonenya dengan Sakura yang memeluknya dengan erat bahkan kakinya ikut memeluk pinggangnya. Sekilas mereka seperti seekor induk koala dan anaknya yang menggantung di tubuhnya. "aku tidak tahu lilin di mana dan aku ingin tidur. Jadi lepaskan tubuhmu dariku Sakura, dan kau tidurlah" Sasori membukakan pintu kamar Sakura memberi isarat untuk sakura mengakhiri pelukan anehnya itu.
Sakura kesal, "temani aku mandi dan berikan handponemu padaku" paksanya. Sakura mengambil paksa handphone Sasori dan menggandeng paksa Sasori ke dalam kamarnya. Sasori Shock dengan perkataan Sakura "Apa?" namun Sakura tak menanggapinya.
Sakura memilah-malah baju dalam lemari dan tak lama tang Sasori kembali diseretnya memasuki kamar mandi. "Duduk !" perintahnya dengan menunjuk ke closet di sebrang bathtub. Sasori hanya menurut dan menduduan dirinya di closet. "Awas saja kalau kau kabur, aku akan membunuhmu !" Sakura mengancamnya, lalu ia manaiki bathtub dan menutupnya dengan tirai. Handphone Sasori pun di bawanya sebagai penerangan.
Sasori membulatkan matanya ketika melihat bayangan Sakura di balik tirai, ia menelan ludahnya sendiri. Sebagai lelaki normal Sasori mati-matian menahan hasratnya.
Suara shower pun berhenti, Sakura telah selesai mandinya dan mulai mengeringkan tubuhnya. Ia merah bajunya yang ia simpan di sisi bathub. 'Ups aku lupa membawa bra, ah ini kan mati lampu Sasori pasti takan menyadarinya. Tidak akan masalah'. Sasori masih setia menunggu Sakura.
Beberapa saat kemudian tirai itu di buka oleh Sakura "Sasori temani aku tidur sampai lampunya hidup kembali" Sakura menyeret Sasori ke ranjangnya. "Ah ya sebaiknya kau pakai bajumu" Sakura sudah siap terlelap di ranjangnya, namun Sasori masih berdiri mematung di sisi ranjang Sakura. Sakura yang menyadari Sasori tidak bergerak pun melirik Sasori.
Sasori yang mengerti pandangan Sakura "mala mini sangat panas aku tak suka tidur dengan suasana panas. Aku tak suka tidur di kamar wanita, aku akan kembali kemarku" Sasori berbalik, Saat ia akan melangkahkan kakinya untuk kembali kekamarnya tangan sakura menggapai lengannya.
"Baiklah… baiklah aku ikut denganmu" Akhirnya Sakura mengikuti Sasori kemarnya. Walau dalam keadaan remang-remang dengan pencahayaan sebuah handphone milik Sasori, Kamar Sasori yang tertata rapih dapat terlihat, kamar yang sederhana namun terkesan seperti kamar anak-anak dengan berbagai boneka kayu menghiasi lemari pajangan di kamarnya. Sakura baru pertama kali memasuki kamar Sasori.
Tak berlama-lama mereka langsung menaiki ranjang Sasori, tempat tidur itu memiliki wangi tubuh Sasori. Wangi yang cukup menenangkan, Sakura mulai memejamkan matanya. Beberapa detik mereka memejamkan mata ruangan itu benar-benar kembali menjadi gelap. Sakura yang belum sepenuhnya menyentuh alam mimpi pun kembali bertriak "kyaaa…" dia langsung merapatkan tubuhnya pada Sasori.
"Handphonenya mati Sakura, tidurlah tidak aka nada setan yang akan memakanmu" jawab Sasori sedikit kesal karena lagi-lagi Sakura memeluknya dengan tiba-tiba, terlebih lagi dada sakura yang tidak memakai bra menekan tubuhnya.
"Aku takut Sasori… hiks… hiks…" Sakura terisak di dada Sasori.
Sasori tak bermaksud membuat Sakura menangis, tangan Sasori membelai lembut Sakura "Maaf aku tak bermaksud membentakmu, berhentilah menangis dan tidurlah aku akan menjagamu sampai terlelap" Sasori mengusap-ngusap punggung Sakura.
Sakura mengangguk mengerti "Sasori terimakasih hari ini kau sudah baik padaku" Sakura memeluknya dengan lembut.
"Aku selalu baik padamu Sakura, bahkan setiap hari" Sasori menjawab sakura.
"Kau selalu egois dan menyebalkan sepanjang hari, setiap hari kau selalu saja membuatku kesal dan kita selalu berantem" Sakura menyalahkan jawaban Sasori.
"Kau saja yang tak peka Sakura, aku melakukan itu agar kau bisa melupakan kesedihanmu dengan tentang masalalu yang membuatmu tak percaya seorang lelaki dan yang namanya cinta. Andai kau tahu Sakura aku bukan lah tipe orang yang senang berantem dengan hal sepele, aku melakukan itu karena aku benar-benar menyayangimu, aku mencintaimu" Jawab Sasori dengan tersenyum kecut.
"Saso…" Sakura tak percaya Sasori melakukan hal itu untuk membuatnya lupa akan kesedihannya. Bahkan Sakura tak menyadari bahwa ia telah lupa akan kesedihanya dan sakit hatinya.
"Mungkin konyol Sakura, aku mencintaimu ketika pertama kali aku menatap matamu, waktu itu matamu basah dengan air mata, walaupun kau waktu itu membentaku, memarahiku karena tumpahan ice cream aku dapat merasakan kerapuhan dalam dirimu hanya dengan melihat matamu yang meredup." Sasori menghela nafas "Akhir-akhir ini aku mulai prustasi karena sampai sekarang kau belum membuka hatimu, kau terlalu mencintai orang yang melukaimu. Aku rasanya ingin menyerah, tapi aku ingin membuat pancaran matamu itu kembali bersinar"
Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku masih belum bisa Saso—" perkataan Sakura di potong oleh Sasori.
"kau belum bisa karena tidak mencoba Sakura, kau menutup rapat pintu hatimu. Hahaha aku seperti seorang yang bodoh mengharapkan balasan perasaan dari orang yang tak pernah melihatku, yang tak peka. Cobalah Sakura, jika sampai aku wisuda nanti kau masih tak dapat merasakan cinta padaku, aku akan mundur dan melupakan semuanya. Itu janjiku." Sasori terdiam. Begitu pula dengan Sakura, meresapi kata-demi kata yang keluar dari mulut Sasori.
"Sekarang tidurlah, aku akan menjagamu" Sasori memeluk lembut Sakura.
Sakura mengangguk "Sasori, tolong nyanyikan sebuah lagu, waktu aku kecil ketika mati lampu dan tak bisa tidur. Kaa-san ku selalu menyanyikan sebuah lagu sampai aku tertidur".
"Baiklah tapi ka u harus berjanji setelah aku menyanyi kau harus tidur tanpa merengek lagi" Sasori menggoda Sakura.
"Hei aku bukan anak kecil yang suka merengek, Aku janji akan segera tidur. Dan sekarang bernyanyilah"
I've left the universe behind to get to you
Now all that my heart wishes for…
Colour me in the colour of love
She is the heartfelt wish of your lover…
Colour me in the colour of love
"Hei kenapa berhenti, lanjutkan…. Lagunya bagus dan suaramu lumayan" Sakura memukul dada Sasori.
"Aku akan menyanyikannya jika kau menerimaku nanti di hari wisudaku, Di panggung ketika rector mempersilakanku berpidato sebagai mahasiswa cum laude. Tidur lah, kau sudah janji" Sasori membenarkan selimut mereka dan memeluk Sakura lagi. Mereka tetidur bersama.
000
Sehari setelah Sasori wisuda, terlihat dua lelaki tampan di sebuah kursi di taman kota, keduanya terlihat sangat lesu, dan tak bersemangat.
"Sasori, Ternyata berpisah dengan orang yang kita cintai itu sangat menyakitkan. Rasanya aku ingin mati saja, aku sungguh sangat menyayanginya" Pria berambut kuning dengan mata biru itu memandang jalanan yang ramai.
"Kau lebih beruntung Dei, kau pernah merasakan cintanya. Setidaknya terbalaskan" Sasori tersenyum kecut.
"Hiks… aku tak menyangka Ino akan memutuskanku hanya karena ia ingin fokus kuliah. Padahal aku rela menunggunya." Deidara mulai menitikan air mata, terlihat cengeng tapi itu air mata yang sangat jarang keluar dari mata lelaki.
"Aku akan mengikuti wajib militer agar aku bisa lebih cepat melupakannya, kesibukan dan kekerasan dalam latihan tak akan memberiku kesempatan untuk mengingat rasa sakit ini, apa kau mau ikut Dei ?" ajaknya dengan merangkul bahu sahabatnya itu.
"Tentu aku akan ikut" Deidara memeluk sahabatnya menumpahkan kesedihannya.
Mereka dua orang pemuda yang di landa sakitnya mencintai seorang gadis namun tak dapat mendapatkan cintanya, tak bisa memiliki. Mereka memilih menyibukan diri sebagai Militer Angkatan Udara.
End Flashback
"Mama jadi apa alasan papa ikut wajib militer?" Sang anak kembali bertanya pada ibunya.
"Haha, karena mama menolak jadi pacar papa" Sakura memerah karena malu harus berkara jujur pada anaknya bahwa dulu ia betapa bodohnya mengabaikan perasaan sang suami. Dan ia malu pada pein dengan telpon yang masih tersambung.
Disebarang sana Pein tertawa terbahak-bahak mengingat Sasori yang baru pertama kali masuk Militer angkata udara dengan keadaan kusut.
Gaara yang masih di pangkuan Sakura pun tiba-tiba turun dengan muka masam, mulutnya menggembung dan bibir yang mengerucut. Matanya yang menatap tajam sang ibu. "Mama jahat, mama tidak menyayangi papa" Gaara beringsut duduk menjauhi Sakura dengan memandangi jalanan dan Samartphone milik sang ibu masih setia menempel di pipinya.
Sakura terdiam memandangi sikap putranya yang sangat care pada ayahnya itu.
Pein di sebrang sana semakin tertawa mendengar kata-kata yang keluar dari anak Sasori itu. "Gaa-chan jangan marah sama mama Gaa-chan. Kalau mama dan papa Gaa-can tidak saling sayang Gaa-can tidak mungkin ada di dunia ini karena mama dan papa Gaa-chan membuat Gaa-chan harus dengan kasih sayang. Gaa-chan mengerti kan? Minta maaf sama mama ya. Ah Gaa-chan paman ada urusan, nanti paman bilang sama papa Gaa-chan bahwa Gaa-chan menelpon. Sampai nanti Gaa-chan" telpon terputus.
Gaara memandangi layar Smartphone ibunya itu, seperti berpikir dan mencerna nasehat dari Pein dengan bibir yang masih mengerucut namun pipinya sudah kembali normal. Gaara mulai mencuri pandang pada sang ibu lewat ekor matanya.
Sakura yang masih memandangi bocah balita itu tertawa melihat tingkah lucu dari putra semata wayangnya. "hmm, Gaara-chan" Sakura memeluk sayang dan memangkunya lagi, mencium keningnya dan menatap sayang pada sang putra. "Mama sayang, sayang sekali bahkan. Mama sayang Gaara-chan sama papa. Sampai kapanpun mama akan sayang sama kalian berdua, kalian bagian dari hidup mama" Sakura kembali memeluk putranya dan menghujaninya dengan ciuman sayang di kening, hidung, mata, dan pipi gembil putranya itu.
Gaara tersenyum riang dan membalas pelukan sang ibu. "Gaara sayang mama papa selamanya" Sakura mengelus punggung anaknya dengan sayang.
"Gaara-chan sekarang tidur ya besok kan papa pulang, kita harus menjemput papa. Gaara-chan harus segar besok, kalau tidak nanti papa ragu mengizinkan gaara jadi militer angkatan udara" Sakura membujuk putranya untuk segera tidur.
Gaara menyamankan posisinya di pangkuan Sakura untuk segera tidur. "mama gaara ingin bertelepon dulu dengan papa" rajuknya.
"kan tadi juga yang mengangkat paman Pein, papa Gaara-chan sedang mandi. Besok papa juga kan pulang, Gaara-chan bisa sepuasnya main dan tidur dipelukan papa. Jadi untu mala mini taka pa ya tidak menelpon papa" bujuknya kembali pada sang putra semata wayangnya. Gaara pun mengangguk dan mulai menutup matanya hingga terlelap di pangkuan Sakura.
000
Sakura sedang menyamankan posisi anaknya di ranjang tempat tidur king size sambil mengunyah makanan yang tadi di bawa dari rumah orangtuanya. Samartphone Sakura berbunyi menandakan ada panggilan masuk, dengan segera Sakura mengambil dan mengangkat telponnya sebelum suara deringnya membangunkan sang putra semata wayangnya itu yang telah terlelap.
"Hallo Honey" Suara yang sangat Sakura kenal terdengar di sebrang telpon.
"Hm iya, sudah selesai mandinya?" Sakura tersenyum.
"Ya tadi aku sedang mandi ketika kau telpon, ah ya Gaara-chan mana?" tanyanya heran karena tidak ada suara rebut sng buah hatinya itu.
"Gaara-chan sudah tertidur"
"Honey bisa kau hidupkan videonya ? aku merindukanmu" Sakura menghidupkan videonya dan mereka saling memandang lewat layar Smartphone. "Kemana saja seharian tak mengabariku? Sesibuk itu kah kau sampai mengabaikan suamimu?" Sasori mulai mengintrograsi Sakura.
"Maaf Saso-kun aku memang sibuk dan itu gara-gara kau juga, ah mobilku harus di perbaiki di bengkel" Sakura mengeluh karena mobil kesayangannya.
"hahaha maaf honey, ah perlihatkan Gaara-chan aku merindukannya, sangat." Sakura menuruti kemauan suaminya, diarahkan kamera smartphonnye pada Gaara yang sedang tertidur.
"Dia sangat manis honey, aku sangat ingin memeluknya" Sasori menatap nanar karena jauhnya tempanya berada sehingga dia tidak dapat memeluk putranya yang sedang tertidur.
"Aku akan memeluknya selalu untuk mu Saso-kun, Gaara-chan juga sangat merindukanmu." Sakura memeluk sayang putranya sehingga Sasori Nampak tersenyum senang.
"Honey, kau pucat sekali. Sudah makan malam?" tanyanya khawatir.
"Sudah, jangan mengkhawatirkanku aku kan seorang dokter" jawabnya untuk meyakinkan suaminya untuk tak mengkhawatirkan keadaan keseharan Sakura.
"istirahatlah, sebelum Gaara-chan bangun akan ku pastikan aku sudah sampai di Konoha" Sasori tersenyum di sebrang sana."
"hmm aku selalu menunggumu, I Love u"
"Oyasumi… I Love u too, Have a nice dream" Sasori mencium layar Smartponnya, mencium gambar istrinya. Lalu mematikan telponnya.
Sasori di Italia telah siap berangkat untuk pulang ke Jepang, Pesawatnya telah siap take off untuk terbang. Dalam hitungan jam Sasori akan tiba di Jepang, di Konoha International Airport.
TBC
Hi readers, yuuki mau minta maaf untuk keterlambatan update. Sebenarnya chap ini sudah selesai dari kemarin namun karena fasilitasnya baru tersedia sekarang jadi yuuki baru update. Dan maaf sedikit jadi Songfic, karena mood menulis yuuki muncul ketika yuuki mendengar lagu yang pernah yuuki aransemen dari lagu india yang yuuki translate ke bahasa inggris lalu bikin music semau yuuki di soundcloud. Lagu ini juga yang menginspirasi untuk FF yuuki yang berjudul 5 Minutes In Memory (pairing : SasoSaku, obtoRin)
Akhirnya Flashbacknya selesai walaupun banyak yang yuuki kurangi karena terlalu panjang, alurnya jadi kecepatan. Dan maaf kalau fans Sasu, di chap sebelumnya Sasu kembali menyebalkan dan di chap ini dan chap 6 mungkin Sasu tidak muncul. Readers yang request momen Gaara Saso Saku semoga di chap depan baca ya, soalnya itu beneran full momen bahagianya keluaraga kecil Akasuna (SasoSakuGaa).
Yuuki mengucapkan terimakasih banyak untuk para readers yang sudah review, memberi semangat dan selalu membaca FF ini. Untuk jati diri yuuki, readers bisa liat di profil, Cuma itu yang bisa yuuki publis terkait jati diri yuuki.
Readers seperti biasa Yuuki minta riviewnya untuk sekedar menambah mood, memberi masukan, saran, kritikan. Boleh by PM atau langsung di kolom review. your Review is my spirit.
Sebelum balas membalas review yuuki mau menjawab seorang yang memintanya menjawab di chap 5 ini, I Miss You Papa terinspirasi dan dapet Ide dari kehidupan pribadiku, namun ada perbedaan. Ya intinya idenya diambil dari kehidupan pribadi tapi yuuki transformasi sesuai imajinasi yuuki.
Balas review :
Zarachan : semoga terus penasaran ya zarachan biar terus baca, dan makasih untuk selalu review di ff ini. Akan tetap berlanjut ko zarachan. Keep reading
Zielavienaz96 : terus baca aja ya zie-chan biar tau endingnya kaya gimana. Tapi menuju ending masih panjang. Kalau ibarat dunia perpileman ini adalah drama seri hehe. Keep reading
PeachEmerald99 : Emerrald-chan aku udah kasih flashback yang masih ada berantem-berantemnya, gimana suka tau tidak ? atau kurang greget ? nah untuk mengedit yang sudah di upload gimana caranya ya ? yuuki belum terlalu paham dengan akun FF. wah benar kah penulisanku sudah meningkat, ah syukurlah berarti ada sedikit kemajuan dari yuuki. Yuuki akan terus belajar menulis agar para readers suka dengan karya yuuki. Emerald-chan makasih sudah jawab pertanyaan yuuki di chap 4. Keep reading oke.
Permen lemon : Falasbacknya sudah selesai permen-chan jadi chap 6 sudah masuk keluarga bahagia SasoSakuGaa. Dan terimakasih sudah mnjawab pertanyaan yuuki di chap 4.
Nindy584 : sudah next ini nindy-chan. Semoga suka. Dan semoga selalu penasaran samai final. Keep reading
Kenji Law : Wah makasih, yuuki sudah sembuh ko. Sudah pulang ke rumah juga. Hahaha Kenji-senpai jadi Akashi Seijuurou dulu biar yuuki langsung pacarin. Ah pacar? Ga punya tapi Hati dimiliki sama Akashi-kun. Terimakasih untuk pujiannya. Untuk gambar itu yuuki Cuma iseng aja emang sih yuuki suka menggambar, tapi gambar anime doang. Hahaha Kenji-Senpai keponya sampai kepoin Soundcloud milik yuuki, Alhamdulillah diberi kelebihan untuk suara, dan yuuki emang suka seenak jidat ngearansmen lagu, jadi maaf kalau banyak lagu anime atau lagu apa pun jadi hancur karna yuuki. Iya itu yang mainin gitar dan nyanyinya yuuki sendiri. Ah itu Cuma lomba tingkat sekolah aja ga sampe nasional. Hehe jangan jatuh cinta sama yuuki kenji-senpai, karena hati yuuki masih setia untuk Akashi-kun. Keep reading
Slacker Shasha : maaf ya Shasha-chan Sasu ga muncul dulu untuk chap ini dan chap depan juga. Yuuki usahain ya bikin Sasuke menyesal hehehe. Tunggu aja di chap yang akan datang, yuuki ga bisa nyebutin chapnya karena belum tau akan muncul di chap keberapa sasu di buat menyesalnya. Tunggu aja, keep reading
Arinamour036 : maaf untuk review sebelumnya ya Arina-chan yuuki memang ceroboh. Wah syukur deh kalau arina-chan ssl tapo ga marah karena sasu di ff ini ga di gambarin seorang yg selalu dapat apa pun. Dan maaf di ff ini Sasu dulunya sama Karin bahkan ibu Sarada di ff ini adalah Karin. Keep reading
Ryuhara : wah syukur deh kalau ryu-chan suka sama kekonyolan SasoSaku. Untuk genre kayanya tidak bisa di tambah jadi 3, yuuki tidak mengerti cara nambah jadi 3 genre. Humor di awal, ini masih awal, sebenernya ini cerita dengan genre keluara tapi kelaura yang sedih, menyakitkan… Di falsh back yuuki bahas dikit tentang masa-masa SasoSaku, tapi kedepannya masih ada ko flashback romantic dan konyol milik SasoSaku. Ah Saso itu ikut wajib militer dan secara ga langsung dia juga anggota AU tapi tidak aktif, di Indonesia juga banyak kan yang sudah dapet pangkat di TNI/militer tapi jadi seorang pebisnis. Saso itu direktur/ CEO Perusahaan Akasuna. Sesungguhnya teknologi hanya Core bisnis keluarga Akasuna tapi Sasori mengembangkan bisnisnya di industry lain, missal property yang nantinya menjadi Saingan Uchiha (core bisnis Uchiha di bidang property). Untuk pengetikan iya yuuki masih belajar,eyd, kata baku, dll jadi maaf kalau banyak typo dan salah dalam penulisan. Yuuki tidak tahu cara mengedit, udah yuuki coba tapi ga berubah. Ryu-chan bisa ajari langkah mengeditnya?. Wah ryu-chan fan Saso, sampai jadi Istri Saso. Hehe andai Tokoh anime ada di dunia nyata, yuuki juga cinta sama tokoh anime. Cinta sama Akashi-kun. Keep reading
Sherry Hoshie Kanada : terimakasih sudah menjawab pertanyaan yuuki di chap 4. Iya itu kesalahan mengetik yuuki, pakai replace untuk mengganti kata sopa jadi sofa eh jadinya malah hancur gitu. Ahaha koreksi terus ya Sherry-chan yuuki sangat senang kalau di koreksi yang salah di ff ini. Syukur deh kalau Sherry-chan suka sama jalan ceritanya. Ini udah di potong-potong tetep aja banyak. Maaf di chap ini masih banyak flashbacknya. Chap 6 ga banyak ko hehe. Keep Reading
Alif yusanto : wah makasih atas pujiannya, ini udah lanjut semoga suka. Keep reading
See You Next Chapters
