Troublesome Question: Chapter 3

Disclaimer: © Naruto Shippuden by Masashi Kishimoto

Warning: OOC, Typo, Gaje, Cringe, Pemilihan kata yang tidak bagus, dll

Selamat Membaca


Malam hari, Ruang Tamu Rumah Shikamaru

Meja kotatsu yang hangat dan sebuah mangkuk berisi buah jeruk yang diletakkan di tengah meja telah menemani keberadaan dua pasang manusia yang sedang berbicara. Pria bersurai hitam dan berkuncir nanas itu dengan tatapan fokus menceritakan apa yang telah terjadi di sentou kepada wanita yang menjadi lawan bicaranya di ruang tersebut.

"hah? Jadi kau khawatir denganku karena cara berpakaianku?" Akhirnya Shikamaru mengucapkan apa yang ingin ia sampaikan kepada wanita di hadapannya. Temari yang mendengarnya hanya menampilkan ekspresi bingung dengan ucapan Shikamaru. Bagaimana tidak bingung, tidak seperti biasanya Shikamaru memperhatian cara berpakaian Temari dan tidak biasanya juga Shikamaru terbawa pikiran terhadap obrolan teman-temannya mengenai cara berpakaian wanita seperti dirinya. Bukankah memikirkan hal yang tidak penting dari orang lain itu sangat merepotkan?

"Ya mau bagaimana lagi. Aku tidak mau kamu dilihat atau ada pria mesum yang iseng kepada kamu karena berpakaian terbuka itu." Tetapi ungkapan Shikamaru nampaknya tidak membuat Temari serius menanggapinya. Temari berusaha menahan dirinya untuk tidak tertawa, namun gagal karena melihat ekspresi canggung Shikamaru dan kekhawatirannya.

"Pffftttt….ahahahahahahahahahahahaha" Tawanya pun lepas, tak disangka hanya karena khawatir hal seperti itu sampai-sampai pria di hadapan Temari repot-repot mencari tempat yang pas untung mengatakannya.

"Hey, kenapa kau tertawa… Aku ini serius tahu…" Shikamaru nampaknya sedikit kesal dengan respond dari kekasihnya.

Setelah puas tertawa dan melihat Shikamaru yang terlihat seperti kesal, Temari akhirnya menghentikan tawanya dan mebersihkan tenggorokkannya dengan sebuah dehaman yang dalam. "Jadi setelah mengungkapkan kekhawatiranmu terhadapku, apakah kamu akan menyuruhku untuk berpakaian lebih tertutup?"

"Aku rasa aku pun tidak bisa memaksa kamu untuk melakukannya. Lagi pula aku tahu kalau kau berpakaian seperti itu karena agar dapat mudah bergerak pada saat berhadapan dengan musuh kan. Bukan untuk memperlihatkan tubuhmu kepada pria-pria mesum." Shikamaru membuang mukanya karena ia tidak ingin Temari melihat wajahnya yang sedang bersemu merah itu. Temari sudah tidak aneh dengan perilaku pasangannya itu dan dia hanya terkekeh melihatnya.

"Hey Shikamaru, jika ada pria mesum yang seperti itu, aku pasti sudah langsung menghabisinya. Kau tahu kan kalau aku sudah serius seperti apa? Bahkan anak kecil seperti Konohamaru pun pernah hampir aku habisi. Jadi tidak perlu khawatir."

"Iya aku tahu, sangat sulit membayangkan kamu kalah dalam bertarung. Kau bahkan berani merusak pintu masuk ruang Hokage. Untung saja Kakashi-sensei mengenal kamu seperti apa. Sabaku no Temari, Kunoichi Sunagakure tersadis yang pernah aku kenal. " Tiba-tiba Shikamaru teringat dengan curhatan Kakashi mengenai pintu masuk ruangannya yang dirusak oleh Temari. Akibat dari ulahnya itu, Shikamaru dimintai pertanggung jawaban untuk memperbaiki kerusakannya, karena Kakashi tidak berani untuk meminta pertanggung jawaban dari Temari. Benar-benar wanita yang merepotkan. Dia bersyukur kalau pada saat itu Kakashi sudah menjabat sebagai Hokage yang baru, kalau saja di ruangan itu masih Tsunade yang berkuasa, maka habislah Temari dan dirinya. Atau bahkan bisa-bisa akan terjadi lagi perang antara Sunagakure dan Konohagakure.

"Hey, kau berkata itu seakan-akan aku ini wanita maskulin yang tidak perlu pertolongan." Tawa kecil terdengar dari mulut Shikamaru setelah mendengarkan ucapan wanita di hadapannya yang tak lain adalah kekasihnya sendiri.

"Ahahaha maafkan aku. Ngomong-ngomong… Temari, ada lagi yang ingin aku tanyakan kepadamu." Hening seketika, karena Temari yakin, hari ini Shikamaru memang aneh sekali. Dirinya seperti sedang diinterogasi oleh seorang polisi karena telah melakukan kesalahan.

"Adakah bagian yang kamu sukai dariku?" Dan ternyata bukan pertanyaan yang begitu serius. Hanya sebuah pertanyaan yang biasa sepasang kekasih tanyakan kepada pasangannya. Namun, apa yang membuat Shikamaru jadi bertanya seperti itu membuat Temari semakin merasa Shikamaru sangat aneh sekali hari ini. Apakah ini efek dari terlalu lama berendam di sentou?

"Kenapa tiba-tiba kau bertanya pertanyaan seperti itu? Jangan bilang kalian pada saat di sentou membicarakan hal seperti itu juga?" Curiga Temari kepada lawan bicaranya.

"Ya… Kurang lebih seperti itu." Shikamaru akhirnya jujur dengan alasannya bertanya demikian. Ia hanya bisa menggaruk pipinya yang tidak gatal karena dia merasa sangat canggung untuk menanyakan hal itu kepada wanita seperti Temari. Ya, meskipun sudah menjalin hubungan, karena masih baru-baru, wajar saja bukan kalau mereka pun memiliki moment dimana akan merasa canggung dengan hal seperti ini?

"Benar-benar pertanyaan yang merepotkan…Dengar, Shikamaru. Sekarang aku yang bertanya, apa yang membuatmu jatuh cinta kepadaku?"

"Kenapa kau menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lagi?"

"Sudah jawab saja, nanti akan aku jawab pertanyaanmu." Kalau wanita bersurai pirang itu sudah memerintah, memang tidak ada cara lain selain menurutinya. Akhirnya Shikamaru mengalah dan menghela napas sebelum akhirnya menjawab apa yang Temari tanyakan.

"Hah… merepotkan. Singkatnya apa yang membuatku jatuh cinta kepadamu adalah karena disaat aku tertidur dalam kegelapan, kau selalu datang membangunkanku dengan cahaya yang kau miliki. Kau tahu kan, aku paling tidak suka dibangunkan ketika aku sedang tidur, tetapi kau tidak ragu, kau terus membangunkan aku, hingga akhirnya aku terbangun sampai sekarang ini."

"errr… aku tidak mengharapkan jawaban yang puitis seperti itu. Jawablah dengan tegas, Shikamaru…"

'ya ampun… wanita ini sangat pemaksa sekali…' Batin Shikamaru.

Shikamaru menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk sabar menghadapi perintah Temari kemudian mencoba untuk merangkai kata yang tepat agar wanita dihadapannya merasa puas dengan jawabannya.

"Iya, iya, cerewet… aku kira kau akan langsung mengerti. Jadi untuk lebih detailnya aku jatuh cinta kepadamu karena disaat aku dalam keadaan terburukku dan seakan-akan aku ini pria yang tidak berguna, kau tidak pernah malu ataupun miris melihat aku yang seperti itu, kau justru datang untuk menyelamatkanku dan mendorongku dengan caramu sendiri agar aku tidak selalu tertidur dalam kegelapan. Caramu itu bagiku adalah sebuah cahaya yang ampuh untuk membangunkanku ketika aku dalam keadaan terburukku hingga sampai saat ini aku masih hidup, dan berjuang untuk menjadi seorang Shinobi yang tidak pecundang lagi."

"Ayahku pernah berkata bahwa 'tanpa wanita, laki-laki hanya akan menjadi makhluk yang tidak berguna' yang pada saat itu aku tidak mengerti maksud ayahku berkata seperti itu." Karena sangat canggung, Shikamaru hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Tapi, sekarang aku mengerti apa yang dimaksud oleh ayahku itu… setelah kau muncul di dalam kehidupanku, Temari. Aku sangat bahagia kau hadir di dalam kehidupanku… " Senyum yang begitu hangat terukir di wajah pria berkuncir nanas. Wanita dihadapannya hanya bisa berusaha untuk menutupu semu merah yang terukir di wajahnya namun gagal, karena dia pun tidak bisa memalingkan pandangannya terhadap senyuman pria di hadapannya.

"hmmmmm, Jadi begitu yah…" Terlihat raut wajah yang begitu bahagia dari wanita bersurai pirang itu. Shikamaru yang melihatnya pun ikut senang karena akhirnya dia bisa mengatakan hal yang sebenarnya belum pernah ia ungkapkan kepada kekasihnya mengenai hal ini.

"Kau tahu, Shikamaru? Kau adalah orang yang sangat aneh… Tapi entah kenapa aku bisa jatuh cinta kepadamu." Kunoichi bernama Temari berkata dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

"Oi oi, jadi kamu menyesal telah menerima cinta dariku?"

"Aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja…" Temari berpikir sejenak bagaimana dia harus menjelaskannya kepada lawan bicaranya itu.

"Aku hanya ingin ada seseorang special yang mau menerima dan membutuhkan keberadaanku. Tentu saja, selain adik-adikku. Oleh sebab itu, aku berusaha mati-matian untuk membantumu. Karena aku pun tidak tahu kenapa ada rasa dimana aku tidak bisa melihatmu dalam kesusahan sendirian."

"Namun, semakin aku mengenal dirimu, rasa ingin dibibutuhkan oleh dirimu semakin berkembang, Sampai aku tidak sadar bahwa aku telah memperhatikanmu dan jatuh cinta kepadamu. Memang rasanya sangat aneh kenapa bisa aku jatuh cinta kepada laki-laki yang tidak tampan, usianya lebih muda dari adik-adikku, dan juga laki-laki yang dulunya paling aku benci ketika kita sama-sama masih remaja."

"Hey enak saja, aku ini tidak jelek-jelek amat tahu." Temari hanya bisa terkekeh melihat reaksi dari lawan bicaranya terhadap perkataannya barusan.

"Tetapi, Shikamaru. Aku sangat senang karena kau telah mengatakan bahwa kau bahagia karena aku sudah hadir di dalam kehidupanmu."

"You gave me a place where I belong and the reason why I stay, Shikamaru." Terukir sebuah senyuman yang sangat indah dari paras cantik Temari. Senyumnya adalah senyuman favorit Shikamaru. Entah sejak kapan senyuman Temari itu menjadi senyuman yang paling ia sukai.

"Tapi menurutku itu tidak bisa dianggap jawaban dari pertanyaan 'bagian apa yang kamu suka dariku?' itu… karena dari kata 'bagian' saja menurutku itu lebih merujuk kepada fisik ataupun sifat yang dimiliki oleh kekasihnya bukan? Seperti misalkan aku yang ditanya, aku akan menjawab bahwa bagian yang aku sukai darimu adalah senyumanmu."

"hmmmm, kalau kau mengharapkan jawaban yang seperti itu, mungkin bagian yang aku sukai darimu adalah…" Temari beranjak dari posisi duduknya, dia menghampiri Shikamaru dan duduk di sampingnya. Shikamaru yang melihatnya hanya bisa bingung. Kenapa wanita itu malah menghampirinya dan bukan menjawab pertanyaannya?

Kedua wajah mereka saling menatap satu sama lain. Shikamaru merasa sangat canggung dengan posisi mereka yang terlalu berdekatan itu, namun dia berusaha untuk tetap tenang di hadapan wanita bersurai pirang tersebut.

"ini…" Dengan sebuah jari telunjuk dari tangan kanannya, Temari menunjuk sebuah jawaban atas pertanyaan Shikamaru. Jari telnjuknya menunjuk ke sebuah organ dari tubuh Shikamaru.

"Ke..kenapa dengan jantungku?" Shikamaru hanya bisa terkejut dengan sentuhan dari wanita yang sangat dekat dari hadapannya.

"Ba.. baka, maksudku bukan itu… tapi kokoro (hati). Karena tanpa itu, kau tidak mungkin memberikan aku ruang dimana seharusnya aku berada untukmu." Dengan wajah yang bersemu merah, Temari berusaha menjelaskan arti dari apa yang dia tunjuk.

"Aku tidak menyangka tenyata kunoichi tersadis juga bisa berkata manis seperti itu yah." Goda Shikamaru kepada Temari.

Sebuah pelukan hangat didapatkan oleh Shikamaru dari sang kunoichi Sunagakure. Pelukan yang sangat tiba-tiba, namun membuat Shikamaru sangat tenang. "Jadi kau mengajakku ke rumahmu hanya untuk menanyakan hal tersebut saja? benar-benar merepotkan." Keluh Temari kepada pria yang sedang berada dipelukannya.

Shikamaru membalas pelukan Temari dan mengelus punggungnya. "Kau kenapa jadi sering mengucapkan kata 'merepotkan' juga seperti aku sih." Temari hanya bisa tertawa kecil dalam pelukannya karena mendengarkan perkataan Shikamaru.

Setelah puas berpelukan, akhirnya mereka melepaskan pelukan hangat mereka dan saling menatap wajah satu sama lain. Shikamaru yang melihat wajah Temari yang begitu indah di matanya, membuat otaknya sedikit tidak bisa fokus. Dia berusaha melihat lingkungan sekitarnya yang ternyata memang di rumahnya hanya ada mereka berdua.

"hey, Temari."

"hmm?"

"Bolehkah aku menciummu… err di bibirmu?" sambil memalingkan wajahnya, Shikamaru bertanya kepada Temari.

"Pertanyaan yang merepotkan lagi. Hal seperti itu tidak usah ditanyakan lagi bukan?" Temari mengelus pipi kanan kekasihnya dan membisikan sebuah kata di telinga pria itu.

"tentu saja boleh…."

Setelah mendapatkan izin, Shikamaru langsung menyentuh kedua pipi milik kekasihnya dengan lembut sampai akhirnya kedua bibir mereka saling bersentuhan. Ciuman yang sangat singkat dan canggung. Wajar saja, ini pertama kalinya mereka melakukannya.

Akhirnya keduanya melepaskan ciuman mereka, terlihat wajah yang sama-sama memerah dari keduanya dibaluti dengan atmosfir yang membuat jantung mereka berdegup kencang.

.

.

.

"Tadaima." Terdengar suara seorang wanita dari arah pintu masuk. Tenyata itu adalah Yoshino, ibunya Shikamaru yang sudah pulang membelikan jamuan untuk tamu yang datang ke rumahnya. Sepasang kekasih yang sedang berada di ruang tamu itu hanya bisa kaget karena kemunculan suara orang lain.

'Untung saja ciuman tadi hanya sebentar… kalau terbawa suasana bisa berbahaya kalau tiba-tiba ibuku melihatnya.' Batin Shikamaru.

"Karena ibuku sudah datang, ayo kita makan malam bersama."

Ajakan Shikamaru hanya dibalas dengan sebuah anggukan dari Temari. Dan akhirnya mereka berdua bergegas menghampiri Yoshino yang baru saja pulang.

-END-


Akhirnya selesai juga fic ini

Saya sampai lupa kalau fic ini benar-benar ada, kalau bukan karena ada review yang mengingatkan untuk segera di update T_T

Sebenarnya aku sendiri bingung mau dibuat tamat seperti apa fic ini hahaaha maaf yah kalo kurang memuaskan dan gak bagus

Terima Kasih yah buat yang udah mau baca dan dengan sabar menunggu author untuk update ficnya :D

Author sangat senang banget kalo dapet review yang selalu ngingetin untuk terus update ficnya wkwkwk

Jika berkenan, boleh minta reviewnya untuk penulisan fic lainnya agar bisa jauh lebih baik dari ini ^^

Regards,

Ninopyon