Ad Perpetuam
Chapter 2
.
Kedua jantungku berdebar kencang, kencang sekali sampai denyutnya begitu terasa di sisi telingaku.
"Ruang besi terkunci," Kata Van Statten.
"Rose, di mana kau? Apakah kau berhasil?" Tanyaku tak sabar. Nyaris melompat dari posisi duduk.
"Maaf, aku agak lambat."
Suara lirih milik gadis pirang itu membuat kakiku lemas seketika.
"Sampai ketemu lagi, Doctor."
Rose, aku tidak bisa kehilanganmu.
Aku tidak bisa kehilanganmu setelah dua Time—
"Ini bukan salahmu, apapun itu, ini bukan salahmu. Ingat itu."
Tentu ini salahku, Rose. Aku meninggalkanmu di sana.
"EXTERMINATE!"
Aku tidak sanggup mendengar tembakan makhluk itu pada Rose. Tidak, aku tak sanggup.
"Aku membunuhnya." Desisku.
"Maafkan aku," Kata Van Statten.
"Kau minta maaf? Aku mengatakan aku akan menjaganya dan kau minta maaf? Aku bisa membunuh Dalek itu di selnya tapi kau menghentikanku!" Kutatap pria berkumis itu tajam.
Sejak bertemu dengan Rose aku tak pernah menatap orang dengan tatapan seperti ini, tatapan penuh kebencian.
"Dalek itu adalah koleksiku!"
"Koleksimu? Begitu berharga sampai seharga kematian sekian pria di bawah sana? Seharga kematian Rose?!"
Lagi. Pertama kali sejak betemu dengan Rose, aku membentak seseorang.
"Dan kau, Van Statten, kau—" Aku benar-benar tak bisa menahan diri lagi, "Kau membunuh kedua anakku dengan mesin laser itu! Kau membunuh mereka! Kau membunuh harapanku! Kau membunuh dua anakku yang tidak berdosa!" Aku menunjuk-nujuk wajah bodoh pria itu, nyaris mengeluarkan air mataku dari tempatnya.
Suaraku memelan, "Mereka tak bersalah. Kenapa kau lakukan itu pada mereka?" Lirihku.
Van Statten dan Diana tidak mengatakan apa-apa. Kami dilanda keheningan sesaat.
"Rose. Rose baru 19 tahun."
Dan aku kehilangannya.
Menyusul dua Time Lord kecilku. Mereka baru memasuki minggu ke 11.
Belum bernyawa. Hanya detak jantung mereka yang dapat kurasakan. Berdetak teratur, jauh di dalam kulitku.
Dan aku tak dapat mendengar dua jantung kecil itu lagi.
Mereka sudah pergi.
Bersama Rose.
Rasanya ingin kumaki Adam habis-habisan ketika dia keluar dari lift yang berdenting, tapi aku tak bisa.
Ia memang meninggalkan Rose di sana. Tapi akulah yang mengunci ruang besi, yang juga meninggalkannya lebih dulu dari Adam.
"Buka sekatnya atau Rose Tyler mati!" Suara nyaring Dalek itu membuatku menoleh.
"Rose! Kau masih hidup?! Aku pikir kau sudah pergi!"
Rose. Dia masih hidup. Dia tidak mati. Dia tidak menyusul dua Time Lord kecilku!
Dia ada di sana. Bersama Dalek itu.
Aku harus membuka sekatnya.
Sudah cukup aku kehilangan dua anakku, aku tidak perlu kehilangan Rose juga.
Aku tidak bisa kehilangannya lagi.
_-NinthDoctor-_
Aku menyalakan mesin TARDIS, mengatur ini dan itu. Adam masuk ke dalam, matanya melebar begitu memijak interior TARDIS.
"Selamat datang di TARDIS!" Sambut Rose, tersenyum lebar.
Aku ikut tersenyum melihat tingkahnya. "Rose, Adam, sebelum kita mendarat di masa depan, aku… ada sesuatu yang harus kulakukan di sickbay."
"Apa itu, Doctor? Apa sesuatu terjadi padamu dan bayimu?" Tanya Rose.
Yah, aku sudah mengatakan tentang kehadiran dua Time Lord kecilku pada Rose beberapa hari yang lalu.
Dia terkejut memang, tapi nampaknya ia bisa menerima setelah aku mengatakan bahwa ini semacam parthenogenesis untuk mempertahankan kelangsungan spesies—atau apapun itu, terserah saja. Intinya dua Time Lord kecilku hanya berasal dari diriku dan milikku seorang, mereka tidak punya orang tua selain aku. Dan jangan lupakan cerita panjang—yang tidak kuceritakan padanya—menyangkut terjadinya parthenogenesis ini yang bahkan akupun tidak mengerti latar belakangnya.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan Rose, dan menghilang menuju sickbay.
Aku terdiam sesampainya di ruangan ini. Aku tahu Rose membuntutiku diam-diam dan aku yakin sebentar lagi Adam akan mengikutinya. Tapi aku pura-pura tidak tahu.
Aku berjalan menyusuri sickbay, menyentuh tembok dinginnya.
"Hey, Old Girl." Gumamku pada TARDIS. "Kau tahu apa yang kubutuhkan, bukan begitu?"
Setelah itu keluarlah sebuah kapsul transparan dari dinding yang kembali menutup.
Aku mendekati kapsul itu, mengatur program perintah yang aku inginkan.
"D- Doctor?"
Aku menoleh, mendapati Rose dan Adam yang menyembulkan kepala mereka dari balik pintu.
"Rose, Adam. Kemarilah, tidak apa-apa."
Rose agak ragu memasuki sickbay. Tapi pada akhirnya dia masuk bersama Adam.
"Ada apa, Doctor? Apa sesuatu terjadi pada bayimu?" Tanya Rose. Aku dapat merasakan kekhawatiran dalam kata-katanya.
"Ya," Jawabku singkat.
"Apa yang terjadi?"
Aku tersenyum kecut, "Kau tidak perlu khawatir."
"Doctor, katakan padaku."
Hening.
"Doctor,"
"Doctor!"
"Aku keguguran, Rose." Bisikku pelan, tersenyum untuk sekali lagi. Aku menekan tombol di kapsul untuk memulai.
Dapat kulihat wajah terkejut Rose. Adam hanya memasang wajah bingungnya.
Kapsul membuka dan tanpa bicara lagi aku masuk ke dalamnya, berbaring. Beberapa detik kemudian kapsul kembali tertutup.
Diikuti hilangnya kesadaranku.
