Ad Perpetuam

Chapter 3

.

"Doctor, Jack, kita sudah 2 jam di sini!" Rose muncul dari balik pintu TARDIS.

Aku berbalik menoleh padanya, "Kau ingin kembali bertualang, Rose?"

"Kami belum selesai, kau lihat sendiri Doctor belum menyerah padahal telinga besarnya sudah merah sekali!" Jack tertawa keras-keras. Dia mengusap-usap lengan atasnya sambil menggigil.

"Oi!" Pekikku pada Jack. Apa maksudnya dengan 'telinga besar'?

Rose memintaku membawanya ke puncak tertinggi Raxacoricofallapatorius setelah kami mengembalikan Margaret Si Telur ke tempat seharusnya.

Jadilah kami berada di sini. Meski aku tidak mendaratkan TARDIS di puncak tertinggi, tentu saja. Aku tak ingin teman-temanku mati konyol di sana.

Beberapa kilometer lebih rendah dari puncak, tapi kami masih di pegunungan yang sama. Udara juga jauh lebih hangat dibandingkan di atas sana. Walaupun bagaimanapun juga masih terasa sangat dingin—bahkan untukku.

Kami mulai bosan setelah berkeliling dan saling melempar bola salju, sampai akhirnya Jack menantangku untuk membuka baju atasan dan duduk di pinggir tebing, menunggu salah satu dari kami mengangkat tangan sembari menggigil.

"Menyerahlah, Jack." Cibir Rose.

"Ups, tidak bisa, Cantik. Si kakek tua ini lah yang harus menyerah."

Aku menggeleng-geleng kepala, "Oke, aku menyerah." Aku mengalah. Kuangkat kedua tanganku sambil terkekeh.

"Payah," Ejek Jack. Dia berlari kecil menuju boks biruku, "Ayo cepat ke TARDIS, sebentar lagi aku akan membeku. Oh, aku butuh mantelku!"

Aku memutar bola mataku, merangkul Rose untuk masuk ke dalam TARDIS.

Kalau saja aku tidak mengalah, bisa-bisa kami akan tetap di sini selama satu atau dua jam kedepan.

Baru saja aku akan memakai kausku saat tatapanku menangkap Rose yang memperhatikan bagian bawah perutku tanpa berkedip. Tepat di luka bekas sayatan.

"Rose?" Panggilku. "Apa ada yang salah dari perutku?"

Dia menatapku, "Apa itu masih sakit?"

"Tidak," Aku menggeleng.

Aku dapat melihat Jack mendengarkan pembicaraan kami dari ujung mataku. Tapi aku membiarkannya.

"Itu terlihat sakit."

Aku tersenyum, "Ini tidak seperti yang terlihat, Rose. Jangan khawatir."

Dia mendekatiku, meminta izin untuk menyentuh bekas luka. Aku mengangguk mengizinkan.

"Doctor, apa kau masih terbayang mereka—bayimu?"

"Tentu saja."

"Kau tidak akan melupakan mereka, benar begitu?"

"Aku akan selalu ingat mereka,"

"Bagaimana kau bisa tahu kau kehilangan mereka saat itu?"

"Aku tidak bisa mendengar detak jantung mereka, Rose. Rasanya… begitu sunyi." Kutelan bulat-bulat udara hangat di atmosfer TARDIS. Meski agak sesak rasanya.

"Kau bilang kau baru masuk minggu ke 11,"

"Memang. Mereka Time Lord, berbeda dengan manusia. Detak jantung mereka sudah dapat dirasakan sejak minggu ke 10, meski hanya bisa didengar oleh orang yang mengandung mereka."

"Mengandung bukan hal yang biasa untuk Time Lord, bukan?"

"Yeah, tapi sebagian dari Time Lord memang bisa."

"Jadi bagaimana itu bisa terjadi? Parteo… apalah itu."

"Parthenogenesis tidak pernah ditemukan di kaumku. Ini lain cerita. Dan itu cerita yang panjang. Dan bahkan aku sendiripun tidak mengerti alasan semua itu bisa terjadi."

"Bagaimana bisa?"

Aku mengangkat bahu, "Entahlah, barangkali ada kaitannya dengan diriku di masa depan, aku tak tahu. Kau tahu sendiri 'waktu' bukanlah sebuah garis lurus."

Aku mundur menjauhi Rose, memakai kaus dan jaket kulitku.

"Baiklah, bagaimana dengan Kyoto?" Seruku, mulai mengutak-atik mesin konsol TARDIS.

Selang beberapa detik sebelum Rose berujar, "Musim panas?"

"Musim panas di Kyoto?" Kataku.

"Yeah, musim panas di Kyoto!" Teriak Rose antusias.

"Musim panas Kyoto!" Jack ikut bersorak.

FIN


[Ad Perpetuam = we will remember you.
Diambil dari lirik 'Vale Decem' soundtrack Doctor Who di akhir season 4]