Chapter I
.
.
.
.
.
.
.
Kyungsoo merasa seperti berada di masa lalu. Wajah-wajah yang sama, sifat-sifat tak ada beda, hanya obrolannya yang berubah. Tidak ada lagi sautan perintah untuk mengosongkan tempat agar mereka dapat mengambil scene. Tidak ada lagi NG -NG yang harus diulang. Tidak ada Make Up Artists dan penata busana yang berlari-lari membenarkan riasan para pemain. Tidak ada.
Ah Yeop PD-nim tidak berada di depan layar monitor untuk mengawasi pengambilan adegan, namun ia asyik bercengkrama dengan para kru. Tiga jam tidak bisa dibandingkan dengan tiga tahun. Begitu banyak cerita yang ingin ditumpahkan dan didengarkan.
Kyungsoo ikut menyelami mereka. Tawa yang lantang, ekspresi yang intens, kata yang menggebu-gebu, menjadi penghias ruangan rumah makan berukuran 4x4 meter itu. Ia hanya menggelengkan kepala saat mendengar cerita yang menurutnya masuk akal, tertawa karena hal yang lucu atau diam karena larut dalam pikirannya sendiri.
Ia meneguk sedikit dari botol bir di hadapannya. Rasanya panas menyengat di tenggorokannya. Ia kemudian melirik jam yang melingkar manis di pergelangan tangan, pukul 23.06. Hari masih belum berganti. Orang-orang yang datang pun masih asyik bercerita bersama. Acara makan malam ini seakan menjadi ajang temu kangen atau reuni.
Setelah tiga tahun tidak saling bersua, akhirnya para kru dan pemain film Miracles in December bertemu. Film yang kontroversial karena mengangkat kekerasan yang dialami oleh anak-anak panti asuhan oleh pemilik panti secara detail seperti menampilkan adegan ketika anak dilecehkan secara seksual hingga dijual paksa ini sukses membawa nama sutradara dan penulis naskahnya melambung. Penghargaan demi penghargaan diraih serta banjir pujian kritik pun mereka dapat.
Walaupun pada awalnya tidak sedikit yang meragukan apakah film ini akan sukses atau tidak, mengingat pemilihan aktor yang menurut mereka kurang cocok. Bagaimana tidak, Kyungsoo dan lawan mainnya saat itu sudah berumur 21 dan 20 tahun (umur Korea) namun harus memerankan karakter berumur 15 tahun. Selain itu mereka adalah aktor-aktor yang kurang dikenal dan belum pernah mendapat pemghargaan walau sudah bertahun-tahun berkecimpung di industri. Namun saat akhirnya tayang di bioskop-bioskop di penjuru negeri, film itu langsung masuk box office dan tidak turun dari jadwal pemutaran selama hampir 2 bulan. Jumlah keuntungan yang mereka dapat pun berkali-kali lipat dari biaya produksi.
Semua itu tentu berkat kerjasama yang bagus dari penulis naskah, sutradara, produser, para kru dan para pemain. Tak terkecuali Kyungsoo dan lawan mainnya. Sebagai pemeran utama, chemistry mereka sangat kuat dan berhasil menggugah hati para penonton. Akting mereka sebagai anak panti asuhan yang teraniaya namun selalu bersama dalam suka dan duka hingga akhirnya memutuskan untuk kabur dan berjuang untuk hidup mampu membuat penonton menitikkan air mata.
Hal itu pun berpengaruh pada karir mereka. Seiring dengan kesuksesan film, nama mereka semakin dikenal dan membuat mereka menjadi aktor-aktor yang diperhitungkan dalam industri perfilman nasional. Mereka meraih pemghargaan pertama mereka karena film itu.
Tidak salah pula jika mereka sempat dinobatkan menjadi couple of the year oleh netizen.
Seseorang menepuk pundak kanan Kyungsoo, membuyarkan lamunannya.
"Kyungsoo ya, ceritakan kepada kami bagaimana kau 3 tahun ini," Johnny Lee, salah satu aktor pendukung di film yang mereka bintangi bersama memintanya untuk bicara.
Kyungsoo menggeleng, "Tidak ada apa-apa dalam hidupku yang membosankan ini. Kalian akan ketiduran mendengarkannya.."
Kyungsoo tidak berbohong. Hidupnya memang monoton. Ia hanya pergi syuting pada dini hari, syuting dari pagi hingga malam, lalu kembali ke apartemennya. Jika tidak ada syuting, Ia akan pergi ke rumah orang tuanya atau mengunjungi teman-temannya. Dispatch bahkan sudah menyerah mengikutinya karena mereka tidak menemukan sesuatu yang menarik dalam diri Kyungsoo dan kegiatan-kegiatannya. Sekalinya Ia pergi jauh, ternyata Ia mengunjungi Panti Asuhan dan menjadi sukarelawan disana.
Kyungsoo tidak pergi ke bar, klub malam, atau tempat apapun yang bisa membuatnya terlibat skandal. Reputasinya di sekolah sebelum Ia menjadi artis pun sungguh mencengangkan. Orang-orang hanya akan berkata hal-hal yang baik tentang dirinya, memujinya, bahkan ada yang berharap Kyungsoo saja yang jadi putra mereka. Prestasi akademiknya memang tidak terlalu mentereng, namun sosialnya tinggi. Bisa dikatakan Ia tidak mempunyai kejelekan sama sekali.
Netizen, dari yang masih balita hingga lansia, menyukainya. Aktingnya yang ciamik dan sifatnya yang ramah membuatnya dijuluki sebagai salah satu Nation's First Love. Sudah tidak terhitung aktor dan aktris yang menyatakan bahwa Kyungsoo adalah tipe ideal mereka.
Beragam penghargaan juga sudah disabetnya dalam 6 tahun karirnya di dunia akting. Sebut saja Aktor Pendatang Baru Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik, Pasangan Terbaik, dan masih banyak lagi. Namun begitu, Kyungsoo tetap rendah hati dan tidak menyombongkan diri.
Hanya satu yang membuat orang penasaran. Ia adalah orang yang pendiam cenderung tertutup sehingga kehidupan pribadinya pun rapat tidak tersentuh oleh media sekalipun. Ia tidak menggunakan SNS, hanya sesekali menjawab fans di fancafe resminya. Siapa yang dekat dengannya, siapa yang sedang bersama dengannya, dengan siapa ia menghabiskan liburan, tidak ada yang tahu. Teman-temannya pun menghargai privasinya dan tidak pernah membeberkannya ke publik.
"Eiii mana mungkin kau tidak melakukan apa-apa?" ujar PD-nim menanggapi Kyungsoo.
Kyungsoo kembali menggeleng, "Benar. Hidupku sangat membosankan. Lagipula ini kan malamnya PD-nim. Harusnya PD-nim yang bercerita."
PD nim menenggak soju di gelas one shot lalu menunjuk Kyungsoo, "Kau ini masih saja formal. Yah, Kyungsoo ya, kuberitahu kau satu hal. Semua orang mempunyai cerita yang ingin mereka bagi. Sekecil apapun itu, jika itu berarti bagi mereka, maka akan berarti juga untuk orang-orang yang menyayanginya."
"Ya Kyungsoo ssi, benar itu. Ayo ceritakan apa saja. Mungkin bisa mulai dengan pacarmu sekarang siapa? Hihihi.." penulis naskah Im Yoora menimpali.
Semua kru langsung berseru setuju dan menyoraki Kyungsoo untuk bercerita. Kyungsoo hanya dapat menggelengkan kepalanya dan bergumam 'tidak tidak'.
PD-nim terkekeh, "Ceritakan saja Kyungsoo ya. Ayo, aku juga ingin mendengar."
Kyungsoo hendak bicara namun sudah didului lagi oleh PD nim, "Mata ini memang sudah rabun, namun aku masih bisa mengawasi gambar dan bahkan bisa menyadari kau yang melirik terus ke arah jam tanganmu. Jika aku tidak mengenalmu, maka aku akan beranggapan kau ingin cepat-cepat pergi."
Kyungsoo cepat-cepat menyangkal, "Tidak PD-nim. Eng..sebenarnya aku sedang.." menunggu seseorang "aku sedang..ingin..ke toilet," Kyungsoo tersenyum canggung memberikan alasan tercepat yang dapat ia pikirkan.
PD-nim tertawa lepas saat mendengar jawaban Kyungsoo, "Kau tidak perlu sungkan Kyungsoo ya. Ini bukan sekolah yang ketika kau ingin pergi kau harus minta persetujuan dari gurumu. Sana pergi, jangan sampai keluar disini.."
"Ya PD-nim! Aku sedang makan," Kang Yoomi, sang penata busana menjauh dari samping sang laki-laki tua.
Kyungsoo yang terlanjur mengatakan ingin ke toilet pun berdiri dari tempat duduknya. Ia hendak membuka pintu ruangan namun Ia sudah didahului oleh orang lain yang hendak membukanya dari luar. Kening Kyungsoo menabrak pintu dan Ia pun hilang keseimbangan. Saat badannya hampir jatuh, saat itu pula sebuah tangan menahannya.
"Kau tidak apa-apa?"
Suara ini. Kyungsoo kenal suara ini.
Kyungsoo buru-buru melepaskan tangan yang memegang lengannya lalu berjalan cepat meninggalkan ruangan.
"Tenang saja sehun-ah, Ia pergi karena ingin ke toilet," terang PD-nim pada Sehun yang masih berdiri di depan pintu."
Sehun kemudian menutup pintu dan Ia pun langsung dikerubungi oleh para kru wanita. Ada yang menjabat tangannya, merangkul, bahkan mencubit pipinya.
PD-nim tertawa geli nelihatnya, "Ah Ia memang selalu populer dengan wanita."
"Hey biarkan dia bernapas! Dasar kalian wanita-wanita haus kasih sayang," seru Lee Changsun, asisten produser yang kasihan melihat Sehun dikelilingi para kru wanita.
Para wanita lalu menghampiri Changsun dan sekarang mengelilinginya, bukan untuk dirangkul atau apa tapi dipukul.
Sehun tertawa lega karena lepas dari tangan-tangan para wanita dan berjalan ke arah meja makan. "Kuharap masih ada makanan yang tersisa. Aku lapar sekali."
"Tentu saja Sehun-ah. Kami menyisakan banyak untukmu," ujar Yoora sambil menunjuk hidangan-hidangan yang tersaji di atas meja makan.
Sehun mengambil tempat disamping bangku Kyungsoo, "Terima kasih noona padahal aku tahu kau kan yang paling banyak makan," Sehun menggoda Yoora.
"Ya kau ini! Tahu gitu aku habiskan saja," Yoora melipat kedua tangannya di dada.
"Kalian ini selalu saja ribut kalau bertemu," PD-nim menengahi, kemudian berbalik menghadap Sehun di sebelah kanannya, "Dan kau, sudah semakin tinggi saja," PD-nim menepuk punggung Sehun.
"Aku ini tidak tinggi PD-nim, PD-nim saja yang pendek," jawab Sehun enteng.
PD-nim pura-pura tersinggung dan menjitak kepala Sehun, "Kau ini!"
Sehun menghindar cepat-cepat, "Wah ini namanya kekerasan..ingat PD nim kau sudah tua. Kau tidak ingin kan menghabiskan sisa waktumu di penjara, PD-nim?"
PD-nim hanya bisa menunjuk ke arah Sehun, menggeleng-gelengkan kepala lalu memberikan sebotol bir pada Sehun.
Tidak lama, Kyungsoo kembali ke dalam ruangan. Jika ada yang dengan seksama memperhatikan, maka mereka akan melihat Kyungsoo berjalan dengan lambat-lambat, wajah yang terus nenunduk, dan raut muka yaang pucat. Ia benar-benar tidak ingin kembali masuk ke ruangan tapi Ia juga tidak ingin membuat yang lain bertanya-tanya.
Kyungsoo kemudian duduk pelan-pelan di bangkunya, berharap bahwa para kru dan pemain sibuk berbicara dengan Sehun dan tidak ada yang menyadari bahwa Ia sudah kembali.
"Oh Kyungsoo ya, kau sudah kembali."
Well, harapan tinggal harapan.
Kyungsoo mendongakkan kepalanya, "Ya, Yoora noona," Kyungsoo menjawab pelan dan dengan sekuat tenaga tidak menoleh ke arah kirinya.
"Nah karena sekarang sudah lengkap, mari kita mulai acaranya," buka Yoora selaku MC dadakan.
PD-nim lalu bangkit berdiri dan mempersilahkan yang lain untuk duduk.
"Pertama-tama, terima kasih karena kalian semua mau datang ke acara laki laki renta ini. Aku sangat terharu kalian semua mau meluangkan waktu kalian. Tidak banyak yang ingin aku sampaikan. Aku hanya ingin berpamitan. Sudah 40 tahun lebih aku malang melintaang di dunia perfilman, dari hanya menjadi kru bayaran sampai sutradara seperti sekarang ini. Aku sangat bersyukur. Mungkin kalian heran mengapa hanya kalian yang aku undang malam ini. Bukan berarti yang lain tidak penting atau apapun, tapi kerjasama kita lah yang paling membekas di hatiku. Film Miracles in December benar-benar mengubah nasib kebanyakan kita semua. Siapa yang sangka film yang sebelnya dipandang sebelah mata, dengan budget rendah dan aktor-aktor yang diragukan bisa meraih kesuksesan. Itu semua bukan hanya kami para penulis naskah, sutradara, produser, namun karena kalian para kru dan pemainlah yang sebenarnya berperan penting. Aku sungguh berterima kasih pada kalian. Meskipun mulai saat ini aku sudah tidak lagi berkarir, aku masih tetap akan mengawasi kalian dan melihat perkembangan kalian. Bagiku mungkin sudah akhir, tapi bagi kalian ini masih awal. Aku tidak akan melupakan kalian. Terima kasih semuanya."
Tepuk tangan seketika menggema di ruangan itu. Tidak sedikit yang menangis terharu mendengar kata-kata dari PD-nim.
Yoora langssung memeluk PD-nim, "Aku juga senang bekerja sama denganmu PD-nim."
"Kalau aku sih tidak. Sudah lama aku ingin menunggu kapan kau pensiun. Aku sudah bosan melihat namamu di kredit film," celetuk Sehun namun raut wajahnya mengisyaratkan hal yang berbeda. Ia terlihat sedih.
"Kemari kau anak nakal," PD-nim sudah melepaskan pelukan Yoora dan membuka lengannya lebar-lebar untuk Sehun.
Sehun seolah ingin menolak, namun kemudian Ia memeluk Ah Yeop erat. Mereka kemudian melepaskan diri masing-masing beberap detik kemudian.
"Aku tahu kau yang paling akan merindukanku. Terima kasih, Sehun-ah.." PD-nim menepuk-nepuk punggung Sehun.
"Aku yang berterima kasih padamu. Berkat film ini orang jadi mengenalku dan itu mengubah karirku. Aku mendapat berbagai penghargaan. Bahkan aku bisa mendapat penghargaan bersama Kyungsoo-ssi. Benar kan Kyungsoo-ssi?"
Kyungsoo yang sudah pucat jadi bertambah pucat saat Sehun tiba-tiba melingkarkan lengannya di pundak Kyungsoo.
"Astaga benar! Kalian bahkan dijuluki couple of the year!" ujar Haneul, salah satu pemeran anak panti.
"Iya iya aku juga ingat. Mereka sangat populer saat itu. Dan..oh Kyungsoo ya, mengapa wajahmu sangat pucat? Kau seperti ketakutan melihat hantu. Apa jangan-jangan kau melihat hantu di kamar mandi? Berarti rumornya benar dong kalau kamar mandi di tempat ini angker?" tanya Yoora ingin tahu.
Kyungsoo menoleh, namun ia tidak menatap Yoora. Melainkan ia memberanikan diri menatap Sehun. Sehun juga sedang menatapnya dengan tersenyum. Senyum yang menurut orang lain sangat indah namun Kyungsoo bisa melihat keengganan dari senyum itu. Senyum itu bukan karena Sehun senang bertemu Kyungsoo.
Ia bisa merasakan tangan Sehun di pundaknya, panas menembus pakaian yang dikenakan Kyungsoo. Mulutnya terbungkam rapat, dan kepalanya pun tiba-tiba terasa berat. Waktu seakan berhenti berputar. Meskipun Kyungsoo tahu Sehun akan datang, hal itu tetap saja tidak bisa meredam reaksi Kyungsoo saat melihat Sehun. Ia bahkan tidak pergi ke kamar mandi, namun sibuk mengatur napas di luar ruangan saat mereka mengira Kyungsoo kabur ke kamar mandi.
Dan, ya, Kyungsoo memang melihat hantu. Tapi bukan di kamar mandi. Hantu itu ada disini, menatapnya dengan tatapan yang tidak terbaca oleh Kyungsoo. Membuat jantung Kyungsoo berdetak kencang seperti mau copot.
Kyungsoo masih terjebak di masa lalu.
.
.
.
.
.
.
.
Hai semua! Chapter I!
Mengutip perkataan PD-nim, aku juga terharu sama kalian yang mau baca, review, follow bahkan menjadikan FF ini favorit. (membungkuk 90 derajat)
Sebenarnya chapter ini masih berupa kerangka, tapi begitu lihat momen Sesoo yang di CF Nature Republic laangsung deh semangat 45 nyelesain :D
Oh ya buat yang nanya fanfic sesoo kesukaanku, ada author yang aku suka di AFF, xtrippingfairydustx. Ratingnya M dan nyeritain Sesoo sebagai member EXO, bukan AU. Tapi aku juga lagi suka baca fic-fic di Sesoo Fic Fest, astrongbreeze. Prompt-promptnya seru-seru.
Sekali lagi aku mau ngucapin makasih. Have a nice day everyone ^^
