Chapter II

.

.

.

.

.

.

.

Sekitar tiga tahun yang lalu…

Kyungsoo mempererat rangkulannya pada pinggang Sehun. Sehun pun membalasnya dengan melingkarkan lengan kirinya di pundak Kyungsoo. Mereka berjalan bersisian, menyusuri jalan yang mengelilingi tepi sungai.

Malam itu udara di sekitar sungai Han cukup dingin namun tidak menyurutkan niat pasangan ini untuk menikmati udara malam berdua. Masing-masing dari mereka mengenakan kaus lengan panjang untuk menahan serbuan dingin yang tidak terlalu menusuk tulang. Musim dingin belum tiba. Jalanan lengang, tidak tampak kerumunan di sekitar mereka. Mereka bisa cukup leluasa berjalan tanpa harus memakai terlalu banyak penyamaran. Mereka hanya mengenakan topi hitam untuk menutupi wajah.

"Bagaimana syutingmu hari ini?" tanya Kyungsoo sambil menatap Sehun. Tinggi mereka masih sama dan Kyungsoo tidak perlu mendongak jika ingin melihat Sehun.

"Membosankan hyung. Peranku di drama ini kan hanya menjadi seorang yang sekarat dan sedang menunggu ajal. Aku hanya berbaring di tempat tidur, badanku sakit semua jadinya, apalagi punggungku," keluh Sehun.

Kyungsoo lalu memijat-mijat area punggung Sehun. Ia tersenyum melihat ekspresi Sehun yang berubah menjadi lebih santai, menikmati pijatan tangan lembut Kyungsoo.

"Ya hyung disitu, ya astaga enaknya! Wah hyung kau pandai memijat," kata-kata terus mengalir dari bibir Sehun.

Kyungsoo lalu berhenti menggerakkan tangannya. Sehun yang sedang memejamkan mata menikmati, refleks membuka matanya kembali dan menoleh ke arah Kyungsoo. "Hyung kenapa kau ber-"

Kyungsoo menarik baju Sehun, membawa pemuda berambut hitam itu ke bangku taman di pinggir jalan. Kyungsoo meminta Sehun duduk, lalu meraih pundak sehun.

"Kau yakin tidak ada orang di sekitar sini kan?" bisik kyungsoo.

Sehun yang bingung, menoleh ke kiri kanan lalu menggeleng, "Sepertinya tidak ada hyung," lalu Ia melanjutkan, "Hyung, ayo kita pergi dari sini atau cari tempat duduk lain. Yang ini basah," Sehun menarik tangan Kyungsoo.

Kyungsoo menahan Sehun yang hendak berdiri, "Tidak apa-apa. Nanti celanamu juga kering. Sekarang duduk menyamping."

"Mengapa aku harus duduk menyamping?"

"Sudah, lakukan saja," desak Kyungsoo.

Sehun bingung namun tetap melakukan apa yang dipinta Kyungsoo. Ia duduk menyamping membelakangi kyungsoo. Sehun bisa merasakan napas Kyungsoo di tengkuknya, lalu Ia merasa semilir angin menerpa punggungnya.

Tunggu dulu.

"Hyung, apa yang yang kau lakukan?" Sehun hendak balik badan namun ditahan oleh tangan Kyungsoo.

"Aku tidak akan melakukan apa-apa," Kyungsoo menggulung kaus hitam yang Sehun pakai hingga mencapai tengah punggungnya. Ia kemudian menaruh kedua tangannya di badan sehun, "Aku hanya ingin memijatmu dengan leluasa."

"Memijatku? Kau ingin.." Sehun lantas tertawa, "Aku kira kau akan.." Sehun menoleh kebelakang, menaikkan kedua alisnya.

"Ya me..mengapa ekspresimu begitu?!" Kyungsoo tergagap sambil memundurkan tubuhnya, "Kau pikir aku akan berbuat yang tidak-tidak padamu? Dasar otak mesum."

Sehun berbalik menghadap Kyungsoo sepenuhnya, "Loh, hyung sendiri yang tiba-tiba membuka bajuku. Jangan salahkan aku dong kalo berpikiran begitu. Di tempat yang sepi, gelap, hanya ada kita berdua.." Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Kyungsoo, "Suasana yang sempurna untuk..."

Sehun menggantung kalimatnya. Ia kemudian menjilat bibirnya, melirik mata Kyungsoo lalu jatuh ke bibir Kyungsoo. Kyungsoo menelan ludah. Ia merasa hangat menjalar di sekujur tubuhnya. Sehun kemudian meraih tangan Kyungsoo, membawanya menjelajahi bagian depan tubuh Sehun. Dari leher turun ke dada turun ke perut hingga..

Sehun tiba-tiba berbalik membelakangi kyungsoo lagi dan meletakkan tangan kyungsoo di punggungnya.

"Untuk memijatku! Ayo hyung pijat aku lagi.." tagih Sehun antusias.

Kyungsoo tertegun. Jika tadi Ia merasa hangat, sekarang seperti ia tenggelam di lautan lava. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan ingatannya akan badan Sehun di bawah jemari tangannya dari otaknya. Ia menaruh tangannya di punggung Sehun dan mulai memijat Sehun.

"Ah enaknya..iya hyung disitu! Wah hyung aku katakan lagi, kau pandai memijat.." ujar Sehun setengah mendesah menikmati pijitan tangan kyungsoo. "Kau menyembunyikannya selama ini. Tahu gitu kalau aku capek aku datang saja ke tempat hyung dan minta dipijat. Sudah enak gratis pula," Sehun mengacungkan tangannya ke udara lalu menurunkannya lagi, "tapi lain kali hyung bilang dulu kalau mau membuka bajuku. Walaupun aku jadi tahu hyung ternyata tidak se-pemalu yang orang bilang.."

Kyungsoo bersyukur sehun tidak sedang menghadapnya karena muka Kyungsoo sekarang sudah memerah mendengar ucapan sehun.

"Aku pikir karena tidak orang disini jadi tidak apa-apa. Apa kau keberatan?" kyungsoo mulai memperlambat pijatannya, siap jika Sehun memintanya berhenti.

"Tidak. Hanya saja hyung berani sekali.."

Kyungsoo tersenyum malu, "Aku kan memijatmu. Dan kau adalah.."

Klik.

Klik.

Suara jepretan kamera membuat kyungsoo diam. Ia menoleh ke kiri kanan mencari dimana paparazzi bersembunyi.

"Arah jam 8, belakang pohon besar urutan ke 2," Sehun yang berhasil menemukan lebih dulu.

Kyungsoo menghembuskan napas kecewa. Ia hanya ingin berdua dengan sehun namun masih saja dibuntuti oleh para pemburu berita.

"Hyung, kenapa berhenti?" ujar Sehun saat Kyungsoo menghentikan pijatannya, "Ayo pijat aku lagi," kata sehun.

Kyungsoo pun lanjut memijat sehun.

"Ahhh iya hyung! Ahhhh Oh My God enaknya.." Sehun mulai mengeluarkan suara-suara aneh.

Kyungsoo mengernyit, Ia merasa tidak memijat dengan sangat baik hingga dapat membuat Sehun menikmati sedemikian rupa.

"Aaa..Ahh! Ahhh!"

Ok. Sekarang Sehun terdengar seperti orang terangsang.

"Sehun, berhenti membuat suara seperti itu. Mereka nanti mengira kita sedang berbuat sesuatu yang tidak-tidak," desak Kyungsoo.

Tempat duduk mereka memang agak jauh dari belakang dari tempat para paparazzi (berusaha) bersembunyi sehingga mereka hanya dapat melihat wajah Sehun dan Kyungsoo. Badan Sehun dan Kyungsoo terhalang oleh punggung kursi taman. Jika mereka mendengarkan suara yang dikeluarkan sehun, bisa bisa mereka mengira Kyungsoo dan Sehun sedang melakukan perbuatan asusila.

"Ahhhh Kyungsoo hyung!" bukannya diam Sehun malah semakin menjadi jadi. "Oh My God hyung!"

Kyungsoo sudah tidak tahan lagi dan menarik Sehun lari dari tempat itu. Suara jepretan-jepretan kamera mengiringi kepergian mereka.

Setelah dirasa cukup jauh, Kyungsoo dan Sehun berhenti berlari. Kyungsoo melepaskan tangannya dari tangan Sehun.

"Hahahah hyung kau harus melihat mukamu. Mukamu sangat merah dan kau terlihat sangat panik," Sehun menunjuk wajah Kyungsoo kemudian memegang perutnya, tertawa puas.

Kyungsoo mengatur napasnya dan tidak langsung menjawab Sehun. Saat Ia mulai bisa bernapas seperti biasa barulah Ia membalas, "Ya kau ini! Mengapa kau membuat suara-suara seperti itu? Bagaimana kalo mereka kira kita sedang..." Kyungsoo tidak meneruskan ucapannya.

"Sedang..?" goda Sehun.

Kyungsoo menatap Sehun yang sedang tersenyum jahil, Kyungsoo pun lama-lama merasa geli dengan kejadian itu. Ia menggelengkan kepalanya dan tertawa, "Sudahlah. Lebih baik kita pergi sekarang dari tempat ini. Semoga saja mereka tidak mengeluarkan foto itu dengan tulisan yang aneh-aneh. Kau juga harus istirahat. Ayo," Kyungsoo menggamit lengan sehun.

Sehun melingkarkaan lengannya di pundak Kyungsoo, senyum jahil masih tersungging di wajahnya lalu mengacak-acak rambut kyungsoo dengan tangan satunya.

"Baiklah, ayo kita pulang, hyung," Sehun memberi persetujuan saat melirik jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.

Kyungsoo tersenyum simpul menganggapi. Mereka pun berjalan bersama menuju halaman parkir untuk mengambil mobil Sehun. Malam yang indah untuk kencan berdua itu telah selesai.

Well, berempat dengan para paparazzi.

.

.

.

.

Antrian panjang terlihat di depan meja yang dilapis kain putih itu. Kyungsoo duduk di belakang meja, tepat di bagian tengah, sedang melayani seorang penggemar yang meminta tanda tangan Kyungsoo. Kyungsoo juga asyik mengobrol dengan penggemar yang ternyata datang dari Busan untuk menghadiri fansign Kyungsoo itu. Penggemar perempuan itu pun tak lupa menyerahkan bungkusan hadiah pada kyungsoo yang kemudian ditumpuk di sisi kanan Kyungsoo oleh para staff yang berdiri siaga di belakang meja.

Januari memang baru berjalan sekitar 5 hari namun jadwal kyungsoo sudah penuh untuk 1 tahun kedepan. Ia merupakan salah satu aktor naik daun yang sedang digilai. Jadi tidak salah jika meski awal tahun, Ia sudah sibuk menyapa para penggemarnya.

Seperi hari ini. Ia melakukan fansign dari salah satu produk yang Ia promosikan. Ia didapuk menjadi bintang iklan dan Ambassador produk lip balm Nivea. Bibirnya yang merah merekah dan berbentuk seperti hati membuat gila para wanita dan pria. Produk terseebut pun langsung sold out pada hari pertama penjualan sehingga produsen harus cepat-cepat memproduksi ulang untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Kyungsoo melambaikan tangan selamat tinggal kepada penggemar yang baru saja Ia layani. Ia menyempatkan diri meregangkan otot jarinya beberapa detik sebelum penggemar yang lain maju. Kali ini penggemarnya adalah fanboy. Ia lumayan tinggi dan badanya rapat terbungkus jaket hitam, lengkap dengan masker yang menutupi wajahnya.

Kyungsoo tersenyum, "Hai, siapa namamu?"

"Changmin. Jung changmin.." jawab sang fanboy dengan suaranya yang berat.

"Ah, hai Changmin. ." Kyungsoo melihat poster yaang dibagikan staf untuk fansign masih rapat digenggam Changmin, "Kau bisa memberikan posternya untuk kutandatangani."

"Tidak. Aku tidak mau tanda tanganmu di poster ini."

Kyungsoo masih tersenyum, "Ah, di kertas mungkin?"

"Tidak. Aku mau disini," sang penggemar menunjuk bibirnya.

Mata Kyungsoo melebar. Ia tidak salah dengar kan?

"Ehm..kalau kau ingin, aku bisa tanda tangan di..bajumu saja bagaimana? Aku tidak bisa kalau di.." Kyungsoo menunjuk bibirnya, "nanti yang lain cemburu," Kyungsoo tertawa kering, mencari alasan yang tidak akan menyinggung penggemarnya ini.

"Tidak! Aku mau disini," teriak sang fanboy berkeras minta dicium Kyungsoo dan menunjuk bibirmya. Penggemar yang lain mulai bisik-bisik penasaran ada juga yang mengeluh karena sang fanboy terlalu lama.

Kyungsoo sendiri mulai bingung dan malas meladeni penggemar ini. Ia sudah cukup lelah karena baru tidur selama 2 jam setelah syuting dan sekarang ada penggemar yang keras kepala. Ia hanya ingin tidur. Dan bertemu sehun.

Kyungsoo kemudian mencoba mengambil poster Changmin namun ditahan oleh Changmin. Changmin justru menunduk dan mendekatkan wajahnya pada wajah Kyungsoo.

Sekarang apa lagi mau penggemar ini?

Kyungsoo baru saja hendak memanggil staf mendekat namun ketika Ia beradu pandang dengan changmin, Ia merasa tidak asing dengan mata fanboy itu. Kyungsoo tersentak.

"Se..hun?"

Changmin kemudian menurunkan masker dari wajahnya dan benar saja ternyata Ia adalah Sehun. Sehun mengedipkan sebelah matanya pada Kyungsoo sambil tersenyum jahil.

"Sehun? Apa yang kau lakukan disini?" kali ini kyungsoo bersuara agak keras tanpa Ia sadari yang langsung didengar para penggemar. Sontak mereka pun langsung heboh dan mendekati Sehun. Sehun kemudian berbalik menghadap antrian para penggemar.

"Kyaaa itu sehun!"

"Astaga! Ini benar-benar Sehun?"

"Oppaaaa!"

Teriakan-teriakan memanggil Sehun terdengar dan ponsel-ponsel serta kamera-kamera semua diarahkan ke Sehun.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Ini seperti jumpa penggemar untuk Sehun bukan fansign Kyungsoo karena penggemarnya malah asyik ingin berfoto dan meminta tanda tangan Sehun.

Well, yang penting aku bisa bertemu sehun, pikir Kyungsoo dengan senyum lebar kemudian berjalan ke arah para penggemarnya dan Sehun saat mereka meminta Sehun dan Kyungsoo berfoto bersama.

.

.

.

.

Kyungsoo menatap layar ponselnya kecewa. Belum ada panggilan balik dari sehun. Pesannya pun belum dibalas, bahkan belum dibaca. Kyungsoo berulang kali mengecek sinyal, namun sinyalnya baik-baik saja.

Kyungsoo melepaskan kacamatanya lalu menaruh benda itu hati-hati di meja samping tempat tidur. Kepalanya Ia sandarkan di kepala ranjang.

Sudah beberapa hari ini Sehun tidak ada kabar. Telpon tidak ada jawaban, pesan tidak dibaca, apartemennya pun kosong. Kyungsoo bertanya pada Donghae hyung, manajer Sehun namun Ia tidak memberi informasi apapun tentang keberadaan Sehun. Kyungsoo benar-benar khawatir.

Seingatnya Ia dan Sehun tidak bertengkar atau memiliki masalah yang bisa menyebabkan Sehun pergi dan tidak mau berkomunikasi dengannya. Sehun juga tidak pernah membicarakan apakah Ia punya masalah dengan pekerjaannya.

Kyungsoo mengangkat ponselnya dekat wajah dan menimbang-nimbang. Tidak ada salahnya mencoba lagi, bukan?

Ia pun menggeser tombol panggil dan menunggu. Nada sambungan langsung terdengar dan seperti biasa Kyungsoo menunggu tanpa ada jawaban.

Baru kyungsoo akan menutup sambungan saat suara Sehun terdengar.

(Halo?)

Kyungsoo menegakkan badannya, "Sehun?"

(Siapa ini?)

"Ini kyungsoo. Kau ada dimana?"

(Ah, Kyungsoo hyung. Ada apa?)

"Sudah beberapa hari ini kau menghilang. Kau ada dimana?"

(Ah hyung, aku ada di klub malam)

Kyungsoo memindahkan ponselnya ke telinga kiri, "Kau di klub malam?"

(Iya. Sudah ya hyung aku sibuk..)

"Tunggu dulu..kau ada di klub mana? Biar aku kesana juga," Kyungsoo belum pernah seumur hidup menginjak klub malam, namun Ia harus menjemput Sehun sebelun orang-orang menyadari bahwa sehun adalah seorang publik figur.

(Tidak usah hyung, lagipula aku banyak teman disini)

"Kau bersama temanmu?"

(Iya hyung)

Kyungsoo baru akan bertanya siapa namun terdengar suara lain di sambungan telpon.

(Sehun oppa ayo kita ke tengah! Pertunjukkan striptease akan dimulai sebentar lagi~ )

Suara perempuan dengan nada manja menggantikan suara Sehun.

Kyungsoo bangun dari tempat tidur, "Sehun kau sedang dimana?"

(Hyung..)

"Sehun..." nada Kyungsoo mulai naik.

(Paradise Night Club)

"Aku kesana sekarang. Tunggu aku di depan," Kyungsoo memberi perintah.

(Tapi hyung..)

"15 menit..aku sampai sana 15 menit."

(Aish, iya iya)

Tut. Sambungan terputus.

Kyungsoo buru-buru menuju lemari bajunya dan mengganti piyama tidurnya dengan jeans dan kaus hitam. Ia kemudian menyambar kunci mobil dari gantungan lalu lari keluar apartemennya.

Tidak sampai 15 menit, Kyungsoo sudah sampai di klub yang Sehun sebutkan namanya. Kyungsoo pun sempat-sempatnya mengucapkan terima kasih pada GPS yang menuntunnya. Ia turun dari mobil dan berjalan cepat ke arah Sehun yang menunggu di depan pintu masuk.

"Sehun!" Kyungsoo menggamit lengan Sehun, membuat kepala sehun yang tadinya menunduk sekarang mendongak.

"Ah hyung, ada apa sebenarnya?! Kau menganggu malamku saja," Sehun menepis tangan kyungsoo. Napasnya bau alkohol, namun sepertinya Ia belum sepenuhnya mabuk.

"Aku antar kau pulang sekarang," Kyungsoo kali ini merangkulkan lengannya di pinggang Sehun.

"Aku tidak mau. Aku mau bersenang-senang," Sehun mendorong Kyungsoo menjauh.

Kyungsoo menggeleng tidak suka dengan perlakuan Sehun yang berbeda 180 derajat dengan Sehun yang Ia kenal, "Sehun, kau harus pulang. Bagaimana kalau orang-orang mengenalimu? Kau tidak mau membuat skandal kan?"

"Orang-orang kan memang mengenaliku, hyung. Aku Oh Sehun, aktor yang sedang naik daun. Semua orang ingin bagian dari diriku. Aku terkenal," Sehun meracau sambil menepuk-nepuk dadanya.

"Tapi tetap saja kau harus pulang, tidak baik kau ada disini," Kyungsoo mau tidak mau menyeret Sehun sekarang.

"Aish! Lepaskan aku hyung! Aku tidak mau pulang. Kau ini kenapa sih?"

"Sehun! Kecilkan suaramu! Nanti orang dengar," Kyungsoo menoleh ke kiri kanan. Tidak ada orang.

Sehun melepaskan tangannya dari genggaman Kyungsoo, "Aku sudah bilang aku tidak mau pulang, hyung! Kau ini benar-benar kenapa sih? Kau ini bukan siapa-siapaku juga."

Kyungsoo berhenti berjalan lalu berbalik ke arah Sehun, "Bukan ..siapa-siapa?"

Sehun menatap balik kyungsoo, "Well, baiklah. Kau siapa-siapaku. Kau yang berpengaruh membuatku lebih terkenal. Melakukan fanservice denganmu membuatku menjadi sangat dikenal sekarang. Terima kasih, hyung," ujar sehun sambil mencoba membungkuk 90 derajat namun gagal lalu terkikik, "nah itu..aku sudah mengatakannya. Kau puas?"

Kyungsio merasa seperti diguyur air es. Sekujur badannya kini seperti mati rasa. Jadi selama ini..

"Fan..service? Selama ini kita hanya melakukan fanservice?" Kyungsoo bertanya. Suaranya parau.

"Iya fanservice."

"Jadi selama ini kencan kita malam-malam, makan malam bersama, kau memberiku kejutan pada ulang tahunku, berkunjung ke lokasi syuting, datang ke fansign, itu semua hanya fanservice?"

"Iya hyung," Sehun menjawab enteng.

"Bahkan di Sungai Han dimana tidak ada orang yang bisa melihat kita?" Kyungsoo masih berharap apa yang Ia dengar dari Sehun hanya ilusinya saja.

"Well, kita terus diikuti paparazzi kan."

"Jadi maksudmu, paparazzi itu.."

"Aku yang memberitahu mereka hyung. Aku ingin mereka menangkap gambar kita berdua. Bagus bukan ideku?"

"Makan malam? Saat ulang tahunku? Se..semua itu?" Kyungsoo belum mau terima begitu saja.

"Ah, makan malam? Ulang tahun? Aku juga mengundang mereka untuk membuntuti kita.." balas Sehun enteng.

Kyungsoo pun kembali mengingat-ingat dan Ia akhirnya sadar. Di setiap Sehun dan Kyungsoo pergi 'kencan' mereka akan selalu dibuntuti paparazzi. Ternyata…

"Jadi..selama ini kita benar-benar hanya fanservice?" kepercayaan diri Kyungsoo mulai runtuh.

Sehun seolah tidak mendengar pertanyaan Kyungsoo dan lanjut bicara, "Aku sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan hyung. Jadi kalau hyung sudah puas lebih baik sekarang hyung pulang. Tidak perlu khawatir denganku. Sikap hyung ini seolah aku pacar hyung saja," Sehun tertawa keras beberapa saat namun saat Ia menyadari Kyungsoo tidak ikut tertawa dengannya malah terlihat sedih dan sakit hati terpancar jelas dari matanya, Sehun mendadak sadar dari pengaruh alkohol.

"Shit hyung!" Sehun membawa tangannya menutup muka, mengusap beberapa kali lalu menurunkan tangannya dan melihat Kyungsoo, "Kau...kau tidak benar-benar suka padaku?" tanya sehun.

Kyungsoo hanya diam tidak menjawab. Ia sendiri bingung. Apakah Ia menyukai sehun. Atau sudah mencintai Sehun.

Sehun yang menunggu jawaban kyungsoo mulai was-was. Bagaimana kalau Kyungsoo memang benar-benar menyukainya? Dia kan tidak menyukai Kyungsoo. Dia hanya menganggap Kyungsoo partner kerja dan melakukan fanservice dengan Kyungsoo membuat penggemar senang, sehingga Sehun selalu berusaha terlihat bersama Kyungsoo. Sehun tidak menyangka bahwa Kyungsoo akan benar-benar suka padanya.

Kyungsoo belum juga menjawab, hanya menatap hampa ke arah Sehun.

Sehun menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak ingin berada di situasi seperti ini. Dan lagi, Kyungsoo bukanlah tipenya.

Sehun mulai mundur beberapa langkah, "Eng, hyung aku ada urusan di dalam. Nanti aku akan menghubungi hyung. Sampai jumpa hyung," dan Ia pun lari dari tempat itu seperti pengecut.

Kyungsoo memandang nanar punggung Sehun yang semakin menjauh. Ia tidak perlu menunggu hari-hari berikutnya untuk tahu bahwa Sehun tidak akan pernah menghubunginya lagi.

.

.

.

.

.

.

.

(peluk Kyungsoo) (Kyungsoo korban gimmick)

Have a nice day everyone! Selamat beraktifitas ^^