Chapter III

.

.

.

.

.

.

.

"Bersulang!" gelas-gelas beradu lalu terdengar suara tegukan dari kiri kanan Kyungsoo. Gelas Kyungsoo sendiri sudah kosong dan Ia tidak ada niat untuk mengisinya lagi. Kyungsoo bukanlah seorang peminum, cukup satu dua gelas untuk formalitas. Ia tidak suka menenggak minuman keras yang menurutnya hanya membuat badannya terasa berat dan kepalanya sakit luar biasa.

Walaupun tidak hanya minuman keras yang membuat badannya terasa berat. Sebut saja salah satunya Oh Sehun, yang sekarang sedang terantuk di antara tidak sadarkan dan sadarkan diri di pundaknya. Tangan Sehun digantikan oleh kepalanya yang bersandar manis di pundak Kyungsoo.

Sehun yang setahun lebih muda dari Kyungsoo, sangat suka minum, bahkan saat umurnya belum dinyatakan resmi untuk mulai mencicipi minuman keras. Namun begitu, Ia juga bukan seorang yang kuat menahan efek dari alkolhol. Baru berapa gelas dia sudah mabuk. Jika Kyungsoo tidak menahan saat kepala Sehun akan jatuh ke depan, tepat di atas piring makanannya, Sehun pasti sekarang sudah merasa pedas karena gochujang yang mengenai matanya.

Sehun sempat duduk menyandar di kursinya sebelum akhirnya Ia rebah ke pundak Kyungsoo hingga sekarang. Kyungsoo yakin Sehun akan merasa sakit di lehernya saat Ia bangun nanti; Sehun yang mempunyai badan relatif lebih besar dari Kyungsoo menekuk bagian atas tubuhnya untuk bisa bersandar di pundak Kyungsoo. Jika ini adalah tiga tahun yang lalu, Kyungsoo pasti akan memijat Sehun.

Ah..

Lagi-lagi memori itu.

Saat Sehun dan Kyungsoo sangat dekat hingga Kyungsoo hanya tinggal mengangkat baju Sehun dan memijatnya santai.

Kyungsoo menghembuskan napas berat.

Menit-menit pertama setelah Sehun meninggalkannya di depan pintu masuk klub, Kyungsoo merasa sangat marah pada Sehun. Bagaimana mungkin semua yang mereka lakukan ternyata hanya sandiwara? Bagaimana mungkin semua skinship, semua kata-kata manis, semua perhatian hanyalah alat untuk menggaet penggemar? Jadi, dengan kata lain, apakah Sehun memperalat Kyungsoo?

Berjam-jam sesudahnya, saat Kyungsoo berada di balkonnya, menunggu matahari terbit, Kyungsoo merasa marah pada dirinya sendiri.

Marah, karena sebagai seorang aktor, bukankah Ia harusnya paham dan bisa membedakan yang mana yang akting dan mana yang bukan? Mana dialog yang memang dibuat dalam naskah dan dialog yang berasal dari hati?

Sejak awal produksi film, Sehun selalu menjadi orang pertama yang memecah kecanggungan di antara mereka. Sehun mendekatinya, mengajaknya mengobrol, berdiskusi tentang peran mereka, membuat Kyungsoo merasa nyaman berada dengan Sehun. Sehun pun tidak pernah merasa keberatan jika Ia disinggung sebagai kekasih Kyungsoo ketika sedang promosi. Walaupun mereka memang tidak pernah berbicara langsung tentang hal itu, namun Kyungsoo menganggap sikap Sehun dan senyum Sehun saat topik hubungan yang lebih dari teman muncul dalam pertanyaan adalah lampu hijau dan mereka benar-benar memiliki hubungan spesial.

Karena, debat Kyungsoo dengan dirinya sendiri saat itu, bukankah sikap Sehun off dan on cam sama saja? Ia sama-sama perhatian dan selalu ada di sisi Kyungsoo. Ketika mereka bertemu saat ada waktu luang, walaupun Kyungsoo hanya diam dan mereka larut dalam apa yang mereka lakukan masing-masing, Sehun tidak pernah mengeluh. Bahkan saat Sehun yang harus memulai pembicaraan lebih dulu dan mendominasi percakapan, Sehun tidak pernah protes. Hingga akhirnya perlahan Kyungsoo mulai membuka diri dan berani berbicara duluan.

Namun, apa artinya itu semua jika hanya sandiwara? Hanya fanservice untuk menyenangkan hati penggemar.

Kyungsoo pun menyalahkan dirinya sendiri. Ya, Sehun memang mungkin memperalatnya, tapi Kyungsoo menerimanya. Kalau saja Kyungsoo tidak menyambut perhatian Sehun dan menjaga jarak layaknya lawan main pada umumnya, dan hanya dekat selayaknya teman, maka Kyungsoo tidak akan berada dalam situasi seperti itu. Sehun tidak akan melakukan fanservice dengannya, melainkan dengan aktor-aktris lain.

Kyungsoo merutuki dirinya habis-habisan disaksikan sinar matahari pagi.

Dan kemudian, saat matahari tenggelam, Ia merasa malu.

Berjam-jam dihabiskan Kyungsoo untuk bercerita pada Junmyeon, manajernya, tentang apa yang terjadi dengannya dan Sehun. Junmyeon pun memberitahu fakta yang selama ini Kyungsoo tidak pernah tahu.

Karya sebagus apapun bisa kalah dengan sensasi yang luar biasa.

Sudah lumrah di kalangan artis untuk melakukan gimmick. Mereka melakukannya karena beberapa alasan. Bisa untuk menaikkan rating dan bisa juga untuk menggaet penggemar untuk suka dengan mereka. Biasanya gimmick akan berlangsung selama masa promosi; bisa juga selama popularitas mereka sedang di puncak atau sebaliknya, saat karir mereka meredup. Tidak jarang pula yang melakukannya untuk menutupi skandal.

Mereka yang berlakon dalam sandiwara ini, akan melakukan kesepakatan atau mungkin tidak sama sekali, hanya mengandalkan pengertian dari masing-masing. Apabila dikatakan sebagai syarat, maka hanya ada satu. Tidak boleh saling jatuh hati.

Banyak oknum di industri hiburan tentu akrab dengan gimmick. Baik itu sekedar tahu atau langsung melakukan.

Sisanya seperti Kyungsoo. Tidak tahu menahu dengan hal yang bahkan menyebutnya saja asing di lidah.

Satu kata yang Kyungsoo tambahkan setelah 'aegyo' dalam kamus Apa yang tidak disukai Do Kyungsoo.

Meski pahit, informasi dari Junmyeon sungguh membuka matanya. Mereka adalah publik figur. Mereka dituntut untuk profesional dan bertanggung jawab. Diri mereka bukan untuk pribadi lagi. Melainkan untuk publik. Mereka adalah milik agensi dan penggemar. Kepuasan penggemar adalah pencapaian untuk mereka.

Sehun yang baru saja mendapat pengakuan dari publik tentu tidak ingin ketenarannya berlalu begitu saja. Ia kemudian melihat peluang dengan Kyungsoo untuk melakukan gimmick. Kyungsoo yang Ia anggap tahu tidak menyadari dan jatuh hati dengan Sehun.

Kyungsoo tidak diperalat oleh Sehun. Kyungsoo hanya kurang pengetahuan.

Lalu, hal selanjutnya, apa yang harus dilakukannya saat Ia bertemu Sehun? Mau ditaruh dimana wajahnya?

Jawabannya Kyungsoo dapatkan saat mereka berjumpa kembali ketika menghadiri acara penghargaan. Mereka mendapatkan penghargaan sebagai Best Couple dan diminta untuk maju ke atas panggung. Kyungsoo hanya mengucapkan sepatah dua patah kata. Sisanya Sehun. Ia terlalu gugup untuk berbicara dan Ia bahkan tidak menengok ke arah Sehun.

Yang lebih memalukannya lagi, Ia terpeleset dan tersungkur saat menuruni tangga untuk kembali ke tempat duduk.

Sunguh memalukan.

Sehun pun hanya meliriknya sekilas lalu melenggang pergi.

Seseorang melambaikan tangannya di depan wajah Kyungsoo, membawa dirinya kembali ke masa sekarang.

"Kau mabuk, hyung?" tanya Johnny Lee saat Kyungsoo menurunkan tangannya dari hadapan Kyungsoo.

Kyungsoo menggeleng pelan, "Aku tidak mabuk."

"Aku pun juga tidak. Aku harus menyetir sehabis ini," Lee mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi sepertinya Yoora noona sudah," Lee menunjuk Yoora yang sedang menyanyi dengan sendok sebagai mic dan beberapa kru di sekelilingnya menari.

"Ckckck..anak itu harusnya pada jam segini berada di rumah dan mengurus anak-anaknya. Sayang Ia belum menikah, ckckck.." Ah Yeop ikut menimpali. Ia juga tidak mabuk karena alkohol tidak baik untuknya yang sudah menginjak 70 tahun.

"Ya pak tua! Aku dengar kata-katamu. Memang kenapa kalau aku belum menikah?" teriak Yoora menghentikan nyanyiannya.

"Kau ini sudah kepala 3. Kapan kau akan menikah?" Ah Yeop menggelengkan kepalanya.

Yoora terkikik, "Kapan? Kapan? Saat ada yang melamarku? Siapa yang mau melamarku? Kau? Kau? Kau? Ka..dimana anak nakal itu? Sehun? Sehun? Sehun!"

Kyungsoo mengangkat tangannya, "Disini," lalu menyentuh lengan Sehun, "Sehun, bangun..Sehun.."

Yoora yang melihat Sehun tidur di pundak Kyungsoo menghampirinya dan langsung memukul bagian belakang kepala Sehun.

"Ada ap..apa?" Sehun sukses bangun dan memegang kepalanya, namun dengan senyum lebar tersungging di wajahnya. Ia sudah benar-benar mabuk. "O Yoora noo..na?"

"Kau.." senyum "maukah" tertawa "menikah denganku?" Yoora memeluk manja Sehun.

Sehun balas memeluk, "O, aku akan meninggal dengan noona."

"Maksudmu menikah kan?" Kyungsoo meringis.

"O, .ggal dengan noona," Sehun menggerakkan tangannya mengikuti setiap huruf yang keluar dari mulutnya.

"Sehunku memang terbaik! Sini sini aku cium.." Yoora sekarang memonyongkan bibirnya namun dipisahkan segera oleh Ah Yeop.

"Kalian ini sungguh. Saat sadar tidak pernah akur, saat mabuk lebih mengerikan.." Ia menoleh ke arah Kyungsoo, "Sekarang pukul berapa?"

"Pukul tiga lewat 38 menit," jawab Kyungsoo cepat.

"Ahh..mungkin sudah waktunya mengakhiri acara ini."

Kyungsoo pun mengangguk. Ia menepuk-nepuk lengan Sehun, "Sehun..Sehun..bangun..sudah saatnya pulang."

Sehun hanya menatap Kyungsoo sambil tersenyum aneh. Kyungsoo pun memutuskan untuk menghubungi manajer Sehun, Donghae hyung. Tapi Ia tidak mempunyai nomor Donghae.

"Sehun, apa aku boleh meminjam ponselmu?" Kyungsoo menegakkan kepala Sehun, membuatnya tepat memandang Kyungsoo. Sehun mengangguk mengiyakan.

Kyungsoo mengambil ponsel Sehun yang tergeletak di atas meja. Namun Ia harus mengisi password untuk dapat mengakses menu.

"Ehm, Sehun, apa passwordmu?"

Sehun mengerjap-ngerjapkan matanya. Kyungsoo menyodorkan ponsel Sehun, lalu hati-hati menaruhnya di tangan Sehun. Sehun tidak bergeming.

"Sehun? Ehm..Aku butuh kau untuk memasukkan passwordnya, untuk menghubungi Donghae hyung." Kyungsoo memberi gestur pada Kyungsoo untuk menyentuh layar ponselnya.

Namun, tiba-tiba Sehun duduk sedikit agak maju dan memasukkan ponselnya ke dalam teko air putih. Ponsel Sehun pun sukses mati.

"Hyung, lihat! Tenggelam…ponselku tenggelam.." Sehun malah bertepuk tangan senang.

Kyungsoo hanya melongo menyaksikan ponsel Sehun yang basah dan mati. Sekarang bagaimana Ia bisa menghubungi Donghae hyung?

"Lihat..lihat! Ponselku tenggelam! Yoora noona lihat!" Sehun antusias ingin menunjukkan pada siapapun bahwa ponselnya sekarang berada di dalam teko air.

Yoora bertepuk tangan lalu kemudian memukul kepala Sehun lagi, "Ya! Kau tidak membeli ponsel yang waterproof apa? Percuma saja kau punya banyak uang tapi tidak bisa membeli ponsel waterproof," cemooh Yoora, bahkan saat mabuk.

"Noona ini bagaimana sih? Kan aku mengumpulkan uang untuk pernikahan kita~" ucap Sehun manja.

Sehun dan Yoora lalu terkekeh bersama.

"Sehun-ah..bukan..nanti kalau aku menikah denganmu, Kyungsoo akan cemburu," ujar Yoora.

Sehun menoleh ke arah Kyungsoo cepat, sampai-sampai Kyungsoo bisa mendengar suara tulang Sehun. Sehun menempelkan wajahnya ke wajah Kyungsoo, "Ani, Kyungsoo hyung tidak akan cemburu. Ya kan hyung?"

Kyungsoo menutup hidungnya. Bau alkohol sangat tajam dari mulut Sehun.

"Sudah, sudah. Ayo kita pulang," Ah Yeop mengumumkan pada semua orang yang berada di ruangan. "Dan kau Kyungsoo, bisakah kau mengantar Sehun pulang?"

"Ye?"

"Ponselnya sudah mati dan kebanyakan sudah mabuk. Hanya kau dan beberapa yang masih segar bugar, namun tidak ada yang mengetahui alamat Sehun. Kau tahu alamatnya bukan?"

Kyungsoo mengangguk, "Ye, PD-nim. Aku tahu. Aku akan mengantarnya pulang."

"Bagus. Sekarang aku akan menyeret perempuan ini dulu. Aigoo..berat sekali..makan apa saja dia ini.." Ah Yeop mengangkat Yoora dibantu dengan beberapa kru pria.

Kyungsoo pun dengan bantuan Lee berhasil menggotong Sehun ke mobil Kyungsoo.

"Terima kasih, Lee. Kau hati-hati di jalan."

"Hyung juga hati-hati. Aku pulang dulu hyung. Sampai jumpa lagi," Kyungsoo dan Lee berpelukan sejenak lalu Lee pergi.

Kyungsoo melambaikan tangan perpisahan ke arah Lee lalu membenarkan posisi Sehun di kursi penumpang. Ia memasangkan sabuk pengaman pada Sehun, membenarkan posisi kepala Sehun supaya tidak terantuk jendela, lalu menutup pintu penumpang.

Ia kemudian berjalan ke tempat pengemudi dan masuk mobil. Tidak lama mobil Kyungsoo pun melaju di jalanan kota.

Tidak butuh waktu lama, sekitar setengah jam, Kyungsoo sampai di apartemen Sehun. Ia memarkir mobilnya di basement namun Ia tidak langsung mematikan mesin mobil. Kyungsoo berbalik menghadap Sehun.

Dengan perlahan, Ia menyentuh rambut Sehun, mengelusnya pelan, supaya tidak membangunkan Sehun.

"Sehun-ah, apa kabar?"

Sehun yang masih tidur, tentu tidak menjawab Kyungsoo. Suara dengkuran Sehun mengisi mobil, bersama dengan alunan lagu I Hate You dari radio.

"Apa kau baik-baik saja tiga tahun ini?" Kyungsoo membawa tangannya turun dari kepala Sehun ke pipi pemuda itu.

"Kau memang banyak berubah. Semua berubah. Aku pun berubah," lanjut Kyungsoo, "Sudah lama kita tidak bertemu, bukan? Karenanya, walau sebentar, izinkan aku bersamamu," Kyungsoo mengelus pipi Sehun, sesuatu yang tidak berani Ia lakukan jika Sehun dalam posisi sadar.

Melihat Sehun dari dekat seperti ini, hanya berdua dan tertutup dari pandangan orang-orang, Kyungsoo sungguh merindukannya.

Tiga tahun ini mereka saling menghindar satu sama lain. Mereka tidak pernah mengambil tawaran yang sama dan berusaha untuk tidak hadir di acara yang sama. Sejujurnya itu sangat menyiksa Kyungsoo.

Ia selalu berpikir andai saja waktu itu Ia tidak bersikeras menyusul Sehun ke klub malam, membiarkan Sehun menikmati waktu bebasnya dan pura-pura tidak mendengar suara wanita di telpon. Mungkin mereka tidak akan berbicara tentang hal itu. Mungkin sekarang mereka masih dekat dan mereka akan pergi ke 'kencan-kencan' mereka yang lain.

Dekat dengan Sehun walaupun tanpa status atau hanya sebagai teman Sehun sudah cukup bagi Kyungsoo. Asalkan Ia bisa berada bersama dengan Sehun.

Kadang-kadang tidak tahu tentang sesuatu memang lebih baik daripada tahu tapi berakhir menyakitkan.

"Aku sangat merindukanmu. Apa kau merindukanku?" Kyungsoo tersenyum kecil, "Tentu saja kau tidak merindukanku. Memangnya siapa aku?"

"Tapi, Sehun-ah, aku tidak tahu bagaimana kau melihatku sekarang. Aku, perasaanku masih sama," aku Kyungsoo.

Ia kemudian memajukan wajahnya, hendak mencium Sehun. Namun tinggal sedikit lagi birbinya menyentuh bibir Sehun, Ia mengurungkan niatnya. Ia kembali menghadap ke depan, tangannya erat memegang kemudi.

"Soo..hyung.." Sehun tiba-tiba bersuara.

Kyungsoo menoleh hendak melihat kondisi Sehun saat Ia merasakan sesuatu yang hangat mendarat di bibirnya.

Kyungsoo awalnya panik namun Ia perlahan memejamkan kedua matanya. Berharap ketika Ia membuka matanya, ini semua bukanlah mimpi.

Mimpi bahwa Sehun mencium Kyungsoo.

.

.

.

.

.

.

.

Happy Sesoo Day!

Have a nice day everyone! Selamat beraktifitas! ^^

PS: Lagu yang di mobil adalah I Hate You by Urban Zakapa.