Terima kasih untuk semua review kalian! Sebagai hadiah, bab kali ini akan panjang. Sedikit.
(saran: baca ini sambil dengarkan ost Doukyusei full albumnya)
.
.
.
.
.
"Viktor?" Panggilku usai banquet. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum, kemudian berpaling pada orang-orang yang tengah ia jamu untuk undur diri. Namun tatapan penuh kharismanya berubah saat bertemu pandang dengan wanita itu, yang dia genggam tangannya dan dia kecup, berpamitan dengan mesra hingga tamu-tamu itu saling berpandangan sambil tersenyum senang. Menikmati pemandangan di depan mereka sambil meneguk sampanye mahal di tangan.
Tapi tidak denganku.
Aku meneguk liurku dan berusaha berpamitan sesopan mungkin pada mereka sebelum berjalan bersama Viktor ke balkon. Kami berjalan dalam diam.
Aku bisa merasakan lirikan Viktor padaku. "Bicaralah," kataku kemudian. Viktor yang baru sampai di pinggir pintu terkejut. Tapi dia segera tertawa, kurasa sebagi pencair suasana.
"... ah." Dia berhenti. Aku membalikkan tubuhku dari pemandangan kota menjadi menghadapnya. Menyalurkan semua kekecewaanku, kemarahan, dan kesedihanku lewat pandangan langsung ke matanya. "... Yuri," panggilnya. Wajah bahagianya menguap. "Aku, aku minta maaf. Aku bermaksud memberikanmu kejutan."
"Kejutan?"
"Ya!" Jawabnya semangat. "Bukankah dengan begini kita jadi saling berbagi kebahagiaan?"
"Kau kira semudah itu?" Nadaku langsung meninggi. Alisku menekuk tajam ke bawah, bukti kalau kekecewaanku sudah nyaris batas kendaliku. "Kau kemanakan cincinmu?"
"Yuri..?"
"Jawab aku!" Seruku langsung. Viktor yang masih terkejut hanya mengerjapkan mata dalam kebingungan. "Yuri! Ada apa denganmu? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?"
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau kau sudah punya kekasih!"
"A-a-aku rasa itu tak perlu, lagi pula bukankah kau sudah tahu?"
"Bagaimana bisa aku tahu?! Seantero bumi baru tahu hari ini dan kau menyalahkanku? Kenapa kau selalu--" napasku tercekat saat aku berkedip. Airmataku jatuh.
Viktor dalam pandanganku masih berwajah yang sama, terpaku dalam kebingungan luar biasa. Walaupun aku rasa, akulah yang paling bingung disini. Kukira perasaanku tersampaikan dengan nyata padanya, kukira kami berdua sudah saling berpegang. Tapi ternyata, aku salah. Aku salah, ini kesalahan terbesar.
Aku mengepalkan tanganku sekuat yang aku bisa sambil berusaha untuk mengontrol diriku lagi. Nihil. Isakanku malah semakin nyaring, aku bisa melihat bayangan orang-orang yang mencuri pandang pada kami dari balik air mataku. Kembali, aku mencoba untuk tidak menangis, dan gagal. Tangisanku kini berubah menjadi raungan.
Sejurus kemudian aku merasakan dekapan disekujur badanku. Ini aroma Viktor, ini kungkungan Viktor. "Yuri.." bisiknya lirih. Aku menarik napasku lagi tapi sialnya aku malah tersedak. Tangan kirinya mulai menepuk punggungku dan bisikan-bisikan menenangkan lainnya timbul. "Maaf. Maafkan aku, aku sudah menyakitimu. Aku tidak bermaksud merahasiakan apapun padamu." Bisiknya lagi. Satu kecupan pada pipiku, satu kecupan pada mataku lalu dia memelukku lagi. Desisan lirih dia keluarkan sambil menggoyangkan sedikit tubuhnya dengan aku dalam peluknya. Sedikit kesal karena aku bertingkah seperti perempuan, tapi aku menikmatinya. Jeda panjang menemani heningnya malam. Tubuhku berangsur pulih dari gemetar.
Viktor menenggelamkan wajahku dalam dadanya. Membiarkan airmataku membasahi jas dan kemeja mahalnya. "Aku... menyimpan cincinmu." katanya lirih.
"Kenapa..?"
"Karena itu darimu." Masih dengan bisikan dia menjawab. "Tidak mungkin aku membuangnya." dan kami kembali diam. Aku meliriknya, masih dalam isakan. Dan dia menangkap sinyalku. "Soal dia.. Namanya Maria. Maria Edgevenia. Penari balet senior, satu leting dengan Ospevia dan Yurio." Tangannya membelai rambutku. Memainkannya perlahan, masih merengguhku. "Aku bertemu dengannya setahun sebelum aku memutuskan untuk pensiun. Kami berhubungan hampir dua tahun, dan memutuskan untuk menikah tahun depan."
Dada kiriku serasa tertohok pisau usai mendengarnya. Satu tarikan napas, dan aku kembali bertanya, "Kenapa?"
"Karena... Ibunya tak akan bertahan lama."
Satu tarikan lagi. "Kenapa?"
Viktor memberi jeda. "... Kanker."
Dan aku tak bernapas beberapa detik. Viktor merenggangkan pelukannya, menatapku dalam dan menghapus air mataku. "Aku tahu ini mendadak. Tapi aku harus membahagiakannya. Aku, aku janji, aku akan selalu menjadi pelatihmu!"
Aku menggeleng. Bukan. Bukan seperti ini. "Viktor."
"Aku berjanji, akan membuatmu bertahan semampuku, aku tak akan membuatmu turun dari dua besar dalam pengawasanku."
"Viktor,"
"Aku--" dalam satu gerakan aku langsung menepuk kedua pipinya. Nyaris menampar kalau kurasa. "Viktor," panggilku lagi. Matanya masih membelalak.
Lama kami berpandangan dalam hening. Angin malam produk musim semi menyejukkan dari gerahnya balutan jas. Tangan kananku lalu berkelana ke lehernya sementara mataku menyelami pandangannya, mencoba meluapkan emosi yang ada dalamku.
Sampai bayangan Maria terlintas dalam benakku.
"... aku akan ke kamar."
"Eh? Yuri?" Viktor menahan tanganku. "Yuri, maaf.."
"Tidak Viktor, maafkan aku." Bisikku sambil menatapnya tulus. Bisa kurasakan kalau bibirku gemetar, seolah bibirku menolak untuk tersenyum setelah mendengar semuanya. "Hahahahaha kau tertipu! Aku hanya latihan berakting denganmu!" Seruku bohong. Viktorpun tidak bergeming. "Hahahaha, kau sangat mudah terbawa, Viktor! Cepatlah sana--"
"Apa kau menyukaiku?"
Aku mengerjap. Tatapan Viktor berubah, entah menjadi apa. "Apa maksudmu?" Tanyaku lirih. Tapi dia makin kuat menahanku. "Kau menyukaiku, Yuri?" Tanyanya lagi.
Ah, kau semakin membuatku gila, Viktor. Kau tak tahu seberapa berusahanya aku untuk tidak melompat dan memelukmu sambil menangis meraung-raung dengan berkata, 'Tentu saja, aku bahkan mencintaimu dari dulu' sekarang? Kau tak tahu seberapa ingin meledaknya aku saat tahu kalau selama ini aku salah paham, mengira gurauanmu kalau kita akan menikah setelah aku mendapat emas memang akan terjadi?
Apa aku harus berbohong sekarang?
Atau.. Haruskah aku mengaku?
"Yuri." Panggil Viktor dengan nada rendah. Dan aku menatapnya dengan tatapan, yang mungkin tak akan pernah dia baca apa artinya. "... Benar. Aku menyukaimu." Jawabku sambil tersenyum. "Karena kau, adalah pelatihku."
Segera, aku melepaskan tangannya. "Aku ada di kamarku, jika kau mencariku."
"Yuri.."
"Aku, hanya kecewa. Karena kau menyembunyikan sesuatu dariku." Bisikku parau. "Kumohon jangan lakukan itu padaku. Lagi."
Lama dia terdiam disitu dengan mata yang mengamati tiap garis yang ada di wajahku. Sampai akhirnya dengan enggan, dia melepasku dengan senyuman. Kami berpisah dalam damai. Satu pelukan terakhir sebagai bonusnya.
Dan tangisan yang pecah dalam kamarku sebagai penutupnya.
.
.
.
Aku hancur saat itu juga.
.
.
.
...
Makasih banget buat temen-temen yang udah nyempatin buat baca dan ngereview karyaku! Aku sangat senang membaca kata-kata kalian. Sekali lagi, makasih banget-banget-banget!
Cerita ini sebenarnya sudah terpikirkan dari tahun lalu dan baru kesampaian buat di tulis tahun ini. Sepertinya babnya bakal panjang dan karya ini akan terbagi menjadi dua seri (sepertinya). Ini masih sebagai pemanasan aja sih. Aku janji, kedepannya bakal makin sendu dan Layu. Sebagian adegan yang aku narasikan berdasarkan kisah nyata.
Mohon bantuan dan dukungan kalian! Sampai jumpa!
.
.
.
.
dangjco709
