Naruto © Masashi Kishimoto
Office Lover © OKKO/Arithmetic
Warning : Sangat mungkin OOC, typo, dan kesalahan – kesalahan pemula lainnya.
"Apa? Bahumu cedera karena orang itu?" Suara perempuan yang setengah berteriak itu membuat kasir dan para pelayan kaget, menjadikan meja mereka sebagai pusat perhatian. Dalam hati Tenten mengucap syukur karena saat itu waktu makan siang hampir usai, sehingga ia tidak harus berurusan dengan tatapan dari pengunjung lainnya.
Ekspresi gugup di wajah Tenten makin terlihat jelas karena lawan bicaranya jelas tampak emosi. Sekarang ia sedikit menyesali tindakannya semalam, saat ia membalas pesan singkat Ino dan menyebutkan soal kejadian di Toserba padanya. "I-Ino, hey. Tenang, kau lihat 'kan? Aku masih bisa bekerja dengan normal hari ini." Tenten mencoba mengendalikan kemarahan Ino, "lagipula, orang itu sudah diamankan." Sambungnya lagi untuk meyakinkan sahabatnya.
Mata cerah Ino memandang lurus ke arah Tenten, kemudian menarik nafas panjang. "Maaf," katanya singkat sembari mengangkat segelas air, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia sadar sudah membuat Tenten tidak nyaman dengan kelakuannya barusan.
Tenten meletakkan garpu dessert-nya. "Aku juga minta maaf sudah membuatmu khawatir," ujarnya pelan dan menundukkan kepalanya. Ino sering memperingatkannya agar lebih berhati – hati. Ia tidak menyangka kalau berpenampilan tidak menonjol itu tidak cukup untuk menjauhkannya dari masalah.
Ino menepuk kepala Tenten pelan, sesuatu yang sangat ingin ia lakukan karena selama ini Tenten-lah yang selalu bertindak layaknya seorang kakak untuknya. "Sudahlah. Ayo, waktu istirahat siang sebentar lagi selesai. Kau bilang Shiranui-san akan mengambil draftnya seusai makan siang 'kan?" Ino berdiri yang kemudian diikuti Tenten, yang langsung melingkarkan tangannya ke lengan Ino.
Dalam perjalanan kembali ke kantor, Tenten teringat sesuatu. Si penolong misteriusnya. "Ino," panggilnya pelan tanpa menghentikan langkahnya.
"Hmm?" Ino mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Apa kau pernah melihat orang dengan mata tanpa pupil?" Tanyanya dengan nada tidak pasti. Mata tanpa pupil? Yang benar saja, Ino akan menyangka ada yang salah dengan otaknya.
Alis cantik Ino bertaut dengan kerutan di dahinya. "Maksudmu?" Ia menghentikan langkahnya sejenak kemudian melanjutkan langkahnya. Sepertinya ia tahu maksud Tenten yang kelihatan sedang berpikir.
"Mmm…." Tenten mencoba mencari kata yang tepat untuk menggambarkan penolongnya semalam. "Ah, bola mata yang sekilas terlihat putih, namun jika diperhatikan, seperti berwarna lavender." Tangan Tenten melakukan gestur dengan tangannya. "Kau tahu, laki – laki yang menolongku memiliki mata seperti itu." Tenten menjelaskan dan sedikit tersentak saat Ino berhenti.
Mata Ino terpusat pada kios penjual majalah yang terletak di samping kantor mereka. "Mata yang seperti dia?" Ino memiringkan kepalanya, yang ia maksud adalah laki – laki yang terlihat lebih pantas berada di majalah fashion daripada di sampul majalah bisnis. Headlinenya tertulis "Konsultan Berkharisma, Hyuuga Neji."
Tenten memicingkan matanya, untuk memastikan wajah di sampul majalah itu adalah orang yang menolongnya. Rambut gelap yang terikat, kulit yang putih bersih, setelan rapi, dan yang paling utama, matanya, mata berwarna tak biasanya. "Itu orangnya." Tenten berkata pada dirinya sendiri, namun Ino yang tepat berada disampingnya jauh lebih terkejut mendengarnya.
"Eeeh?" Ekspresi kaget Ino membuat Tenten tersentak sekali lagi. "Ya ampun Ten, kau beruntung sekali." Ia menarik temannya itu ke arah kantor. "Ceritakan, apa dia setampan di sampul itu? Aaah, bicara apa aku ini, dia 'kan seorang Hyuuga, tentu saja dia menarik." Ino berbicara dengan penuh semangat, memancing tawa geli dari Tenten.
'Hyuuga? Ah iya, dia menyebutkan kata itu semalam.' Batin Tenten, tiba – tiba merasa bodoh sendiri. Keluarga Hyuuga merupakan salah satu keluarga paling berpengaruh di kota itu, yang satu atau dua kali sering muncul di media.
"Tapi Ten, kau harus hati – hati." Entah untuk yang kesekian kalinya Ino mengatakan ini pada Tenten. "Kabarnya dia sering terlihat dengan wanita yang berbeda – beda."
"Hush, Ino." Tenten menyela sahabatnya itu. "Apa kau mengira aku akan jadi salah satu dari wanita – wanita itu? Itu tidak mungkin." Tenten mengibaskan telapak tangannya untuk menekankan kalimat itu pada Ino. Secara logika, tidak mungkin laki – laki semenarik dan sesukses itu akan melirik ke arahnya, lagipula seluruh perhatiannya saat ini tercurah untuk pekerjaannya.
"Kemungkinan itu selalu ada, Tenten." Bantah Ino, mereka sudah memasuki gedung kantor.
Tenten menekan dahinya dengan telunjuk, lagi – lagi Ino terlalu bersemangat. "Ok, ok." Ujarnya menyerah, Ino yang mendengar itu memajukan bibirnya, cemberut. Baru saja Tenten hendak membuka mulutnya lagi untuk bicara,
"Tenten!" Nada formal itu membuat kedua perempuan itu menoleh, seorang laki – laki berbadan tegap berdiri di dekat mereka.
"Ah, Shiranui-san. Maaf saya lambat menyetor draftnya." Tenten yang lebih dulu pulih dari keterkejutannya, berkata dengan nada yang tak kalah formal, dan datar kepada sekretaris Pak Presdir itu.
Ino mengedikkan bahu mendengarnya, "Ah, aku ke atas ya, Ten. Sampai nanti." Ino menepuk bahu Tenten pelan. "Permisi, Shiranui-san." Ino membungkuk kemudian berlalu menuju lift tanpa mendengar balasan dari Tenten.
Kontras dengan intonasi yang ia gunakan sebelumnya, Shiranui tersenyum simpul. "Tak apa. Sebenarnya saya bukan mencari anda untuk itu. Saya hanya ingin menyampaikan pesan, Pak Presdir menunggu anda dan draft itu di ruangannya sekarang. Beliau sedang ada tamu, tapi anda dipersilahkan masuk." Jelasnya.
Tenten menundukkan kepalanya sejenak, "baik, akan saya antarkan. Terima kasih, dan maaf sudah menyusahkan." Balasnya kaku dan terdengar seolah – olah kalimat itu diprogramkan di otaknya.
Satu tangan besar mengusap kepala Tenten pelan, "Baiklah kalau begitu. Untungnya orang itu kau, aku bisa pindah ke tugasku berikutnya." Tenten mengejapkan matanya, dia tidak salah dengar 'kan? Shiranui Genma, salah satu orang yang dikenalnya sangat disiplin baru saja melakukan hal yang sangat diluar karakternya. "Kau tahu, kau bisa rileks sedikit. Dedikasimu untuk pekerjaan itu mengagumkan, tapi kalau kau terus – terusan kaku seperti itu, orang – orang akan takut padamu." Ia terkekeh sambil berlalu. "Oh ya, Ten! Selamat!" Serunya sebelum keluar dari pintu.
Tenten menggelengkan kepalanya, terlalu banyak hal tak biasa hari ini. Ia bergegas mengambil draft yang ia simpan sebelum menuju ruangan Pak Presdir sementara di kepalanya, ucapan selamat dari si sekretaris senior masih berdengung. Apa maksudnya?
Tenten mengetuk pintu kayu itu tiga kali sebelum membukanya pelan. "Maaf mengganggu. Saya membawakan draft dan data yang anda butuhkan." Ia membungkukkan badannya sebagai salam. Saat ia mengangkat wajahnya, ia tidak dapat menyembunyikan rasa kagetnya.
"Hei, kau." Suara itu, pelan namun tegas dan penuh percaya diri. Tamu yang dimaksud tidak lain adalah Hyuuga Neji. "Tidak kusangka kita bertemu lagi secepat ini."
Berusaha untuk bersikap normal, Tenten mengangguk pelan, "Ya," ia mencoba agar terdengar biasa.
Terdengar tawa kecil, "Apa ini? Kalian sudah mengenal satu sama lain?" Sarutobi Hiruzen memandangi kedua sosok yang jauh lebih muda di depannya dengan ekspresi yang menyiratkan rasa senang. Ia menghentikan pandangannya ke arah Tenten saat perempuan muda itu menaruh draft di mejanya.
"Kami kebetulan pernah bertemu sebelumnya. Beliau menolong saya saat itu dan saya sangat berterima kasih." Jawab Tenten tenang, berusaha menepis pikirannya tentang kemungkinan yang akan terjadi jika laki – laki itu tidak disana semalam.
Mata lelaki tua itu berbinar, "Seperti itu kejadiannya. Aaah, itu bukan hal yang baru lagi dari Hyuuga Neji, " pujinya. "Oh ya, mulai hari ini, Hyuuga akan bekerja sebagai karyawan sementara di perusahaan ini." Ujarnya membuka topik pembicaraan.
"Sementara?" Tenten kurang mengerti maksudnya. Diawal ia bekerja, ia diberi tugas untuk menyusun data pegawai dan dalam catatannya, di perusahaan ini tidak pernah mempekerjakan karyawan sementara.
"Perusahaan ini mengajukan permintaan untuk jasa konsultansinya. Oleh karena itu, ia akan bekerja disini sebagai karyawan untuk sementara waktu. Untuk itu, aku ingin menugaskanmu sebagai sekretarisnya." Jelasnya, membuat Tenten terkesiap.
"Sekretaris." Tenten menenangkan dirinya, yang benar saja, ia terus – terusan dibuat terkejut hari ini. Ia terlalu berkonsentrasi pada kata – kata Sarutobi-sama hingga ia tidak menyadari sedari tadi sepasang mata acap kali memandang ke arahnya.
Laki – laki tua itu mengangguk melihat air muka Tenten, ia tahu gadis itu mulai mengerti situasinya. "Kali ini, kau dan Hyuuga akan bekerja di Tim Perencanaan Khusus. Aku memintanya untuk melancarkan rencana peluncuran produk terbaru kita, jadi kemungkinannya hingga dua bulan ke depan." Urainya lebih lanjut.
"Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik, Tenten-san." Sang konsultan mengulurkan tangannya.
Tenten menjabat tangannya, "Saya juga berharap begitu, Hyuuga-Buchou." Balasnya pelan. Dengan pembawaan atasan barunya dan kepercayaan yang diberikan Pak Presdir, Tenten yakin ia bisa bekerja dengan baik.
Setelah undur diri dari Pak Presdir, Tenten mengantarkan atasan barunya ke ruangan yang akan mereka gunakan.
Tenten masuk lebih dulu ke ruangan yang tidak terlalu besar itu, "Disini ruangannya." Ruangan itu benar – benar diatur untuk dipergunakan oleh dua orang, baik dari jumlah perabot dan ukurannya.
Hyuuga mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, "Tidak buruk," komentarnya singkat kemudian berbalik ke arah pintu keluar dan menguncinya. Melihat tingkah yang tidak biasa itu, jantung Tenten berdegup cepat, ada apa ini?
Belum sempat Tenten menyuarakan pertanyaannya, Buchou-nya itu berjalan ke arahnya dengan wajah tanpa ekspresi, membuat gadis berambut cokelat itu melangkah mundur secara otomatis hingga punggungnya menempel di salah satu lemari arsip. "A…" Baru satu huruf itu yang meluncur dari bibirnya sebelum tangan besar Hyuuga Neji menutup mulutnya.
-Bersambung-
A/N: Ini dia chapter kedua dari "Office Temptation", maaf kalau updatenya tidak bisa cepat. Oh iya, terima kasih untuk yang sudah membaca fanfic ini, untuk yang review, fave, sama subscribe juga makasiiiih. ^0^
.5: Ini chapter keduanya, semoga suka, ya.
yoshikohamano: Makasih kembaliii.. Iya, disini Neji jadi bosnya Tenten.
summer: Iya, Nejiten sama Kagaya sama - sama keren #plak!
ni-san: Makasiiih. Ceritanya belum selesai, sambungannya ada di chapter ini. Semoga suka, ya.
tanochan: Syukurlah dianggap tidak OOC. :)
amay: Salam kenal balik. Side-pairing, ya? Belum tau Ino sama siapa, terlalu lovable soalnya. Hehe..
shinji r: waaaa, sama - sama pemain office lover. Saya sudah main ke-3 rutenya, begitu mau main rute-nya Togu malah malas (penulis curcol xD).
Hwang Energy: Makasih koreksinya, itu typo. Harusnya 'Lelaki' :)
Shiori Sophi: Makasiiih. Ganbarimasu..
Ocha SasuHinaTachi: Ino belum ada gandengan. Hehehe... Disini dia cuma suka kepo sama Tenten. Untuk side-pairing? Nanti, ya. Saya belum berani janji, soalnya takut nanti plotnya malah berantakan. Maaf, ya... Eeeeh? Siapa yang nyampah, kamu nggak nyampah, kok. Semoga suka, ya.. :)
