Office Temptation
Chapter 3
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : Sangat mungkin OOC, typo, bahasa tidak baku dan kesalahan – kesalahan pemula lainnya.
Tatapan dari sepasang mata lavender itu seperti menusuk. "Jangan bersuara, jangan menimbulkan bunyi yang bisa membuat karyawan lain curiga." Ia berbisik tepat di telinga Tenten, membuat si sekretaris merasa lantai yang dipijaknya seperti menghilang. "Apa yang kau ketahui?" Tanyanya, satu tangannya masih membekap mulut gadis itu, sementara satu tangannya menggenggam erat lengan kiri Tenten yang mencoba melakukan perlawanan.
"Hmmmpp…." Tenten berusaha keras untuk membuka mulutnya. Apa arti pertanyaan barusan? Apa yang dia ketahui? "Ttttttthhh….," setelah menyadari usahanya sia – sia, Tenten menggelengkan kepalanya dengan penuh kekalutan. Ia sama sekali tidak mengerti dengan situasi yang ditanyakan laki – laki itu. "Haaaah!" Tenten langsung menghirup udara sebanyak – banyaknya, "Pak, apa maksudnya ini?"
Bukannya memberi jawaban, konsultan muda itu langsung menangkap rahang Tenten, jari – jarinya menekan kedua sisi pipi mulut untuk menyuruhnya diam sambil memandang lurus seolah – olah gadis itu adalah objek penelitian -objek penelitian yang berani menatap balik ke arahnya-. "Hmm, sepertinya kau tidak berbohong, " akhirnya ia melepaskan genggamannya. "Pak Presdir pun memilihmu langsung, jadi kurasa kau aman." Mimik wajahnya pun berubah normal seperti saat pertama kali Tenten melihatnya. "Kita tidak punya banyak waktu, oleh karena itu aku mengujimu. Maaf aku sudah mengagetkanmu."
Terdiam sejenak, Tenten mengerahkan seluruh upayanya agar tidak meneriaki lelaki bermarga Hyuuga itu. "Tak apa," jawabnya (berusaha) kalem, "tapi untuk apa anda melakukan itu?"
"Aku akan menjelaskannya nanti." Tipikal jawaban yang biasanya digunakan untuk menghindar. "Aku berjanji akan memberitahumu," ia menyadari tatapan skeptis yang jelas terlihat di kedua bola mata cokelat dihadapannya. "Untuk itu, aku ingin kau melakukan sesuatu." Ia berjalan ke mejanya, "aku akan mengatakan ini, aku benci orang yang tidak berguna. Jika aku menganggap kau tidak berguna, aku akan langsung meminta kau untuk diganti. Kuharap kau ingat itu." Dia nampaknya sangat menyukai situasi ini.
"Saya mengerti." Tukas Tenten singkat, kemudian mengeluarkan planner dan polpennya.
Seringai nampak jelas menghiasi wajah tampan Hyuuga Neji, "bagus. Tugas pertamamu, kumpulkan semua material yang berhubungan dengan produk baru, kemudian susun berdasarkan tanggal pembuatannya. Buat resume dari keseluruhan data."
Walaupun otaknya masih diliputi kebingungan karena perubahan atmosfir yang begitu cepat, brunette itu mengangguk. "Baik, Pak." Dengan cepat ia berbalik.
"Satu lagi, aku ingin hasilnya diserahkan sebelum pukul enam sore ini." Tambahnya lagi, kemudian mengalihkan perhatiannya pada layar di depannya.
"Baik, Pak."
"Ini dokumen – dokumen yang Bapak minta, beserta ringkasannya, saya juga sudah mengirimkan filenya ke email Bapak." Tenten menyerahkan dua folder kepada bos barunya.
Neji berhenti mengetik, mata lavendernya menatap sekilas ke folder yang baru diterimanya. "Setengah jam sebelum deadline? Cukup bagus, tapi aku akan memberikan penilaian finalku setelah aku melihat isinya. Aku rasa cukup untuk hari ini, kau boleh berkemas." Ia mematikan komputernya dan mengemasi hasil pekerjaan Tenten.
"Baik, Pak. Terima kasih." Tenten menganggukkan kepala sebelum berbalik ke arah mejanya.
"Oh ya, mengenai tugas sekretaris, kau tidak perlu mengatur jadwalku. Aku bisa menghandle-nya sendiri. Cukup fokus pada apa yang ku tugaskan padamu." Kata atasan muda itu tiba – tiba, membuat sekretarisnya itu otomatis berbalik. "Dan, berhentilah bersikap terlalu formal seperti itu. Kau membuatku merasa jauh lebih tua."
Kalimat terakhir membuat Tenten tersenyum, ia menganggukkan kepalanya sekali. "Baik, Pak. Saya mengerti." Kemudian bergegas merapikan meja dan membereskan barang – barangnya.
"Bagaimana bahumu?" Tanyanya saat Tenten sekali lagi mengecek sambungan listrik. Ia tidak mau sesuatu terjadi karena kecerobohan kecil.
Tenten terkesiap, bos mudanya itu berada lebih dekat dari dugaannya, "ah, itu, bukan masalah. Lagipula memar itu tertutupi baju." Ia bergerak keluar, mengikuti lelaki berambut panjang di depannya.
"Ini bukan soal cedera itu terlihat atau tidak, jika kau ingin terus bekerja sebagai sekretarisku, aku ingin kau benar – benar dalam kondisi yang fit." Ia mengunci pintu ruangan itu, membuat Tenten kebingungan. Biasanya, para karyawan menyerahkan tugas untuk mengunci pada petugas keamanan. Lagipula, apa yang perlu dikhawatirkan? "Tenten? Kau mendengarku 'kan?" Tanyanya.
"I-iya, Pak. Maaf, saya akan memastikan cedera ini tidak mengganggu kinerja saya." Jawabnya cepat.
"Itu yang kuharapkan, dan semoga kau bisa membuktikan kata – katamu. Sampai besok." Pemuda keturunan Hyuuga itu meninggalkan Tenten yang kepalanya masih dipenuhi dengan tanda tanya.
Tenten memandangi punggung tegap lelaki itu sampai satu deringan mengagetkannya.
Dari: Y. Ino
Ten, maaf ya. Kami diminta lembur, aku tidak bisa sama - sama. Oh ya, gosipnya, ada yang melihat Hyuuga Neji di kantor. Apa kau sudah tahu?
Mengirim satu balasan, yang mengatakan ia akan menelepon Ino, ia menarik napas panjang sebelum benar – benar pulang.
Semalam Ino benar – benar kehilangan kontrol saat mengetahui kalau Tenten menjadi sekretaris dari Hyuuga Neji. Ia mulai mengira – ngira sejumlah skenario yang membuatnya terdengar seperti ketua klub drama di SMA.
"Ten, mulai sekarang hentikan kebiasaan mencepol rambutmu saat terburu – buru! Bosmu itu seorang Hyuuga Neji, Hyuuga Neji, Ten. Sekarang dia berada di puncak daftar pemuda lajang yang paling diminati. Oh ya Ten, apa dia keras padamu? Kau tahu, dia itu perfeksionis yang sangat disiplin. Dia tidak membuatmu kesulitan 'kan? Kan?"
Tenten tertawa kecil mengingat kalimat – kalimat Ino.
"Kau tampak bahagia hari ini, Tenten." Suara bariton itu membuatnya mematung. "Aku harap kau tetap seperti itu setelah melihat pekerjaanmu hari ini."
Tenten berbalik, Hyuuga Neji berdiri di belakangnya, "P-Pagi, Pak." Efek kagetnya masih belum hilang.
"Ku kira seorang sekretaris selalu menyapa atasannya dengan senyum dan postur sempurna." Ia memandang lurus ke depan, melewati sekretarisnya yang masih mengikuti gerak – geriknya dengan mata beriris cokelat.
"Maaf, Pak. Saya berjanji itu tidak akan terjadi lagi." Ujarnya gelagapan, ia membungkukkan badan sebelum mempercepat langkahnya, menyusul Neji yang berjalan di depannya.
Saat ruangan terbuka, Tenten harus mengedipkan matanya berkali – kali. Saat ia pulang kemarin, ia memastikan mejanya rapi.
"Oh itu," Bosnya membuka suara. "Itu tugasmu hari ini. Dari sejumlah dokumen yang kau susun kemarin, ada beberapa bagian yang menjadi perhatianku. Periksa sekali lagi, cari dan rangkum semua rincian yang berhubungan dengan bagian yang kutandai." Saat ia mengatakan itu, Tenten mulai memeriksa bagian – bagian yang ditandai dan membuat catatan. "Batasnya hingga jam makan siang," tambahnya lagi.
"Akan saya kerjakan, Pak." Memisahkan dokumen antara yang ditandai dan tidak, dahi Tenten berkerut saat melihat beberapa lembar. Dilihat sepintas tidak ada yang aneh dengan apa yang ada di kertas – kertas itu, namun disana ada beberapa aliran dana yang tidak wajar.
"Aaa, kau cepat tanggap juga." Ia berdiri dari kursinya, menghampiri Tenten yang jelas sedang mengamati kertas yang dipegangnya. Rupanya dari tadi ia mengawasi gadis berambut cokelat itu
Membandingkan satu kertas dengan yang lain, ia memicingkan matanya, "Biasanya saya tidak berurusan dengan hal seperti ini, jadi saat pertama kali memegangnya saya tidak menemukan keanehan." Ia menoleh ke arah atasannya. "Tapi kertas – kertas ini, mereka diberi judul yang berbeda tapi pada dasarnya, ini cuma hasil duplikasi dengan nota pembayaran yang berbeda." Simpul Tenten.
Satu anggukan mengkonfirmasi hasil pengamatan gadis itu. "Kau benar. Jika orang – orang hanya melihat dokumen – dokumen itu sepintas, mereka tidak akan menemukan kejanggalannya." Ia nampak berpikir keras. "Hm, kalau tingkat ketelitian mereka seperti itu, pantas saja tidak ada seorang pun dari perusahaan ini yang menyadarinya." Ia menyadari perhatian lawan bicaranya sepenuhnya ada padanya. Satu seringai misterius muncul di wajahnya "Untuk itulah konsultan sepertiku dibutuhkan. Untuk mengatasi kelemahan suatu perusahaan dan menonjolkan potensinya." Ujarnya percaya diri.
"Terdengar menarik," komentar Tenten, ia merasa akan bisa belajar banyak hal.
Dengan satu alis terangkat, Neji memandang ke arahnya, "Tapi kau tidak boleh benar – benar tertarik."
"Tidak akan!" Tenten membalas spontan.
"Apa? Kau tidak akan tertarik?" Ada nada yang seolah menantang disana, sementara Tenten berpikir keras, apa yang dimaksud oleh lelaki berambut indah –Tenten mengakui itu- ini. Ketertarikan terhadap pekerjaan atau terhadap dirinya. "Haah, sayang sekali. Pekerjaan tidak akan seru jika seperti itu." Ia menambahkan dengan nada kecewa yang dibuat – buat. Melihat kerutan di dahi Tenten yang makin jelas, ia tertawa kecil. "Lupakan! Kembalilah bekerja." Caranya bicara terdengar jauh lebih santai dan bersahabat kali ini.
Sambil kembali menekuni kertas – kertas di mejanya, Tenten diam – diam tersenyum. Mungkin menjadi sekretaris seorang Hyuuga Neji tidak begitu buruk.
AN: Hai hai hai. Saya balik lagi. Makasih banyak untuk yang sudah baca, review, sama subscribe. Okay, kali ini saya update-nya agak cepat, karena saya sadar cliffhanger di chapter dua kemarin itu parah, hancur. Semoga suka ya dengan chapter ini.
Kay.
