Office Temptation

Chapter 4

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : Sangat mungkin OOC, typo, bahasa tidak baku dan kesalahan – kesalahan pemula lainnya.


Suara kertas yang dibalik itu seakan terdengar lebih keras di telinga Tenten, ditambah lagi suasana sunyi di dalam ruangan itu. Di depannya, atasannya sedang membaca laporan yang ia selesaikan. Ini bukan yang pertama kali hasil pekerjaannya dievaluasi, tapi sejak menjadi bawahan konsultan muda itu, tugas kecil pun bisa makan waktu lama. Sejak pagi ia sudah ditugaskan untuk meminta data mengenai produk terbaru mereka dari tiap – tiap divisi, kemudian menghimpun semuanya dalam bentuk laporan.

"Hn," Lelaki bermata lavender itu akhirnya mengeluarkan suara. "Kerja yang bagus, laporanmu juga mudah dibaca."

"Te-terima kasih." Balas Tenten, gugup. Dia tidak salah dengar 'kan? Selama bekerja dengan lelaki itu, tidak pernah melontarkan kalimat seperti itu. 'Tidak buruk' seakan – akan menjadi label di semua hasil pekerjaan Tenten sebelumnya.

Menutup dokumen itu, ia menyandarkan sikunya dan mencondongkan badannya ke depan, hingga wajahnya hanya beberapa senti saja dari wajah sekretarisnya itu. "Meskipun begitu, dokumen yang kau susun itu, ada beberapa bagian yang menarik." Ada senyuman yang susah diartikan di wajah tampannya. "Sayangnya, itu belum cukup untuk membuktikan kalau kau benar – benar bukan seorang mata - mata." Ekspresinya berubah, matanya tajam seolah – olah menantang Tenten.

Melihat air muka Neji yang berubah, Tenten merasa seolah – olah suhu dalam ruangan menjadi semakin dingin. Anehnya, wajahnya terasa makin hangat dan meskipun ia tersinggung dengan kalimat lelaki berambut panjang itu barusan, ia seperti tidak bisa menemukan suaranya.

"Heeeh? Ada apa? Sesuatu mengikat lidahmu?" Neji mengejek sekretarisnya yang hanya memandangnya dengan mata melotot. Meskipun ia tidak mau mengakuinya, ia sangat suka melihat ekspresi yang ditunjukkan perempuan itu.

Tenten berupaya menambah jarak di antara mereka. Sial! Sepertinya atasannya ini sangat suka mengejutkan orang. Dan lagi, mata - mata? Ia menatap bossnya dengan penuh kecurigaan.

Menyadari tatapan Tenten, lelaki yang menyandang nama Hyuuga itu terkekeh dan kembali duduk bersandar di kursinya. "Tak perlu memandangku seperti itu. Maksudku, itu wajar 'kan jika aku berpikir seseorang mengendalikanmu." Ujarnya santai, kemudian berdiri dan mengambil jasnya. Ia melangkahkan kakinya ke pintu, meninggalkan Tenten yang masih tertegun tak mengerti. "Oh ya, berkemas dan bereskan mejamu. Kutunggu kau di mobil, sekarang."

Bentuk mata beriris cokelat itu seperti membulat sempurna, belum sempat ia mengatakan sesuatu, punggung lebar lelaki itu sudah semakin menjauh. Boss yang aneh. Dan tak lama kemudian, ponselnya berdering, satu pesan masuk. 'Periksa kembali dan kunci ruangan dengan baik.'


Tenten memijat pelipisnya, merutuki dirinya yang dengan patuh mengikuti lelaki yang pernah menolongnya itu. 'Terlambat untuk berkata tidak,' batinnya, sekarang ia dan Neji sedang berada di dalam lift, yang ia sendiri tidak tahu menuju kemana. Yang gadis itu tahu, mobil Neji berhenti di sebuah hotel berbintang, yang bertarif lebih dari setengah gajinya. Dan bukannya tidak bertanya, sepanjang jalan ia sudah dua kali menanyakan tujuan mereka, dan selalu dijawab dengan gumaman singkat tak jelas.

Tenten melirik lelaki yang berdiri dengan cuek disampingnya. Sangat jauh berbeda dengan sikapnya saat pertemuan pertama mereka. Membuat Tenten bertanya – tanya, seperti apa karakter asli laki – laki ini.

"Jangan terlalu lama memandangiku seperti itu. Matamu bisa juling." Lirikan Tenten beradu pandang dengan tatapan tajam mata beriris lavender.

Deg! Jantung Tenten seolah berpacu lebih kencang, ketahuan. "E-eh? Y-ya? M-Maaf." Gelagapan dengan sukses. Ada apa dengan lelaki ini dan komentar tidak terduganya?

Ketika pintu lift terbuka, Tenten tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, deretan meja yang ditata cantik dan berkesan mewah, hingga dinding kaca yang mempertontonkan suasana kota di saat petang.

"Hey, jangan lupakan langkahmu. Mematung seperti anak kecil." Suara baritone itu menyeretnya keluar dari zona takjubnya.

Dengan cepat gadis itu mendongak tapi segera menunduk, jarak wajah mereka terlalu dekat. Ia mendengar seorang pramusaji menyambut mereka, tapi ia tidak dapat memfokuskan perhatiannya karena tiba – tiba ada lengan yang melingkari pinggangnya.

"Terima kasih." Dari suara lelaki itu, Tenten tahu ia menyunggingkan senyum palsu yang terlalu sering dilihatnya belakangan ini. "Ayo!" Nada suaranya menjadi lebih lembut, ia memberi tekanan pada lengan yang berada di pinggang Tenten, membuat gadis itu melangkahkan kakinya.

"Maaf, Pak." Kata itu meluncur dari bibir pink Tenten setelah mereka duduk, berusaha untuk menepis perasaan gugupnya.

"Tak apa. Raut mukamu tadi cukup menghiburku." Jawabnya sambil menerima daftar menu, ada seringai jahil yang terlihat jelas di wajahnya. "Oh ya, tolong jangan panggil aku 'Pak' atau 'Bapak' di luar kantor." Tambahnya, saat melihat Tenten hanya melihat daftar menu tanpa berkedip. "Silahkan pesan apa yang kau mau, tidak usah pedulikan soal harga. Ini hadiah dariku karena kau mampu bekerja denganku lebih dari lima hari." Hn, kau perempuan pertama yang sanggup tanpa mengeluh atau menangis. Melihat gerakan mulut Tenten, ia dengan cepat melanjutkan, "aku tidak ingin mendengar bantahan atau pertanyaan."

Apanya yang menghibur? Dan juga, sampai kapan Tenten harus sepatuh ini? Mungkin ada yang salah dengan kepala laki – laki ini. Tapi ia tidak mungkin mengatakan itu pada orang yang kedudukannya lebih tinggi. "Baik, Pa-, Hyuuga-san." Sekilas Tenten mengira ia melihat senyum puas di wajah Neji.

"Dengar, selama seminggu ini, aku tahu ada yang ingin kau tanyakan." Raut wajahnya kembali serius. "Apa itu? Kalau kau bisa, aku akan menjawabnya."

Tenten menatapnya tidak percaya, "benarkah? Bukannya baru saja saya dilarang bertanya."

"Kau ini, berani melawan. Tadi itu aku melarangmu bertanya soal kenapa kita disini. Yang kumaksud sekarang menyangkut pekerjaan, sedikit tidak adil rasanya kalau aku terus memintamu bekerja, sementara ada hal yang tidak kau mengerti."

'Kenapa tidak dari dulu, Pak.' Batinnya gemas, sudah membuat Tenten penasaran setengah mati, sekarang dia malah bicara seperti itu dengan santainya. Banyak yang ingin ditanyakan Tenten. Pertama, untuk apa divisi tempatnya saat ini dibentuk? Kedua, kenapa harus merekrut orang luar sementara di dalam perusahaan itu ada banyak yang mampu jika hanya untuk meluncurkan produk baru? Ketiga, apa ia sudah melewati 'masa percobaan'-nya? Keempat, kenapa dia selalu dicurigai sebagai mata – mata? Dan sederet lainnya, tapi, "Kenapa anda selalu curiga dan mengira saya mata - mata?" Akhirnya ia berbicara juga. Tidak enak dicurigai terus - menerus.

Alis terangkat, tatapan mata yang menunjukkan penuh minat, dan seringai kecil menghiasi wajah tampan Hyuuga Neji. "Nada bicaramu, kita bukan di pengadilan, Ten." Jelas sekali ia menikmati ini. "Kalau ku bilang ada yang tidak suka dengan K-Fashion, kau percaya?"

Ia terdiam sejenak, kemudian mengangguk. Dia tahu K-Fashion punya beberapa saingan, tapi untuk bertindak jauh seperti menggunakan mata – mata, seperti di film – film saja.

"Mungkin terdengar berlebihan, tapi bukankah dokumen yang kau temukan minggu lagi bisa dikatakan sebagai bukti. Tidak cukup kuat, tapi itu jelas menunjukkan ada yang bermain – main dengan anggaran." Lelaki itu menyebutkan soal dokumen yang digandakan dan dibuatkan kuitansi berbeda. Saat itu, pelayan sudah datang dengan pesanan mereka. "Jangan terlalu dipikirkan, mungkin kau benar – benar bukan mata – mata." Mata Tenten melotot, "hey, makanan sudah dihidangkan, jangan memasang wajah begitu."

Disaat yang tidak terduga, si rambut panjang itu pasti melontarkan kalimat bernada godaan. Tapi saat melihat makanan yang tersaji, senyum Tenten otomatis mengembang, terlihat lezat dan disajikan dengan apik. "Terima kasih," ujarnya masih sambil tersenyum sebelum memulai makan. Andai saja ia menaruh perhatian kepada atasannya, ia akan melihat lelaki itu terdiam untuk beberapa detik.


Senyum Tenten merekah saat melihat pemandangan kota di malam hari dari jendela mobil hitam yang melaju kencang itu. Setelah makan, Neji mengantarkannya pulang.

"Kau bahagia sekali." Satu kalimat singkat yang membuatnya menoleh ke arah kursi pengemudi. Apakah ini dipengaruhi makanan yang lezat tadi dan cahaya lampu yang berkelip tapi lelaki berambut cokelat gelap itu terlihat gagah, dengan postur tegap dan pandangan yang fokus ke jalan di depannya.

Senyuman Tenten muncul lagi, membuat sepasang mata cokelatnya menghilang membentuk garis. "Umm, makanan dan pemandangannya indah sekali." Jawabnya riang, "sekali lagi terima kasih."

"Hn, tidak perlu berterima kasih. Cukup bekerja dengan baik untukku." Ia menoleh sejenak ke wajah gadis itu, lucu. "Ah, apa jangan – jangan itu pertama kalinya ada yang membawamu ke tempat seperti itu?" Ia memutuskan untuk menggodanya. Beberapa jam yang lalu, Tenten seperti selalu bicara dengan nada datar dan sekarang, dari jawabannya, Neji tahu gadis itu mulai merasa lebih santai.

Mendengar itu, ia bersandar lebih dalam ke kursinya dan menatap langit – langit mobil. "Bukannya itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan." Katanya lebih kepada diri sendiri, tapi masih terdengar oleh bossnya itu.

"Memang tidak ada." Tak sedikit pun ia mengalihkan matanya dari jalanan. "Tapi aku tertarik dan ingin tahu tentangmu, jadi aku bertanya."

"Apa?" Neji berhenti di lampu merah, tertawa kecil melihat ekspresi terkejut Tenten. Wajah manisnya terlihat seperti anak kecil yang lugu seperti itu. Tertarik? Tidak salah? "Tapi boss, bukannya kau tertarik pada sebagian besar perempuan?" Tenten memberanikan diri, ia tahu ini sedikit melewati batas tapi pertanyaan itu meluncur lebih cepat daripada otaknya.

"Mungkin." Lampu sudah berubah hijau, "tapi aku tidak sedang menjalin hubungan ataupun menikah." Ia mengerling cepat, mengetahui sepasang iris cokelat itu masih tertuju padanya. "Tidak ada yang salah 'kan?"

Jawaban yang mengindikasikan kalau dia mudah tertarik pada perempuan membuat Tenten sedikit kecewa. Tunggu, kecewa? Ia tidak cemburu 'kan? Tenten terlalu sibuk memikirkan perasaan tidak biasa yang ia rasa, hingga tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di apartemennya.

"Tenten? Kau kenapa? Kau kebanyakan makan?" Wajah tampan itu sudah di depan Tenten untuk kedua kalinya hari itu.

"Waaa…" Ia refleks menarik mundur kepalanya dan membuka pintu. "Terima kasih untuk hari ini, Hyuuga-san." Ia sedikit membungkuk.

"Kau membuatku terlihat jelek. Melarikan diri seperti itu, aku tidak akan memakanmu." Ujar Hyuuga itu ketus melalui jendela yang terbuka. "Masuklah, dan istirahat. Besok beban kerjamu 200% dari yang kuberikan hari ini. Selamat malam." Kaca itu menutup dan mobil silver itu melaju.

Tenten masih berdiri di depan apartemennya, dan tiba – tiba ia mengingat sesuatu. Darimana atasannya itu tahu tempat tinggalnya?


Terima Kasih sudah baca. Maaf kalau struktur kalimatnya 'aneh' dan tidak sesuai EYD.

Untuk yang review, follow, sama fave di chapter sebelumnya juga makasih (Maaf belum sempat balas satu – satu). Moga masih mau baca ini yaaaa…