Office Temptation
Chapter 4
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : Alur lambat, OOC, typo, bahasa tidak baku dan kesalahan – kesalahan pemula lainnya.
"Pagi, Ten." Suara nyaring yang diikuti dengan dekapan di leher jenjang Tenten itu membuat kunci yang dipegangnya terjatuh.
Ino? Tenten mendesah, "Pagi juga, Ino." Balasnya dengan kepala yang sedikit menoleh untuk menangkap rona wajah gadis yang masih menempel di belakangnya itu. "Aku tahu kau cinta padaku, tapi biarkan aku mengunci apartemenku," ujarnya sembari tertawa kecil, ia merasakan Ino melepaskan dekapannya.
"Rasanya aneh, ya." Ino memulai, Tenten yang sudah mengunci apartemennya sekarang berdiri tepat di depannya. "Aku butuh mengomel, Ten. Dan bicara padamu lewat telepon itu tidak sama." Rengek Ino dramatis, membuat Tenten terperanjat. Serahkan pada Ino untuk membuat kehebohan di pagi hari. Entah karena Ino bisa berakting dengan baik, atau karena dia memang serius dengan ucapannya, ekspresi Ino membuat Tenten mengingat percakapan mereka.
"Ne Ino, kau tetap bercerita tentang ini dan itu tapi kau tahu 'kan kalau aku tidak mengerti hal-hal seperti itu? Bukannya aku tidak senang kau bercerita padaku, hanya saja aku merasa buruk, tidak bisa memberikan petunjuk padamu."
"Kau ini benar – benar tidak suka basa-basi. Mungkin menurutmu kau tidak bisa memberi petunjuk, tapi aku tahu kau pasti mendengarkanku."
Sejak saat itu, ia paham Ino hanya butuh didengarkan. "Maaf," Tenten tersenyum lemah dan menggandeng lengan Ino, mereka bisa terlambat kalau harus berdiri disana lebih lama lagi. "Jadi, apa yang ingin kau omelkan pagi ini, hm?" Tanya Tenten, meski dia sendiri tidak yakin kalau Ino akan bercerita, mereka sedang di tempat umum.
Tenten merasakan ada beban bertambah di bahunya, Ino yang bersandar menyembunyikan wajahnya. "Pekerjaan, desain, detail, bahan, Sai, aaaaah, aku tidak tahu lagi." Ia menjaga agar suaranya tidak meninggi dan menarik perhatian. "Setiap hari seperti selalu saja ada yang salah." Ini pertama kalinya Ino terdengar tak bersemangat seperti ini. "Aku bilang aku ingin mengomel, tapi memikirkannya saja aku lelah."
Ini memang waktu yang sulit bagi para karyawan K-Fashion, terutama untuk tim desain, karena saat produk-produk itu keluar, kinerja mereka-lah yang paling pertama disoroti. "Ino, hey. Bagaimana kalau kau berbicara lagi dengan Pak Sai? Atau, kau bisa berdiskusi dengan Pak Hyuuga? Siapa tahu sebelumnya dia pernah bekerja untuk produsen lain." Tenten memberi saran, jika ia berada di posisi Ino, ia hanya akan mencoba semua yang mungkin bisa dilakukan.
Sepasang bola aquamarine berputar mendengar saran terakhir Tenten. Dengan Hyuuga itu? "Berdiskusi dengannya dan aku akan berakhir sepertimu, aku mungkin suka dengan desain, Ten. Tapi untuk mengikuti jam kerja divisi kalian itu, thanks but I'll pass."
"Ayolah, dia hanya bekerja untuk perusahaan. Dan lagipula, dia tidak seburuk itu. Mungkin saja dia punya solusinya."
Kalimat Tenten yang seolah-olah membela atasannya itu memancing sorot mata curiga dari Ino, "Ten, jangan bilang kau suka padanya. Memang sih, dia menarik, sukses, tapi nanti kau bisa sakit hati." Nada cemas jelas tersirat di suara Ino.
Tenten hanya menatap balik Ino, dia benar. Eh tapi, dia tidak suka pada lelaki Hyuuga itu, ia hanya 'ingin tahu' karena sikapnya yang misterius. Mereka hampir sampai di halte bis ketika sebuah mobil silver berhenti di dekat mereka, membuat Tenten terlonjak, ia tahu itu mobil siapa.
Kaca jendela depan mobil itu terbuka, sepasang mata lavender yang sejak awal membuat Tenten penasaran menatap keduanya. "Se-selamat pagi, Pak." Tenten menyapa, gelagapan sementara Ino masih mematung, The Real Hyuuga Neji? Si perfeksionis workaholic yang baru saja mereka bicarakan.
"Pagi, Tenten, Yamanaka-san." Senyuman muncuk di wajah putih itu. Ino mendecit, Hyuuga Neji tahu siapa dirinya. Pintu mobil terbuka, "ayo masuk," ajak lelaki itu, senyuman itu masih disana
'Cih, senyum palsu!' Batin Tenten, namun membalas senyuman sang atasan. Jujur, ini sedikit menakutkan untuknya. Pertama, Hyuuga Neji tahu alamatnya. Kedua, dia sampai repot menjemputnya, sekretaris yang jelas-jelas menurut struktur organisasi perusahaan berkedudukan lebih rendah. Apa dia sebegitu curiganya dan masih menganggap Tenten mata-mata? Tenten buru-buru menangkis pikiran jeleknya itu, mungkin saja dia tidak sengaja melewati jalan ini.
Melihat kedua gadis itu tidak bergerak dari posisi mereka, ia menatap dengan satu alis terangkat ke arah Tenten, yang kalau diterjemahkan berbunyi, "Naik, atau kau akan tahu akibatnya."
Tenten bergidik, ia tahu arti tatapan itu, "ayo, Ino. Pak Hyuuga sudah menunggu." Tenten mengiring Ino ke kursi belakang, sebelum duduk di kursi depan. "Maaf merepotkan, Pak." Ujarnya sambil memasang sabuk pengaman, ia tidak melihat senyum kemenangan yang terukir di wajah Neji.
"Tak apa, lagipula semakin cepat kalian sampai di kantor, pekerjaan kalian akan cepat selesai." Balas Neji, senyum mengejek ia lemparkan pada Tenten, membuat sekretarisnya itu melotot sebal. "Bukan begitu, Yamanaka-san?" Ia melihat Ino dari kaca spion.
"I-iya, Pak." Ino gugup sendiri, jika saat pertama kali bertemu Sai –yang jelas merupakan salah satu desainer favoritnya-, ia merasa bersemangat. Taat ini ia merasa terintimidasi. Ia tahu keluarga Hyuuga memang dikenal punya pengaruh besar, tapi saat bertemu langsung dengan satu anggotanya, ia merasa tekanan luar biasa yang muncul entah darimana.
Saat mobil mewah konsultan muda itu memasuki area K-Fashion, Tenten menghembuskan nafas lega. Ia bersyukur selama perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka. Sekali lagi Hyuuga Neji mengejutkannya, dan Tenten tidak mau daya imajinasi super milik Ino bekerja.
"Terima kasih tumpangannya." Kata Ino, ia sedikit menunduk, "maaf saya merepotkan." Yang dibalas anggukan oleh Neji. "Ten, sampai nanti." Sambungnya dan bergegas turun dari mobil. Terlihat ia segera menghampiri Sai yang saat itu juga baru tiba.
Di dalam mobil tinggal mereka berdua, ingin sekali Tenten menanyakan darimana dia tahu alamatnya, tapi lidahnya tidak bisa. "Ah iya, terima kasih, Pak." Tenten berkata dengan canggung, namun belum sempat ia keluar, Neji menarik lengannya, menahannya, membuat detak jantung Tenten melonjak. "Ada apa, Pak?" Tanyanya mencoba bersikap tenang.
Lelaki itu menyodorkan sebuah buku untuk Tenten. "Kutarik kata-kataku. Mulai sekarang, kau juga harus membantu mengurusi agendaku."
"Baik, Pak. Akan saya lakukan."
"Bagus! Sekarang, kau harus membantuku menyusun bahan untuk rapat antar divisi besok."
Mereka menyusuri koridor sambil membuat daftar mengenai apa saja yang akan mereka utarakan di rapat besok. Saat Neji membuka ruangan, pemandangan yang mereka dapati sanggup membuat air muka seorang Hyuuga Neji berubah. Ruangan yang mereka tinggalkan dalam keadaan rapi, sekarang terdapat lembaran-lembaran kertas disana-sini. Berkas yang tersusun rapi di atas meja mereka kini berserakan.
"Ada apa ini?" Bola mata Tenten bergerak cepat, beberapa folder bahkan tidak pada tempatnya. Ia merasa telapak tangannya berubah dingin. Tidak ada yang bisa masuk ke gedung perusahaan tanpa ID Card, itu berarti asumsi Neji akan adanya mata-mata pihak yang tidak suka dengan K-Fashion.
Senyum sinis muncul di wajah Neji, "huh, mereka benar – benar mengacaukan tempat ini. Dugaanku benar, ada yang masuk ke perusahaan ini."
"Aku akan melaporkan ini ke bagian umum dan meminta petugas keamanan." Baru saja Tenten hendak melangkah, sekali lagi Neji menghentikannya.
"Tidak perlu, kemungkinan besar dia tidak menemukan apa yang dia cari. Kalau dia ingin menghilangkan jejak, dia pasti menggunakan shredder." Neji menunjuk shredder yang kosong.
"….. Itu mungkin benar. Tapi ini tidak wajar." Divisi tempatnya sekarang memang dibuat untuk sementara waktu, dan meskipun berlabel 'Perencanaan', tugas mereka tidak se-vital bagian keuangan ataupun desain.
"Wajar atau tidaknya, sebaiknya kau mulai bekerja." Neji melepas jas dan menggulung lengan bajunya, ia mulai menyortir dan menyusun berkas di atas mejanya.
Tengten hanya merespon dengan mengangguk cepat kemudian merapikan folder yang tercabut dari lemari arsip.
Neji menyeruput kopinya. Proses merapikan ruangan mereka makan waktu lebih lama dari yang ia perkirakan. Untung saja ia selalu membawa dokumen penting dengannya, sehingga tak ada satu pun hasil catatannya yang dicuri. "Tenten, apa kau bisa meminta rekaman CCTV untuk dua puluh empat jam terakhir?"
Tenten yang sedang mengetik materi rapat menggelengkan kepalanya. "Bisa saja, tapi kalau anda bermaksud untuk mencari petunjuk, rekaman CCTV tidak akan membantu. Ruangan ini berada di bagian paling kiri gedung dan baru disiapkan sebelum anda bergabung. Setelah belokan dari arah pantry, tidak ada kamera CCTV yang terpasang."
"Apa semua karyawan tahu soal penempatan CCTV itu? Dan hey, ada apa dengan pelafalan super resmi-mu itu?"
Mengabaikan protes atasannya yang sungguh di luar karakter itu, sekali lagi Tenten menggeleng, "aku hanya tahu soal itu setelah mengamati. Ketika kutanya ke Yugao-san, ia mengkonfirmasi hal itu."
"Yugao, eh?" Neji nampak berpikir.
"Pak, jangan bilang sekarang kau mencurigai Yugao-san."
Neji mengangkat bahunya, "semua kemungkinan itu ada, Tenten. Apa kau sudah selesai?"
"Sedikit lagi, tinggal merapikan dan mencetak." Kali ini ia menjawab tanpa melihat ke arah bossnya.
Neji mengangguk, kali ini ada cengiran jahil yang terlihat out-of-place di wajahnya, "bagus sekali, karena aku ingin kau ikut denganku lagi malam ini."
Setelah semalam Neji membawanya ke restoran di salah satu hotel berbintang, kali ini lelaki itu membawanya ke restoran dengan ruangan khusus. Tenten hanya mengikutinya dengan patuh, mungkin disini mereka bisa bicara tanpa ada yang mendengar.
"Kenapa kau diam seperti itu? Jangan bilang ini juga kali pertama seseorang mengajakmu ke tempat seperti ini." Neji menyadari gadis berambut cokelat itu hanya bersuara saat memesan makanan.
Tenten yang menunduk, menggelengkan kepalanya. Terlihat kalau ada yang sedang ia pikirkan. "Pak, eh, Hyuuga-san, bukannya orang itu bisa dengan mudah membawa dokumen yang dia curi keluar ruangan, tanpa harus memakai shredder?"
"Kemungkinan itu ada, tapi kau ingat, pantry ada di depan koridor yang menuju ruangan kita. Para OB dan Cleaning Service selalu pulang paling akhir, bukannya itu akan memancing perhatian mereka?" Tukas Neji. "Lagipula, dia tidak mengambil apapun dari mejaku." Saat itu pintu terbuka dan pelayan masuk dengan pesanan mereka. Setelah pelayan itu meninggalkan mereka berdua dan menutup pintu, "dan aku juga sudah memastikan, mereka tidak menyadap kantor kita." Sambung Neji. "Kau sudah lebih dari seminggu bekerja denganku, jangan bilang kau belum terbiasa dengan semua ini." Ujarnya saat melihat tampang terkejut Tenten.
Tenten hanya terdiam, dia benar-benar susah menyesuaikan diri dengan tingkah polah lelaki itu.
"Ten, kemungkinan besar mereka ingin mencuri informasi." Jelas Neji, melihat Tenten yang mengangguk, ia menambahkan, "dan cara yang paling efektif untuk mendapatkan informasi adalah dengan melakukan penyadapan." Sepasang mata beriris lavender itu menerawang, seolah mencari sesuatu yang tidak ada disana. "Setidaknya, jika aku menjadi mata-mata, itu yang akan kulakukan."
Tenten mengunyah makanannya sambil merenungkan apa yang dikatakan Neji. Informasi? Ia jadi teringat sesuatu. "Sepertinya kau pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya," Tenten menduga-duga.
Neji menatapnya seakan Tenten memiliki dua kepala. "Jangan konyol. Untuk apa seorang konsultan melakukan hal seperti itu."
Tenten mengangkat bahunya, "itu benar juga. Konsultan biasa tidak mungkin melakukan hal seperti itu." Tiba-tiba ia meletakkan sumpitnya, membuat teman bicaranya tak bergerak sejenak. "Aku tidak suka," Tenten menggeleng, bola mata cokelatnya yang seperti kosong, "aku tidak suka dengan fakta kalau salah satu orang di dalam perusahaan itu adalah kaki tangan perusahaan yang ingin menghancurkan K-Fashion." Ia seperti menolak percaya dengan bukti yang sudah dilihatnya sendiri.
Selain kinerjanya yang bagus, sifatnya yang terlalu polos, riang meskipun kaku, dan transparan membuat Neji senang berada di dekat perempuan itu. Tapi melihat tatapan kosong itu, ia merasa ada sayatan kecil yang ia tidak mengerti di jantungnya. "Aku akan membereskan masalah ini, aku janji." Seperti ada yang mendesaknya untuk menggenggam tangan Tenten. "Habiskan makananmu, setelah ini kita akan kembali ke kantor dan sebaiknya kau bersiap untuk tugasmu yang berikutnya." Ia meremas lembut tangan yang lebih kecil itu sekali sebelum melanjutkan makan.
Mengangguk kemudian memejamkan matanya, gadis itu menarik napas dalam-dalam. Harus tenang, divisi lain sudah diliputi kepanikan, divisi mereka tidak boleh bernasib sama. Membuka matanya, ia tersenyum dan mengangkat kembali sumpitnya. "Ini benar-benar seperti plot film."
"Apa?"
"Ya, masalah dengan orang yang menjadi mata-mata, ditambah lagi adanya penyadap suara."
Neji mengangguk kecil, gadis di depannya ini ternyata bisa memikirkan hal tidak terduga dalam situasi yang bisa dibilang membahayakan ini. Dan Neji bersyukur untuk itu, ia bisa melupakan beban di kepalanya sejenak. "Kalau ini film, maka aku adalah pemeran utama, dan kau pemeran utama wanitanya." Ia memutuskan untuk mengikuti jalan pikiran Tenten yang agak tidak biasa itu. "Menurutmu, ini akan jadi film ber-genre apa?"
"Entahlah, yang pasti aku berharap ini bukan tragedi." Senyum yang diberikan gadis itu, bukan senyum yang sering dilihat Neji. Kaku.
Melihat perubahan sikap Tenten, ia berusaha keras mencari topik lain, "kau sepertinya sangat mencintai pekerjaanmu. Kenapa?"
Tenten yang saat itu sudah selesai, meneguk air minumnya sebelum menjawab, "tidak tahu. Hanya saja, aku mendaftar karena ingin. Dan saat diterima, aku tahu aku harus melakukan yang terbaik yang aku bisa." Ia terlihat sangat bersemangat saat menjawab. "Hyuuga-san, sejak kapan kau menjadi konsultan?" Ia balik bertanya, sedikit aneh karena seingat Tenten, keluarga Hyuuga memiliki grup perusahaan sendiri.
"Sejak empat tahun yang lalu. Tapi aku baru memulai perusahaan jasa konsultanku sejak setahun yang lalu."
Tenten tidak percaya sekarang mereka malah berbicara dengan santainya layaknya kawan lama. "Apa semua perusahaan yang pernah kau tangani mengalami kasus yang sama dengan K-Fashion?"
Satu gelengan menjawab pertanyaan itu, "ini pertama kalinya aku mengambil kasus seperti ini." Seringai licik tiba-tiba menghiasi wajah tampan itu. "Heeh, kau sebegitu tertariknya, ya?" Jari telunjuknya dengan cepat mengangkat dagu Tenten. "Kalau kau berusaha cukup keras, aku akan memberi tahumu, dengan syarat kita hanya berdua saja." Wajah Tenten yang memerah hingga ke telinganya benar-benar pemandangan yang sangat ia sukai belakangan ini.
"Tidak, terima kasih." Tenten menepis tangan yang terulur ke dahinya dengan sehalus mungkin. Menggunakan rambut panjangnya untuk menyembunyikan wajahnya yang terasa panas, ia menggeleng lebih untuk dirinya sendiri. Tidak seharusnya ia bertanya. "Umm, sekarang aku kan sudah tahu, wajar'kan kalau aku khawatir soal mata-mata, penyelusup, pengintai, penyadap, atau entahlah apa namanya itu." Ia berbicara sangat cepat, seperti dalam satu tarikan napas dengan suara yang lebih tinggi dari biasanya. "Maaf." Ia menunduk, bossnya itu seperti memiliki kendali atas emosinya.
Menarik! Neji menonton perubahan ekspresi yang ditampilkan wajah manis sekretarisnya itu. "Kau tahu, hal-hal seperti itu sebelumnya tidak berlaku untukku."
"Hmm?" Kali ini rasa ingin tahunya menang, ia mengangkat kepalanya.
Kedua sudut bibirnya terangkat, sangat mudah mendapatkan perhatian perempuan ini. "Seringkali aku mendapatkan informasi yang bersifat sangat rahasia, dan dengan sebisa mungkin aku menjaga semuanya. Ini pertama kalinya seseorang berani menyentuh berkas-berkasku tanpa izin."
Informasi rahasia? Tenten menghubungkan itu dengan bagaimana Neji mengetahui tempat tinggalnya. Jangan-jangan, dia mencari informasi diam-diam tentangnya. Tidak, tidak, Neji mmang bilang kalau dia tertarik. Tapi, melihat sikapnya yang suka menggoda itu, ia pasti hanya menuji Tenten.
"Informasi rahasia, termasuk data pribadimu. Kau memikirkan itu'kan? Kau harus melatih 'topeng'-mu, aku masih bisa melihat apa yang ada dibaliknya." Kalimat itu diikuti dengan tawa sekarang.
Tidak ada gunanya meributkan hal ini, pikir Tenten. Meskipun itu termasuk pelanggaran privasi, lelaki di depannya ini terlalu pandai memainkan kata-kata yang akhirnya membuat Tenten menyerah. Dalam situasi seperti ini ia hanya bisa berharap launching segera dilaksanakan dan ia tidak harus berhadapan dengan Hyuuga Neji dan sifat tak terduganya.
"Sejauh ini kita hanya bisa menduga-duga apa tujuan mereka, sehingga untuk menetapkan langkah berikutnya, kita hanya bisa mengira-ngira." Suasana dan aura yang ditampilkan lelaki itu berubah drastis. "Tapi aku pasti bisa menghambat strategi yang mereka gunakan." Ia memandang lurus ke arah Tenten. "Awalnya aku ingin melakukan semuanya sendiri tapi Pak Presdir ikut campur dengan menugaskan seorang sekretaris untukku. Tapi setelah kupertimbangkan, akan lebih efisien jika aku memanfaatkanmu."
Tenten terkesiap, kalimat terakhir itu terdengar kasar.
"Lagipula," ia melanjutkan tapi berhenti sejenak. Ia mengalihkan pandangannya, "aaah, tidak. Itu bukan alasan yang tepat." Ia berbisik, tapi keadaan yang sunyi membuat lawan bicaranya mendengar jelas kalimat itu.
"Alasan?" Tanya Tenten curiga. Apa alasan lain itu.
"Kemari, mendekatlah." Ia memanggil Tenten yang dengan segera mengikuti instruksinya.
"Ada apa, Pak?" Tiba-tiba telapak tangan besar itu terulur dan menyisir helaian rambut cokelat itu dengan lembut dan berhenti di tengkuk Tenten. "Yah, kenapa tiba-tiba." Ia berusaha mengelak namun tangan di tengkuknya itu tak bergeming. Ia hendak membuka mulut ketika ia merasakan hembusan nafas Neji ditelinganya, membuatnya otomatis mematung. Terlalu dekat, hingga bau parfum lelaki itu memenuhi indera penciumannya.
"Dengarkan, sekarang jelas ada pengkhianat di perusahaan." Ia berbisik tepat di telinga Tenten, melihat gadis itu gelisah dalam 'cengkeraman'-nya seperti bonus untuknya. "Pak Presdir tidak hanya memintaku untuk meminimalisir anggaran, beliau juga memintaku untuk mencari tahu siapa yang sudah berkhianat sekaligus menghentikan kebocoran rahasia perusahaan. Tadinya kupikir itu kecurigaan tak berdasar dan berlebihan. Tapi melihat pembongkaran di ruangan kita, salah satu rencana mereka adalah menghambat peluncuran produk terbaru K-Fashion." Ia melihat dahi Tenten mengernyit, "Kenapa? Kau tidak percaya padaku?" Gelengan cepat menjawab pertanyaan itu. Ia makin memperkecil jarak di antara mereka, "Pak Presdir memilihmu, jadi sebenarnya aku tidak curiga padamu. Tapi aku harus memastikan kau benar-benar bisa dipercaya." Jemarinya mengusap lembut bagian belakang leher Tenten, ia memperhatikan bagaimana warna merah menjalar dengan cepat dikulit gadis itu. "Tugasmu adalah membantuku." Ia melepaskan genggamannya di leher Tenten dan sekali lagi mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Membetulkan posisi duduknya, Tenten menjabat tangan itu, erat.
"Jika kau menemukan sesuatu yang janggal, katakan padaku." Mereka seperti sedang membat sebuah perjanjian. "Kau punya penilaian yang bagus dan kau pernah bekerja sebagai asisten sekretaris untuk Pak Presdir 'kan?"
"Ya." Tenten menjawab singkat, otaknya terlalu sibuk memproses semua yang didengarnya hari ini sehingga tidak mampu menemukan hal lain untuk dikatakan.
"Berarti paling tidak kau sudah sedikit mengenal orang-orang di tiap-tiap divisi." Tenten terlihat berpikir kemudian mengangguk lambat. "Mulai sekarang, kau harus mengamati mereka. Dan seperti yang kukatakan tadi, laporkan yang menurutmu janggal. Aku akan melakukan pendekatan berdasarkan pengamatanmu."
Tenten mengangguk yakin. "Iya, Pak." Jika orang ini mau berbuat sejauh itu untuk perusahaan, maka dia juga akan berusaha sebaik mungkin. "Saya akan melakukan yang terbaik."
Senyuman yang ditunjukkan Neji terkesan arogan. "Haah, semangat yang bagus." Air mukanya berubah, mengingatkan Tenten saat Neji mengunci ruangan dan membekap mulutnya. Ekspresi yang menakutkan. "Kau benar-benar patuh, ya?" Seringai licik itu muncul lagi, dan sorot mata beriris lavender itu seperti mengoyak keberanian Tenten. "Dasar polos, kau benar-benar percaya dengan semua yang kukatakan?"
Apa maksud dari pertanyaan yang terdengar dengan intonasi meremehkan itu. "Y-ya." Tenten berusaha menjawab.
"Tenten-chan," suaranya terdengar tenang tapi membuat rasa dingin menjalari tubuh gadis itu. "Apa yang akan kau lakukan seandainya akulah orang jahat itu?" Tenten berharap ia melihat apapun asalkan bukan sepasang mata serupa amethyst itu.
Daaaan itulah chapter kelima dari Office Temptation. Saya merasa sukses membuat Neji jadi OOC dan bipolar (maaf!). Terima kasih untuk yang sempat buka dan baca fanfic ini. Makasih untuk semua review, subscribe sama fave-nya. Moga chapter ini memuaskan dan untuk typo, ke-OOC-an, dan rusaknya Tata Bahasa, saya minta maaf. ^^v
Dsalss: Pertamanya, terimakasih sudah review, fave, sama subs sekaligus. Fanfic ini pun dibaca dari awal saya sudah bersyukur sekali. Di chapter ini terjawab sudah kalau Neji itu, memang punya bakat jadi penguntit. Dan Tenten, dia masih mengira itu sebagai bentuk kekaguman. Maaf kalo feel-nya tidak sampai.
Shinji R: Tidak tahu ini apa ini karena review dari kamu, tapi di chapter ini jujur, saya kesulitan untuk berhenti dimana. Jadi, ini dia, chapter terpanjang (sejauh ini) untuk Office Temptation. Please enjoy.
Shikadaii: Terimakasih. Maaf ya kalau saya kelamaan update-nya.
Hana: Hehe, untuk Neji, Tenten itu menarik. Untuk saya Tenten juga menarik (plak!). ^^v Semoga suka ya dengan chapter ini.
Yoshikohamano: Kapan yaaaaa? Hehe, maaf kalo cerita ini alurnya terlalu lambat. Tapi hal yang kamu tanyakan itu pasti terjadi di FF ini.
Akira Ken: Ganbarimasu. :) Terimakasih masukannya, saya memang masih harus belajar untuk deskripsi.
Alexandra Pratiwi: I love Tenten too. *plak* Semoga suka ya dengan chapter ini. Terimakasih, ganbarimasu.
Ran Megumi: Terimakasih dan salam kenal :). Iya, kayaknya Tenten benar-benar diperlakukan sesuka Neji disini *dikejar pake Jidanda sama canon!Tenten*.
Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya.
