Office Temptation
Chapter 6
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto.
Warning : Alur lambat, OOC, typo, bahasa tidak baku dan kesalahan – kesalahan pemula lainnya.
"Tenten-chan," suaranya terdengar tenang tapi membuat rasa dingin menjalari tubuh gadis itu. "Apa yang akan kau lakukan seandainya akulah orang jahat itu?" Tenten berharap ia melihat apapun asalkan bukan sepasang mata serupa amethyst itu.
Tenten benar-benar terpaku mendengar kalimat lelaki itu, ia ingin berpaling tapi seperti ada yang menahan pandangannya, ingin menjauh tapi ia tidak dapat merasakan lantai yang dipijaknya, ditambah lagi telapak tangannya masih dalam cengkeraman Neji. Kontras dengan rasa dingin yang membuatnya merasa kebas, ia merasakan matanya semakin panas. Ia tidak punya pilihan lagi selain menatap balik dan hanyut dalam tatapan lelaki itu.
"Aku percaya itu bukan cara yang baik untuk memperlakukan wanita."
"Tak apa. Raut mukamu tadi cukup menghiburku."
"Hn, tidak perlu berterima kasih. Cukup bekerja dengan baik untukku."
"Aku akan membereskan masalah ini, aku janji."
"Kalau ini film, maka aku adalah pemeran utama, dan kau pemeran utama wanitanya."
Semakin lama ia menatap balik ke arah lelaki itu, potongan-potongan kejadian saat mereka bertemu berkelebatan di pelupuk matanya. Dan meskipun interaksi mereka didominasi pekerjaan dan deadline, yang terbayang adalah saat Neji tidak menunjukkan tatapan tajam dan mengeluarkan kalimat-kalimat dengan ekspresi dingin. Ia justru mengingat saat Neji berbicara dengan intonasi normal, dan sesekali tersenyum –walaupun itu sangat tipis-. Shock? Mungkin itu yang dialaminya sekarang, jelas ia terlalu lemah di dalam jarak pandang sepasang mata 'unik' itu, tapi ia menolak untuk percaya dengan hal yang baru saja dikatakan atasannya. Satu helaan nafas panjang, kemudian sudut bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman, "kau berhasil menakutiku, Pak. Tapi aku tidak percaya kalau kau orang jahat itu. Silahkan katakan aku tipikal orang yang mudah tertipu, tapi aku yakin kau bukan orang jahat." Sepasang bola mata cokelat itu menatap tajam penuh keyakinan yang tercermin di dalamnya, disusul dengan telapak tangannya yang mencengkeram balik.
Neji terpana melihat reaksi Tenten yang berlawanan dengan prediksinya. Menghembuskan nafas, menarik lepas tautan tangan mereka. "Kau ini benar-benar…." Ia tidak melanjutkan kalimatnya, ia mengusap wajahnya sendiri dengan tampang menahan tawa. "Sepertinya aku salah menyuruhmu berhenti bersikap kaku di dekatku. Sekarang kau terlalu berani untuk ukuran seorang sekretaris."
Ucapan dan gerak-gerik Neji membuat mata Tenten mendongkol setengah mati. Membuatnya ketakutan untuk sekian menit, dan sekarang menertawakannya. Rasanya ia ingin mendaratkan kepalan tangannya ke wajah tampan itu.
"Aku senang kau percaya padaku," ia mengusap kepala Tenten lembut, ekspresi yang ditunjukkannya pun berubah dengan cepat. "Tapi tidak semua orang sepertiku, Ten. Kau harus lebih berhati-hati sekarang. Kau terlibat dengan peluncuran produk ini, bukan tidak mungkin ada yang menjadikanmu sebagai target, mengerti?" Tangannya berpindah cepat ke pipi Tenten, menepuknya pelan.
Tanpa ragu, tangan Tenten dengan cepat menepis tangan yang dengan nakal menepuk pipinya. "Terima kasih atas peringatannya, Pak. Saya akan mengingatnya," Tenten menjawabnya dengan ketus, jelas sekali kekesalannya sudah muncul ke permukaan.
Neji hanya melihatnya dengan tangan terlipat. "Kau harus bersyukur hanya ada aku disini. Jika kau bicara dengan nada seperti itu di depan orang banyak, aku akan membuatmu diam." Satu alis yang seperti terukir rapi terangkat disertai dengan seringai saat melihat sekretarisnya itu tersentak dengan pernyataannya.
Tenten yang menyadari seringai di wajah tampan itu, mengepalkan tangannya. "Tidak mungkin kau akan melakukan itu, Pak. Paling-paling kau hanya akan menghukumku dengan beban kerja yang berkali-kali lipat." Ucap Tenten angkuh, entah apa yang mendorongnya bertingkah seperti ini.
"Kau…." Neji menyambar dan menggenggam rahang Tenten, memajukan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Sementara Tenten, dia diam dengan melipat tangannya di dada, menatap balik seperti menantang atasannya. Heh, intensitas godaan Neji ditambah dengan rasa kesalnya sudah membuatnya nyaris kebal.
Ring ring!
Terdengar hembusan nafas lega dari Tenten, dibarengi dengusan tak suka dari mulut Neji. Tenten menatap atasannya itu mengecek ponselnya dengan senyum kemenangan.
"Kita harus kembali ke kantor." Lelaki bermarga Hyuuga itu mengantongi ponselnya dan menaruh sejumlah uang di meja dengan sedikit terburu-buru. "Ayo!" Tanpa menunggu balasan dari Tenten, ia langsung menarik lengan gadis yang baru saja berdiri itu.
Tenten memandang keluar jendela mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, cahaya lampu terlihat seperti payet-payet cantik yang biasanya Ino beli. Tak sepatah kata pun meluncur dari mulut lelaki yang duduk menguasai kemudi dengan serius di sebelahnya. Ia ingin menanyakan ada apa sebenarnya, tapi selama mereka bekerja sama, Tenten menyadari kalau dia terlalu banya melontarkan kata 'kenapa' dan 'ada apa', sehingga kali ini sekretaris itu memilih diam dan sesekali mengutak-atik ponselnya. Ia tersenyum sendiri melihat foto yang dipajang Ino disalah satu akun media sosialnya, sampel kain dan desain? Ah, berarti malam ini Tim Desain juga ikut lembur. Lembur, apa orang yang mengacak-acak ruangan mereka juga ada disana malam ini? Ini menarik sekaligus menyeramkan baginya. Ia tidak tahu orang seperti apa yang mereka hadapi saat ini. Menyandarkan tubuhnya ke kursi, ia menutup matanya, mencoba tertidur karena mereka akan bekerja hingga lewat tengah malam nanti.
"Tenten?" Suara berat itu mencegahnya terlelap, meluruskan posisi duduknya, Tenten menoleh ke arah Neji yang masih saja lurus memandang ke depan.
"Ada apa, Pak?" Tanyanya.
"Malam ini kita akan pulang lebih larut, kunci ruangan yang kupasang tidak akan bertahan lama. Jadi malam ini, seorang rekanku akan membantu kita memperbaikinya, sekaligus memberikan kita informasi yang dia punya." Jawab Neji pelan. Ia harus menjelaskannya sekarang, mencegah Tenten bertanya terlalu banyak dan memancing perhatian mata-mata itu di kantor. "Kau pasti kenal dengan Nara Shikamaru, dia yang akan membantu kita malam ini."
Nama yang disebutkan Neji itu jelas membuat Tenten kaget. "Ya, saya kenal." Tukas Tenten singkat yang disertai dengan anggukan, keputusannya untuk mempercayai Neji tidak salah. Ia yakin sekarang, bukan Neji orang jahat itu. Mungkin otaknya masih sulit mencerna semua yang terjadi hari ini, tapi paling tidak ia bisa bernapas lega.
"Yo!" Pria berambut gelap yang diikat menyerupai buah nanas itu menyapa dan menepuk pundak Tenten saat turun dari mobil.
"Shika!" Walaupun sudah mengetahui kalau sahabatnya itu akan berada disana, tetap saja suara yang keluar dari mulutnya terdengar melengking di tempat parkir yang sepi.
"Tenten…!" Suara Neji bernada penuh peringatan. Tanpa perlu melihatnya, Tenten tahu wajah seperti apa yang ditunjukkan atasannya sekarang.
"Maaf," ujarnya cepat, ia tahu tindakannya barusan bisa memancing perhatian, dan bisa saja pelaku perusakan ruangan mereka ada disana. Ia memberikan tatapan sengit pada tamu mereka yang masih berdiri santai di sebelahnya. Kita akan bicara nanti! Tatapan Tenten bisa diartikan seperti itu, sementara Shikamaru hanya terkekeh, bersiap mengambil sebatang rokok dari sakunya.
"Dan kupikir kau tidak merepotkan." Respon Shikamaru santai, menyelipkan rokok ke bibirnya. Tenten memperhatikan, dia membawa ransel besar dipunggungnya.
Neji berdehem keras, sukses membuat keduanya menoleh, "Nara, aku akan sangat berterima kasih kalau kau tidak merokok sekarang." Kemudian menoleh ke arah sekretarisnya. "Kami akan ke ruangan lebih dulu, bawakan dua cangkir kopi. Tanpa gula, tanpa krimer." Ia berjalan melewati Tenten. "Dan ingat kataku, perhatikan sekelilingmu." Ia menambahkan sambil berbisik sebelum berlalu.
Satu tangan mengusap kepala Tenten, membuatnya mendongak. Shikamaru tersenyum kecil, "Hyuuga satu itu tidak mengenal kata tunda kalau ia sedang bekerja. Ck, merepotkan." Ia menyusul Neji, meninggalkan Tenten yang masih termangu sejenak.
Gadis berambut cokelat itu mengatur napasnya. Ia benar-benar harus mempelajari teknik pernapasan dengan baik sekarang. Setelah merasa cukup tenang, ia menyingkirkan helaian poni yang menggelitik dahinya. Baiklah, dia yang memilih untuk setuju dengan pekerjaan ini, dan Tenten tidak pernah meninggalkan pekerjaannya jika belum selesai.
Suara berdenting yang diciptakan cangkir dan sendok menemani Tenten di pantry malam itu. Sunyi, saat ia masuk tadi, dua orang cleaning service mulai membersihkan ruangan yang lain. Lampu masih menyala di lantai tiga, tim desain pasti sedang memutar otak dan tenaga disana. Sementara di lantai lainnya masih ada satu atau dua ruangan yang terlihat terang. Eh? Ada langkah kaki dan suara orang yang bercakap.
"Hm?" Tenten melihat ke arah pintu, seperti menunggu sumber suara itu muncul.
"Sudah kubilang ada yang tidak beres." Hmmm? Suara itu, Tenten sepertinya kenal.
Terdengar erangan, "kau menyalahkan komputernya lagi. Bagaimana denganmu yang sering memasukkan data yang tidak diverifikasi?" Tenten menghentikan gerakan tangannya, yang itu seperti suara Kamizuki-senpai dari Bagian Data dan Informasi. Langkah kaki mereka masih terdengar namun kedua suara itu menghilang.
"Ne Izumo, bagaimana kalau memang ada yang sengaja mengacaukan sistem di perusahaan ini? Tenten-chan!" Dua orang laki-laki berambut gelap masuk ke tempat Tenten menyiapkan kopi. Yang baru saja berbicara, berambut hitam dengan model jabrik jelas kaget mengetahui ada orang lain disana. Tenten pura-pura tidak melihat bagaimana ia menyikut temannya.
Yang satunya lagi, Kamizuki-senpai, atau yang dipanggil Izumo oleh temannya menoleh keluar, memastikan tidak ada orang lain lagi. "Kotetsu, harus berapa kali kukatakan, jangan bicara sembarangan. Di tempat seperti ini, bahkan tanaman hias pun punya telinga." Ia menyambar gelas terdekat dan mengisinya dengan air. "Jika ada yang salah paham dengan kata-katamu tadi, bisa jadi besok kita bisa dianggap hanya main-main dalam bekerja."
"Maaf!" Yang ditegur menempelkan kedua telapak tangannya. "Kau tidak akan bicara pada siapapun 'kan?" Kotetsu bertanya pada Tenten yang hanya menatapnya tanpa berkedip. Izumo menepuk jidatnya, tak percaya dengan tingkah sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.
"Kotetsu!" Desisnya, bahkan yang tidak ada apa-apa pun bisa memicu kecurigaan kalau Kotetsu melanjutkan aksinya.
"Hanya Tenten-chan, Izumo." Balasnya santai, tidak mengindahkan wajah kesal Izumo.
Bersiap membawa kopi ke ruangannya, Tenten menatap keduanya bergantian. "Hanya Tenten? Tidak bicara pada siapapun?" Tanyanya, membuat Kotetsu membatu sementara Izumo terlihat menggerutu tanpa memperdengarkan suara. Ini hanya tinggal menunggu kapan Kotetsu kelepasan bicara. Sementara yang satunya lagi, Tenten pernah mendengar bagaimana Izumo selalu menempatkan peraturan dan kode etik perusahaan di atas segalanya saat bekerja. Selain itu, lelaki dengan rambut lurus yang hampir menyentuh bahunya itu sangat keras terhadap dirinya sendiri. Gadis beriris cokelat itu merasa bersalah jika memanfaatkan karakter Izumo yang seperti itu untuk menggali informasi.
Tak tahan dipandangi terus-terusan, Kotetsu akhirnya buka suara, "Bukan apa-apa, Tenten-chan. Hanya ada perubahan harga di file rincian biaya yang diserahkan tim desain. Padahal sebelumnya, semua nilainya sama dengan yang dibuat Pak Sai, tapi tadi…" Ia teringat sesuatu dan terdiam.
"Tadi?" Tanya Tenten penasaran, teringat dengan petunjuk pertama yang didapatnya. Ia dapat menduga apa yang akan dikatakan Kotetsu berikutnya.
"Kotetsu!" Tegur Izumo.
"Tenten!" Suara berat dan dalam itu membuat ketiganya membisu dan menoleh ke arah pintu. Hyuuga Neji berdiri disana.
Tenten berjengit, ah, dia makan waktu terlalu lama, "maaf sudah membuat anda menunggu, Pak." Ia menyunggingkan senyum yang setahun ini disempurnakannya, kemudian berjalan melewati kedua seniornya yang masih terdiam. Sejauh apa yang didengar atasannya? Melirik ke lelaki berambut panjang itu, Tenten menangkap air muka yang biasa darinya. Apa iya dia baru ada disana?
"Kau membuat tamu menunggu, sekretaris macam apa itu?" Serahkan pada Hyuuga Neji untuk melontarkan kalimat omelan dengan nada tenang.
"Ah ya, maaf." Tenten menundukkan kepalanya sejenak. "Kamizuki-senpai, Hagane-senpai, sampai nanti." Gadis itu berbalik dan membungkuk kepada kedua sahabat yang hanya mengangguk itu kemudian berjalan cepat menyusul atasannya.
"Siapa?" Tanya Neji singkat saat Tenten menjejeri langkahnya.
"Hagane-senpai dan Kamizuki-senpai, tangan kanan Pak Asuma dari Bagian Data dan Informasi." Jawab Tenten.
"Maksudmu kedua tangan Pak Asuma?" Tarikan nafas Tenten dapat terdengar jelas di koridor yang sunyi itu. Oke! Hyuuga Neji (mencoba) melontarkan lelucon. Apa lagi selanjutnya? Shikamaru berhenti menggunakan jargon 'merepotkan'?
"Pak?" Tenten bertanya hati-hati, terlihat seperti anak kecil yang bertemu badut untuk pertama kali.
Ulah Tenten itu disambut dengan death-glare dari Neji. Alih-alih terdiam, Tenten malah tergelak dibuatnya.
"Kalian berdua diamlah, ada yang sedang bekerja disini." Shikamaru menyahuti dari dalam ruangan mereka, ditangannya terlihat perangkat pertukangan.
"Hn," Neji langsung masuk dan mengambil dokumen paling atas di mejanya.
Tenten masih mengamati Shikamaru yang asyik dengan benda-benda di tangannya. Eh? Dia akan membuat kunci pintu ruangan mereka? Shikamaru pernah melakukan hal yang sama saat SMA, mengunci ruangan klub catur sebagai bentuk protes. "Kau yakin ini berhasil, Shika?" Tanyanya, menyajikan kopi di meja kecil di pojok ruangan.
Seringai muncul di wajah laki-laki yang masih serius mengutak-atik dengan perkakasnya, "kau tidak percaya dengan kemampuanku, Ten?" Shikamaru bukanlah orang yang arogan, tapi ia sadar betul akan otak dan kemampuannya. Dasar jenius pemalas.
Tenten menggeleng cepat, membuat seringai Shikamaru makin lebar dan berbalik menuju kursinya sebelum setumpuk kertas disodorkan ke arahnya.
"Baca dokumen ini sekali lagi, cocokkan semua angkanya." Perintah Neji yang saat itu sudah menanggalkan jasnya, membuatnya terperangah sejenak, atasannya itu terlihat keren seperti itu.
"Baik, Pak." Tenten membawa dokumen itu ke mejanya. Angka? Ia jadi ingat kalimant Kotetsu yang mengatakan soal nilai dan rincian. Meneliti kertas-kertas di depannya, gadis itu membiarkan pekerjaan mencuri perhatiannya.
Hampir satu jam kemudian, ruangan kecil itu hanya diisi suara tuts keyboard, kertas yang dibalik, dan suara-suara yang muncul dari perkakas Shikamaru. Click! Bunyi itu terdengar agak keras, membuat Neji dan Tenten menoleh ke arah Shikamaru yang berdiri di dekat pintu dengan mata setengah tertutup.
"Selesai." Ucapan Shikamaru disertai desahan yang menandakan betapa lelahnya dia.
Neji berdiri dari kursinya, menuju ke arah pintu untuk melihat hasil kerja Shikamaru, sementara Tenten hanya tersenyum kecil dan memeriksa lembaran terakhir dokumennya. Akhirnya! Ia bisa berjumpa dengan kasurnya lagi.
"Kau mau kemana?" Tanya Neji dengan satu tangan di pundak Tenten.
Sekali lagi mereka berada di tempat parkir. Shikamaru sudah menjelaskan tentang semua yang perlu diketahui dan menyerahkan kunci mereka masing-masing, Tenten berniat menyusul Shikamaru untuk meminta tumpangan, jadwal kereta sudah selesai dua jam yang lalu. Belum sempat ia memanggil lelaki yang dijuluki jenius itu, Neji sudah mencegahnya.
"Aku akan pulang dengan Shika." Jawabnya singkat, energinya sudah cukup terkuras hari ini dan belakangan ini, melihat lelaki berambut gelap dan mata pucat itu seakan menyedot energinya.
"Ayo, aku yang akan mengantarmu." Ujarnya tanpa ekspresi.
"Eh, itu, rumah Shikamaru searah denganku." Tenten membuat alasan. Dalam keadaan seperti ini, berdua saja dengan lelaki Hyuuga itu sering membuatnya merasa salah tingkah, bingung harus berbuat dan berkata apa.
"Hn?" Satu alis terangkat seolah menunggu kalimat Tenten selanjutnya, disertai suara deru dari mobil Shikamaru. "Kau tidak punya pilihan." Ia berbalik dan membuka pintu depan mobilnya untuk Tenten, "masuk sekarang atau….," ancamnya.
Tenten buru-buru masuk dan duduk di samping kursi pengemudi, tingkahnya membuat senyuman kecil menghiasi bibir Neji.
Menyandarkan tubuhnya, Tenten menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam. "Akhirnya…." Gumamnya.
"Tenten?" Suara Neji memanggilnya. "Maaf membuatmu bekerja sampai selarut ini."
Tenten hanya memandanginya dengan kepala yang dimiringkan sebelum menggeleng cepat, "ah, sebenarnya tak apa. Seperti pembicaraan tadi, saya akan berbuat sebisa mungkin."
"Tadi sepertinya kau terlibat percakapan serius dengan dua orang kepercayaan Asuma. Ada apa?"
Tawa kecil terdengar dari mulut sekretaris itu, atasannya itu benar-benar buruk dalam basa-basi. "Aku tidak tahu pasti, cuma sepertinya ada data yang berbeda, antara data yang sudah diverifikasi dan yang dipublikasi. Mereka tidak mengatakan itu, Hagane-senpai hampir keceplosan mengatakan ada data yang berbeda." Tenten mencoba mengingat-ingat kejadian di pantry itu. Kerutan muncul di dahi Neji, jelas dia berpikir keras. "Tapi kalau yang kudengar dari Kamizuki-senpai, memang pernah ada kejadian dua data yang seharusnya sama dengan nilai berbeda." Tenten mengangkat bahunya, pemandangan dari jendela membuatnya fokus keluar, ah ini hampir tiba di apartemennya.
"Kita akan lihat perkembangannya," ujar Neji. "Terlalu dini untuk menyimpulkan kalau itu ulah mata-mata tapi itu hampir sama seperti kontrak dan nota pembayaran itu." Ia menginjak rem. "Kita sudah sampai, masuk dan istirahatlah."
"Baik, Pak." Tenten mengangguk dan segera menuruni mobil. Ia tidak menduga kalau Neji akan turun juga.
"Aku akan mengantarmu sampai di pintu. Melihat wajahmu seperti itu, aku tidak yakin kau bisa sampai di pintu tanpa terjatuh." Seringai jahil itu muncul lagi.
Tenten memutar bola matanya, namun senyuman kecil muncul diwajahnya. "Terima kasih, eh, Hyuuga-san." Ia berbalik dan melanjutkan langkahnya, tangannya sibuk mencari kunci di saku bajunya.
"Tenten?" Panggil bossnya itu sekali lagi.
Gadis itu menoleh, namun pandangannya dihalangi oleh sesuatu yang sewarna dengan jas Neji. Sepasang tangan melingkari pinggangnya erat, Hyuuga Neji memeluknya? Tubuh Tenten menegang sementara, detak jantungnya meningkat dua kali lebih cepat. Dipeluk seperti ini, memalukan. Bagaimana kalau lelaki itu merasakan detak jantungnya?
"…Pak?" Tenten mencoba mendorong dengan kedua lengannya.
"Diamlah, biarkan seperti ini. Maaf, tapi semenit saja, aku mohon." Kata Neji tanpa melonggarkan pelukannya, nada suaranya menyiratkan rasa lelah yang sukses membuat Tenten terdiam dan pasrah dipeluk seperti itu. "Maaf," ia akhirnya melepaskan Tenten. "Masuk dan istirahatlah, aku tidak mau partnerku satu-satunya sakit." Ia menepuk puncak kepala Tenten sebelum kembali ke mobilnya.
Sekali lagi, dengan situasi yang jauh berbeda, Tenten menatap mobil silver itu berlalu dari depan apartemennya. "Hati-hati," bisiknya pada kegelapan malam dengan irama jantung yang jauh dari kata normal.
Tadaaaaaaaa! Setelah satu bulan lebih satu hari akhirnya fanfic ini update juga. Terima kasih sudah baca. Um, saya mau bilang apa lagi, ya? Oh iya, maaf kalo setelah baca chapter ini, fanfic ini tidak sesuai dengan ekspektasi kalian, ini seperti filler kalau menurutku (tapi tidak tahu kalau menurut kalian.. ^^v).
Next:
Shiori Sophi: Terimakasih Umm, saya bingung mu bilang apa lagi. Hehe, semoga suka chapter ini, ya.
Hyuuga Dekita: Syukurlah. Hahaha, OOC nya Neji kadang bikin saya mau cubit pipinya.
Akira Ken: Amiiin! ^^v
Ran Megumi: Hai hai. Hahaha iya, aura sama gelagatnya Neji di akhir chapter itu memang seperti merujuk kalo banditnya dia. Tapi saya tidak tega kalau Neji banditnya, eh, bisa sih, tapi kapasitas otak saya tidak mampu kalau plotnya mengembang kesana (jujur, karena fanfic ini juga adaptasi dari game). Maaf ya kali ini update nya tidak kilat.
Shikadaii: Iya ya, terlalu polos. Tapi tidak terlalu OOC 'kan? ^^v
Dsalss: Yaaa, pertanyaannya terjawab disini. Dia cuma menguji Tenten. Makasih supportnya…
Alexandra Pratiwi: Bingung siapa pengkhianatnya? Mulai chapter ini akan ada karakter-karakter pendukung dan mungkin tersangkanya. Tidaaak, saya juga tidak bisa kalau Neji jadi penjahatnya. Maaf ya sudah bikin menunggu lama.
Arannis: Terima kasih Umm, saya juga bingung mau bilang apa lagi kecuali selamat membaca.
Haru.C: Hahah, pikiran kita sama. Andainya Neji nyata…. pasti jadi bintang iklan shampoo. Ini sarannya lagi dicoba, Haru-san. Terimakasih supportnya. Oh iya, dapat salam dari Neji, katanya salam balik, karena salam sayang hanya untuk Tenten.*lupakan*apalahsayaini*
Mizusagawa Hyuuga: Makasiiih, semoga masih suka ya sama chap barunya.
Nazliaa Haibara: Ini lanjutannya, selamat membaca.
Touhime Ten'okari: Syukurlah bahasanya tidak susah. Terima kasih yaaaa… Semoga masih suka lanjutannya.
See you in the next chapter ^^v
