Office Temptation
Chapter 7
Disclaimer: Naruto masih punya Masashi Kishimoto dan bergenre shounen.
(Karena kalau punya saya, genrenya berubah jadi shoujo, judulnya jadi Tenten, pair utamanya NejiTen)
Warning : Fic yang bisa dibilang masuk kategori "Harap Maklum".
Setelah kejadian pelukan di depan apartemennya, Tenten benar-benar kebingungan setiap kali bertemu lelaki itu. Sangat bingung sampai ia bingung memilah perasaannya sendiri, ia ingin marah dan meminta penjelasan tapi ia seperti tidak bisa menemukan cara untuk melakukannya. Seperti ada sesuatu yang membuat lidah dan kedua kakinya melemah di hadapan seorang Hyuuga Neji. Rapat antar divisi yang berlangsung sehari tepat setelah kejadian malam itu menyetujui rencana yang diajukan Neji sekaligus menunjuk divisi mereka sebagai koordinator proyek kali ini hingga proses launchingnya. Keputusan itu membuat Tenten merasa lega, yah, meskipun mustahil menghindari lelaki bermata lembayung muda itu, setidaknya pekerjaan bisa mengambil alih seluruh perhatiannya. Dan lagipula, bertindak tidak professional bukanlah predikat yang bisa melekat di diri atasannya itu. Sesekali saat mengambil jeda diantara pekerjaan yang menumpuk, ia akan teringat bagaimana sepasang lengan –yang baru disadarinya- kekar itu melingkar penuh di pinggangnya, atau bagaimana saat pipinya bersandar di bahu Neji saat pria itu mendekapnya. Flashback dadakan itu selalu berhasil memacu degup jantungnya dan menimbulkan rasa panas di pipinya, dan ia tidak suka hal itu sama sekali. Tidak suka? Apa yang sebenarnya tidak disukainya, perasaan yang diakibatkan pelukan itu atau pelukan itu sendiri?
Hyuuga Neji berjalan dengan langkah tegap di tengah hingar-bingar aktivitas di gedung K-Fashion. Sejam sebelum makan siang dan ia sudah mengunjungi tiga dari lima rekanan untuk proyek ini. Penunjukkan divisi mereka sebagai koordinator dalam peluncuran produk kali ini benar-benar menambah beban kerja. Disamping melakukan pekerjaan utama, sekarang harus mengawasi pekerjaan divisi lain, dan bahkan karena kecurigaan Pak Presdir, mereka juga harus berurusan dengan membuat janji dan memfasilitasi semua rapat dan pertemuan yang dilakukan. Melewati ruangan bagian sekretariat membuat pikirannya tertuju pada gadis berambut cokelat yang sudah lima hari ini bersikap aneh. Sedang apa sekretarisnya itu? Apa maksud dibalik semua jawaban singkat dan pertanyaan seperlunya belakangan ini? Dahinya berkerut saat mengingat jawaban singkat nan datar dari Tenten lima hari yang lalu. Bukan, ucapan selamat pagi yang diberikan Tenten hari itu juga terdengar terlalu kaku dan tidak natural. Apa akhirnya dia mulai lelah dengan semua perintah Neji? Apa gadis itu takut? Cih, ia mendengus tak suka, sejak kapan dia peduli dengan hal-hal kecil seperti itu. Bertingkah aneh pun tak apa, selama tidak mengganggu kinerja dan tidak melanggar hukum maupun aturan perusahaan. Tapi, entah kenapa beragam ekspresi gadis beriris cokelat itu seakan selalu ada di depannya.
Pintu yang terbuka dari luar menandakan kedatangan Neji di ruangan itu, dan Tenten terpaksa berusaha agar perhatiannya tidak beralih ke sosok yang berjalan ke arah mejanya.
"Ada perkembangan apa lagi?" Pertanyaan yang terdengar sangat tenang itu membuat Tenten menoleh tanpa sadar.
Pekerjaan yang menumpuk membuat keduanya berbagi tugas, Tenten mengurusi semua yang berhubungan dengan kegiatan di dalam perusahaan. Sementara Neji melakukan hal yang sebaliknya.
Menegakkan posisi duduknya, Tenten mendongak namun secara sengaja menghindari untuk menatap mata Neji. "Proses penawaran berjalan lancar, jika semuanya terus seperti ini, penandatanganan akan segera dilakukan," terima kasih untuk koneksimu, sambung Tenten dalam hati. Neji mengangguk sekali, menyilahkan Tenten untuk melanjutkan. "Media terus-terusan menanyakan kapan pastinya launching dilaksanakan, atau apa mereka bisa melakukan peliputan, ataupun membuat semacam behind the scene sebelum produk-produk itu diluncurkan. Oh ya, Pak Sai bertanya apakah Bapak sudah bertemu dengan pihak agensi model yang ia pilih?"
"Aku akan menemui mereka setelah jam makan siang, ada lagi?"
"Pak Sai ingin berbicara dulu dengan anda, ia ingin membuat teaser untuk dipasang di website resmi perusahaan," ia berhenti sejenak. "Dan, untuk sementara ini, belum ada tindakan ataupun informasi yang mencurigakan." Tambahnya. Belakangan ini semuanya berjalan lancar, terlalu lancar dan Tenten tidak yakin apa ia harus bersyukur atau semakin waspada.
Senyuman kecil muncul di wajah putih lelaki itu, "Terima kasih, kau bekerja dengan baik." Ia berbalik kembali ke arah pintu, "aku akan menemui Sai, jika ada yang mencariku bilang saja untuk meninggalkan pesan."
"Baik, Pak," ia berusaha keras agar fokus pada lembar kerja dihadapannya, berlama-lama bicara dengan Hyuuga itu tidak begitu baik untuk tingkat konsentrasinya.
"Peraturan baru, saat kita di ruangan ini atau dimanapun asalkan berdua saja, berhenti memanggilku 'Pak'." Ia menoleh ke arah Tenten, jelas sekali gadis itu gugup saat mata mereka bertemu. Anggukan kecil Tenten membuatnya menyeringai, "rampungkan apapun yang sedang kau kerjakan sekarang. Pastikan kau tidak melewatkan makan siangmu, setelah itu kau ikut denganku."
xxx
Satu-persatu perempuan bertubuh semampai memasuki ruangan rapat di agensi itu. Sebelumnya Sai sudah merekomendasikan sejumlah nama model yang menurutnya sangat cocok dengan desain yang ia buat. Kesembilan model masuk dengan tersenyum –bahkan senyum mereka mengembang lebih lebar saat melihat Neji-, hingga model kesepuluh yang wajahnya berubah masam saat melihat Neji.
Ah, Tenten mengenalnya, sering digadang-gadang sebagai imej dari model sehat. Rambut lurus yang hitam berkilau terlihat kontras dengan kulit putihnya yang mulus selalu disebut-sebut sebagai ciri khas utamanya, Tsuchi Kin. Dan saat ini Tsuchi Kin sedang menyelidiki Tenten dan Neji dengan tatapannya, rasa tidak suka mencuat terlalu jelas dalam sepasang mata hitam itu.
"Maafkan aku, Kakuzu-san, tapi aku sepertinya harus menolak yang satu ini." Senyum sinis menghiasi bibir merahnya, matanya menatap Neji tajam. Tenten menoleh ke arah bossnya yang hanya diam dengan tangan bertaut di atas meja. Ugh, dia memasang wajah tanpa ekspresinya dengan sempurna.
"Ah tapi Kin-chan, ini kesempatan besar. Kapan lagi kau bisa mendapatkan penawaran sebaik ini. Lihat, Sai dan K-Fashion, tidak ada yang lebih baik dari ini." Kakuzu membujuk salah satu model termahalnya itu. Selain bayaran yang pastinya tidak akan menjadi masalah, ini adalah peluang agar nama agensi-nya terangkat yang sudah pasti bisa membuka jalan untuk asuhannya yang lain. Melihat sikap modelnya yang tetap menolak, lelaki itu meminta maaf dan mengatakan ia akan berbicara sebentar dan memanggil model-modelnya keluar dari ruangan itu.
Setelah lelaki berpenampilan eksentrik itu mengajak kesepuluh modelnya keluar, Tenten mengernyit dan menggelengkan kepalanya, ini seperti drama dimana seorang anak manja berusaha menentang keinginan ibunya, dimana sang ibu terus membujuk. Neji? Jangan ditanya, ia menunjukkan seringai liciknya yang dulu pernah membuat Tenten ketakutan. Kekukuhan nona Tsuchi menolak ditambah dengan pandangan tak sukanya pada Neji membuat tanda tanya baru di kepala Tenten. Model dengan nama yang cukup besar, menolak tawaran yang jelas-jelas menguntungkan. Itu tidak masuk akal, Tsuchi Kin tidak punya reputasi sebagai model yang arogan dan besar kepala. Apa dia ada hubungannya dengan Neji? Ia ingin menanyakan itu tapi belum sempat ia bertanya, ponsel Neji berdering terlebih dahulu. Melihat lelaki itu sebentar, Tenten meninggalkan tempat duduknya, memberi isyarat kepada Neji kalau dia ingin keluar ruangan sebentar. Perasaannya sedang tak enak, dia butuh mendinginkan kepalanya.
Tenten menemukan mesin penjual otomatis. Ah ya, mungkin sesuatu yang manis bisa membuat perasaannya lebih baik. Ia memilih sebotol the strawberry dan satu kaleng kopi untuk bosnya. Ah, apa lelaki yang selalu membawanya ke tempat mewah itu mau minuman seperti ini? Berpikir sejenak, ia akhirnya mengedikkan bahunya dan berbalik.
Bruk!
"Eh?" Tenten bertumbukan dengan bahu seseorang yang sedang berjalan, membuatnya kehilangan keseimbangan. Botol minuman yang digenggamnya menggelinding di lantai.
"Maaf, nona." Seru lelaki itu cepat sambil memegangi kedua lengan Tenten, mencegahnya terjatuh. "Aaa, maaf." Ia segera melepaskan lengan gadis itu setelah memastikan kalau Tenten tidak akan terjatuh. "Kau tidak apa-apa, kan?" Lelaki itu berpenampilan layaknya seorang karyawan, lengkap dengan jas dan dasinya.
Tenten hanya menggeleng, memberitahu kalau dia tak apa-apa. Iris cokelatnya masih melekat pada sosok penabraknya, cukup menarik dengan mata gelap dan rambut kelabunya. Seperti de javu, sepertinya ia pernah melihat wajah seperti ini sebelumnya. Tersadar kalau ia menatap terlalu lama, ia reflex menunduk malu, "maaf. Saya tidak apa-apa."
Satu senyum ditujukan ke arahnya, "syukurlah," ujarnya sambil menggaruk belakang tengkuknya sendiri, gestur yang biasanya melekat pada murid SMA yang bertemu pujaan hati mereka. Tak ayal itu membuat Tenten tersenyum.
"Um," ia harus kembali. Neji akan mulai mencarinya. "Ah, aku harus segera kembali. Err, maaf." Ujarnya gugup, jelas Tenten-lah yang tadi menubruk bahu lelaki itu.
"Tak apa, nona." Ia menyerahkan botol minuman yang tadi terlepas. "Ah ya, aku Shin. Senang bertemu denganmu." Lelaki itu memperkenalkan diri.
"Tenten," sahutnya tersenyum. "Um, aku juga senang bertemu denganmu, tapi, sampai nanti," tukas Tenten cepat.
"Ya, sampai bertemu lagi, Tenten." Kalimat itu sederhana, tapi seperti ada yang tersembunyi dari cara Shin mengucapkannya. Hm, Tenten menggeleng. Semuanya hanya ada dalam kepalanya.
"Kau dari mana saja? Meninggalkan atasanmu di tengah meeting seperti itu." Sosok yang bersandar di pintu dengan lengan terlipat di dada itu mengagetkan Tenten.
"Maaf, Pak," ucap Tenten sungguh-sungguh dan memberikan minuman yang dibelinya. "Tadinya aku mau memberimu privasi karena kau sedang berbicara di telepon, dan kebetulan juga tenggorokanku kering." Ia menjelaskan namun selama itu tidak menatap langsung ke arah atasannya itu, membuatnya tak melihat segaris senyum yang terlukis di wajah Neji. "Bagaimana? Apa Kakuzu-san masih belum kembali?" Ada hal yang lebih penting dari sekedar salah tingkah di hadapan seorang Hyuuga Neji.
"Ia minta maaf, nona Tsuchi bersikeras untuk tidak berpartisipasi." Neji menatap lurus ke depan, seperti biasa, apa yang tersirat dari wajahnya susah ditafsirkan. "Sudahlah, ayo kembali. Kita harus bicara lagi dengan Sai," ia berjalan melewati Tenten.
Sebenarnya ada apa? Tenten merasa penolakan nona Tsuchi ada hubungannya dengan bossnya itu. Mengikuti lelaki itu dalam diam, Tenten tidak bisa meredam kegelisahannya, ia seperti…. entahlah, tidak rela? Ya, mungkin 'tidak rela' tepat untuk mendeskripsikan perasaannya sekarang. Ia tidak rela kalau atasannya itu punya 'cerita' dengan model itu. Bodoh! Hubungan kami 'kan sebatas hubungan profesional. Ia merutuki dirinya sendiri, atasannya sekarang hanya pegawai sementara. Ia akan terlupakan setelah proyek ini selesai.
Sepanjang perjalanan tak sepatah kata pun terlontar dari keduanya. Sampai akhirnya mobil silver itu terparkir tepat di depan pintu kantor, "aku masih harus menemui rekanan yang satunya lagi. Tugas untuk melapor pada Sai bisa kau lakukan 'kan? Tapi sebelum itu, temui Asuma atau kedua orang kepercayaannya terlebih dahulu. Ada sesuatu yang ingin ia berikan." Asuma-lah orang yang meneleponnya tadi. Jika ada orang yang ingin Neji percayai selain Tenten, Asuma akan menjadi orang itu. Setidaknya tidak mungkin ia menjatuhkan bisnis keluarganya sendiri.
Tenten mengangguk, lebih banyak kerja lebih bagus. Ia bisa mengalihkan semuanya ke pekerjaannya. "Akan saya laksanakan. Dan apapun keputusan Pak Sai, saya akan langsung menghubungi Bapak." Pada kata 'bapak', Neji menatapnya tak suka. "Maaf, Hyuuga-san," ujarnya takut-takut sambil membuka pintu.
"Tenten?" Panggil Neji, tangannya terulur ke arah jemari tangan kiri Tenten.
"Iya, Pa, eh, Hyuuga-san," sahutnya dari depan pintu mobil yang terbuka. Memanggilnya dan menghentikan langkahnya seperti sudah jadi kebiasaan lelaki itu.
Ekspresi Neji melunak, "tetap perhatikan sekelilingmu. Berhati-hatilah." Ia tahu kalau Tenten menyadari betapa mudahnya beberapa hari ini. Sebenarnya Neji khawatir membiarkan Tenten mengurus semuanya sendirian, bisa jadi 'orang' itu sedang merencanakan sesuatu dan mungkin melaksanakannya saat Neji tidak berada di kantor. Tidak masalah kalau 'orang' itu mengacaukan pekerjaan mereka. Neji percaya kalau ia bisa mengatasi kekacauan yang ditimbulkan. Tapi kalau sampai 'orang' itu menggunakan cara lain dan menyentuh Tenten, ia tidak yakin apa ia akan bisa berpikir jernih lagi. Beberapa minggu bersama gadis itu, mengamati dan berinteraksi dengannya membuat Neji merasa bertanggungjawab atas keadaan Tenten.
Tenten tersenyum, benar-benar tersenyum, bukan 'senyum-paten-sekretaris' yang belakangan ini menjadi pemandangan sehari-hari Neji. "Baik, Hyuuga-san. Terima kasih," dengan itu ia menutup pintu dan masuk ke dalam gedung.
xxx
Seluruh kesibukan yang terjadi di tiap-tiap ruangan terdengar sangat jelas olehnya meskipun hanya ada satu atau dua orang yang ia temui di koridor. Sesekali ia mengangguk kecil ataupun tersenyum saat berpapasan dengan karyawan lain. Menghela napas panjang, ia sempat mengamati kesibukan sekretaris lain menjawab telepon, sementara beberapa trainee menggandakan dokumen. Melihat mereka yang bekerja serius, ia memeriksa catatannya sekali lagi. Hyuuga Neji akan menyuruhnya membuat laporan lagi.
"Tenten-san!" Panggil seseorang yang membuatnya terhenti.
Ia menoleh, seseorang berjalan tergesa-gesa ke arahnya, ah, lelaki ini masih berstatus magang saat Tenten mendaftar.
"Karashi-san?" Tanyanya bingung, ini pertama kalinya ia berbicara dengan lelaki bermata biru keabuan itu, "Ada apa?"
"I-itu, ka-kami baru saja mendapat telepon dari Pak Raiga." Jawabnya gugup, Tenten ingat kalau karyawan yang satu ini selalu terlihat cemas dan tidak percaya diri.
Raiga, ah, orang menyeramkan dari bagian keuangan, sebagian besar karyawan baru di perusahaan menganggapnya begitu. Tapi sejauh yang Tenten dapatkan, lelaki dengan rambut hijau gelap itu adalah pekerja yang baik.
Tenten mengangguk, memberi isyarat kalau lelaki itu boleh melanjutkan kalimatnya.
"Perusahaan kain menolak menandatangani kontrak," tuturnya pelan.
Mata Tenten membulat, kenapa disaat seperti ini? "Dimana Pak Raiga sekarang?" Ia benar-benar menahan dirinya untuk mengambil telepon dan menghubungi Neji sekarang. Konsultan itu seharusnya sedang melakukan negosiasi dengan perusahaan yang direncanakan sebagai penyedia mesin dan peralatan.
"Dalam perjalanan, ia akan langsung melapor pada Pak Hyuuga."
Tenten terdiam, berpikir sejenak. "Baiklah, kita tetap harus menunggu keputusan Pak Hyuuga. Terima kasih, Karashi-san." Kata Tenten pada akhirnya. Sejak mengenal dunia kerja, Tenten sadar dia bukan orang yang bisa mengambil keputusan dengan cepat. Mungkin karakter yang patut ditertawakan karena memilih diam daripada bertindak. Ia lebih memilih itu daripada menyulitkan rekan kerjanya.
"I-iya, sama-sama, Tenten-san." Lelaki itu membungkuk kemudian meninggalkan Tenten yang masih berdiri di koridor. Dan seperti penolakan perusahaan itu belum cukup membuatnya memutar otak, seseorang muncul dari arah berlawanan dan menyeretnya sebelum ia sempat melihat siapa orangnya.
Daaan, sampai jumpa di chapter selanjutnya. Terima kasih untuk yang sudah baca, review, subscribe, sama fav fanfic ini. Semoga update kali ini memuaskan (walaupun jujur saya meragukan itu). Umm, kali ini agak lain, mau coba bikin dari sudut pandangnya Neji (dan jadinya sedikit sekali).
Shikadaii: Yaaay, akhirnya saya update lagi. Hahaha, iya itu Neji sama bikin deg-degannya sama Panitia MOS.
EmikoRyuuzaki-chan: Terima kasih kembali karena sudah baca dan sempatin review di fanfic ini. Romance? Masih dalam planning, hehe.
Hyuuga Dekita: Hahahah, maaf ya chapter barunya agak lama. Tunggu, mau apa ini? Dipeluk Neji atau juga mau peluk Tenten? ;)
Mizusagawa Hyuuga: Iya, dia meluk Tenten. Dan untuk ukuran manusia gila kerja kayak dia ituuu progress besar. Hahaha. Yup, menguji, saya tidak bisa jadikan dia antagonis. Tidak terbayang.
heatchardova: Makasih. Maaf ya belum bisa fast-update.
Ran Megumi: Menjawab pertanyaan Ran-san, rencananya Neji mau dibuat jadi manusia stoic yang tidak peka sama perasaannya sendiri, dia ada 'sedikit-rasa' sih sama Tenten. Tapi kayaknya saya gagal, ya? Hehehe. Makasih kiriman semangatnya. ^^
Carmennotwantalone: Nanti petunjuknya makin jelas, kok. *spoiler* Penjahatnya bukan Nejiten. ^^
shinji r: Tak apa. Tidak sama persis dengan game, kalau ini kan ikut rute-nya Kagaya, lebih misterius tapi ada adegan yang dihilangkan.
Alexandra Pratiwi: Hahaha, lagian si Neji, jadi boss sampai sebegitunya buat menguji loyalitas bawahan. Kalo atasan di dunia nyata seperti itu, dikudeta atau mogok bawahannya. Hehe, pair Kotetsu-Izumo memang lebih asik kalo dibuat satu playful-satu serius. Aaaak, kalo Ino jadi antagonisnya, plot yang ada dikepalaku kelewat sadis nanti. Kasian Tenten-nya, disini kan mereka BFF banget. Moga habis baca update ini, gak susah tidur lagi ya.
Dsalss: AAAAAAA, IKUT GEGULINGAN KARENA ADA REVIEW DARI DSALSS-SAN. *Apaandahsaya* Makasih masih mau lama-lama baca fic ini. Nejinya mah gitu, talk less do more, bicara kagak meluk iya. Suka Izumo juga? *highfive*
Akira Ken: Ini dia, saya belum bisa cepat updatenya. Maaf. ^^ Tapi semoga suka ya chapter ini.
Marin choi: Iya, dilanjut. Makasih sudah suka, dan semoga masih terus suka.
Oh iya, kalau seandainya update kali ini kurang, atau tidak sesuai ekspektasi kalian, maaf.
