Office Temptation

Chapter 8

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: Typo, RIP Grammar, (Sangat Mungkin) OOC, dan Kesalahan Pemula Lainnya.


Tenten menyentakkan tangannya, mencoba mengambil kesempatan untuk melihat siapa si penyeret itu. Rambut hitam yang tidak beraturan, dan postur tinggi tegap itu, Hagane? Ia masih terpaku dengan kehadiran Hagane yang bisa dikatakan tidak menyenangkan saat seniornya itu merangkul bahu dan membawanya pergi dengan paksa.

"Ha-hagane-senpai," panggilnya pelan tapi ditanggapi hanya dengan desis pelan yang seakan menyuruhnya diam, memancing keributan disaat seperti ini bukan pilihan. Kakinya terus saja mengikuti rute Hagane sampai mereka berdiri di depan sebuah pintu. Ruang IT? Pintu itu terbuka, menampilkan wajah garang Kamizuki dibaliknya. Orang yang disebut-sebut Neji tidak mungkin mereka berdua 'kan?

Lengan kekar Hagane menariknya masuk, sementara Kamizuki mengunci pintu dan berbalik ke arah mereka dengan tangan terlipat di dadanya. "Kotetsu, kau bodoh!" Ia menggulung lengannya dan satu jitakan mendarat di kepala Hagane, membuat Tenten terlepas dari cengkeraman lelaki itu. "Kau tidak apa-apa 'kan?" tanyanya sambil memegangi pundak Tenten, ia terdengar khawatir.

Dengan dahi berkerut, Tenten menatap kedua senior itu bergantian, "aku baik-baik saja," jawabnya.

"Maaf sudah membuatmu takut, Tenten-chan. Aku mencarimu kemana-mana, ada yang ingin Izumo sampaikan, tapi kata Pak Asuma kami hanya boleh memberitahumu saat kau sendiri." Hagane menggaruk belakang kepalanya gugup, sementara Tenten hanya merespon dengan anggukan dan kerutan yang makin nampak di dahinya. Dengan banyaknya kejadian hari ini, Tenten tidak yakin apa ada lagi yang bisa mengejutkannya.

Geraman pelan terdengar, "Bodoh, bukan berarti kau harus menyeretnya seperti itu! Bayangkan kalau tadi dia berteriak, kau mau dipukuli beramai-ramai, hah? Atau kalau Hyuuga itu mendengar kau berbuat kurang sopan pada sekretarisnya, kau selesai." Ia membuat gerakan memotong leher dengan tangannya. Mengerjapkan matanya, lelaki itu seperti mengingat sesuatu. "Ah Tenten, maaf. Duduklah, Kotetsu memang suka berbuat berlebihan seperti itu." Sekali lagi Tenten hanya mengangguk, tapi matanya menunjukkan rasa ingin tahu yang besar. "Sebentar." Ia beralih ke tumpukan berkas di samping meja komputernya, sementara Kotetsu mulai sibuk di depan monitornya. "Ini log akses database perusahaan. Kotetsu mengatakan ada yang janggal. Kami sudah memberitahu Pak Asuma dan ia juga merasa ada yang salah dengan catatan itu, kau lihatlah sendiri." Tuturnya sambil menyodorkan sejilid kertas.

"Terima kasih," gumamnya sebelum membuka cover depan berkas itu. Dengan teliti mata Tenten menelusuri setiap detail pada lembaran kertas ditangannya. Deretan IP address dan catatan waktu memenuhi tiap lembarnya. "Hmm, apa saya boleh membawa berkas ini?" Tanyanya, otaknya berputar cepat, ia mengerti apa yang dikatakan salah oleh Asuma. Beberapa alamat terlihat asing dan waktu yang tercatat juga sangat tidak biasa.

Pertanyaan Tenten membuat Kotetsu menoleh dari layar monitornya sementara Izumo tersenyum penuh arti sambil mengangguk. "Salinan itu memang untukmu," balasnya singkat, dilihatnya sekretaris itu membuat coretan-coretan kecil di berkas yang ada di tangannya, sesekali mata cokelatnya menyipit. Rumor tidak salah, mereka pernah mendengar seorang pegawai baru yang bisa bekerja seefisien sekretaris Pak Presdir namun terlihat biasa saja. Dan gadis ini, terlihat sangat biasa namun Izumo bisa melihat kesungguhannya saat ini.

"Tenten-chan, ini." Kotetsu menyerahkan kertas hasil cetakannya. "Kau akan butuh itu. Daftar semua file yang dimodifikasi dalam sebulan terakhir. Dan yang tercetak dengan warna biru, berarti aku dan Izumo yang memodifikasi filenya, sementara yang tercetak merah, itu file dengan dua nilai berbeda yang sempat kukatakan waktu itu." Jelasnya lagi.

"Terima kasih, Senpai." Ia berdiri dan membungkuk berterima kasih. "Saya akan melaporkan ini ke Pak Hyuuga, saya pamit dulu." Ia menundukkan kepalanya sekali sebelum keluar dari ruangan yang penuh sesak dengan perangkat komputer itu.


"Iya, Tenten-san, sekali lagi. Coba kau menghadap ke arah kiri. Ino-chan, tolong kau bantu dia." Suara Sai yang tidak terlalu keras itu memenuhi ruangan yang digunakan tim desain sebagai studio.

Setelah Tenten melaporkan apa yang terjadi saat mereka menghubungi agensi Kakuzu, Sai dengan tenangnya meminta Tenten untuk mengenakan salah satu desainnya. Tenten hanya bisa mengangguk dan mengiyakan. Berita tentang batalnya kontrak dengan perusahaan kain itu membuat pikirannya melayang kemana-mana, dan karena itu pula Tenten tidak bisa menyusun kalimat penolakan saat diminta. Ditambah instruksi dari atasannya yang mengatakan untuk membantu tim desain dalam hal apapun untuk saat ini, membuatnya dengan patuh mengikuti semua permintaan Sai, termasuk saat desainer itu mengubah gaya rambut dan dandanannya.

"Kau tetap berdiri dengan posisi ini." Ino memegang kedua sisi tubuh Tenten, kemudian mendorong lengan kanannya, "menoleh dengan badanmu ke sisi kiri, tapi kakimu harus tetap pada tempat dan posisinya." Tenten melakukan apa yang Ino katakan. Ino mengamati pose Tenten sekali lagi, untuk memastikan arahannya sesuai dengan perintah Sai. "Ya ampun, Tenten. Dengan tinggi badanmu itu, aku tahu kau bisa menjadi model yang baik." Kali ini Ino berseru kegirangan, sambil merapikan helaian cokelat yang menutupi bahu dan sebagian aksen bordir dari mermaid dress berwarna ungu yang dipakai Tenten.

"Ahem, Ino-chan." Tegur Sai sambil menggoyangkan kameranya, mengisyaratkan agar Ino menepi hingga ia bisa mengambil gambar Tenten dari samping. "Karui-chan, Yome-chan, siapkan catatan kalian. Tuliskan apa yang mungkin bisa ditambahkan atau dikurangi dari gaun ini. Tenten-san, angkat dagumu sedikit, ya." Suara shutter kamera terdengar tepat setelah aba-aba Sai. "Kau punya tubuh yang bagus, Tenten-san. Ini akan terlihat sangat cantik. Kerja yang bagus." Ujar Sai sambil melihat gambar hasil tangkapan kameranya, Tenten hanya berdiri di tempatnya, setengah menunduk dengan canggung. Sebenarnya sejak tadi ia merasa tulangnya menjadi jelly. "Ino-chan, tolong bantu Tenten-san dengan gaunnya. Setelah itu, kita bertemu di ruanganku."

"Baik, Pak." Ino mengangguk kemudian menggamit lengan Tenten. "Ayo, Ten." Ia memandu Tenten ke pojok ruangan yang sudah disulap menjadi ruang ganti.

"Rasanya aneh, ya." Kata Tenten tiba-tiba saat mereka sudah berada di dalam ruangan berdinding cermin itu. Ia menatap bayangannya, ia tidak akan pernah terbiasa melihat warna merah menyala di bibirnya.

Ino menarik zipper yang berada di sebelah kirinya dengan hati-hati, "Seharusnya kau lebih sering tampil dengan dandanan seperti itu, Ten. Sebagian besar sekretaris dituntut untuk berpenampilan menarik." Ia melonggarkan tali tipis yang Sai pasang di bagian pinggang gaun itu. "Aku tidak mengatakan penampilanmu tidak menarik. Tapi kau kurang menonjol, padahal kalau kau mau, orang bisa saja melihatmu lalu-lalang di sekitar sini dan menganggap kau sebagai model baru."

Tenten hanya memutar matanya, dia tidak membenci make-up. Hanya saja, ia merasa waktunya akan jauh lebih berguna jika digunakan untuk hal lain. "Mungkin nanti," katanya sambil menggidikkan bahu. Ia melepaskan gaun itu dari badannya. "Lagipula, menjadi cantik itu'kan tugasmu. Tugasku hanya cukup menjadi yang biasa dan seadanya." Ia berbalik dan memeluk Ino, yang saat itu sibuk merapikan gaun yang baru saja dilepasnya.

"Tenten, hati-hati. Satu gerakan yang salah, gaun ini rusak dan itu berarti tim kami harus lembur lagi. Selain itu, jika kami harus mengerjakan ini lagi, anggaran akan semakin membengkak." Tegur Ino, namun dengan nada lembut. Tiba-tiba ia mengernyitkan dahi, saat itu Tenten belum kembali memakai pakaian kantornya. "Cepat pakai bajumu, kalau ada yang melihatmu seperti ini, bagaimana?"

"Aku tahu." Suaranya terdengar pelan, ia memajukan wajahnya dan menyandarkan dagunya di bahu Ino. "Ne, Ino. Kau tahu 'kan, aku tidak begitu suka kejutan. Rasanya energiku terkuras setiap kali terkejut."

Saat kepala Tenten berada tepat di sampingnya, Ino baru menyadari kalau kulit sahabatnya itu terlalu hangat untuk ukuran orang sehat. "Tenten, kau demam? Kenapa kau tidak bilang." Ia dengan cekatan menggantung gaun yang dipegangnya dan berbalik, kedua tangannya memegangi sisi tubuh Tenten sebelum gadis itu jatuh terhuyung. "Tunggu sebentar." Ia menggiring Tenten untuk duduk kemudian mengambil pakaiannya. "Pakai pakaianmu, aku akan mengantarmu pulang."

"Jangan berlebihan begitu, Ino. Aku hanya butuh duduk sedikit lebih lama." Ia mengancingkan kemejanya, ia memang merasa hangat. Tapi sekretaris itu yakin kalau minuman hangat dan tidur sebentar akan membuatnya pulih. "Tidak ada waktu untuk sakit sekarang ini." Ia menarik napas dalam-dalam sebelum berdiri. "Kau ada rapat dengan Pak Sai hari ini. Jangan lupa itu." Sambungnya dengan senyum kecil.

Giliran Ino yang memutar bola matanya. Tipikal Tenten yang suka memaksakan diri. "Jangan me-," satu ketukan menyela kalimatnya. "Ya?"

"Ino-chan, apa Tenten-san sudah selesai? Hyuuga-san ingin menemuinya." Suara Sai terdengar dari depan ruang ganti.

"Iya, Pak. Kami akan segera keluar." Tenten menjawab cepat, ia menoleh pada Ino seraya melekatkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar ia tetap diam kemudian melangkah keluar. "Maaf, kami memakan waktu agak lama." Tukasnya ketika berada di luar dengan Ino mengekor di belakangnya. Di depan mereka, Sai dan Neji menatap keduanya dengan ekspresi yang sangat kontras. Sai dengan wajah selalu riangnya –yang diketahui palsu-, dan Neji yang menatap tajam keduanya.

Sai tersenyum, membuat kedua matanya terlihat hanya segaris, "tak apa, Tenten-san. Ino-chan, ayo. Aku ingin kau mendengar pendapat yang lainnya." Ia kemudian beralih ke pria yang sedikit lebih tinggi di sampingnya, "maaf, aku meminta jasa sekretarismu terlalu lama." Kalimat itu disambut isyarat telapak tangan yang mengatakan tidak apa-apa dari pria bersurai cokelat di sebelahnya. "Terima kasih. Ino-chan, ayo." Ia membungkuk sebelum kembali ke ruangannya.

"A-ah, Ten. Sampai nanti, istirahat yang cukup, ya." Ino merangkul Tenten sejenak dan menyempatkan diri untuk memberi salam pada Neji –yang mengamati mereka dengan kerutan di dahinya-, sebelum menyusul Sai.

Tenten, yang masih dipengaruhi kondisi kesehatannya, membisu sejenak. "Ah, maaf," ia menunduk saat melihat pandangan menyelidik Neji yang dilayangkan padanya.

"Hn," ia menimpali. "Ambil tas-mu dan ikut aku," perintahnya sebelum berbalik ke arah pintu.

"I-iya, Pak." Tenten bergegas mengikuti instruksinya dengan patuh, mengabaikan pening di kepalanya.

"Pak, anda akan langsung pulang?" Tanya Tenten saat Neji mengambil arah berlawanan dengan ruangan kerja mereka dan berhenti di depan mesin pencatat kehadiran. Dalam hati ia menarik napas lega, sekaligus memohon agar tidak ada lagi hal yang membuatnya terkejut.

Pria itu berhenti dan menoleh ke belakang, ekspresinya sedatar biasa. "Ya, dan kau juga ikut denganku," jawabnya singkat dan kembali meneruskan langkahnya. "Jangan lelet," sambungnya lagi, seperti mengetahui Tenten yang hanya berdiri menatap punggungnya.

Sesampainya mereka di luar, Tenten baru menyadari kalau hari sudah mulai gelap. "Ah, Pak. Saya permisi." Ucapnya seraya menunduk, ia tidak sabar untuk segera memanggil taksi dan pulang. Mandi air hangat dan semangkuk sup akan sangat baik, membayangkannya saja ia hampir tersenyum sendiri. Hampir, karena satu tarikan di pergelangan tangannya membuatnya mendongak kaget.

Sepasang bibir di wajah tampan itu menipis sementara si empunya menggelengkan kepalanya. "Tidak, kali ini kau akan pulang denganku. Kau punya banyak hal untuk dilaporkan, aku juga punya beberapa hal yang ingin ku diskusikan." Dengan masih menggenggam lengan Tenten, ia menuntun gadis itu ke tempatnya memarkir mobil.

Meskipun risih dengan perlakuan itu –Tenten mengepalkan telapak tangannya-, ia mengikut saja. Meskipun ia tidak suka dengan dentuman irama jantungnya yang tiba-tiba lebih cepat dari sebelumnya. "Pak, maaf. Tangan saya, akan sangat tidak baik jika ada rumor yang menyebar." Katanya pelan pada akhirnya.

Neji berhenti tepat di samping mobil silver yang sangat akrab dengan Tenten belakangan ini dan membuka pintu depannya. "Tapi akan lebih baik lagi jika sekretarisku ini tidak terjatuh, melihat bagaimana ia tidak bisa menjaga dirinya sendiri." Ia melemparkan tatapan menantang pada Tenten, seolah menunggu bantahan. Melihat bagaimana Tenten hanya menunduk, dan menggerakkan mulutnya untuk meminta maaf walau tanpa suara, Neji agak melunak. "Masuklah, kau bisa tidur di dalam."

"Maaf, saya sudah merepotkan." Gumamnya namun masih terdengar. Pasti desainer itu yang memberitahunya. Karena ia sempat berkomentar bagaimana Tenten terlihat pucat saat didandani.

"Hn," respon Neji sebelum menutup pintu dan menuju balik kemudi.


Beberapa menit sebelumnya, di ruangan Sai.

"Apa Tenten sudah dari sini?" Tanya pria berambut cokelat panjang itu kepada Sai, yang sedang sibuk mengutak-utik sesuatu di laptop-nya.

Iris gelap Sai beralih dari peralatan elektronik di depannya, melempar senyumnya kepada pemilik nama Hyuuga di depannya. "Iya, dia masih di sini. Aku sudah menerima laporan dari tim kalian. Sebentar lagi tim kami akan melakukan rapat, aku akan menghubungimu besok pagi." Satu anggukan, menandakan ia mendengar jawaban Sai. "Ino-chan sedang membantunya mengganti baju." Satu alis lawan bicaranya terangkat, menyiratkan rasa ingin tahu. "Ah iya. Ini," Sai seakan mengerti arti ekspresi Neji dan memutar laptop-nya, sehingga Neji bisa melihat jelas apa yang tergambar di layarnya.

Untung saja Neji bukan tipe orang yang terang-terangan menunjukkan emosinya. Tapi apa yang dilihatnya memang mengejutkan. Untunglah ia bisa mengendalikan diri sebelum imej-nya benar-benar rusak. Bagaimana tidak, sejak bekerja dengan Tenten, ia selalu berpenampilan biasa saja –dan Neji mensyukuri itu-. Tapi dalam potret yang ditunjukkan Sai, sekretarisnya itu berdandan mencolok –yang Neji harus akui, cocok dengan wajahnya walau warna merah menyala di bibirnya terlalu terang-, dan memakai gaun yang bisa mengundang semua kepala menoleh ke arahnya.

"Dia cantik, bukan? Sayangnya dia tipe orang yang sangat loyal terhadap pekerjaannya. Kalau dia bisa sedikit dipengaruhi, mungkin aku akan memintanya jadi 'wajah' untuk produkku." Kata Sai, kali ini terdengar dia sangat bersungguh-sungguh, membuat Neji sontak menoleh ke arahnya.

Hyuuga Neji mengenal banyak orang. Heh, bahkan bagi beberapa orang, dia menakutkan karena dikatakan ia memiliki banyak koneksi. Dan Hyuuga Neji pun mengetahui soal desainer jenius di depannya. Meskipun terkenal misterius, track record Sai dengan para model-modelnya terdahulu sudah menjadi rahasia umum. Oleh karena itu, meski ia tahu dirinya pun sama busuknya, ia jadi ingin menggasak Sai gara-gara ucapannya itu. Di mata Neji, Tenten itu terlalu lugu, terlalu 'bersih' dan ia ingin gadis itu tetap menjadi dirinya yang sekarang.

Menyadari kesalahan yang baru saja ia lakukan, Sai mengangkat kedua tangannya. "Woah, maaf, Hyuuga-san. Aku terlalu bersemangat. Aku tidak akan menyentuh sekretarismu." Ia tahu bahaya apa yang tadi diundangnya. Ini sedikit mengejutkan pria itu, karena seorang Hyuuga Neji, yang menunjukkan emosinya seperti balok es, menunjukkan respon yang sangat cepat.

Neji menatapnya curiga, namun memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Selama ia masih di perusahaan itu, Tenten akan selalu berada di bawah pengawasannya.

"Dia sedang dalam kondisi tak baik, Hyuuga-san." Sai berdiri dari kursinya dan berjalan mengitari meja. "Ada baiknya kau sedikit memberinya waktu untuk istirahat. Suhu badannya di atas normal." Ia berdiri di samping Neji yang terdiam, dari mukanya, terlihat ia berpikir keras. "Mari kuantarkan. Ia pasti sedang bercakap dengan Ino-chan."


Sekali lagi Neji berdiri di pintu kamarnya, memandangi sosok berbalut selimut di atas tempat tidurnya. Ini pertama kalinya ia membawa orang lain -selain anggota keluarganya- ke dalam tempat tinggalnya. Ia tak punya pilihan lain saat mendapati Tenten sudah tertidur pulas di mobilnya. Ia pun hanya terbangun saat makan malam dan terlelap lagi. Pada akhirnya, mereka tak bisa mendiskusikan apapun. Ia menggelengkan kepalanya, mengingat bagaimana tadi ia bersikap sedikit keras padanya. Padahal, Neji mengakui kalau ia juga bersalah. Foto yang ditunjukkan Sai seperti menekan saklar emosinya, membuatnya terheran-heran, ada apa dengannya?

"Waaaa, apa dia gadis pilihanmu, Nii-san? Dia manis." Pertanyaan jahil Hanabi sejam yang lalu terngiang di telinganya. Setelah membawa Tenten masuk, ia menelepon adik sepupunya itu. Karena merawat orang sakit bukan hal yang bisa Hyuuga Neji lakukan. Dan sejam yang lalu, setelah mengganti pakaian Tenten dan memastikan ia makan dengan baik, Hanabi dan Hinata –kakaknya-, meninggalkan Neji berdua saja dengan sekretarisnya yang tertidur dengan cepat.

Gadis pilihan, eh? Neji hanya tersenyum tipis sambil menatap wajah Tenten yang tertidur seperti anak kecil.


Sinar matahari yang perlahan-lahan melalui tirai membuat Tenten menggeliat di bawah selimut, ia membuka mata dan memandang sekelilingnya. Terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya, ia refleks bangun dan duduk di tempat tidur yang asing baginya. Bola matanya menyusuri setiap jengkal kamar tidur itu sekali lagi sampai matanya tertuju pada setelan kantornya yang tergantung di depan lemari. Ah iya, Tenten mengira itu hanya mimpi. Tenten ingat ia berada di tempat siapa sekarang. Sekali lagi ia meneliti ruangan itu, untuk mencari pemiliknya sebelum rasa pusing menyergapnya. Sial! Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur lalu meraih ponsel di sampingnya.

4 Panggilan tidak terjawab

5 Pesan masuk

Dan sejumlah notifikasi dari media sosialnya.

"Ah, kau sudah bangun." Konsultan muda itu sudah lengkap dengan setelan kerjanya. "Hari ini kau diliburkan. Dan ini perintah." Katanya datar, sementara Tenten masih mengerjapkan matanya. Hari macam apa ini? Ini belum setengah hari dan ia sudah terkejut seperti ini.

Jam 06.22, seperti itu yang terpampang di layar ponselnya. Bukankah ini terlalu pagi? "Pak, hari ini saya harus menemui Yugao-san. Aku harus memastikan hal yang ditemukan Kamizuki-senpai dan Hagane-senpai. Saya akan ke kantor seperti biasa." Jawabnya keras kepala, namun saat itu ponsel Neji berdering, membuatnya keluar kamar dan menutup pintu. Tak puas dengan tanggapan Neji, Tenten turun dari tempat tidur dan membuka pintu. Neji terdengar tak senang, membuatnya makin bertanya-tanya.

"Aku sudah melihatnya." Neji sibuk berbicara di telepon tanpa menyadari Tenten yang berada tepat di belakangnya. "Katakan kepada tim-mu, berhenti menyalahkan satu sama lain. Aku akan mencoba menggali sumbernya. Sebaiknya kalian berpikir tentang plan B." Setelah itu Neji menutup teleponnya. "Mereka berani sekarang, eh?" Bisiknya lebih ke dirinya sendiri, Tenten mengamati kedua tangannya terkepal, bahkan dengan ponsel di tangan kanannya.

"Pak?" Tanya Tenten hati-hati, ini telihat serius.

Menarik napas dalam-dalam, ia memejamkan matanya sesaat. "Duduklah. Aku akan memberi tahumu, tapi kau harus berjanji untuk tidak memaksakan dirimu lagi." Setelah Tenten mengangguk, ia menyambung. "R-Couture meluncurkan desain terbaru mereka. Katalog ekslusif untuk kalangan tertentu."

Tenten mengerti apa yang dimaksud, kompetitor mereka selangkah di depan. Mereka harus lebih giat kali ini.

"Tidak hanya itu," Neji menambahkan, senyum sinis jelas di wajah tampannya. "Mereka menggunakan desain Sai, desain yang sama persis untuk produk terbaru K-Fashion, dengan Tsuchi Kin sebagai Brand Ambassador-nya."


Terima Kasih Sudah Membaca..

Hai, Hai. Hari ini Office Temptation saya edo-tensei. Maaf kalau kemarin sempat hiatus.

Ah iya, makasih untuk yang sudah baca, review, sama subs di chapter sebelumnya.

Sherry Ai: Iya, Tenten mulai cemburu. Tapi beliau-nya tidak sadar kalau dia cemburu. Neji sama Kin? Nanti, ya. Nanti pelan-pelan kebuka semuanya.

Shikadaii: Penasaran? Sebenarnya dalangnya sudah pernah disebut. Hehe, nanti, ya..

UltronGurl: Aduh, saya bingung. Nggak sih, saya bilang begitu karena saya tidak bisa melihat kesalahan saya sendiri (maklum, ilmu masih cetek). Jadi, kalo ada salah, mohon koreksinya.

EmikoRyuuzaki-chan: Romance? Itu ada, tapi pelan-pelan, ya. Karena jujur, adegan romance itu selalu berujung di writer block untuk saya.

Akira Ken: Orang Ke-3? Pasti, saya 'kan pendukung Tenten x Harem (becanda..). Mungkin ada (nggak mau bilang iya, nanti spoiler). Kalo yang keren? Pasti. Tenten deserves the best.

.5: Huaaaa, jangan bete. Maaf kalo saya bikin susah tidur. Hehe, ganbarimasu.

Shinji R: Maaf, update kilat-nya lagi tidak mungkin. Tapi moga masih mau baca, ya.

Dsalss: Haha, tidak diculik/belum (*pilih salah satu /abaikan). Kin sama Neji? Kalo belum bosan, tetap baca, ya. Pelan-pelan semuanya dibuka. Soal Shin, sepertinya begitu. Action? Nanti, ya. Banyak tanya juga gak apa-apa, kok. Maaf ya, yang ini gak kilat update-nya.

Haru.C.23: Tenten dalam bahaya? Aku gak tega *dilemparsendal*. Hmm, saya cewek.

Marin Choi: Makasih sudah nungguin plus suka sama ff-ku. Ganbarimasu, maaf ya kali ini lambat.

Ran Megumi: Orang ke-3? Iya, rencananya begitu (karena akang Neji yang cemburu itu sesuatu dan so sweet *plak*). Disini sudah ketauan yang sukanya main seret. Hihi.

Yamanaka Tenten: Maaf ya, kali ini kurang cepat updatenya.

FyCha HyuuRa: Haha, ketauan 'kan yan narik Tenten disini? Ini sudah dilanjutin. ^^

Icha Anissa: Yup, moga masih baca, ya.