Office Temptation
Chapter 8
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: Typo, RIP Grammar, (Sangat Mungkin) OOC, Plot-holes, Ketidakjelasan, dan Kesalahan Penulis Amatir Lainnya.
"Omong kosong!" Tukas Tenten sebal, ia menyandarkan tubuhnya di jok mobil, memecah keheningan yang pagi itu melingkupi seisi mobil seorang Hyuuga Neji. Entah siapa yang mulai menyebarkan berita kalau Ino-lah yang memberikan informasi kepada perusahaan pesaing mereka. Ia mengerucutkan bibirnya sambil menghimpun semua yang ia ketahui untuk menguatkan alibi Ino. Ia menatap tajam pada layar tablet yang masih menyala di pangkuannya sebelum menarik napas dalam-dalam dan kembali memainkan jemarinya di perangkat itu.
Setelah berita di pagi buta yang merusak semua hasil pekerjaan mereka, brunette itu mencoba mengumpulkan semua informasi tentang R-Couture dan produk mereka, yang menggunakan hasil tangan Sai. Sementara atasannya duduk tak bergeming dari posisinya di belakang kemudi, ia tidak bersuara sepatah katapun sejak meninggalkan apartemennya.
"Apa kau sudah berhasil menghubungi Yamanaka-san, Tenten? Sai dan orang-orang di tim desain sudah kebingungan mencarinya." Lelaki itu akhirnya bersuara juga.
Tenten menggeleng, "Mmmm, pesanku terkirim, telepon tersambung tapi tidak ada respon sama sekali." Ia mendesis tidak sabar. Kalau saja ia dalam kondisi yang fit, ia pasti sudah mencari Ino. 'Ino, ini akan membuat orang-orang makin curiga padamu,' Tenten membatin. "Hyuuga-san, kita mau kemana?" Ia meluruskan posisi duduknya saat Neji membelokkan kendaraan dan menuju arah yang berlawanan dengan gedung K-Fashion.
Mata Tenten membulat saat mereka sampai di salah satu butik yang secara ekslusif menjual produk K-Fashion.
"Ayo turun," perintah Neji sambil melepas sabuk pengamannya lalu membuka pintu.
"Ah, apa ada yang punya informasi disini?" Tenten mengikuti konsultan muda itu yang dengan cepat sudah berada di pintu masuk.
"Selamat datang, ah, Hyuuga-san. Selamat pagi," sapa seorang pegawai bermata hitam pekat, rambutnya yang dikuncir tinggi berayun-ayun di sekitar bahunya.
"Hn, pagi." Balas Neji singkat.
"Selamat pagi, Moegi-san," suara Tenten terdengar sangat bersemangat.
"Pagi, Tenten-san. Apa ada yang bisa kami bantu?" gadis itu merespon cepat.
"Hyuuga-san ingin bertemu…"
"Bisa tolong kau carikan satu stel pakaian kantor dengan ukuran Tenten?" Tanya Neji, otomatis memotong kalimat Tenten.
Gadis itu mengangguk cepat, "kau ingin warna apa?" Ia berbalik pada Tenten yang menatap bingung pada bosnya.
"Warna apa saja, kami percaya pilihanmu," jawab Neji, namun matanya menatap ke arah Tenten.
"Baik, akan saya akan segera kembali." Ia membungkuk sebentar dan menghilang di deretan rak pakaian.
"Hyuuga-san, aku tidak butuh baju baru. Yang aku butuhkan kita sampai di kantor, sekarang." Kata Tenten, suaranya tidak terdengar jelas sebab ia menggertakkan giginya. Sorot mata penuh curiga Moegi makin mengaduk-aduk perasaannya.
Lelaki itu menyeringai dan memandang sekeliling sebelum mendekatkan wajahnya ke wajah Tenten, "Dengar, Tenten. Lihat, pakaian yang kau kenakan hari ini sama persis dengan kemarin, ditambah lagi kita datang bersama. Kau mau orang-orang mengira kita menghabiskan malam bersama? Well, kita memang menghabiskan malam bersama dan aku tidak peduli tentang apa yang dipikirkan orang-orang." Ujarnya pelan, hingga hanya Tenten yang mendengarkan.
Menghabiskan malam bersama? Hah, ia hanya… Tenten terdiam, memang benar orang-orang akan berpikiran macam-macam jika melihatnya datang dengan pakaian kemarin, tak peduli apapun alasannya. Ia bergidik ngeri membayangkan kalimat-kalimat macam apa yang didengarnya. Ia akan tampak sangat tidak professional jika terlibat skandal dengan atasannya.
"Bagus kalau kau mengerti." Hyuuga Neji, berdiri tegap dengan melipat lengan di dadanya, menambah kesan angkuh yang ditambah dengan seringai puas di wajah tampannya.
Tenten hanya memandang Neji sekilas dan menggumamkan terima kasih. Lelaki itu hanya mencoba untuk menyelamatkannya dari rumor yang tidak diperlukan.
"Ini yang saya temukan." Moegi datang dengan lima stel pakaian. "Saya pikir Tenten-san lebih cocok dengan model ini."
"Hn," alis Neji terangkat dan mengambil satu stel pakaian berwarna oranye pudar. "Ini, aku akan ambil yang ini." Ia menjatuhkan pilihannya dengan cepat sebelum Tenten sempat mengatakan sesuatu.
"Baik, Hyuuga-san." Moegi memanggil satu staf lain dan menyuruhnya untuk mengembalikan sisanya.
"Jangan terlalu banyak dipikirkan, suhu badanmu bisa naik lagi." Kata Neji sekali lagi dari balik kemudi. Setelah membayar pakaian itu, Neji langsung menyuruh sekretarisnya itu untuk memakainya. "Anggap saja itu jaminan,agar kau bisa bekerja dengan lebih baik, Hn bukan, jaminan agar kau bisa menjaga dirimu selama menjadi sekretarisku."
Tenten memandanginya dengan dahi berkerut. Tanpa ia katakan pun, Tenten mencoba untuk tidak menimbulkan masalah selama menjadi bawahannya.
"Bukan karena hal itu akan menghambat pekerjaanku, tapi itu mengganggu pikiranku. Aku tidak bisa tidak khawatir jika sesuatu terjadi padamu." Ada emosi tersirat yang keluar bersama kalimat itu.
Tenten sontak menoleh. Hyuuga Neji? Khawatir? Tenten tidak menyangkal perasaan hangat yang membuatnya merasa istimewa saat mendengar kata-kata itu. Ia hanya memandangi sosok di sampingnya yang sepertinya belum menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.
"Hyuuga-san?" Sejumlah pertanyaan muncul di kepala Tenten akibat satu kalimat yang diucapkan Neji.
"Ehm." Ia berdehem, "Kita sudah sampai. Jangan memaksakan dirimu, kerjakan apa yang sudah kau rencanakan sejak kemarin. Tetap coba untuk menghubungi Yamanaka dan jangan lupakan makan siangmu. Aku akan langsung ke ruangan Pak Presdir."
Menyadari kalau gedung K-Fashion sudah di depan mereka, Tenten bergegas turun dari mobil. Semua tanda tanya-nya tentang sikap aneh Neji pagi itu menguap, tergantikan dengan rasa penasaran tentang kondisi sahabatnya. "Baik, Pak. Maaf sudah merepotkan." Ia berlari menuju pintu masuk. Untung saja publikasi yang direncanakan Sai belum terwujud atau hari ini akan ada kumpulan wartawan di depan gedung.
Neji tersenyum tipis melihat tingkah Tenten. Untung saja Ino berada di daftar paling atas isi kepala gadis itu, atau sepagi ini ia harus bersilat lidah untuk menghadapi pertanyaan Tenten yang sering membuat Neji berpikir kalau sekretarisnya itu sedang mengetesnya.
Melewati pintu depan perusahaan, Tenten memperhatikan bagaimana para resepsionis terlihat lebih sibuk dari biasanya. Persaingan, R-Couture benar-benar mencegat mereka kali ini. Darimana mereka mendapat informasi tentang rancangan Sai, sejauh mana mereka menduplikasinya. Ia menggigit bagian dalam pipinya, keberadaan perusahaan rekanan mereka pun sekarang menjadi tanda tanya. K-Fashion dikenal karena produk mereka yang unik dan sulit digantikan, apa jadinya kalau ada perusahaan lain yang mampu melakukan hal yang sama. Ia menggelengkan kepalanya cepat sebelum mengambil rute ke bagian sekretariat. "Selamat pagi, aku ingin meminta rekap kehadiran dan lembur karyawan."
Tenten benar-benar bersyukur karena Yugao tidak menanyakan hal yang macam-macam saat Tenten meminta datanya, atau mungkin ia sedang terburu-buru karena mendapat panggilan ke ruangan Pak Presdir. Hm, sepertinya seluruh pemimpin bagian dipanggil kali ini.
"Tenten-san," suara yang sedikit tak asing itu mencapai pendengarannya, ia menoleh dan mendapati Karashi yang berjalan sambil membawa setumpuk map.
"Ya, ada apa?" Tenten berbalik .
"Bagaimana?"
Tenten memiringkan kepalanya, memastikan arti pertanyaan Karashi, "apanya yang bagaimana?" Ia tidak ingin salah bicara, semua orang patut dicurigai sampai semuanya jelas. Ya ampun, sepertinya ia mulai tertular sikap skeptis Tuan Hyuuga itu.
"Apakah sudah ada titik terang? Apa akan dibatalkan?" Lelaki itu malah balik bertanya, kali dengan tempo yang lebih cepat seperti orang gugup.
"Entahlah, para petinggi sedang berbicara sekarang." Jawab Tenten, sementara ia mencoba menyembunyikan rasa curiganya. Karashi bukan salah satu staf yang terlibat langsung dengan planning mereka.
Karashi mengangguk, namun sorot matanya yang tidak fokus membuat Tenten menatapnya lekat-lekat. "Oh ya, apa kau melihat Ino-san, ia sudah menghilang sejak semalam." Karashi bertanya lagi, nama Ino membuat Tenten memasang inderanya baik-baik.
'Semalam?' Brunette itu menyipitkan matanya, 'Hyuuga itu menjemputku sebelum pukul lima.' Tenten meluruskan mimik wajahnya agar terlihat biasa. "Hm, aku masih mencoba menghubunginya." Jawabnya sambil menggeleng pelan.
Lawan bicaranya hanya memasang wajah seakan ia mengerti. "Astaga, aku harus segera menyerahkan berkas ini untuk Raiga-san. " Ia berseru tiba-tiba sambil mengangkat berkas digenggamannya agar terlihat lebih jelas oleh Tenten. "Semoga berhasil, Tenten-san. Sampai nanti." Ujarnya seraya berbalik.
Tenten melambaikan tangannya singkat sebelum merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Ia membuka semua akun yang dimiliki Ino sembari berjalan menuju ruangannya. Update terakhirnya pada pukul enam kemarin sore. Bergumam pada dirinya sendiri, ia mengirimkan pesan kepada Karui, teman Ino di tim desain.
Penerima: Karui
Maaf Karui-san, apa Ino mengatakan ia akan pergi kemana setelah rapat selesai?
Sebelum Tenten membuka pintu, ponselnya bergetar menandakan pesan masuk.
Pengirim: Karui
Bukankah Ino-chan menemanimu? Ia tidak mengikuti rapat hingga selesai, saat keluar makan malam, tiba-tiba ia mengirim pesan dan mengatakan kau demam tinggi jadi ia pamit untuk mengurusmu.
Satu pesan menyusul.
Pengirim: Karui
Tunggu, Ino tidak menemuimu? Tenten-san, jangan bilang kalau rumor itu benar.
Tenten menekan pilihan balas dengan nafas tercekat. Tidak mungkin, K-Fashion adalah tempat bekerja impian Ino sejak kecil. Gadis itu bahkan menolak tawaran untuk melanjutkan sekolah di Paris hanya agar bisa mengikuti tes di K-Fashion.
Penerima: Karui
Ino tidak bersamaku. Tapi kumohon, jangan katakan pada siapapun.
Dengan cepat Tenten membuka pintu dan masuk ke dalam ruangannya. Berkas yang dipinjamnya berdebam di atas meja, disusul kedua telapaknya yang beradu dengan permukaan kaca. Ya ampun, Ino. Ada apa ini? Ia memukul pelan pipinya, mencoba mengarahkan pikirannya ke tumpukan data yang harus ia periksa. Setelah menenangkan dirinya, ia mulai mencocokkan data yang ada padanya.
Entah sudah berapa lama ia menelusuri daftar itu, mencari sedikit jejak dari data-data yang abnormal menurut Kotetsu dan Izumo. Tenten baru menyadarinya saat ia memasuki lembar ketujuh. Selalu dengan user id yang sama. Membuatnya membuka kembali lembaran yang sudah dilewatinya untuk memastikan ia tidak keliru. Nama yang sama, Raiga. Jemarinya dengan cepat membuat daftar tanggal dan waktu dimana nama Raiga muncul sampai satu waktu yang tercatat mencuri perhatiannya. Ia meletakkan alat tulisnya pelan-pelan dan mengambil agenda atasannya yang dititipkan padanya.
"Ya ampun," dengan pandangan tidak percaya, Tenten yang masih ternganga merangkum apa yang ditemukannya.
Belum selesai ia menyusuri lembaran-lembaran itu, tiba-tiba pintu terbuka. Menampakkan sosok atasannya yang kali ini terlihat agak kacau. "Apa ada perkembangan lagi? Dari Yamanaka?" Suara beratnya memenuhi ruangan itu. Lelaki itu melangkah mengitari meja sekretarisnya itu hingga berdiri tepat di sampingnya, kemudian membungkukkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas apa yang dikerjakan gadis berambut cokelat itu. "Ini….."
"Keberadaan Ino masih kabur, dan seseorang menggunakan id Raiga-san untuk mengutak-atik data anggaran." Ia menoleh ke sebelah kirinya dan mendapati kalau posisi wajah Neji terlalu dekat, yang membuatnya refleks melebarkan jarak diantara wajah mereka. Nama Raiga muncul beberapa kali dalam daftar yang didapatnya dari tim IT sementara dalam daftar kehadiran, ia sedang berada di luar kota pada waktu yang dicatatkan.
"Hm?" Wajah tampan itu berbalik karena Tenten tiba-tiba terdiam. Dan dihadapkan dengan wajah merah padam sekretarisnya itu. Satu tangan terangkat, ia melingkarkan lengannya di belakang kepala Tenten sebelum menempelkan telapak tangannya di dahi gadis itu. "Aneh, kukira suhu badanmu naik lagi."
Ia berusaha keras agar atasannya itu tidak mengetahui alur nafasnya yang tidak beraturan akibat perlakuan yang sebenarnya innocent itu. "Aku baik-baik saja, Hyuuga-san." Jawabnya, satu tangannya mencengkeram tangan di dahinya dan melepaskannya.
"Syukurlah." Ia menegakkan badannya namun tak berpindah dari tempatnya di samping Tenten. "Karena hasil rapat tadi memutuskan kita akan mulai dari awal, atau lebih tepatnya, tim desain akan memulainya dari nol lagi."
Tenten mengangguk, dalam hati ia berharap tidak akan ada hal ekstrim lainnya yang terjadi. Satu deringan mengalihkan perhatiannya lagi, ia melihat lelaki berambut panjang itu melihat layar ponselnya dengan penuh pertimbangan.
Tsuchi Kin
Begitulah yang terpampang di layar ponselnya saat ini. Kalau bisa jujur, kini Neji menyesal pernah menggunakan gadis itu mengulik sejumlah keterangan tentang kliennya yang terdahulu. Terlebih setelah bagaimana dia bersikeras di depan Kakuzu untuk menolak tawaran K-Fashion dan berafiliasi dengan rival mereka.
Amethyst beradu pandang dengan cokelat yang terlihat khawatir, membuat Neji menelan ludahnya, gugup. Satu keadaan yang tak sering ia alami. Ia mengangguk, memberi isyarat pada Tenten kalau ini bukan sesuatu yang serius.
"Hyuuga Neji," ia menjawab panggilan itu saat Tenten kembali menekuni pekerjaannya, mencoba agar terdengar netral dan tidak mengejutkan sekretarisnya. Mendengar suara penuh kemenangan model itu, ia berdiri dan berjalan keluar dari ruangannya. Tenten tidak boleh melihatnya yang lepas control, apalagi Neji tidak ingin kalau gadis itu tahu hubungannya dengan Kin.
Tenten hanya mengerjapkan matanya ketika Neji keluar ruangan dengan langkah yang terlalu cepat untuk orang yang berpembawaan tenang sepertinya. Tak berapa lama pintu itu terbuka lagi.
"Aku ada urusan penting. Rampungkan itu, letakkan saja dimejaku. Tapi jangan lupakan makan siangmu."
"Baik, Pak."
"Dan, tetap hati-hati. Telepon aku jika terjadi sesuatu."
"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi." Suara mesin operator itu membuat Tenten menggelengkan kepalanya. Ia baru saja kembali dari makan siang dan mencoba menghubungi Ino. Shikamaru dan Temari pun tidak bisa memberikan informasi tentang keadaan gadis pirang itu.
Kriing kriing
Dering telepon menyadarkan Tenten yang terlarut dalam pikirannya. "Divisi Perencanaan Khusus."
"Tenten-chan?" Suara laki-laki yang menyahutinya terdengar asing.
"Iya, saya Tenten. Ada yang bisa saya bantu?"
"Tenten-chan, aku Ebisu dari bagian penjualan. Setahun yang lalu kau pernah membantu kami mengumpulkan data penjualan dan survey dari pembeli. Beberapa orang di ruangan kami sudah mencarinya di gudang arsip tapi tetap tidak ketemu. Mungkin kalau kau yang mencarinya akan lebih mudah."
"Baiklah, saya akan ke ruangan anda dalam lima belas menit."
"Terima kasih, Tenten-chan. Kau sangat membantu."
Klik
Sambungan ditutup sebelum Tenten sempat membalas. Ia mengirimkan pesan kepada Neji untuk memberi tahu kalau ia akan berada di ruang arsip.
Ruangan arsip, terletak di lantai yang sama dengan ruangan untuk tim desain. Namun karena letaknya yang cukup susah untuk dijangkau, berada tepat di belakang ruangan tempat tim desain menyimpan sisa bahan baku, membuat ruangan itu menjadi tempat yang paling jarang dikunjungi seantero gedung itu. Tenten bergidik sendiri. Tumpukan kardus di sepanjang koridor membuatnya merasa claustrophobic. Ia memutar knob dan masuk ke ruangan itu.
"Setahun yang lalu, berarti di depan sini." Tenten bergumam dengan dahi berkerut, matanya terbelalak melihat posisi berkas yang dikatakan dibutuhkan itu. Berada di rak ketiga, itu bukan tempat yang susah untuk dilihat. Ia menarik berkas itu, namun menjatuhkannya saat membuka covernya. Disana, terdapat bangkai tikus, tulisan 'menjauhlah, kau tahu terlalu banyak' menjadi latarnya. Jebakan! Menyadari itu, Tenten berlari ke arah pintu namun pintu itu sudah terkunci.
Ia mengetuk beberapa kali, "halo, apakah ada orang? Tolong, aku terkunci."
"Mmmm… Huuummm." Terdengar suara yang menyahutinya dari deretan rak yang agak jauh ke dalam. Sontak ia terdiam, ini konyol tapi sebagian kecil dari otaknya mengingatkannya pada komik misteri yang pernah dibacanya saat remaja. Panik mulai menjalari Tenten, mengebaskan anggota geraknya.
Tak ingin memperparah keadaan, ia menelepon atasannya.
"Ada apa, Tenten?"
Mendengar suara Neji sedikit menentramkannya, sedikit. "Pak, maaf aku mengganggumu."
"Aku sudah kembali ke kantor. Kau masih di ruangan arsip?"
"Ya, dan kumohon-"
Brak!
Sejumlah berkas terjatuh dari tempatnya dan suara yang didengar Tenten tadi semakin jelas.
"Tenten?" Suara Neji di seberang sana meninggi. "Kau tidak apa-apa?"
"Mungkin." Ia memberanikan diri berjalan ke arah asalnya suara itu.
"Apa maksudmu dengan mungkin? Tenten?"
"Tolong ke ruangan arsip, seseorang mengunciku."
"Jangan matikan teleponmu."
Ia memandang ke sekeliling, waspada kalau-kalau orang yang menaruh ancaman itu menyerangnya. Semakin jauh ia melangkah, suara itu makin jelas. Gadis itu benar-benar bersyukur ruangan ini tidak segelap ruang arsip yang pernah dilihatnya dalam beberapa film. Apa yang ditemukannya benar-benar seperti tamparan di wajahnya. "Ino?!" Ia menjumpai Yamanaka Ino dalam posisi setengah berbaring dengan tubuh terikat dan mulut disumbat dengan kain, rambut pirang kebanggannya terurai tak beraturan, wajah bak porselennya memerah sementara air mata membasahi pipinya. Warna merah yang kontras dengan orbs aquamarinenya tak luput dari pandangan Tenten.
Telepon genggamnya terlupakan, gadis itu menghampiri sahabatnya, mencoba menenangkan Ino dan membuka ikatan dimulutnya.
"Tenten…" Life-sized Barbie itu menghempaskan tubuhnya ke arah Tenten dan menangis sejadi-jadinya. "Aku melihatnya." Ino mengatakan itu berulang-ulang di sela tangisnya.
Tenten memeluknya erat, ia tidak bisa membayangkan perasaan Ino saat ini. "Maaf Ino, aku tidak menemukanmu lebih cepat." Satu gelengan menjawab kalimatnya. "Menangislah tapi kau tak usah takut, aku ada disini." Ia membelai rambut Ino lembut, ia hanya mendekap gadis itu sambil berharap Neji segera datang.
Seumur hidupnya, Hyuuga Neji menganggap rasa takut itu sebagai hal yang memalukan. Hingga hari ini, beberapa detik yang lalu saat sekretarisnya mengatakan ia terkunci di dalam ruangan arsip. Ia takut sesuatu yang fatal terjadi dan keselamatan Tenten menjadi taruhannya.
Pekikan Tenten yang menyuarakan nama sahabatnya membuatnya mengacuhkan aturan untuk tidak berlari di koridor. "Tenten, ada apa? Hey, jawab. Ada apa dengan Yamanaka-san?"
"Hyuuga-san." Suara Sai di depan yang sedang berdiri di depan lift membuatnya berhenti, "ada apa dengan Ino-chan?" Senyum basa-basi pudar dari wajah pucatnya, berganti raut muka serius yang bisa menakuti orang dewasa sekalipun.
"Aku tidak tahu, tapi aku harus ke ruang arsip sekarang. Dan mungkin Yamanaka-san ada disana." Ia melewati Sai dan melesat masuk ke dalam lift. "Ada apa lagi?" Tanyanya tak sabar saat Sai membuka pintu lift.
"Apa lagi? Tentu saja aku ikut. Sama seperti kau menjaga sekretarismu itu, aku punya tanggung jawab yang sama terhadap desainerku." Ucapnya saat melangkah masuk dan kembali menekan tombol tutup.
Kondisi yang didapatinya membuat lelaki Hyuuga itu menggeram pelan. Orang itu memang seperti sengaja untuk bermain-main dengannya. Kunci ruangan itu tergantung di lubang kunci.
"Apa ini?" Bisikan Sai masih terdengar jelas, namun ia tak berniat sedikit pun untuk menjawabnya, yang saat itu membuka pintu dan mulai memanggil nama sekretarisnya.
"Kami disini!" Seru Tenten dari dalam, setelah mengantongi kunci pintu itu, Neji mencoba mengikuti arah suaranya.
Saat itulah jantung Neji seakan mau melompat dari tenggorokannya. Ia ingin segera melihat gadis itu, meski baru saja suaranya menyiratkan kalau dia tak apa-apa. "Tenten?" Ia menyipitkan matanya saat menangkap dua sosok di sudut ruangan. "Tenten!" Ia mempercepat langkahnya, menghampiri sekretarisnya yang mencoba membuka ikatan kaki Ino.
"Ino-chan." Suara Sai meninggi dengan tiba-tiba ketika matanya menemukan apa yang dilihat Neji, dan bergerak mendahului Neji, menggantikan Tenten untuk membuka ikatan anggota tim-nya itu. "Bagaimana bisa seperti ini?" Ia memperhatikan kondisi desainer muda yang jauh dari kata modis itu.
Ino menghirup udara banyak-banyak, penuh kelegaan, "aku melihatnya." Mata cemerlangnya menatap tajam ke arah Neji yang saat itu menarik Tenten untuk bersandar padanya.
Gerakan tangan Sai melambat seiring dengan simpul yang terurai. Suara Ino tidak terdengar ceria seperti biasanya, membuatnya menatap ketiga orang di ruangan itu secara bergantian. "Hyuuga-san?"
Neji yang sedari tadi berbisik pada sekretarisnya tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan Sai. "Siapa yang kau lihat, Yamanaka-san?" Ia mengusap lembut lengan Tenten sebelum berlutut agar sejajar dengan gadis pirang itu.
"Dia menyebutkan namamu dan Tenten," Ino menghela nafas, satu tangan Sai bertengger di bahunya, sementara Tenten menggenggam tangannya yang masih sedikit bergetar. "Orang itu melakukan sesuatu dengan komputer di ruang keuangan." Kali ini Ino menggigit bagian dalam pipinya, "raut wajahnya seperti orang yang kesurupan. Ia mengumpat Tenten berkali-kali."
"Apa kau tahu nama orang itu?" Neji, yang paling pertama merespon informasi Ino.
Ino menggeleng, "aku mengenali wajahnya. Orang itu sering kutemui di lantai dua dan tiga."
"Ebisu-san?" Tenten bertanya, orang yang menyuruhnya untuk ke ruangan arsip mengaku sebagai Ebisu.
Sekarang Ino yang menatap gadis bersurai cokelat itu seakan-akan ia mengatakan ada naga besar yang berdiam di dalam ruangan itu, "Tenten, Ebisu-san sudah dipindahkan ke pabrik Konoha Hardware sejak dua minggu yang lalu."
Tenten mengerjapkan matanya, menerima informasi dari Ino. 'Bodoh!' Batinnya pada dirinya sendiri, karena tidak mengecek daftar pegawai dengan rinci. Ia menoleh ke arah Neji yang seakan menelitinya sebelum merasakan tangan lelaki itu menepuk puncak kepalanya seperti memberitahunya tak apa-apa.
"Baiklah, lebih baik kita keluar dari sini dulu." Sai menyela dan langsung melingkarkan lengannya di belakang dan paha Ino, menggendongnya seperti pengantin. Sementara Neji mengangguk dan membelitkan lengannya di pinggang Tenten, membantunya berdiri.
Neji dan Tenten berjalan lebih dulu sebelum membukakan pintu untuk Sai. Tenten memperhatikan bagaimana Ino mengalungkan lehernya dengan nyaman di leher Sai dan menyandarkan kepalanya di dada lelaki itu saat mereka keluar dari ruangan itu. Tenten mengangkat satu alisnya sebelum meyakinkan dirinya kalau Ino hanya kelelahan.
"Tenten-san, aku akan membawa Ino ke kamar mandi di ruanganku. Tolong kau bantu dia, ya?" Sai berjalan di depan mereka,karena yang dituju adalah ruangannya.
"Baik, Pak." Tenten masih berjalan menjejeri Neji yang tetap merangkulnya, kali ini tidak ada perasaan risih dalam dirinya, ia justru merasa tenang dengan perlakuan atasannya itu.
Kedatangan Ino sontak disambut dengan tatapan curiga dan bisik-bisik dari seluruh penghuni bagian desain, membuat Sai tidak punya pilihan selain memberi perintah kepada mereka untuk tutup mulut. Kondisi kesehatan Ino perlu segera diperiksa, namun sebelumnya mereka harus memperbaiki penampilan gadis itu.
Tenten memperhatikan gadis yang sudah kembali berpenampilan rapi itu makan dengan lahap di dalam salah satu ruang ganti. Dari luar sayup terdengar suara Sai yang memberi instruksi agar sementara waktu keberadaan Ino dirahasiakan dan sekaligus menegaskan kalau bukan Ino yang memberikan desain mereka pada perusahaan pesaing. Orang macam apa yang sudah berani mengurung seorang gadis seperti itu? Tenten tidak habis pikir dengan kejadian yang dialami Ino.
"Tenten?" Suara itu menyadarkan Tenten yang sedang bersandar di dekat pintu dari pikirannya.
"Hmm?" Ia menoleh ke arah Ino yang sudah menyelesaikan makanannya. "Apa ada yang sakit?" Sesudah Ino membersihkan diri, Tenten menyempatkan untuk menangani luka-luka gores dan lecet di lengan dan kaki Ino.
"Maaf, aku sudah merepotkanmu dan yang lain." Ia menunduk, membuat poninya menutup sebagian wajahnya.
"Kau ini bicara apa? Kami lega kau sudah ditemukan, dan sepertinya Sai-san punya bukti kalau kau bukan pelakunya." Ia menyibak tirai dan melihat Sai yang duduk sambil menggambarkan sesuatu di mejanya. Neji sudah lebih dulu meninggalkan ruangan itu, hendak memeriksa sesuatu, katanya. "Setelah ini Sai-san akan mengantarmu ke rumah sakit, ia benar-benar khawatir padamu."
"Aku tidak apa-apa."
"Ino….." Sejenak Tenten tampak ragu, "aku tahu ini mungkin tidak nyaman buatmu, tapi apa kau bisa menceritakan kejadiannya?" Ia ingin tahu semuanya.
Senyum tipis tergaris di bibir Ino saat ia mengangguk, "kemarilah." Ia menepuk tempat di sebelahnya untuk Tenten. Setelah gadis berambut cokelat itu duduk, ia memulai. "Kau tahu 'kan rapat yang disebutkan Sai-san kemarin?" Ia menautkan jemari mereka, "Itu berlangsung alot dan kami hanya diberi waktu istirahat saat makan malam. Saat kembali dari pujasera di seberang jalan, aku berniat membuat kopi." Mata cemerlangnya menerawang, "kemudian aku ingat kalau gula di lantai tiga sudah habis,jadi aku menyuruh temanku yang lain untuk kembali lebih dulu. Aku mau mengambil gula di pantry lantai dua saat aku melihat suara berbisik di bagian keuangan. Orang itu berambut kecokelatan dengan perawakan sedang. Ia melihatku, kemudian mencecarku dengan pertanyaan sejauh mana yang kudengar." Ia meremas tangan Tenten, "ketika aku tidak mau mengaku, ia mendekatiku dan mencengkeram leherku." Tenten merengkuh Ino dalam pelukannya. "Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi, saat sadar aku sudah terikat di ruang arsip. Ia mengambil telepon genggamku jadi aku tak bisa meminta tolong pada siapapun."
Tenten mendengar penjelasan Ino dengan nafas tercekat. Ia punya sejumlah nama di dalam kepalanya, siapa orang yang dimaksud Ino.
"Ino-chan, Tenten-san, apa sudah selesai? Aku sudah membuat jadwal dengan dokter Haruno." Suara Sai disusul dengan kemunculan sosoknya di ambang pintu. Disekapnya Ino bisa membuat buruk reputasi perusahaan mereka jika terdengar oleh pihak luar, sehingga kali ini Sai mencoba menghubungi kawan lamanya dan meminta kesediaannya untuk merahasiakan kunjungan Ino.
"I-iya, Pak." Ino menyahut, satu senyum kecil di lemparkannya ke arah Tenten. "Terima kasih, Tenten."
"Oh ya, Tenten. Hyuuga-san memintamu di ruangan setelah kau selesai." Sai menambahkan, ia membalut Ino dengan mantel sebelum keluar ruangan.
"Iya, Pak." Tenten mengangguk dan membisikkan ucapan selamat jalan pada Ino sebelum merapikan kembali ruangan kecil itu.
Dua botol air mineral dengan isinya yang berayun-ayun seirama langkah kaki Tenten menemaninya kembali ke ruangannya sore itu. Sesekali kepalanya menunduk ketika menyapa karyawan lain yang ditemuinya.
"Kau!" Suara yang agak keras dari arah belakangnya itu menghentikan langkahnya. Ia terbelalak saat melihat pelakunya, yang berdiri dengan telunjuk teracung ke arah Tenten. Orang-orang yang melewati lantai itu pun berhenti saat mendengar ucapan setengah histeris itu.
"Ya, ada apa?" Tenten bergerak mendekati lelaki yang kini terlihat gemetar sekujur tubuhnya. Ekspresinya diantara tidak percaya dan marah.
"Bi-bisanya…" Ia terbata.
"Bisanya apa, Karashi-san?" Suara tenang itu diikuti suara langkah kaki yang seperti mengkomando orang-orang yang ada disitu untuk diam. Hyuuga Neji, menampakkan diri dengan seringai sadisnya disana, di tangannya terlihat sejumlah kertas. Ia memandang lelaki yang mengacungkan tangan pada sekretarisnya, "aku tanya apa yang 'bisanya', Karashi-san?" Kali ini ia seperti menantang staf keuangan itu untuk meneruskan kalimatnya.
Karashi terlihat memucat di tempatnya, sementara Tenten memandang atasan dan rekannya sesama karyawan itu secara bergantian.
"Bisanya Tenten keluar dari perangkap ruang arsip yang kau susun?" Tenten menutup mulutnya tak percaya mendengar kalimat yang dilontarkan Neji. "Ada banyak hal yang harus kau jelaskan, Karashi-san."
xxxxx bersambung xxxxx
Chapter 9.1 (short side story)
Semerbak bunga mawar merongrong indera penciuman Neji sejak ia menginjakkan kaki di café ini, dimana Kin mengundangnya. Lelaki beriris polos itu hanya menatap wanita berambut gelap di depannya yang terlihat sangat menikmati santapannya. Ia tidak ingin berada disini, tapi keadaan yang menyeretnya harus menemui gadis itu.
"Hmm, ada apa, Neji? Kau tidak menyukai makanannya?" Wanita itu akhirnya menyadari kalau Neji tidak menyentuh apapun yang dihidangkan untuknya sama sekali.
Ia memutar bola matanya malas. "Cukup dengan sikap pura-pura polosmu itu, Kin. Apa maumu mengajakku kesini? Kau tahu, aku sibuk."
"Ya, sibuk merayu gadis berambut cokelat itu 'kan?"
"Hn," ya, kadar penyesalan Neji untuk mengenal Kin meningkat dua ratus persen.
"Kau tahu, aku merindukanmu, Neji." Ia meletakkan garpu dan pisaunya, memandang ke arah Neji dengan tatapan mengharap iba. "Semenjak kau menerima tawaran K-Fashion, kau jadi jarang mengunjungi bar Hidan. Kau semakin jarang pula untuk menemuiku, semua karena gadis cokelat itu 'kan?"
"Kin," suaranya menyerupai bisikan namun terdengar jelas betapa geramnya lelaki Hyuuga itu. Ya, ia menghentikan semua hal yang dulunya seperti rutinitasnya sejak menerima pekerjaan dari Sarutobi-sama. Tapi itu bukan semata-mata karena Tenten. Sekretarisnya itu memang punya andil, membuatnya melihat ke sisi yang lebih baik. Ya, sejak melihat kerja keras gadis itu, ia jadi mengingat kembali tujuan semulanya sebelum memulai pekerjaannya. Ia mengingat kembali bagaimana ia bertekad untuk berhasil tanpa campur tangan keluarga Hyuuga setelah ia menentang keputusan pamannya tujuh tahun yang lalu.
Jemari dengan kuku terpoles coral pink mengangkat segelas anggur dan menyesapnya, "kau berubah dingin sekarang. Aku bahkan sampai harus bekerja sama dengan saingan K-Fashion untuk merebut perhatianmu." Ia terkekeh licik. "Ooops, ah, apa yang kukatakan ini?" Iris gelapnya berkilat nakal, "tapi kau tahu, Hyuuga-san. Aku tidak akan bisa kau manfaatkan lagi. Kau seperti itu 'kan? Meniduri gadis-gadis hanya untuk mendapatkan informasi."
"Apa kau sudah selesai?" Apa yang diucapkan Kin menyesakkan dada Neji, seperti sebongkah batu dihantamkan berkali-kali tepat di atas jantungnya. Ya, ia memang seperti itu, dulu sekali. Namun semenjak media mengenalnya, ia menghentikan kebiasannya itu. Ia berdiri, mengingat sekretarisnya yang ia tinggalkan sendiri.
"Aaaah, apa jadinya kalau Ten-chan yang lugu mendengar siapa sebenarnya bos terhormatnya ini? Bos yang menggunakan cara kotor untuk sukses."
Neji memukulkan tangannya ke meja dan menatap Kin tajam. "Lakukan itu, dan aku akan memastikan skandalmu dengan beberapa pemimpin perusahaan akan terbongkar. Mungkin kau pandai menyewa mata-mata, tapi kau lupa, aku punya mata dimana-mana." Dengan itu ia menaruh beberapa lembar uang di meja dan berlalu.
Terima Kasih sudah membaca
.
.
.
.
Double Thanks untuk yang sudah membaca, favorite, dan subscribe di chapter 8.
See you in the next chapter. :)
