Office Temptation
by V-R-Ka
Chapter XI
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Happy (?) Reading
Hangat sinar matahari pagi yang menerpanya membuat Tenten menekan kedua kelopak matanya lebih rapat. "Hmm," permukaan lembut yang menyapu pipinya membuat Tenten tersenyum, segera saja gadis itu memeluk gulingnya lebih erat. "Hm?" Merasakan tekstur bantal yang tak seempuk biasanya, ia dengan enggan membuka matanya dan langsung berhadapan dengan permukaan … kemeja. Eh? Ia menjauhkan kepalanya dari tempatnya bersandar, dan sontak menarik tangannya seperti ia baru saja memegang api. Di sampingnya, baru saja dilepaskannya, seorang Hyuuga Neji yang tertidur pulas.
Menyadari kehangatan yang tadinya menempel di bagian depan tubuhnya menghilang, Hyuuga Neji dengan berat membuka sebelah matanya. Ia menggeram pelan, sinar matahari pagi itu terlalu menusuk dan kepalanya seperti ditarik kesana-kemari. "Ah Tenten, selamat pagi." Sapanya dengan suara serak setelah ia bisa fokus dengan untaian rambut cokelat di hadapannya dan mengingat siapa yang ia bawa pulang semalam.
Yang disapanya hanya menatapnya tajam dari balik poninya yang masih tak beraturan, rambutnya yang biasanya dikonde dua tergerai bebas. Ini bukan sepenuhnhya salah lelaki itu. Semalam, Neji berada di bawah pengaruh alkohol. Dan ia, sebagai yang sadar saat itu harusnya bisa mengatakan 'tidak' saat Hyuuga itu menahannya. "Aku akan mengabaikan ini karena semalam aku kelelahan dan kau mabuk, jadi tidak ada 'sesuatu' yang serius di antara kita." Ia berbicara dengan intonasi formal yang sering di dengar Neji di awal perkenalan mereka dan membuat tanda kutip di udara saat mengucapkan 'sesuatu'.
Neji menekan dahinya dengan pergelangan tangannya, berharap itu bisa mengurangi rasa sakit di kepalanya. Nada bicara Tenten seperti menusuk di bagian tengah kepalanya. Itu mungkin terakhir kalinya ia akan minum minuman keras, mungkin. "Maaf." Bisiknya sungguh-sungguh.
"Tak apa, bukan sepenuhnya salahmu." Tenten membalas pelan, sedikit khawatir karena kondisi atasannya itu terlihat buruk. Ia bergegas turun dari tempat tidur dan keluar kamar, kemudian kembali ke tempat Neji berada bersama dengan segelas air putih hangat. "Minumlah dulu." Ia membantu lelaki itu hingga berada di posisi setengah duduk lalu memberikan airnya.
"Terima kasih," ia bersandar pada susunan bantal yang sudah dengan cepat dibuat Tenten dan meneguk air putihnya sampai habis. "Aku benar-benar minta maaf, Tenten. Semalam itu aku benar-benar mabuk." Ujarnya setelah meletakkan gelas kosongnya di meja samping tempat tidur. Seperti ada yang menarik hatinya saat melihat ekspresi Tenten, gadis itu seperti terjebak di antara rasa malu dan khawatir. Neji bersyukur sekretarisnya itu masih membantunya yang benar-benar hangover atau dia harus merangkak untuk mengambil air.
Tenten meletakkan dua cangkir kopi dan dua piring makanan di atas meja. Di depannya, duduk seorang Hyuuga Neji, dengan kepala yang bertumpu pada tangan terlipat di tepian meja. "Pak, sarapannya sudah siap." Ia mengguncang lengan Neji pelan.
Lelaki itu mengangkat kepalanya pelan. Tenten yang mengenakan celana piyama dan kaos yang dipinjam darinya terlihat sangat menyenangkan bagi matanya. "Maaf, kepalaku agak," ia tak melanjutkan kalimatnya, hanya menegakkan posisi duduknya dan menghirup udara dalam-dalam. "Terima kasih, Tenten." Saat ia melihat sajian di depannya.
"Apa jadwalmu hari ini?" Tanya Tenten, catatan pada agendanya berubah total.
Neji mengunyah makanannya lambat-lambat, "Mmm, aku akan menemui dua orang pimpinan rekanan baru kita. Dan mungkin menjamu salah satu dari mereka saat makan siang nanti." Ia nampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan, "ada satu perusahaan lagi, mereka ingin menandatangani kontraknya siang ini, apa kau bisa mewakiliku?"
"Baik, Pak." Jawab Tenten singkat, tak berani menatap ke arah sepasang amethyst yang tertuju kepadanya. "Tapi sebelumnya, saya harus pulang untuk berganti pakaian." Ia memandang ke bawah, pada setelan baju tidur yang dipinjamkan Neji padanya.
"Apa kau bisa menyetir?" Tanya Neji sebelum menyuapkan makanan ke mulutnya, ia menunggu jawaban Tenten sambil mengunyah lambat-lambat. Lidahnya terasa dilapisi pasir, makanan beraroma menggoda jadi tak terasa sama sekali, sudah berapa lama sejak ia terakhir kali mabuk berat?
Tenten terkesiap mendengar pertanyaan Neji, "bisa, kurang lebih." Jawabnya dengan wajah yang aneh, seakan berpikir dua kali akan jawabannya.
Neji menelan makanannya dan mengangguk, ia tak bisa mengemudi dengan kepala yang sakit dan Tenten tak yakin dengan dirinya sendiri. Ia menyodorkan telepon genggamnya ke arah Tenten, "tolong telepon Shikamaru untuk kesini. Katakan padanya, aku minta waktunya seharian ini."
Tenten mengambil alat komunikasi yang disodorkan padanya, yang secara mengejutkan , tak diberi sandi atau kode apapun. "B-baik, N-Neji." Ia bergidik mendengar suaranya sendiri, atas dasar apa ia merasa gugup?
"Handphone bukan tempat yang aman untuk menyimpan informasi." Tuturnya tiba-tiba, seakan membaca pikiran Tenten.
Tenten hanya mengangguk pelan, atasannya itu sudah kembali makan, meski dengan gerakan yang sangat lambat.
"Ini masih terlalu pagi untukku, apa yang kau inginkan, Hyuuga?" Suara berat dari seberang telepon menyahuti panggilan Tenten dengan intonasi seakan baru saja terbangun.
"E-pagi, Shikamaru. Ini Tenten," suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar terlalu tinggi bahkan untuk telinganya sendiri. "Neji memintamu untuk ke rumahnya, ia minta waktumu seharian ini." Ia menyebutkan tujuannya menelepon dengan sedikit lebih lambat.
"Tenten? Apa yang kau lakukan bersama orang itu sepagi ini?" Shikamaru terdengar sedang menyelidiki.
Tenten berjengit, "Eh itu," ia menggigit bibirnya cemas sambil menggenggam handphone milik Neji erat dengan kedua tangannya. Satu kata yang salah dan Shikamaru akan menyeretnya pulang. Ia menatap ke arah Neji yang sudah menyelesaikan makanannya dengan setengah memelas, berharap lelaki itu mau membantunya menemukan jawaban untuk Shikamaru.
"Aku kesana sekarang, dan akan sangat baik jika aku mendapati kalian dalam keadaan yang wajar." Suaranya terdengar menggerutu sebelum bunyi telepon dimatikan membuat Tenten menjauhkan telepon genggam dari telinganya.
Ia menghela napas berat sambil menyerahkan ponsel Neji padanya, konsultan muda itu hanya menerimanya dengan satu seringai puas. "Kau bekerja dengan baik, terima kasih. Makanlah, saat Shikamaru tiba disini, kita akan segera berangkat."
Tenten memandangi kedua kursi di depannya bergantian. Setelah Neji mengucapkan kemana Shikamaru harus membawanya, sahabat laki-lakinya itu mengangguk dan melajukan mobilnya. Membuat Tenten kebingungan dengan sikap keduanya, ditambah lagi dengan aura menyeramkan yang seakan keluar dari lelaki yang berada di balik kemudi.
Saat Shikamaru tiba di apartemen Neji, ia langsung mengamati Tenten dari puncak kepala hingga telapak kakinya, sebelum menoleh dengan tatapan penuh peringatan pada Neji. Tenten bergidik sendiri mengingat kejadian itu, Shikamaru nyaris tak pernah membuka matanya lebar-lebar, tapi tadi pagi ia memelototi mereka berdua seperti bola matanya akan melompat keluar.
"Ini, bacalah. Semuanya ada disini." Shikamaru mengambil satu tumpukan kertas yang dijepit rapi pada Neji. Tenten yang sedari tadi melamun, mencoba menangkap isi lembaran kertas itu. "Kau tahu, akan sangat merepotkan." Ia memakirkan mobilnya di depan salah satu perusahaan yang menangani pengolahan kapas.
"Terima kasih," ucap Neji datar, ia memasukkan kertas-kertas yang diberikan Shikamaru ke dalam tasnya. "Akan segera kubaca." Ia kemudian menoleh pada Tenten yang duduk dengan wajah kebingungan. "Aku sudah mengatakan pada Yugao kalau kau mendampingiku menemui rekanan hari ini. Pulanglah dulu, lalu temui rekanan yang kukatakan padamu. Aku akan mengirimkan alamat dimana kau harus menemuinya. Shikamaru akan menemanimu seharian ini. Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu."
"I-iya, Pak." Tenten menjawab dengan anggukan cepat.
"Cih, kau jauh lebih berbahaya daripada apapun di luar sana." Dengus Shikamaru saat Neji sudah turun dan menutup pintunya. Tenten menghadiahinya satu cubitan di lengan karena itu, "ada apa denganmu? Sakit, tahu." Ia kembali memasang ekspresi malasnya sembari mengemudi. "Tadinya aku ingin menginterogasimu, bagaimana bisa kau berada di apartemen seorang Hyuuga Neji semalaman?" Shikamaru bicara lagi. "Tapi melihat kondisimu, aku lega karena aku tak harus memukuli orang sepagi ini."
"Cih," Tenten mengkerutkan kening pada kalimat Shikamaru. Meskipun ia paham kalau sahabatnya itu mencemaskannya, ia merasa hal itu terlalu berlebihan. Hyuuga Neji tak akan melirik dua kali ke arahnya. Dan fakta itu membuat ada cengkeraman besar yang menyesakkan dadanya.
Kaki yang diselonjorkan di atas meja, tangan yang terlipat di belakang kepala dengan lantunan musik klasik. Nara Shikamaru serasa berada di kamar paling mahal di hotel bintang lima, padahal pada kenyataannya, dia berada di ruangan kerja Neji dan Tenten, menunggu pemilik ruangan kembali dari pertemuan mereka masing-masing. Ia tadinya menurunkan Tenten di salah satu kantor mitra kerja perusahaan mereka, dan Tenten menyuruhnya untuk ke kantor karena mungkin saja Neji membutuhkannya.
"Comfortable much, huh?" Suara berat Neji membuat Shikamaru membuka sebelah matanya.
Ia mengangguk pelan menjawab, "nyaman, untuk ruangan sekecil ini." Ia melirik ke arah Neji dari sudut matanya. "Dan dengan ruangan kecil seperti ini, aku harap kau tempat dan tidak melakukan hal yang mengganggu personal space Tenten." Intonasinya pelan namun tegas.
Satu alis Neji terangkat mendengar deklarasi partner kerjanya itu. "Oh, soal itu," ia menyeringai kecil sebelum melanjutkan, "apa yang akan kau lakukan kalau kubilang aku serius padanya?"
Shikamaru tergelak, "serius? Hyuuga Neji serius akan seorang perempuan? Kau pandai melucu ya sekarang." Ucapan Shikamaru diikuti pandangan tak percaya, ia berdiri tegak dan berjalan ke arah kursi kerja Tenten. "Lakukan apapun yang kau mau. Tapi, sakiti Tenten dan aku akan membuatmu melupakan mimpimu untuk bisa mandiri tanpa campur tangan keluarga Hyuuga."
Rahang Neji mengeras, Shikamaru tahu semuanya dan sekarang dia memanfaatkan itu. Menyakiti Tenten? Rahangnya seakan mengatup rapat, ia sudah melakukannya, meski sekretarisnya itu belum tahu. Gadis itu amat percaya padanya dan seakan menganggapnya pahlawan atau semacamnya. Ia tidak berani membayangkan apa yang akan dikatakan Tenten jika ia mengetahui hal-hal yang pernah dilakukan Neji dalam menuntaskan pekerjaannya. Tanpa alasan, ia ingin jujur dan membuka semua kebusukannya di depan gadis bermata cokelat itu. Namun ia merasa belum siap kalau-kalau pada akhirnya gadis itu menjauh dan menghilang dari hidupnya.
"Hyuuga?" Panggil Shikamaru ketika tak ada respon yang keluar dari mulut Neji. Ia menoleh ke arah sahabat –ya, mereka bisa dikatakan memiliki hubungan layaknya sahabat, saling menutupi aib masing-masing- nya.
"Aku mengerti," jawab Neji pelan pada akhirnya. Tak ada gunanya meyakinkan Shikamaru dengan kata-kata. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terkenal sebagai pedang bermata dua, jadi tak mungkin ia menggunakan itu untuk meyakinkan Shikamaru. Karena lelaki itu tidak akan percaya.
Deringan ponselnya mengalihkan perhatian Neji, ia menoleh sejenak ke satu notifikasi disana.
Temui aku di kafe kemarin, ada yang akan kuperlihatkan padamu. Dan aku tahu pasti, ini akan menarik minatmu.
Begitu bunyi pesan yang terbuka. Sesaat kemudian, pesan lain menyusul.
Atau kau lebih suka kalau sekretaris mungilmu itu melihat kelakuan kotormu beberapa waktu yang lalu?
Ia meremas alat komunikasi itu, berharap nama pengirim pesan itu berubah atau bahkan menghilang sama sekali. Ia tidak ingin lagi berhubungan dengan perempuan itu, tapi ancaman itu. Peduli setan dengan reputasinya, ia justru khawatir jika semuanya terbongkar, hubungannya dengan Tenten akan memburuk.
Shikamaru yang sedari tadi membolak-balik kertas yang ditemukannya di meja Tenten tiba-tiba berseru, "Oh Neji, aku lupa memberi tahumu. Aku baru saja menemukannnya. Kau tahu, desainer utama kalian, Sai. Dia putra bungsu pemilik R-Couture."
.
.
.
.
xoxo Bersambung xoxo
Hi, Hello, Anyeong.
*ditabok*
Akhirnya saya balik mengantar sambungan fic gaje ini lagi.
Terima kasih sudah membaca, terima kasih juga untuk reviewnya di chapter sebelumnya.
Dan,
maaf kalau saya update-nya kelamaan dan hasilnya tidak seperti dugaan kalian.
See ya in the next chapter. xoxo
