Another Destiny : CRIMSON
Disclaim : M. Kishimoto
Warning : Typo, OOC, Gak jelas, Banyak kekurangan
Genre : Romance-Family
Rate : T (?)
Summary : Saat kau tak bisa melihat warna dalam hudupmu. Dan itu mulai berubah. Aku ... memilih menjalaninya. Aku membenci kesendirianku. Harapanku terlalu banyak. Aku menginginkannya, dalam ego dan kesalahanku. Uzumaki Naruto... Pertarungan sesungguhnya akan dimulai. Dunia Shinobi akan mengenang peranmu.
.
.
.
Tak ada yang kulihat selain gelap. Tak bisa kurasakan apapun juga. Namun aku lelap. Tanpa mimpi apapun. Sebelum suara seseorang mengusik tidurku. "Naru..." Aku tetap bergeming. Aku tidak bisa bangun. Mataku berat untuk terbuka. "Naruto-kun," ohh ayolah ... aku masih mengantuk. Aku beringsut. Namun kurasakan ada yang mengetuk dahiku.
"Bangun Naru... Kau ada ujian kelulusan sekarang. Atau kau akan selamanya menjadi genin sepertiku." Nadanya sudah terdengar mengancam. Dan selalu menggunakan kata yang sama itu.
Membuatku terpaksa untuk bangun juga. Aku masih duduk di atas kasurku. Mengumpulkan kesadaran dan memori-memori keseluruhan. Dan aku ingat kenapa aku sengantuk ini. Aku tidur tidak lebih emapat jam. Semalam ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Tak perlu kujelaskan itu apa. Bukan hal yang istimewa yang bisa dilakukan bocah sepertiku.
Hahh ... tapi bukan itu juga alasannya. Aku memang tidak bisa membiasakan diriku bangun pagi. Tidak sebelum Nee-chan membangunkanku. Dengan kata-kata yang selalu sama dan selalu bisa membuatku terpaksa bangun.
Mataku terbuka saat cahaya matahari menghantamku dengan keras. Baiklah... Aku turun dari ranjang. Melihat Nee-chan yang baru kembali dari 'meminta bantuan mentari'. Dia sudah rapi dengan jas panjang putih. Membungkus baju lilac di dalamnya. Dia masih sama seperti dulu. Wajah bulat, rambut tergerai, mata onix. Hanya lebih tinggi saja. Terlihat remaja. Dan minus ikat kepalanya yang sudah tak pernah ia pakai lagi. Memperlihatkan wajah putihnya secara seluruh.
Alisnya terangkat menatapku. Aku terlalu mengantuk untuk bilang jika menyukai mata itu. Dia berkacak pinggang sebelum melangkah keluar. "Cepatlah mandi, kau tidak boleh terlambat seperti biasa." Nasehatnya menuju ruang depan.
Aku mengambil handuk dan keluar dari kamarku juga. Menuju kamar mandi yang ada di sebelah kiri. Cukup mengembalikan kesadaranku dengan air dinginnya. Namun tetap saja rasa kantuk ini tidak hilang setelahnya. Aku memakai jaket orangeku seperti biasa.
"Jangan lupa makan, Naru. Dan makan juga sayurnya." Kudengar seruannya dari ruang depan. Tidak perlu berteriak, rumah ini memang kecil. Aku mendengus mendengar kata sayur itu. Seolah aku tak pernah memakannya. Yahh, aku akui ... beberapa kali. Tapi itu frekuensi 0,1 dari sepuluh. Masakannya memang enak, lebih baik dari pada ramen cup. Tapi masakan selain ramen yang kusuka itu bisa dihitung. Dan tidak mungkin juga dia selalu masak satu menu yang sama setiap hari. Jadi terkadang itu tidak cocok dengan lidahku. Itu membuatku hanya makan kuah dan nasinya saja.
"Aku berangkat sekarang, Naru. Jika kau mendapat nilai di atas biasanya. Aku akan pulang membawa hadiah." Ucapnya.
Aku mendengus lagi mendengar tekanan di 'biasanya' itu. Namun aku cukup tergugah dengan kata hadiah. "Aku menunggunya, Nee-chan. Itterasshai..." seruku ceria membalasnya. Kudengar pintu ditutup. Mengartikan dia sudah pergi. Aku keluar dari kamar dirasa sudah siap. Dan menghampiri meja makan yang terhidang semangkuk nasi dan sup ikan lengkap dengan sayurnya. Ini akan kuhabiskan.
Sudah empat tahun sejak kejadian itu. Dan sejak kita tinggal bersama hingga sekarang. Aku ingat bagaimana Jiji mengurus semuanya dengan keras dan serius. Saat itu ... Jiji membawa kami berdua ke rumah ini. Rumah kecil yang dulu sempat hancur karena amukan Kyuubi. Namun dibangun kembali dan dengan pemilik yang baru juga. Dan saat itu, pemiliknya Jiji tawarkan tempat yang baru. Itu lebih tepat sebuah perintah untuk mereka. Tak ada yang cukup kuasa menolak permintaan Hokage. Terlebih warga. Walau Jiji tak sedikitpun memaksanya. Dan akhirnya mereka bersedia untuk pindah. Dengan juga imbalan yang lebih dari kerendahan hati Jiji.
Lalu Jiji mulai menjelaskan kenapa dia menyuruh dan memilih rumah ini untuk kami tinggali. Ada beberapa poin. Pertama, ternyata ini adalah rumah orang tuaku sebelum ganti pemilik dan direnovasi. Namikaze Minato, Yondaime Hokage, orang yang paling kukagumi dan bercita-cita menjadi Shinobi sepertinya... Ternyata dia adalah ayahku. Dan Uzumaki Kushina, marga yang kupakai di namaku... Dialah ibuku, wanita yang melahirkanku. Jelas aku tidak mungkin percaya pada awalnya. Aku yang berpikir bahwa mungkin aku memang tidak memiliki orang tua, atau mereka sengaja membuangku. Ternyata orang tuaku adalah seorang pahlawan. Pahlawan untuk desa dan diriku, putranya. Aku begitu senang mengetahuinya. Dan aku benar percaya setelah Jiji menanamkan memori kejadian sebenarnya yang membuat mereka meninggal. Dan alasan kenapa aku seperti ini. Aku tidak menyalahkan mereka, sedikitpun. Aku bangga kepada ayah dan ibuku. Bangga menjadi anaknya. Aku menyayangi mereka dari dalam hatiku ... itu sungguh. Dan aku juga tidak menyalahkan Kyuubi yang ada dalam diriku. Walau sempat marah karena dia membunuh orang tuaku. Namun saat Jiji menjelaskan semuanya, aku sadar Kyuubi bukan sepenuhnya dalang dibalik kejadian itu. Dan ... karena Nee-chan yang juga menemaniku saat itu. Meski dirinya sama terpuruknya denganku. Itu membuatku menyayanginya seperti keluargaku. Seperti aku kepada orang tuaku.
Dan poin kedua ... karena alasan hidup baru. Lebih tepat untuk Nee-chan. Dalam arti, kenapa terjadinya pembantain klan Uchiha adalah karena sengketa yang terjadi sebab kesalahfahaman. Yang membuat mereka berencana melakukan kudeta besar-besaran. Demi mengembalikan nama klan dan kedudukan. Jelas siapapun tidak ada yang menginginkan itu. Perang saudara akan menimbulkan dampak lebih buruk dari apapun yang menimpa desa. Namun ... seorang Anbu ganda ditugas sesuatu yang berat. Berat untuknya karena dia juga Uchiha. Diberi perintah membantai klannya sendiri untuk menghindari perang yang terjadi. Dan Jiji mengetahui hal itu setelah Anbu tersebut berhasil melakukan semuanya. Setelah Uchiha terbunuh semua selain satu anak.
Dan karena semua berpikir bahwa hanya satu orang yang tersisa ... tak ada yang mengetahui bahwa ada Uchiha lain yang juga masih hidup. Dialah Nee-chan.
Jiji berkata, bahwa mungkin saja jika ada yang tahu ada Uchiha lain, maka Nee-chan akan banyak diincar dengan berbagai alasan. Karenanya Jiji berusaha menyembunyikannya saat itu. Bukan karena Jiji tak sanggup melindunginya. Tapi kondisi waktu itu begitu sulit. Dan jiji mencoba memberi pilihan kepadanya. Yaitu, agar Nee-chan tak lagi bertarung terutama menggunakan matanya. Dalam arti ... berhenti menjadi Shinobi. Tapi Jiji juga tidak memaksa. Nee-chan boleh jika memilih tetap melanjutkan menjadi Shinobi. Dan Jiji juga berjanji akan melindunginya sama seperti melindungi Sasuke, Uchiha satu-satunya tersisa yang diketahui orang.
Namun Nee-chan tidak ingin mempersulit lebih dari kondisi saat itu. Terlebih saat itu dia juga sudah cukup matang untuk membuat sebuah pilihan. Tidak seperti Sasuke yang masih seumuranku, yang tidak mungkin Jiji memberikan diplomasi kepadanya. Jadi Nee-chan memutuskan berhenti menjadi Shinobi dan berjanji tidak akan menggunakan matanya lagi. Aku melihat jelas kekecewaan di wajah Jiji waktu itu. Tak bisa dipungkiri, aku juga sempat kecewa. Namun itu pilihan terbaik Nee-chan. Pilihan dari dalam dirinya. Dia yakin dan berkata hanya ingin hidup bersamaku dan merawatku sebagai kakak. Dan saat itu aku berjanji pada diriku ... tak akan kubiarkan satupun hal yang menyakitinya. Dan tidak akan pergi dari sisinya.
Jiji tidak sampai pada situ saja. Hanya karena Nee-chan tidak akan menggunakan matanya lagi, tidak membuat dia tak dikenali sebagai Uchiha. Saat itu Jiji memerintahkan Anbu dan beberapa dari badan Intelegen untuk mencari siapapun orang yang kenal dengan Nee-chan. Dan mulai menghapus memori mereka tentang Nee-chan. Dari mulai teman se-akademi hingga Jounin yang pernah menjadi gurunya. Bahkan itu berlaku untuk Anbu-anbu juga setelahnya. Siapaun yang berkaitan dengan masalah waktu itu, harus 'sukarela' menjalani penghapusan memori. Semua itu cukup memakan waku. Namun berhasil dilakukan dengan halus dan teliti. Jangan remehkan gelar Professor Jiji.
Hingga akhirnya ... nama Uchiha Izumi tidak pernah ada. Hanya Izumi, orang mengenalnya saat ini. Tak ada satupun yang mengetahui dia Uchiha. Siapapun bahkan para petinggi. Tak ada selan aku dan Jiji. Dan juga ... Uchiha Itachi. Anbu yang mengemban tugas membantai keluarga dan klan-nya sendiri. Yang tidak langsung adalah pemuda yang dikagumi Nee-chan selama ini. Bukan kagum seperti aku kepada ayahku, Yondaime. Sesuatu yang berbeda dari itu.
Dan mengenai apa yang dilakukan Nee-chan selama ini, jelas bukan berarti Nee-chan tak bisa apa-apa lagi. Mudah ditebak apa pekerjaan dia dengan jas putihnya. Benar ... dia menjadi dokter, atau perawat, apalah dia menyebutnya. Yang jelas, mulai hari itu dia mengembangkan ilmu medisnya. Dan Jiji jelas mendukung keputusannya itu.
Itulah kenapa dia selalu mengatakan 'menjadi genin selamanya' setiap pagi. Aku pernah dan sering menyuruhnya untuk tidak mengatakan itu. Tapi dia hanya menjawab, cuma itu yang bisa membangunkanku. Dengan senyumnya yang aku tak bisa mendebatnya lagi.
Aku keluar rumah setelah memakai sepatu. Membawa ransel di punggung. Tidak lupa menaruh mangkuk makan tadi di tempat pencuci terlebih dahulu. Aku tidak mengambil resiko Nee-chan marah jika tahu aku membiarkannya di meja. Walau dia jarang pulang lebih dulu dari aku. Biasanya dia akan kembali petang. Sedangkan aku jam 3 sore sudah ada di rumah. Tidak jarang juga dia pulang larut. Dia juga selalu berangkat lebih dulu dari aku. Terkadang kita juga berangkat bersama. Tapi itu hanya sampai di persimpangan depan. Karena arah Akademi dan rumah sakit berbeda dari rumah kami. Kebersamaan kami hanya di waktu malam dan hari libur. Dan aku menikmati itu.
Akhirnya aku sampai di pintu Akademi. Melangkah masuk dan menuju kelasku.
"Hoi, Naruto..." Aku mendengar teriakan suara yang kuhafal jelas dari belakangku. "Kau terlambat lagi?" Lanjut suara itu dengan nada tajam dan terdengar marah.
Aku menoleh dan melihat Iruka-sensei di sana. Memandangku marah. Ayolahh... "Aku di depanmu, Sensei. Aku belum terlambat." Itu pernyataan masuk akal dariku, dan aku berlari menuju kelas. Atau guru satu itu akan menyeretku.
Aku mendudukkan diri di samping anak yang selalu sebangku denganku. Dia ... Uchiha Sasuke. Yang selalu dingin dan sok keren. Tidak pernah memandang siapapun. Aku tahu dia merasakan hal yang tidak menyenangkan setiap waktu. Itu membuatnya seperti ini. Aku tahu betul karena aku pernah merasakannya. Jadi, aku sering menganggu dia untuk menarik perhatiannya. Aku tidak perduli perhatian anak-anak lain. Meski aku selalu kalah dan terlihat konyol. Namun sejatinya aku hanya tidak ingin ada orang yang merasakan hal yang sama yang pernah aku rasakan dulu. Aku ingin mengambil langkah yang sama, dengan yang pernah Nee-chan lakukan padaku.
Iruka-sensei datang tepat setelahku. Dia masuk dengan memandangku horor. Aku menelan ludah, berharap tak ada hukuman lagi.
"Baiklah, Minna!" Sepertinya tidak. Dia berjalan ke atas podium dan memulai pelajaran. Ohh ... lebih tepat ujian kelulusan. Sperti yang dikatakan Nee-chan tadi.
"Untuk nama yang kupanggil, silahkan mengikutiku menuju ruangan ujian. Dan lainnya menunggu giliran masing-masing."
"Huue! ... Jadi tidak di sini, Sensei?"
"Mah, kali ini berbeda. Ini ujian terkahir untuk kalian menuju kelas selanjutnya. Yaitu Genin." Iruka-sensei menanggapi santai protes anak-anak. Meski cukup serius untuk tak didebat lagi. "Baiklah, yang pertama ... Haruno Sakura," lanjutnya.
"Hai' Sensei." Jawab anak perempuan bersurai pink dan mengenakan pita di kepalanya. Aku memiliki hubungan dengan dia. Maksudku bukan hubungan baik. Setiap kali aku mengganggu Sasuke, dia dan teman pirangnya selelu menghajarku. Jadi secara tak langsung kita sering terlibat.
"Makan itu, Sakura!"
Umur panjang. Dia rekan 'menghajarku' itu. Sekaligus rivalnya. Perempuan berambut pirang pucat, Yamanaka Ino. Akhir-akhir ini aku jadi membenci perempuan.
"Tunggu saja giliranmu, Ino..."
Benar-benar rival. Aku jadi berpikir ... apa mungkin, jika Sasuke berakhir menikah salah satu dari mereka, maka satunya juga akan berkhir denganku? Karena aku dan Sasuke juga rival. Tapi aku tidak berpikir akan menghabiskan hidupku dengan salah satu mereka. Oh, sial ... sampai mana pikiranku itu? Itu tak seharusnya ada dalam kepala seorang bocah, Naruto.
Tidak cukup lama Sakura kembali ke kelas. Apa ujiannya mudah? Aku sedikit gugup.
"Sasuke-kun..." Dia berteriak kelewat lantang jika hanya agar terdengar. Berlari dan berhenti di sampingku. "Selanjutnya giliranmu, Sasuke-kun." Katanya untuk Sasuke. Ekspresinya teralalu senang. Apa karena ujiannya berjalan dengan mudah, atau karena dapat berbicara dengan Sasuke. Yang kedua lebih tepat.
Sasuke berdiri angkuh dan mulai keluar bangku. "Minggir, Dobe!" Perintahnya dingin kepadaku. Aku mengangkat kakiku agar dia bisa lewat.
"Aku kasihan padamu, Teme." Kataku mendecih kesal.
"Ini mudah bagiku. Urus saja dirimu, Dobe." Tch ... apa dia tidak sadar betapa menyebalkan sikapnya itu. Aku ingin sekali menghajarnya di sini. Tidak ada Iruka-sensei yang akan menghentikan kami. Tapi rasanya, aku tidak yakin akan menang. Baiklah ... setidaknya dia menjawabku, daripada tidak.
"Ganbatte, Sasuke-kun!" Sakura berbicara lagi. Tidak, salah ... semua anak perempuan berteriak begitu. Sangat berisik dan histeris. Ohh, ini semakin membuatku menbenci mereka.
Baru beberapa detik keluar, Sasuke kembali lagi. Berdiri di tengah pintu dan terlihat ragu-ragu. "Tempatnya dimana?" Katanya menatap Sakura. Namun memalingkan wajahnya setelah itu.
"O-ohh itu ... kelas 19." Sakura menanggapi dengan tidak fokus.
Ini seperti perayaan festival bagiku. Aku mebekap mulutku erat. Berharap bisa menahan tawaku yang akan meledak. Wajahku mengembung sangking tidak kuatnya aku menahan. Dan ... akhirnya, tawaku pecah. Memenuhi seisi kelas. Aku membentur-benturkan kepalaku di meja. Perutku terasa sakit dan mataku berair. Ayolahh ... itu sangat dan sangat lucu. Aku menangkap jelas semburat merah wajah Sasuke sebelum dia pergi. Kuharap dia menyesal dengan sifat angkuhnya itu.
Ohh ... tidak!
Aku merasakan sesuatu yang tak mengenakkan di belakangku. Tawaku langsung terhenti. Aku hafal betul dengan hawa membunuh ini. Aku lupa...
Dan akhirnya ... wajahku lebam juga penampilanku tak karuan. Siapa lagi yang melakukan ini selain, pasukan penggemar Teme sialan itu. Dan baiklah, aku benar-benar benci perempuan.
Aku meringkuk di mejaku sepanjang waktu menunggu giliranku. Satu persatu anak bergantian keluar untuk melakukan tes. Aku kembali sadar hal itu. Terpikirkan bagaimana ujian yang dilakukan. Aku berniat untuk menanyakannya kepada Sasuke. Tapi melihat dia kembali dengan gayanya yang sama itu membuatku lebih sebal. Jadi aku memutuskan tak berbicara apapun. Hingga aku ingat saat mataku mulai berat... Aku mengantuk. Dan memang seharusnya dari tadi. Aku tertidur di mejaku.
Saat tak tahu berapa waktu yang kulewatkan dalam lelap. Aku mulai melihat sesuatu. Setengah sadar aku bermimpi. Namun tidak cukup sadar untuk meyakini itu. Aku melihat punggung seorang wanita. Bersurai cokelat panjang. Dari belakang dia seperti Nee-chan. Aku ingin memanggilnya. Namun aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Seolah aku melihat diriku yang melihat Nee-chan. Seolah aku orang ketiga yang bukan bagian dari mereka. Samar-samar aku melihat lelaki di balik pohon yang jauh di depan. Nee-chan seperti melihat orang itu. Dan dia mulai melangkah, menghampiri pemuda itu. Pemuda yang matanya bersinar dalam kegelapan. Aku mulai berteriak. Tapi tak ada satupun yang bisa kulakukan. Aku hanya mata dalam kisah itu. Aku bukan bagian dari mereka sekali lagi.
"-to ... Naruto,"
Aku terbangun merasakan gucangan di bahuku. Yang pertama tertangkap penglihatanku adalah ... mata bersinar itu. Aku tersentak mengangkat kepalaku. Aku berkedip dan yang kulihat ternyata Sasuke. Matanya baik-baik saja.
"Ada apa dengan wajahmu? Kau masih bisa bermimpi tidur di kelas seperti ini." Katanya menanyakan keadaanku.
Tuhan... Apa yang kumpimpikan tadi? Aku mulai tak ingat apapun. Kutaruh sikuku di atas meja dan mengusap-ngusap mataku. Sudah berapa lama waktu yang kulewatkan? Seperti sangat lama.
"Gilranmu sekarang. Cepat pergi..." Sasuke berkata lagi. Itu terdengar cemas, meski tetap saja dia dingin.
"Oh, baiklah." Aku kembali teringat ujian. Aku pergi keluar kelas dengan keadaan berbeda. Maksudku, Naruto tidak seperti ini di mata mereka sekelas.
Entahlah... Banyak yang bersarang di pikiranku sekarang. Fokusku sedang tidak benar. Bahkan untuk melempar kunai dan shuriken saja sangat buruk. Tak ada satupun yang tepat sasaran. Dan seperti biasa, aku gagal menggunakan bunshin. Iruka-sensei harus berteriak memarahiku. Aku tak mendebatnya, itu memang jutsu yang paling dasar. Tapi apa dikata... Nee-chan bilang memang chakraku terlalu besar untuk dikontrol. Jadi aku memang sulit untuk menggunakan jutsu. Walau tak seperti itu juga. Salahkan aku saja yang tidak suka belajar. Latihan hanya aku lakukan jika suka metodenya.
Tapi ternyata itu tak sanggup membelaku. Aku tidak lulus ujian. Iruke-sensei berkata tegas.
Aku memutuskan tak kembali ke kelas. Sesuatu membuatku malas dan ingin pulang ke rumah. Berharap ada Nee-chan di sana. Walau itu tidak mungkin. Ini bahkan belum sore. Tapi itu lebih baik daripada di Akademi. Hanya menambah kekecewaanku karena tidak lulus ujian. Tak bisa mengelak... Aku sangat ingun lulus dan menjadi Genin. Aku ingin menjadi ninja dan meneruskan cita-cita Nee-chan. Pasti dia akan memarahiku nanti. Aku tidak bisa membayangkan wajah kecewanya.
Namun baru setengah jalan, ada seseorang yang menghentikanku. Aku mengadah melihatnya. Ternyata guru berambut biru yang bersama Iruka-sensei tadi.
"Mizuki-sensei," itu namanya.
Aku menangkap senyumnya. Sangat jarang ada orang yang tersenyum kepadaku. Selain Jiji, Nee-chan dan Iruka-sensei. Mungkin dia memang orang baik. Dia sempat membelaku saat ujian tadi.
Tak disangka dia mengajakku ke kedai. Berkata akan mentraktirku apa saja karena usahaku tadi. Aku senang ada orang lagi yang mau mengakuiku. Terlebih menghargai usahaku. Aku ingin sekali mengucapkan ramen. Tapi kedai Ichiraku terlalu jauh dari sini. Jadi aku memilih apa yang kulihat pertama kali.
"Cukup disayangkan kau tidak bisa lulus, Naruto-kun." Dia memulai pembicaraan lagi saat dua piring dango datang beserta sausnya. Bukan dango manis ternyata. Tak apalah, ini enak juga.
"Tapi sebenarnya Iruka melakukan itu karena ingin kau lebih kuat Naruto-kun."
Aku tak terpikirkan hal itu. "Tetap saja. Aku sangat ingin lulus." Kataku mencengkram tusuk dango di tanganku.
"Mah ... aku pikir tak ada cara lain," nadanya membuatku penasaran. "Aku akan memberitahumu, sebuah rahasia."
"Rahasia?" Aku menanggapi dengan menatapnya.
Dia balas menatapku tersenyum. "Ada sebuah gulungan rahasia, yang bisa membuatmu lulus jika menguasai salah satu jutsu dalam gulungan tersebut." Itu terdengar serius.
"Woh ... benarkah? Katakan, katakan! Dimana aku biasa menemukan gulungan itu?" Aku tak sadar terlalu bersemangat hingga berseru keras saat mengatakannya. Mizuki-sensei membekap mulutku dan mengatakan sekali lagi jika itu rahasia. Kerena itu, dia membawaku ke tempat yang jauh dari keramaian. Dan mulai menjelaskan bagaimana cara aku mendapatkan gulungan itu.
Waktu berlalu hingga senja. Dan itu waktu yang tepat untukku beraksi, seperti yang dikatakan Mizuki-sensei. Aku tak memikirkan apapun selain gulungan tersebut. Itu bisa membuatku lulus dan tidak mengecewakan Nee-chan. Tak ada yang kuharapkan selain itu saat ini. Semua berjalan dengan sempurna. Aku berhasil mendapatkan gulungan itu setelah cukup pengorbanan dan mengikuti rencana Mizuki-sensei. Lalu aku mendatangi tempat yang di sebutkannya.
Hari mulai gelap saat aku sampai di dekat hutan. Tak ada penerangan apapun di sini. Namun aku masih sanggup melihat. Aku mulai melepaskan gulungan besar yang kubawa di punggungku. Melihat yang tertulis di permukaannya. 'Jutsu Terlarang' itulah yang kubaca. Aku terpikir ... jika ini jutsu terlarang, maka aku tak boleh mengambilnya. Tapi aku menepisnya. Mungkin karena itulah nantinya aku bisa lulus. Yah ... alasan yang masuk akal.
Aku mulai membukanya dan melihat jutsu pertama yang tertulis 'Tajuu Kage Bunshin'. Sesaat aku memahami jika konsepnya sedikit sama dengan bunshin yang diajarkan di Akademi. Hanya cara pembagian chakranya saja yang berbeda. Mungkin masih ada jutsu lain yang lebih mudah, pikirku. Aku berniat membuka gulungan lebih panjang lagi. Namun mataku mebulat saat dua shuriken menembus kertas gulungan yang kupegang. Mengarah tepat ke kepalaku. Darahku mengalir deras dan adrenalinku terpacu. Membuat otakku berkerja lebih cepat. Tidak... Shuriken itu tidak mlambat. Namun tanganku lebih cepat terangkat.
"Ahh..." Aku meringis saat besi itu menancap di lenganku. Itu bisa menembus jika saja tidak ada tulang yang menghalangi. Sudah lama aku tidak merasakan ini. Bukan, ini lebih terasa sakit dari pada tergores.
"Hohh... Reflekmu bagus juga, Bocah!"
Aku mencari asal suara itu. Dan betapa mengejutkan ternyata Mizuke-sensei yang berdiri di dahan pohon. "K-kenapa ... k-kau,"
Seringainya tidak mengenakkan. "Berikan gulungan itu! Atau ... yang selanjutnya pasti membunuhmu." Tubuhku mulai gemetar. Adrenalin yang tadi kurasakan sekarang menjadi ketakutan. Meski sering juga aku mendengar ancaman seperti itu. Kali ini berbeda.
Dia turun menapak tanah. Tidak berniat memberi waktu. "Mungkin, aku akan memberitahukanmu sesuatu. Karena aku tak sejahat itu untuk tak menghargai usahamu." Dari dekat aku baru sadar dia memebawa dua shuriken besar di punggungnya.
"Duabelas tahun yang lalu, tepatnya saat kau lahir... Terjadi insiden besar di Konoha. Monster rubah ekor sembilan mengamuk menghancurkan dan membunuh orang-orang di Konoha. Termasuk orang tua Iruka." Perasaanku mulai tak enak. Hal itu tak pernah kulupakan. Namun mendengarnya kembali buatku sama menyakitkannya. "Dan monster itu ada dalam dirimu." Mataku membulat. Aku tahu itu ... Aku selalu merasakan bahwa akulah yang membunuh mereka.
"Yah... Kyuubi adalah kau. Itulah kenapa Iruka selalu membedakanmu dengan murid-murid lain. Karena dia membencimu yang telah membunuh orang tuanya. Iruka tak pernah menyayangimu. Tak ada yang menyayangimu..."
Benarkah seperti itu? Itukah alsannya? Aku merasakannya lagi. Perasaan yang tak pernah ingin kurasakan kembali. Darahku terasa panas. Sesuatu dalam perutku seolah mendidih. Menjalar ke setiap sel dan membuat syarafku terasa gelap.
"Sekarang, serahkan gulungan itu!" Katanya dengan nada yang amat kubenci.
"Apa ini tujuan sebenarnya darimu, Mizuki-sensei?" Aku berdiri dan maju selangkah. Mulai tak bisa mengendalikan suaraku lagi. "Membohongiku dan memanfaatkanku," aku sudah beranggapan. Bagaimanapun itu gulungan terlarang. Karena ambisiku ingin lulus, jadi aku tak berpikir apapun selain perkataan dia. Pasti banyak yang memburuku saat ini...
"Jelas saja! Bocah bodoh sepertimu mana mungkin bisa lulus dan menjadi Ninja. Melempar kunai dan shuriken saja kau sangat buruk." Dia tertawa menghinaku. Aku mulai ingat hal itu.
Tanganku mengepal erat. Kuku di jariku mulai panjang dengan sendirinya. Menembus kulitku sendiri. "Jika kau menghinaku dari sebelumnya, mungkin tak apa. Aku bertaruh kau yang membuat semua itu," aku menebak jika kunai dan shuriken itu adalah ulahnya. Aku tahu memang tak pandai dalam hal itu. Tapi lemparanku juga tak seburuk itu.
Dia tertawa sekali lagi. "Yah, itu benar! Lalu ... apa maumu? Serahkan saja gulungannya sebelum aku memaksa."
Baku jariku mulai mengeras. Aku mengangkat kepala menatapnya. Melihatnya dengan gelap. Dan menyeringai ... tanpa kuhendaki.
"Warukatta na ... Mizuki-sensei," Dia melihatku heran. "Sayangnya, kau tak perlu melanjutkannya lagi." Aku mengangkat tanganku membentuk segel. Dia terlihat was-was memegang shuriken besar di punggungnya. Aku merasa, menikmati ini. "Tajuu Kage Bunshin no Jutsu." Teriakku dan aku melanjutkan dengan dingin. "... Karena aku sudah tahu akan hal itu."
Tubuhku seolah dibagi dengan banyak bagian. Syarafku yang tadinya terasa penuh, kini kosong secara drastis. Aku merasa lemas dan kelelahan. Namun sebagai imbalannya ... ratusan klonku berada di mana-mana mengelilingi dia. Aku berhasil...
"A-apa... Apa ini?" Mizuki-sensei terlihat bingung di tempatnya. Raut cemas dan takut terlihat jelas di wajahnya.
Aku semakin senang. "Yosh, Minna... Jangan beri ampun!" Seruku dan diikuti teriakan semangat dari bunshin-bunshinku.
"H-ah ... haaaahhh!" Dan dilanjutkan teriakan derita dari Mizuki-sensei. Aku tak perlu merasa ikut. Karena aku juga merasakan kepuasanku sendiri.
Setelah cukup lama memakan waktu. Mizuki-sensei akhirnya terkapar di tanah. Bentuknya sudah tak karuan. Bunshinku juga mulai hilang dan hanya tinggal aku. Sesaat aku mulai sadar apa yang kulakukan. Aku terkejut ... namun tidak menyesal.
Aku berbalik dan berniat pergi. Meninggalkan tempat ini, pulang dan istirahat. Aku sangat kelelahan. Ini pertama kalinya aku menggunakan chakra sebanyak itu. Aku bahkan heran mendapatkannya dari mana. Atau memang itu chakraku sebenarnya. Yang jelas aku senang telah berhasil menguasai jutsu. Berbicara tentang jutsu ... aku, aku tidak menemukan gulungan itu dimanapun. Ohh, apa yang kulakukan? Aku tidak merasa pernah membuangnya. Seingatku meninggalkannya di belakangku. Aku melihat Mizuki-sensei, mengingat dia ingin mengambilnya dariku. Tapi dia masih di tempatnya tak bergerak. Aku ragu jika masih hidup. Hahh... Aku harus berbicara dengan Jiji. Entahlah, apa yang akan aku terima.
Aku mulai berjalan keluar hutan. Jalanan sudah sepi. Aku baru ingat waktu yang sudah kulewatkan. Ini sudah tengah malam. Aku memikirkan Nee-chan. Mungkin dia sudah di rumah. Aku membayangkan dia marah saat aku pulang. Apa lebih baik aku ke Jiji dulu, dan tidur di sana. Tidak... Aku tak ingin Nee-chan khawatir. Dia sudah pernah menungguku semalaman. Dan aku tak ingin mengulangnya. Setidaknya bukan tanpa kabar seperti ini. Lagi pula dari sini aku akan sampai ke rumah terlebih dahulu ketimbang kantor Hokage.
Setelah berjalan cukup lama ... sembari meyakinkan hatiku, akhirnya aku sampai di depan rumah. Lampu sudah menyala. Menjelaskan Nee-chan sudah pulang. Atau bisa saja belum. Jika lembur, dia tetap pulang untuk memasakkanku makanan. Lalu berkerja kembali. Memang lebih sering begitu. Aku membuka pintu... Dan tak terkunci. Berarti dia memang sudah pulang.
Aku mencengran lenganku. Luka tadi sudah mengering, namun masih cukup sakit. Aku berharap penampilanku tak berantakan. Walau jelas tahu aku terlihat buruk. Kuhembuskan nafas panjang dan masuk. Aku melihatnya di meja makan... Tertidur. Aku tersenyum pahit mendekatinya. Jasnya tergeletak di sofa. Tak pernah sekalipun dia meletakkan sesuatu dengan berantakkan. Dia pasti menungguku sadari tadi.
Aku melihatnya. Wajahnya damai. Aku selalu menyukainya. Apapun yang ada pada dirinya. Aku selalu ingin memandangnya, dan berharap itu bisa. Kupikir itu sikap normal untuk orang kepada keluarganya. Tiba-tiba aku teringat mimpiku di kelas tadi. Entah kenapa itu terlihat lagi. Bahkan aku pikir tadi lupa dengan itu. Tanpa jelas hatiku terasa sakit. Nee-chan ... apa benar dia akan meninggalkanku suatu saat? Untuk orang itu. Orang dengan mata bersinar. Aku tadi melihatnya di mata Sasuke. Apa orang itu Sasuke? Tidak mungkin... Aku tidak mungkin bermimpi sesuatu yang tak pernah kulihat. Tapi pria itu lebih besar dari Sasuke. Rambutnya juga berbeda. Aku jelas bisa membedakan rambut bebek si Teme itu.
Dia tidak terlihat jelas. Dia berada dalam kegelapan yang mencengkam. Bukan tempat yang kuharapkan untuk Nee-chan. Aku tak ingin dia pergi ... kemanapun.
Aku menyingkirkan anak rambut yang berurai di pipinya. Aku akan membangunkannya setelah membersihkan badan. Tak apalah jika dia memarahiku. Yang jelas dia tak boleh tidur di sini. Aku berniat melangkah ke kamar. Namun ...
"Naru ... kaukah itu?" Suara Nee-chan menghentikanku. O'ow...
Aku berbalik gugup. Dia menatapku dengan mata sayunya. Itu masih terlihat indah. "A-ah, gomen Nee-chan ... a-ku sedikit terlambat." Kataku menggaruk kepala.
Dia bangun dan menghampiriku cepat. Menumpukan lututnya di lantai dan merengkuhku. "Ini tengah malam Naruto-kun ... kau bilang sedikit?" Aku sedikit meringis karena luka di tanganku. Dan dia ... menangis. Aku terkejut. Terakhir kali aku mendengarnya itu empat tahun yang lalu. Saat setelah ibunya meninggal. Dan tak pernah lagi sampai saat ini.
Dia melepasku. "Gomen ..." Kataku menunduk dan memegang lenganku. Berharap bisa menyembunyikannya. Tapi aku tidak yakin bisa. Dia sudah terlanjur melihat.
"Ya Tuhan... Apa yang terjadi padamu?" Tanyanya sudah kelewat khawatir. Dia membawaku ke sofa dan melepas jeket orangeku.
"Aku ... a-aku terjatuh tadi." Aku tak berani menatapnya.
"Ini jelas senjata, Naru. Jangan coba berbohong," lagi dia dengan cemas. Chakra hijau keluar dari tangannya. Ringisan terdengar dari mulutku saat luka perlahan menutup. Itu terasa nyeri, namun hangat.
"Kumohon, hentikan tangismu Nee-chan..." Dia sama sekali tak berniat menghentikan air matanya. Aku tidak suka melihat itu.
Dia menggeleng sebagai jawaban. "Aku mengkhawatirkanmu sedari tadi, Naru. Dan apa yang kudapat saat kau pulang..." Keluhnya masih fokus dengan lukaku. Namun aku lekat menatapnya.
"Jadi, Nee-chan tidak ingin aku pulang," dia kontan menatapku mendengar itu. Aku hanya mengatakan apa yang kupikir. Dan wajah yang selalu ingin kupandang sekarang terlihat menyiksa. Mata hitamnya menyakitkan. Itu untuk kebodohanku. Aku marah kepada diriku.
"Kumohon..." Pintaku lagi. Aku mengabaikan penyembuhannya. Mengusap air matanya dengan kedua tanganku. "Kau tak bisa mengobatiku dengan seperti ini, Nee-chan."
Dia kembali memelukku dan mencoba lebih tenang. Aku membantu dengan mengelus rambutnya. "Gomen... Aku terlalu khawatir." Isakannya berubah pelan.
"Tak apa. Ini memang salahku. Aku tidak bisa lulus dan berakhir begini. Maaf jika Nee-chan kecewa."
Dia menggeleng dan melepasku kembali. "Sudahlah... Jangan bicarakan itu. Nee-chan tak pernah kecewa padamu." Katanya sudah berhasil menguasai diri. Mengambil kotak medis dalam laci rak. Dan kembali melihat lukaku. "Ini shuriken, dan cukup dalam. Jika bukan karena regenarasi dirimu pasti kau sudah kehabisan darah dari tadi." Jelas dia sembari melilitkan perban. "Lain kali jangan berpikir menghentikan senjata dengan tanganmu, Naru." Peringatnya berusaha marah.
"Bukankah karena itu Nee-chan belajar medis," aku membalas tak sesuai harapannya.
Dia menatapku, terlihat kesal. "Darimana kau tahu?"
Ohh... Jadi itu benar. Aku tak mengira. Cukup senang juga mengetahuinya. Sangat. "Aku baru terpikirkan sekarang"
"Kau ini..." Dia menaruh kembali peralatn medisnya setelah selesai. "Memang benar seperti itu. Tapi bukan alasan untukmu membiarkan dirimu terluka, Naru."
"Nee-chan tak perlu khawatir. Aku akan berusaha agar tidak terluka. Lagi pula ... aku bukan Shinobi. Maksudku secara resmi. Tapi aku akan mulai berlatih dari sekarang. Mengantisipasi hal seperti ini." Tepatnya lebih mengutamakan dirimu Nee-chan.
"Baguslah jika seperti itu. Seharunya sedari dulu."
Aku menyesali itu. Dia memang sering menyuruhku berlatih. Tapi aku menyerah setelah mencoba. Sekarang ... mungkin berbeda. Setelah aku berhasil mengusai satu jutsu. Inginku mengembangkan itu. Terdengar menarik.
"Tapi kau bukan tidak lulus, Naru." Aku mengernyit mendengarnya. Dia memasuki kamarnya sebentar dan kembali. Membawa sesuatu. "Sejam yang lalu guru Iruka mengantar ini," katanya menyerahkan dua lembar kertas yang terlipat.
"Apa ini?" Tanyaku memeriksa. Aku membuka salah satu saat Nee-chan menyuruhku membukanya. Ada tulisan.
Naruto...
Tidak banyak yang ingin kusampaikan. Seharusnya aku bisa mengatakannya langsung. Gomen na, saat ujian tadi. Aku tak bermaksud untuk tidak meluluskanmu.
Intinya, selamat … kau lulus ujian. Aku mengakui kemampuanmu. Sisanya aku akan katakan semua besok di Ichiraku. Aku akan mentraktirmu. Dan … kau resmi menjadi Genin, Naruto.
Mataku mebulat membacanya. Aku … lulus ujian. Aku menatap Nee-chan meminta penjelasan.
Dia balas tersenyum senang. "Selamat … Otouto. Kau menjadi Genin sekarang." Ujarnya tersenyum senang dan menyerahkan sesuatu di tangannya. Itu, "Seperti yang kukatakan, aku akan memberimu hadiah jika lulus. Meski bukan nilai tertinggi." Dia mengulum bibir atasnya di bagian akhir. Namun aku lebih fokus dengan apa yang dia berikan. Sebuah ikat kepala. "Pakailah, dan lanjutkan cita-cita Tou-chan dan Kaa-chanmu."
Aku mengambilnya. "Ini…"
"Yah… Itu punya Nee-chan. Aku harap kau suka." Aku kembali menatapnya. Senyum indahnya selalu membuatku berbeda. Tahukah dia betapa bahagianya aku…
Namun, "Tapi, Nee-chan…"
"Nee-chan akan sedih jika kau menolaknya Naru. Kau tidak tahu … aku menantikan hal ini sejak lama."
Aku tersenyum meyakinkan. Berdiri dan mengikatkan benda ini di kepalaku. Aku selalu memimpikan bisa memakai ini. Dan sekarang itu terwujud. "Arigatou, Nee-chan. Aku berjanji akan melanjutkan impian Tou-chan dan Kaa-chan. Aku berjanji akan meneruskan mimpimu juga. Aku berjanji akan melindungimu. Dan aku berjanji tak akan menarik kata-kataku. Karena itu jalan ninjaku." Kataku penuh keyakinan.
Dia menepuk kepalaku. "Terlalu dini untukmu mengatakan itu. Tapi, Nee-chan senang mendengarnya. Jika ada hal yang kuingin kau janjikan saat ini ... jangan pernah meninggalkan Nee-chan… Nee-chan tak ingin kehilanganmu."
Aku menghambur ke pelukannya. "Aku selalu berjanji hal itu di setiap detiknya." Justru aku khawatir kau yang akan pergi Nee-chan. Tapi aku tak berani mengatakannya saat ini.
"Sekarang ikut aku," dia menarikku ke dalam. Melewati kamarnya dan kamarku. Namun sebelum kamar mandi. Dia berhenti di depan dinding. Aku mengernyit heran. Dia mengangkat tangan membentuk segel rumit. Dan mengarahkan kedua telunjuk dan jari tengahnya ke arah dinding. "Kai..." Ucapnya dan perlahan dinding itu memperlihatkan pintu kayu gelap.
"Wow," aku berdecak kagum melihatnya.
"Aku pikir akan kehabisan chakra." Keluhnya menghembuskan nafas. Dia menatapku, "Tugasku hanya sampai sini. Bukalah surat yang satunya. Itu dari Sandaime."
Aku melihat surat di tanganku. Dan kembali melihat pintu di depanku. "Seharusnya kau tetap menjadi Shinobi, Nee-chan." Suaraku cukup sedih. Dia mempunyai potensi begitu besar. Dan melepasnya begitu saja.
"Kita sudah berjanji tak membahas itu." Ujarnya memegang kepalaku.
"Pasti sulit saat itu…"
"Yah ... itu benar. Tapi karenamu menjadi mudah."
Aku terhenyak. "Gomen, ini semua karenaku."
"Sudahlah, Adik kecilku..." Dia terduduk menyamakan tingginya denganku. "Aku tak pernah menyesalinya. Aku senang jika memang karenamu. Aku menyayangimu. Nee-chan bahagia sejauh ini. Dan akan terus begitu selama bersamamu. Jadi, kumohon... Jangan lagi berpikir begitu."
Mataku tergenang. Aku mendekapnya dan terisak di bahunya. "Arigatou ... Nee-chan. Aku juga menyayangimu."
"Aku senang mendengarnya." Meski tak melihatnya, aku tahu dia tersenyum. Dia menarik dirinya. "Sudahlah... Jangan menangis! Kau akan menghadapi banyak rintangan setelah ini. Tak mungkin bisa bohong jika Nee-chan khawatir. Tapi Nee-chan percaya padamu." Dia tersenyum memberi harapan. Aku tak akan pernah menyia-nyiakan itu
"Masuklah! Kau akan tahu apa rintangan sesungguhnya." Dia berdiri dan kembali ke ruang depan. "Jika sudah … bersihkan dirimu dan ke meja makan."
"Nee-chan belum makan?" Tentu aku terkejut.
"Kau tak perlu menanyakan hal yang sudah tahu jawabannya, Naru."
Ohh... Kau sadar apa yang kau lakukan, Naruto. Dia tak perlu melakukan itu bukan? Dia bisa makan terlebih dahulu. Aku harus membicarakannya. "Nee-chan..."
Dia berhenti mendengarku dan berbalik lagi. Aku berjalan menghapirinya. "Menunduklah," alisnya terangkat heran. Namun melakukannya juga. Memegang lututnya sebagai penyangga. Aku berjinjit dan menarik kepalanya... Mencium keningnya. Memejamkan mataku dan mengambil nafas di sana. Harum...
"Kau harus menyalahkan apa yang salah jika kulakukan. Aku memimpikan sesuatu. Dan kau pergi dariku dalam mimpi itu. Jika itu memang hanyalah mimpi, maka biarlah menjadi mimpi. Tapi jika suatu saat kau memang pergi, ketahuilah satu hal ... Kau wanita berhargaku, Nee-chan. Selamanya seperti itu." Aku mundur dan kembali ke pintu tadi. Membukanya dan melangkah masuk. Nee-chan masih membeku di tempatnya. Rautnya kaget dan tak bisa kujelaskan. Sudah kubilang, aku mengatakan apa yang kupikir. Dan itu yang ada di pikiranku.
Setelah menuruni beberapa anak tangga aku menjumpai pintu lagi. Namun aku tak bisa menyentuhnya. Ada sebuah penghalang lagi. Teringat kata Nee-chan tadi. Aku membuka surat satunya. Di sini cukup gelap. Entah ada cahaya dari mana.
Naruto-kun...
Selamat atas kelulusanmu. Terima kasih atas bantuanmu dalam menangkap Mizuki. Aku sudah ingin memenjarakannya sedari dulu.
Aku kagum dengan kemampuanmu. Dan jangan khwatirkan gulungannya. Benda itu sudah aman bersama kami. Aku sudah mengirimkan Anbu untuk mengawasimu dan Mizuki sejak dia mendekatimu. Ternyata benar dia berniat buruk.
Wohh... Jadi Jiji sudah tahu. Mungkin itulah mengapa aku mudah mengambil gulungannya. Ternyata Jiji sudah merencanakannya dan mengawasiku. Aku bersyukur jika memang begitu.
Dan jika kau membaca surat ini, berarti kakakmu sudah memberitahumu ruangan itu. Kau tak perlu heran. Itu memang ruangan rahasia ayahmu. Entah kenapa itu tidak ikut hancur saat serangan Kyuubi. Jadi aku membangun kembali dan menyembunyikannya. Karena tidak ada satupun yang bisa membukanya. Aku sendiri tidak tahu apa isi di dalamnya. Pemilik stelahnya tidak tahu tentang ruangan itu. Karena aku memasang kekkai di pintu bagian luar.
Kupikir sudah waktunya kau mengetahui ruangannya. Aku sudah merundingkaan dengan Jiraya, Sensei ayahmu. Menurutnya, mungkin itu segel darah. Sebelumnya ruangan itu hanya bisa dibuka ayahmu dan Jiraya. Namun setelah kematian ayahmu, tak ada lagi yang bisa membukanya. Mungkin beliau sengaja agar hanya dirimu yang bisa membukanya.
Kau hanya perlu sedikit darahmu di telapak tangan. Dan menempelkannya di pintu itu. Berhati-hatilah. Dan pergunakan dengan bijak apapun yang ada di dalamnya.
Jiji menaruh harapan besar kepadamu, Naruto-kun.
Aku meresapi tulisan itu. Dan menangkap apa yang ditujukan. Kugigit jariku sedikit hingga mengeluarkan darah. Dan mengoleskan ke telapak tangan. Aku menyentuh pintu di depanku, lebih tepat penghalangnya. Aku merasakan sesuatu terserap dari tanganku. Penghalang itu mengeluarkan sedikit cahaya emas. Dan kemudian muncul banyak aksara yang bergerak perlahan. Lalu menghilang di telapak tanganku. Aku mengepal sedikit merasa keluh.
Dan kini aku bisa menyentuh pintunya. Tanpa berpikir panjang aku membukanya. Hal yang kusaksikan pertama kali adalah, ruangan kecil yang gelap dan banyak jaring laba-laba. Aku bisa melihatnya karena empat obor di setiap sudut tiba-tiba menyala. Aku melangkah menyusurinya. Ada dua rak cukup besar di sisi dinding depanku dan sebelah kiri. Banyak sekali buku dan scroll di sana. Di sisi kanan terdapat kotak lemari dengan pintu di bagian atas. Aku penasaran mendekatinya. Membukanya cukup sulit. Mungkin sudah terlalu lama. Di dalamnya hanya berisi kunai bercabang tiga yang tertata banyak. Aku baru melihat kunai seperti ini. Aku memegangnya. Ada tulisan kertas yang tertempel di pegangannya. Lalu aku mendekati satu-satunya meja di tengah ruangan. Di atasnya masih terdapat buku dan scroll yang terbuka. Rasengan … itu yang terbaca di bagian awal salah satu gulungan.
Mataku mengelilingi tempat ini. Hanya satu hal yang tertangkap otakku mengenainya. 'Jutsu'…
Tou-chan, Kaa-chan, Jiji… Aku tak akan mengecewakan harapan dan kepercayaan kalian.
Dan Nee-chan… dengan ini aku akan selalu melindungimu.
Terima aksih atas semuanya.
Rintangan ini akan kupatahkan dan kutemukan perdamaian untuk dunia.
.
.
.
.
TCB
Hai lagi Minna-san… Saya berterim kasih atas dukungannya. Semoga kalian suka dengan chap ini. Mohon saran dan perbaikannya.
Dan untuk Zero sudah up chap 12. Maaf jika sangat lama :D.
Reply Some Reviews
Riki Ryugasaki : Ya… Pair positif Naruto x Izumi. Dan yang bantai tetap Itachi. Soal bencinya Naruto itu relative. Kemungkian tidak perlu. Itu sudah bagian Sasuke.
Ipunk zero : Terima kasih dukangannya :D. Saya sangat menghargai. Maaf ketidak-konsistenan saya. Saya sudah berusaha.
Icatisa : Sudah terjawab di chap atas.
Terima kasih sudah membaca dan menyempatkan Review. Dan juga yang Favs & Follows fanfic saya… Sekali lagi terima kasih.
Maaf atas segala kekurangan.
Jadi selebihnya mohon bimbingannya.
Sampai jumpa di chap berikutnya…
