Another Destiny : CRIMSON

Disclaim : M. Kishimoto

Warning : Typo, OOC, Gak jelas, Banyak kekurangan

Genre : Romance-Family

Rate : T (?)

Summary : Saat kau tak bisa melihat warna dalam hudupmu. Dan itu mulai berubah. Aku ... memilih menjalaninya. Aku membenci kesendirianku. Harapanku terlalu banyak. Aku menginginkannya, dalam ego dan kesalahanku. Uzumaki Naruto... Pertarungan sesungguhnya akan dimulai. Dunia Shinobi akan mengenang peranmu.

.

.

.


Sudah sepuluh menit sejak aku membuka kotak makan di tanganku. Tak menyentuh isinya sama sekali. Alasannya, pikiranku sedang penuh dengan kejadian barusan. Tak pernah kusangka aku mendapat kata-kata seperti itu. Bukan, kami tepatnya. Bahwa kami sama sekali tak pantas menjadi ninja. Dan selayaknya membuang harapan kami untuk itu. Bukankah itu keterlaluan? Ayolah... Hanya karena kami tidak bisa mengerti tujuan sebenarnya dari tes ini, bukan berarti sama sekali tak layak menjadi Shinobi. Jika berharap kami sehebat dan secerdas itu, yang bodoh seharusnya dia. Aku sudah melewati hal sulit hingga bisa kudapatkan ikat kepala ini. Mana bisa aku semudah itu menerima keputusan Jounin pembimbing timku. Dia menyakiti hati kami.

Alasan lainnya... Kruuukk

Bunyi itu tak henti kudengar dari sampingku. Itu sura perut orang yang jelas-jelas kelewat lapar. Dan dia harus menahannya karena tidak diperbolehkan makan. Dan parahnya harus melihat teman di sampingnya melahap makanan dengan hikmat… Itu terpaksa, karena dia diikat dan tidak bisa kemana-mana. Bukankah itu kejam? Ini memang tak ada secuil dari kejamnya dunia Shinobi.

Aku mengangkat kotak makanku memberikan kepadanya.

"K-kau... Apa yang kau lakukan, Baka?! Bagaimana jika Kakashi-sensei melihat,"

Hah... Sudah kukira tanggapannya. Tapi itu masuk akal. Bukan berarti aku membiarkannya. Aku melirik Sasuke di sisi lain. Dia mendengus sebentar lalu melakukan hal yang sama denganku.

"Sasuke-kun..." Tentu saja dia, Sakura akan menanggapi berbeda.

"Tenang saja! Aku tidak merasakan keberadaannya. Makanlah... Akan merepotkan jika kau lapar dan menyusahkan kami." Jawab Sasuke dengan khasnya. Tapi itu sudah kelewat mukjizat bagi Sakura. Mengerti akan kondisi, dia menyuapinya.

Namun... Boomm

Ledakan asap muncul di depan kami. Aku terkesiap. Begitu juga Sasuke dan Sakura. Kami memasang posisi was-was. Betul saja... Yang kami khawatirkan muncul juga. Setidaknya tak perlu lagi mengulur waktu. Kami akan melakukannya. Seperti yang dikatakan Kakashi-sensei sebelumnya. Kali ini harus kerja sama tim. Dan aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini. Sudah berbaik hati Kakashi-sensei memberi kesempatan lagi untuk mengambil loncengnya. Dan aku pastikan akan mendapatkannya. Bukan... Kami akan mendapatkannya.

Sasuke mengambil gerakan dahulu. Dia berlari sedikit menyamping dan kembali menuju Kakashi-sensei. Aku memanfaatkan itu untuk memotong tali yang mengikat Sakura. Dengan sedikit memberinya kepercayaan, dan aku ikut membantu Sasuke.

"Kage Bunshin no Jutsu." Aku membuat lima klon di sampingku. Sebelumnya dengan jutsu ini aku hampir bisa mengambil loncengnya. Namun karena kami berkerja sendiri-sendiri, itu membuat Kakashi-sensei sangat mudah untuk menggagalkan semuanya.

Aku berlari dan melakukan pukulan membantu Sasuke. Meski Sensei cukup mudah mengimbangi taijutsu kami. Tapi setidaknya itu mampu mencegah dia membuat ninjutsu yang jelas-jelas tak mungkin bisa kami atasi. Semoga semua timingnya tepat.

Pada akhirnya kami terkalahkan juga. Aku terpental cukup jauh dan semua bunshinku hilang. Begitu pula Sasuke, namun masih bisa menyeimbangkan tubuhnya. Dengan cepat dia membuat segel dan menyemburkan bola api besar dari mulutnya. Sensei menghindari itu, dan sengaja tertuju untuk mendekat ke arah Sakura.

"Oii... Aku memang memberi kalian kesempatan untuk melakukannya lagi. Tapi aku belum bilang mulai." Kata Sensei masih memasang siaga penuh. Memperhatikan kami bertiga. Tapi lebih kepadaku dan Sasuke.

"Kemunculan Sensei adalah tanda mulainya." Aku menjawabnya.

"Aku mempunyai tujuan dan aturanku. Jangan bercanda seolah kami bisa melakukan apa yang ada di kepalamu, Sensei." Sasuke melanjutkan. Terdengar dingin. Peluh menghiasi kepala si Emo. Kami sama-sama terlihat tidak baik. Setidaknya Sakura bisa menjadi harapan terakhir.

"Kami akan mendapatkan loncengnya. Jangan lagi mengatakan apa yang kau katakan sebelumnya kepada kami, Sensei!" Sakura juga siap dengan kunainya.

"Kami akan maju. Meski selamanya harus berada di Akademi. Tak masalah jika Sensei mengembalikan kami ke Akademi karena gagal dalam tesmu."

"Tapi jangan katakan... Jika kami, tidak pantas menjadi Shinobi." Sasuke memulai lagi dengan melempar beberapa shuriken. Dan berlari mengikutinya. Sakura juga melakukan hal yang sama. Aku juga sigap mengawasi segala kemungkinan.

"Baiklah jika itu mau kalian... Ambil saja! Dan aku harap kali ini tidak seperti tadi." Kata Sensei dan bersiap menghindar.

Sensei bisa menghindari itu dengan melompat lagi. Namun dia sadar jika kemungkinan ada jebakan. Meski tak ada jebakan apapun sebenarnya. Dia dengan mudah menangkis semuanya. Dan kembali adu taijutsu dengan Sasuke. Jangan meremehkan teman sebangkuku itu. Sasuke sudah beberapa kali menyentuh loncengnya. Seharusnya dia sudah dekat dengan keberhasilan. Namun sudah dikatakan sebelumnya... Ini tim.

Sasuke terkena tendangan lagi yang membuatnya terpental. Naman dia menghilang menjadi asap. Sensei terkejut... Itu Kage Bunshin. Dan itu bunshinku yang berhenge menjadi Sasuke. Aku melakukannya, ralat lagi... Kami melakukannya saat Sasuke melakukan jutsu api tadi. Sedangkan Sasuke yang asli...

Sudah siap dengan jutsunya yang sama. Aku rasa, dia sudah mencapai batas setelah ini. Dia sudah terlihat tak sanggup berdiri tegak setelah melakukan jutsunya. Namun, bisa mengeluarkan api sebesar itu sebanyak dua kali bukanlah hal yang dimiliki seorang genin. Dia sudah lebih dari hebat. Sekarang bergantung kepadaku dan Sakura. "Katon : Gōkakyuu no Jutsu."

Sensei harus melompat bagaimanapun untuk menghindari bola api itu lagi. Dan sekali lagi sengaja untuk membuatnya dekat dengan Sakura. Gadis itu berada tepat di belakang Sensei yang baru mendarat ke tanah. Ayo, kumohon...

Aku berlari cepat...

Meski cukup terlihat ketakutannya, namun Sakura berhasil melakukan pukulan tangan. Sensei sangat mudah membaca itu meski tidak melihat. Dia menghentikan tangan Sakura dan berbalik untuk memberi serangan balik kepada Sakura. Kakinya sudah berputar dan berayun mengarah ke perut si Merah Muda.

Duaaghk...

Namun aku menangkisnya dengan kedua tangan dan bahuku. Aku meringis bertahan. Padahal Sensei tidak sungguh-sungguh melawan kami. Tapi kekuatannya sudah seperti ini. Setidaknya kami bisa memanfaatkan hal itu. Dia mana mungkin mengeluarkan kekuatan penuh jika hanya untuk mengetes tiga bocah yang baru lulus menjadi genin.

Bunshinku dari arah yang berlawan sudah siap melayangkan pukulan dari udara. Sensei sudah mengetahuinya dan berniat menghentikan itu. Aku memanfaatkannya untuk membuat bola pusaran biru di tanganku. Berusaha seminimal mungkin membuat waktu.

Dan aku menghantamkan pusaran itu ke tubuh Sensei. "Rasengan." Setidaknya aku harus membuatnya tampak sungguhan.

Sensei... Tentu saja dia terkejut. Aku sudah menebaknya. Aku menyeringai saat tangannya yang lain dengan mudah menggapai tanganku dan mengarahkannya ke tanah. Membuat jutsuku ganti menghantam tanah.

Tidak terjadi apapun selain aku yang tersungkur tidak elitnya. Nafasku memburu dan sudah tak beda lagi dengan Sasuke yang masih terduduk di tempatnya. Dia tersenyum puas melihatku. Deru nafasnya tak membuatnya pantas mengejek keadaanku. Toh dia bukan mengejekku. Aku membalasnya dengan memberi acungan jempol. Tersenyum lima jari membalasnya.

Kling... Tiing...

Kami berhasil mendapatkan loncengnya.

"A-aku... Naruto, Sasuke-kun," Sakura kelihatan tidak percaya dengan apa yang ada di tangannya saat ini. "Yatta! Kita berhasil..." Sebelum akhirnya melompat-lompat senang. Membuat lonceng di tangannya berbunyi terus. Dia masih tidak sadar dengan usahanya ternyata.

Itu sperti mengejek Kakashi-sensei yang belum sembuh dari keterkejutannya. Dia melepaskan tangannya yang menekan tubuhku dan berdiri. Melihat Sakura yang masih belum berhenti juga. Sensei mencoba mencerna semuanya. "Jadi begitu..." Sepertinya dia sudah mendapat jawabannya."Kalian menyerangku secara mendadak agar aku tidak mempunyai waktu untuk membaca strategi dan meminimalkan serangan balik dari ninjutsu maupun genjutsu."

Daya analisinya memang bukan main. Benar-benar Taring Putih Konoha. "Itu lebih benar daripada kami menyimpulkannya sendiri." Tanggapku.

"Tapi aku masih tidak tahu bagaimana kalian melakukannya."

"Terkadang orang dewasa tidak bisa mengerti apa yang dipikirkan anak kecil." Sasuke menjawabnya dan berjalan mendekat. Dengan tenaga terakhirnya. Setelah sampai dia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menyambutnya untuk bangkit. "Berharap kami melakukan hal yang dipikirkan orang dewasa terkadang juga mustahil." Lanjutnya datar namun terdengar enggan. Kami jelas sakit mendengar apa yang dikatakan Sensei setelah tes pertama tadi.

"Tapi apa yang Sensei bilang memang benar. Untuk menjadi Shinobi sangat banyak hal yang harus bisa dilakukan." Kataku dan menyamankan dudukku di tanah. "Kami sangat berterima kasih padamu, Sensei."

"Saat aku mengeluarkan jutsu api yang pertama, Naruto sudah membuat satu bunshinnya melakukan Henge menjadi diriku. Satu bunshin lagi yang sudah sedari awal bersembunyi di dekat Sakura." Sasuke mulai menjelaskan dahulu.

"Pasti Sensei mengetahui, kedua jutsu api Sasuke hanya bertujuan mendekatkanmu ke tempat Sakura. Karena dia hanya kecil kemungkinan berani menyerang Sensei secara langsung." Aku mendapat lirikan tajam dari Sakura saat mengatakan itu. "Kami harus membuatnya tanggap."

Kakashi-sensei merosotkan bahunya malas. "Kerja sama yang bagus." Ucapnya memasukkan tangan ke dalam saku. Aku berdiri dengan senyum. Mendengarkan dia lagi. "Tapi kalian melakuka seenaknya sendiri. Memulai tanpa aba-aba. Itu kecerobohan dan melanggar aturan." Senyumku pudar, setengah menyangka dia akan berbicara itu. "Mah... Tapi kalian sudah melanggar aturan sedari sebelumnya. Saat memberikan makan kalian kepada Sakura." Itu membuatku semakin pundung.

Aku melirik Sasuke di sampingku. Dan melihat Sakura di depan, di samping Sensei. Mereka tak bereaksi apa-apa. Seakan tidak mendengar perkataan itu. Aku tersentak sadar. Berupaya menaikkan alisku geli. Kupikir kami perduli ... Tapi ternyata tidak. Teamwork beberapa menit lalu ternyata berpengaruh.

"Dalam dinia Shinobi, yang melanggar aturan adalah sampah." Sensei memandang langit dan menggumam. "Tapi mereka yang meninggalkan temannya lebih buruk dari sampah." Lanjutnya tegas.

Bagaimana siang yang terik. Tidak cukup terik untuk menyengat kami. Aku menirukan Sensei memandang langit. Semua cepat... Tapi kami lulus. Itu membuatku senang.

Pergerakan Sensei membuat kami memperhatikannya. Kepalanya berputar melihati kami satu persatu. Mata hitam sayunya terlihat perduli. "Tapi kalian mendapatkan lonceng itu tidak dengan aturan." Itu terdengar sarkatis dari mulutnya. Mengigat tadi lebih parah, aku tidak perduli. Sensei berhenti kepada Sakura. "Sakura..." Teriaknya tegas. Membuat perempuan itu berjengit. "Kuperintahkan sekali lagi. Kau yang membawa loncengnya. Hanya ada dua lonceng, untukmu dan satu rekanmu. Siapa dari mereka berdua yang kau putuskan memberi salah satunya? Yang berarti salah satu harus kembali ke akademi."

Sakura gusar di tempatnya. Sangat tidak terduga perkataan Sensei. Dia memberi pilihan seperti itu lagi. Gertakkan seperti itu lagi. Yang jelas sulit dipilih. Memang sebelumnya lebih kejam dari itu. Tapi yang tadi hanya rekaan. Dan sekarang... Itu terdengar benar-benar pilihan. Yang harus Sakura lakukan.

Jelas terekam di otak kami. Hanya beberapa menit yang lalu. Namun… Selanjutnya aku tidak perduli. Sasuke juga sama.

Semua mata tertuju pada Sakura. Kunoichi itu mengalami dilema lagi. Aku dan Sasuke hanya bisa memberi kepercayaan kepadanya. Kami berdua yakin... Kami bertiga berhasil. Dia hanya harus membawa kepercayaan itu. Tangannya mantap menggenggam lonceng. Dan matanya penuh tekad. Dalam hati aku tersenyum.

Kling... Ting...

Satu bulatan logam itu menggema di udara. Melayang ke arahku. Bunyi semakin keras saat tanganku terangkat menggapainya. Angin tiba-tiba saja terasa sejuk. Aku melirik ke samping. Sasuke... Mengalami kejadian yang sama denganku. Bergestur yang sama pula. Dan menangkap benda yang sama.

Sakura... Teman kami itu memberikan kedua lonceng kepada kedua rekannya. Kepadaku dan Sasuke. Memberikan dua tiket kelulusan dari tes ini. Dan mengabaikan dirinya sendiri. "Tidak ada pilihan, Sensei." Dia berkata dengan hangat dan tekad. Kilat yang puas dari matanya. "Aku tidak akan mengorbankan teman-temanku. Jika nyawaku bisa menggantikannya ... akan kulakukan. Saat ini hanya itu pilihan yang kupilih." Apapun itu dia terdengar sangat yakin. Perubahan besar.

"Kheh," Kepalaku menoleh ke samping. Semua ganti memandang Sasuke. Entah terdengar bagaimana dengusannya itu. Yang pasti kentara sekali persahabatannya. Suara logam itu berdenging lagi saat dia justru melempar kembali ke Sensei. "Mungkin akan kupertimbangkan ajakan makan bersamamu Sakura. Tapi aku tidak akan lulus tanpa kita bertiga. Kembali ke akademi bersama bukan hal yang buruk." Mencoba terdengar dingin lagi eh, Sasuke. Sakura jelas sudah memerah dan berasap di tempatnya. Aktingmu sangat buruk Teman.

Sasuke juga tidak menginginkan lonceng itu. Sial... Dia selalu selangkah di depanku. Padahal aku berniat melakukan hal yang sama sebelumnya. Ini memalukan jika tetap melakukannya. Sama saja aku menirunya, seperti biasa.

"Naruto," Sensei memanggilku dengan tangan yang masih mengambang di udara. Seolah menantiku. "Apa kau juga ingin dikembalikan di akademi?"

Harusnya aku melakukan lebih dulu tadi. Jika sudah begini mau bagaimana lagi. Aku cuma harus buat perhitungan dengan si Pantat Ayam itu. Dan melakukan hal yang berbeda.

Kuangkat kepalan tanganku sejajar dada. Di dalamnya ada lonceng yang talinya keluar lewat sela jariku. Dalam hatiku hanya ada tekad. "Tak akan kubiarkan teman-temanku terbunuh." Kataku bulat seperti batu. Pada akhirnya kulempar juga lonceng itu. Mengembalikan ke pemiliknya. Mungkin lebih tepat aku membuangnya. Dengan ini... Sasuke tak perlu berada di depanku lagi. Kita start lagi di garis yang sama. Sakura juga ikut.

Sunggingan hangat terbentuk di mata Sensei. Maskernya tak sanggup mengekang bibirnya yang tersenyum. Memandang dua lonceng di genggamannya. "Lagi pula... Jutsu tadi, bagaimana kau menguasainya Naruto?" Ganti menatapku. Pernyataan itu kepadaku.

Aku kelabapan teringat itu. Tanganku menggaruk batok kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. "Itu... Aku sama sekali tidak menguasainya Sensei." Benar begitu. "Hanya proyeksi semata. Aku tahu konsepnya dan, tidak mungkin meguasai jutsu yang butuh tiga tahun mengembangkannya hanya dalam hitungan hari." Aku harap itu mampu menjelaskan.

Aku tambahkan dengan membuat dua pusaran bola biru di kedua tanganku. Mata Sensei membulat melihat itu. Mengangkat pelindung dahinya sedikit ke atas. Memperlihatkan mata satunya yang bewarna merah menyala. Sebelum menutupnya kembali. Mendengus kesal dan merasa dibodohi olehku. Aku menyembunyikan tawaku. Menepuk kedua tanganku keras-keras dan kedua bola itu menjadi asap di udara. "Ini tak lebih sekedar Henge..."

Aku menemukan formula jutsu ini dua hari yang lalu. Malam hari setelah insiden dengan Mizuki-sensei. Di ruangan bawah tanah milik ayahku. Yang dinamainya 'Rasengan'. Aku menghabiskan hampir dua malam hanya untuk mempelajari konsepnya. Aku tahu bagaimana kantung mataku saat bercermin pagi tadi.

Sensei memutar kakinya memandangi kami hangat. "Tak kusangka jutsu bisa di-Henge." Dengusnya terlebih dahulu. Aku tertawa, membatin fuin-fuin milik Kaa-san yang membantuku melakukan itu. "Mungkin pertemuan hari ini, khususnya tadi terkesan sengit dan buruk." Tidak jelas nada penyesalannya. Yang pasti dia memang menyayangkannya . "Jadi... Mulai besok tim 7 akan mengambil misi. Dan kuharapkan kita lebih akrab. Sebagai pembimbing kalian, aku akan bertanggung jawab. Jaa..." Dia menyelesaikan dengan menghilangkan sosoknya di balik daun-daun yang berputar.

Meninggalkan kami bertiga dalam keheningan yang sejuk. Merasa semangat. Aku di balik kulitku mengecap panasnya. Begitu senang saat ini. Sampai-sampai tidak melihat Sakura yang bergelayut seperti lem di dekat Sasuke, menagih janji sang pemuda kala tadi. Celutukan dari bibir gadis itu tak menghenti meski Sasuke sudah memberi tanggapan 'iya'nya. "Kau ikut dengan kami, Dobe?" Jelas itu pertanyaan. Walaupun berusaha agar terdengar memerintah. Atau memohon tepatnya.

Aku mengibaskan tanganku berjalan ke arah yang berbeda. Sempat terlewat di mataku bagaimana gerak-gerik si Teme yang seakan risih. Baiknya dia tidak menjauhkan Sakura seperti biasanya. Aku harap dia tidak menunjukan jika memang menyesal. Tapi aku mengenal baik, dia memang tulus. Namun benar-benar akan kuhabisi jika sampai mengecewakan Sakura. "Jadilah pria sejati, Teme." Cemoohku seraya menjauh.

Tapi langkahku sempat terhenti sejenak mendengar panggilan Sakura. "Naruto, arigatou." Seruan itu keluar mulus dari bibirnya. Masuk jelas ke dalam telingaku.

Tanganku sebelah yang masih terangkat bekas pamitan tadi, menekuk jari-jariku menyisakan telunjuk dan jari tengah. Menggoyang-goyangkannya menjadikan tanggapan atas perkataan si Merah Muda. Damai...

Entah sudah pergi atau belum dua sejoli itu. Tak berniat melirik mereka. Yang jelas langkahku yang berlawanan membuat kami semakin jauh dan akhirnya hilang. Sosokku sudah di balik pepohonan di sebrang sungai. Jika aku berjalan terus mungkin akan sampai di perbatasan. Tapi aku memutar hingga sampai ke jalan utama dalam beberapa menit. Masih terasa di sendalku hawa dingin bekas rerumputan yang basah tadi. Pohon-pohon rindang yang seakan merindukanku. Aku tertawa ... mengingat jelas. Saat kecil aku sering ke situ. Melampiaskan kesepianku kepada mereka, pohon. Dalam hatiku berjanji akan berkunjung kembali. Mengajak Nee-chan, mungkin.

Tapi sekarang aku lapar. Bagaimana tidak, dari pagi perutku belum terisi apapun. Kakashi-sensei menyuruh kami agar tidak perlu sarapan. Ralat, bukan menyuruh. Kebodohan kami juga.

Aku sampai di rumahku. Bisa saja tadi kembali bersama Sasuke dan Sakura. Tapi aku tak berniat mengganggu mereka. Memutar jalan juga lebih cepat sampai jika ke rumahku.

Aku harap ada makanan. Tapi sepagi tadi Nee-chan jelas belum memasak. Aku sudah keburu pergi juga.

"Yatta..." Mulutku tersenyum lebar melihat kotak bekal yang terbungkus indah di atas meja makan. Aku berlari nyaris menabrak apapun yang kulewati. Tapi tidak seceroboh itu karena perutku.

Aku menarik secarik kertas kecil yang tertempel di ikatannya. 'Nee-chan akan menghukummu nanti' itu yang kubaca dengan gambar wajah tersenyum di bawahnya. Aku balas senyum. Ingat pula mana mungkin Nee-chan hanya memasak untuk dirinya.

Sudah penuh dengan gumpalan air pada bagian tutup makan saat kubuka. Dipikir memang sudah lewat setengah hari makanan ini tertutup. Aku mengambil satu dari dua Tamagoyaki yang berjejer rapi di dalamnya. Dengan sedikit irisan salad di bagian yang kosong. Dia benar-benar sempurna dalam memasak. Dalam hal apapun kurasa.

Setelah cukup kenyang menghabiskan dua porsi besar telur gulung, aku memasuki kamar meletakkan peralatan Ninjaku. Melepas jaketku pula. Lalu kembali dan masuk ke tempat rahasia Tou-san. Di depan pintu bawah, aku merapal segel untuk membukanya.

Pintu atas memang bisa dibuka dengan biasa, tapi pintu setelahnya hanya bisa dibuka olehku. Padahal kukira… Setelah terbuka tempo hari, maka fuin yang melindunginya juga ikut hilang. Tapi ternyata tidak, ruangan ini masih dilindungi kekkai. Walau sudah tak perlu lagi membuat segel darah. Tapi tetap membutuhkan chakra untuk membukanya. Fuin yang melindunginya terlalu rumit untuk dihilangkan. Butuh dua sampai tiga tahun lagi untuk menguasai tingkat itu. Mengingat masih hanya hitungan hari aku mempelajari ilmu aksara ini. Toh, kupikir ini berguna agar tidak ada orang yang bisa menyusup ke dalamnya.

Lampu obor mendadak menyala seperti biasa. Memperlihatkan ruangan yang masih dalam keadaan sama, sejak terakhir aku meninggalkannya. Siapa juga yang akan merapikannya selain aku. Jika Nee-chan tahu, dia pasti mengomeliku. Tapi memang tak ada yang perlu dirapikan dari tempat ini. Karena jelas akan kembali seperti semula.

Aku mendudukkan diriku di atas kursi. Di depanku, di atas meeja masih terdapat tiga gulungan terbuka, dan satu kardus kecil gulungan yang tertutup. Ada tinta dan pena juga. Disampingnya … bersandar pada kaki meja, dua bilah pedang dengan panjang dan bentuk yang berbeda. Masih terbungkus sarungnya. Aku pernah membuka keduanya, tidak ada yang menonjol dari senjata itu. Tidak seperti kunai bermata tiga yang sudah menarik perhatianku sedari awal.

Aku mengangkat satu gulungan paling atas, yang tidak benar-benar tertutup atau terbuka. Gulungan berwarna merah menyala dengan gambar kepala bertanduk aneh di sampulnya. Yang bertulis horror dengan nama 'Mata Dewa'. Siapapun, bahkan Hokage-Jiji pasti akan terkejut jika menemukan gulungan ini, sengaja atau tidak. Bagaimanpun… Dari namanya saja, scroll ini pasti berisi jutsu yang sangat hebat. Seperti Sharingan, atau Byakugan… Atau paling tidak sebuah Doujutsu kuat yang merivali itu.

Namun siapa sangka, gulungan ini hanyalah curahan fantasi seorang wanita berambut merah. Si Tomat, Akai Chishio no Habanero… Kushina Uzumaki, ibuku. Dia menulis 'Bagaimana Jutsu Bisa Di-Henge'di halaman pertama. Tepat di bagian judul. Dengan gambar dua buah hati di sisi masing-masing. Khas wanita dan kekanak-kanakan sekali. Aku tidak tahu berapa kali merutuki ibuku itu. Benar-benar tertipu saat pertama kali menemukan scroll ini.

Yahh… Kenyataan aku sangat bahagia mengetahuinya. Kaa-chan terlihat bahagia sekali menulisnya. Dulu, saat aku tak tahu siapa orang tuaku, kadang aku juga bersedih memikirkan siapa yang melahirkanku di dunia ini. Termenung sendiri meratapi bagaimana mirisnya hidupku saat itu. Namun, semenjak aku mengatahui mereka, menatap wajah mereka di foto … terkadang aku bisa menghabiskan waktu semalaman hanya untuk menangis, merindukan mereka. Hal yang wajar saat aku mulai bisa membayangkan senyum di wajah mereka, hangatnya sentuhan mereka kala menggendongku, suara ayah ibuku saat menegur dan mengajariku.

Pernah, suatu malam, sekali… Nee-chan menyadari dan menghampiriku. Menemaniku dan berkata 'Jika ada seseorang yang dengan penuh hati mau menjadi sandaran kesedihanmu, kau tak perlu menangis sendiri, Adik kecilku.' Membuatku tak kuasa lagi menahan tangisku.

Saat itu aku tahu… Aku tidaklah sendiri. Dan tak pernah sendiri. Aku terlampau senang dan bangga, dilahirkan oleh dua orang pahlawan Konoha. Dan terlampau bahagaia, memiliki seorang Uchiha Izumi dalam hidupku, Sandaime-Jiji yang tak pernah kurang kasih sayangnya kepadaku. Dan aku mulai menyadari, aku menangis bukan karena sedih. Hanya untuk mereka-lah… Air mataku memang diciptakan.

Mataku mulai memanas lagi. Aku memejam erat. Bukan saatnya menangis. Saat tahu bahwa sudah kutulis nama mereka dalam hatiku… Tak perlu lagi membuang waktuku untuk hal yang tidak perlu. 'Jadikan saja dirimu seorang Ninja yang hebat', peringatku pada diri sendiri.

Mengingat itu, tentang Mata Dewa… Ayolah, bahkan anak Akademi tahun pertama-pun bisa menguasainya. Ini sungguh hanyalah sebuah Henge.

Memang saat membuka dan membaca pertama kali gulungan ini, semua yang tertulis hanya fuin-fuin rumit yang cukup panjang. Relative panjang sesuai dengan namanya. Tapi jika benar-benar meletakkan semua pikiranmu ke dalamnya, sungguh yang bisa kau temukan hanyalah imajinasi dan pikiran yang tak mungkin ada selain di kepala seorang Kushina Uzumaki. Jika benar yang dikatakan Jiji tentang bagaimana sifat dan perilaku si Habanero, maka memang sangat mustahil Kaa-chan menciptakan jutsu seperti ini. Meski melihat namanya, Mata Dewa… Sangatlah mungkin jika ini memang perbuatan ibuku.

Prinsip kerjanya memang cukup rumit. Tingkat C, atau B jika tidak pernah bertemu fuinjutsu. Minimal yang harus dikuasai dan diketahui adalah konsep dan bentuk dari jutsu yang akan di-Henge. Dan mempunyai materi sebagi wadah sekaligus bahan untuk menciptakan proyeksi itu, adalah fuinjutsu murni karya Uzumaki.

Dan aku simpulkan… Meski tak tahu betul konsep dan bentuk suatu jutsu, kau hanya perlu membuat imajinasi dengan tepat bagaimana jutsu itu bekerja. Misal aku membayangkan sebuah pedang api, maka jadilah pedang api. Yahh… Walau tak sesimpel itu. Tapi kenyataan jutsu ini hanya memiliki kesulitan tingkat C. Dan dalam bahayanya malah sangat parah, D bahkan E. Tapi akan menjadi A jika bisa membuat suatu efektifitas yang besar.

Itulah kenapa diberi nama Mata Dewa… Karena membutuhkan mata seorang dewa untuk menghadapi jutsu ini. Benar-benar Kaa-chan. Namun aku menyetujuinya, membuat seringaian kompak di bibirku. Lihatlah anakmu ini Kaa-chan

Dan saat ini, yang menjadi target harus kukuasai adalah… Rasengan.

Aku menggulung kembali scroll jutsu bahaya ditanganku. Mengambil gulungan di bawahnya. Yang terbuka panjang dan terlipat-lipat. Aku sudah membaca formula ini berulangkali sampai hafal sangking seringnya. Terbagi menjadi tiga hierarki sempurna dalam melakukan jutsunya. Mengumpulkan, memadatkan, dan menahannya. Atau begitu aku menyimpulkan. Sebelumnya… Pada formula yang tidak matang, kisaran 16 tahapan yang harus diaplikkasikan untuk membuat bola spiral biru ini. Benar-benar level A.

Tapi meski begitu, aku sama sekali tak bisa walau hanya membentuk chakranya saja. Aku membutuhkan seorang guru. Jutsu dengan kerumitan tingkat tinggi seperti ini tidaklah mungkin bisa kukuasai seorang diri. Terkadang aku juga bisa sangat membenci aksara-aksara yang tak ada habisnya di hadapanku. Aku membenci buku sedari dulu. Tapi aku mencintai fuin karena memang sudah bagian dari keluarga dan darahku. Aku tidak terpaksa, memang begitu adanya.

Namun untuk Rasengan… Ini padahal belum tentang kunai bermata tiga itu. Tapi kenapa begitu sulit? Aku merebahkan kepalaku pada sandaran kursi. Memejamkan mata 'Tou-chan… Andai kau ada di sini.' Kalimat itu berdengung dalam kepalaku. Tiba-tiba.

Kutegakkan kepalaku kembali dan mendelik tajam. Mungkin dampak kurang tidur. Aku tak perlu memaksakan diri saat tahu sampai mana batasku. Nee-chan bilang… Saat aku bisa membuat porsi dimana waktunya aku berlatih, maka di saat itulah latihanku akan berguna.

Namun aku tidak bisa mengelak, jika aku membutuhkan seorang guru, seorang yang mebimbingku. Seperti mungkin… Tou-chan yang semata wayang adalah pencipta jutsu ini. Tapi itu tidaklah mungkin.

Aku tetaplah anak kecil, yang kadang tak mampu mengendalikan pikiranku. Namun aku sadar dan cukup dewasa…

Untuk mengetahui bagaimana perasaanku … Dan yang sedang aku butuhkan.

Nee-chan

.

.

.

.

TBC


Shitsurei Shimasu... Saya tak pernah berpikir untuk hiatus atau berhenti menulis. Mungkin ada beberapa tragedy yang membuat saya sulit menuangkan ide. Tapi saya tak pernah berhenti berusaha untuk mencari jalan keluarnya. Saya sudah menikmati dunia Fanfic ini… Bisa menuliskan semua fantasi saya dan bisa dibaca oleh banyak orang merupakan perasaan tesendiri. Sedikit banyak orang pasti mengerti tentang itu.

Dan untuk update chap CRIMSON ini… Maaf jika tidak banyak word. Saya harap tak terlalu sulit untuk selaras dengan imajinasi saya. Tak perlu dipikir keras :D. Ini adalah fic positive romance. Jadi jika saya tak begitu banyak dalam memunculkan aksi atau latihan Naruto, harap dimaklumi. Tapi kemungkinan saya akan buat Naruto sedikit Overpower. Mungkin pasti, mengingat saya tidak banyak menampilkan latihannya. Atau malah saya akan banyak men-skip pertarungan yang sudah umum.

Alasan utama… Saya hanya membuat Naruto agar tidak tampak pecundang di banding Itachi, di mata Izumi. Fic ini hanya fokus pada sudut pandang pertama pemeran utama, yaitu Naruto. Tentang segala perasaan dan apapun yang ada di hidup juga hatinya. Jadi… Jika si Blonde Kyuubi sedikit melankolis, nikmati saja :D.

Namun mengingat saya pribadi bukan orang yang cukup konsisten, kemungkinan sudut pandang berubah bisa saja terjadi. Tapi saya akan berusaha yang terbaik. Terima kasih untuk dukangan semuanya :D.


Reply Some Reviews

SMGates : A7*, ne? Sama donk :D. Pair positive Naru x Izumi. Dan terima kasih banyak dukungannya, saya tidak bakal hiatus. Tapi jika lama update, gomen.

pratamamirai7 : Terima kasih banyak. Dan tetap mengoreksi tulisan saya :D.

Azarya senju : Pair sudah pasti Naru x Izumi. Dan konfilk sudah jelas bakal terjadi. Mohon sarannya :D.

Mr Uzumaki 22 : Paling mungkin, perbedaan umur mereka 3-4 tahun. Jika kurang dari itu, seperti tidak adil dengan Itachi. Mengingat mereka seumuran. Terima kasih sarannya :D.

Fleuris Saya : Bertemu senior seperti anda adalah kesenangan buat saya :D. Sudah dua kali saya mengalami WB. Jari saya tidak bisa berjalan ketika sudah di atas keyboard. Benar-benar penyakit yang menakutkan :D. Terima kasih banyak, mohon sangat bimbingan dan dukungannya.

Terima kasih sudah membaca dan menyempatkan Review. Dan juga yang Favs & Follows fanfic saya… Sekali lagi terima kasih.


Maaf atas segala kekurangan.

Jadi selebihnya mohon bimbingannya.

Sampai jumpa di chap berikutnya…