Kau muncul di jalanku begitu saja

Lalu, menjadi bagian hidupku tanpa diminta

Kau mengubah masa depanku yang tertata rapi

Membuatnya berantakan, mengharuskanku menyusun kembali setiap kepingan, menjadikan dirimu penting dalam setiap bagian

Kau adalah tokoh yang semula tak ada dalam kisahku

Namun sekarang kau adalah pemeran utama dalam cerita kehidupanku

.*.

Disclaimer ©Tite kubo

(Saya hanya pinjam karakter-karakter yang ada di dalamnya saja)

.*.

Wedding Invitation

by

Ann

.*.

Peringatan : AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s), Gaje (Silahkan berpendapat sendiri).

Tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'

Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca,

selamat menikmati!

.*.

Rukia's Side

.*.

Rukia memandangi amplop putih di tangannya. Perlahan ibu jari kanannya mengelus gambar bunga sakura yang menjadi satu-satunya hiasan di bagian depan amplop polos itu. Di bagian tengah gambar bunga yang diletakkan di sudut kanan bawah amplop itu terdapat inisial namanya dan calon suaminya. Ia sendiri yang membuat sketsa gambarnya. Sebenarnya, gambar awal yang Rukia buat bukanlah bunga sakura, melainkan gambar kelinci kesukaannya, chappy. Tapi setelah menerima penolakan keras dari sang calon suami, akhirnya ia mengganti gambar itu. Yah, bukan sesuatu yang akan ia sesali, karena akhirnya desain undangan pernikahannya malah terlihat elegan. Itu adalah undangan terakhir yang ada padanya, sisa 99 lainnya sudah ia bagikan kepada teman, keluarga, kerabatnya, dan beberapa ada di tangan calon mempelai pria.

Seratus lembar adalah jumlah yang kecil mengingat status keluarga Kuchiki yang merupakan salah satu keluarga terpandang di Soul Society. Namun, Rukia memang sengaja membatasi undangannya. Ia tak menginginkan upacara yang meriah apalagi mewah. Cukup acara sederhana yang khitmad, yang terpenting adalah ikrar yang ia dan pasangannya ucapkan nanti dilakukan dengan sepenuh hati.

Sebentar lagi, ia dan Kurosaki Ichigo akan mengucap janji suci itu. Rukia akan menjadi istri dalam hitungan hari. Status dan kehidupannya akan berubah. Ia akan kerepotan, pekerjaan dan kewajiban seorang istri akan menuntut perhatian yang sama besar, tapi Rukia tahu kehidupan barunya nanti akan menyenangkan, karena ia akan menghabiskannya bersama pria yang sangat dicintainya.

Kurosaki Ichigo adalah pria ke empat yang berhasil masuk dalam kehidupannya, setelah sahabat, kakak angkat, dan seniornya. Namun, satu-satunya yang datang dengan cara yang begitu unik. Pertemuan mereka memang bukanlah kebetulan, tetapi hasil perencanaan matang seseorang. Mereka adalah pion dalam permainan, korban dari konspirasi besar yang hampir menghancurkan dunia shinigami. Orang bisa saja menyebut pertemuan mereka adalah nasib buruk. Namun, bagi Rukia itu adalah takdir.

Pertemuan yang digariskan oleh takdir, begitulah ia menyebut malam perjumpaannya dengan Ichigo. Pedang adalah benda yang mempersatukan mereka, menjadi pondasi awal hubungan mereka.

Rukia tak akan pernah menyesali apa yang ia berikan pada Ichigo malam itu. Semua kekuatan, bahkan nyawanya. Dan, jika ia harus mengulang lagi kejadian malam itu, Rukia akan tetap melakukan hal yang sama, menyuruh Ichigo mengambil kekuatannya untuk menyelamatkan keluarga pria itu.

Malam itu adalah saat-saat yang tak akan pernah Rukia lupakan. Sebuah awalan yang membawanya pada hari ini. Setelah melewati semua tawa, tangis, luka, darah, bahkan kematian, akhirnya ia dan Ichigo akan memulai babak baru. Kebahagiaan yang terbit setelah begitu banyak penderitaan.

Rukia bahagia. Seharusnya begitu, dan ia memang sedang bahagia. Namun, ada yang mengganjal. Sesuatu yang membuat kebahagiaannya tak terasa lengkap.

Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang terasa salah, dan itu adalah Abarai Renji. Wakil kapten divisi 6 itu, membuat kebahagiaannya tak terasa lengkap.

Renji adalah pria pertama yang masuk ke dalam kehidupan Rukia, meski saat itu pria itu masih bocah ingusan, sama seperti Rukia sendiri. Ia berteman dengan Renji karena ia membantu Renji kecil mencuri air. Kehidupan yang Rukia jalani dulu memang tak terlalu baik, ia dan teman-temannya seringkali harus mencuri untuk bertahan hidup, hingga akhirnya ia dan Renji memutuskan untuk mencari kehidupan yang lebih layak dengan menjadi shinigami.

Bagi Rukia, Renji adalah seorang sahabat, teman pertamanya. Meski ada saat-saat di mana pria itu meninggalkannya, tapi posisi pria itu tak akan pernah tergantikan. Renji orang istimewa dalam kehidupan Rukia, seseorang yang telah ia anggap sebagai keluarga. Karena itulah ia ingin memberikan undangan pernikahannya yang pertama pada pria itu. Ia ingin sahabatnya yang menjadi orang pertama yang tahu tentang pernikahannya.

Rukia begitu semangat menemui Renji yang datang ke rumahnya hari itu. Memang tujuan utama pria itu datang bukanlah untuk menemuinya, melainkan menghadap Kuchiki Byakuya, kakaknya, yang merupakan atasan Renji di divisi 6. Awalnya Rukia berniat menunggu hingga Renji selesai menemui kakaknya. Namun, saat mendengar suara pria itu di pintu masuk, ia menjadi tak sabar dan langsung menarik pria itu ke halaman samping─tempat yang sama dengan tempatnya berada sekarang.

Ia masih mengingat dengan jelas kejadian sore itu, bahkan jika ia menatap kolam di depannya ia bisa melihat bayangan dirinya dan Renji berdiri berhadapan di sana.

[flashback]

"Yang pertama untukmu." Rukia mengatakannya dengan begitu ceria sambil menyodorkan amplop yang berisi undangan pernikahannya pada Renji.

"Apa itu?" Renji menumpuk map laporan yang menjadi alasan kedatangan pria itu ke kediaman Kuchiki di tangan kiri, dan mengambil amplop Rukia.

Pertanyaan Renji membuat wajah Rukia memanas, hingga menyebabkan semu merah muda merayap di pipinya hingga telinga. Ia tak sanggup memberi jawaban langsung.

"Buka dan bacalah, maka kau akan tahu. Aku ingin kau mengetahuinya sebelum yang lain, karena kau adalah teman pertamaku."

Ia mengamati kala Renji membuka lidah amplop, pria itu sama sekali tidak memerhatikan hiasan sakura di bagian depan. Rukia sedikit menyayangkan hal itu, karena ia ingin Renji melihat hasil karyanya. Namun, itu hanya hal kecil yang harus Rukia kesampingkan dengan segera, karena ada hal yang lebih tak menyenangkan dari itu. Ekspresi Renji.

Rukia tak pernah melihat Renji seperti itu sebelumnya. Ia pernah melihat Renji tertawa, marah, berduka, tapi yang dilihatnya kali ini benar-benar membuatnya bingung. Rahang pria itu mengeras, tangan yang memegang undangan mengepal sehingga menyebabkan kertas itu lecek, dan mata pria itu terlihat kosong, seolah ada yang sudah mengisap semua kehidupan dari sepasang mata cokelat itu.

"Renji?" Rukia memanggil nama pria itu dengan pelan. Mata cokelat itu menatapnya penuh dengan kecewa. Ia menelan ludah, di saat yang sama rasanya ada yang meremas jantungnya. Sakit. Karena ia merasa bahwa ia sudah menyakiti Renji, meski ia tak tahu perbuatan atau perkataannya yang mana yang sudah menyakiti sahabatnya itu.

Mungkinkah pernikahannya yang menjadi sebab rasa kecewa Renji? Cepat Rukia menghapus pikiran buruk itu. Bukan itu. Pasti bukan itu.

Rukia mengambil napas dan kembali bertanya, "Kau baik-baik saja?" Lama ia menunggu, namun tak kunjung mendapat jawaban yang ia inginkan.

"Aku harus menyerahkan laporan pada Kuchiki Taichou."

Satu kalimat, dan pria itu berlalu. Rukia mencoba memanggil pria itu berkali-kali, berusaha mengejar, tapi langkahnya terhenti ketika dengan tidak sengaja ia menginjak undangan pernikahannya sendiri. Ia membungkuk untuk memungut kertas itu beserta amplopnya, sembari bertanya-tanya apa sebenarnya yang salah.

[end of flashback]

Rukia mendesah. Dua hari sudah berlalu, dua hari yang terasa berat bagi Rukia. Urusan pernikahan sudah menyita pikirannya, ditambah dengan masalahnya dengan Renji, kepalanya benar-benar terasa hampir pecah. Ia butuh penyemangat, seseorang yang bisa mengembalikan senyumnya dalam sekejap, dan orang itu ...

"Merindukanku, eh?"

Suara itu! Segera saja Rukia memutar kepalanya. Iris violetnya melebar.

Bagaimana bisa? Aku baru memikirkannya, dan dia langsung muncul di depanku.

Rukia melompat berdiri, beberapa kali ia mengucek matanya untuk memastikan indera penglihatannya bekerja dengan baik, dan memang seperti itu. Yang berdiri di depannya sekarang memang benar pria yang tadi ada di pikirannya. Pria yang dalam beberapa hari ke depan akan menjadi suaminya.

"Apa yang kaulakukan di sini?!" tanyanya sambil menunjuk pria berambut jingga itu. Keterkejutannya mengalahkan rasa senang yang muncul kala melihat pria itu.

"Untuk menemuimu, memangnya apalagi?" sahut pria itu.

Sebenarnya, yang ingin Rukia lakukan adalah berlari ke arah pria itu dan memeluknya, namun yang keluar dari mulutnya justru: "Kenapa tidak bilang padaku?"

"Seharusnya kau tahu hari ini aku akan datang. Byakuya yang memanggilku kemari."

Rukia menelengkan kepala. "Nii-sama yang menyuruhmu datang? Kapan? Untuk apa?"

"Uwo, tunggu! Pertanyaanmu banyak sekali. Iya. Kemarin, lewat Renji. Urusan pria. Kau tak perlu tahu."

Rukia melipat tangan di depan dada. "Apa itu? Kau harus menjelaskannya."

"Tidak. Kenapa juga aku harus menjelaskannya padamu? Kalau mau tahu, tanya saja pada Byakuya."

"Apa?! Bagaimana bisa kau memanggil kakakku dengan begitu tidak sopan? Sebentar lagi dia akan jadi kakak iparmu!"

Ichigo hanya mengedikkan bahu tak acuh. "Nanti aku akan memanggilnya dengan sopan."

Mata violet Rukia menyipit ke arah Ichigo. "Nanti itu kapan?"

"Nanti, kalau Renji sudah jadi taichou," jawab Ichigo asal.

Mendengar nama Renji disebut Rukia langsung menghela napas. Ia kembali duduk di tempatnya semula, membelakangi calon suaminya.

"Hei, apa seperti ini sikapmu pada calon suamimu?"

Terdengar protes dari pria di belakangnya, tapi Rukia tak mengacuhkannya. Ia kembali menatap amplop di tangannya, lalu mendesah.

"Ada masalah?" Suara itu kini berasal dari samping kiri Rukia.

Ia tak bisa memberi jawaban. Lagipula jawaban apa yang bisa ia berikan, jika sebenarnya ia pun tak mengerti apa yang menjadi masalah. Ia memang memilki dugaan, namun dugaan tidak selalu benar, bukan?

"Apa kau tidak ingin membaginya denganku?" Ichigo kembali bersuara. "Masalah jika dibagi akan terasa lebih ringan. Mungkin tidak langsung selesai, tapi paling tidak membuat perasaan lebih nyaman."

Kepala Rukia tertoleh. Heran mengapa calon suaminya tiba-tiba jadi bijak seperti itu. "Kau terbentur saat melewati senkaimon ya?"

"Apa?!" Ichigo mengernyit tak paham.

"Kau tiba-tiba jadi bijak begitu sih?" ujar Rukia.

Kening Ichigo berkerut. "Heh?! Kau meragukan tingkat intelegensiku ya?"

"Memang dari dulu aku meragukannya," sahut Rukia dengan entengnya.

Kerutan di kening Ichigo semakin tampak, diikuti dengan empat siku yang muncul di sisi kanan dahinya. Lalu dengan gerakan cepat Ichigo menjepit leher Rukia dengan lengan, menariknya hingga kepala Rukia berada di depan dada pria itu. Ichigo lalu melepasnya, merebahkan kepala Rukia di atas paha pria itu. Tangan besar pria itu mengelus rambut Rukia, awalnya dengan ragu-ragu, tapi karena Rukia tidak memprotes pria itu melanjutkannya belaian lembut menenangkan.

Jujur saja Rukia menikmati perhatian yang Ichigo berikan padanya. Ichigo memang bukan jenis pria romantis yang akan memberikan bunga atau kata-kata manis, tapi kadang pria itu melakukan hal-hal kecil yang mampu membuatnya merasa dihargai dan dicintai. Seperti yang dilakukan pria itu sekarang. Ketika ia sedang resah, pria itu melakukan hal kecil tapi manis untuk menenangkannya.

"Jadi, apa kau mau menceritakan padaku, apa yang sudah mengganggumu, Nona Kuchiki?"

Rukia tak memberikan jawaban, hanya menyodorkan amplop yang sejak tadi dipegangnya kepada Ichigo.

"Kupikir kau sudah membagi semuanya," kata Ichigo sambil mengambil amplop itu. "Ini untuk siapa?"

"Renji," jawab Rukia pelan.

Ichigo mengernyit. "Kau belum memberikannya? Bukannya kaubilang kalau dia akan dapat undangan pertama? Kenapa kau belum memberikannya?" Pria itu bertanya bertubi-tubi, membuat Rukia ingin menyumpal mulut tunangannya itu dengan geta.

Rukia bangun, lalu memelototi Ichigo. "Bisa tidak kaudengarkan aku dulu sebelum bertanya?" Pria itu segera menutup mulut dan mengangguk.

"Aku sudah memberikannya, tapi ..." Ia lalu menceritakan kejadian dua hari lalu pada Ichigo.

Ia berharap Ichigo segera menanggapi setelah ceritanya selesai, tapi yang dilakukan pria itu malah memandanginya dengan tatapan yang tak bisa Rukia mengerti. Ketika ia hendak bertanya, Ichigo malah merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan pria itu.

"Jika ada sesuatu yang tidak bisa kuberikan kepada orang lain, itu adalah dirimu Rukia." Ichigo berbisik di telinganya.

Rukia tidak mengerti mengapa Ichigo mengatakan hal itu, tapi ia merasakan bahwa pria itu serius dengan kata-katanya. "Siapa juga yang mau diberikan pada orang lain?" sahutnya. "Kalau aku tidak ingin bersamamu, untuk apa aku menerima lamaranmu. Baka!"

"Itulah yang ingin kudengar." Sekarang Ichigo yang terdengar resah.

Rukia memaksa Ichigo melepaskannya, lalu menatap pria itu. "Ichigo, ada apa?"

Ichigo menggeleng. "Tidak ada apa-apa."

"Mau berbohong padaku, hah?" Rukia bersidekap, matanya menyipit pada Ichigo. "Belum menikah saja sudah begini, apalagi setelah menikah nanti. Bisa-bisa─"

"Bisa berjanji padaku satu hal, Rukia?" Ichigo memotong kata-katanya.

Walau bingung dengan sikap Ichigo yang tiba-tiba berubah, Rukia tetap mengangguk─ia merasa harus melakukan itu. "Apa?" tanyanya.

"Jangan batalkan pernikahan kita apa pun yang terjadi."

Bletak!

Satu pukulan Rukia hadiahkan kepada Ichigo, tepat di kepala pria itu.

"Sakit! Itu untuk apa, Rukia?"

"Pikir saja sendiri, Ichigo no baka." Rukia membuang muka.

Lama setelahnya mereka berdua hanya diam, sibuk berkelana di alam pikiran masing-masing. Hanya suara serangga malam dan embusan lembut angin yang menemani kesunyian itu.

Rukia memandangi bulan sabit yang terpantul di kolam ikan koi kakaknya. Ia benar-benar kesal pada Ichigo, pria itu bukannya membantu memecahkan masalah malah menambah beban di kepalanya. Apa sih yang terjadi pada pria itu di dunia manusia? Apa dia terkena syndrom pernikahan, yang membuat pria itu meragukan hubungan mereka menjelang hari-hari pernikahan?

"Maaf." Satu kata itu sukses membuat lamunan Rukia yang sudah berkelana terlalu jauh buyar. "Aku membuat kesalahan dengan meragukanmu."

Rukia tak menjawab.

"Rukia yang kukenal adalah wanita pemberani yang akan memegang teguh janjinya, kalaupun ia memutuskan untuk melanggar janjinya ia akan melakukannya karena alasan yang kuat."

Violet Rukia mendelik marah pada Ichigo. "Apa kau masih berpikir aku akan melanggar janjiku padamu?"

Ichigo meringis. "Tidak. Tentu saja tidak, aku kan tidak mau patah hati."

Satu pukulan lagi Rukia layangkan ke kepala Ichigo. Awalnya pria itu terlihat akan memprotes, namun urung setelah mendengar kata-kata Rukia. "Kalau kau patah hati, aku juga tahu." Pria itu malah memeluk erat Rukia.

"Aku sangat mencintaimu."

"Aku tahu," sahut Rukia.

Ichigo melepaskan pelukannya sembari memprotes, "Hei, itu bukan jawaban yang kumau."

"Lalu kau mau jawaban apa?" Rukia memasang wajah innocent.

"Aku mau ..." Wajah Ichigo memerah dan pria itu langsung membuang muka untuk menyembunyikannya. "Kau tahu aku ingin mendengar apa, Rukia," ujar pria itu.

Rukia memasang senyum. "Memangnya apa yang ingin kaudengar?"

"Rukia!"

Rukia tak bisa menahan tawa melihat Ichigo yang salah tingkah. Ia masih terkikik saat Ichigo menarik tangannya, dan kini wajahnya berada di depan wajah pria itu. Bibir mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Rukia bisa merasakan embusan napas Ichigo di bibirnya, jantungnya mengentak cepat, penuh antisipasi. Cukup satu gerakan kecil, maka jarak akan terputus, dan ...

"Byakuya akan membunuhku," ucap Ichigo sambil menarik diri.

"Apa?!" Mata Rukia membelalak.

"Dia sudah memperingatiku agar menjauhkan tanganku darimu sebelum pernikahan." Ichigo menarik tangan dari Rukia.

"Eh?" Rukia memandang bingung Ichigo yang tiba-tiba menjaga jarak.

Ichigo tersenyum canggung. "Sebaiknya aku pergi sebelum tidak bisa menahan diri." Pria itu berdiri. "Dan untuk masalah Renji, jangan terlalu dipikirkan. Semua akan baik-baik saja."

"Dari mana kau tahu?"

"Karena dia sama denganku."

"Apa?" tanya Rukia tak mengerti.

"Sampai jumpa di hari pernikahan, Rukia." Usai mengatakan itu, Ichigo bershunpo meninggalkan Rukia. Perkataan Ichigo terdengar membingungkan, tapi di saat yang sama mampu menenangkannya.

Besok, semua akan baik-baik saja. Pasti!

Dan, yang dikatakan Ichigo benar terjadi. Renji menemui Rukia keesokan harinya. Meski terlihat canggung, pria itu mengucapkan selamat, lalu menerima undangan darinya, dan berjanji akan hadir di upacara pernikahan Rukia nanti.

.*.

End of Rukia's side

.*.

Review's review:

Haruna Aoi

Makasih dah RnR ya.

Memang sebaiknya Bleach berakhir di fullbring aja. Sisanya abaikan, karena ceritanya berubah jadi nggak jelas. Saya sebenarnya mau mengabaikan ending sebenarnya Bleach dan segala 'pernak-pernik'nya, tapi selalu teringat. Sepertinya emang belon bisa mupon nih.

Hahaha ... saya sekarang emang lama apdet. Mungkin bakal bikin short story dulu beberapa buah bahu ngelanjutin yang MC. Harap bersabar dalam penantian. *halah*

Malas login

yang ITU nggak usah diomongin deh. Makasih dah RnR ya.

Hum, belum bisa diapdet yang western. Ada beberapa scene yang masih harus diperbaiki lagi sih.

Ryuuki

Selamat tahun baru juga buatmu.

Ya, 'seharusnya' Ichigo yang berada di posisi Renji, tapi di sini saya balik. Saya lebih suka bikin Renji yang broken heart sih daripada Ichigo. *plak!*

IR adalah real couple, menurut saya, meski menurut yang bikin nggak seperti itu.

Novel itu emang bikin sakit hati. Hebat banget TK bisa bikin fans IR patah hati berkali-kali.

Yup. Rukia cantik banget, tapi ekspresinya sedih sekali.

Makasih udah RnR dan ngasih semangat ya.

Permen Lemon

Eh? Saya gantiin TK? Wkwkwk ... ntar Bleach berubah jadi romance storty dums.

Makasih dah RnR.

.*.

Terima kasih buat kalian yang sudah menyempatkan diri membaca chapter ini. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Sign,

Ann *-*