Kau masuk ke dalam kehidupanku dengan cara yang aneh, hampir mustahil

Lalu, kehidupanku berubah dalam sekejap

Kau mengubah hari-hariku yang semula tenang

Menjadikannya penuh tantangan

Aku belajar karenamu, aku berusaha karenamu, dan akhirnya menjadi kuat karenamu

Kau semula adalah entitas asing, namun kini kau menjadi bagian penting dalam hidupku

Kisah ini bermula bersamamu, pun harus berakhir bersamamu

.*.

Disclaimer ©Tite kubo

(Saya hanya pinjam karakter-karakter yang ada di dalamnya saja)

.*.

Wedding Invitation

by

Ann

.*.

Peringatan : AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s), Gaje (Silahkan berpendapat sendiri).

Tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'

Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca,

selamat menikmati!

.*.

Ichigo's Side

.*.

Hari ini seharusnya menjadi hari yang membahagiakan. Ichigo memulainya dengan perasaan senang di pagi hari, dengan penuh semangat berangkat ke kantornya untuk bekerja. Ia menangani kasus-kasus dengan efisien seperti biasanya, namun tak menerima kasus baru karena firma tempatnya bekerja sudah tahu bahwa ia tak bisa melakukannya dalam sebulan ke depan. Ia sudah mengajukan cuti yang akan diambil dua minggu lagi, dan sudah disetujui atasannya. Itulah sebabnya tak ada kasus baru yang diantarkan ke mejanya hari ini, selama dua minggu ke depan ia hanya akan fokus untuk mengerjakan kasus-kasus yang sudah diterima sebelumnya; kasus perceraian yang melibatkan perebutan hak asuh anak, perebutan hak tanah, pembagian warisan. Tiga kasus untuk diselesaikan selama dua minggu, sebelum akhirnya ia bisa bebas dan fokus menghadapi hari pernikahannya.

Namun, hari yang membahagiakan bisa saja menjadi hari yang buruk pada akhirnya. Dengan keruwetan berkas-berkas, klien yang cerewet, persidangan yang ditangguhkan, lalu pertemuan yang kacau dengan teman-teman SMA. Yah, sebenarnya pertemuan Ichigo dengan teman-teman SMAnya tidak sekacau itu. Awalnya semua berjalan baik; mereka berkumpul, saling bercerita tentang kegiatan masing-masing, kemudian mengenang masa lalu. Percakapan mengalir dengan lancar, diselingi candaan dan tawa, hingga akhirnya Ichigo berdiri dan membuat pengumuman.

"Teman-teman, tolong dengarkan aku sebentar. Aku ingin memberitahu kalian sebuah kabar baik."

Semua orang diam, mendengarkan dengan saksama apa yang dikatakan Ichigo.

"Aku ingin mengundang kalian ke resepsi pernikahanku tanggal 19 Februari nanti."

Satu ...

Dua ...

Tiga ...

Kehening bertahan hingga tiga detik. Kemudian ledakan terjadi, masing-masing orang di ruangan VIP restoran Jepang yang sengaja disewa sebagai tempat reuni, memberi reaksi beragam. Ada yang kegirangan dan langsung memberi selamat pada Ichigo, ada pula yang syok karena terkejut, ada yang mengangkat gelas sambil meneriakkan ucapan selamat, tetapi ada pula yang terlihat merana karena dirinya belum mendapatkan keberuntungan yang sama. Namun, yang menjadi perhatian khusus Ichigo adalah teman-teman karibnya yang tak terlihat senang dengan berita itu. Mereka tak antusias seperti yang lain, bahkan Chad diam saja, lalu ada Tatsuki dan Ishida yang tampak marah. Ketiganya tak seperti Inoue Orihime yang memberinya selamat dengan senyum lebar, meski entah bagaimana suara gadis itu terdengar bergetar dan matanya terlihat sendu.

"Selamat, Kurosaki-kun. Kuharap kau berbahagia dengan Kuchiki-san."

"Terima kasih, Inoue. Kau harus datang ke pernikahanku, Rukia akan sangat senang."

"Tentu saja."

Bersamaan jawaban Inoue itu, Ishida memundurkan kursi dan berdiri. Sebelum pergi, mata biru di balik kacamata frameless itu menatap tajam Ichigo.

"Hey, Ishida!" Ichigo berlari hendak menyusul Ishida, namun langkahnya ditahan teman-teman yang memberinya selamat.

Untuk sesaat Ishida terlupakan, dan acara reuni berubah menjadi pesta. Bir dan sake dipesan secara berlebihan. Beberapa teman Ichigo bahkan tak bisa pulang sendiri karena terlalu mabuk. Inoue salah satunya, gadis itu mabuk. Ichigo berdiri di sisi jalan, berusaha menyetop taksi untuk mengantar Inoue pulang, sementara Chad dan Tatsuki berusaha menyeimbangkan tubuh Inoue yang limbung. Setelah berhasil mendapatkan taksi, Ichigo berbalik.

"Taksinya sudah ada," ujarnya.

Tatsuki hanya mengangguk tanpa mengucapkan terima kasih, sedang Chad bergegas mendekati taksi berwarna kuning-hitam itu dan membuka pintu bagian belakang. Ichigo berusaha membantu Tatsuki memapah Inoue ke taksi, namun dengan kasar Tatsuki menepis tangannya.

"Hime tak membutuhkan perhatianmu," ujar Tatsuki sengit.

Ichigo berjengit. Tak biasanya Tatsuki sekasar ini dengannya. Tatsuki adalah teman masa kecilnya, dan selama ini hubungan mereka baik, setidaknya sampai malam ini. "Ada apa sih denganmu? Aku hanya berusaha membantu," katanya bingung.

"Simpan saja bantuan itu untuk Kuchiki, biar aku yang mengurus Hime," sahut Tatsuki.

"Hei, apa-apaan ini? Aku berusaha bersikap baik dan yang kau lakukan─"

"Berisik!" Suara itu berasal dari Inoue. Gadis cantik itu menoleh pada Ichigo, menatapnya dengan mata cokelat yang besar.

"Kurosaki-kun ... hik!" Inoue melepaskan diri dari Tatsuki dan menghampiri Ichigo. Badan Inoue terhuyung ketika melakukan itu, Ichigo segera meraih lengan gadis itu agar tidak jatuh mencium jalan. Tangan gadis itu bergerak-gerak, seolah ingin memeluk Ichigo, tapi kemudian tertahan di lengan atas Ichigo, berpegangan pada mantelnya. "Kau tahu, hik! ... aku ingin mengucapkan selamat dengan tulus ... hik! Aku ingin ... hik! ... merasa ikut senang tentang pernikahanmu dengan Kuchiki ... hik! ... tapi ... hik! ... aku tak bisa ..." Air mata Inoue berderai. "Aku tak bisa! Aku tak bisa! AKU TAK BISA!" Gadis itu berteriak. "Aku benar-benar jahat, ya kan? Aku jahat! Gadis jahat yang tidak bisa dengan tulus mengucapkan selamat padamu! Hik! Aku jahat!"

"Orihime, hentikan." Tatsuki berusaha menarik tangan Inoue, sementara Ichigo hanya bisa diam mematung mendengar perkataan Inoue. Namun, Inoue bergeming. Gadis itu menampik tangan Tatsuki, lalu melanjutkan kata-katanya. "Tolong ... jangan membenciku ... hik! Kurosaki-kun. Setidaknya ... hik! ... jika kau tak bisa mencintaiku, jangan membenciku ... hik! Aku tak akan sanggup menanggungnya jika kau membenciku." Inoue jatuh ke dada Ichigo. "Jangan membenciku ...," bisik gadis itu sebelum kehilangan kesadaran.

Dengan sigap Chad menopang tubuh Inoue, karena Ichigo tak bergeming, lalu memapahnya masuk ke taksi. Tatsuki segera mengikuti tanpa mengatakan apa pun pada Ichigo.

Taksi berderu meninggalkan Ichigo, yang hanya bisa menatap kosong taksi yang menjauh. Otaknya masih berusaha mencerna informasi yang baru saja ia dapatkan.

Setidaknya jika kau tak bisa mencintaiku, jangan membenciku.

Itu artinya ... Ichigo tak bisa mengerti arti kalimat itu, tak mau mengerti, takut untuk mengerti.

"Ichigo."

Kepala Ichigo tertoleh ke arah suara. Chad berdiri beberapa langkah darinya, rupanya dia tak ikut naik taksi bersama Inoue dan Tatsuki.

"Yang terjadi tadi ... sebenarnya─"

Ichigo mengangkat tangan, menghentikan kata-kata Chad sebelum selesai. Lalu tanpa mengucap sepatah kata pun, ia melangkah pergi. Ia tak ingin mendengar penjelasan apa pun. Tak ingin mendengar kenyataan bahwa selama ini ia sudah menjadi orang yang begitu jahat karena tak menyadari yang terjadi di sekitarnya.

Ichigo melangkah melewati taman yang sepi, satu blok lagi gedung apartemen tempatnya tinggal akan terlihat. Biasanya, Ichigo akan bergegas pulang karena sekarang sudah hampir jam dua belas malam. Artinya, sebuah pesan yang diantar kupu-kupu pengantar pesan pasti sudah diletakkan dengan manis di meja samping tempat tidur. Pesan itu dikirim dari dunia yang berbeda oleh gadis yang amat dicintainya, Rukia.

Ia akan membaca tulisan tangan─biasanya juga disertai gambar─Rukia, tersenyum atau mengernyit dengan cerita gadis itu tentang hari yang dilaluinya. Lalu ia akan menuliskan balasan, menitipkan pesan pada sang kupu-kupu sebelum ia tidur. Itu adalah rutinitas malam Ichigo. Namun, malam ini ia tak bisa melakukan itu. Lagi pula ia tak tahu apa yang akan ia tulis dalam pesannya. Tak mungkin jika ia menulis: Ternyata selama ini Inoue mencintaiku. Mustahil! Membeberkan hal itu pada Rukia akan menyakiti wanita itu. Rukia dan Inoue berteman, dan Ichigo tahu Rukia menganggap penting hal itu sehingga dia akan merasa bersalah jika mengetahui kenyataan itu.

Kenyataan yang juga membuatnya merasa bersalah dan bodoh. Ya, bodoh atau mungkin bisa disebut ketidakpekaan, karena selama bertahun-tahun tidak menyadari perasaan Inoue. Bahkan orang-orang disekitarnya pun tahu, hanya dirinya yang tidak.

Ichigo baru melewati taman ketika ada sosok muncul dari balik bayang-bayang. Ia bersiaga, matanya menyipit ke arah sosok itu dengan curiga. Kecurigaan yang tak bertahan lama karena ia mengenali sosok itu. Ishida Uryuu.

Ia baru akan menyapa Ishida, ketika pria itu menghampirinya dengan kecepatan kilat dan menghadiahi rahang kirinya dengan bogem mentah. Ichigo tersungkur di atas jalan dengan ujung bibir yang mengeluarkan darah. Mata madunya menyala marah, tapi seketika amarah itu surut saat ia melihat mata Ishida. Mata itu terlihat menderita. Kini, ia bisa memahaminya. Inoue, Ishida, keduanya menyimpan cinta dan luka yang sama. Inoue kepadanya, dan Ishida kepada Inoue.

Ironis. Ah, andai saja panah cinta Inoue berbalik dan mengarah pada Ishida, maka malam ini Ichigo tak akan tersungkur di tanah dengan lebam di pipinya.

Ichigo berusaha berdiri, sementara Ishida tak bergerak sedikit pun untuk membantu. "Aku tahu alasan di balik tinju itu." Ia buka suara setelah tingginya setara dengan Ishida.

Mata di balik kacamata frameless itu menyipit ke arahnya. "Benarkah? Bagaimana kau tahu? Seseorang mengatakannya padamu? Pasti begitu, kau tidak mungkin menyadarinya sendiri." Kata-kata itu dilontarkan dengan dingin, seolah ingin menyatakan dengan jelas kebodohan Ichigo.

"Ya, Inoue yang mengatakannya padaku." Jawaban Ichigo mengusik ketenangan Ishida.

Sorot mata Ishida menunjukkan keterkejutan. "Tidak mungkin!" ujarnya. "Selama ini dia diam, lalu kenapa─"

"Mabuk cenderung membuat seseorang menjadi lebih jujur, dan menyatakan perasaan lebih jelas daripada ketika sadar," jelas Ichigo sebelum diminta.

"Dia mabuk?" Ishida menghela napas. "Harusnya aku tidak meninggalkannya tadi."

"Kau seharusnya menjaganya," sahut Ichigo.

Mata Ishida nyalang ke arah Ichigo, tangan pria itu mencengkeram kelepak jas Ichigo. "Harusnya kau yang melakukan itu."

"Tidak. Itu bukan kewajibanku," jawab Ichigo.

"Bukankah kau memiliki nama yang berarti penjaga, seharusnya kau─"

Ichigo merenggut tangan Ishida, mendorng pria itu hingga mereka berjarak selangkah. "Aku memang bodoh tidak menyadarinya selama ini, tapi kau tak bisa menyalahkanku. Hatiku memang tidak mengarah padanya. Aku tidak mencintai Inoue. Itulah kenyataannya!"

Ishida tertegun. Kelihatannya, teriakan Ichigo menyadarkan pria itu. "Kau ..."

"Aku tahu, aku sudah menyakiti Inoue. Aku merasa bersalah untuk itu, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Hatiku sudah kuberikan untuk orang lain."

"Kau benar," Ishida berbisik. "Tapi kau tetap pantas menerima tinju itu."

Ichigo menyapu setitik darah dari ujung bibirnya. "Ya, kurasa begitu," sahutnya dengan kedikan bahu tak acuh.

"Dan kuharap Abarai juga melakukan hal yang sama," kata Ishida.

Ichigo mengernyit. "Apa maksudnya itu?"

"Kau tidak tahu?" Ishida mendengus. "Sudah pasti kau tidak tahu."

"Hoi, bicara yang jelas!" desak Ichigo.

"Dia sama denganku. Sisanya, pahamilah sendiri," sahut Ishida seraya berlalu.

Dan hari yang semula Ichigo kira membahagiakan itu, berakhir dengan buruk. Yah, tidak benar-benar buruk, hanya dipenuhi dengan pengungkapan kenyataan yang menyakitkan.

.*.

Pesan itu muncul keesokan harinya. Hanya satu kalimat pendek yang membuat Ichigo menghabiskan hari liburnya dengan mendatangi toko Urahara, dan meminta pria itu membukakan pintu ke Seireitei. Padahal seharusnya si pengirim pesan yang membukakan Senkaimon untuknya, tapi ia tak bisa mengharapkan itu, terlebih dari seorang Kuchiki Byakuya. Pria itu tak akan pernah mempermudah jalan Ichigo untuk datang ke Seireitei, bahkan mungkin mempersulitnya, mengingat sampai kini kakak angkat Rukia itu tidak sepenuhnya memberi restu atas pernikahannya dengan Rukia.

Namun, sekarang bukan Byakuya yang menjadi pikiran Ichigo. Memang ia bertanya-tanya tujuan pemanggilannya oleh pria itu, tapi hal itu tak seberapa menggelisahkan dibanding apa yang dikatakan Ishida tentang Renji semalam. Butuh waktu berjam-jam berpikir, menelaah, dan mencerna bagi Ichigo sebelum akhirnya ia memahami maksud perkataan Ishida.

Lagi. Ia harus berhadapan dengan kenyataan yang tak menyenangkan. Tapi semua harus dituntaskan. Benar-benar dijernihkan sebelum ia mengucap janji sehidup semati dengan Rukia.

Angin musim dingin membuat Ichigo begidik, pakaiannya yang tipis tak bisa melindunginya dari udara dingin, ketika ia bershunpo dari atap rumah satu ke atap rumah lainnya. Tujuannya adalah barak divisi 6. Sudah diputuskan─lewat perdebatan lebih dari satu jam dengan dirinya sendiri─kalau ia akan menemui Renji, meski resikonya adalah mendapat satu bogem mentah lagi. Ia harus memastikan sesuatu pada Renji.

Ichigo sudah sampai di barak divisi 6. Langsung masuk ke ruangan yang diyakininya adalah milik Renji, karena sebelumnya ia sudah pernah ke sana.

"Yo, Renji!"

Renji yang tengah mengurusi berkas-berkas di meja terperanjat dengan sapaan tiba-tiba itu. "Apa yang kaulakukan di sini, Ichigo? Bukankah seharusnya kau menemui Taichou?"

"Byakuya bisa menunggu. Aku ingin menemuimu lebih dulu," jawab Ichigo.

Renji memutar mata, kemudian menggeleng pelan. "Hanya kau yang bisa melakukan itu pada Taichou."

"Itulah sebabnya dia tidak terlalu menyukaiku," sahut Ichigo.

Mata cokelat Renji mengarah padanya penuh tanya. "Apa terjadi sesuatu?" Pria itu memberi isyarat pada luka di bibir Ichigo beserta lebam di pipinya. "Kau dihajar hollow ya?"

Ichigo mengedikkan bahu. "Quincy," sahutnya.

Mata Renji menyipit. "Apa─"

Ichigo segera mengangkat tangan, menenangkan kawannya itu. "Tenang! Tidak akan ada perang lagi. Ini hanya perkelahian pribadi."

Mulut Renji membentuk huruf O, lalu mengangguk-angguk. "Dengan?"

"Ishida," aku Ichigo tanpa menyembunyikan apa pun.

Renji menyeringai. "Wah, kusangka pertarungan kalian yang terakhir sudah menyelesaikan segalanya. Ternyata masih ada yang tertinggal. Kuharap kali ini hasilnya seimbang."

Teringat kejadian semalam, Ichigo tak jelas siapa yang menang dan kalah. Bahkan yang terjadi, tidak bisa dikatakan pertarungan karena hanya ada satu pukulan. "Entahlah," akhirnya ia berkomentar.

"Aku jadi penasaran pada apa yang terjadi." Renji meletakkan pena, menumpuk kertas-kertas, kemudian menghampiri Ichigo. "Apa kira-kira masalah pribadi yang kira-kira membuat kalian berkelahi?"

"Bukan urusanmu!" sahut Ichigo kesal. "Lagi pula tujuanku ke sini bukan untuk curhat."

Sebelah alis Renji naik. "Lalu?"

Ichigo memberi isyarat agar Renji mengikutinya, dan pria itu mengerti. Mereka berdua bershunpo, awalnya hanya beriringan melompat dari satu atap ke atap lain, lalu entah mengapa hal itu berubah menjadi sebuah kompetisi adu cepat, hingga akhirnya mereka mencapai lapangan berumput yang dikelilingi pohon-pohon menjulang di saat yang bersamaan.

"Jadi, yang tadi itu untuk apa?" tanya Ichigo.

Renji hanya mengedikkan bahu, tak menjawab.

"Kau sepertinya ingin sekali mengalahkanku," tambah Ichigo.

"Nyatanya, tidak bisa. Kau pemenangnya," sahut Renji setengah dari kata-kata itu mengisyaratkan hal lain.

Ichigo memahami itu. Ia tak perlu bertanya lagi. Semua sudah jelas. Perasaan Renji tergambar jelas di mimik wajah pria itu. "Ternyata kau benar-benar mencintainya."

Seketika kepala merah itu tertoleh ke arahnya dengan ekspresi terkejut yang nyata. "A-apa maksudmu?" Renji berusaha mengelak, tapi terlambat. Ichigo sudah tahu dan tak berniat menutupinya.

Ichigo menarik napas panjang, meluruskan punggungnya, kemudian membungkuk dalam di depan Renji. "Aku benar-benar minta maaf padamu," ucap Ichigo. "Andai aku tahu sebelumnya bahwa kau mencintai Rukia. Aku─"

Selama beberapa saat keheningan menemani mereka. Ichigo masih membungkuk dengan kalimat yang tak mampu diselesaikannya. Ia bingung memilah kata.

"Apa yang akan kau lakukan jika tahu?" Renji yang pertama bersuara setelah keheningan panjang itu. "Apa kau akan mundur dan menyerahkannya padaku."

"Tentu saja tidak. Sialan!" Ichigo menegakkan tubuh. "Aku tak akan menyerahkannya pada siapa pun, termasuk pada teman masa kecilnya. Rukia memilihku, itu kenyataannya."

Terdengar helaan napas dari Renji. "Ya, dia memilihmu. Dan aku yakin kau sangat mensyukuri hal itu."

"Ya, aku sangat bersyukur karenanya," sahut Ichigo. "Tapi aku juga merasa bersalah padamu."

"Ah, itu bisa diperbaiki."

"Maksu─"

Tinju melayang ke rahang kiri Ichigo, membuat tubuhnya oleng lalu jatuh ke atas rerumputan. "Kau!"

"Balasan untuk merebut gadis yang kucintai," kata Renji. "Dan kau akan mendapatkannya lagi jika kau menyakiti Rukia. Ingat itu." Setelah mengatakan itu Renji pergi, menghilang bersama desau angin yang menyapu rumput di sekitar tubuh Ichigo.

Lagi. Satu luka mendarat di pipi Ichigo. Tapi bukannya marah, Ichigo justru merasa lega. Sekarang ia bisa tenang menemui Byakuya kemudian melepas rindu dengan kekasihnya.

.*.

End of Ichigo's side

.*.

Review's review:

(Semua review saya balas di sini karena kuota inet yang terbatas)

Hazuna

Halo, Hazuna. Makasih dah mampir di fanfik saya dan untuk reviewnya.

Pernak-pernik tentang 'itu' sulit dilupakan, namun bisa dikesampingkan.

Udah lanjut nih.

Haruna Aoi

Wkwkwk ... sepertinya Rukia dan Ichigo sama-sama nggak peka.

Untuk kali ini Ichigo terpaksa nurut sama Byakuya, daripada nggak dibolehin nikah sama neng Rukia.

ps: keputusan yang bagus, seharusnya saya juga kayak gitu biar nggak terlalu sakit hati. :'(

Guest

Halo, makasih dah RnR ya.

Ah, soal itu ya. Yang saya maksudkan adalah sampul novel Bleach (lupa judulnya) yang menceritakan tentang pernikahan RenRuki.

Naruzhea AiChi

Makasih dan RnR, Ai-san.

Abaikan semua kabar nggak enak, dan tetap cintai IchiRuki. =D

Kuromizukou Ryuuki

Iya, ada.

Yup. Saya masih tetap berusaha nulis meski dengan tertatih-tatih.

Makasih dah RnR, dan juga buat semangatnya.

Makasih dah RnR ya, dan tentunya buat semangatnya juga. Fighting!

Permen Lemon

Abis Bleach tamat saya belum baca manga baru, kecuali ngelanjutin manga yang sebelumnya dah saya baca. Rasanya masih sulit ngebuka hati buat manga baru, apalagi shonen, takut kena PHP.

Chap 3 sudah ada tapi Ichigo side, nanti di chap terakhir baru acara pernikahan. 😊

.*.

Makasih banyak buat kalian yang sudah ngikutin fanfik ini. Semoga terhibur.

See ya,

Ann *-*