Setelah semua yang mereka lalui, kebahagiaan adalah sesuatu yang pantas didapatkan.

.*.

Disclaimer ©Tite kubo

(Saya hanya pinjam karakter-karakter yang ada di dalamnya sebagai karakter dalam fanfik saya, tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun selain kesenangan semata)

.*.

Wedding Invitation

by

Ann

.*.

Peringatan : AU, OOC (sesuai kebutuhan cerita), typos, gaje (silakan berpendapat sendiri)

Tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'

Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca,

selamat menikmati!

.*.

The Wedding

.*.

Byakuya

Rukia mengingatkannya pada masa lalu. Membawanya ke hari di mana Byakuya melihat Hisana memakai shiromuku─kimono putih, dan tsuno kakushi─kerudung putih. Gadis itu sangat mirip dengan mendiang istrinya, bahkan ketengangan yang tampak di wajah mereka pun serupa. Tapi mereka adalah orang yang berbeda. Rukia telah melalui berbagai macam hal untuk mencapai hari ini, ketika gadis itu berdiri dalam balutan pakaian pengantin, siap menjalani kehidupan baru dengan lelaki pilihannya.

Jujur saja, Byakuya masih belum bisa menerima lelaki pilihan Rukia. Kurosaki Ichigo bukanlah lelaki yang pantas mendapatkan adik angkatnya. Lelaki itu berangasan, sama sekali tidak santun, dan yang terpenting lelaki itu akan membawa Rukia jauh darinya. Mungkin bagian terakhir menjadi alasan paling berat yang membuat Byakuya enggan melepas adiknya menikah dengan pria itu. Ia tak ingin jauh dari Rukia. Jika bersama Ichigo, Rukia akan menghabiskan setengah waktunya di dunia manusia. Hal itu akan membuatnya kurang leluasa menemui Rukia. Meskipun memiliki banyak alasan untuk keberatan, pada akhirnya ia tetap memberi restu, karena Byakuya tahu─walau enggan mengakui─kebahagiaan Rukia terletak pada lelaki itu.

"Nii-sama."

Rukia melangkah mendekati Byakuya dengan langkah pelan, berdiri di sisinya seraya tersenyum, lalu gadis itu menangkupkan tangan di depan foto yang tengah Byakuya pandangi tadi. Setelah semenit penuh memanjatkan doa, pandangan Rukia kembali padanya.

"Apa yang kaukatakan pada kakakmu?"

"Terima kasih. Itu yang kukatakan pada Nee-san."

Byakuya memandangi potret Hisana. Ingatan tentang istri tercintanya masih terpatri jelas dalam ingatan. "Apa kau tak pernah membencinya karena meninggalkanmu sendirian?" tanyanya dengan suara lirih. Kenyataan bahwa Hisana sudah meninggalkan Rukia untuk bertahan hidup sendirian merupakan sesuatu yang tak dapat diubah, bahkan istrinya menyesali hal itu sepanjang hidup.

Rukia mengangguk. "Aku tak ingat apa pernah benar-benar membencinya atau tidak. Tapi yang jelas sekarang aku benar-benar berterima kasih pada Nee-san. Karena berkat Nee-san aku memiliki kakak seperti Nii-sama. Nii-sama adalah kakak terbaik yang pernah kumiliki."

Byakuya terdiam. Tak menyangka kata-kata itu yang keluar dari mulut adik angkatnya, sebab selama ini ia merasa tidak menjadi kakak yang baik untuk Rukia. Bahkan ia pernah menjadi kakak yang sangat buruk dengan membiarkan Rukia hampir dieksekusi tanpa memberi pembelaan sedikit pun, hanya demi menjaga kehormatan nama Kuchiki.

"Aku bukanlah kakak yang baik," akunya kemudian.

"Aku pun bukan adik yang baik," Rukia menimpali, "Aku sering membuat kesalahan, bahkan pernah membuat Nii-sama dalam posisi sulit."

"Aku sendiri yang menempatkan diri dalam posisi itu," ujar Byakuya.

"Karena permintaan Nee-san," sahut Rukia.

Pernyataan gadis itu benar. Semua ini berawal dari permintaan Hisana. Byakuya mencari Rukia, kemudian menjadikan gadis itu bagian keluarga Kuchiki, semua ia lakukan demi mewujudkan keinginan terakhir mendiang istrinya. Tapi dalam seiring berjalan waktu, kasih sayang itu tumbuh dengan sendirinya, dan kini Rukia menjadi bagian penting dalam kehidupan Byakuya.

"Nii-sama." Panggilan itu menarik Byakuya dari lamunan. Rukia yang tampak begitu menawan dalam balutan shiromuku tersenyum, lalu mengambil jarak darinya, kemudian membungkuk dalam penuh penghormatan. "Terima kasih untuk semua yang telah Nii-sama lakukan untukku selama ini, sampai kapan pun aku tak akan bisa membalasnya."

Senyum perlahan terbit di bibir Byakuya. Mungkin ia tak pernah mengatakannya, tapi di dalam hatinya tersimpan kasih sayang yang amat besar untuk Rukia. Dulu, sekarang, dan nanti, ia akan tetap menyimpan perasaan yang sama. Satu hal yang ia janjikan, jika nanti bukan kebahagiaan yang diberikan Kurosaki Ichigo pada Rukia, maka ia sendiri yang akan membawa Rukia pulang. Karena sampai kapan pun mansion Kuchiki akan selalu menjadi rumah bagi Rukia.

Hisana, aku sudah memenuhi janjiku. Sekarang, akan kubiarkan lelaki itu mencoba memenuhi janjinya padaku.

.*.

Isshin

Pernikahan adalah perihal menemukan seseorang yang tepat, yang akan menjadi kawan hidup hingga masa tua datang, yang akan berbagi suka dan duka. Isshin menemukan orang itu, menikahinya, dan berbagi tahun-tahun penuh tangis dan tawa bersama. Sayang, pernikahan itu berakhir dengan cepat. Ia berpisah dari wanita itu dengan cara yang mengenaskan. Istrinya, Masaki, meninggal ketika melindungi seseorang yang sangat berarti dalam kehidupan mereka. Namun, tak ada penyesalan akan kepergian itu. Jika posisinya ditukar dengan Masaki, Isshin pun akan melakukan hal sama. Ia akan melindungi putranya meski harus mengorbankan nyawa.

Mengenai pernikahan, Isshin tak bisa berkomentar banyak, apalagi memberi wejangan bagi si sulung. Ia tak menjalani pernikahan hingga sekian puluh tahun, pengalamannya bisa dikatakan minim. Namun, dari pengalaman yang sedikit itu, ia tahu bahwa kehidupan pernikahan harus didasari dengan kepercayaan, saling mengerti, dan cinta. Ya, tentu saja cinta memiliki peranan penting dalam sebuah hubungan. Tanpa cinta atau kasih sayang, kehidupan rumah tangga hanyalah rumah tanpa isi. Tak bermakna. Karena itu, ia sangat bersyukur Ichigo menemukan seseorang yang dicintai, bahkan berhasil menjadikan gadis itu calon istrinya. Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orangtua, begitulah adanya. Meski terkadang anak-anak tidak menyadari, tapi setiap orangtua yang mencintai anaknya merasakan itu.

Hari ini, ketika Isshin melihat Ichigo dalam balutan hakama hitam mempelai pria, ia benar-benar senang, bahkan langsung memeluk si sulung. Meski setelah itu ia harus menerima tendangan maut Ichigo. Ah, dari dulu Ichigo memang suka menendang, berteriak padanya, juga memanggilnya dengan sebutan 'oyaji'. Isshin tidak menyalahkan anaknya untuk semua itu. Ia tahu pola asuhnyalah yang membuat Ichigo tak memahami sopan santun, terutama kepadanya. Terkadang, ia berpikir jika Masaki masih hidup semua akan berbeda. Baik kehidupannya maupun kehidupan anak-anaknya. Sudahlah, masa lalu biar menjadi masa lalu. Satu yang patut disyukuri sekarang adalah Ichigo menemukan gadis yang benar-benar baik sebagai pasangan.

Isshin tak memiliki keluhan tentang calon menantunya yang sebentar lagi akan benar-benar menjadi menantunya, Rukia. Gadis itu adalah yang terbaik dari yang terbaik. Cantik dari luar maupun dalam, bertata krama dan memiliki sopan santun, pandai memasak, pemberani, dan juga kuat. Lalu bagian terpenting dari gadis itu adalah Rukia mampu menjadi penyemangat bagi Ichigo. Gadis itu tak sekadar bergantung pada Ichigo, Rukia pemberi kekuatan, seseorang yang mampu membangkitkan semangat juang Ichigo ketika semangat itu jatuh ke dasar yang paling dalam. Rukia adalah gadis yang paling sempurna bagi Ichigo. Meski orang lain tak berpendapat sama, Isshin akan tetap pada pendiriannya. Bahkan bisa jadi dirinya lebih gugup daripada Ichigo ketika prosesi pernikahan dimulai.

Jantung Isshin mengentak cepat ketika sumpah pernikahan itu diucapkan oleh Ichigo. Ia berharap si sulung tak melakukan kesalahan sedikit pun, karena pengucapan sumpah dari pengantin pria kepada pengantin wanita adalah bagian terpenting dari rangkaian upacara pernikahan yang harus dilalui pasangan pengantin. Ichigo memang sudah berlatih mengucapkan sumpah itu, dan ketika ia mendengarnya─yang dilakukan dengan diam-diam─Ichigo terdengar lancar dan yakin. Tapi di hari H bisa saja terjadi kesalahan, terutama jika Ichigo terlalu gugup sehingga melakukan kesalahan.

Nyatanya, tidak ada kesalahan dalam pengucapan sumpah itu. Hanya ada jeda sesaat di bagian tengah yang dilakukan Ichigo, selebihnya berjalan lancar. Begitupun ketika Ichigo dan Rukia mengucap janji nikah di depan Tuhan. Rangkaian Kekkon Shiki─upacara pernikahan tradisional Jepang─tersebut berjalan dengan khidmat.

Akhirnya Rukia benar-benar menjadi putri ketiga keluarga Kurosaki. Sebuah hubungan yang tak didasari dengan darah, tapi dengan ikatan sakral yang mempersatukan dua insan yang saling mencintai.

Kuharap kau melihat ini, Masaki. Putramu akan memulai kehidupan barunya hari ini.

.*.

Renji

Kata orang tidak ada akhir dari cinta. Itu pendapat yang keliru. Nyatanya, Renji kini menapaki akhir dari kisah cintanya. Namun, ini diakhiri dengan senyum. Dengan sebuah doa agar gadis yang pernah dicintainya mendapatkan kebahagiaan bersama lelaki yang menjadi pilihan gadis itu. Merelakan memang menyakitkan, apalagi jika tak ada lagi kemungkinan untuk memiliki.

Rukia terlihat bahagia di sana, mengikuti rangkaian upacara hingga akhirnya gadis itu sah menjadi istri. Dan Ichigo, pria itu terlihat dan terdengar begitu yakin ketika mengucap sumpah pernikahan. Rasanya, Renji tak pernah melihat Ichigo seyakin itu sebelumnya. Itu merupakan hal yang bagus, karena artinya ia tak melepaskan Rukia kepada orang yang salah. Rukia akan mendapatkan seseorang yang dapat menyayangi, melindungi, dan membahagiakan gadis itu.

Ia tak punya keluhan, bahkan rasanya tak pantas jika ia mengeluh. Karena pada hakikatnya hati memiliki cara tersendiri untuk memilih, dan ketika pilihan itu tak jatuh padanya, apa boleh buat. Ia tak mesti menjadi egois dengan memaksakan keinginannya terpenuhi. Ah, mungkin ia memang harus mengeluh. Karena Rukia mendaulatnya untuk menemani gadis itu─maksudnya wanita itu─pergi ke acara resepsi kedua yang diadakan di dunia manusia. Itu benar-benar keterlaluan, bukan? Ia sudah menghadiri resepsi di kediaman Kuchiki, sekarang ia pun harus mengikuti resepsi kedua. Ia tak memiliki hati sekuat baja sehingga mampu menahan sakit lebih lama lagi. Hum, bisa jadi ia memang memilikinya, karena sekarang ia menemani pasangan pengantin baru itu melewati senkaimon.

"Apa kau tidak bisa mendarat dengan lebih anggun?"

Omelan Rukia tak ditujukan untuk Renji, melainkan bagi si pemilik rambut sewarna jeruk matang yang hampir saja mencium tanah ketika melakukan pendaratan di sebuah tanah lapang.

"Apa yang salah, Rukia? Yang penting mendarat dengan selamat." Si pria menyahut dengan sebal. "Lagi pula kenapa senkaimon-nya harus di atas langit sih? Apa tidak bisa diletakkan di tempat yang lebih nyaman? Atau langsung ke tempat acara, jadi kita tidak repot-repot pergi ke sana."

"Jangan salahkan senkaimon, kau saja yang tak bisa bergerak dengan anggun. Lagi pula, kita tak bisa langsung ke tempat resepsi. Kita harus pulang dulu untuk berganti pakaian. Memangnya kau mau datang ke resepsi dengan seragam shinigami?" ujar Rukia.

Ichigo mendengus. "Ya, ya, ya, aku memang tidak anggun."

"Kau harus belajar keanggunan dari Nii-sama," Rukia menimpali.

"Tidak. Jangan harap aku mau belajar dari Byaku─"

Bletak!

Sebuah pukulan mendarat di puncak kepala Ichigo, diikuti peringatan keras dari Rukia, "Berhenti memanggil kakakku dengan tidak sopan, Ichigo!"

"Tapi─"

"Kau sudah berjanji."

Renji mengamati ketika perdebatan itu dimenangkan Rukia dengan mudah. Ichigo tidak bisa melawan, atau mungkin tidak ingin melawan. Apa pun itu, Renji bisa membayangkan bagaimana hari-hari yang akan dilalui pasangan itu. Penuh perdebatan, pertentangan, bahkan mungkin perkelahian hanya untuk hal-hal kecil. Tapi di situlah keunikan hubungan mereka. Meski selalu bertengkar, mereka saling memahami.

Merelakan memang menyakitkan. Tetapi, merelakan terkadang juga melegakan. Memberi kesempatan untuk melangkah maju, demi menapaki masa depan yang lebih baik. Jadi, itulah yang Renji lakukan, merelakan untuk melegakan hati. Untuk memberi diri sendiri kesempatan menemukan seseorang yang mampu mengisi ruang kosong di bilik istimewa hatinya.

.*.

Orihime

Hal paling menyedihkan dari patah hati bukanlah patah hati itu sendiri, melainkan tatapan penuh iba yang diberikan oleh orang-orang. Sebenarnya, Orihime sudah berdamai dengan rasa sakit itu. Ia mencoba menerima dan mengikhlaskan. Namun, ketika ia melihat tatapan yang diberikan teman-teman terdekatnya, rasa sakit itu kembali dengan cara yang berbeda. Bukan lagi rasa sakit karena kehilangan cinta, tapi rasa sakit akibat dikasihani. Ia tak membutuhkan tatapan iba, ucapan prihatin, ataupun kekhawatiran yang berlebihan. Karena semua itu hanya akan melemahkan dirinya yang tengah berusaha tegar. Bukti ketegaran itu ia tunjukkan dengan datang ke resepsi pernikahan Ichigo dan Rukia.

Tatsuki sudah melarangnya untuk datang, Ishida pun demikian, dan Chad, meski pria itu hanya diam, tapi tampak sama tak setujunya.

"Aku baik-baik saja," kata Orihime untuk kesekian kali. "Aku tidak akan membuat kekacauan seperti terakhir kali." Ia menambahkan.

Tatsuki hanya mendesah, Chad diam, sedang Ishida hanya memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kedua temannya itu mengapit Orihime di kedua sisi, menjaganya. Mungkin mereka pikir ia akan hancur berkeping lalu menangis tersedu-sedu karena patah hati, atau melakukan sesuatu yang bisa mengacaukan resepsi pernikahan pria yang dicintainya. Oh, tidak. Ia tidak akan melakukan itu. Tidak lagi. Peristiwa memalukan ketika ia mabuk di acara reuni sudah cukup, tak akan ada kebodohan lain yang terjadi.

Orihime senang akan perhatian teman-temannya, hanya saja mereka berlebihan. Ia kuat, dan akan dibuktikannya malam ini. Lihat saja, ia bisa tersenyum melihat pasangan pengantin yang telihat sangat bahagia di depan sana.

"Mereka pasangan yang serasi, bukan?" ujarnya membuka percakapan di meja yang sepi nyaris muram, seolah mereka datang untuk acara pemakaman bukannya pernikahan.

"Hime, sudahlah. Jangan memaksakan diri," sahut Tatsuki. Sementara Chad dan Ishida tak menanggapi.

"Mau tidak mau kita harus mengakuinya, jika Kurosaki-kun terlihat bahagia bersama Kuchiki-san," Orihime berkeras.

"Mereka memang terlihat bahagia." Matsumoto Rangiku masuk ke dalam obrolan, wanita itu menepuk pelan bahu Orihime. "Seperti katamu, mau tak mau kita harus mengakui kalau Ichigo bahagia bersama Rukia, pun sebaliknya."

"Nah kan." Orihime semringah karena ada yang sependapat dengannya. "Aku tahu kalian memikirkanku dan ingin memberi dukungan. Tapi Kurosaki-kun dan Kuchiki-san ... mereka teman kita. Sebagai teman, kita harus mendukung mereka."

Semua orang di meja itu menatapnya, masih dengan tatapan iba itu. Orihime benar-benar membenci tatapan itu sekarang. Ia menarik napas dalam, kemudian berkata, "Teman-teman, bisakah kalian berhenti mengasihaniku? Jika kalian terus begini, aku takut tidak akan bisa move on selamanya."

"Kau gadis yang kuat," ujar Rangiku memecah hening yang tercipta setelah kata-kata Orihime. Kemudian wanita itu berlalu, kembali ke meja yang dipenuhi para shinigami.

Orihime mengamati kepergian Rangiku. Wanita itu kini berkumpul dengan rekan-rekannya, tampak begitu asyik dengan obrolan mereka. Hari ini kelompok itu tak terlihat seperti biasanya, tak ada hakama hitam dan pedang yang biasanya menjadi seragam kerja shinigami. Mereka berdandan layaknya manusia. Memakai pakaian seperti yang biasa orang-orang kenakan untuk menghadiri pesta pernikahan. Ini adalah pemandangan yang langka, dan patut diabadikan.

"Baiklah, jika menurutmu begitu." Ucapan Tatsuki membuatnya menoleh. "Aku tahu kau kuat, Hime." Ia tersenyum mendengar kata-kata temannya. Itulah yang ingin ia dengar, dukungan dari kawan baiknya.

"Menjadi kuat itu bagus, Inoue," kata Chad seraya berdiri. "Kurasa sekarang giliranku memberikan sambutan." Pria itu berlalu menuju panggung di bagian depan.

"Aku juga akan ke sana." Tatsuki ikut berdiri. "Karena beberapa hal aku lupa mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Dan aku juga berhutang permintaan maaf pada Ichigo."

Kini, di meja hanya tersisa Orihime dan Ishida. Tak ada lagi obrolan, bahkan kecanggungan tampak jelas di antara mereka. Sesekali Orihime mendapati Ishida mencuri pandang ke arahnya, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tak tahu bagaimana memulai.

"Ishida-kun, apa kauingin mengatakan sesuatu padaku?" Karena tak tahan lagi akhirnya Orihime buka suara.

"Tidak," sahut Ishida sembari membetulkan letak kacamatanya yang sudah sempurna.

"Begitu." Orihime kecewa, tadi ia berharap Ishida akan mengatakan sesuatu, karena pria itu hanya memandangnya tanpa memberikan tanggapan sedikit pun. Entah mengapa ia ingin mendengar pendapat Ishida. Orihime ingin mendapat dukungan dari pria itu, dan itu sangat penting. Tunggu. Sejak kapan pendapat Ishida penting baginya? Ah, sudahlah pikirannya pasti sedang kacau.

"Inoue."

"Ya?" Jantung Orihime mengentak cepat, ketika tanpa sengaja bertatapan dengan Ishida.

"Mau pergi bersamaku ke suatu tempat?"

"Ke mana?" tanyanya bingung.

"Suatu tempat yang bisa membuat pikiranmu segar."

Senyum Orihime mengembang, kemudian ia mengangguk.

Patah hati itu memang menyedihkan. Namun, itu bukan akhir kehidupanmu. Selalu ada cara untuk tersenyum meski di saat-saat tersulit.

.*.

Ichigo & Rukia

Mereka tahu pestanya sudah kembali dimulai, karena sekarang sudah lewat dari pukul 8 malam. Entah siapa yang mengusulkan, yang jelas sekarang teman-temannya memutuskan membuat resepsi ketiga di sebuah bar yang letaknya tak jauh dari hotel tempat resepsi kedua dilangsungkan. Mereka tak langsung menuju tempat itu, memutuskan ke kamar hotel dahulu untuk berganti pakaian. Karena resepsi ketiga tidak direncanakan, mereka tidak memiliki pakaian yang khusus disiapkan untuk acara itu sehingga terpaksa memilih pakaian yang tersedia. Celana panjang dipadu kemeja putih, dasi, dan jaket sport untuk Ichigo, sedang Rukia memakai gaun merah muda berenda yang jauh lebih simpel daripada gaun putih yang dikenakannya pada pesta sebelumnya.

Mereka baru berpakaian, masih tersenyum pada satu sama lain dengan bahagia, ketika terdengar ketukan keras di pintu.

Mereka berpandangan. "Apa kita menunggu seseorang?" tanya Ichigo penasaran.

"Mungkin seseorang berinisiatif mengirimkan penunjuk arah agar kita tidak pergi ke tempat yang salah."

Mereka pergi ke pintu depan bersama-sama dan membukanya.

Di luar bukan hanya ada satu, tapi lima orang yang menunggu mereka. Ichigo dan Rukia saling tatap. Tak mengerti mengapa teman-teman terdekat mereka berdiri di sana. Renji, Chad, Ishida, Tatsuki, dan Orihime.

"Kami di sini sebagai perwakilan," kata Renji membuka suara sembari mengeluarkan kertas dari saku jasnya. "Tuan dan Nyonya, teman-teman Anda dari Gotei 13 ingin memberi selamat kepada Anda atas pernikahan Anda dan mengingatkan apabila Anda membutuhkan bantuan, kami bisa dihubungi lewat kupu-kupu pengantar pesan ..."

"Sebaiknya kita tutup pintunya," kata Ichigo, memotong pidato Renji.

Renji membelalak ke arah Ichigo. "Masih ada enam lembar lagi yang harus kubaca."

"Aku punya sepuluh lembar titipan Rangiku-san," tambah Ishida sambil menunjukkan kertas-kertasnya.

"Tinggalkan saja, nanti akan kami baca kalau sempat," ujar Ichigo.

"Tidak bisa. Kami mendapat mandat jika isi kertas ini harus dibacakan untuk kalian." Renji memberitahu Ichigo.

"Kalian harus mendengarkan," Ishida menimpali.

"Anggap saja penghormatan pada mereka yang sudah repot-repot menulisnya," kata Tatsuki.

"Ya, kau harus menghargai usaha orang lain," Chad menambahkan.

"Lagi pula, sepertinya isi kertas-kertas ini adalah perasaan terdalam dari kami semua." Renji bersuara lagi.

Mereka mendesah. Tanpa daya akhirnya mengizinkan Renji kembali melanjutkan pidatonya.

"Jika Anda mendapat gangguan dari hollow, espa─"

"Hentikan, teman-teman. Jangan bercanda lagi. Sebenarnya, tidak ada pesan apa pun." Kali ini Orihime yang memotong pidato Renji. Meski diprotes teman-temannya, gadis itu maju dengan sepotong kue di tangan. "Ini kue dari resepsi," kata Orihime pada mereka sambil menyerahkan kue itu pada Rukia. "Aku menyesal, tapi hanya ini yang bisa kami selamatkan."

Rukia menatap gadis itu dengan bingung.

Orihime berdeham. "Entah siapa yang memulai, terjadi perlombaan minum setelah kami sampai di bar. beberapa orang mabuk dengan cepat, lalu keadaan menjadi tak terkendali, bahkan pemilik bar terpaksa menutup tempatnya lebih awal."

Renji berdeham. "Aku terpaksa memanggil bala bantuan dari Soul Society karena kebanyakan dari mereka yang mabuk adalah shinigami, dan menyudahi resepsi kalian sebelum kalian datang. Tapi kami berhasil menyelamatkan kue kalian."

Ichigo membelalak, kemudian tertawa terbahak-bahak. Sudah ia duga semua akan kacau, mengingat siapa pemrakarsa resepsi ketiga itu.

"Bagaimanapun juga, kalian sudah dua kali mengadakan resepsi. Jadi, jika yang ketiga gagal kurasa bukan masalah besar," kata Ishida.

"Kami rasa tak masalah." Rukia tersenyum. "Terima kasih sudah mengantarkan kuenya." Ia menambahkan.

"Tak masalah," ujar Orihime. Lalu gadis itu memeluk Rukia seraya berbisik, "Tolong jaga Kurosaki-kun."

"Baiklah, teman-teman. Saatnya pergi," Renji memberi aba-aba.

Setelah mengucapkan selamat sekali lagi, mereka semua pergi. Rukia membawa kue itu ke dalam, dan Ichigo menutup pintu.

"Setidaknya kita dapat sisa kuenya," ujar Rukia seraya meletakkan kue itu di meja.

"Apa kau mau memakannya?" tanya Ichigo sembari memandangi kue yang bentuknya tak karuan itu.

Rukia berbalik dan menggeleng pelan. "Sepertinya sudah tak layak makan."

"Apa kauingin makan yang lain?" tanya Ichigo sambil memutus jarak di antara mereka.

Rukia mendongak. "Kurasa tidak. Bagaimana denganmu?"

Ichigo menarik Rukia mendekat, menatap lekat sepasang iris violet milik istrinya. "Menurutku soal makanan dipikirkan nanti saja. Kau setuju?"

"Boleh juga." Rukia tersenyum.

"Apa aku sudah bilang kalau kau pengantin wanita paling cantik yang pernah ada?" bisik Ichigo.

"Kau sudah membisikkannya tadi, tapi aku tak keberatan mendengarnya lagi."

"Itu bagus." Perlahan mulut Ichigo turun menggapai bibir Rukia. Sebuah ciuman dalam dan lama mereka bagi.

"Hari ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup kita," kata Ichigo sambil merenung.

"Sisa hidup kita itu pasti akan luar biasa," kata Rukia lembut.

Memang begitulah kenyataannya.

.*.

fin

.*.

Review's review:

curio cherry

Terima kasih sudah baca dan mereview fanfik ini.

Tapi mungkin terkesan kalau Chad berpihak pada Inoue. Tapi sebenarnya dia masih teman terbaik Ichigo. Dia tidak berpihak kepada siapa pun, namun karena keadaan Inoue malam itu lebih rapuh makanya dia lebih memerhatikan Inoue.

Azura Kuchiki

Makasih dah RnR ya, Mou-chan.

Meski ini bukan ending yang diinginkan kelompok tertentu, tapi paling nggak ini ending yang kita inginkan.

Masih semangat kok ini.

Haruna Aoi

Makasih dah mampir, Aoi-san.

Ya, sekali-sekali bikin Ichigo ditonjok nggak papalah, sekalian mau balas dendam soalnya di canon dia ... ah, sudahlah.

Yep, punya saingan itu susah tapi kalo menang puas. Eh?

Nggak papa nyepam, saya suka kok bacanya. 😊

N

Makasih dah RnR ya.

Iya, slow update tapi, banyak kerjaan soalnya.

Yosha! Semangat!

readersetia27

Makasih dah RnR ya.

Udah apdet nih, sekalian saya tamatin juga. Makasih ya dah sabar menanti.

Sippo.

Stefymayu yeniferangelina

Masih lanjut, Stefy, dan ini yang terakhir. Hehe ...

Biarin aja, Ichigo dibikin bonyok dulu. wkwkwk ...

Nggak ada selentingan. Fanfik ini aman, damai, sentosa. Selentingannya sisakan untuk fanfik lain aja deh.

Makasih dah RnR ya.

wowwoh geegee

Hahaha ... iya, pendek. Saya emang nggak ahli bikin yang panjang-panjang.

Makasih dah RnR ya.

hazuna

Sudah lanjut nih, Say.

Hum, akan dipikirkan. Ide ada, hanya eksekusinya aja kayaknya bakal sulit.

Makasih reviewnya.

Kuromizukou Ryuuki

Wah, kamu ngalamin di posisi Inoue ya? Itu emang nyesek banget. Saya aja yang nulisnya nyesek apalagi yang ngerasain.

Makasih reviewnya.

hikarishe

Makasih dah RnR ya.

Teman-temannya memang terlihat memihak Inoue, karena posisi Inoue memang pantas untuk dikasihani. Tapi pada akhirnya, mereka tetap menjadi pendukung Ichigo kok.

Masalah hati memang sulit ditebak dan tak bisa dibaca.

Bisa jadi tuh, selalu ada masalah menjelang pernikahan.

Naruzhea AiChi

Inoue memang membawa mimpi buruk bagi kita. Meski nggak sepenuhnya salah dia, tapi karena kita butuh seseorang untuk disalahkan jadinya ya begitu. Hehe ...

Terima kasih juga sudah baca dan review fanfik-fanfik saya. Selama masih ada yang baca, saya masih punya semangat untuk bikin fic. 😊

.*.

Akhirnya, fanfik ini selesai juga. Saya benar-benar bersyukur dapat menuliskannya hingga akhir. Di chapter terakhir ini lebih sulit dari chapter-chapter sebelumnya. Dimulai dari saya yang kebingungan menentukan upacara pernikahan macam apa yang cocok untuk IchiRuki, hingga apa saja yang harus saya masukkan di chapter terakhir ini. Chapter ini, jujur saja, lebih menguras pikiran, tenaga, dan rasa sakit─karena saya ngetiknya dengan jari-jari berbalut handyplast. Tapi saya puas dengan akhirnya. Semoga pembaca pun puas dengan ending yang saya buat.

Bersama ini saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih untuk kalian semua yang sudah mendukung fanfik ini sampai akhir.

Azura Kuchiki, Haruna Aoi, malas login, Ryuuki, permen lemon, KeyKeiko, Baby niz 137, Eonnichee835, The Great Unknow89, Xi-hime, raamyun, readersetia27, wowwoh geegee,3nd4h, eenzzichiru,hazuna, guest, Kuromizukou Ryuuki, Naruzhea AiChi, curio cherry, N, stefymayu yeniferangelina, hikarishe.

Terima kasih untuk semua review, follow, favorit, dan juga waktu yang diberikan untuk membaca fanfik ini. Cerita ini tak akan selesai tanpa kalian semua.

Semoga kita bisa berjumpa lagi di fanfik saya yang lain.

Banjarmasin, 06 Mei 2017.

See ya,

Ann *-*