Just enjoy and hope you like it
Cherry I Love You
by
AuroraDM
I own nothing, Mashashi Kishimoto has
Summary : Kita tak ubahnya dua orang yang kehilangan arah untuk merasakan kebahagiaan. Kau milikku Cherry,tak akan ada yang bisa mengubahnya, karena kita adalah satu.
Chapter Two
Sasuke dan Sakura : 12 tahun
AUTHOR POV
Hangatnya cahaya mentari pagi secara paksa menerobos masuk melalui celah-celah kain gorden yang menutupi jendela besar ruangan itu. Sang pemilik pun terlihat jelas sangat terganggu dengan sinar yang menyorotnya sehingga otomatis wajah tampan itu menampakkan guratan halus diantara dahinya. Ia mendesah kesal, perlahan kelopak matanya membuka dan menampakkan manik mata yang berwarna hitam pekat sekelam malam. Dengan perasaan kesal, Sasuke mengacak rambutnya asal kemudian bangkit dari ranjang yang menjadi tempat ternyamannya di rumah ini, langkahnya sedikit gontai mengarah kedalam kamar mandi. Sesaat kemudian ia keluar dengan raut muka yang lebih terlihat segar. Helaian rambut kelamnya sedikit basah namun sama sekali tak membuat cacat di pahatan sempurna wajahnya yang bak Dewa Yunani yang paling tampan, Adonis. Ia melangkahkan kakinya keluar ruangan, lalu menuruni tangga mengarahkan pijakannya menuju ruang makan. Pandangannya menelisik para penghuni yang telah duduk santai di kursi makan masing-masing. Sasuke memutuskan menjatuhkan dirinya di kursi sisi kanan Itachi. Ayame tersenyum melihat tuan mudanya, dan segera menyiapkan piring untuknya. Keluarga Uchiha menyantap makanan mereka dengan tenang, tak ada satupun dari mereka yang membuka suara saat makan. Sebuah etika yang selalu dijunjung tinggi.
"Sasuke, hari ini kau harus ikut ayah ke suatu tempat" ucap Uchiha Fugaku sang kepala keluarga memecah keheningan disaat semua anggota keluarganya selesai makan.
"Hn" Sasuke bergumam samar kemudian menyesap ocha hangat di hadapannya.
"Kau jangan khawatir, ibu juga akan menemanimu" suara halus Uchiha Mikoto seakan menenangkan perasaan Sasuke. Mikoto tahu bahwa Sasuke belum terbiasa dengan suasana di Konoha dan terlihat sangat tidak nyaman untuknya. Tapi ia yakin bahwa Sasuke lambat laun akan terbiasa dan bahkan enggan untuk meninggalkan kota ini.
"Aku berniat untuk mengenalkanmu kepada beberapa kolega ayah, semua harus tahu bahwa keluarga uchiha memiliki pewaris yang tidak boleh dipandang sebelah mata" kata Fugaku seraya menatap onix milik Sasuke yang tak jauh didepannya.
"Jadi….ayah membiarkanku dipandang sebelah mata oleh orang-orang dengan tidak mengajakku juga?" pertanyaan Itachi membuat Sasuke mau tak mau tertawa.
"Kau kan sudah ayah ajak setahun yang lalu, jangan bertingkah konyol" Fugaku sangat paham dengan anak sulungnya yang selalu mencari perhatian ini.
"Mungkin saat aku bertemu dengan kolega ayah nanti semua telah melupakanmu, mereka akan ingat hanya aku penerus Uchiha" Sasuke berkata dengan nada yang semua orang tahu bahwa ia tengah mencoba membuat kakak tampannya kesal.
"Dasar kau bocah!" Itachi menatap garang adiknya yang sedang menyeringai penuh.
000000
Fugaku dan Mikoto menahan tawa melihat tingkah kedua putra mereka, keduanya tak ingin Itachi semakin kesal dengan suara tawa mereka yang nyaring seakan mendukung Sasuke mengolok Itachi lebih jauh. Mikoto bahkan merasa senang bahwa sikap Sasuke tidak lagi sedingin saat mereka baru tiba di Konoha kemarin.
Sasuke tersenyum ramah kepada setiap kolega ayahnya yang dikenalkan. Fugaku memang selalu membanggakan Sasuke dan Itachi kepada seluruh kenalannya. Para mitra kerja Fugaku pun tidak bisa mengingkari perihal kebanggaan Fugaku terhadap kedua putranya saat mereka bertatapan muka secara langsung dengan kedua pewaris kekayaan Fugaku karena memang gen Uchiha sangat luar biasa. Beberapa wanita kenalan Mikoto yang berada di pesta itu juga tak henti-hentinya memuji ketampanan putra bungsunya tersebut.
"Kau sangat manis sekali sayang… pasti putriku akan langsung merengek untuk dikenalkan padamu saat ia melihatmu" ucap salah seorang wanita paruh baya dengan senyuman manisnya yang sepertinya Sasuke pernah melihat siapa orang yang memiliki senyuman manis seperti itu.
"Terima kasih bibi" balas Sasuke sopan, ia telah mengulang kata-kata yang sama tersebut selama puluhan kali sejak ia berdiri di tempat ini.
"Astaga Mebuki …aku bahkan melupakan putrimu yang seumuran dengan Sasuke. Bagaimana keadaan Sakura, apakah dia tetap cantik saat terakhir kali aku melihatnya?" Mikoto bertanya kepada wanita yang bernama Mebuki tersebut. Mebuki tertawa ringan.
"Hahahha kau pasti akan menarik ucapanmu tentang kecantikannya saat kau melihat tingkahnya, dia terlampau aktif, aku bahkan sampai kewalahan menanganinya. Padahal kau tahu sendiri aku selalu memimpikan putriku terlihat anggun seperti putri-putri kerajaan di dongeng yang aku baca. Tapi Sakuraku bahkan tumbuh melebihi mereka" Mebuki menceritakan perihal putrinya dengan mata yang berbinar, semua orang tahu bahwa ia sangat menyayangi puti tunggalnya itu melebihi apapun. Sasuke terdiam namun tetap menampilkan senyum samarnya, jauh dalam lubuk hatinya ia sangat bosan dengan pertemuan-pertemuan seperti ini.
"Benarkah? Aku tak sabar untuk menemuinya. Dia ada disini kan?" Mebuki tersenyum girang mendengar penuturan Mebuki
"Dia sedang bersama Kizashi, tunggu saat kau melihatnya sendiri" jawab Mebuki kemudian menyesap minuman di tangan kanannya.
"Ibu, Bibi, sepertinya aku juga harus menemui ayah sekarang" mendengar kata-kata Mebuki sebelumnya seketika membuat Sasuke menemukan ide cemerlang untuk keluar dari perbincangan para wanita ini.
"Baiklah, hati-hati nak…" Mikoto memberikan ijin Sasuke untuk undur diri sedangkan Mebuki mengusap surai hitamnya perlahan seraya tersenyum manis seakan mengatakan 'sampai jumpa lagi'. Sasuke tertegun, lagi-lagi ia seperti pernah melihat senyuman itu.
Di taman belakang, Sasuke duduk di salah satu bangku kayu yang menghadap kearah kolam renang. Sesekali ia menghela napasnya, ia butuh menghirup udara segar ini selama mungkin sebelum ia harus kembali ke ruangan sesak itu lagi. Undur diri dengan kedok ingin mendampingi ayahnya adalah salah satu alasan yang paling ampuh untuk terbebas dari hiruk pikuk itu. Mungkin perasaan bosan seperti ini akan menghilang dan ia akan menikmati per detiknya seiring semakin bertambah usianya, Sasuke menyadari hal itu. Ia memejamkan matanya perlahan menyandarkan kepalanya ke badan kursi.
"Apa kau juga merasa bosan dengan keramaian pesta tadi?" suara lembut menginterupsinya untuk membuka kelopak matanya. Ia kembali menghela napas sejenak, bahkan saat ia mendapatkan waktu secara pribadi pun masih ada saja yang mengganggunya. Sasuke menolehkan kepalanya ke samping dan menegakkan dirinya. Sepasang onyx kelamnya menangkap sesuatu yang sangat familiar di pengelihatannya. Hangat itu kembali menyergap.
"Kau!" kata gadis itu kaget sembari menatap sasuke dengan pandangan penuh ketakjuban, sesaat kemudian bibirnya menyunggingkan senyuman manisnya. Dengan lengkungan manis itu Sasuke mengingatnya, setengah jam yang lalu ia menatap objek yang sama tapi dengan tampilan yang berbeda. Surai merah muda bak bunga sakura yang bermekaran, sepasang mata emerald, kulit seputih susu yang dibalut gaun berwarna peach selutut, Sasuke tak pernah melupakannya, gadis itu. Otaknya ingin mengucapkan apa saja yang bertebaran dipikirannya, namun bibirnya tak bisa diajak berkompromi. Bibir tipis itu tertutup rapat, hanya suara gumaman samar yang terdengar.
"Sudah kubilang aku ingin sekali bertemu denganmu lagi, dan ternyata Tuhan mengabulkan doaku secara cepat, kita disini.." ucapan gadis itu memecahkan keheningan sekali lagi, matanya berbinar. Sasuke mengernyit heran mencoba menemukan apa yang membuat manik emerald itu berkilauan dengan indah.
"Aku juga tak menyangka" balas Sasuke pada akhirnya, sebuah kata-kata yang sangat sederhana namun tak menghilangkan binar di manik emerald gadis itu.
"Aku sangat senang akhirnya bisa mendengar suaramu, ternyata kau tidak bisu" gadis itu berkata dengan santai menahan senyumnya sehingga tidak berubah menjadi tawa. Sasuke mendecih.
"Aku juga senang" lagi-lagi Sasuke membalasnya secara singkat namun membuat mulut gadis itu melebar seketika.
"Apa?"
"Kau" satu kata Sasuke sukses membuat gadis itu tersenyum manis, semburat merah muda muncul di kedua belah pipinya, senada dengan warna rambutnya.
"Apa maksudmu? Apakah k-kau….."
"Nona, tuan mencari anda daritadi, sebaiknya anda segera menemuinya sekarang. Ini sangat penting". Kata-kata gadis tadi seakan tertahan dan hilang akibat teguran dari sosok wanita anggun yang berbalut dress hitam yang sangat pas ditubuhnya. Wanita itu menatap gadis kecil itu lekat kemudian melirik Sasuke sekilas.
"Apakah sangat harus sekarang?" tanya gadis itu mencoba mengulur waktu
"Tentu" ucapan singkat wanita itu seperti memaksa gadis didepannya untuk menuruti ucapannya
"Tapi aku tidak mau meninggalkan dia, bisakah…."
"Tuan tidak akan senang jika nona tidak mendengarkannya, lagipula anda bisa menemui tuan muda ini dilain waktu lagi kan" untuk kedua kalinya ucapan gadis itu dipotong, wanita itu menatap Sasuke sekilas. Sasuke hanya diam memandang perubahan raut wajah gadis disampingnya.
"Baiklah…kurasa ide yang bagus untuk bertemu denganmu lagi. Aku pasti akan bertemu denganmu, Jaa-ne" ucap gadis itu dan tak lupa senyum manisnya
"Hn" balas Sasuke bergumam seperti menyetujui ucapan gadis kecil yang berhadapan dengannya.
Gadis itu kemudian berjalan menjahui Sasuke, surai merah muda yang menjuntai di punggungnya bergerak kesana kemari seirama dengan langkahnya. Ia terus menatap sosok itu yang perlahan menjauh dari jangkauan, tak beberapa lama sesosok wanita paruh baya yang ditemuinya tadi berjalan kearah gadis itu dan menggandengnya dengan langkah yang tidak setenang tadi. Sasuke masih ingat wanita itu, Haruno Mebuki.
'Jadi dia…Haruno Sakura' inner Sasuke berkata seketika disertai senyuman samar dibibir tipisnya.
000000
SASUKE POV
Derap langkah tergesa mengganggu indera pendengaranku, aku mengernyit dan menarik selimut menutupi wajahku. Tak berapa lama seseorang menarik selimutku cepat. Aku merasakan telapak tangan menepuk lenganku tak sabar. Aku tahu ini bukan Ayame, Ayame tak akan berani membangunkanmu dengan paksaan. Mau tak mau aku mencoba terjaga dan mengerjapkan mataku perlahan untuk menyesuaikan pandangan. Aku melihat ibuku dengan jarak yang sangat dekat, aku mengernyit heran kenapa di pagi buta seperti ini ibu sudah mengenakan setelan rapi yang berwarna hitam.
"Cepat bangun, mandi, dan pakai baju yang ibu siapkan" ucap ibu dengan suara parau, ini bukan suara khas orang bangun tidur, aku tahu. Aku kemudian bergegas bangkit, aku menangkap sesuatu yang langka terlukis di wajah cantik ibuku. Aku melihat mata yang sembab dan sayu. Aku memiliki pertanyaan yang hendak aku lontarkan, tapi ibu langsung pergi keluar dari kamarku.
Sekitar dua puluh menit kemudian aku sudah siap dan rapi mengenakan baju yang ibu siapkan, aku segera menuju lantai bawah. Disana aku melihat ayah, ibu, dan Itachi-nii yang telah menungguku dan semuanya memakai setelan berwarna hitam. Kebingunganku bertambah, namun aku tidak bisa menanyakan apa-apa karena ayah dan ibu segera berjalan menuju mobil kami. selama perjalanan hanya diselimuti oleh keheningan, semuanya terdiam. Ayah yang biasanya selalu menasehati ini dan itu sekarang diam membisu, ibu juga tidak mengatakan apa-apa. Sesekali ibu bahkan menghapus bulir kilatan bening yang keluar dari sudut menerawang pada jalanan yang kami lalui. Tak beberapa lama kemudian mobil kami berhenti tepat didepan sebuah pemakaman, ya di pemakaman! Orang-orang yang berpakaian serba hitam dan sapu tangan yang menjadi penghapus linangan air mata yang keluar dari sudut mata mereka, sama seperti yang ibu lakukan. Itachi-nii berjalan disampingku, aku tak tahu apa Itachi mengerti perihal semua ini atau tidak. Kami berjalan masuk ke area pemakaman, suasana Kota Konoha yang mendung seketika melengkapi semua kesenduan yang ada. Kami berhenti di depan sebuah pusara yang masih baru, tanahnya masih basah dan aku melihatnya! Surai merah muda itu bersimpuh sambil memegangi potret seseorang yang aku kenal sebelumnya…Haruno Mebuki.
000000
to be continue
How's this chapter? Please leave the review, so I know what you think. Thank you for the fav and foll, reviews, silent readers, and so on.
Daisaki20, , Yoshimura Arai,Jamurlumutan462, Frizca A, lightflower22, echaNM, williewillydoo.
