Just enjoy and hope you like it

Cherry I Love You

by

AuroraDM

I own nothing, Mashashi Kishimoto has

Summary : Kita tak ubahnya dua orang yang kehilangan arah untuk merasakan kebahagiaan. Kau milikku Cherry,tak akan ada yang bisa mengubahnya, karena kita adalah satu.

Chapter Three

SASUKE POV

Aku melihatnya, surai merah muda itu, gadis itu, bersimpuh disamping gundukan tanah yang masih basah. Potret wanita cantik yang dipegang erat dengan kedua tangan nya pun semakin membuatku tak dapat berkata-kata. Segala pertanyaan yang aku ingin ajukan tadi kepada ibu, ayah maupun itachi-nii seakan menguap ke udara. Kakiku serasa tidak menapak tanah, tanganku mengepal erat sampai bisa kurasakan ujung kuku jariku menancap ke telapak tangan. Seperti ada ribuan jarum yang menghujam jantungku, sakit, nyeri melihat senyum manis yang sejak dua hari ini mengganggu pikiranku kini berubah menjadi raungan keputus asaan yang tak pernah aku tahu kapan suasana menyedihkan ini berakhir. Ibuku berjalan mendekat kearahnya, menyentuh pundak rapuh itu perlahan kemudian melingkarkan lengannya di sekeliling tubuh gadis itu. Aku ingin berada di tempat ibu sekarang, mengusap dan memeluknya erat. Aku ingin berada disana, disampingnya! Aku tak tahu perasaan apa ini sebenarnya, instingku menginginkanku berada didekatnya. Entahlah..bahkan raungannya yang tak kunjung berhenti membuatku ingin segera berlari menerobos kerumunan, kearahnya…bunga Sakuraku.

Lagi-lagi perasaan apa ini? apakah aku baru saja menyebutnya milikku? Entahlah.

Waktu pun semakin berlalu, orang-orang perlahan menghilang dari kerumunan. Ibuku terlihat tak lagi bersama gadis merah muda itu. Aku tetap berdiri ditempat. Iris onyx ku menatap Itachi nii dan ayah yang sedang berbicara dengan seorang lelaki paruh baya tak jauh dari tempatku berpijak. Aku kembali menatapnya lekat, ia tetap terpekur ditempat yang sama. Kakiku bergerak searah dengan pikiranku, aku mendekat. Tiba-tiba ia bangkit berdiri sesekali mengusap liquid bening yang mengalir di ujung matanya. Aku kembali berdiri kaku. Manik mata kami bertabrakan, matanya sembab sama seperti yang kulihat di wajah ibuku tadi pagi. Dia menatapku tajam dengan hidung yang telah memerah, sedangkan aku tetap dengan keterdiamanku. Dia berdiri dengan gaun tidur sutera putih, surai merah mudanya tergerai berantakan. Sumpah demi apapun dia seperti malaikat yang dijatuhkan ke dasar bumi. Aku bahkan tak bisa melihat senyum manisnya lagi seperti kemarin. Perasaan sesak itu semakin menjalari hatiku.

0000000000

AUTHOR POV

Suasana Tokyo Junior High School sangatlah padat pada pagi hari ini, para siswa dan siswi berlalu lalang untuk mengejar waktu agar tak terlambat mengikuti pelajaran pertama. Bersamaan dengan hal itu, terlihat sebuah mobil sedan hitam yang mewah secara perlahan memasuki halaman sekolah. Mobil tersebut berhenti tepat di pintu utama lobby. Pintu belakang mobil pun seketika terbuka, sepasang kaki laki-laki yang memakai seragam Tokyo JHS segera menapaki lantai kemudian disusul oleh seorang wanita anggun dibelakangnya. Sasuke menatap bangunan itu sekilas, Mikoto secara langsung mengajaknya untuk masuk ke dalam bangunan sekolah itu untuk menemui Kepala Sekolah.

Sekitar empat puluh menit Sasuke, Mikoto dan sang Kepala Sekolah JHS terlibat perbincangan ringan yang tak ubahnya hanya sekedar basa-basi memperkenalkan Sasuke di lingkungan sekolah barunya. Sasuke memandang dengan bosan, sesekali ia mendecih. Mikoto sangat paham akan tingkah anak bungsunya ini jika ia terserang kebosanan. Tanpa menunggu lama, Mikoto pun pamit undur diri tak lupa menjabat tangan Kepala Sekolah sebagai bentuk kesopanan.

"Sasu-kun anak tampan kesayangan ibu, jangan bertingkah aneh di hari pertamamu disini ya sayang.." Mikoto berkata seraya mengusap surai raven Sasuke, Sasuke mendengus dan memutar onyx hitamnya kesal.

"Jangan mengatakan kalimat yang menjijikkan seperti itu Ibu"

Mikoto hanya terkekeh kemudian segera pamit untuk segera pulang. Perasaan Sasuke seketika lega, setidaknya ia bisa terbebas dari tingkah ibunya yang terasa sangat protektif tersebut. Ia pun segera melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan yang pada bagian atas pintunya terdapat tulisan "Class 7B". Anko sensei yang menjadi wali kelas dikelas tersebut seketika tersenyum saat melihat Sasuke yang hanya berdiri di depan pintu seperti tak ingin masuk. Anko sensei melambaikan tangan kepada Sasuke sebagai isyarat untuk menyuruhnya segera memasuki ruangan kelas. Dengan perlahan Sasuke melenggang masuk dengan tangan kanan yang terselip di saku celananya.

"Anak-anak kita kedatangan seorang siswa baru hari ini" ucap Anko sensei yang langsung membuat seisi kelas terdiam dan memusatkan netra nya kepada sosok lelaki tampan yang berdiri di depan kelas kini. Para siswi pun memandang sosok itu dengan tatapan memuja dan siswa-siswa yang ada disana memandang dengan tatapan yang menilai. Hei kalian pasti iri karena seluruh siswi sedang mengagumi Sasuke!

"Waaah tampan sekali senseiii…."

"Cih…kalian pasti harus memeriksakan mata kalian sepulang sekolah ini!"

"Dasar sirik!"

"senseeiiii siapa namanyaaa…."

Suasana kelas pun menjadi ramai dengan cuitan siswa dan siswi tersebut

"Sudah diam jangan berisik. Sekarang perkenalkan dirimu ke teman-temanmu nak" perintah Anko sensei sambil menatap Sasuke. Sasuke mengeluarkan tangannya dari saku celananya

"Perkenalkan namaku Sasuke, Uchiha Sasuke" tak lupa ia kemudian berojigi dan membuat semua yang ada disana menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Apa-apaan perkenalan secara singkat seperti itu.

"Ah baiklah Sasuke, kau bisa menempati bangku kosong disebelah Naruto dipojok sana"

"Terima kasih sensei.." balas Sasuke yang seketika mengedarkan onyx hitamnya ke bangku kosong dipojok kelas. Merah muda…kuning…tunggu! Apakah ini hanya sekedar halusinasi Sasuke atau memang benar-benar takdir sedang berbaik hati padanya? Ia memusatkan pandangan kepada sosok itu, surai merah muda yang sangat familiar dalam pandangannya. Ya itu memang dia! Tanpa sadar Sasuke tersenyum, bukan lebih tepatnya menyeringai dan berjalan menuju bangku kosong yang berada tepat di belakang surai merah muda itu. Sakura sama sekali tidak mengacuhkannya, Sasuke telah duduk disamping Naruto dengan tatapan yang tak pernah lepas dari balik punggung gadis itu.

0000000000

SASUKE POV

Bel istirahat telah berbunyi sekitar sepuluh menit yang lalu, tapi gadis-gadis menyebalkan ini sepertinya tak berniat untuk menyingkir dari -kali mereka menanyakan hal yang tak penting dan suara lengkingan mereka sangat merusak pendengaranku. Rasanya aku ingin melemparkan mereka semua ke jendela besar yang ada disisiku jika aku tidak ingat kata-kata Ibu yang selalu memberitahuku bahwa aku tidak boleh kasar terhadap wanita. Sesekali aku mencuri pandang kearah gadis yang selama beberapa hari ini mencuri segala atensiku. Dia terlihat menggenggam headphone serta ipod di tangan kanannya. Tiba-tiba ia bangkit berdiri dan berjalan keluar kelas. Mataku menajam menatap gerakannya yang perlahan menjauh dari jangkauanku, refleks aku pun berdiri hendak menyusulnya tapi lagi-lagi keberadaan para gadis menyebalkan ini menggangguku. Aku menatap nyalang kepada mereka, tapi mereka seakan tidak peduli dengan tatapanku kini. Cih persetan kata Ibu!

"Minggir kalian sialan!"

Kataku setengah berteriak geram, mereka benar-benar pengganggu! Mereka terdiam, bahkan seisi kelas sekarang seakan menatapku lekat, aku sama sekali tak peduli. Gadis-gadis itu berdiri membeku, menatapku ketakutan, aku mendengus kasar lalu berjalan menerobos mereka yang menghalangi jalanku. Mungkin mereka akan menjauhi murid baru arogan sepertiku ini, tapi apa peduliku. Aku melangkahkan kakiku mengikuti gadis itu menaiki tangga, aku tak tau langkah kecil itu akan menarikku kemana, tapi perlahan kusadari langkah-langkah ini menuntun kami ke bagian atap sekolah. Aku mengernyit bingung…dia tidak akan bunuh diri kan? Aku seketika merutuki diriku sendiri karena mempunyai pemikiran dangkal semacam itu. Dia berjalan dengan tenang, headphone yang dibawanya tadi sudah menjadi hiasan yang pas di helai merah mudanya.

Perlahan ia berjalan kearah sebuah bangku kayu yang berada tepat menghadap taman sekolah di bawah kami. Dia menyandarkan punggungnya pelan dan memandang taman indah dibawah sana dengan pandangan kosong kemudian memejamkan matanya. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya, lalu menduduki bangku yang juga didudukinya. Jarak kami sekarang sangatlah dekat, tanpa sadar aku tersenyum samar sembari menatap wajah cantik itu. Kelopak matanya terbuka, dan seakan dengan gerakan slow motion emerald indah itu kembali menatapku seperti seharusnya. Aku tersenyum seketika, ia tetap diam dengan tatapan datar kearahku.

"Kenapa kau kemari?" tanyanya kepadaku, suara sehalus beludru yang sangat familiar di pendengaranku.

"Maaf" "Untuk apa minta maaf?" aku hanya mengucap satu kata namun dia secara langsung kembali bertanya kepadaku.

"Waktu itu…"

"Aku melihatmu" belum sempat aku mengatakan segala yang ada dipikiranku, ia segera memotong perkataanku disertai senyum getir. Pikirannya seolah menerawang jauh, setetes air mata keluar di sudut emerald beningnya membuatku frustasi. Aku memeluknya.

"Sssst hey jangan menangis…"

"Kenapaa hiks…kenapa mereka mengambilnya? Hiks…Seharusnya….hiks aku saja yang pergi..hiks…hiks.."

"Tidak! Kau tidak boleh berkata seperti itu!" tegasku seraya memeluknya erat

"Ibuku… aku kehilangannya hiks…satu-satunya hiks…yang selalu ada…hiks…hiks..untukku.." ia berkata terbata seiring dengan isakannya. Kemeja seragamku basah tapi tidak jadi masalah, ia membalas pelukanku erat sembari menyembunyikan wajahnya di dadaku.

"Tenanglah…ada aku, hey lihat aku.." ia perlahan melonggarkan pelukannya dan mendongakkan wajahnya mencoba menatapku. Hidungnya memerah, kedua belah pipinya basah. Onyx ku mengunci kedua manik hijau emerald itu, berusaha untuk menyalurkan kekuatan dan menyampaikan ketulusan disana.

"Apa k-kau…"

"Kau lihat aku, aku akan selalu ada untukmu menggantikan ibumu…"

"kau bohong!" aku mendesah frustasi

"hey…percayalah padaku! Aku janji…aku akan menjagamu, kapanpun! Kau bisa pegang kataku"

"Benarkah?.."

"Apakah aku terlihat seperti Pinokio buatmu?" candaan kecilku membuat nya terkekeh, ia menunduk dan menggigit bibir bawahnya seperti sedang mempertimbangkan sesuatu

"Lalu?..." tanyaku, jujur aku tidak pernah suka menunggu sesuatu, tapi ini berbeda..

"Aku..selalu penasaran…" aku menaikkan alisku sekilas, ia memandangku, ada raut keraguan di ekspresinya "namamu…aku tidak tahu namamu" ia kembali berbicara kemudian sekali lagi menggigit bibir bawahnya, entah demi apapun aku ingin tertawa, dia sangat menggemaskan.

"Sasuke..Uchiha Sasuke" aku tersenyum kepadanya, dia balas tersenyum dan seketika duniaku serasa berubah.

" Aku..Haruno Sakura"

Ya aku sudah tahu

Bunga Sakuraku…

0000000000

Lima tahun kemudian

SAKURA POV

Aku mengetuk-ketukkan sepatuku ke lantai searah detik jarum jam, sudah hampir dua jam aku berdiri disini sesekali menghela napas berat. Ya aku mati kebosanan disini. Kakiku pegal, perasaanku kesal. Rasanya ingin mengumpat keras tapi aku seorang Haruno, Klan Haruno harus menjaga harga dirinya bukan. Ini memang pertama kalinya aku menunggu selama ini, dan aku tak ingin lagi. Aku menggerutu lirih seraya memainkan handphone di tanganku. Belum ada lagi chat yang masuk membuatku semakin kesal. Aku merutuki diriku sendiri yang tidak mau dijemput oleh Kakashi tadi, sebelumnya aku tidak tahu kalau akan berakhir seperti ini. kulirik jam tangan yang menghiasi pergelangan tangan kiriku

"Sialan!" aku mengumpat lirih seperti bisikan, aku pun memantapkan hati untuk beranjak dari sini walaupun dengan perasaan berat. Baru beberapa langkah aku meninggalkan tempatku berdiri tadi kudengar derap langkah kaki tergesa seolah berlari menapaki lantai koridor.

"Maaf. Apakah kau menunggu lama Cherry?" tiba-tiba sebuah lengan kekar melingkari pinggangku, ia menyandarkan kepalanya di bahuku, napasnya berat. Aku memegang tangannya lalu membalikkan badanku, helaian raven kelam menutupi dahinya.

"Kau..harus bertanggung jawab Sasuke-kun!" aku berkata dengan nada yang memang kubuat marah dan seperti biasa…ia hanya menyerngai melihat tingkahku.

0000000000

to be continue

I'm sorry for the late updates

How's this chapter? Please leave the review, so I know what you think. Thank you for the fav and foll, reviews, silent readers, and so on.

Younghee Lee, echaNM, , , Jamurlumutan462, flower on the spring, 1, diins, Kirara967, raizel's wife, kiyoi-chan, shirazen, Dewazz, Hyuugadevit-Chery, ririsakura