Just enjoy and hope you like it
Cherry I Love You
By
AuroraDM
I own nothing, Masashi Kishimoto has
Summary : Kita tak ubahnya dua orang yang kehilangan arah untuk merasakan kebahagiaan. Kau milikku Cherry,tak akan ada yang bisa mengubahnya, karena kita adalah satu.
Chapter Four
SAKURA POV
"Kau..harus bertanggung jawab Sasuke-kun!" aku berkata dengan nada yang memang kubuat marah dan seperti biasa…ia hanya menyerngai melihat tingkahku.
"Apa yang kau inginkan kali ini?" tanya Sasuke to the point dengan masih menempatkan tangannya di sekeliling pinggangku. Aku tersenyum sumringah mendengar pertanyaannya.
"Aku ingin ke taman bermain.." ucapku sambil tersenyum dan menampilkan puppy eyes. Aku tahu Sasuke tak akan bisa menolak permintaanku. Apapun itu. Sasuke mengernyitkan dahi dan tak mengeluarkan suara apapun.
"Kau tahu betapa bosannya aku menunggumu selama sejam dan bahkan kau tidak memberikan kabar padaku" aku pura-pura merjauk seraya menampilkan tatapan memohon, Sasuke bahkan tak akan pernah mengatakan tidak pada saat seperti ini.
"Maafkan aku, hari ini lakukan apapun maumu, my lady.." balas Sasuke kemudian mengecup pipiku
"Apapun.." aku mengulangi perkataanku dan menyeringai, dia terkekeh melihat sikapku yang semakin lama semakin mirip dengannya. Sasuke kemudian menggandengku, jari kami saling bertaut. Aku menyukai saat Sasuke dengan sengaja meremas perlahan jariku selama beberapa kali, aku merasa aku tak akan pernah bisa lari dari jangkauannya. Kami seketika berhenti disamping mobil Jeep Wrangler Rubicon warna hitamnya, dia selalu membukakan pintu untukku, aku sangat bersyukur memiliki dia disisiku. Selama perjalanan sesekali Sasuke menggenggam tanganku, dia bercerita panjang lebar kenapa dia membuatku menunggu selama itu tanpa melepaskan tanganku dari genggamannya.
0000000000
Tak terasa kami sudah sampai di tempat parkir taman bermain. Kami bergegas turun, tapi sebelumnya Sasuke turun terlebih dahulu dan berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu disampingku, dia selalu membuatku terlihat bak tuan putri yang ada di cerita dongeng yang dulu selalu ibuku ceritakan. Aku selalu protes padanya, tapi dia bilang bahwa jika aku menolak maka dia akan terluka, Oh Sasuke ku yang selalu bisa memenangkan hatiku dengan mulut pintarnya.
Kami berjalan memasuki area taman hiburan, suasana sangat ramai walaupun hari ini bukan hari libur. Aku merasakan jemari Sasuke masuk di sela-sela jemariku, lalu menggenggam erat. Aku mendongak sedikit, dia menyeringai dan seketika menundukkan kepalanya sedikit.
"Aku tidak ingin kau tertinggal nanti, lamban" ia berbisik di telingaku, aku mengernyit dan mengepalkan tinjuku ke dadanya. Ia terkekeh sambil mengusap-usap dadanya.
"Jangan menangis jika nanti aku yang meninggalkanmu" aku membalas
"Cherry kau tidak mungkin meninggalkanku, kau tak akan bisa" balasnya mengejek, sungguh raut wajahnya yang seperti ini membuatku memutar bola mata.
"Kau tidak akan tau apa yang terjadi suatu hari nanti, Sasu" aku berkata mencoba untuk seserius mungkin, seringaiannya memudar berganti dengan raut wajah panik
"Oh…ayolah Cherry.." dia menatap manik mataku, dan mencoba untuk mengeratkan genggamannya.
"Tidak…." Aku tetap memasang tampang serius, aku dapat melihat keputusasaan di sorot matanya, aku melepas genggamannya.
"Tidak, karena aku hanya bercanda…hahahhah" aku memutuskan untuk lari sambil tertawa keras karena berhasil mengerjainya, melihat tambang bingung bodohnya. Ternyata Uchiha Sasuke yang jenius pun dapat dengan mudah aku bodohi hahha.
"Cih..dasar" Sasuke mendengus dan mengumpat, aku semakin tertawa dan dia menatapku tersenyum sekilas lalu berlari kearahku.
0000000000
Kami berdua hampir mencoba semua wahana yang ada, kami sangat senang…tepatnya hanya aku yang sepertinya sangat senang karena sejak tadi Sasuke hanya memasang wajah yang datar. Mungkin aku salah memaksa patung hidup ke tempat bermain yang ramai seperti ini hahhah. Aku menariknya menuju wahana bianglala yang menarik minatku sedari tadi. Sasuke berjalan menuruti dan aku memberikannya senyuman andalanku yang aku tahu dia pasti akan menurutiku. Kenapa kau sangat manis Sasu…
Sebelum kami menaiki salah satu tabung, Sasuke menghentikan langkahku. Dia berbalik kearah petugas
"Apakah ini benar-benar aman?" Tanya Sasuke dengan wajah serius. Aku memutar bola mata.
"Tentu, ini sudah teruji oleh…"
"Tentu saja Sasuke-kun, kalau tidak kenapa benda ini masih berdiri menjulang disini…" aku memotong ucapan petugas, Sasuke mengalihkan tatapannya padaku kemudian ia menghela napas.
"Hn" lagi-lagi ucapan ambigunya yang keluar, ia menarik tanganku lalu berjalan memasuki kapsul. Petugas tadi menutup pintu, aku dan Sasuke saat ini tengah duduk berhadapan. Aku senang, dia sesekali mendengus melihat wajahku.
"Hentikan senyum bodohmu itu" Sasuke tersenyum mengejek
"Hei…kau juga tersenyum bodoh" balasku tak terima dan memandangnya, Oh Tuhan kenapa dia tampan sekaliii, aku memang menyadarinya sejak dulu bahwa dia laki-laki tertampan yang aku kenal setelah ayahku tentu saja. Tapi dengan senyum separuhnya seperti ini dan latar senja dibelakangnya membuatnya seketika seperti salah satu jelmaan dewa paling tampan dalam mitologi Yunani, Adonis. Memandangnya seperti ini saja membuat pipiku panas. Oh tidak jangan merona!
"Apakah kau memikirkan sesuatu yang nakal sampai merona seperti itu Cherry?" Sasuke bertanya dengan seringai andalannya.
"Oh aku…tidak! Kau menyebalkan!" aku berusaha mengelak, mengalihkan pandangan ke samping menatap pemandangan kota. Tapi aku tahu Sasuke tak akan berhenti sebelum mengetahui jawabannya.
"Tatap aku" dia menekankan setiap kata-katanya dan aku perlahan menatapnya, ia tetap menyeringai. Secara perlahan wajahnya mendekat, aku membeku reflex aku menutup mata. Sebuah benda halus dan basah menyentuh bibirku, aku terdiam merasakan ciumannya. Ini ciuman pertamaku. Jemarinya memeluk pinggangku mengelus perlahan membuatku sedikit mendesah dan membuka bibirku. Sasuke segera memasukkan lidahnya, aku hanya mengikuti gerakannya tapi lama-kelamaan ciuman kami berubah panas dan aku membutuhkan oksigen sekarang juga. Aku mendorong dadanya menjauh, dia terkesiap lalu perlahan menjauhkan diri menyadari kebutuhanku akan oksigen saat ini jauh lebih besar. Kami terengah-engah, dia tersenyum kecil menatapku.
"Cherry…ayo kita menikah!"
Belum hilang kegugupanku setelah ciumannya tadi dan sekarang dia mengatakan sebuah kalimat yang seketika dapat membuat jantungku berhenti berdetak. Aku menatapnya membulat, aku terkejut tentu saja. Dia tetap tersenyum, dasar tampan!
"Kau bercanda kan, kita masih sekolah, kita masih kecil dan ayahku…ayahku tak mungkin memperbolehkanku menikah diusia muda seperti ini, semua orang pasti mengira kita telah berbuat kesalahan Sasu…" aku membalas dengan gugup, ini memang tidak mungkin. Aku tidak pernah memimpikan untuk menikah diusia seperti ini. Sasuke terkekeh mendengar penjelasanku, dia sangat menyebalkan. Dia seolah tidak merasa bersalah atas ucapannya, hey apa lelaki dengan semudah itu mengucapkan kalimat yang seharusnya sakral? Dia membuatku jengkel.
"Hn aku tau, mungkin tidak sekarang Cherry, aku melamarmu sekarang dan nanti kita pasti menikah. Kau gadis yang kuimpikan selama ini…" ucapannya serius, aku terpesona dan membisu
"Jadi?" balasku bodoh
"Jadi… aku melamarmu" Sasuke mendesah seraya memutar bola mata membalas jawaban bodohku
"Bukan…bukan itu maksudku, kau melamarku sekarang…kau bahkan belum menjadi pacarku Sasu" aku berkata agak lirih, aku sangat malu sekali.
"Oh benar, aku terlalu bersemangat. Cherry apakah kau mau menjadi pacarku?" dia bertanya menatapku lekat, sorot tajam matanya membiusku. Aku melihat keseriusannya disana.
"Bisakah aku berkata tidak?"
"Tentu saja tidak!" dia membalas memaksa, aku tertawa dan menerjang memeluknya membuat badan tegap berototnya agak terhuyung kebelakang.
"Hey…Cherry kumohon jangan membuat kapsul ini bergoyang dan jatuh" aku hanya tertawa, aku merasa ada jutaan kupu-kupu yang beterbangan di perutku saat ini
"Jangan tertawa…lamaranku terus berlaku sampai kita menikah, haruskah kita menikah setelah lulus?"
"kau melamarku saat kita masih kelas 2 SMA, kau gila!"
"Aku mencintaimu Cherry.."
"Ngomong-ngomong Sasu itu tadi ciuman pertamaku.."
"Tentu saja itu juga ciuman pertamaku sayang"
Aku menenggelamkan wajahku didadanya, menyembunyikan wajahku yang memerah seperti kepiting rebus, kemudian kami berdua terkekeh. Sasuke selalu saja bisa membuatku bahagia seperti sekarang ini. Dia cinta pertamaku, aku sangat beruntung memilikinya.
0000000000
Malam Hari, Haruno Mansion
"Pastikan tidurmu nyenyak" ucap Sasuke sambil mengusap pipiku, kami sekarang berada di depan gerbang rumahku.
"Kau juga" balasku sambil tersenyum
"Tentu saja tidurku nyenyak mengingat seseorang telah menerima lamaranku" dia menyeringai
"Hey! Itu tadi…"
"Sudahlah cepat masuk, kau tau aku mencintaimu, aku tak ingin ayahmu marah" dia menatapku intens membuat senyumku kembali merekah
"Tentu saja" balasku lalu mencium pipinya, dia tertawa. Aku merasa malu kemudian cepat-cepat masuk kedalam.
Aku sangat lelah hari ini, tapi entah kenapa senyumku selalu tiba-tiba muncul saat mengingat kejadian seharian ini. Aku berjalan menuju mansion sambil bersenandung kecil. Aku bisa gila ya tuhan..
Aku membuka pintu utama dan masih bersenandung, aku melihat ayah berdiri di ruang tamu sambil mendekap seorang gadis muda yang sedang menangis sesenggukan. Aku melihat Bibi Chiyo dan Rin berdiri jauh dibelakang ayah tapi aku masih bisa dengan jelas melihat ekspresi mereka, ekspresi kesedihan. Aku terperangah bingung, sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi?
"A-Ayah…siapa dia?" Ayah seketika melepaskan dekapannya, secara otomatis ia menatapku. Aku mengalihkan pandangan untuk melihat wajah gadis itu. Cantik, berambut pirang, kira-kira ia seumuran denganku. Aku mengalihkan lagi pandanganku kepada ayah, menuntut penjelasan.
"Sakura…" Ayah memandangku putus asa, bibirku terkatup erat.
"Jawab aku!" Aku butuh penjelasan sekarang juga.
"Dia Shion…saudara tirimu, dia anak ayah juga dan mulai sekarang akan tinggal disini" Jawab ayah hati-hati tapi itu cukup menghancurkan hatiku. Semua orang tidak pernah mengungkit hal ini sebelumnya. Apa selama ini ibu tahu? Apa ayah menghianati ibu selama ini? Aku merasa bodoh dan menyedihkan.
"Kau bohong!" aku berkata lantang, air mata membanjiri kedua belah pipiku begitu saja. Aku menatapnya nanar, hatiku hancur. Aku berlari menuju kamarku.
0000000000
Sakura, jangan terlalu banyak tertawa sayang
Memangnya kenapa bu?
Karena saat kau terlalu banyak tertawa, biasanya kesedihan juga menyertaimu setelahnya
Benarkah?
Ibu harap itu tidak akan pernah terjadi padamu
Aku menyayangi ibu
0000000000
to be continue
I'm sorry for the very late updates
How's this chapter? Please leave the review, so I know what you think. Thank you for the fav and foll, reviews, silent readers, and so on.
Raizel's wife, lightflower22, wowwohgeegee , yencherry, embunadja1, jamurlumutan462, kirara967, yamaken, kiyoi-chan, kakikuda, kuzmiiati664, nurulita as lita-san, hyuugadevit-cherry, cekbioaroran, and shirazen.
