HI, MINGYU
Disclaimer : Belong to God and theirselves :D This story is mine. Not for commercial.
Author : Lee Rae Ra
Genre : General, Semi-Romance
Rate : T
Length : Chaptered
Cast : Kim Mingyu & Jeon Wonwoo
.
.
.
SUMMARY : Dua tahun Mingyu menjadi stalker Wonwoo, dan ia berhasil berkenalan dengannya. Bagaimana usaha Mingyu untuk melakukan pendekatan pada Wonwoo di saat Wonwoo sama sekali tidak memiliki perasaan padanya? Hi, Wonwoo's Sequel.
.
.
.
HI, MINGYU
.
"MINGYU AWAS!"
Itulah suara terakhir yang didengar Mingyu sebelum ia merasakan sebuah benda menghantam kepalanya keras. Mingyu terhuyung-huyung sebentar, merasakan kunang-kunang memenuhi matanya, kepalanya terasa berat dan pandangannya mulai mengabur. Kemudian ia langsung jatuh telentang di atas halaman depan sekolah yang merangkap sebagai lapangan basket.
Samar-samar Mingyu bisa mendengar suara langkah kaki mendekat sebelum akhirnya kunang-kunang di matanya dan rasa pusing di kepalanya semakin menjadi, dan ia bisa melihat wajah yang tepat berada di atasnya. Wajah yang terakhir ia lihat sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
Jeon Wonwoo.
: Hi, Mingyu :
Hoshi yang melihat Mingyu terhuyung-huyung lalu jatuh telentang pun langsung berlari mendekati Mingyu. Beberapa pemain basket yang ada di lapangan juga ikut berlarian mendekati Mingyu.
"Yah, apakah dia pingsan?" tanya Hoshi cemas.
Wonwoo memeriksa Mingyu sebentar, sebelum ia yakin bahwa pemuda jangkung itu benar-benar pingsan.
"Ayo kita bawa ke ruang kesehatan!" seru Chanyeol, anak kelas tiga yang juga bermain basket bersama Wonwoo.
Wonwoo yang merasa bersalah karena telah melemparkan bola yang menimpuk kepala Mingyu pun mengangguk dan mengangkat tubuh Mingyu dibantu oleh Chanyeol dan beberapa temannya yang lain, sedangkan Hoshi mengikuti di belakang.
Dengan hati-hati mereka membaringkan Mingyu di atas salah satu ranjang setelah sebelumnya mereka melepaskan tas ransel dari punggung Mingyu. Hoshi buru-buru membongkar rak obat dan mencari minyak kayu putih.
"Wonwoo, maaf. Tapi aku, Jongin, Suho, dan Xiumin harus kembali karena sebentar lagi kelas tambahan akan dimulai. Kau bisa sendiri kan? Lagipula ada Soonyoung disini." Kata Chanyeol.
Wonwoo mengangguk. "Iya, hyung. Terimakasih sudah membantuku."
Setelah tiga orang senior tersebut keluar, Hoshi baru menemukan botol minyak kayu putih. Namun sayangnya Hoshi kesusahan membuka tutup botolnya. Akhirnya Hoshi memutuskan untuk membuka kepala botolnya.
Saat Hoshi berhasil membuka botol minyak kayu putih yang kini tidak memiliki kepala botol itu, ia buru-buru mendekati ranjang tempat Mingyu terbaring namun...
"AAAAHHHH!"
Wonwoo menoleh begitu mendengar suara teriakan Hoshi yang menyayat hati. Wonwoo terbelalak begitu melihat Hoshi berada dalam posisi tengkurap, dan minyak kayu putihnya tumpah, mengotori lantai dan menyebarkan bau minyak kayu putih ke seluruh ruangan.
Wonwoo yang sedang duduk buru-buru bangkit dan menolong Hoshi berdiri. Hoshi sendiri terkena tumpahan minyak kayu putih, membuat Hoshi sangat berbau minyak kayu putih.
"Ah, timbangan sial." Hoshi merutuk pada timbangan yang telah menyandungnya hingga jatuh.
"Ah, kau bau sekali. Lebih baik kau membersihkan diri." Kata Wonwoo sambil menutup hidungnya karena tak tahan dengan bau minyak kayu putih yang sangat menyengat.
Hoshi menatap dirinya sendiri yang sangat mengenaskan. "Haish, kalau begitu aku ke kamar mandi dulu. Titip Mingyu ya. Ngomong-ngomong, aku Kwon Soonyoung. Tapi kau bisa memanggilku Hoshi." Kata Hoshi sambil mengulurkan tangannya.
Wonwoo mengangguk dan membalas jabatan tangan Hoshi. "Aku sudah tahu namamu kok, kau kan ketua showcase Orion. Aku Jeon Wonwoo, aku nanti akan mengikuti audisi untuk additional dancer."
Mata Hoshi yang sudah sipit itu pun menyipit. Otaknya bekerja cepat. Ia akan meninggalkan Mingyu berduaan dengan orang yang disukainya. Dalam hati ia terkekeh. Semoga saja Mingyu cepat bangun dan Mingyu harus berterimakasih padanya karena berkat ia jatuh, Mingyu akan bisa berduaan dengan Wonwoo.
Hoshi mengangguk-angguk. "Ah, baiklah kalau begitu. Tolong urusi Mingyu dulu ya. Aku keluar dulu." Kata Hoshi seraya keluar dari ruang kesehatan.
Wonwoo memungut botol minyak kayu putih yang sudah kosong. Ia mengecek botol tersebut dan memperhatikan kertas kemasannya. Ternyata minyak kayu putih itu sudah kadaluarsa tiga bulan yang lalu.
"Ck, pantas baunya menyengat sekali." Kata Wonwoo seraya melemparkan botol itu ke tempat sampah.
Tatapan mata Wonwoo mengarah pada lantai yang terkena minyak kayu putih. "Ck, dasar anak sipit merepotkan." Katanya, padahal dia juga sipit. Dasar Wonwoo tak tahu diri.
Wonwoo yang melihat tumpahan minyak kayu putih pun memutuskan untuk membersihkannya karena baunya sangat menyengat. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan menemukan sebuah lap di pojok ruangan. Wonwoo bergegas mendekati galon air dan mengambil sebuah gelas plastik. Wonwoo mengisi gelas tersebut dengan air wastafel, kemudian menumpahkan air tersebut ke lap yang ia temukan. Karena tak ada cairan pembersih lantai, Wonwoo mengambil air lagi dan menumpahkan air di atas genangan minyak kayu putih. Baru setelahnya Wonwoo mengepel tumpahan minyak kayu putih menggunakan lap yang telah ia basahi sebelumnya.
Setelah dirasanya bersih dan baunya sudah tidak terlalu menyengat, Wonwoo mengembalikan lap tersebut ke tempatnya, kemudian ia mengambil gelas baru dan mengisinya dengan air galon.
Tepat setelah Wonwoo selesai memenuhi gelas tersebut dengan air minum, ia mendengar suara erangan kecil. Wonwoo menoleh dan melihat Mingyu mengerjapkan matanya.
"Ah, kau sudah sadar." Kata Wonwoo, bergegas mendekati Mingyu.
Mingyu memelototkan matanya begitu melihat Wonwoo yang berjalan mendekatinya. Ia mengedarkan pandangannya dan tersadar bahwa sekarang ia berada di ruang kesehatan. Ia memejamkan matanya sejenak, dan ia ingat bahwa tadi kepalanya dihantam sesuatu yang keras.
"Minum ini dulu." Kata Wonwoo seraya menyodorkan segelas air pada Mingyu. "Aku akan membantumu minum."
Wonwoo meletakkan gelas tersebut di bibir Mingyu dan membantu Mingyu meminumnya. Dalam jarak sedekat itu, Wonwoo bisa mendengar detak jantung Mingyu yang berdebar lebih cepat dari detak jantung normal. Wonwoo tersenyum kecil melihat wajah Mingyu yang memerah.
Setelah meletakkan gelas tersebut di atas meja, Wonwoo pun duduk di kursi yang tadi didudukinya dan menatap Mingyu.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku yang melempar bola basket yang mengenai kepalamu tadi. Maaf, aku tidak sengaja. Bolanya yang salah sasaran." Kata Wonwoo meminta maaf, menyalahkan si bola basket.
Mingyu tersenyum kecil dan menggeleng. "Tak apa. Namanya juga tak sengaja."
Wonwoo merasakan ponsel di saku celananya bergetar. Ia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya kemudian membaca pesan yang masuk. Ternyata pesan dari Seungkwan bahwa ia sudah di depan sekolah.
"Mingyu, kau pulang naik apa?" tanya Wonwoo.
"Naik bus. Aku belum boleh bawa kendaraan sendiri." Jawab Mingyu dengan raut wajah sebal.
Wonwoo tertawa kecil. "Aku juga belum boleh kok. Makanya aku diantar jemput supir, jadi bisa bersama Seungkwan juga. Aku antar kau pulang ya? Pasti kepalamu pusing sekali. Supirku sudah datang." Tawar Wonwoo.
"Ah, apa boleh?" tanya Mingyu kikuk.
Wonwoo mengangguk dan berdiri. "Aku tidak enak padamu. Sudah kutimpuk pakai bola, masa aku juga harus membiarkanmu pulang naik bus. Kalau nanti kau pingsan di bus, bagaimana? Siapa yang akan membantumu nanti? Ayo, kubantu kau berdiri."
Wonwoo membantu Mingyu bangkit dari ranjang, kemudian mengambil tas ransel Mingyu dan memberikannya pada Mingyu. Setelah itu, mereka berdua berjalan keluar dari ruang kesehatan menuju gerbang depan sekolah.
Mobil hitam Wonwoo telah menunggu di depan sekolah. Wonwoo bergegas membuka pintu mobilnya dan menyuruh Mingyu masuk duluan.
"Pak, kita antar teman saya dulu ya." Kata Wonwoo pada supirnya setelah ia menutup pintu mobil. "Eh, rumahmu dimana?"
"Apgujeong." Jawab Mingyu.
Mobil pun mulai berjalan setelah Mingyu menyebutkan dimana ia tinggal. Seungkwan yang daritadi cuek duduk di bangku penumpang depan sambil memainkan ponselnya pun menoleh ke belakang begitu mendengar suara yang familier dan melihat Mingyu yang setengah teler.
"Mingyu hyung?" tanyanya. "Kenapa kita harus antar si dekil ini pulang?" tanya Seungkwan.
"Aku tadi tidak sengaja menimpuk kepalanya dengan bola basket dan dia pingsan." Jelas Wonwoo.
Seungkwan tertawa keras mendengar jawaban Wonwoo. "Ahahaha kau hebat hyung! Sering-sering saja timpuk si hitam dekil ini!" katanya sambil mengacungkan dua jempol. "Ya sudah, biar dia tidur saja." Kata Seungkwan begitu melihat mata Mingyu yang terpejam. "Lagipula aku tahu rumahnya kok, kan aku sering kesana. Nanti biar aku yang beri tahu arahnya."
Mobil hitam tersebut mulai memasuki daerah Apgujeong, dan Seungkwan mengarahkan supirnya menuju rumah Mingyu. Kemudian, mobil pun berhenti tepat di sebuah rumah tingkat dua bercat biru.
Mingyu yang tadi hanya memejamkan matanya dan tidak tertidur pun turun dari mobil diikuti Wonwoo. Ia agak oleng saat berdiri, kepalanya masih pusing.
"Terimakasih ya sudah mengantarku." Kata Mingyu sambil memegangi kepalanya.
"Ah, harusnya aku yang meminta maaf karena gara-gara aku, kau jadi begini. Pasti kau masih pusing." Wonwoo meminta maaf dan membungkukkan badannya.
"Tidak perlu sesopan itu. Tak apa." Balas Mingyu, merasa tidak enak karena Wonwoo sampai membungkuk padanya.
Wonwoo tersenyum. "Kalau begitu, aku pulang dulu ya." Pamit Wonwoo.
Mingyu mengangguk dan mengangkat tangannya, membuat gestur melambaikan tangan.
"Hati-hati." Katanya seiring Wonwoo masuk ke dalam mobil.
: Hi, Mingyu :
"Baru kemarin kenalan, kau sudah akrab dengannya ya hyung." Kata Seungkwan memecah kesunyian dalam mobil.
"Itu juga gara-gara aku menimpuknya dengan bola basket." Tukas Wonwoo.
Seungkwan diam saja tidak menanggapi perkataan kakaknya. Wonwoo memandang ke luar sambil menerawang.
Wonwoo mengenal Mingyu. Bukan sejak kemarin tapi sejak hari pertamanya menginjakkan kaki di sekolah. Wonwoo menyadari ada sepasang mata yang selalu menatapnya, terutama saat jam istirahat. Wonwoo tahu ada sepasang mata yang selalu mengamatinya saat ia berada di kantin, juga saat ia berangkat dan pulang sekolah.
Wonwoo juga tahu bahwa ada yang mengikutinya. Ia pertama sadar saat ia sudah rutin menonton film di bioskop, karena pemuda tinggi itu selalu duduk di belakangnya. Karena seringnya melihat pemuda tersebut, Wonwoo sampai hafal topi dan kacamata hitam yang dipakainya bergantian. Awalnya Wonwoo tidak mempedulikannya, tapi ia mulai curiga saat mengetahui bahwa setiap ia menonton film, pasti pemuda itu duduk di belakangnya. Lama kelamaan ia hafal wajah pemuda itu, dan Wonwoo sadar bahwa selain di bioskop, rasanya ia sering melihat pemuda itu. Akhirnya Wonwoo sadar bahwa pemuda itu satu sekolah dengannya. Tapi Wonwoo tidak ambil pusing, toh dia tidak tahu siapa namanya. Tapi Wonwoo tidak pernah ingin tahu siapa namanya, karena itu dia tidak pernah bertanya pada teman-temannya. Namun kemudian Wonwoo mengetahui siapa nama pemuda yang selalu mengikutinya itu berkat Seungkwan.
Wonwoo pernah tidak sengaja melihat ke layar ponsel Seungkwan yang kebetulan menampilkan foto sepasang remaja. Pemuda di foto tersebut sama dengan pemuda yang selalu mengikutinya. Wonwoo pun bertanya pada Seungkwan dan Seungkwan menjawab itu adalah teman sekelasnya Kim Jiho dan kakaknya Kim Mingyu.
Kim Mingyu.
Wonwoo akhirnya tahu siapa nama pemuda yang selalu mengikutinya itu. Dan Wonwoo tidak peduli. Kalau orang-orang tahu kelakuan Mingyu, mereka pasti langsung bisa menyimpulkan satu hal. Kim Mingyu pasti menyukai Jeon Wonwoo. Terobsesi. Tergila-gila. Namun sayangnya, hanya Wonwoo seorang yang tahu.
Sekali lagi, Wonwoo tidak peduli.
Wonwoo sudah terbiasa disukai banyak orang. Tapi dengan Mingyu, ia merasakan sensasi baru. Sebelumnya, orang-orang yang menyukainya tidak pernah melakukan hal yang Mingyu lakukan. Tidak pernah ada yang begitu semangatnya mencari tahu tentang dirinya. Tidak ada yang pernah membuntutinya kemana-mana layaknya sasaeng fans.
Wonwoo juga tahu, selain mengikutinya kemanapun, Mingyu juga mencari tahu info tentangnya. Wonwoo yang usil membaca chat di ponsel Seungkwan tak sengaja membaca chat Seungkwan dengan Jiho yang kebanyakan berisi 'Wonwoo hyung begini, Wonwoo hyung begitu'. Dan di chat itu pula Seungkwan berkali-kali menggoda Jiho karena ia menganggap Jiho menyukai Wonwoo. Namun Wonwoo tidak seperti Seungkwan yang mengira Jiho menyukainya, tapi Wonwoo langsung bisa tahu bahwa Jiho bertanya ini itu pasti karena disuruh oleh Mingyu.
Lagipula, Wonwoo tidak bisa mengerti. Bagaimana bisa ada orang yang menyukai orang lain saat dia sama sekali tidak mengenal orang itu? Bagaimana bisa ada orang yang memiliki perasaan pada orang lain saat dia sama sekali tidak pernah berbicara dengan orang itu? Wonwoo tidak mengerti. Jatuh cinta memang aneh.
Wonwoo paham kalau Mingyu tahu segala hal tentangnya. Namun, yang Mingyu tahu hanyalah yang nampak saja. Mingyu tidak tahu bagaimana sifat Wonwoo sebenarnya. Mingyu tidak pernah tahu apa yang Wonwoo rasakan bila suatu hal terjadi. Mingyu tidak pernah tahu, dan tidak akan pernah tahu.
Dan kemarin untuk pertama kalinya dalam dua tahun ini, ia berkenalan dengan Mingyu. Kalau bukan karena tidak sengaja, Wonwoo tidak akan pernah mau berkenalan dengan Mingyu.
Bukan, Wonwoo bukannya jijik atau tidak suka pada Mingyu. Hanya saja diam-diam ia menikmati saat-saat Mingyu mengikutinya. Dan ia tidak yakin, apakah setelah akhirnya Mingyu berhasil berkenalan dengannya, Mingyu akan meneruskan kebiasannya tersebut.
Bukan, bukannya Wonwoo menaruh hati pada Mingyu. Wonwoo bahkan sama sekali tidak berminat pada pemuda jangkung itu. Berminat saja tidak, apalagi menyukai. Wonwoo hanya suka perbuatan Mingyu, itu saja. Setidaknya, kehadiran Mingyu yang selalu mengikutinya itu secara tidak langsung bisa mengobati kesepian yang ia rasakan.
Wonwoo jadi teringat pada seseorang. Orang yang telah meninggalkannya sendirian, membuatnya merasa kesepian. Tapi Wonwoo tidak bisa membenci orang tersebut. Wonwoo tak akan bisa, karena selamanya hati Wonwoo hanya milik orang itu.
"HYUNG!"
Seruan Seungkwan menyadarkan Wonwoo. Ia tersadar dan ternyata mobil sudah berhenti di depan rumahnya.
"Kau melamunkan apa sih? Aku memanggilmu berulang kali tapi kau tidak bereaksi! Sudah sampai nih!" seru Seungkwan sebal sambil keluar dari mobil.
Wonwoo tersenyum tipis. "Kim Mingyu." Jawabnya, walaupun Seungkwan tak akan bisa mendengarnya.
: Hi, Mingyu :
Wonwoo melihat ke luar jendela saat mobilnya mendekati gerbang sekolah. Ia tersenyum kecil begitu melihat Mingyu yang berada di tempat biasa, memperhatikan mobilnya. Diam-diam Wonwoo senang bahwa Mingyu masih melanjutkan kebiasaannya. Namun ia agak was-was, Mingyu masih begitu karena ini dalam area sekolah. Apakah Mingyu juga masih akan mengikutinya ke tempat les musik atau duduk di belakangnya saat ia menonton bioskop?
Wonwoo berpamitan pada supirnya saat ia akan turun dari mobil. Seungkwan sudah tidak ada karena ia terlebih dahulu diturunkan di sekolahnya. Dari sudut matanya ia bisa melihat Vernon berjalan mendekat. Ia berdiri di tempatnya, menunggu Vernon. Sambil mengamati Mingyu yang kini sedang berjalan melintasi halaman sekolah.
"Hyung!" sapa Vernon sambil menepuk bahu Wonwoo.
"Bagaimana, kau sudah bilang ke Minghao temanmu itu?" tanya Wonwoo seraya mereka berdua berjalan memasuki gedung sekolah.
Vernon mengangguk. "Ya, tapi tanggal audisinya belum tahu. Minghao berkata mereka sudah dapat sekitar sembilan belas orang yang berminat ikut audisi, jadi mungkin audisinya sebentar lagi." Jelas Vernon.
"Wah, cepat sekali. Padahal sepertinya baru kemarin mereka bergerilya mencari orang utuk ikut audisi." Komentar Wonwoo.
"Dancer-dancer itu sangat bersemangat mencari orang. Mungkin mereka menodong semua orang agar mau ikut audisi." Vernon tertawa geli.
Wonwoo dan Vernon sudah kenal lama karena orangtua mereka bersahabat. Persahabatan itu menurun pada anak-anaknya. Walaupun Vernon sempat pindah ke Amerika, mereka tidak pernah putus komunikasi hingga sekarang saat kembali ke Korea, Vernon masuk sekolah yang sama dengan Wonwoo.
"Apa kau tahu siapa saja yang akan mengikuti audisi? Yang kelas dua saja." tanya Wonwoo penasaran.
Vernon berpikir sejenak. "Yang kelas dua aku hanya tahu Mingyu sunbae."
Wonwoo membulatkan mulutnya karena kaget. "Mingyu? Kim Mingyu maksudmu?" tanya Wonwoo memastikan.
Vernon mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu ada berapa Mingyu di sekolah ini, hyung. Tapi Minghao berkata Mingyu sunbae yang ini satu kelas dengan Hoshi sunbae." Jelas Vernon.
"Hoshi kelas berapa?" tanya Wonwoo lagi.
"2F."
Wonwoo mengangguk-angguk mendengar jawaban Vernon. 2F adalah kelas Mingyu, jadi benar Mingyu akan mengikuti audisi. Wonwoo jadi penasaran apa Mingyu bisa dance, mengingat tinggi badannya yang terlalu super.
"Mereka nanti umumkan tanggalnya lewat apa? Di SMS satu-satu atau bagaimana? Kan kita tidak mengisi formulir. " tanya Wonwoo lagi.
"Bukan hyung, kata Minghao nanti akan dipasang di papan pengumuman kegiatan murid yang ada di lobi." Jawab Vernon.
"Tapi kita sudah melewati lobi.. Apa kita kembali ke lobi? Siapa tahu pengumumannya sudah dipasang." Usul Wonwoo.
Vernon mengangguk dan mereka berdua pun berjalan kembali ke lobi. Kemudian mereka meneliti papan pengumuman kegiatan murid yang ada di lobi, dan tidak menemukan apapun yang berhubungan dengan tanggal audisi showcase.
"Sedang cari apa?"
Wonwoo dan Vernon menoleh ke belakang, ke sumber suara. Dilihatnya Hoshi sedang berdiri di belakang mereka bersama seorang gadis yang bernama Eunha, teman sekelas Vernon.
"Ah, Hoshi hyung. Aku dan Wonwoo hyung hanya ingin mengecek apa sudah ada pengumuman tanggal audisi untuk showcase." Jelas Vernon.
Mingyu mengangkat sebuah kertas. "Maksudmu ini?" tanyanya. "Aku baru saja akan memasangnya." Katanya lagi.
Hoshi menoleh pada Eunha yang berdiri di sampingnya. "Eunha, tolong bukakan kacanya." Pintanya. Kemudian ia berpaling pada Wonwoo dan Vernon. "Dan kalian berdua tolong minggir, kalian menutupi lubang kuncinya."
Wonwoo dan Vernon buru-buru minggir, sementara Eunha yang menjabat sebagai sekretaris mading membuka kaca yang menutupi papan pengumuman.
Setelah menggeser kaca yang menutupi papan, Hoshi kemudian menempelkan kertas yang ia bawa. Mingyu dan Vernon buru-buru mendekat dan melihat tulisan yang tercantum di sana.
AUDISI ADDITIONAL DANCER ORION
Sabtu, 2 April 2016
Sepulang sekolah
Auditorium
"Itu berarti dua hari lagi?" tanya Vernon memastikan.
Hoshi memperhatikan Eunha yang sedang mengunci kaca kembali dan mengangguk. "Ya, dua hari lagi. Jangan lupa dan jangan terlambat. Beritahu juga teman-teman kalian yang mengikuti audisi."
Vernon dan Wonwoo mengangguk mengerti, kemudian keduanya mohon diri dan pergi ke kelas masing-masing, meninggalkan Hoshi dan Eunha yang berusaha mengunci kaca karena tiba-tiba gemboknya macet.
: Hi, Mingyu :
Wonwoo membuka pintu kamarnya dan menemukan Seungkwan yang asyik tiduran di ranjangnya sambil memainkan ponsel.
Wonwoo tidak mempedulikan keberadaan Seungkwan dan dengan cueknya berganti baju karena dia baru selesai mandi.
"Hyung, apa pendapatmu tentang Mingyu hyung?"
"Hm?" balas Wonwoo tidak peduli.
"Hyung!" rajuk Seungkwan kesal karena merasa pertanyaannya tidak ditanggapi.
"Kau bilang apa?" tanya Wonwoo malas-malasan sambil merebahkan tubuhnya di samping Seungkwan.
"Mingyu hyung."
"Ada apa dengan Mingyu?"
"Bagaimana menurutmu tentang Mingyu hyung?" tanya Seungkwan lagi.
"Biasa saja." Jawab Wonwoo tak acuh sambil memainkan ponselnya.
Seungkwan yang gemas karena diabaikan oleh Wonwoo bangkit duduk dan merebut ponsel Wonwoo.
"Aish, kenapa sih kau?" seru Wonwoo kesal.
"Aku ini bicara serius, jawab dengan serius juga!" balas Seungkwan.
"Memangnya kenapa kau tanya-tanya apa pendapatku soal Mingyu? Kau menyukainya ya?! Iya?!" todong Wonwoo pada Seungkwan.
Seungkwan mengerucutkan bibirnya kesal. "Ah hyung! Sejak kapan seleraku berubah jadi dekil hitam begitu?"
Wonwoo tertawa mendengar jawaban adiknya. "Ya ya ya, aku tahu yang kau sukai hanyalah bule Amerika itu."
Seungkwan membelalakkan matanya begitu mendengar perkataan Wonwoo. Ia mengambil bantal dan memukulkannya pada wajah Wonwoo.
"HYUNG!" serunya kesal.
Seungkwan memang tidak pernah mengatakan dia menyukai Vernon, tapi Wonwoo mengetahuinya. Lima belas tahun menjadi kakak Seungkwan membuatnya hafal Seungkwan luar-dalam. Sejak kecil, Seungkwan sangat suka dekat-dekat dengan Vernon. Saat Vernon pindah ke Amerika, Seungkwan yang paling sedih. Bahkan Seungkwan menangis diam-diam di kamarnya. Wonwoo tahu itu, karena dia sengaja mengintip kamar Seungkwan yang saat itu tidak dikunci. Saat Vernon kembali ke Korea pun, Seungkwan adalah orang yang paling senang. Bahkan Seungkwan berangkat untuk menyambut kedatangan Vernon di bandara jam delapan pagi padahal pesawat Vernon baru landing jam sebelas.
"Aku ini tanya tentang Mingyu bukan tentang Vernon!" lanjut Seungkwan berusaha mengelak.
Wonwoo bangkit dari tidurnya dan duduk berhadapan dengan Seungkwan. Wonwoo menarik nafas panjang sebelum berbicara.
"Pendapat tentang Mingyu? Aku baru saja berkenalan dengannya, bagaimana aku bisa berpendapat tentangnya?" kilah Wonwoo.
Seungkwan menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. "Umm.. Bukan itu hyung."
"Lalu apa?"
Seungkwan berpikir sebelum melanjutkan pembicaraannya. Ia tidak yakin untuk memberitahu Wonwoo bahwa Mingyu menyukai Wonwoo. Lagipula, Mingyu saja tidak tahu kalau ternyata Seungkwan sudah mengetahui bahwa ia menyukai Wonwoo. Biarpun Seungkwan kadang usil dan suka bertengkar dengan Mingyu, tapi ia masih punya perasaan juga. Ia membayangkan dirinya sendiri. Kalau Wonwoo hyung memberitahu Vernon bahwa Seungkwan menyukai Vernon, pasti nanti Seungkwan juga tak akan senang.
"Kasihan dekil hyung nanti.." gumam Seungkwan dalam hati.
Seungkwan buru-buru menggelengkan kepalanya dan beranjak meninggalkan ranjang Wonwoo.
"Tidak jadi hyung. Aku harus belajar, aku ke kamar dulu." Pamit Seungkwan buru-buru.
Wonwoo meraih ponselnya dan sejenak terdiam, tak jadi memainkan ponselnya.
"Apa sih yang dia tidak tahu tentang kau, hyung?"
Di benak Wonwoo teringat perkataan Seungkwan kemarin saat di Starbucks.
"Apa Seungkwan sudah tahu ya?" gumam Wonwoo. "Ah, lagipula buat apa juga aku memikirkan Kim Mingyu. Tidak penting." Dengusnya.
Wonwoo kembali mengaktifkan ponselnya, dan sejenak jarinya sibuk menari di atas layar touchsreen ponselnya. Menelpon seseorang melalui aplikasi Line. Seseorang yang sangat ia rindukan karena orang itu berada nun jauh disana, bahkan berpisah benua dengannya. Orang yang telah membuatnya tersiksa karena rasa rindunya yang begitu menggebu-gebu. Orang yang telah membuatnya merasakan kesepian yang amat sangat. Namun tetap saja, hati dan cinta Wonwoo hanya milik orang itu.
Choi Seungcheol
calling...
.
.
.
To Be Continued.
.
.
.
A/N : Hello guys! Thank you for the positive feedbacks 3
Oh ya chap 1 kemarin kan kita lihat dari sudut pandang Mingyu, kalau chap 2 ini kita lihat dari sudut pandang Wonwoo kan. Untuk chapter ketiga dan seterusnya, dalam satu chapter akan kubuat dari dua sudut pandang.
Untuk BLUEFIRE0805 iya itu Jiho OMG hehehe.
Kritik, saran, serta pujian (ngarep) sangat diharapkan untuk keberlangsungan fanfic ini. Karena jika memuaskan maka bakal fast update kkk (spoiler : sekarang aku udah ngetik chap 4 hehehe)
So, would you mind to review?
