Zitao menggigiti penanya gemas. Merasa geram sendiri karena bel pertanda kelas berakhir belum juga berbunyi.

Bahkan dirinya sama sekali tidak memperhatikan guru yang tengah menjelaskan materi di depan sana. Entah apa yang beliau jabarkan, Zitao sama sekali tidak mengerti.

Sekelebat bayangan ketika dirinya berbicara dengan Luhan-salah satu Senior yang dekat dengannya-membuatnya semakin jengkel.

Bukan ia kesal terhadap Luhan. Melainkan perkataan pemuda Xi itu kemarin membuatnya semakin tidak sabar menunggu kelas berakhir. Menemui lelaki tampan yang benar-benar memenuhi permintaannya setengah bulan lalu, kemudian-

"Hey, Zi?"

Tepukan halus di bahu serta suara husky Sehun, memaksanya untuk meninggalkan lamunan sejenaknya.

Zitao menoleh, memandang teman sebangkunya dengan ekspresi bingung yang lucu. "Ada apa, Shixun?" bertanya lembut dengan membubuhi nama Chinese dari pemuda tampan.

Sehun menggaruk tengkuknya. Di tatap seperti itu oleh Zitao membuatnya merasa canggung. Ia adalah seorang pria dominan. Lelaki pengendali mana yang tidak tergoda melihat ekspresi menggemaskan pemuda cantik di sampingnya ini.

"Bel sudah berbunyi. Kau tidak pulang?" Sehun bertanya. Sebisa mungkin menyembunyikan kecanggungan di balik wajah datarnya.

Zitao tercengang. Apa ia terlalu sibuk mengumpat dalam hati sehingga tidak menyadari bahwa bel sudah berbunyi.

Sial!

Jikalau tidak bergegas, dirinya bisa ketinggalan jejak Kris Wu.

Tanpa mengatakan terimakasih atau sekedar berpamitan, Zitao segera melesat keluar kelas. Beberapa alat tulis beserta tas miliknya pun ia abaikan begitu saja.

Oh Sehun. Lelaki tampan bermahkota pirang pudar mengukir senyum aneh pada wajahnya.

Tas Zitao tertinggal.

Itu artinya, dirinya berkesempatan untuk berkunjung ke kediaman Huang dengan alasan mengantar tas milik pemuda cantik itu 'kan?

-KT-

Zitao berlarian menuju tempat parkir. Tadinya ia sudah mencari pria tampan bermarga Wu itu di lantai 3, tempat khusus untuk siswa tingkat akhir. Tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan si tampan.

Alhasil, Zitao langsung berlari menuju area parkir.

Dan lihatlah, kini mata cantiknya menangkap figur lelaki tinggi bersurai pirang, bersiap memasuki mobil Ferrari LaFerrari berwarna merah.

"Kris Sunbae!" panggilnya setengah berteriak. Memaksa tungkainya untuk lebih cepat demi menggapai daun pintu mobil sport tersebut.

Merasa namanya di panggil, Kris refleks menoleh. Begitu melihat siapa yang memanggil, ia langsung terburu-buru memasuki mobil.

Raut wajahnya semakin tak bersahabat saat pemuda Huang masuk dengan cepat dan duduk dengan nyaman di kursi sebelah. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.

"Kali ini apa lagi, Huang?" tanyanya dingin. Sejujurnya, ada rasa rindu terbesit di hatinya saat Zitao tidak mengintilinya kemanapun bak anak ayam pada Ibunya, selama 2 minggu belakangan. "Aku sudah memenuhi keinginanmu. Apa lagi yang kau inginkan dariku? Nyawaku?" melanjutkan dengan tatapan tajam terarah pada manik indah si cantik.

Zitao bungkam. Rasanya sulit sekali untuk mengutarakan perasaannya sesuai apa yang di sarankan oleh Luhan.

Keterdiaman pemuda cantik sontak menuai tatapan heran dari Kris.

Kris kembali bersuara. "Apa maumu, Tao?" menatap Zitao dengan pandangan tak berminat. Bukan berarti rasa cintanya memudar, hanya saja, dirinya tidak ingin kembali di manfaatkan oleh pemuda dengan pesona kuat di sampingnya. "Apa masih ada yang kurang? Apa? Kau menginginkan perusahaan Ayahku, begitu?"

Perkataan itu bagai ujung pisau baginya. Menusuk telak tepat di jantung.

Sakit.

Padahal sebelumnya perkataan Kris yang tak kalah tajam, tidak pernah membuatnya tersinggung ataupun marah.

Tetapi, kenapa kali ini Zitao merasa sakit dan-

-sesak?

Zitao mengumpat dalam hati. Menyumpahi dirinya sendiri yang tak mampu berkata-kata.

Kemana dirinya yang tidak tahu malu.

Dimana sifat gamblangnya saat berbicara?

Zitao memutar kepalanya ke samping. Memberanikan diri untuk menatap iris tajam pria tampan. Menggigit bibir resah, lalu berkata lirih. "Aku-ingin pemilik harta yang kau berikan, Kris. Aku menginginkan pemiliknya."

Dengan nafas tertahan, Kris menoleh. Balas menatap sepasang mutiara hitam yang begitu di gilainya. "Apa-"

Zitao menyela dengan cepat. "Aku mencintaimu, Kris! Sungguh!"

Tertawa sumbang. Itulah yang Kris lakukan saat ini. Zitao mencintainya? Omong kosong apalagi itu?

"Jadi, kali ini kau menjuruskan aksimu dengan cara menarikku ke dalam pesonamu, Huang?" ujarnya meremehkan. Bukannya Kris tidak senang jika perasaannya terbalas. Pasalnya, pemuda cantik dengan pesona luar biasa ini terlalu haus akan kemewahan.

Kris hanya tidak ingin jatuh dalam lubang yang sama.

Kris terkejut. Zitao memeluknya secara tiba-tiba. Ia dapat merasakan degup jantung pemuda cantik yang memeluknya. Apakah-

-kali ini situasinya berbeda?

"Tidak perduli apapun yang kau katakan tentangku, aku benar mencintaimu, Kris. Aku akan terus mengikutimu untuk membuktikan perasaanku."

"Kalau begitu, buktikan."

"Pasti.."

-END-