HI MINGYU

.

Disclaimer : Belong to God and theirselves :D This story is mine. Not for commercial.

Author : Lee Rae Ra

Genre : General, Semi-Romance

Rate : T

Length : Chaptered

Cast : Kim Mingyu & Jeon Wonwoo

.

.

.

SUMMARY : Dua tahun Mingyu menjadi stalker Wonwoo, dan ia berhasil berkenalan dengannya. Bagaimana usaha Mingyu untuk melakukan pendekatan pada Wonwoo di saat Wonwoo sama sekali tidak memiliki perasaan padanya? Hi, Wonwoo's Sequel.

.

.

.

HI, MINGYU

.

Wonwoo kembali mengaktifkan ponselnya, dan sejenak jarinya sibuk menari di atas layar touchsreen ponselnya. Menelpon seseorang melalui aplikasi Line. Seseorang yang sangat ia rindukan karena orang itu berada nun jauh disana, bahkan berpisah benua dengannya.

Choi Seungcheol

calling...

HI, MINGYU

Sudah waktunya makan malam, tapi Mingyu masih tidur-tiduran di kamarnya. Kepalanya masih terasa pusing karena bola basket tadi. Sejak pulang sekolah tadi pun ia hanya tiduran saja di kamarnya. Bahkan Mingyu belum mandi. Mingyu heran kenapa pusing akibat ditimpuk bola basket saja tidak sembuh-sembuh.

Pintu kamar Mingyu terbuka dan sebuah kepala mungil melongok ke dalam kamar.

"Hyung, sudah baikan belum?" tanya Chan.

Mingyu menggelengkan kepalanya. "Belum, masih terasa pusing. Kenapa? Apakah Eomma sudah memanggilku?"

Chan mengangguk. "Kalau begitu Chan bilang ke Eomma ya! Hyung tidur saja di kamar."

Chan menutup pintu kamar Mingyu dan meninggalkan Mingyu sendirian. Baru saja ia akan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas sebelah ranjangnya, layar ponsel itu menyala dan kemudian ponselnya bergetar-getar, menandakan ada panggilan masuk.

Kening Mingyu berkerut begitu melihat nama Hoshi terpampang di display LCD ponselnya. Mingyu memencet tombol hijau lalu menempelkan ponsel itu di telinganya.

"Halo?"

"Hei Gyu kau sudah baikan?" tanya Hoshi.

"Lumayan. Masih pusing sedikit. Ngomong-ngomong, kenapa tadi kau tidak menolongku?!" kata Mingyu sebal.

Hoshi terkekeh di seberang sana. "Enak saja, aku ikut membawamu ke ruang kesehatan tadi. Tapi aku tidak sengaja tersandung timbangan saat membawa botol minyak kayu putih dan isinya tumpah."

Demi mendengar suara Hoshi yang terdengar memelas, sontak Mingyu langsung tertawa terbahak-bahak, disertai dengan gerutuan Hoshi di seberang sana.

"Akhirnya aku pergi ke kamar mandi. Sebenarnya aku kembali saat kau sedang berbicara dengan pujaan hatimu itu." Hoshi sengaja memberi penekanan pada kata pujaan hati untuk menggoda Mingyu.

Mata Mingyu membulat mendengar pernyataan Hoshi. "Lalu kenapa kau tidak masuk?! Kau tidak tahu betapa gugupnya aku karena hanya berdua saja dengan Wonwoo!"

Hoshi kembali terkekeh. "Aku sengaja tidak masuk, agar kau bisa berduaan dengannya. Ngomong-ngomong, sejak kapan kau suka dengannya?"

Baru saja Mingyu akan menjawab pertanyaan Hoshi, hubungan telepon terputus. Mingyu menatap layar teleponnya heran. Baru saja ia akan menelepon Hoshi, sebuah pesan Line masuk.

Hoshi Kwon

Pulsaku habis, sial. Kita lanjutkan besok saja di sekolah. Aku mau mendengarnya langsung bukan dari chat.

Jari-jari Mingyu langsung mengetikkan satu kata balasan untuk Hoshi.

Ok.

Mingyu mendengar pintu kamarnya diketuk, kemudian terbuka dan Ibunya masuk membawa nampan makanan, diikuti oleh Chan yang membawa meja gambarnya.

"Kau makan di kamar saja kalau masih pusing." Kata Nyonya Kim.

Chan meletakkan meja gambarnya di atas ranjang Mingyu, lalu Nyonya Kim meletakkan mangkuk nasi dan beberapa mangkuk lauk serta segelas air.

"Chan pinjamkan meja gambar Chan biar hyung bisa makan!" seru Chan riang.

Mingyu tersenyum pada adik serta Ibunya. "Terimakasih ya Chan, Eomma."

"Kau makanlah, lalu tidur. Biar besok sudah segar. Kalau besok masih pusing, tidak usah masuk sekolah saja." Kata Nyonya Kim. "Ayo Chan, kita keluar. Nanti Eomma ambil nampannya, kau tidak usah ke bawah." Lanjutnya.

Mingyu mengangguk. "Terimakasih lagi, Eomma."

Mingyu mulai menyantap makan malamnya begitu Ibu dan adiknya keluar dari kamar. Ia tersenyum mengingat kejadian tadi siang dimana ia bisa selangkah lebih dekat dengan Wonwoo.

Mingyu kemudian membayangkan Wonwoo yang mengurusnya tadi di ruang kesehatan. Sejujurnya Mingyu sangat terkejut, begitu ia membuka mata yang dilihatnya adalah Wonwoo sedang mengambil air putih.

Apalagi saat Wonwoo membantunya minum. Mingyu bersumpah apabila jantungnya bisa berlari, saking cepatnya jantungnya berdebar, jantungnya sudah akan memenangkan marathon. Dan entah kenapa air putih tadi terasa manis, mungkin karena ada Wonwoo di dekatnya.

Entah kenapa, saat Mingyu berada di dekat Wonwoo, Mingyu merasa tenang. Ia merasa utuh. Mingyu teringat satu quote yang tidak tahu siapa yang membuatnya, namun bunyinya adalah 'Kita mencintai orang yang tepat jika berada di dekatnya membuat kita merasa utuh'. Mingyu benar-benar menyadari kebenaran quote itu.

"Mungkin saja kepalaku terus terasa sakit karena Wonwoo yang melempar bola itu.. Mungkin ini suatu pertanda agar aku bisa terus memikirkan Wonwoo.." Mingyu memeluk gulingnya dan berkhayal sendiri.

: Hi, Mingyu :

Wonwoo mengernyitkan keningnya begitu mengetahui bahwa teleponnya di-reject oleh Seungcheol. Ia menarik nafas panjang, lalu sekali lagi ia menekan tombol call dan menunggu.

"Ada apa?"

Senyum lebar terukir di wajah Wonwoo begitu ia mendengar suara Seungcheol, walaupun perkataan Seungcheol bernada sinis tapi Wonwoo tak mempedulikannya.

"Halo hyung! Sedang apa? Kenapa tadi dimatikan teleponku?" tanya Wonwoo bertubi-tubi.

"Kenapa kau meneleponku? Kau tidak tahu ini jam berapa?"

Wonwoo melirik jam dinding. "Jam delapan malam."

"Jam delapan di Korea!"

Wonwoo terdiam. Ia baru teringat bahwa Inggris memiliki perbedaan waktu sembilan jam dengan Korea Selatan. Korea Selatan lebih cepat. Bila sekarang jam delapan malam, jadi di Inggris masih jam sebelas pagi. Dan artinya Seungcheol mungkin masih ada kelas, maka dari itu telepon pertama Wonwoo ditolak.

"Maaf, hyung."

Wonwoo tidak mendengar balasan apapun lagi karena Seungcheol telah mematikan teleponnya. Wonwoo menghela nafas panjang, kemudian ia melemparkan ponselnya yang untung saja masih jatuh di atas ranjang. Bila tidak, mungkin Wonwoo harus mengucapkan selamat tinggal pada ponselnya.

Namanya Choi Seungcheol.

Mereka pernah berpacaran selama setahun, saat Wonwoo duduk di kelas tiga SMP. Wonwoo duluan yang menyukai Seungcheol. Saat itu, Seungcheol duduk di kelas tiga SMA. Wonwoo pertama melihat Seungcheol saat Seungcheol sedang menunggu bus. Dan memang dasar Wonwoo tidak tahu malu, besoknya Wonwoo langsung pura-pura menunggu bus di halte tempat ia melihat Seungcheol. Padahal aslinya ia meminta supirnya untuk menurunkannya disana agar ia bisa bertemu Seungcheol. Dan sekali lagi dasar Wonwoo tidak tahu malu. Ia duluan yang menyapa Seungcheol dan setelah itu mereka pun dekat.

Maka dari itu Wonwoo tidak bisa memahami Mingyu yang menyukainya dua tahun hanya dari memperhatikannya saja. Kenapa tidak seperti dia sendiri yang langsung mengajak kenalan? Sekali lagi, Wonwoo sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Mingyu. Apa susahnya untuk megajak kenalan?

Wonwoo dan Seungcheol hanya pacaran setahun, karena selepas SMA, Seungcheol memutuskan untuk kuliah di Inggris. Alasan Seungcheol simpel. Ia ingin dekat dengan Old Traffold, markas klub sepakbola favoritnya agar ia bisa menonton pertandingan Manchester United secara langsung. Selain itu Seungcheol juga ingin mendalami Bahasa Inggris. Karena alasan konyol Manchester United itulah, Wonwoo marah dan tidak memperbolehkan Seungcheol pindah. Tapi apa daya, keputusan Seungcheol sudah bulat. Lagipula orangtua Seungcheol juga setuju, hanya Wonwoo saja yang masih bersikeras menolak kepindahan Seungcheol. Dan bodohnya Wonwoo, ia lebih memilih putus daripada menjalani Long Distance Relationship. Padahal Wonwoo masih mencintai Seungcheol. Dan sampai sekarang, Wonwoo tidak bisa move on.

Semenjak kepergian Seungcheol, tak pernah sedikitpun terbesit di pikiran Wonwoo untuk membuka hati lagi. Wonwoo masih setia menunggu Seungcheol. Meskipun ia tidak tahu apakah Seungcheol sudah memiliki kekasih baru atau belum. Selama ini, Wonwoo menolak semua orang yang berusaha mendekatinya. Begitu juga yang akan ia lakukan pada Mingyu jika Mingyu berusaha mendekatinya. Wonwoo akan langsung menolaknya. Kunci hati Wonwoo masih dipegang oleh Seungcheol, karena tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan posisi Seungcheol di hatinya. Tidak seorangpun.

Meskipun Wonwoo sadar, sekarang ia bukan siapa-siapa bagi Seungcheol. Wonwoo hanya bisa berpura-pura tidak mendengar nada suara sinis dari Seungcheol tiap kali Wonwoo meneleponnya. Wonwoo hanya bisa menahan tangisnya setelah ia menelepon Seungcheol karena nyatanya bukan percakapan hangat yang ia dapatkan melainkan nada sinis serta Seungcheol yang selalu ingin cepat-cepat mengakhiri teleponnya.

Karena pada nyatanya meskipun Seungcheol selalu menyakiti hatinya saat berada di telepon, Wonwoo tak pernah bisa berhenti menelepon Seungcheol karena mendengar suara Seungcheol membuatnya senang.

Bodoh?

Ya.

Cinta memang bodoh.

Wonwoo juga bodoh.

: HI, MINGYU :

"Jadi, bagaimana?" Hoshi menyilangkan kedua tangannya di bawah dada, menuntut penjelasan dari Mingyu.

Saat ini Mingyu dan Hoshi berada di sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari sekolah. Mingyu tidak ingin bercerita tentang Wonwoo di sekolah karena takut bila ada yang dengar. Karena itu, Mingyu mengajak Hoshi ke kafe dan untungnya Hoshi tidak minta ditraktir.

Mingyu menyeruput orange squash di depannya, lalu menghela nafas panjang.

"Aku menyukainya sejak pertama masuk sekolah, dua tahun lalu."

"HAH?!" Hoshi menggebrak meja di depannya, membuat beberapa pengunjung menoleh ke arahnya. Hoshi tak mempedulikan tatapan pengunjung kafe dan malah menuding Mingyu dengan jari telunjuknya. "Dua tahun?!" serunya kaget.

Mingyu mengangguk mengiyakan.

"Kau menyukainya dua tahun dan kau tidak memberitahuku? Kau anggap aku ini apa hah?! Kita berteman sejak TK tapi kau bahkan tidak memberitahuku siapa yang kau sukai!" Hoshi marah-marah.

"Maaf, Hosh. Aku hanya tidak ingin ada yang tahu. Aku ingin menyimpan perasaanku untuk diriku sendiri. Aku saja terpaksa harus memberitahu Jiho hanya karena Jiho bersahabat dengan adik Wonwoo." Jelas Mingyu.

Hoshi menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Apa enaknya menyukai orang seperti itu?"

Mingyu tersenyum tipis. "Aku benar-benar menyukainya. Karena itulah aku selalu membuntutinya. Aku hafal jadwal lesnya. Aku hafal jadwalnya menonton bioskop. Aku bahkan selalu duduk di belakangnya kalau ia menonton bioskop. Dan berkat Jiho, aku tahu apa makanan kesukaannya, apa alerginya.. Aku tahu dimana tempat makan favoritnya.. Aku bahkan tahu dimana ia suka membeli jajanan kaki lima."

"Kau benar-benar gila." Komentar Hoshi.

"Aku tidak pernah berani untuk berkenalan dengannya, Hosh. Aku terlalu malu. Selama ini aku menikmati bagaimana mencintai Wonwoo diam-diam. Aku menyukai mengamatinya dari jauh. Dan aku tidak tahu darimana aku dapat keberanian sampai aku berani untuk mendekati Wonwoo hanya untuk berkenalan. Yah, walaupun agak dirusak oleh Seungkwan adiknya Wonwoo, tapi setidaknya aku berhasil berkenalan dengannya. Setelah dua tahun, akhirnya." Jelas Mingyu, matanya menerawang.

Hoshi menatap Mingyu yang terdiam setelah mengungkapkan isi hatinya. Hoshi bisa melihat ada sesuatu di mata Mingyu. Binar-binar kebahagiaan yang selalu ada saat Mingyu menceritakan tentang Wonwoo, namun Hoshi juga melihat ada luka di mata Mingyu, entah apa, entah kenapa.

"Apa dia punya pacar?"

Mingyu menggeleng, membuat Hoshi menggebrak meja dengan semangat.

"Wah, kalau begitu ini kesempatanmu!"

Mingyu kembali menggeleng. "Bukan itu maksudnya. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu dia sudah punya pacar atau belum."

Hoshi kecewa. "Apa selama kau mengamatinya, kau tidak melihat sesuatu yang aneh?"

"Seungkwan berkata dulu Wonwoo punya mantan pacar namanya Seungcheol. Tapi semenjak putus dari Seungcheol, Seungkwan tidak tahu apakah Wonwoo punya pacar lagi. Selama aku mengamatinya, lumayan banyak yang berusaha mendekatinya tapi biasanya hanya dalam waktu seminggu mereka akan menghilang. Aku hanya bicara soal murid sekolah kita saja ya. Karena aku pernah melihat beberapa anak mendekati Wonwoo. Dekat-dekat dengannya saat di kantin, atau sekadar menyoraki Wonwoo saat ia main basket. Tapi tidak pernah bertahan lama. Kalau yang di luar sekolah kita, entah. Aku tidak tahu. Yang jelas, dari hasil pengamatanku selama ini sepertinya Wonwoo tidak punya pacar." Jelas Mingyu panjang lebar.

"Kau.. benar-benar menyukainya?" tanya Hoshi pelan.

Mingyu tersenyum tipis. "Buat apa aku melakukan hal-hal bodoh itu kalau aku tidak menyukainya?"

"Kalau begitu, mari kita berusaha!" kata Hoshi bersemangat.

"Eh – kita?"

Hoshi mengangguk. "Kau banyak membantuku saat aku berusaha mendapatkan hati Jihoon. Dan sekarang saatnya Super Hoshi untuk membantumu!"

Mingyu tersenyum lebar melihat keantusiasan Hoshi. "Kau memang sahabat terbaikku!"

: Hi, Mingyu :

Siang itu sepulang sekolah, Wonwoo menunggu Vernon di depan kelasnya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi lima belas menit yang lalu namun guru yang mengajar kelas Vernon tak kunjung keluar.

Wonwoo bersandar di dinding dan mengeluarkan ponselnya. Baru saja ia mengaktifkan ponselnya, pintu kelas Vernon terbuka dan Mr. Eric keluar. Mr. Eric adalah guru bahasa Inggris yang sangat menyukai salah satu member Shinhwa yaitu Eric, sehingga ia mengubah nama panggilannya menjadi Eric. Wonwoo langsung paham mengapa kelas Vernon lama kalau begitu.

Wonwoo memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya, menunggu Vernon keluar. Kemudian ia melihat Minghao, teman sekelas Vernon yang berlari keluar dari kelas. Wajar saja, dia kan anggota Orion dan dia harus mengurus proses audisi untuk showcase Orion.

Tak lama kemudian Vernon keluar dengan wajah kusut. Wonwoo hanya tertawa karena ia mengerti kekesalan Vernon. Mr. Eric memang suka berlama-lama mengajar. Sebenarnya bukan mengajar, karena 50% waktu mengajarnya ia gunakan untuk bercerita. Cerita apa saja sampai mulutnya berbusa. Kelas yang mendapat pelajaran Mr. Eric di jam sebelum jam istirahat atau jam terakhir pasti menderita karena mereka tidak akan bisa segera keluar.

"Aku bahkan tidak mengerti sampah apa yang dia ceritakan! Pronounciationnya juga tidak terlalu bagus. Kenapa dia bisa jadi guru Bahasa Inggris dan universitas mana yang meluluskannya menjadi sarjana?!" gerutu Vernon kesal.

Wonwoo hanya tertawa kecil sambil merangkul Vernon dan mereka berdua berjalan melintasi lorong sekolah untuk menuju ke auditorium.

"Apa sudah mulai ya hyung? Kok sepi?" tanya Vernon begitu melihat auditorium yang sepi.

Minghao yang duduk di meja depan auditorium melambai pada Vernon.

"Vernon kesini daftar ulang dulu!" seru Minghao.

Vernon menarik kemeja Wonwoo agar Wonwoo mengikutinya ke arah Minghao. Vernon dan Wonwoo membungkuk melihat daftar presensi, menulis nama mereka kemudian menandatanginya.

"Yang mendaftar banyak sekali." Komentar Wonwoo melihat daftar presensi itu sudah mencapai dua puluh empat nama termasuk ia dan Vernon.

Minghao tersenyum. "Iya sunbae. Ini baru yang sudah datang, belum nanti kalau ada yang datang lagi. Berjuang ya sunbae, Vernon!" Minghao mengepalkan kedua tangannya memberi semangat.

Wonwoo dan Vernon berterimakasih pada Minghao, lalu keduanya memasuki auditorium. Ternyata proses audisi sudah dimulai. Wonwoo mengajak Vernon untuk duduk di barisan kedua dari depan agar bisa melihat lebih jelas.

"Sudah sampai urutan keberapa?" tanya Wonwoo pada seorang anak kelas dua bertubuh mungil yang duduk di sampingnya, Jihoon.

"Ini baru yang keempat." Jawab Jihoon.

"Ah, masih lama." Kata Wonwoo.

"Kau baru saja datang ya? Nomor berapa?" tanya Jihoon.

"Dua puluh tiga." Jawab Wonwoo.

Jihoon mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku nomor tujuh, sebentar lagi." Kata Jihoon memberitahu.

Suara musik berhenti. Wonwoo menoleh ke arah panggung dan melihat nomor empat membungkukkan badannya berterimakasih. Wonwoo ikut bertepuk tangan bersama yang lain.

"Yak terimakasih Park Sungjun. Selanjutnya nomor lima, Kim Mingyu."

: Hi, Mingyu :

"Ah, dia bagus sekali." Seru Mingyu yang sudah bersiap di samping panggung sambil bertepuk tangan ketika nomor empat selesai menari.

Jun, anak kelas dua dan member Orion yang berdiri di sebelah Mingyu menepuk bahu Mingyu, memberi semangat.

"Ayo Gyu, kau pasti bisa!"

"Yak terimakasih Park Sungjun. Selanjutnya nomor lima, Kim Mingyu."

Mingyu menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia naik ke atas panggung. Mingyu berjalan dengan gugup karena ada lumayan banyak orang yang menonton. Mingyu berhenti di tengah panggung dan membungkuk.

"Siap?" tanya Hoshi.

Mingyu mengacungkan kedua jempolnya. Hoshi memberi kode pada operator agar memainkan musik. Memang sistem audisi ini adalah freestyle sehingga kemampuan masing-masing orang bisa dilihat.

Suara musik mulai terdengar. Mingyu terdiam sejenak begitu mendengar suara musik yang seperti kode kereta api akan datang.

"Ini lagu apa?" pikir Mingyu karena sepertinya ia mengenal lagu ini.

Mingyu masih terdiam ketika musiknya berlanjut menjadi suara piano. Ia masih memikirkan gerakan apa yang cocok ketika tiba-tiba..

Tumyeonghan yuriguseul cheoreom boijiman

Geureoke swipge kaejijin anheul geoya

Mingyu membelalakkan matanya ketika ia menyadari lagu apa yang sedang dimainkan. Ia mendelik pada anak kelas satu yang bertindak sebagai operator karena memainkan lagu girlgroup.

Suara tawa terdengar di auditorium. Satu, karena lagu yang diputar. Dan dua, karena Mingyu hanya mematung di atas panggung.

Mingyu tak berpikir panjang. Ia harus profesional. Terserah mereka mau memainkan apa, Kim Mingyu will nail it!

Karena kebetulan Mingyu hafal dengan gerakan dance lagu Glass Bead, Mingyu pun melupakan soal freestyle. Ia langsung saja menggerakkan tubuhnya menggunakan koreografi asli Glass Bead mengikuti alunan lagu tersebut.

Suara tawa semakin menjadi-jadi. Bahkan sampai ada yang memegangi perutnya karena tertawa sampai perutnya sakit. Bahkan Hoshi yang duduk di bangku juri sampai tertawa terbahak-bahak. Tapi Mingyu tak peduli. Dengan percaya diri ia terus menarikan koreografi Glass Bead yang terbilang sulit itu. Mingyu pun melakukan high-kick dengan sempurna, membuat gelak tawa kembali memenuhi auditorium.

Lagu pun berakhir, begitu pula Mingyu mengakhiri tariannya dengan pose ending Glass Bead. Tepuk tangan bercampur dengan tawa menggema di auditorium. Mingyu menggaruk kepalanya karena malu, kemudian cepat-cepat membungkuk.

"BWAHAHAHAHAHAHA!"

Seluruh auditorium yang kaget menoleh ke asal suara tawa menggelegar itu. Ternyata pelakunya adalah Hoshi yang sengaja menggunakan mikrofon.

"Kim Mingyu kau lucu sekali!" seru Hoshi, kemudian bertepuk tangan lagi.

Mingyu hanya tersenyum kaku sambil memelototkan matanya pada si operator musik. Mingyu menatap sekeliling auditorium, melihat siapa saja yang hadir karena tadi ia tidak sempat memperhatikan siapa saja penontonnya.

Manik mata Mingyu terkunci pada seorang pemuda berambut hitam yang duduk di barisan kedua. Pemuda yang sedang tertawa bersama orang di sebelahnya.

Jeon Wonwoo.

Mingyu bisa merasakan mukanya berubah menjadi merah padam. Bagaimana ia bisa lupa kalau Wonwoo juga mengikuti audisi? Dan tadi di atas panggug ia benar-benar parah. Ia menarikan lagu girlgroup! Hancur sudah harga dirinya di depan Wonwoo.

"Baik, kau boleh turun. Selanjutnya nomor enam, Han Sanghyuk." Kata Hoshi.

Mingyu buru-buru turun dari panggung karena ia merasa sangat malu. Di atas panggung tadi ia sangat percaya diri tapi sesudah ia selesai menari ia merasa itu adalah hal yang sangat memalukan.

Jun yang berdiri di sebelah panggung langsung tertawa begitu melihat Mingyu turun dari panggung, tapi ia mengacungkan kedua jempolnya.

"Hahahaha kau ini benar-benar hiburan!" seru Jun.

Mingyu mendelik. "Nomor satu sampai empat semuanya dapat lagu yang normal, kenapa aku dapat lagu girlgroup hah?!"

"Itu ulah Hoshi. Hoshi sendiri yang mengatur daftar lagunya dan ia sengaja menyelipkan beberapa lagu girlgroup untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh para peserta. Tapi kau ini benar-benar.. Kenapa kau malah menarikan koreografi aslinya?"

Mingyu mengerucutkan bibirnya kesal. "Itu karena aku hafal koreografinya! Aku lupa sama sekali soal freestyle jadi aku langsung saja menari sesuai apa yang kutahu!"

"Sudah sudah jangan marah terus. Sana duduk kalau ingin melihat penampilan yang lain. Atau kau mau pulang karena malu?" goda Jun.

Mingyu mengambil tas ranselnya. "Jelas aku akan menonton!"

Mingyu berjalan mendekati bangku penonton dan duduk di barisan ketiga deretan bangku kanan. Ia tidak berani dekat-dekat dengan Wonwoo karena ia merasa malu. Sebenarnya ia juga ingin langsung pulang tapi mengingat Wonwoo juga akan audisi maka ia memutuskan untuk tinggal dan menonton.

Mingyu benar-benar mengantuk saat menonton audisi tersebut. Kadang ia tertawa saat ada yang mendapatkan lagu girlgroup, tapi selebihnya ia bosan dan mengantuk.

"Nomor dua puluh tiga, Jeon Wonwoo."

Suara Hoshi yang menyebutkan nama Wonwoo langsung membuat Mingyu duduk lebih tegak. Ia melihat Wonwoo berjalan memasuki panggung dengan tenang. Wonwoo memberi kode pada Hoshi bahwa ia siap, dan musik mulai mengalun.

Mingyu setengah berharap Wonwoo akan mendapatkan lagu girlgroup agar Mingyu bisa melihat betapa cute-nya Wonwoo menarikan lagu girlgroup. Tapi harapan Mingyu pupus ketika ia mendengar intro lagu Hands In The Air milik Timbaland ft Ne-Yo.

Mingyu yang tak menyangka Wonwoo bisa menari terkejut begitu Wonwoo mulai menggerakkan tubuhnya. Mingyu melongo, kagum dengan kemampuan dance Wonwoo. Wonwoo bahkan melakukan beberapa gerakan b-boy yang membuat Mingyu bertepuk tangan keras-keras. Untung saja tidak ada yang memperhatikannya karena kebanyakan orang fokus pada Wonwoo.

Mingyu kembali bertepuk tangan saat musik berhenti, menandakan Wonwoo sudah selesai unjuk kemampuannya. Mingyu menggeleng-gelengkan kepalanya tak percya melihat bertapa kerennya Wonwoo saat menari. Tapi sesaat kemudian ia teringat dirinya saat menari lagu Glass Bead dan membandingkannya dengan dance keren Wonwoo.

Mingyu merutuki nasib sialnya dan bersumpah akan memarahi Hoshi habis-habisan. Mingyu mengawasi Wonwoo yang turun dari panggung dan berjalan ke tempat duduknya semula.

Sebenarnya Mingyu berencana untuk pulang setelah Wonwoo selesai karena ia berpikiran bahwa Wonwoo juga akan langsung pulang. Tapi ternyata Wonwoo malah duduk manis, melanjutkan menonton audisi. Mingyu pun menunda kepulangannya dan memutuskan untuk menunggu audisi selesai, sekalian menunggu Hoshi agar ia bisa memarahi pemuda sipit itu.

: HI, MINGYU :

Wonwoo membungkukkan badan dan turun dari panggung begitu dipersilahkan oleh Hoshi. Sudut matanya menatap Mingyu yang sedang bertepuk tangan untuknya. Ia tersenyum kecil dan berjalan kembali ke tempat duduknya.

Wonwoo mengambil ponselnya yang ia letakkan di dalam ransel, setengah berharap ada chat atau telepon dari Seungcheol. Tapi harapan tinggal harapan, ponselnya sepi. Wonwoo membuka profil Line Seungcheol dan melihat lima belas menit yang lalu Seungcheol menulis status baru.

Choi Seungcheol

Going back to Korea next week.

Wonwoo membelalakkan matanya begitu membaca status terbaru Seungcheol. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah lihat. Semenjak pergi ke Inggris, Seungcheol tidak pernah pulang sekalipun dan sekarang untuk pertama kalinya Seungcheol akan kembali ke Korea.

Wonwoo menatap ke panggung dan melihat Vernon masih menari. Ia akan menunggu sampai Vernon selesai baru keluar untuk menelepon Seungcheol. Ia sangat bahagia dan ia ingin memastikan tanggal dan jam kedatangan Seungcheol minggu depan, karena itu ia ingin meneleponnya.

Akhirnya Vernon pun selesai. Wonwoo memberi kode pada Vernon bahwa ia akan keluar sebentar. Wonwoo buru-buru keluar dari auditorium. Wonwoo bersandar di pintu masuk auditorium dan menelepon Seungcheol.

"Kenapa?" suara ketus Seungcheol langsung menyapa indera pendengaran Wonwoo.

"Hyung! Tadi hyung menulis status di Line kalau hyung mau pulang. Benarkah?" tanya Wonwoo ceria.

"Iya benar."

"Kapan hyung? Pesawat apa? Sampai di Incheon jam berapa?" tanya Wonwoo bertubi-tubi.

"Hari Rabu depan. British Airways, sekitar jam sembilan pagi waktu Korea." Jawab Seungcheol dengan nada datar.

"Hyung ada yang jemput? Kalau tidak ada aku saja yang jemput ya?" tawar Wonwoo.

"Tidak usah. Orangtuaku yang akan menjemputku."

"Tapi aku juga akan datang ke bandara hyung!"

"Tidak usah. Kau tidak usah datang. Hari Rabu kau sekolah."

"Tak apa, aku akan membolos satu hari saja."

"Kubilang tidak usah. Tapi kalau itu keinginanmu, terserah saja."

"Baik hyung, sampai bertemu minggu depan!" seru Wonwoo ceria.

Belum sempat Wonwoo mendengar balasan dari Seungcheol, sambungan telepon sudah diputus. Wonwoo yang sudah terbiasa akan hal ini pun tak ambil pusing karena ia terlalu bahagia. Akhirnya setelah dua tahun ia akan bertemu Seungcheol lagi.

Wonwoo mendekap ponselnya di depan dada karena bahagia. Tanpa ia sadari, sedari tadi ada seseorang yang menguping pembicaraannya di balik pintu auditorium.

Kim Mingyu.

.

.

.

To Be Continued.

.

.

.

A/N : Hayoo semuanya pada ngira Wonwoo itu pacaran sama Seungcheol ya? Ahahaha padahal Wonwoo aslinya cinta tak terbalas, sama kayak Mingyu. Berasa jadi cinta segitiga ya/?

So, would you mind to read and review?

Karena sesungguhnya apresiasi pembaca adalah cambuk bagi setiap pengarang.

raeraelf