HI MINGYU
.
Disclaimer : Belong to God and theirselves :D This story is mine. Not for commercial.
Author : Lee Rae Ra
Genre : General, Semi-Romance
Rate : T
Length : Chaptered
Cast : Kim Mingyu & Jeon Wonwoo
.
.
.
SUMMARY : Dua tahun Mingyu menjadi stalker Wonwoo, dan ia berhasil berkenalan dengannya. Bagaimana usaha Mingyu untuk melakukan pendekatan pada Wonwoo di saat Wonwoo sama sekali tidak memiliki perasaan padanya? Hi, Wonwoo's Sequel.
.
.
.
HI, MINGYU
.
Belum sempat Wonwoo mendengar balasan dari Seungcheol, sambungan telepon sudah diputus. Wonwoo yang sudah terbiasa akan hal ini pun tak ambil pusing karena ia terlalu bahagia. Akhirnya setelah dua tahun ia akan bertemu Seungcheol lagi.
Wonwoo mendekap ponselnya di depan dada karena bahagia. Tanpa ia sadari, sedari tadi ada seseorang yang menguping pembicaraannya di balik pintu auditorium.
Kim Mingyu.
HI, MINGYU
Mingyu melihat Wonwoo keluar dari auditorium, tapi tidak membawa tasnya dan hanya membawa ponsel saja. Karena penasaran, Mingyu mengikuti Wonwoo. Saat Mingyu membuka pintu auditorium, ternyata Wonwoo bersandar di pintu sebelah kanan sambil memegang ponselnya. Mingyu pun memutuskan untuk membuka pintu sedikit dan tetap berada di dalam auditorium.
"Hyung! Tadi hyung menulis status di Line kalau hyung mau pulang. Benarkah?"
"Kapan hyung? Pesawat apa? Sampai di Incheon jam berapa?"
"Hyung ada yang jemput? Kalau tidak ada aku saja yang jemput ya?"
"Tapi aku juga akan datang ke bandara hyung!"
"Tak apa, aku akan membolos satu hari saja."
"Baik hyung, sampai bertemu minggu depan!"
Mingyu mendengar setiap kata yang Wonwoo ucapkan di telepon. Hatinya perih mendengar nada suara Wonwoo yang ceria. Sepertinya Wonwoo sedang menanti kedatangan seseorang. Dan orang itulah pasti orang yang istimewa bagi Wonwoo karena Wonwoo terdengar begitu bahagia. Apakah itu orang yang disukai Wonwoo? Atau lebih parah lagi, apakah itu adalah kekasih Wonwoo?
Begitu Mingyu tidak mendengar suara Wonwoo lagi, buru-buru Mingyu menutup pintu auditorium yang tadi dibukanya sedikit dan berjalan cepat ke tempat duduknya. Ia sedikit menengok ke belakang dan lega ketika ia tidak melihat Wonwoo. Sepertinya Wonwoo masih berada di depan auditorium. Mingyu menoleh lagi ke depan dan melihat Hoshi berdiri di atas panggung. Ternyata audisi sudah selesai.
"Terimakasih atas kedatangan kalian, dan terimakasih atas usaha dan kerja keras kalian. Kami akan mengumumkan siapa saja yang lolos besok lusa, di papan pengumuman murid yang ada di lobi. Terimakasih." Kata Hoshi.
Mingyu tersenyum lemah dan mengambil tas ranselnya, bersiap untuk pulang. Hoshi yang melihat Mingyu berbalik langsung mengambil tasnya sendiri dan mendekati Mingyu.
"Gyu! Kau tadi hebat sekali! Tak kusangka kau hafal tarian GFRIEND!" seru Hoshi.
Mingyu diam saja. Niatnya untuk memarahi Hoshi sudah menguap. Pikirannya sudah dipenuhi oleh hal lain.
"Gyu? Kau kenapa?" tanya Hoshi begitu melihat raut wajah Mingyu yang kusut.
Mingyu menggeleng lemah, membuat Hoshi menyadari pasti ada sesuatu yang salah.
"Apa ini tentang Wonwoo?" tanya Hoshi hati-hati.
"Jangan sebut namanya disini." Kata Mingyu.
Hoshi menepuk keningnya dan tersadar bahwa mereka berdua masih ada di dalam auditorium. Hoshi melihat ke sekeliling, mengecek apakah ada orang yang berada di jarak dengar mereka. Hoshi mendesah lega begitu mengetahui tidak ada yang sedang berada dekat dengan mereka. Demi melihat raut wajah Mingyu, Hoshi pun menutup mulutnya dan terus berjalan di sisi Mingyu.
"Kau boleh cerita padaku jika kau mau." Kata Hoshi pelan saat mereka berdua melewati gerbang sekolah dan berjalan menuju halte bus. "Tapi kalau kau belum mau cerita sekarang, tak apa. Kau selalu bisa cerita padaku lain waktu."
"Dia menyukai orang lain." Kata Mingyu pendek. "Atau bisa saja dia sudah punya kekasih." Lanjutnya getir.
"Siapa?"
Mingyu duduk di halte yang sepi dan menghela nafas panjang. "Aku tidak tahu. Yang jelas tadi aku mendengar Wonwoo menelepon seseorang, dan sepertinya orang itu tidak berada di Seoul karena Wonwoo akan menjemputnya di bandara."
"Kau yakin yang ditelepon Wonwoo itu adalah orang yang disukainya?" tanya Hoshi lagi.
Mingyu tersenyum tipis. "Wonwoo terdengar bahagia, Hosh. Selama aku menyukainya, tak pernah aku lihat dia sebahagia itu. Padahal aku hanya mendengar suaranya, tidak melihat raut wajahnya. Dia bahkan begitu bersemangat untuk menjemput orang itu di bandara sampai dia berkata akan bolos hanya untuk menjemputnya. Wonwoo tidak pernah bolos, sekalipun tidak pernah. Saat dia sakit saja dia memaksakan diri untuk masuk. Dan sekarang, dia rela membolos hanya untuk menjemput seseorang.. Orang itu pasti sangat berarti baginya.. Mungkin orang yang disukanya, atau kekasihnya." kata Mingyu hampa.
Hoshi terdiam sejenak. "Tapi itu belum pasti, Gyu. Coba kau tanyakan pada adik Wonwoo, kira-kira siapa orang dekat Wonwoo yang akan pulang ke Seoul." Usul Hoshi.
Mingyu mengangguk pelan dan berdiri karena busnya sudah datang. Ia dan Hoshi masuk ke dalam bus, lalu duduk di deretan bangku paling belakang.
"Akan kucoba tanyakan pada Seungkwan nanti." Kata Mingyu begitu mereka berdua duduk.
"Jangan patah semangat, Gyu."
"Terimakasih Hosh. Aku benar-benar berharap itu bukan kekasih Wonwoo." Kata Mingyu pelan.
Mingyu tak mendengar balasan Hoshi setelah itu. Lebih tepatnya, tak memperhatikannya. Mingyu memandang ke luar jendela. Ia mengigit bibirnya, berusaha menahan jatuhnya air mata. Namun pertahanannya runtuh juga. Matany yang memanas mulai mengeluarkan air mata. Mingyu memejamkan matanya, merasakan bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya.
Sakit.
Mingyu bisa merasakan hatinya sakit. Dadanya sesak. Ia sudah memperkirakan bahwa mungkin Wonwoo menjalani Long Distance Relationship. Tapi kenapa saat mengetahui kenyataannya, rasanya sesakit ini? Dua tahun menaruh hati pada Wonwoo, baru sekali ini Mingyu merasakan sakit. Kenapa rasanya jadi sesakit ini?
: Hi, Mingyu :
Wonwoo mencoret tanggal 2 di kalendernya. Ia menandai tanggal 6 menggunakan bentuk hati di kalendernya dengan spidol merah. Ia akan menghitung sampai tiba harinya Seungcheol akan kembali ke Korea.
Wonwoo tersenyum sendiri memikirkan Seungcheol. Ia penasaran bagaimana rupa Seungcheol sekarang. Memang ia sering melihat foto-foto Seungcheol di media sosialnya, tapi Wonwoo penasaran bagaimana aslinya. Wonwoo merindukan aroma tubuh Seungcheol. Dulu Wonwoo suka sekali dipeluk Seungcheol karena ia bisa menghirup aroma tubuh Seungcheol yang disukainya. Dan sungguh, Wonwoo rindu sekali bagaimana rasanya dipeluk Seungcheol.
Pintu kamar Wonwoo terbuka dan Seungkwan masuk. Ia heran melihat Wonwoo yang berdiri di depan kalender dinding sambil senyum-senyum sendiri.
"Hyung, sedang apa?" tanya Seungkwan.
Wonwoo membalikkan badan dan menemukan adiknya duduk di atas ranjangnya. Wonwoo meletakan spidolnya di atas meja nakas dan ikut duduk di samping Seungkwan.
Seungkwan memperhatikan kalender yang menempel di dinding kamar Wonwoo dan melihat ada dua tanda aneh.
"Kenapa tanggal 2 dicoret dan tanggal 6 diberi gambar hati?" tanya Seungkwan lagi.
Wonwoo tersenyum. "Kau ingat Seungcheol?" tanya Wonwoo.
Seungkwan mengerutkan keningnya begitu mendengar nama Seungcheol. "Bukannya itu mantan kekasihmu yang pergi kuliah di Inggris?" Seungkwan balik bertanya.
Wonwoo mengangguk. "Tanggal 6 ia akan pulang." Jawab Wonwoo senang.
"Bagaimana kau tahu? Memangnya kau masih berhubungan dengannya hyung?" tanya Seungkwan mengingat selama ini Wonwoo tak pernah menceritakan apapun tentang Seungcheol.
Wonwoo mengangguk. "Selama dia di Inggris, aku selalu berhubungan dengannya. Ya, memang aku tidak pernah cerita. Lagipula, untuk apa aku cerita. Kau juga tidak akan peduli."
Seungkwan menyilangkan kedua tangannya di bawah dada. "Dasar pelit." Gerutunya. "Kau masih berhubungkan dengannya.. Apa kau, masih berpacaran dengannya? Kau balikan ya?" tanya Seungkwan penasaran.
Wonwoo tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Tidak, kami tidak berpacaran."
"Lalu kenapa kau begitu antusias menyambut kepulangannya sampai-sampai menggambar bentuk hati di tanggal 27?" kejar Seungkwan.
Wonwoo memalingkan wajahnya, diam saja. Kebisuan Wonwoo ini membuat Seungkwan memutar otaknya. Seungkwan langsung bisa menebak bahwa kakaknya ini sepertinya belum bisa move on dari Seungcheol.
"Hyung.. Kau masih menyukainya ya?" tanya Seungkwan hati-hati.
Wonwoo menarik nafas panjang, lalu mengangguk pelan. Tak ada gunanya ia menyembunyikan ini pada adiknya.
"Rasa cintaku padanya tak pernah berkurang." Wonwoo tersenyum tipis.
"Apakah.. dia juga masih menyukaimu?"
Kali ini Wonwoo menggeleng. "Aku tidak tahu. Mungkin saja masih, tapi mungkin juga tidak."
Seungkwan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia bisa melihat raut wajah Wonwoo yang sedih, serta sorot mata Wonwoo yang lesu. Ia bukan anak yang bodoh. Ia tahu, cinta Wonwoo pada Seungcheol kali ini tidak terbalaskan.
"Hari Rabu rencananya aku akan membolos sekolah untuk menjemput Seungcheol hyung di bandara." Kata Wonwoo.
Seungkwan menyipitkan kedua matanya. "Appa dan Umma tidak akan mengizinkanmu."
"Aku akan tetap berangkat ke sekolah, nanti aku berangkat ke bandara dari sekolah." Jelas Wonwoo. "Eh, kau harus diam-diam ya! Jangan bilang apapun." Seru Wonwoo pada Seungkwan.
"Yah, asalkan ada bayarannya." Kata Seungkwan jual mahal.
Wonwoo mencibir. "Nanti kuberi uangnya kau beli saja sendiri." Kata Wonwoo yang mengerti maksud adiknya untuk membelikannya es krim favoritnya.
Seungkwan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oke kalau begitu!"
"Sudah sana sekarang keluar! Belajar sana!" seru Wonwoo, mengusir Seungkwan.
Seungkwan mengerucutkan bibirnya. Ia berdiri dan berjalan menuju pintu kamar. Seungkwan baru memegang gagang pintu ketika ia teringat sesuatu. Seungkwan tidak jadi keluar kamar dan membalikkan tubuhnya menghadap Wonwoo.
"Hyung, kalau tidak diantar supir, kau ke bandara naik apa?"
Wonwoo mengangkat bahunya. "Naik bus, mungkin. Naik taksi juga bisa. KTX juga ada. Kalau naik subway juga bisa." Jawab Wonwoo.
"Euh, memangnya kau tahu jalur bus atau kereta?" tanya Seungkwan tidak yakin.
Wonwoo berpikir sejenak, kemudian menggelengkan kepalanya. Seungkwan yang melihatnya pun jadi gemas. Mereka berdua memang tidak pernah naik kendaraan umum. Pernah, tapi jarang sekali karena kemana-mana mereka berdua selalu diantar supir. "Lebih baik kau cari info sekarang." Saran Seungkwan.
"Cari info ke siapa? Umma?" tanya Wonwoo bodoh.
Seungkwan semakin gemas pada kakak laki-lakinya itu. "Kalau kau tanya ke Umma, itu sama saja dengan bunuh diri. Tidak kenal yang namanya internet ya?" sindirnya.
Wonwoo mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oke, akan kucari sekarang juga. Terimakasih sarannya!"
Seungkwan pun keluar dari kamar Wonwoo. Sepeninggal Seungkwan, Wonwoo hanya terdiam di ranjangnya.
Ia senang karena sebentar lagi ia akan bertemu Seungcheol. Tapi di lain sisi, ia juga merasa takut bertemu Seungcheol. Selama ini, Seungcheol tak pernah sedikitpun bersikap ramah padanya di telepon. Di chat pun Seungcheol hanya membalas seadanya. Dan sudah berkali-kali Wonwoo meminta untuk video call tapi Seungcheol selalu menolak. Chat Wonwoo saja sering diabaikan oleh Seungcheol.
Wonwoo bukan orang bodoh. Dia tahu kenapa Seungcheol berbuat seperti itu. Seungcheol hanya ingin menegaskan bahwa hubungan mereka sudah berakhir, dan seharusnya Wonwoo mencari orang lain. Tapi Wonwoo menutup matanya, karena ia benar-benar mencintai Seungcheol.
Wonwoo juga tidak peduli beberapa kali Seungcheol memajang fotonya bersama dengan lelaki lain. Biarpun fotonya terbilang mesra, tapi Wonwoo tidak peduli.
Wonwoo tidak tahu kenapa ia bisa bertahan mencintai Seungcheol walaupun ia tahu Seungcheol sudah menghapusnya dari dalam hatinya juga otaknya. Jujur, Wonwoo mulai lelah. Ia mulai lelah dengan semua penantiannya. Ia lelah bertahan dengan ketidakpastian ini. Ia juga lelah terus tersakiti karena mencintai Seungcheol. Tapi demi mengetahui bahwa Seungcheol akan kembali ke Korea lagi, Wonwoo akan memperjuangkan cintanya lagi. Wonwoo akan membuat Seungcheol menjadi miliknya lagi.
: Hi, Mingyu :
"Mingyu, ada yang mencarimu." Kata Nyonya Kim begitu membuka pintu kamar Mingyu.
Mingyu mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya. "Siapa, Eomma?"
"Seungkwan."
Mingyu mengerutkan keningnya. "Eomma tidak salah orang? Dia mencari Jiho, bukan mencariku." Kata Mingyu sambil kembali menekuni bukunya.
"Tidak. Dia bilang ingin bertemu dengan Mingyu hyung. Ya jelas kau yang ingin ditemuinya." Jelas Nyonya Kim.
Mingyu menutup buku yang sedang dibacanya dan mengangguk. "Aku akan turun sebentar lagi."
Pintu kamar Mingyu tertutup. Mingyu meraih ponselnya yang berada di atas meja nakas. Ternyata ada chat dari Seungkwan serta dua panggilan tidak terjawab.
Jeon Seungkwan
Hyung, kau di rumah? 17.58
Hyung 18.00
Ping 18.01
Ping 18.01
Ping 18.01
Missed Call 18.03
Hyung aku mau ke rumahmu. 18.04
Kau ada di rumah tidak? 18.04
Missed Call 18.05
Aku berangkat sekarang. 18.07
Mingyu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Seungkwan. Apa susahnya bagi Seungkwan untuk bertanya pada Jiho kalau memang ia tak kunjung membalas pesan Seungkwan. Mingyu meletakkan ponselnya kembali di atas meja dan keluar dari kamarnya untuk menemui Seungkwan.
"Hai Kwan." Sapanya pada Seungkwan.
Seungkwan yang sedang sibuk memainkan ponselnya pun mendongak. "Eh, hai hyung!" sapa Seungkwan ceria.
Mingyu duduk di sofa di hadapan Seungkwan. "Tumben sekali mencariku. Jiho ada kalau kau mau mengobrol dengannya."
Seungkwan menggeleng. "Aku ingin bicara dengan hyung." Katanya.
"Mau bicara apa?"
"Hyung.. suka dengan Wonwoo hyung ya?" tanya Seungkwan langsung.
Mingyu mengangkat kedua alisnya. "Sadar juga kau." Kata Mingyu datar.
Seungkwan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya. Aku baru sadar saat di Starbucks kemarin. Tapi kenapa Jiho diam saja ya selama ini aku mengejeknya suka dengan Wonwoo hyung?"
Mingyu tertawa kecil. "Itu artinya dia sayang padaku. Dia rela-rela saja terkena tekanan batin olehmu demi aku, kakaknya." Kata Mingyu bangga.
Seungkwan mendecih. "Dasar kejam. Kasihan Jiho. Aku benar-benar harus minta maaf padanya." Gumam Seungkwan.
"Kau kesini mau bicara apa? Hanya itu saja?"
Seungkwan menggelengkan kepala. Ia terdiam sejenak dan memandang Mingyu, membuat Mingyu menjitak kepalanya.
"Ya! Jangan melihatku seperti itu!" seru Mingyu.
"Aduh! Hyung ini memang kejam ya!"
"Siapa suruh kau memandangiku seperti itu! Aku kan jadi geli!"
"Aish, aku kesini mau bicara penting!"
"Ya sudah, bicara saja."
"Itu.. hyung tau Seungcheol hyung?"
Mingyu terdiam sejenak. "Mantan kekasih Wonwoo bukan? Yang pernah kau ceritakan dulu."
Seungkwan mengangguk. "Apa yang hyung tahu soal Seungcheol hyung?"
Mingyu mengangkat kedua bahunya. "Tidak banyak. Kau dulu hanya berkata bahwa Seungcheol itu mantan kekasih Wonwoo dan mereka hanya pacaran setahun."
"Aku cerita tidak, kalau Seungcheol hyung pindah ke Inggris?" tanya Wonwoo lagi.
Deg!
Mingyu terdiam begitu mengetahui bahwa Seungcheol pindah ke Inggris. Otaknya langsung bekerja cepat. Ia teringat percakapan Wonwoo kemarin di telepon. Wonwoo sedang menantikan kedatangan seseorang. Mungkinkah orang yang ditunggu Wonwoo itu adalah Seungcheol?
Mata Seungkwan yang jeli tidak luput mengawasi perubahan sikap Mingyu yang tiba-tiba diam dan keningnya yang agak berkerut menunjukkan bahwa Mingyu sedang berpikir.
"Hyung?" tanya Seungkwan.
Mingyu tersentak. Ia memandang Seungkwan. Seungkwan bisa melihat ada kecemasan di raut wajah Mingyu.
"Tidak, kau tidak pernah bilang." Kata Mingyu cepat.
Seungkwan menarik nafas panjang, kemudian berkata. "Seungcheol hyung akan pulang ke Korea hari Rabu depan."
Demi mendengar perkataan Seungkwan, Mingyu langsung membelalakkan matanya.
Minggyu menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Jadi.. jadi.. itu dia.." gumamnya.
"Hah? Kau bilang apa hyung?" tanya Seungkwan ketika mendengar gumamam Mingyu.
"Wonwoo.. biarpun mereka sudah putus, tapi Wonwoo masih menyukai Seungcheol. Iya kan?" tanya Mingyu memastikan.
Seungkwan mengangguk. "Ya.. begitulah hyung." Jawab Seungkwan kikuk, tidak enak pada Mingyu.
"Jadi selama ini aku mencintai orang yang hatinya sudah dimiliki orang lain." Mingyu tertawa getir. "Dia akan menjemput orang itu ke bandara kan? Aku sudah tahu. Pasti Wonwoo benar-benar mencintai orang itu."
Seungkwan heran mendengar perkataan Mingyu. Kenapa Mingyu tahu kalau Wonwoo berencana untuk menjemput Seungcheol di bandara?
"Kau heran kenapa aku tahu? Aku tahu karena aku mendengar saat Wonwoo menelepon orang itu. Dan ternyata benar. Orang itu adalah orang yang dicintai Wonwoo. Kukira selama ini aku aman, karena Wonwoo tidak punya kekasih. Ternyata malah lebih parah. Memang tidak punya kekasih, tapi ternyata masih stuck pada satu orang." Kata Mingyu sinis.
Seungkwan jadi tak enak hati mendengar nada suara Mingyu yang berubah sinis.
"Hyung.. jangan patah harapan." Kata Seungkwan menyemangati.
"Aku bisa apa? Orang itu akan kembali ke Korea dan tentu saja mereka akan kembali berpacaran!" seru Mingyu.
"Tapi Seungcheol hyung tidak mencintai Wonwoo hyung!" teriak Seungkwan.
Mingyu terperangah mendengar perkataan Seungkwan. "A- apa?" tanyanya gagap.
"Wonwoo hyung memang masih mencintai Seungcheol hyung tapi aku tahu Seungcheol hyung tidak mencintai Wonwoo hyung lagi! Karena itu kubilang kau masih ada harapan!"
Mingyu menarik nafas panjang. "Jadi, Wonwoo sama sepertiku, ya? Bertepuk sebelah tangan. Apa ini, cinta segitiga?" Kata Mingyu getir.
"Hyung, aku akan membantumu. Aku akan membantumu untuk mendapatkan hati Wonwoo hyung. Biarpun kau hitam dan dekil, aku lebih suka kau menjadi kakak iparku daripada Seungcheol hyung.. Lagipula, Seungcheol hyung sudah tidak mungkin. Mereka tidak mungkin kembali berpacaran. Seungcheol hyung tidak mencintai Wonwoo hyung."
"Bagaimana kau tahu? Siapa tahu orang itu masih mencintai Wonwoo." Kata Mingyu kesal.
Seungkwan tak menjawab, melainkan ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan menyerahkan ponselnya pada Mingyu.
"Baca itu, hyung." Kata Seungkwan pelan.
Mingyu mengaktifkan ponsel Seungkwan yang layarnya mati sejenak, kemudian matanya membulat ketika melihat nama Seungcheol.
"Aku meminjam ponsel Wonwoo hyung dan mengirimkan kontak Line Seungcheol hyung padaku. Dan aku bertanya sendiri pada Seungcheol hyung." Jelas Seungkwan.
Mingyu terus membaca chat antara Seungkwan dan Seungcheol. Di chat itu, Seungcheol menjelaskan bahwa ia sudah tidak melupakan Wonwoo sejak mereka putus. Seungcheol sudah move on dan bahkan sudah berpacaran beberapa kali setelah putus dari Wonwoo. Seungcheol juga menjelaskan bahwa ia sengaja bersikap kasar pada Wonwoo karena ia ingin Wonwoo bisa melupakannya. Seungcheol juga sering mengabaikan chat atau telepon Wonwoo karena Seungcheol tak ingin Wonwoo semakin tak bisa melupakannya apabila mereka masih intens berkomunikasi. Seungcheol bahkan tidak bisa mengerti kenapa Wonwoo terus mengejarnya padahal dulu Wonwoo yang memilih putus dengannya karena tidak mau menjalani Long Distance Relationship.
"Hyung sudah baca kan? Hyung sekarang percaya kan? Wonwoo hyung hanya akan terus menyakiti dirinya sendiri jika dia terus mencintai Seungcheol hyung! Seungcheol hyug bahkan sudah berlaku kasar pada Wonwoo hyung tapi Wonwoo hyung memang bodoh!" seru Seungkwan kesal.
Mingyu mendongak dan melihat wajah Seungkwan memerah.
"Aku menyayangi Wonwoo hyung! Aku tidak rela melihatnya tersakiti. Seungcheol hyung sudah tidak bisa bersama Wonwoo hyung lagi.. Tapi Wonwoo hyung hanya mencintainya. Di mata Wonwoo hyung hanya ada Seungcheol hyung. Aku benar-benar tidak tahu apa yang membuat Wonwoo hyung begitu mencintai Seungcheol hyung padahal ia sudah diperlakukan sedemikian rupa oleh Seungcheol hyung." kata Seungkwan panjang lebar. "Aku kesal pada Wonwoo hyung! Cinta macam apa sih itu?!" gerutu Seungkwan.
Mingyu menghempaskan badannya ke sofa sehingga sekarang ia bersandar di sofa. Ia menghela nafas panjang dan menatap ke langit-langit.
"Aku benar-benar mencintai Wonwoo. Tapi Wonwoo tidak mencintaiku. Sekalipun dia bahkan tidak pernah melirik ke arahku sebelum kami berkenalan." Katanya sedih.
"Kita akan buat Wonwoo hyung mencintaimu! Aku akan bantu! Wonwoo hyung harus melupakan Seungcheol hyung dan dia akan mencintaimu!" seru Seungkwan bersemangat.
"Bagaimana caranya? Untuk kenalan dengan Wonwoo saja aku butuh waktu dua tahun. Bagaimana cara aku bisa membuatnya menyukaiku? Apalagi dia sudah mencintai orang lain. Susah sekali membuat seseorang melupakan orang yang dicintainya dan membuka hati untuk orang lain." tanya Mingyu pelan.
"Kita pikirkan itu sambil jalan! Ayo hyung, kau harus semangat!" Seungkwan mengepalkan kedua tangannya.
Mingyu tersenyum kecil. Muncul secercah harapan dalam hatinya. Memang sudah saatnya ia berjuang untuk mendapatkan hati Wonwoo. Usai sudah hari-hari menjadi stalker Wonwoo. Ia sudah berhasil berkenalan dengan pujaan hatinya, dan kini saatnya ia mendekati Wonwoo. Tugasnya berat. Bukan hanya mendekati Wonwoo, namun ia juga harus bisa membuat Wonwoo melupakan Seungcheol.
PR Mingyu kali ini sangat berat.
Tapi, ia masih punya Hoshi dan Seungkwan yang akan membantunya. Dan Jiho, biarpun adiknya itu sedikit menyebalkan tapi adiknya sudah terbukti tahan banting untuk membantunya mengorek info mengenai Wonwoo.
Tantangan baru bagi Mingyu.
Dan Mingyu siap.
.
.
.
To Be Continued.
.
.
.
A/N :
Maafkan lama update, sebenernya ini udah selesai dari lama cuma ga keupdate xD
Chapter depan mungkin agak lama karena akhir-akhir ini sibuk :"
So, would you mind to read and review?
