HI MINGYU

.

Disclaimer : Belong to God and theirselves :D This story is mine. Not for commercial.

Author : Lee Rae Ra

Genre : General, Semi-Romance

Rate : T

Length : Chaptered

Cast : Kim Mingyu & Jeon Wonwoo

.

.

.

SUMMARY : Dua tahun Mingyu menjadi stalker Wonwoo, dan ia berhasil berkenalan dengannya. Bagaimana usaha Mingyu untuk melakukan pendekatan pada Wonwoo di saat Wonwoo sama sekali tidak memiliki perasaan padanya? Hi, Wonwoo's Sequel.

.

.

.

HI, MINGYU

.

Mingyu tersenyum. Memang sudah saatnya ia berjuang untuk mendapatkan hati Wonwoo. Usai sudah hari-hari menjadi stalker Wonwoo. Kini saatnya ia mendekati Wonwoo. Tugasnya berat. Bukan hanya mendekati Wonwoo, namun ia juga harus bisa membuat Wonwoo melupakan Seungcheol.

PR Mingyu kali ini sangat berat.

Tapi, ia masih punya Hoshi dan Seungkwan yang akan membantunya.

Tantangan baru bagi Mingyu.

Dan Mingyu siap.

HI, MINGYU

Dari lapangan depan sekolah saja Mingyu sudah bisa melihat murid-murid yang berkerumun di lobi. Ia bersiul-siul karena hari ini adalah hari pengumuman daftar nama yang lolos untuk showcase Orion. Ia sudah memaksa Hoshi untuk memberitahunya kemarin tapi Hoshi menolak untuk memberitahunya. Padahal Mingyu benar-benar berharap jika Wonwoo diterima, ia juga diterima. Tapi kalaupun Wonwoo tidak diterima, dengan senang hati ia akan bahagia jika ia juga tidak diterima.

"Aish, tapi mana mungkin Wonwoo tidak diterima. Dia keren sekali, bandingkan dengan aku yang dengan bodohnya menarikan koreografi girlgroup." Mingyu bersungut-sungut.

Namun rasa ingin tahunya yang menggebu-gebu tiba-tiba hilang saat melihat murid-murid yang berkerumun di depan papan pengumuman. Ia memang penasaran, tapi ia juga malas berdesak-desakan. Akhirnya Mingyu mendekat ke kerumunan murid tersebut tanpa berusaha ikut melihat papan pengumuman. Mingyu mengeluarkan ponselnya dan ia akan menunggu sampai kerumunan itu bubar.

"Sunbae sudah lihat pengumumannya?"

Mingyu mendongak ketika mendengar sebuah suara. Ia menemukan anak kelas satu berwajah manis yang tempo hari mencari Hoshi ke kelas. Mingyu berusaha memutar memori otaknya, mengingat-ingat siapa nama anak tersebut.

"Ah.. kau Minghao kan?" tanya Mingyu ketika akhirnya ia berhasil menemukan nama anak tersebut di antara serpihan memori otaknya.

Minghao mengangguk. "Iya sunbae. Sunbae sudah lihat pengumumannya?" Minghao bertanya lagi.

Mingyu menggelengkan kepalanya. "Belum, masih banyak yang mau lihat. Tunggu sepi saja Hao. Malas berdesak-desakan." Jawabnya.

"Kalau begitu tidak usah dilihat, sunbae lolos kok!" kata Minghao ceria.

Mendengar perkataan Minghao, Mingyu langsung tertawa datar. "Hahaha aku lolos? Kau yakin?"

Minghao mengangguk semangat. "Hoshi sunbae sendiri yang meloloskan sunbae."

Mingyu tertawa lagi. Kali ini benar-benar tertawa karena ia geli pada Hoshi. Kalau memang benar Hoshi sengaja meloloskannya dengan penampilan audisinya yang kemarin, sudah pasti Hoshi sedang berusaha membantunya.

"Anak itu melakukan nepotisme?" tanya Mingyu lagi.

"Tidak kok. Banyak juga yang setuju untuk menerima hyung di showcase, bukan hanya Hoshi sunbae saja. Karena sunbae keren sekali saat dance kemarin." Minghao mengacungkan kedua jempolnya.

Mingyu berdecak. "Apanya yang keren.. Tapi baguslah kalau aku lolos. Terimakasih ya, Minghao! Aku ke kelas dulu." Mingyu menepuk bahu Minghao dan meninggalkan lobi sekolah.

Mingyu memasuki kelasnya dan menemukan Hoshi sedang asyik pacaran dengan Jihoon. Jihoon adalah kekasih Hoshi, anak kelas sebelah yang jago main piano dan gitar.

Mingyu mendekati sepasang insan yang sedang dimabuk asmara itu dan berdeham. Jihoon yang menyadari bahwa si pemilik kursi sudah datang langsung mengangkat pantatnya dari kursi Mingyu dan pindah duduk di kursi lain.

"Halo Mingyu, selamat pagi!" sapa Jihoon ceria.

Mingyu mengangkat tangannya, membalas sapaan Jihoon. "Duduk saja disitu tidak apa kok." Kata Mingyu sambil meletakkan tasnya di atas kursi yang baru saja ditinggalkan Jihoon.

Jihoon tersenyum manis mendengar perkataan Mingyu, dan dengan senang hati ia kembali mendaratkan pantatnya di atas kursi Mingyu, membiarkan sang empunya kursi berdiri.

"Kau sudah lihat pengumuman?" tanya Hoshi bersemangat.

Mingyu mengibaskan tangannya. "Tanpa perlu kulihat, Minghao tadi sudah memberitahuku." Balas Mingyu.

Hoshi menaikturunkan kedua alisnya genit, berusaha memberi kode pada Mingyu bahwa ia melakukannya untuk membantu Mingyu mendekati Wonwoo. Namun malang, tingkahnya itu membuat Jihoon yang melihatnya jadi sebal. Alhasil, pemuda mungil itu mendaratkan cubitan di paha kanan Hoshi, menyebabkan Hoshi berteriak kesakitan.

"Genit sekali sih!" seru Jihoon sebal.

Hoshi meringis sambil mengusap-usap pahanya yang menjadi korban kekerasan Jihoon dan memasang wajah memelas, kemudian melotot pada Mingyu, menuntut agar Mingyu mau memberikan penjelasan pada Jihoon.

Tapi sayangnya Mingyu tidak melihat kode yang diberikan oleh Hoshi. Ia menaikkan pupil matanya, berusaha mengingat-ingat sesuatu. Dan ketika Mingyu erhasil mengingat apa yang telah ia lupakan, pemuda jangkung itu menepuk dahinya kesal.

"Dasar bodoh!" rutuk Mingyu pada dirinya sendiri.

Tanpa mengucapkan sepatah kata dan tanpa mempedulikan Hoshi, Mingyu buru-buru keluar dari kelasnya. Ia sampai lupa menunggu kedatangan Wonwoo karena terlalu fokus ingin mengetahui pengumuman kelolosan untuk showcase Orion.

Sepasang kaki jenjang milik pemuda bernama Mingyu tersebut berjalan cepat menyusuri lorong sekolah, menuju kelas Wonwoo. Begitu sampai di tempat tujuannya, Mingyu langsung melongokkan kepalanya mencari sosok pemuda pujaan hatinya.

Senyum di bibir Mingyu langsung terukir ketika ia menemukan sosok yang dicarinya sedang duduk manis di bangkunya. Namun kali ini, pemandangan yang dilihatnya agak sedikit berbeda.

Mingyu sering memperhatikan Wonwoo di kelasnya dengan mengintip diam-diam, atau sekadar main ke kelas Wonwoo. Namun baru sekali ini. Baru sekali ini Mingyu melihat Wonwoo memainkan ponselnya sambil senyum-senyum.

Pemandangan itu membuat hati Mingyu jadi sedikit sakit. Senyum di wajahnya perlahan memudar ketika ia menyadari kemungkinan sebab Wonwoo yang seperti itu. Pasti mantan kekasih yang masih dicintainya, yang tak lain adalah Seungcheol.

Sebuah tepukan mampir ke pundaknya, membuat Mingyu tersadar. Mingyu menoleh dan menemukan Hayoung, teman sekelas Wonwoo. Hayoung juga bersekolah di SMP yang sama dengan Mingyu, karena itu mereka berdua cukup akrab.

"Mencari siapa?" tanya Hayoung sambil ikut melongokkan kepalanya ke dalam kelas 2B.

Mingyu buru-buru menggelengkan kepalanya. "Sudah, kok. Aku ke kelas dulu ya." Kata Mingyu sambil melambaikan tangannya, meninggalkan Hayoung yang kebingungan.

: Hi, Mingyu :

Wonwoo memasuki lobi sekolah dan memperhatikan beberapa murid yang berada di depan papan pengumuman, kemudian ia teringat bahwa hari ini pengumuman untuk audisi showcase Orion. Penasaran dirinya lolos atau tidak, Wonwoo berjalan menuju papan pengumuman dan membaca selembar kertas dengan lambang Orion di atasnya.

Mata Wonwoo menelusuri daftar nama tersebut dari atas, dan tersenyum senang ketika melihat namanya tertulis di daftar tersebut. Namun Wonwoo tidak langsung pergi, melainkan kembali menelusuri daftar nama tersebut, ingin tahu siapa saja yang diterima.

Wonwoo tertegun sejenak ketika mendapati nama Kim Mingyu berada di daftar tersebut.

"Ah.. Jadi dia lolos." Gumam Wonwoo.

Tanpa disadari, ujung bibir Wonwoo terangkat membentuk sebuah senyuman kecil. Namun senyuman tersebut tak bertahan lama karena sang pemilik bibir langsung menyadarinya.

"Buat apa aku merasa senang, tidak penting juga bagiku." Ujar Wonwoo, berusaha tak peduli.

Wonwoo meneruskan membaca daftar tersebut sampai selesai, baru kemudian ia menuju kelasnya. Setelah memarkirkan pantatnya di atas kursi, Wonwoo buru-buru membuka ponselnya karena tadi saat ia berjalan menuju ke kelas, ponselnya bergetar beberapa kali menandakan ada pemberitahuan. Wonwoo membelalakkan mata begitu melihat notifikasi ponselnya bahwa Seungcheol mengunggah foto baru di Instagram.

Hati Wonwoo rasanya ingin meledak. Seungcheol sangat jarang mengunggah foto di Instagram. Hampir setiap hari Wonwoo selalu mengecek Instagram Seungcheol, berharap bahwa notifikasinya terlewat dan Seungcheol mengunggah foto baru tanpa sepengetahuannya. Tapi hasilnya nihil.

Kali ini, harapan Wonwoo menjadi kenyataan. Ada foto baru yang diunggah Seungcheol, multiple post pula. Ada lima foto yang diunggah Seungcheol. Foto pertama adalah foto selca Seungcheol berlatarkan bangunan kampusnya. Kemudian empat foto lain adalah foto bersama teman-temannya. Seungcheol hanya menuliskan "Love" sebagai captionnya.

Foto itu baru diunggah sepuluh menit yang lalu, tapi sudah terdapat beberapa komentar. Wonwoo mengangguk-angguk senang, karena rupanya Seungcheol punya banyak teman disana. Tak ingin ketinggalan, Wonwoo juga ingin menuliskan komentarnya. Wonwoo memencet klik pada tombol komentar, dan langsung terpampang komentar-komentar sebelumnya.

Sebelum menuliskan komentarnya, Wonwoo terlebih dahulu melihat komentar-komentar sebelumnya. Wonwoo langsung tertarik pada komentar pertama.

YJH1004 Kangen SCoups :(

Wonwoo mengerutkan keningnya begitu membaca komentar tersebut. SCoups ? Apakah itu nama panggilan Seungcheol di Inggris sana? Dan siapa YJH1004 itu, berani-beraninya menulis komentar seperti itu?

Kesal dengan komentar itu, Wonwoo membuka profil Instagram YJH1004 dan mengumpat begitu profilnya terbuka karena Instagramnya dikunci. Tak jadi menuliskan komentar, Wonwoo melempar ponselnya ke dalam tas.

"Tadi Mingyu bertemu denganmu?"

Indera pendengaran Wonwoo menangkap seseorang menyebutkan nama Mingyu, dan dengan cepat Wonwoo mencari tahu asal suara tersebut. Ketika sadar bahwa tingkahnya ini tidak biasa, Wonwoo menghembuskan nafasnya kasar.

"Aish, aku kenapa. Tadi pagi aku tidak sengaja tersenyum sendiri, sekaang aku reflek menoleh saat ada yang menyebutkan namanya. Apa gara-gara aku sekarang sudah kenal dengannya jadi aku agak lebih sensitif?" Wonwoo bergumam sendiri.

"Tadi Mingyu ada di depan kelas, waktu kutanya cari siapa dia bilang sudah."

Kembali telinga Wonwoo menangkap suara yang sama, dan masih menyebutkan nama Mingyu. Wonwoo baru ingat, tadi pagi ia tidak melihat Mingyu di tempat biasa. Apa mungkin, Mingyu ke kelasnya untuk mencarinya?

Penasaran, Wonwoo membalikkan badannya dan melihat Hayoung yang sedang berbincang dengan Rowoon.

"Hayoung, tadi Mingyu kesini?" tanya Wonwoo.

Hayoung dan Rowoon sama-sama menoleh ke arah Wonwoo. Keduanya sama-sama heran mendengar Wonwoo menanyakan Mingyu.

Hayoung mengangguk. "Aku perhatikan dari depan kelas sebelah Mingyu berdiri di depan kelas kita selama beberapa menit, tapi waktu kutanya cari siapa dia bilang sudah. Aku heran, kapan dia masuk ke kelas kita?"

"Ah.. begitu ya." Wonwoo mengangguk-angguk.

Setelah mengucapkan terimakasih, Wonwoo kembali menghadap ke depan dan mendengus. Sudah pasti pemuda jangkung itu datang untuk melihatnya. Bukan hanya sekali ini saja, bahkan sudah berkali-kali Wonwoo memergoki Mingyu yang diam-diam memperhatikannya di kelas. Wonwoo juga tahu, jika Mingyu main ke kelasnya dan bertemu teman-temannya, tatapan mata Mingyu hanya terpaku pada dirinya seorang.

Namun Wonwoo kembali tersenyum. Sesaat ia akan merutuki dirinya sendiri, tapi kemudian otaknya memikirkan kemungkinan lain. Ia sempat ragu apakah Mingyu akan tetap melanjutkan kegiatannya alias menjadi stalker Wonwoo saat sudah berkenalan dengannya, tapi kini ia sudah mendapatkan jawabannya. Dan entah kenapa, ia merasa senang.

: Hi, Mingyu :

"Wah..."

Mata Mingyu berbinar-binar menatap kunci mobil yang disodorkan oleh Ibunya. Dengan tangan bergetar, ia menerima kunci mobil tersebut dan menggengamnya erat.

"Ingat, jemput Chan dan langsung pulang. Jangan mengebut. Ikuti peraturan lalu lintas!" Nyonya Kim mewanti-wanti.

Mingyu mengangguk-angguk antusias. Jika sekarang Ibunya mau memberinya peringatan selama satu jam pun dia tak masalah karena dia sangat senang diizinkan mengendarai mobil, walaupun hanya untuk menjemput Chan yang pulang piknik. Mingyu sudah bisa mengendarai mobil sejak kelas dua SMP, namun Ibunya tidak pernah mengizinkan Mingyu untuk mengendarai mobil di jalan raya.

Ini pun kasus langka, jika saja Nyonya Kim tidak sedang dikejar waktu untuk memasak bersama Ibu-Ibu komplek, pastilah Nyonya Kim sendiri yang akan menjemput Chan.

"Oppa, belikan aku Odeng dan Tteokbokki. Yang di depan sekolah Chan itu sangat enak." Pesan Jiho.

Mingyu mengacungkan jempolnya. "Mana uangnya?" katanya kemudian.

"Minta Eomma." Kata Jiho cuek.

Nyonya Kim menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan dua anaknya. Namun tanpa banyak bicara, Nyonya Kim memberikan uang pada Mingyu.

"Sudah sana berangkat!"

"Oke, aku pergi dulu ya!" pamit Mingyu senang.

Dengan antusias Mingyu memasuki mobil dan menyalakan mesinnya. Ia tertawa-tawa sendirian di dalam mobil saat mobilnya sudah memasuki area jalan raya.

"Ah, jika saja setiap hari bisa begini." Kata Mingyu senang.

Sekolah Chan terletak tidak terlalu jauh dari rumahnya, bisa ditempuh sekitar tujuh menit dengan kendaraan bermotor. Saat sudah mendekati daerah sekolah Chan, Mingyu melihat dua buah bus di depannya.

"Ah, bisa saja itu busnya Chan." Pikir Mingyu.

Dan benar saja, kedua bus tersebut berhenti di depan sekolah Chan. Mingyu memarkirkan mobilnya agak jauh dari pintu masuk sekolah Chan dan berjalan ke arah dua bus tersebut.

Chan keluar dari bus yang berada di belakang dan langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar.

"Hyung~" seru Chan saat melihat Mingyu.

Mingyu tersenyum dan menghampiri Chan. "Chan, sana pamit ke guru-guru Chan. Setelah itu kita beli pesanan nunamu dulu di depan." Mingyu menunjuk penjual jajanan kaki lima yang berada tepat di depan sekolah Chan.

Chan mengangguk riang dan berlari untuk berpamitan kepada gurunya. Kemudian bergandengan mereka berdua menuju ke tenda penjual jajanan kaki lima.

"Hyung, Chan mau es krim." Kata Chan tiba-tiba.

"Tapi Eomma menyuruh hyung uuntuk langsung pulang." Balas Mingyu bingung.

Chan merajuk, menarik-narik ujung kaos Mingyu. "Ayolah hyung~ Tidak usah bilang-bilang Eomma." Bujuk Chan.

Mau tak mau Mingyu luluh juga melihat Chan yang memohon padanya. Akhirnya ia menganggukkan kepalanya.

"Tapi ingat, jangan bilang-bilang Eomma ya!"

"Yayyy!" seru Chan senang sambil melompat-lompat.

Perhatian Mingyu teralih dari Chan ke bibi penjual jalanan ketika pesanannya sudah siap. Mingyu menyerahkan selembar uang dan menunggu kembaliannya.

"Masih cukup untuk beli eskrim." Kata Mingyu senang sambil menunjukkan uang di tangannya kepada Chan.

Tak lama kemudian, Mingyu dan Chan sudah duduk manis di dalam sebuah kedai es krim. Mingyu tidak terlalu suka makan es krim, tapi adiknya Jiho dan sahabatnya yang setipe dengannya itu – Jeon Seungkwan – sangat suka makan es krim, sehingga Mingyu tahu dimana saja tempat mereka biasa makan es krim.

"Selamat datang!"

Seperti biasa suara seruan selamat datang itu disampaikan oleh para pelayan di kedai tersebut saat ada tamu baru datang. Biasanya Mingyu tidak terlalu memperhatikan siapa yang baru masuk, tapi kali ini berbeda. Karena Wonwoo yang masuk, bersama dengan Seungkwan.

: Hi, Mingyu :

"Ah hyung! Lama sekali sih!" Seru Seungkwan sebal sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal.

Bagaimana tidak, sudah satu jam mereka berada di toko ini dan Wonwoo belum menemukan apa yang dicarinya.

"Diam! Aku harus memastikan aku memberikan yang terbaik untuk Seungcheol hyung!" balas Wonwoo judes.

Hari ini hari Selasa tanggal lima, itu artinya besok adalah hari kepulangan Seungcheol ke Korea. Karena itulah Wonwoo ingin memberikan hadiah pada Seungcheol, dan Wonwoo memutuskan ia akan memberi hadiah kemeja. Namun sayangnya, sedari tadi Wonwoo belum menemukan kemeja yang tepat, padahal ia dan Seungkwan sudah mengunjungi tiga toko.

Sementara itu Seungkwan hanya bisa bersungut-sungut kesal. Dia menyesali kenapa juga tadi ia setuju untuk menemani Wonwoo berbelanja hanya dengan diiming-imingi akan ditraktir di kedai es krim favoritnya.

"Nah, ini." Wonwoo menarik sebuah kemeja berwarna biru tua.

"Hyung sudah, pilih yang itu saja!" seru Seungkwan frustasi.

Wonwoo tidak mempedulikan ratapan Seungkwan, malah ia terus mengamati kemeja tersebut.

"Ya, ini sempurna." Katanya senang.

Mendengar perkataan itu keluar dari mulut Wonwoo, tak ayal Seungkwan langsung mendesah nafas lega.

"Cepat sana minta ke pelayannya dan bayar! Aku mau makan es krim!" seru Seungkwan.

Setelah menemukan apa yang dicarinya, akhirnya Wonwoo dan Seungkwan berjalan kaki menuju kedai es krim. Mereka memang membawa mobil dan supir, tetapi kedai es krim itu hanya berjarak lima toko dari toko pakaian yang mereka kunjungi, jadi lebih baik jalan kaki.

"Selamat datang!"

Seungkwan langsung tersenyum senang begitu memasuki kedai es krim tersebut. Kedai tersebut merupakan salah satu kedai es krim favoritnya yang sering ia kunjungi bersama Jiho.

"Loh, hyung!" seru Seungkwan kaget saat melihat Mingyu.

Wonwoo yang mendengar Seungkwan menyerukan 'hyung' berpikir bahwa Seungkwan memanggilnya, namun saat ia akan membalas perkataan Seungkwan, anak itu malah pergi menjauh darinya dan mendekat ke salah satu meja.

Wonwoo tidak tahu siapa yang didekati Seungkwan. Ia hanya melihat punggung seorang anak kecil. Sosok yang duduk di depan anak kecil itu tertutupi oleh Seungkwan. Penasaran, Wonwoo ikut mendekat.

Wonwoo mengerutkan keningnya begitu melihat Mingyu.

"Eh, Mingyu?"

: Hi, Mingyu :

Mingyu tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya ketika Wonwoo menyapanya. Buru-buru ia tersenyum manis pada Wonwoo dan membalas sapaannya.

"Hai Wonwoo!" balas Mingyu.

Seungkwan mencibir melihat kelakuan Mingyu yang dirasanya norak, dan langsung dibalas dengan injakan kecil di kaki Seungkwan oleh Mingyu.

"Yak dekil hyung!" seru Seungkwan kesal sambil memukul punggung Mingyu.

Namun Mingyu yang sedang dimabuk asmara tidak mempedulikan Seungkwan. Ia malah menawarkan Wonwoo untuk duduk di meja yang sama dengannya, yang langsung diiyakan oleh Wonwoo.

Seungkwan yang kesal karena diabaikan langsung menyodorkan kedua tangannya pada Wonwoo.

"Mana uangnya?!" seru Seungkwan sambil melotot.

Wonwoo menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adiknya. Ia mengeluarkan dompet dan menyerahkan selempar uang pada Seungkwan.

"Vanila. Dengan choco chips." Kata Wonwoo pendek.

Setelah kepergian Seungkwan ke counter, Wonwoo duduk di samping Chan.

"Ini adikku, Chan." Kata Mingyu.

Chan berhenti menyendok es krimnya dan tersenyum manis pada Wonwoo.

"Annyeonghaseyo.. Namaku Chan." Kata Chan memperkenalkan diri.

Wonwoo tersenyum melihat Chan yang dirasanya sangat lucu. Wonwoo mengusap-usap rambut Chan sambil memperkenalkan dirinya.

"Halo Chan, aku Wonwoo."

"Wonwoo hyung teman Mingyu hyung?" tanya Chan.

Wonwoo mengangguk. "Ya, hyung satu sekolah dengan Mingyu." Jawab Wonwoo.

"Hyung siapanya Seungkwan hyung?" tanya Chan lagi.

"Seungkwan itu adik hyung."

Chan mengangguk-angguk, kemudian meneruskan kegiatannya memakan es krim, tanpa bertanya lagi pada Wonwoo.

Sedangkan Mingyu, melihat Chan yang sepertinya sudah tidak tertarik lagi untuk bertanya pada Wonwoo, berdeham. Bersiap-siap memulai percakapan. Namun baru ia membuka mulutnya, dua buah es krim terlebih dahulu mendarat di mejanya.

"Es krim datang!" seru Seungkwan senang sambil duduk di kursi sebelah Mingyu.

Mingyu mendelik sebal pada Seungkwan yang dianggapnya menganggu. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa diam.

"Kalian dari mana?" tanya Mingyu akhirnya.

Pertanyaan Mingyu sebenarnya ditujukan untuk Wonwoo, tapi dasar Seungkwan tidak peka. Ia langsung menjawab pertanyaan Mingyu.

"Dari toko pakaian sebelah. Hyung beli kemeja." Jawab Seungkwan cepat.

Bukannya tidak peka, Seungkwan tahu jika Wonwoo yang menjawab pertanyaan Mingyu, pasti nanti bisa berujung pada Seungcheol. Wonwoo akan menjawab dengan jujur bahwa ia membeli kemeja untuk temannya, dan Mingyu yang selalu ingin tahu itu akan bertanya untuk siapa Wonwoo membeli kemeja. Seungkwan berusaha mencengah terjadinya perubahan suasana di sini. Karena itulah dia menyambar pertanyaan Mingyu dan menjawab seperlunya.

"Kau seharusnya membeli pakaian yang enak untuk dipakai dance, bukannya kemeja." Canda Mingyu.

Wonwoo menggelengkan kepalanya. "Aku beli kemeja ini bukan untukku, tapi untuk temanku."

Seungkwan merosot di kursinya. Ternyata usahanya gagal.

"Untuk hadiah ulang tahun?" tanya Mingyu lagi.

Di sebelahnya, Seungkwan hanya bisa harap-harap cemas.

Sekali lagi, Wonwoo menggeleng. "Untuk hadiah kepulangan. Dia kuliah di luar negeri dan besok dia kembali ke Korea."

Sontak mata Mingyu langsung tertuju pada ponselnya yang layarnya menyala. Dia baru sadar bahwa hari ini tanggal 5, dan itu berarti besok mantan kekasih Wonwoo yang bernama Seungcheol itu akan pulang ke Korea.

"Ah.. begitu." Balas Mingyu pelan.

Mingyu tak lagi mengajukan pertanyaan pada Wonwoo. Ia mengalihkan perhatiannya pada ponselnya yang berkedip-kedip. Rupanya pesan dari Jiho yang menanyakan kenapa mereka lama sekali.

"Chan, sudah selesai?" tanya Mingyu ketika melihat Chan menjilat-jilat sendok es krimnya.

Chan mengangguk-angguk mengiyakan.

"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu. Jiho sudah marah-marah karena kami lama sekali." Kata Mingyu sambil menunjukkan plastik berisi odeng dan tteokbokki.

Seungkwan mengangguk pelan. "Hati-hati ya hyung."

Mingyu tersenyum tipis, kemudian menatap Mingyu.

"Sampai bertemu di sekolah besok, Wonwoo." Kata Mingyu pelan, yang hanya dibalas dengan anggukan tak peduli.

Mingyu tahu, tidak ada gunanya ia mengucapkan kata-kata tersebut. Karena sudah pasti besok ia tidak akan bertemu dengan Wonwoo di sekolah.

: Hi, Mingyu :

Wonwoo turun dari taksi dengan hati gembira. Akhirnya ia sampai juga di Bandara Incheon. Perjuangannya untuk sampai disini tidak mudah dan Wonwoo patut berbangga hati karena ia berhasil melakukannya.

Seperti biasa supirnya menurunkan Wonwoo di sekolah. Namun bukannya bersekolah, Wonwoo malah keluar dari area sekolahnya dan langsung menyetop taksi. Sebenarnya Wonwoo bisa saja naik bus atau kereta, tapi Wonwoo tidak tahu jalurnya. Jadi, daripada mengambil resiko tersesat, Wonwoo memutuskan untuk naik taksi saja karena pasti akan diantarkan sampai ke tujuan.

Wonwoo memasuki area kedatangan internasional dan duduk di salah satu kursi tunggu. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, masih sekitar setengah jam lagi sebelum pesawat Seungcheol mendarat. Diambilnya earphone di tas dan ia memutuskan untuk menunggu sambil mendengarkan musik.

Wonwoo melihat ke arah papan informasi dan disitu tertulis bahwa pesawat British Airways baru saja mendarat. Dengan semangat Wonwoo melepas earphonenya dan bersiap untuk menunggu Seungcheol tepat di depan pintu keluar, namun ia teringat bahwa mungkin saja Seuncheol baru akan keluar sekitar setengah jam lagi karena harus menunggu bagasi.

Wonwoo memutuskan untuk bersabar dan baru akan berdiri di depan pintu kedatangan ketika pintu kedatangan sudah ramai oleh orang-orang yang baru datang.

Ketika akhirnya sudah banyak orang yang keluar dari pintu kedatangan, Wonwoo bangkit dari kursinya dan berjalan ke depan pintu kedatangan, bergabung dengan kerumunan penjemput yang lain. Tangan kanannya dengan erat mengenggam shopping bag yang berisikan kemeja yang dibelinya untuk Seungcheol.

Wonwoo tersenyum bahagia ketika akhirnya ia melihat Seungcheol muncul. Ia bersiap untuk memanggil nama Seungcheol, tapi tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering ketika ia melihat sosok yang berada di samping Seungcheol.

Wonwoo tidak bisa membedakan apakah itu laki-laki atau perempuan. Dari perawakannya ia terlihat seperti laki-laki tapi rambutnya panjang dan ia berwajah cantik membuat Wonwoo tidak yakin.

Namun yang membuat mulut Wonwoo terkunci adalah, keduanya sangat mesra. Sosok itu menggandeng tangan Seungcheol dan menyenderkan kepalanya manja di bahu Seungcheol.

Wonwoo menggigit bibirnya ketika tatapan mata Seungcheol tertuju ke arahnya. Ia tak sanggup bergerak, kakinya serasa terkunci ke tanah. Dan ia diam saja ketika Seungcheol berjalan ke arahnya.

"Hei Wonwoo, sudah kubilang kan kau tak perlu datang ke bandara." Kata Seungcheol santai.

Seungcheol bahkan tak malu-malu menunjukkan kemesrannya dengan orang di sampingnya, membuat Wonwoo harus menahan tangisnya.

"Hyung.. Siapa dia?" tanya Wonwoo dengan suara bergetar.

Sosok di samping Seungcheol itu tersenyum manis pada Wonwoo dan mengulurkan tangannya pada Wonwoo.

"Hai, ternyata kau Wonwoo. Seungcheol banyak cerita tentangmu. Aku Yoon Jeonghan, kekasih Seungcheol."

.

.

.

To Be Continued.

.

.

.

A/N :

Dari lubuk hati yang terdalam, aku benar-benar minta maaf atas update fanfic ini yang super ngaret.

Awalnya dikarenakan kesibukan kuliah, tapi kemudian keyboard laptop beberapa ada yang error sehingga tidak memungkinkan untuk lanjut nulis. Tapi entah kenapa tiba-tiba aku ngerasa aku harus nyelesain fanfic ini, dan alhasil modal pinjam laptop adik, chapter 5 berhasil diselesaikan.

Aku gak janji untuk bisa update cepat, tapi aku sudah janji ke diri sendiri kalau aku harus nyelesain fanfic ini.

Terimakasih semuanya ^^