HI, MINGYU

Disclaimer : Belong to God and theirselves :D This story is mine. Not for commercial.

Author : Lee Rae Ra

Genre : General, Semi-Romance

Rate : T

Length : Chaptered

Cast : Kim Mingyu & Jeon Wonwoo

.

.

.

SUMMARY : Dua tahun Mingyu menjadi stalker Wonwoo, dan ia berhasil berkenalan dengannya. Bagaimana usaha Mingyu untuk melakukan pendekatan pada Wonwoo di saat Wonwoo sama sekali tidak memiliki perasaan padanya? Hi, Wonwoo's Sequel.

.

.

.

HI, MINGYU

.

.

.

Seungcheol bahkan tak malu-malu menunjukkan kemesrannya dengan orang di sampingnya, membuat Wonwoo harus menahan tangisnya.

"Hyung.. Siapa dia?" tanya Wonwoo dengan suara bergetar.

Sosok di samping Seungcheol itu tersenyum manis pada Wonwoo dan mengulurkan tangannya pada Wonwoo.

"Hai, ternyata kau Wonwoo. Seungcheol banyak cerita tentangmu. Aku Yoon Jeonghan, kekasih Seungcheol."

.

HI, MINGYU

.

"Ke – kekasih?" Wonwoo tergagap.

Seungcheol mengangguk, bahkan dengan santainya ia mencium pipi pemuda berambut panjang itu di depan mata Wonwoo.

Hati Wonwoo serasa ditusuk pedang saat melihat pemandangan di depannya. Sakit. Ia mengigit bibirnya, berusaha menahan tangisnya.

"Iya kekasihku. Sudah setengah tahun aku berpacaran dengan Jeonghan." Balas Seungcheol.

Wonwoo diam, tidak tahu harus merespon apa.

"Ah, itu Ayah dan Ibuku. Aku duluan ya Wonwoo." Kata Seungcheol santai seraya melenggang meninggalkan Wonwoo.

Mata Wonwoo mengikuti punggung Seungcheol yang berjalan menjauh. Shopping bag yang digenggamnya sedari tadi kini jatuh ke lantai. Kedua tangannya meremas celananya erat. Tangis yang sedari tadi ditahan Wonwoo akhirnya jatuh juga. Wonwoo menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan air matanya keluar. Ia tidak menyangka Seungcheol pulang ke Korea sambil membawa kekasihnya. Selama ini tidak pernah ada tanda-tanda bahwa Seungcheol memiliki kekasih, namun kenapa tiba-tiba dia mempunyai kekasih?

Wonwoo jadi teringat dengan komentar di Instagram Seungcheol.

Komentar dari username YJH1004.

YJH1004.

YJH?

Yoon Jeonghan?

Bila sedari tadi Wonwoo menangis dalam diam, kali ini sebuah isakan lolos dari tenggorokannya. Ia menangis terisak-isak sambil berdiri. Kedua tangannya masih meremas celananya. Wonwoo bahkan tidak sanggup untuk mengangkat kedua tangannya dan menutupi wajahnya. Wonwoo juga tidak peduli bahwa kini orang-orang menatap heran ke arahnya.

Kemudian Wonwoo merasakan sebuah tangan merangkul pundaknya. Wonwoo mendongak dan menemukan seseorang di sampingnya. Meskipun sosok itu mengenakan topi dan masker, tetap saja Wonwoo mengenalinya. Bagaimana tidak, sosok itu juga selalu berpenampilan seperti ini saat mengikutinya kemana-mana.

"Mingyu?"

: Hi, Mingyu :

"Eomma.. boleh ya? Boleh ya?"

Sejak dini hari tadi, Mingyu sudah merayu Ibunya untuk memperbolehkannya menggunakan mobil untuk hari ini saja. Mingyu berniat untuk pergi ke bandara, untuk mengawasi Wonwoo. Namun sayang, Nyonya Kim sangat berpegang teguh pada pendiriannya. Tuan Kim juga sedang bertugas di luar kota, membuat Mingyu tidak memiliki suara yang mendukungnya.

"Sekali tidak, tetap tidak!" Nyonya Kim berkata tegas.

"Eomma... Kumohon sekali ini saja.. Boleh ya pakai mobilnya?" Mingyu merengek, kali ini ia berlutut di depan Nyonya Kim sambil mengatupkan kedua telapak tangannya, memohon.

Hati seorang Ibu mana yang tidak akan luluh melihat anaknya memohon seperti ini?

"Kau butuh mobil untuk apa?" tanya Nyonya Kim lembut.

Mingyu menggigit bibirnya. Tidak mungkin kan ia berkata jujur kalau ia akan membolos dan pergi ke bandara untuk mengintai Wonwoo? Ia juga tidak punya alasan lain. Lagipula, Mingyu tidak yakin jika ia berbohong, Ibunya akan mengizinkannya memakai mobil. Namun jika ia jujur, Ibunya juga tidak akan mengizinkan. Dua pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan.

"Oppa mau pergi ke bandara." Sahut Jiho yang baru saja masuk ke ruang makan.

Sontak sorok mata Nyonya Kim langsung berubah ganas.

"Ke bandara? Untuk apa kau pergi ke bandara? Mau bolos sekolah?!" tanya Nyonya Kim galak.

Mingyu diam saja, bimbang. Tidak tahu harus menjawab apa.

"Oppa mau memperjuangkan cintanya." Kata Jiho sebal melihat kakaknya yang diam saja.

"Memperjuangkan cintanya?" tiba-tiba Nyonya Kim jadi tertarik.

Baru saja Jiho akan menjelaskan pada Nyonya Kim, Mingyu memberi tanda pada Jiho untuk diam. Mingyu bangkit dari posisi berlututnya dan duduk di kursi.

"Eomma, aku menyukai seseorang. Sudah dua tahun aku menyukainya." Kata Mingyu akhirnya.

Mata Nyonya Kim membulat. "Omo! Siapa orang yang kau sukai? Apakah dia gadis, atau seorang laki-laki manis?" tanya Nyonya Kim semangat.

Mingyu mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menunjukkan lockscreen ponselnya pada Ibunya.

"Manis sekali! Siapa namanya?" tanya Nyonya Kim.

"Jeon Wonwoo. Dia kakak Seungkwan."

"Omo! Kakak Seungkwan?"

Mingyu mengangguk mengiyakan.

"Lalu, bagaimana ceritanya sehingga kau harus ke bandara dan memperjuangkan cintamu? Anak ini mau pergi ke luar negeri atau apa?" tanya Nyonya Kim penasaran.

"Bukan begitu, Eomma."

"Lalu bagaimana, ayo cerita pada Eomma!" desak Nyonya Kim.

Mingyu tersenyum tipis. "Mantan kekasih Wonwoo akan kembali dari Inggris hari ini. Wonwoo masih mencintai mantan kekasihnya. Wonwoo masih berharap mereka bisa kembali bersama." Jawab Mingyu getir.

"Lalu?"

"Kemarin Seungkwan mengirimiku pesan, kalau mantan kekasih Wonwoo itu pulang ke Korea bersama kekasihnya yang orang Korea juga. Wonwoo –" Mingyu menggantungkan kalimatnya.

Nyonya Kim menunggu kelanjutan cerita anaknya dengan setia.

"Wonwoo tidak tahu kalau mantan kekasihnya si Choi Seungcheol itu sudah punya kekasih lagi. Wonwoo juga tidak tahu kalau besok Choi Seungcheol akan pulang bersama kekasihnya. Aku hanya ingin berada di sisi Wonwoo saat dia tahu kenyataannya nanti. Aku ingin berada di sisi Wonwoo saat ia terluka." Lanjut Mingyu. "Aku.. aku tidak ingin Wonwoo sendirian."

Nyonya Kim mengangguk paham. Nyonya Kim juga pernah muda, dan ia tahu sekali perasaan Mingyu. Apalagi Nyonya Kim pernah berada di posisi Mingyu karena dulu Nyonya Kim yang menaruh hati terlebih dahulu pada suaminya, dan Nyonya Kim yang gencar mendekati suaminya. Nyonya Kim paham perasaan anaknya lebih dari siapapun.

Nyonya Kim juga tidak tega membiarkan anak sulungnya bersedih, apalagi anak sulungnya sedang berusaha memperjuangkan cintanya. Sepengetahuan Nyonya Kim, baru pertama kali ini Mingyu jatuh cinta. Mingyu bahkan tidak pernah berkencan dengan siapapun, padahal adiknya Jiho sudah sering bergonta-ganti pacar meskipun ia masih kelas 3 SMP. Padahal, apa yang kurang dari Mingyu? Wajah tampan, tinggi, prestasi sekolah juga memuaskan. Nyonya Kim juga ingin melihat Mingyu bahagia, menikmati masa mudanya dengan berkencan, bukannya nelangsa seperti ini.

Nyonya Kim menghela nafas panjang sambil menatap Mingyu yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Nyonya Kim berjalan menuju bufet dan mengambil kunci mobil.

Mingyu terperangah begitu melihat kunci mobil yang disodorkan Ibunya tepat di depan mukanya. Tidak menyangka bahwa Ibunya bersimpati dengan kisah cintanya.

"Eomma, terimakasih!" seru Mingyu senang sambil memeluk Nyonya Kim.

"Kalau kalian jadi, jangan lupa perkenalkan Eomma ke Wonwoo, ya?"

Mingyu mengangguk senang. "Tentu saja Eomma, tentu saja!"

: Hi, Mingyu :

Mingyu duduk di kursi tunggu paling ujung, mengawasi Wonwoo yang duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu kedatangan. Mingyu mengenakan topi dan masker sehingga Wonwoo tidak akan mengenalinya.

Menatap Wonwoo dari kejauhan, Mingyu tersenyum tipis. Begitu cintakah ia pada pemuda Jeon tersebut hingga ia rela membolos sekolah dan memohon-mohon pada Ibunya untuk mengizinkannya memakai mobil? Begitu cintakah ia pada Wonwoo sehingga ia rela menyetir jauh-jauh sampai ke Bandara Incheon? Baru pertama kali ini Mingyu menyetir sejauh ini, ditambah ia tidak punya surat izin mengemudi. Sepanjang perjalanan tadi banyak polisi di jalan, membuat Mingyu was-was. Begitu cintakah ia pada Wonwoo?

Jawabannya, ya.

Mingyu memang sangat mencintai pemuda bernama Jeon Wonwoo itu.

Sebenarnya Mingyu tidak berniat untuk pergi ke bandara hari ini. Namun ketika Seungkwan mengiriminya pesan bahwa Seungcheol akan datang bersama kekasihnya, Mingyu tahu Wonwoo pasti akan terluka. Dan Mingyu tidak ingin Wonwoo sendirian saat ia terluka. Mingyu ingin menemani Wonwoo, agar Wonwoo bisa membagi lukanya dengan Mingyu. Meskipun luka Mingyu sendiri sudah terlalu banyak karena Wonwoo, namun Mingyu tidak berkeberatan untuk menambah lukanya lagi.

Demi Wonwoo.

Mingyu ikut mendekat ke arah kerumunan para penjemput ketika dilihatnya Wonwoo berdiri dan bergabung di kerumunan penjemput. Mingyu berdiri agak jauh dari Wonwoo, namun ia terlebih dahulu memastikan bahwa ia masih berada di jarak dengar.

Mingyu ikut memperhatikan pintu kedatangan meskipun ia tidak tahu rupa Seungcheol. Namun, ia langsung berubah awas ketika ia melihat seorang pemuda mendekati Wonwoo.

"Hei Wonwoo, sudah kubilang kan kau tak perlu datang ke bandara."

Kedua tangan Mingyu mengepal mendengar nada bicara pemuda tersebut yang sangat santai. Tentulah pemuda ini adalah mantan kekasih Wonwoo yang bernama Seungcheol.

"Hyung.. siapa dia?"

Mingyu bisa mendengar suara Wonwoo bergetar. Mingyu mengawasi ketika seseorang yang berada di samping Seungcheol mengulurkan tangannya kepada Wonwoo. Pastilah ini adalah kekasih baru Seungcheol.

"Hai, ternyata kau Wonwoo. Seungcheol banyak cerita tentangmu. Aku Yoon Jeonghan, kekasih Seungcheol."

Mingyu memperhatikan bagaimana raut wajah Wonwoo yang tadinya bahagia saat melihat Seungcheol kini berubah menjadi keruh, apalagi sejak orang bernama Yoon Jeonghan itu menyebutkan statusnya sebagai kekasih Seungcheol.

Mingyu bisa melihat bagaimana Wonwoo menahan tangisnya. Hati Mingyu sakit, sangat sangat sakit menyaksikan Wonwoo menahan tangisnya untuk orang lain. Dan sakitnya bertambah lagi ketika ia mendengar pemuda itu menangis terisak.

Tak tahan melihat Wonwoo yang menangis, Mingyu mendekati Wonwoo dan merangkul pundak Wonwoo yang berguncang-guncang karena tangisnya, membuat Wonwoo mendongakkan kepalanya dan menatap Mingyu.

"Mingyu?"

Mingyu menurunkan maskernya lalu tersenyum tipis, kedua tangannya langsung menarik tubuh Wonwoo masuk ke dalam pelukannya.

"Menangislah disini, menangislah sepuasmu." Kata Mingyu pelan.

Tinggi badan mereka yang hanya terpaut sekitar tiga senti membuat Wonwoo tidak bisa memendam kepalanya di dada Mingyu. Karena itulah, Wonwoo menyadarkan kepalanya di bahu Mingyu dan terisak di pelukan Mingyu.

Tangan kiri Mingyu berada di punggung Wonwoo, masih memeluk Wonwoo. Tangan kanannya kini bergerak menuju rambut Wonwoo, mengusap-usap rambut pemuda tersebut. Berusaha menenangkan Wonwoo.

Mingyu memejamkan matanya. Rasanya ia juga ingin menangis melihat Wonwoo. Namun ia tidak boleh menangis, ia harus kuat. Ia harus kuat agar ia juga bisa menguatkan Wonwoo yang sedang dalam titik terendahnya.

Setelah kira-kira sepuluh menit mereka berdua berada dalam posisi tersebut, akhirnya Wonwoo mengangkat wajahnya dan perlahan melepaskan diri dari pelukan Mingyu.

Hati Mingyu terasa sangat sakit melihat pemandangan di depannya. Sekalipun ia tidak pernah melihat Wonwoo menangis, namun kali ini Wonwoo benar-benar hancur.

"Aku ingin pulang." Kata Wonwoo pelan.

"Akan kuantarkan."

Mingyu menundukkan badannya untuk mengambil shopping bag yang dijatuhkan oleh Wonwoo tadi. Kemudian Mingyu meraih tangan Wonwoo, menggandengnya. Wonwoo tidak menolak. Ia diam saja dan pasrah mengikuti Mingyu.

Untung saja Mingyu tidak memarkir mobilnya terlalu jauh. Ia membukakan pintu mobil untuk Wonwoo. Mingyu berniat untuk membantu Wonwoo yang dilihatnya sedang dalam keadaan 'tidak sadar' untuk masuk ke dalam mobil, namun Wonwoo terlebih dahulu masuk ke dalam mobil dan langsung duduk diam.

Mingyu masuk ke kursi pengemudi dan langsung mengemudikan mobilnya keluar dari area bandara. Sepanjang perjalanan, mereka berdua membisu. Wonwoo masih dalam fase 'tidak sadar'nya dan Mingyu juga tidak tahu harus berkata apa.

Akhirnya Mingyu mengemudikan mobilnya memasuki area parkir sebuah coffee shop. Wonwoo yang sadar mobil sudah tidak berada di jalan raya pun akhirnya mengeluarkan suaranya.

"Kita dimana?"

"Coffee shop. Turun dulu, kita mampir ke sini." Kata Mingyu seraya turun dari mobil.

Mingyu membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Wonwoo. Bergandengan tangan, mereka berdua memasuki coffee shop yang masih sepi tersebut.

"Minum cokelat hangat ya? Cokelat bisa meredakan emosi." Tawar Mingyu pada Wonwoo ketika mereka berdua sudah duduk di salah satu sudut coffee shop.

Wonwoo mengangguk pelan. Mingyu langsung memesan dua cangkir cokelat hangat kepada pelayan, kemudian menatap Wonwoo. Keduanya sama-sama diam.

"Mingyu, kenapa kau ada di bandara?" tanya Wonwoo pelan, memecahkan keheningan di antara mereka.

Mingyu tersenyum tipis. "Aku tidak ingin kau sendirian."

"Maafkan aku."

"Maaf? Untuk apa?" tanya Mingyu.

"Karena mengabaikanmu selama ini." Jawab Wonwoo sambil menundukkan kepalanya.

"Mengabaikan aku?" tanya Mingyu tak mengerti.

Wonwoo tidak menjawab, ia tetap menundukkan kepalanya dan Mingyu mendengar Wonwoo menggumamkan permohonan maaf lagi.

"Hei, tatap aku." Kata Mingyu, tidak suka jika harus melihat Wonwoo bersedih lagi. Apalagi jika penyebabnya adalah Mingyu.

Perlahan, Wonwoo mengangkat kepalanya. Tatapan matanya sayu, namun ia memandang Mingyu dengan penuh arti.

"Aku tahu, sejak awal kita bertemu kau selalu mengikutiku. Membayangiku kemana pun aku pergi." Kata Wonwoo.

Mingyu terkesiap. Matanya membulat, kaget. Ia tidak menyangka bahwa Wonwoo mengetahui tingkah lakunya. Mingyu memejamkan matanya kesal. Dalam hati, Mingyu mengutuk dirinya sendiri. Pastilah Wonwoo menganggapnya orang aneh.

Baru saja Mingyu akan membuka mulutnya, seorang pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Setelah mengucapkan terimakasih, kemudian Mingyu memberanikan diri untuk menatap Wonwoo yang sedang menyesap cokelat hangatnya.

"Maafkan aku." Kata Mingyu akhirnya.

Wonwoo meletakkan cangkirnya, kemudian tersenyum tipis. Senyum pertama Wonwoo yang dilihat Mingyu hari ini.

"Untuk apa? Aku tidak keberatan, kok. Kau menyukaiku kan?" tembak Wonwoo.

DEG!

Jantung Mingyu langsung berdegup kencang, tidak tahu harus menjawab apa. Diturunkannya pandangannya, yang tadinya menatap Wonwoo, kini beralih menatap cokelat hangatnya.

"Kalau kau tidak menyukaiku, mana mungkin kau mau datang ke bandara." Kata Wonwoo lagi. "Kalau kau tidak menyukaiku, mana mungkin kau terus mengikutiku kemana-mana." Lanjut Wonwoo, kali ini sebuah senyum kembali terukir di bibirnya.

Mingyu memberanikan diri. Ia mengepalkan kedua tangannya, berusaha memberikan semangat pada dirinya sendiri. Ia harus mengatakannya sekarang. Ia tidak boleh lagi menjadi pengecut. Berkenalan dan berteman saja tidak cukup, Mingyu harus maju lebih dekat lagi.

Mingyu sudah menghabiskan dua tahun menjadi pengecut, dan ia tidak bisa menunda-nunda lagi. Sekarang, atau tidak sama sekali.

"Jeon Wonwoo." Panggil Mingyu.

"Ya?"

"Kau benar. Aku memang menyukaimu. Awalnya aku optimis karena dari pengamatanku, kau tidak memiliki kekasih. Namun semuanya berubah saat aku mengetahui bahwa kau masih mencintai mantan kekasihmu. Saat itu aku ingin menyerah, tapi aku tidak bisa menyerah. Aku harus memperjuangkan cintaku, kan? Dan sekarang, aku akan memperjuangkannya." Kata Mingyu.

Mingyu meraih tangan Wonwoo di atas meja dan mengenggamnya erat.

"Jeon Wonwoo, aku menyukaimu. Aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu. Dan seperti yang kau tahu, aku sudah mengamatimu selama ini. Namun sayang, aku pengecut. Baru berani berkenalan denganmu."

Mingyu menarik nafas panjang.

"Jeon Wonwoo, tolong lihat aku." Pinta Mingyu. "Coba denganku, ya? Cobalah lupakan mantan kekasihmu dan cobalah denganku. Tidak perlu terburu-buru, kita punya banyak waktu. Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal. Tidak usah berpacaran dulu, pendekatan dulu saja. Kau mau kan?"

Mingyu terdiam sebentar.

"Wonwoo, bisakah kau menyukaiku? Setidaknya, bisakah kau mencobanya?"

: Hi, Mingyu :

"Wonwoo, bisakah kau menyukaiku? Setidaknya, bisakah kau mencobanya?"

Ungkapan hati Mingyu itu sedikit mengobati luka di hati Wonwoo. Wonwoo tidak memungkiri jika ia juga tertarik pada pemuda jangkung tersebut, namun tak pernah sekalipun ia memiliki perasaan lebih pada Mingyu karena hatinya sepenuhnya sudah dimiliki oleh Choi Seungcheol.

Namun Wonwoo juga sadar, Seungcheol sudah tidak mungkin diperjuangkan. Hatinya sudah terlalu sakit karena Seungcheol. Wonwoo sadar bahwa selama ini ia sudah bertindak bodoh. Wonwoo sadar selama ini ia sudah menyakiti dirinya sendiri untuk hal yang semu. Untuk apa menyukai orang yang sudah membuangmu? Dan untuk apa menyukai orang yang sudah menjadi milik orang lain? Dan untuk apa menyukai si brengsek Choi Seungcheol itu?

Wonwoo benar-benar merutuki dirinya sendiri.

Dan kini di depannya ada seorang pemuda yang mengharapkan cintanya. Seorang pemuda yang begitu gigih memperjuangkan cintanya. Mana bisa Wonwoo menolaknya, dan menghancurkan semua harapan pemuda itu?

Lagipula, benar kata Mingyu. Ia bisa mencoba dulu. Koreksi, mereka bisa mencoba dulu. Ia dan Mingyu bisa mencoba untuk saling mengenal. Dan Mingyu tidak memaksa, Mingyu hanya meminta pada Wonwoo untuk mencoba menyukainya.

Itu bukan hal yang berat, kan?

Dan akhirnya, Wonwoo menganggukkan kepalanya. Membuat pemuda di depannya tersenyum lebar dan meremas tangannya, kemudian berkali-kali mengucapkan terimakasih.

Dalam hati, Wonwoo merasa harusnya ialah yang harus berterimakasih pada Mingyu. Pemuda itu ada di sampingnya saat ia sedang hancur. Ralat, pemuda itu selalu ada di sampingnya. Hanya saja Wonwoo yang tidak pernah mempedulikannya. Dan sekarang di saat ia patah hati, pemuda itu akan membantunya untuk menyembuhkan hatinya.

"Ya, kita akan mencobanya. Kita akan mencobanya, Mingyu." Kata Wonwoo pada akhirnya.

: Hi, Mingyu :

Keesokan harinya, Mingyu tidak lagi bersembunyi di balik pagar untuk mengintai kedatangan Wonwoo. Kali ini, Mingyu sudah stand by di lobi sekolah untuk menyambut Wonwoo.

Ketika dilihatnya mobil Wonwoo memasuki area sekolah, Mingyu tersenyum senang dan langsung bersiap. Mobil Wonwoo berhenti tepat di depannya, dan dengan gentlenya Mingyu membukakan pintu mobil Wonwoo.

"Terimakasih, Mingyu." Kata Wonwoo.

Seungkwan yang duduk di kursi depan membuka kaca jendelanya dan mengacungkan kedua jempolnya pada Mingyu.

"Sukses, hyung!"

Mingyu balas mengacungkan kedua jempolnya pada Seungkwan. Mobil Wonwoo pun melaju pergi, dan Mingyu mengulurkan tangannya pada Wonwoo.

"Apa?" tanya Wonwoo, pura-pura tidak tahu.

"Jangan membuatku gemas ya!" seru Mingyu sambil meraih tangan Wonwoo dan mengenggamnya.

Mingyu senang ketika Wonwoo tidak menolak bergandengan tangan dengannya. Meskipun mereka masih dalam tahap pendekatan dan saling mengenal, Mingyu tidak mau bersikap jaim lagi. Ia harus bersikap lebih agresif. Jika ia bersikap jaim, ia takut pendekatannya akan memakan waktu lama. Mingyu tidak mau lama-lama karena ia bertekad untuk menjadikan pemuda Jeon itu miliknya sesegera mungkin.

"Tapi kita di sekolah, kau tidak malu?" tanya Wonwoo.

Mingyu menyadari maksud pertanyaan Wonwoo. Sedari tadi, banyak siswa yang memperhatikan mereka dan berbisik-bisik. Bahkan ada yang terang-terangan menyuiti Mingyu dan Wonwoo. Namun Mingyu sama sekali tidak berkeberatan, malah ia merasa bangga.

Mingyu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Tidak. Aku malah bangga, bisa menggandeng seorang Jeon Wonwoo."

Wonwoo meninju lengan Mingyu pelan. "Dasar kau."

"Ngomong-ngomong, latihan Orion dimulai hari ini. Kau ikut, kan?" tanya Mingyu, teringat akan reminder yang diberikan Hoshi di group Line.

Wonwoo mengangguk. "Tentu saja. Untung saja jadwal latihannya tidak bentrok dengan jadwal les gitarku." Kata Wonwoo.

Mingyu meringis. Sebenarnya, ia memaksa Hoshi untuk mengatur jadwal latihan agar tidak bentrok dengan jadwal les gitar Wonwoo. Jadwal awal yang telah disusun Hoshi adalah latihan tiga kali seminggu di hari Senin, Rabu, dan Jumat. Namun kemarin Mingyu merecoki Hoshi karena Wonwoo les gitar di hari Rabu. Mingyu memaksa Hoshi untuk mengubah harinya menjadi hari Kamis, tanpa mengungkapkan alasan yang sebenarnya.

"Iya, untung saja ya." Mingyu menimpali.

"Aku ingin melihatmu menari Glass Bead lagi." Celetuk Wonwoo.

Mata Mingyu melotot. "Ya!" serunya malu.

Wonwoo tertawa melihat reaksi Mingyu. "Kenapa? Lucu kok."

Mingyu menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, berusaha menghilangkan memori memalukan itu.

"Jangan diingat lagi pokoknya. Aku malu!"

Mereka berdua berhenti di depan kelas Wonwoo. Mingyu menatap Wonwoo dan tersenyum.

"Selamat belajar, Wonwoo!" ucap Mingyu.

"Nanti makan siang bersama, mau tidak?" tanya Wonwoo.

Mingyu tertawa mendengar pertanyaan Wonwoo. "Kau bercanda? Tentu saja! Nanti kujemput di kelas, kita ke kantin bersama ya!"

Wonwoo mengangguk dan tersenyum. "Baiklah, sampai bertemu nanti!"

Mingyu melambaikan tangannya, lalu berlari kecil menuju kelasnya sendiri. Ia langsung meletakkan tasnya dan menghampiri Hoshi yang tumben saja sendirian, tidak ada kekasihnya Jihoon.

"Hosh, kau tidak akan percaya ini!"

Hoshi menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Apakah ini ada hubungannya dengan kau yang memaksaku untuk mengubah jadwal latihan?"

Mingyu tersenyum lebar. "Tentu saja!"

Hoshi yang awalnya sebal kini malah jadi tertarik dan penasaran. "Jadi benar ada hubungannya dengan Jeon Wonwoo? Ada perkembangan?"

Mingyu mengangguk semangat, kemudian ia menceritakan semua yang terjadi kemarin. Seusai Mingyu bercerita, Hoshi langsung bertepuk tangan.

"Wah wah wah, akhirnya kau bergerak cepat juga." Puji Hoshi. "Kuakui tindakanmu tepat. Kau datang di saat Wonwoo sedang hancur, jadi ia lebih mudah menerimamu."

"Kuharap ia juga akan menyukaiku." Harap Mingyu.

"Dengan kelakuanmu yang mendadak agresif begini? Tentu saja dia akan menyukaimu!" seru Hoshi, diam-diam terpikir di kepalanya untuk membuat special performance di showcase Orion dengan Mingyu dan Wonwoo sebagai penari utamanya.

: Hi, Mingyu :

"Kau berpacaran dengan Kim Mingyu?" tanya Vernon langsung ketika bel istirahat berbunyi.

Wonwoo menggeleng. "Tidak, kok."

"Tadi pagi kau bergandengan tangan dengannya. Apa kau sudah move on dari Seungcheol hyung?"

Vernon adalah sahabat dekat Wonwoo, sehingga jelas saja Vernon tahu segalanya tentang Seungcheol. Vernon juga lah yang menjadi saksi hidup – selain Seungkwan – semua tindakan bodoh Wonwoo yang dilakukannya demi Seungcheol.

Wonwoo yang sedang membereskan alat tulisnya langsung berhenti begitu mendengar nama Seungcheol disebutkan.

"Aku –"

"Wonwoo." Panggil sebuah suara.

Perkataan Wonwoo terputus dengan suara Mingyu yang memanggilnya. Wonwoo bangkit berdiri dan menatap Vernon.

"Akan kuceritakan padamu nanti."

Wonwoo menghampiri Mingyu yang berdiri di ambang pintu kelasnya, dan kali ini Wonwoo duluan yang menggandeng tangan Mingyu.

Semalam, Wonwoo sudah berpikir. Ia sudah memberi kesempatan pada Mingyu, dan ia tidak bisa membiarkan Mingyu berusaha sendiri. Ia tentunya juga harus berusaha kan? Berusaha untuk melupakan Seungcheol dan berusaha untuk membuka hatinya.

Mingyu tidak akan berjuang sendirian, karena Wonwoo juga akan berjuang. Mereka berdua akan sama-sama berjuang.

Sambil tersenyum, Wonwoo mengeratkan genggaman tangannya pada Mingyu.

Wonwoo siap untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya.

Bersama Mingyu.

.

.

.

END

.

.

.

.

.

.

Eh ga jadi..

.

.

.

To Be Continued aja deh

.

.

.

A/N :

Gak mungkin aku mengakhiri fic ini tanpa tokoh utama kita jadian xD

Aku senang masih ada yang inget dengan fic ini. Bagi pembaca baru, ikutin terus ya fic ini!

So, would you mind to review?