Author kena writer's block T_T
All characters belong to Hajime Isayama. Picture credit to owner. Jika ada kesamaan dalam alur dll, author tidak bermaksud menjiplak karena cerita ini asli hasil dari pemikiran author. Read and Review.
Seminggu sudah berlalu semenjak hari pertama Petra bekerja. Petra menghempaskan dirinya pada sebuah sofa putih di ruangannya. Meletakkan lengannya pada matanya untuk menutupi mata karamelnya itu. Petra tidak menyangka bahwa tugasnya sebagai sekretaris akan sebanyak ini. Apalagi perusahaan tempat Ia bekerja merupakan perusahaan ternama di kotanya. Wajar saja Petra merasa berat, karena ini adalah pekerjaan pertamanya setelah dia lulus kuliah. Rasanya kakinya sakit sekali. Memakai high heels sepanjang hari dan selalu mengikuti atasannya itu kemana pun dia pergi ( kecuali kamar mandi tentunya ). Ingin rasanya Petra melepas high heelsnya itu dan menggantinya dengan sandal jepit warna pink kesayangannya itu. Namun, tentu saja karena Ia bekerja di sebuah perusahaan besar, penampilan juga menjadi hal yang harus diperhatikan oleh para pekerjanya.
Tepat saat Petra hendak pergi ke dunia mimpinya, Petra merasakan ada yang memencet hidungnya. Petra melepaskan tangannya dari matanya, menyingkirkan apa yang memencet hidungnya, mengangkat matanya ke arah pemilik tangan secara perlahan, dan langsung bertatapan dengan mata yang memandangnya dengan dingin. Petra sontak langsung duduk tegap ketika ia menyadari bahwa orang yang mengganggu—ehm—berada di depannya ini adalah atasannya.
"Petra"
"Y-Ya?"
"Kau tahu kan kalau aku tidak akan ragu memecat siapapun yang duduk diam saja dan bermalas-malasan?"
"I-Iya. Aku tahu, Ketua." Petra menunduk malu.
Levi menghela nafas. Menatap gadis berusia 24 tahun di di depannya itu. Kemudian ia berjalan kearah pintu dan membukanya. Sebelum ia keluar, ia berkata kepada Petra.
"Kuberi kau waktu 5 menit untuk beristirahat sebentar, kau ingat kan kalau akan ada rapat sebentar lagi? Bersiaplah dan jangan sampai aku melihatmu bermalasan lagi"
Setelah berkata demikian, Levi langsung keluar dari ruangan Petra.
Petra menghela nafas lega. Untunglah Levi berbaik hati tidak langsung memecatnya bahkan memberinya waktu istirahat. Memijit pelipisnya pelan sambil menyandarkan tubuhnya kembali di sofanya, Petra berharap agar ia dapat mengerti jalan pikiran ketuanya itu.
Petra tengah hendak berjalan menuju ruang rapat ketika ia mendengar suara rekan-rekan kerjanya.
Petra memegang gagang pintu yang mengarah ke ruangan dimana rekan-rekan kerjanya berada. Petra bermaksud untuk menyapa teman-temannya itu sebentar. Ketika ia hendak membuka pintu, Petra mendengar seorang temannya—Mina berkata.
"Kau tahu sekretaris baru Ketua Levi?"
"Maksudmu Petra?" jawab suara lain yang ia kenal—Nanaba.
Mendengar namanya disebut, Petra mengurungkan niatnya membuka pintu.
"Kudengar dia mencoba menggoda Ketua, katanya sih supaya dia terlepas dari ancaman dipecat."
"Bahkan katanya dia mencoba merayu Ketua untuk berpacaran dengannya loh."
"Ah ya! Aku juga pernah dengar dia ingin menikah dengan Ketua jadi dia bisa dapat harta warisan Ketua."
"Wah licik sekali dia. Mentang-mentang dia yang menjadi sekretaris Ketua, dia mengira dia bisa mendapatkan Ketua."
"Kau lihat tadi Ketua Levi masuk ke ruangan Petra saat dia sedang tidur? Ketua Levi bahkan tidak memarahinya. Bahkan tadi kulihat saat Ketua keluar dari sana Petra melanjutkan tidurnya."
"Hmph. Jangan khawatir. Meskipun dia yang selalu berada di sisi Ketua pada akhirnya akulah yang akan mendapatkan Ketua Levi." sebuah suara yang ia kenal—Rico.
"Benar, Rico. Kaulah yang akan memenangkan hati Presdir Levi dari perempuan jalang itu."
Obrolan itu terus berlanjut. Petra menegang sambil memegang gagang pintu. Perempuan jalang? Aku? Petra merasakan hatinya teriris. Tidak menyangka bahwa ia akan digosipkan yang tidak-tidak. Merasa tidak sanggup lagi mendengar obrolan itu, Petra melepaskan tangannya dari gagang pintu dan melangkah pergi dari tempat mengerikan itu, mengarah ke sebuah ruangan yang menjadi tujuan awalnya.
"Bagaimana dengan perusahaan YM? Kita bisa bekerja sama dengan mereka bukan?"
"Perusahaan YM itu perusahaan besar. Tapi mereka agak sulit dijangkau, apalagi tempatnya jauh di tepi kota Rose"
"Apa kita bisa menghubungi email mereka terlebih dahulu?"
Rapat masih terus berlanjut, namun gadis dengan rambut cokelat madu itu sudah tidak memperhatikan. Pikirannya melayang ke percakapan yang tidak sengaja ia dengar tadi. Rumor-rumor buruk yang terus menghantui dirinya.
Kudengar dia mencoba menggoda Ketua, katanya sih supaya dia terlepas dari ancaman dipecat
Tidak. Petra sama sekali tidak menggoda atasannya itu.
"Bahkan katanya dia mencoba merayu Ketua untuk berpacaran dengannya loh"
"Dia ingin menikah dengan Ketua jadi dia bisa dapat harta warisan Ketua"
Tuk!
Merasa ada yang menendang kakinya dibawah meja, Petra tersadar dari lamunannya. Melihat kearah sekitarnya dan mendapati Erd, Gunther, Auruo masih sibuk bertukar pendapat. Kemudian dia menyadari sepasang mata abu-abu kebiruan memandang gadis itu dengan tajam. Apa yang kau lakukan? Petra dapat membaca pandangannya itu. Petra mengangkat sudut bibirnya keatas membentuk sebuah senyuman kecil yang berarti Aku minta maaf. Laki-laki itu masih memandangnya namun pandangannya masih sama tajamnya. Kita harus bicara nanti.
Petra merasa keringat segera mengucur dijidatnya. Matilah aku
"Baiklah kita coba jalankan proyek ini. Aku tunggu laporannya di mejaku besok, Erd. Rapat selesai" Levi mengumumkan.
Jam menunjukkan pukul 9 malam dan rapat baru saja selesai. Petra benar-benar sama sekali tidak focus selama rapat. Apalagi ketika atasannya mengajaknya untuk bicara, membuatnya benar-benar kehilangan perhatiannya saat rapat. Petra dengan cepat segera merapikan berkas-berkasnya. Dia ingin cepat keluar dari ruangan ini. Lebih tepatnya ingin menghindari laki-laki yang memergokinya melamun tadi. Tepat saat Petra hendak menarik gagang pintu sebuah suara yang tidak ingin dia dengar saat ini memanggilnya.
"Petra"
Petra menghentikan aksi kaburnya. Menutup matanya dan mengambil nafas sebentar lalu berbalik menghadap orang yang memanggilnya.
"Ya, Ketua?"
"Tetaplah disini sebentar."
Levi menatap mata Petra dengan dalam membuat gadis itu merasa tidak nyaman. Erd yang menyadari atmosfer itu langsung menarik Gunther dan Auruo dan pamit keluar. Levi hanya mengangguk namun masih menatap kearah mata Petra. Ketika melewati Petra, Erd memberikan senyum dengan maksud menyemangati gadis itu dan segera keluar bersama Gunther dan Auruo. Setelah pintu tertutup, Levi segera melangkah maju mendekati gadis itu. Petra melangkah mundur sampai punggungnya menabrak pintu. Kini, Levi berdiri persis di depannya. Petra merasakan detak jantungnya lebih cepat dari biasanya.
"Katakan padaku apa yang tadi kita bahas di rapat."
"Eh?"
Petra langsung menyesal tidak memperhatikan jalannya rapat. Petra menundukkan kepalanya dan pipinya memerah malu. Menyesali tindakannya yang tidak profesional. Petra menggigit bibir bawahnya. Tidak tahu harus berkata apa.
Buk!
Kedua tangan Levi berada di sisi kanan dan kiri kepala Petra, mengurung gadis yang tengah ketakutan itu. "Kau tidak tahu?" tanya Levi. Petra menggeleng pelan. Rasanya dia ingin ada seseorang yang datang dan berteriak 'Kebakaran!' agar perhatian Levi segera teralihkan. Namun hal itu tidak kunjung datang, membuat Petra merasa bodoh dengan pikiran konyolnya itu. Petra merasakan ada tangan yang mengangkat dagunya dengan keras.
"Kenapa kau tidak tahu!?" Levi menaikkan nadanya. Petra terkejut dan tidak sengaja menjatuhkan berkas-berkas yang semula berada di kedua tangannya.
"Ma-maaf" Petra mencoba untuk mengambil kembali berkas-berkasnya, namun tangannya langsung tertahan oleh kedua tangan Levi. Levi semakin mendekatkan dirinya pada Petra. Memajukan kepalanya semakin dekat dengan wajah Petra.
"Kira-kira hukuman apa yang cocok kuberikan padamu, hm?" Petra dapat merasakan nafas Levi di wajahnya. Membuat wajah gadis itu menjadi merah padam. Jarak diantara mereka hanya tinggal beberapa centimeter. Petra tahu jika ia memajukan kepalanya sedikit saja, bibir peachnya itu akan langsung bersentuhan dengan bibir Levi. Levi terlihat tenang bahkan menikmati melihat gadis didepannya itu tengah bingung harus berbuat apa. Levi dapat menghirup aroma bedak bayi dalam jarak sedekat ini.
"K-Ketua"
"Hm?"
"Tolong hentikan"
"Hentikan apa?"
Hentikan apa? Kau terlalu dekat denganku, Ketua. Bukankah ini sudah jelas? Ingin rasanya Petra mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya. Levi yang sepertinya dapat membaca pikiran Petra langsung melepaskan dirinya dari Petra. Petra segera menghela nafas yang entah sejak kapan ia tahan. Levi mengambil tas backpacknya dan memakainya hanya di bahu kanannya. Kemudian, dia mengambil mantel hitamnya lalu berjalan menuju pintu. Petra yang tahu Levi akan keluar segera menyingkir dari pintu. Namun, Levi tidak membuka pintu. Melainkan ia hanya terdiam tampak memikirkan sesuatu.
"Ketu—"
"Mau minum kopi bersamaku besok?"
"Eh?" Apa ketuanya ini sedang mengajaknya kencan? Petra bertanya dalam hatinya. Ada apa ini tiba-tiba atasannya mengajaknya minum kopi. Bagaimana kalau ternyata sang atasan akan memecatnya? Atau malah menyatakan perasaannya? Petra merasakan pipinya kembali memerah. Apa yang kupikirkan? Petra menampar pipinya.
Sepertinya sang atasan tidak mengetahui pikiran sang sekretaris.
"Kau jangan berpikir macam-macam. Aku hanya akan membahas kembali apa yang tadi di rapat."
Oh. Dia tahu.
"B-Baiklah. Aku mengerti"
"Besok jam 8 di café seberang gedung. Jangan sampai terlambat"
Dengan perkataan demikian sang atasan keluar dari ruangan. Langkah kakinya terdengar menjauh. Petra yang merasa lemas langsung terduduk di lantai. Mengacak rambutnya pelan dan memikirkan semua hal yang terjadi hari ini. Aku ini kenapa sih?
Wanita yang bergosip itu mulutnya lebih tajam dari pisau ya haha. Author mau bilang terima kasih kepada kalian yang sudah favorite, follow, dan review cerita ini. Author tidak menyangka masih ada yang baca loh, padahal sepertinya fanbase Rivetra mulai sepi hiks T_T.
Author mau kasih shoutout kepada kalian yang review : Ellena Weasley, Tateishi Nachika, MarrySykess. Terima kasih atas review kalian pada chapter 1! Author harap bisa berkembang lagi dalam menulis. XOXO.
Thanks for reading! See you in chapter 3!
