Dead Leaves

Kim Taehyung x Jung Hoseok

Jungkook ( Jung Jungkook)

Park Jimin

With Other Cast

BxB! Pshycology, drama

'Hosikki'

Preview :

"Sekarang aku ingin kau tidur, aku tidak mau anak – anak mogok pergi ke pemeriksaan gigi rutin karena dokter gigi yang tampan ini menjadi zombie dengan lingkaran hitam dimatanya." Hoseok mengecup kening Taehyung lama, mencoba memberikan ketenangan untuk pemuda yang dicintainya ini. Hoseok tidak ingin jika Taehyung kembali bersedih memikirkan tentang kehidupannya. Bukannya tidak boleh, hanya saja Hoseok terlalu menyayangi Taehyung.

Taehyung terkekeh pelan sebelum mengeratkan pelukannya pada Hoseok setelah sebelumnya meninju kecil dada bidang Hoseok, "kau terlalu berlebihan hyung".

Hoseok tersenyum kecil, lalu memejamkan matanya. Berusaja mengenyahkan rasa pening dikepalanya dan mencoba untuk terlelap kembali; walaupun membutuhkan waktu yang cukup lama.

...

Chapter 2

Kelabu masih saja bergumul dilangit. Seolah menertawakan setiap langkah manusia yang pontang panting mencari tempat berteduh dan berlindung dari hujaman air hujan. Jalanan sudah basah pun ranting pohon dan kawan – kawannya jauh lebih dulu mengigil daripada para manusia yang sedang berlalu lalang. Tidak terlalu deras namun cukup untuk membuat baju basah kuyup jika berjalan terlalu lama diluar.

Segelas caramel macchiato terbengkalai ditengah meja bulat hampir satu jam lamanya. Sang pemilik pun agaknya masih belum berniat menegaknya barang sedikit. Pikirannya menerawang, entah ingin menyeberangi berapa lapis kelabu untuk sampai pada pemikiran statis sang pemilik macchiato. Pemuda yang memiliki surai coklat gelap itu tak lelah untuk terus menopang dagu menggunakan sebelah tangannya. Pemuda itu bergumam entah untuk yang keberapa kali; pemuda itu sudah tidak lagi menghitung tentang berapa banyak benaknya terus saja mengulang kalimat yang sama mengenai segala hal yang mengganggu pikirannya. Jujur, otaknya masih terlalu lelah untuk berproses. Pemuda itu butuh istirahat, tapi tidak bisa.

Netranya butuh untuk melihat objek lain selain meja stainless steel dihadapannya, jadi pemuda itu mengalihkan pandangannya pada kaca coffee shop yang ia singgahi. Menatap rintikan kecil air langit yang turun membasahi permukaan bumi. Membawa hawa sejuk yang menyenangkan untuk merelaksasi saraf – sarafnya yang menegang; setidaknya selama beberapa saat. Namun ketika fokusnya menangkap peragaian sosok pemuda yang berdiri diseberang jalan, saraf – sarafnya kembali menegang, "Jungkook" gumamnya pelan.

Entahlah, mungkin Tuhan masih betah mempermainkan logikanya. Jadi ikuti saja alurnya.

Hoseok mensyukuri refleknya bekerja dengan baik. Pemuda itu bergegas keluar dari coffee shop setelah sebelumnya menyambar payung bening disamping pintu coffee shop –Hoseok menghampiri Jungkook, karena dia peduli. Hoseok peduli dengan adiknya, walaupun Jungkook hanya menganggapnya angin lalu.

Sang pemilik nama hanya diam, telapak tangannya yang mengepal masih setia memegangi tali strap ransel warna merah maroon miliknya, sebelum sebuah kata yang mutlak keluar dari bibir mungilnya, "Pergi". Yang lebih tua menghela nafas beratnya; ia tahu jawaban inilah yang akan keluar sebagai balasan atas sapaan basa – basinya.

"jangan pernah muncul dihadapanku lagi, aku tidak mau melihatmu"

Katakan Hoseok sudah gila karena ia malah tersenyum atas apa yang didengarnya dari adik kandungnya sendiri. Sehina itukah dirinya dimata Jungkook, serendah itukah reputasinya dimata Jungkook hingga ia tidak mau menerimanya sebagai kakak ? Ucapkan terimakasih kepada Tuhan karena masih memberikan Hoseok sebuah topeng yang digunakan sekarang.

"Jungkook, kita harus bicara. Sikapmu sudah tida–"

"berhenti memanggil namaku!"

"kau yang harusnya berhenti bersikap seolah aku ini adalah barang paling menjijikkan didunia, Jungkook!" Hoseok melemparkan payung yang sedari tadi berada dalam genggamannya; mengurungkan niatnya untuk melindungi tubuh Jungkook dari air hujan lebih lama. Dia tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Hoseok hanya ingin melepaskan semuanya. Penjelasan, emosi, kesedihan, airmata. Semuanya. Hoseok hanya ingin semuanya terselesaikan dan tidak ada lagi salah paham antara dirinya dan Jungkook. Hoseok sudah terlalu sabar untuk bisa menghadapi sikap kekanakan adiknya. Dia tahu apa yang harus dilakukannya, dia paham apa konsekuensinya.

"Dengarkan aku Jungkook, aku hanya ingin menjelaskan semuanya dan setelahnya kau boleh menganggapku seperti apa yang ada didalam pikiranmu. Kumohon"

Jungkook tertawa sarkatis. Menghempaskan kasar telapak tangannya yang sedari tadi kebas karena terlalu erat menggenggam tali strap ranselnya. Jika boleh jujur, Jungkook ingin sekali saja melayangkan bogem mentah pada lelaki dihadapannya ini, tapi Jungkook masih tahu etika, sayang sekali.

"Semuanya sudah jelas dan aku tidak butuh penjelasan tambahan darimu, Jung Hoseok"

"Berhenti menatap kakakmu dengan tatapan tidak sopan seperti itu, Ayah dan ibu tidak pernah mengajarkan kita seperti itu, kau sudah berubah Jungkook!"

"ayah dan ibu ? Kau bilang ayah dan ibu ? Kau masih berani menyebutkan ayah dan ibu dihadapanku setelah apa yang telah kau lakukan pada mereka ? kau ini sebenarnya apa Jung Hoseok."

Hoseok terdiam beberapa saat kemudian mengusap kasar wajahnya yang basah dengan air hujan. Nyaris saja Hoseok lepas kendali dan menampar wajah adiknya ini; benar – benar nyaris terjadi jika saja Jungkook tidak mendorong Hoseok dengan kuat dan kemudian berlari menjauhi Hoseok dengan mata yang memerah –Jungkook menangis, dan Hoseok menyesali itu. "Jungkook, kau tidak tahu satu hal".

..

"Hyung, kau baik – baik saja ? kenapa pucat sekali, dan astaga kenapa basah kuyup begini ?" Taehyung bergegas menghampiri Hoseok yang barusaja masuk kedalam kamar. Seluruh badannya basah, bibirnya membiru dan suhu tubuhnya tinggi. Hoseok hanya tersenyum sambil bergumam kalimat 'tidak apa – apa' pada kekasihnya lalu bergegas menuju kekamar mandi.

Sebenarnya semuanya, BOHONG !

Hoseok tidak dalam keadaan baik – baik saja. Pikirannya kacau, rasa bersalahnya semakin besar saja mengingat dirinya nyaris melepas amarahnya pada keluarga satu – satunya, adik laki – lakinya. Kepalanya yang sudah berdenyut nyeri sejak beberapa hari lalu semakin terasa sakit. Tengkuknya terasa pegal dan badannya serasa remuk. Tetapi hatinya terasa lebih sakit diperlakukan seperti itu oleh adiknya sendiri.

Hoseok menyalakan shower, membiarkan air yang keluar dari shower meluruhkan satu persatu masalah yang sedang bersarang dan enggan pergi dari dalam benaknya; inginnya seperti itu, tapi sepertinya shower pun enggan untuk membantu mendinginkan kepala Hoseok yang sedang penuh sesak dengan masalah. Matanya terpejam, meresapi setiap bulir air dingin yang menyapu permukaan kulitnya.

"hyung, apa terjadi sesuatu ? kenapa lama sekali dikamar mandi" suara Taehyung membuatnya kembali membuka matanya setelah terpejam cukup lama. Sudah berapa lama ia berada dalam kamar mandi hingga kekasihnya itu mau repot – repot memanggilnya, oh, pasti sudah cukup lama.

Hoseok keluar dari kamar mandi setelah tiga puluh menit berada dibawah guyuran shower dingin. Kulitnya semakin pucat dan bibirnya semakin biru. Taehyung yang melihat keadaan Hoseok spontan saja kelabakan. Taehyung itu sudah terlanjur mengenal Hoseok luar dan dalam, jika sudah seperti ini pasti telah terjadi sesuatu dengan Hoseok.

"Kita pergi ke dokter dan setelah hyung sembuh, hyung harus menceritakan apa yang terjadi hari ini" kalimat Taehyung yang ini mutlak dan sepertinya Taehyung sama sekali tidak menerima sebuah penolakan. Taehyung hendak berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil jaket tebal milik Hoseok, namun langkahnya terhenti ketika suara parau Hoseok terdengar menyapa telinganya, "aku nyaris memukulnya, Tae. Aku benar – benar kakak yang tidak berguna, kan ?", Hoseok tertawa sarkatis sebelum melanjutkan ucapannya, "kakak macam apa yang tega dan nyaris memukul adiknya sendiri ? padahal adiknya sedang rapuh, seharusnya aku memeluknya, mengusap punggung dan rambutnya, menghapus air matanya, tapi apa yang kulakukan ? Ah, ternyata aku sudah gila, ya","seharusnya aku tidak perlu memaksa Ayah dan Ibu hadir dalam pesta kelulusanku di Beijing, ya, benar, seharusnya tidak, dan seharusnya kecelakaan pesawat itu tidak pernah terjadi. Seharusnya aku saja yang pulang ke Korea dan menggabungnya dengan pesta ulang tahun Jungkook, sekaligus membawakan kado yang dipesannya jauh – jauh hari sebelum hari ulang tahunnya, meniup lilin dan memotong kue ulang tahun bersama dengan Jungkook dan ayah ibu juga, seharusnya Jungkook mendapatkan kado yang indah dari ku, tapi aku malah memberinya kado yang sangat buruk, aku tidak tahu lagi Taehyung, aku yang salah Tae, aku ini kakak yang bu–"

"berhenti berbicara seolah kau itu penyebab semuanya hyung!" Taehyung tidak sengaja membentak, pemuda itu hanya terlalu muak melihat drama picisan yang dipertontonkan untuknya. Taehyung benci harus merasa iba karena kekasihnya itu selalu menyalahkan dirinya sendiri. Tidak, Taehyung bukannya tidak menyayangi Hoseok, hanya saja Taehyung tahu Hoseok sudah terlalu lama menyimpan semuanya sendiri, menyalahkan dirinya sendiri, menganggap dirinya sendiri sebagai pecundang yang paling tersohor didunia. Taehyung benci itu.

Taehyung mengusap bahu Hoseok yang bergetar. Taehyung tahu Hoseok menangis, dan mungkin ini adalah puncak dari segalanya. Hoseok harus meluruskan kesalahpahaman dengan adiknya segera, atau tidak sama sekali. Taehyung terus saja menggumamkan kalimat penenang untuk Hoseok, Taehyung berkata jika semua akan baik – baik saja walaupun Taehyung sendiri tidak yakin pada ucapannya sendiri. Taehyung sebenarnya sangsi jika melihat hubungan Hoseok dan Jungkook yang sebegini renggangnya. Dan Taehyung menyesal karena tidak bisa membantu banyak untuk kali ini. Yang bisa menyelesaikan hanyalah mereka berdua; Jungkook dan Hoseok, bukan Taehyung atau pun siapa – siapa. Ya, Hanya kakak beradik yang tengah berperang batin itu.

Taehyung bersikeras menyuruh Hoseok untuk istirahat sejenak dan akhirnya Hoseok tertidur hanya dalam jangka waktu lima belas menit Taehyung mengusap kepalanya. Taehyung menelpon Seokjin untuk datang keapartemennya dan memeriksa keadaan Hoseok setelah Taehyung memastikan bahwa Hoseok benar – benar butuh dokter untuk memberikan resep obat yang tepat untuknya.

Pukul enam lebih dua puluh delapan, Taehyung masuk kedalam kamar dengan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas susu untuk Hoseok. Setelah memastikan suhu tubuh Hoseok kembali normal, Taehyung mengusap pipi Hoseok yang semakin tirus dengan pelan, "Hyung, bangun sebentar. Hyung harus makan malam, lalu minum obat". Hoseok menggeleng pelan lalu kembali menarik selimutnya –kembali tidur.

"Hyung tidak menghargai ku ya ? aku sudah berusaha membuatkanmu bubur dan pergi ke apotik hujan – hujan begini dan hyung tidak mau makan juga minum obat ? menyebalkan sekali" Taehyung tidak benar – benar kesal, hanya memancing Hoseok untuk bangun dan setidaknya mengisi perutnya yang sedari siang tidak terisi sama sekali; Hoseok terlalu banyak mengkonsumsi kopi akhir – akhir ini dan itu tidak baik untuk kesehatan Hoseok.

"Nah, begitu, hyung harus makan dan minum obat, aku tidak mau hyung sakit seperti ini." Taehyung membantu Hoseok untuk duduk kemudian meraih semangkuk bubur buatannya untuk menyuapi Hoseok. "aku sudah menelepon Yoongi hyung dan bilang padanya kalau hyung tidak bisa masuk kerja beberapa hari karena sakit dan Yoongi hyung bilang tidak apa – apa, dan aku juga mengambil cuti untuk menjagamu sampai benar – benar sembuh, hyung" dan Hoseok hanya membalasnya dengan anggukan lemah. "Hyung juga harus berhenti minum kopi banyak – banyak, Seokjin bilang itu sangat tidak baik untukmu, mengingat hyung punya riwayat penyakit lambung, dan berhenti menyibukkan diri dirumah sakit ketika bisa menyimpan pekerjaan untuk besok, hyung terlalu memforsir, dan jujur aku tidak suka itu."

"Sayang, kenapa cerewet sekali akhir – akhir ini, aku sedang sakit dan kau malah mengomeliku" Taehyung yang mendengar celetukan Hoseok berubah berbinar. Setidaknya raut wajahnya tidak seburuk tadi siang ketika Hoseok barusaja masuk kedalam kamar.

"Aku mengkhawatirkanmu hyung, astaga, kepalaku rasanya hampir pecah ketika melihatmu pulang larut malam dan pergi pagi – pagi sekali, lebih parahnya lagi ketika mendengar hyung mengeluh sakit kepala tapi menolak untuk pergi kedokter, sungguh." Taehyung menggerutu dan Hoseok hanya tersenyum simpul.

"Terima kasih Tae, terima kasih sudah sabar mengurusku. Aku tidak akan mengecewakanmu kali ini" Hoseok bergumam sambil mengusak rambut lembut kekasihnya itu setelah Taehyung menjawabnya dengan sederet kalimat pasti, "Tentusaja hyung, kau tidak boleh mengecewakanku."

..

Angin musim gugur itu menyenangkan, tapi entah sejak kapan sekarang terasa menjadi sangat menyebalkan bagi seorang pemuda yang sedang berdiri dibalkon kamarnya dilantai dua. Langit sedang gelap dan bintang pun tak hadir satupun menyapa pemuda kelinci itu. Wajahnya tertunduk, menyembunyikan guratan kecewa yang terpancar jelas dari raut wajahnya. Pemuda itu kecewa pada banyak hal yang tidak dimengertinya. Apapun itu, pemuda itu benci untuk mengatakannya.

Tangannya mengepal erat lalu menghantam besi pembatas balkon yang keras hingga menimbulkan bunyi 'tang' pada permukaannya. Pemuda mengerang tertahan, ingin rasanya ia berlari menjauh dari semuanya, melepaskan beban yang dihasilkan oleh sebuah tanda tanya besar yang tertanam dibenaknya, pemuda itu hanya merasa putus asa. Mau lari kemanapun, tetap saja pertanyaan itu terus saja menghantuinya. Ia ingin berteriak sekencang – kencangnya, ingin menangis sejadinya, tapi tidak bisa. Tidak ada alasan apapun, hanya tidak bisa.

Ketukan pintu kamar pemuda itu membuyarkan lamunannya. Ia segera mengusap wajahnya dengan kasar lalu bergegas menuju pintu kamarnya. Jika dipikir – pikir, pemuda itu cocok sekali jika menjadi seorang pemain drama musikal, pandai sekali berakting seolah semuanya baik – baik saja.

Bodoh ! Tersenyum saja sampai bibirmu tidak bisa lagi tersenyum, nak.

"Kookie, ayo makan, mama sudah siapkan makan malam untukmu, hyungmu juga sudah menunggu dimeja makan, ayo" wanita paruh baya itu menepuk bahu Jungkook, dan hanya dibalas anggukan oleh Jungkook atas ajakan sang mama –angkatnya.

"Ku pikir Jungkook sedang tidur tadi, jadi aku tidak jadi masuk kedalam kamarmu" yang berbicara saat ini juga pembohong ulung.

Nak, kenapa hidup kalian penuh dengan topeng ? apa topeng terlalu murah untuk kalian tukar dengan kebahagiaan ?

Omong – omong, Jimin –kakak angkat Jungkook sebenarnya tahu apa yang sedang terjadi pada keluarga Jungkook. Ia tahu bagaimana hubungan Jungkook dengan kakak kandungnya, bahkan semuanya. Ketika Jungkook meninju dengan kasar besi pembatas balkon kamarnya, ketika Jungkook mengusap kasar wajahnya, ketika Jungkook menangis dalam diam, bahkan ketika Hoseok hampir saja memukul Jungkook dan juga adegan picisan yang tidak sengaja ia lihat tadi siang, Jimin tahu semuanya. Dan Jimin berhak untuk menyembunyikannya, setidaknya sampai Jungkook berbicara pada Jimin dengan sendirinya.

"aku sedang mengerjakan pr hyung, kenapa tidak masuk saja kekamarku. Biasanya kan seperti itu, benarkan, Ma ?"

"Tidak Ma, aku hanya tidak ingin menganggu pemuda yang sedang kasmaran, kulihat kemarin Kookie pulang bersama dengan Yein, ku pikir dia sedang sibuk bertukar pesan dengannya, Aduh.. Yaak, Jungkookie" Jimin mendesis ketika sebuah asparagus mendarat dihidungnya.

"Tidak Ma, Jimin hyung bohong. Dia hanya teman sekelasku"

"Teman sekelas sebentar lagi menjadi pacar, benarkan, Ma ?"

"Tidak hyung"

"Aduh, sudah. Pokoknya apapun itu, kapan – kapan kenalkan Mama pada pacar kalian, oke. Sekarang habiskan makan malam kalian setelah itu kembali kekamar dan belajar" wanita cantik itu mengusap rambut kedua anaknya dengan sayang.

Makan malam berjalan dengan tenang dan kedua pemuda itu masih tetap pada posisi masing – masing. Sibuk dengan hal – hal yang mengganggu pikiran mereka tanpa diketahui oleh sang ibu. Hingga Jungkook membuka suara pertama kali setelah makan malam usai dan hanya tersisa dirinya dan Jimin yang ada dimeja makan, "Hyung" Jungkook terlihat mempertimbangkan sesuatu. Apa ia benar – benar perlu menanyakan hal ini pada Jimin atau tidak. "Hmm ?" Jimin bergumam pelan dan mengalihkan pandangannya dari buah apel ditangannya kemudian beralih menatap Jungkook.

"Tidak jadi, hyung" Jungkook menggaruk tengkuknya. Jungkook berpikir ini tidak ada sangkut pautnya dengan Jimin, jadi dia tidak perlu membicarakannya dengan Jimin. Ya, tidak per–

"Ya, aku melihatnya tadi siang"

–lu, sepertinya perlu, karena Jimin sudah terlanjur mengetahui apa topik yang akan mereka bahas. Jungkook meletakkan jeruk yang menjadi mainnannya sedari tadi tanpa berniat untuk mengupasnya, lalu menatap Jimin dengan serius. "semuanya ?","Ya, Jungkook. Semuanya" tegas Jimin.

"Ambil jaketmu dan kita perlu bicara diluar, aku tidak mau Mama mendengar pembicaraan kita" Jimin beranjak dari duduknya lalu menghampiri Ibunya yang sedang membuat kopi untuk menemaninya menyelesaikan pekerjaannya diruang kerja. "Ma, Jimin dan Jungkook akan keluar sebentar, Jimin lupa kalau besok Jimin harus membawa satu tas penuh snack untuk acara bakti sosial dan Jimin harus membelinya sekarang, Jungkook bilang dia mau membantuku, bolehkan, Ma ?". Jimin mengangguk mengerti setelah Ibunya berucap 'tentusaja, tapi jangan pulang terlalu larut' pada keduanya.

Starbucks cafe adalah pilihan Jimin untuk menginterogasi Jungkook. Sedari tadi Jimin sudah gatal ingin berbicara banyak hal pada Jungkook, meminta kejelasan dari semua masalah yang dialaminya dan bagaimana bisa ia membenci Hoseok sebegitu dalamnya. Sepuluh menit berlalu tanpa adanya percakapan diantara keduanya. Jungkook diam, Jimin pun begitu. Membiarkan adik angkatnya itu untuk berbicara dengan sendirinya, namun sepertinya Jimin tidak sesabar itu.

"Cerita Jungkook, aku butuh penjelasan" Jungkook terdiam, kemudian menghela nafas.

"Kau sudah melihat semuanya hyung, aku yakin hyung juga tahu semuanya. Kau melihatku berdebat dengan Hoseok di gereja, dan kemudian didepan toko tadi siang. Apalagi yang perlu dijelaskan. Aku sebenarnya hanya ingin bertanya, apakah Hyung melihatku tadi siang, dan ternyata hyung melihatku. Ya sudah, semuanya sudah jelas" yang lebih muda menghela nafasnya pelan lalu menyesap macchiato miliknya.

"Jungkook bukan itu yang ingin kudengar darimu"

..

Taehyung berdiri dibalkon kamar apartement sembari memandang kelabu yang kelihatannya masih enggan untuk menyingkir dari pandangannya. Taehyung menoleh kekanan, beberapa detik kemudian menoleh kearah kiri lalu mendongak semuanya sama saja, yang ada hanyalah warna gelap dari mendung yang entah mengapa sering muncul akhir – akhir ini.

Taehyung sedang memikirkan kekasihnya. Entah mengapa rasanya rumit sekali dan senang sekali berkeliaran didalam benaknya. Taehyung ingin Hoseok meletakkan semua penatnya barang sejenak, bersandar dengan nyaman dibahu mungilnya dan bernafas teratur disampingnya. Taehyung hanya ingin Hoseok membaginya dengan Taehyung walaupun pemuda itu tahu Hoseok pasti tak akan pernah mau membebani Taehyung. Pemuda mungil itu memandang kebawah; entah apa yang menarik dari jalanan basah dibawah sana, setidaknya itu lebih baik daripada melihat kelabu yang seolah sedang mengoloknya.

Taehyung tidak ingat kapan terakhir kali melihat Hoseok tersenyum, Taehyung juga tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat kedua kakak beradik itu berbicara bersama. Inginnya Taehyung menyeret kedua kakak beradik itu ketempat yang sepi, jauh dari hiruk pikuk manusia dan kemudian berbicara dengan tenang berdua. Meluruskan semua masalah yang membuat jarak keduanya merenggang, dan juga mendepak jauh – jauh pikiran buruk tentang keduanya. Inginnya Taehyung seperti itu tapi entah mengapa sangat sulit membuat pemikiran keras kedua kakak beradik itu meleleh. Taehyung tertawa kecil sebelum kembali menatap awan – awan abu yang bergumul diatas sana. Taehyung hanya merasa, mengapa rasanya begitu picisan skenario opera yang diberikan oleh tuhan kepada kedua orang keras kepala itu ? apa tidak ada yang lebih baik dari itu semua ?

Taehyung terlalu sibuk dengan pikiran statisnya hingga pemuda mungil itu tidak menyadari Hoseok sedari tadi bersandar pada kusen pintu dan memandanginya. Hoseok terdiam cukup lama, mencoba menebak apa yang ada dalam pikiran kekasihnya itu, pasti tidak jauh – jauh dari dirinya; lebih tepatnya sikapnya. Hoseok terus memandangi Taehyung hingga pemuda itu memutuskan untuk memeluk kekasihnya dari belakang, "apa yang sedang kau pikirkan ? hmm ?", Hoseok meletakkan dagunya pada bahu Taehyung sebelum Taehyung merubah posisinya.

"sedang memikirkan menu yang sehat untuk orang sakit yang manja ini" Hoseok tersenyum samar ketika mendengar perkataan kekasihnya tanpa Taehyung ketahui. Hati Hoseok menghangat mendengarnya walaupun Hoseok tau Taehyung berbohong.

"Aku ingin makan mi udong, juga jjajangmyeon jangan lupa cola, aku juga ingin kentang go–"

"Bubur ayam dan sup ginseng ? tidak ada penolakan, setelah hyung benar – benar sembuh baru aku akan membelikan apa yang hyung inginkan." Taehyung mendengus, bukannya sebal karena Hoseok merengek banyak makanan, bukan. Tapi Taehyung masih khawatir dengan keadaan Hoseok yang kerap kali menurun drastis. "Aku ingin makan itu Taehyung, kau bilang au harus makan banyak, kan ? jadi kenapa tidak ?"

Taehyung menolak berbicara, hanya helaan nafas yang keluar sebagai jawabannya. Taehyung melepaskan tangan Hoseok yang memeluk perutnya lalu memutar tubuhnya menghadap Hoseok. Bibir Hoseok masih pucat, suhu tubuhnya juga masih terbilang tinggi. Taehyung menyentuh dahi Hoseok, memastikan bahwa suhunya sudah lebih rendah dari beberapa jam yang lalu.

Tidak tahu kenapa, Hoseok terkekeh melihat wajah serius Taehyung yang tengah memeriksa suhu tubuhnya. "pantas saja anak – anak lebih suka makan permen, alibinya supaya bisa bertemu dokter tampan ini rupanya" Hoseok menarik pinggang Taehyung untuk lebih dekat dengannya.

"tidak ada anak yang suka sakit gigi hyung, sungguh."

"setidaknya mereka selalu senang pergi ke pemeriksaan gigi rutin" Hoseok terkekeh lalu memeluk kekasihnya ketika Taehyung memukul pelan dadanya. "berhenti berbicara, aku ingin memelukmu seperti ini, rasanya nyaman sekali".

Taehyung hanya diam, tangannya tergerak untuk mengelus punggung Hoseok, rasanya sudah lama sekali Hoseok tidak berbicara banyak seperti ini. "hyung, aku menyayangimu"

"aku lebih menyayangimu, Taehyung-ah" Hoseok mengeratkan pelukannya, rasa nyaman mulai menjalar diseluruh tubuhnya. Ya, Taehyung lah yang membuatnya nyaman. Hoseok terlalu lelah hanya untuk mengingat kejadian tempo hari. Tidak tahu kenapa, hanya lelah saja.

...

"Jungkook" Taehyung melambaikan tangannya pada seorang siswa yang barusaja keluar dari gerbang gedung sekolah dan dibalas senyuman manis pemuda itu. "berminat ikut hyung keklinik ? kebetulan aku sedang membutuhkan bantuanmu, seperti biasa, pemeriksaan rutin. Kau mau, kan ?" Jungkook mengangguk antusias lalu tersenyum sebelum menjawab "tentusaja, hyung".

Tidak ada percakapan ketika mereka berdua berada didalam mobil, yang ada hanya dentuman musik yang mengalun ringan juga hembusan nafas keduanya yang entah mengapa bisa terdengar walaupun hanya samar – samar. Jungkook mengernyitkan dahinya ketika sadar bahwa Taehyung berbelok pada arah yang salah. Taehyung berbelok kearah kanan sedangkan klinik tempat Taehyung bekerja masih melewati tiga lampu lalu lintas lagi. "Hyung, ini bukan arah klinikmu hyung", Taehyung yang masih fokus menyetir menatap Jungkook sekilas sambil tersenyum samar, "Berbicara beberapa hal denganku sebentar di coffee shop tidak ada salahnya kan, Jungkook ?"

-TBC-

TBC egen pemirsah, maaf late update. Seperti biasa, idenya nyelip, hehe. Gatau dichapter ini kenapa gaje syekali. Udah tau kan kenapa Jungkook benci Hoseok ? karena Jungkook ngerasa Hoseok itu yang menyebabkan kematian orang tua mereka. Untuk keluarga baru, insyaallh dibahas dichapter depan aja yah, hihi. Maaf kalo Vhope momentnya kurang, chap depan insyaallh lebih dibanyakin lagi. Maaf kalau berantakan. Typos everywhere, bahasa acak adul TAT dan sebagainya. Hosikki juga manusia soalnya /abaikan/

Oiya, selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan, mohon maaf lahir batin ya semua.

And last, Mind to Review ?