Dead Leaves

Kim Taehyung x Jung Hoseok

Jungkook ( Jung Jungkook)

Park Jimin

With Other Cast

BxB! Pshycology, drama

'Hosikki'

Preview :

Jungkook mengernyitkan dahinya ketika sadar bahwa Taehyung berbelok pada arah yang salah. Taehyung berbelok kearah kanan sedangkan klinik tempat Taehyung bekerja masih melewati tiga lampu lalu lintas lagi. "Hyung, ini bukan arah klinikmu hyung", Taehyung yang masih fokus menyetir menatap Jungkook sekilas sambil tersenyum samar, "Berbicara beberapa hal denganku sebentar di coffee shop tidak ada salahnya kan, Jungkook ?"

...

Chapter 3

Bolehkah Jungkook menyalahkan suara daun yang berkerisik dan mengganggunya ? Bolehkah Jungkook menyalahkan angin yang berhembus semilir dan mengenai kulitnya ? atau berteriak sekencang – kencangnya pada dunia bahwa dirinya adalah manusia paling brengsek yang pernah terlahir kedunia ?

Seberapa keraspun mencoba mencari, Jungkook tak pernah mendapat jawabannya. Atau setidaknya masih belum.

Jungkook itu bodoh. Bodoh karena mengikuti begitu saja alur picisan yang dibuat Tuhan untuknya, berjalan beriringan dengan perasaan kecewa dan putus asa. Menanamkan kekecawaan secara mutlak dan membuatnya menjadi seorang pecundang yang paling menyedihkan didunia.

Rasa kecewanya terlalu mutlak.

Tapi setidaknya hatinya masih menolak; walaupun logikanya masih seburam film jaman baheula.

Entah mengapa semua terasa begitu berantakan bagi Jungkook hari ini. Konsentrasinya kacau, pun pikirannya. Perkataan Taehyung membuatnya berpikir keras. Mencerna setiap detail kalimat yang Taehyung lontarkan, juga umpatan kecil yang tak pernah keluar dari dalam hatinya. Jungkook yang brengsek, dan Jungkook yang menyedihkan; semuanya cukup jelas.

"Satu gelas milkshake untuk si Jungkook yang gemar sekali melamun." Suara didepannya menginterupsi seluruh atensinya. Itu Jimin yang barusaja berbicara, datang dan membawa makan malam untuk mereka berdua. Jungkook menggeleng kecil; berniat mengenyahkan seluruh pikirannya tentang betapa pahitnya kenyataan yang harus ia terima.

"Apa kau masih berniat untuk berpikir dengan keras jika aku mengatakan itu adalah salah satu penyebab penuaan dini, Kook-ah ?" Jimin mengambil beberapa lembar kertas dan mulai mengerjakan tugas – tugasnya yang sempat tertunda setelah memakai kacamata persegi miliknya.

"Aku tidak tahu hyung" Jungkook menghela nafas berat. Pemuda kelinci itu memang tidak tahu, atau hanya berpura – pura tidak tahu ? Well, sebenarnya dia terlalu lelah untuk berpikir dan kalimat 'tidak tahu' mungkin adalah kalimat yang tepat untuk ia berikan pada Jimin saat ini.

Jimin diam, memberikan waktu Jungkook untuk mengeluarkan kata – kata yang lebih simple untuk diucapkan kepadanya karena Jimin tahu, seberapa rumitpun kalimat yang dikeluarkan Jungkook, Jimin pasti bisa menyangkalnya.

Hening.

Hanya ada goresan pensil dan kertas yang terdengar begitu pelan dan konstan.

Juga suara deru nafas Jungkook yang sesekali terdengar sangat berat.

Jimin jenggah, mengerjakan tugas dengan orang linglung bukan ide yang bagus untuk saat ini. Jimin ingin sekali mengerti Jungkook, tapi sayangnya Jungkook itu sulit dimengerti. Ya, seperti itulah, rumit sekali. Well, kenapa diantara Jimin dan Jungkook juga ikut menjadi rumit. Seharusnya tidak, kan ?

"Jungkook, serius aku tidak suka melihatmu selalu seperti ini. Aku benci mendengar helaan nafasmu yang rasanya seperti kau tidak ikhlas untuk bernafas. Aku tahu kau berada diposisi sulit, aku sangat tahu Jungkook. Tapi kumohon–" Jimin melepas kacamatanya dan memijat pelan pangkal hidungnya. Kepalanya tiba – tiba saja terasa pening, ditambah lagi Jungkook yang terus saja menunduk sejak Jimin mendiamkannya beberapa menit lalu. "–kumohon bersikaplah dewasa. Aku tahu kondisimu Jungkook, tapi setidaknya mengertilah. Kau ini sudah dewasa Jungkook. Sembilan belas tahun itu bukan waktunya untuk bermain – main dengan ego, kau harus bisa mengalahkan logika yang salah. Cari kebenarannya, dengarkan penjelasannya. Sungguh, aku, ugh... aku tidak tahu lagi harus bicara apa padamu" Jimin mendengus kasar.

Jungkook sebenarnya tahu apa yang harus ia lakukan, hanya saja ia masih sangsi. Bagaimana tidak, kekecewaan sudah terlanjur mendarah daging, pun rasa bencinya terhadap kakak laki – lakinya yang sudah dianggap keparat itu merongrong terlalu dalam. Seandainya saja dulu kakaknya itu segera pulang dan menjelaskan semua, seadainya kakaknya itu berbicara yang sebenarnya padanya, seandainya kakaknya itu datang pada acara pemakaman kedua orang tuanya. Well, terlalu banyak kata seandainya yang pantas untuk dipertimbangkan. Tapi mau bagaimanapun, itu tidak akan pernah bisa membawa semuanya kembali seperti semula. Semuanya seakan sudah terikat kontrak paten. Menyedihkan sekali. Atau lebih tepatnya memprihatinkan ? entahlah.

"cobalah berbicara baik – baik dengan hyungmu, dengarkan semua penjelasannya. Dan berusahalah memberinya kesempatan. Jungkook dia itu–"

"dia hampir mati hyung, dan aku tidak tahu. Aku juga hampir kehilangan kakakku, dan bodohnya setelah dia lepas dari masa sekaratnya aku malah membencinya setengah mati. Apa aku ini masih pantas dianggap sebagai adiknya ?" Jimin tersentak ditempat duduknya setelah kalimatnya terpotong oleh pengakuan Jungkoo. Pemuda yang lebih tua menatap Jungkook yang sudah mulai berkaca – kaca tanpa bersuara sedikitpun.

"beberapa hari lalu aku bertemu dengan Taehyung hyung, dia memberitahu semuanya padaku, bahkan dari nol sampai sepuluh tanpa terkecuali. Taehyung hyung seolah menyumpahiku melalui setiap penuturan lembutnya. Aku seolah mendengar kata 'brengsek' disetiap Taehyung hyung mengucapkan nama lengkapku. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menanggapinya. Apa aku dipaksa untuk berfikir lebih keras lagi atau malah menyuruhku untuk mengubur otakku karena aku tidak bisa menggunakannya dengan baik ? Aku tidak tahu hyung." Jungkook mengusap matanya yang berair menggunakan punggung tangannya dengan kasar berulang kali. Jika boleh jujur, Jungkook sudah lelah menyembunyikan semuanya dari Jimin; walaupun Jungkook tahu Jimin sudah terlampau mengerti segalanya mengenai Jungkook.

"Aku tidak benar – benar benci dengan Hoseok hyung. Aku masih menyayanginya. Hanya saja aku benci sikapnya yang mencoba terlihat baik – baik saja. Aku benci melihat Hoseok hyung seolah tidak pernah terjadi apa – apa sebelumnya. Tapi aku lebih membenci diriku sendiri karena aku tidak bisa bersikap seperti Hoseok hyung. Aku membenci Jungkook yang memaksa ayah dan ibu mengambil penerbangan hari itu juga. Aku benci Jungkook yang lemah, hyung" Jungkook terisak pelan, pun punggung tangannya masih sibuk mengusap – usap matanya agar airmata yang ia benci tidak sampai jatuh menetes dari pelupuk matanya. Dencitan kursi yang Jimin duduki terdengar jelas ketika Jimin berdiri secara tiba – tiba dan menangkap pergelangan Jungkook. Rasanya Jimin tidak perlu lagi untuk mengorek kebohongan lebih jauh dari Jungkook. Pun dari kejadian detik ini Jimin sudah banyak mengambil kesimpulan.

Bahwa Jungkook terlalu rapuh untuk mengakuinya, juga terlalu takut untuk mengatakannya.

Jimin membawa Jungkook pada pelukan hangatnya, memberinya usapan yang sangat menenangkan dikepalanya dan juga bisikan – bisikan kalimat penyemangat untuk Jungkook. Well, tanpa bicarapun Jimin tahu apa yang dibutuhkan Jungkook. Jungkook butuh dirinya, Jungkook butuh orang yang berada dipihaknya, membantunya dan memberinya solusi.

"Aku mengerti perasaanmu, Jungkook. Maafkan hyung karena selalu mendesakmu. Aku janji akan selalu berada disampingmu, berdiri dibelakangmu dan memberimu dorongan untuk melakukan semua yang terbaik untukmu, termasuk menemanimu menemui Hoseok hyung." Sekali lagi, Jimin mengusap lembut surai Jungkook, bermaksud memberikan dukungan penuh dan membantunya berfikir layaknya Jimin adalah kakak Jungkook juga. Jimin hanya ingin Jungkook bahagia. Jimin ingin melihat Jungkook tersenyum lepas seperti Jungkook dua tahun lalu. Jimin ingin Jungkooknya kembali.

Jungkook mengeratkan pelukannya diperut Jimin dengan isakan yang masih terdengar jelas. Jimin mengecup puncak kepala Jungkook setelah Jungkook bergumam kata takut disela isakannya. Sekali lagi, Jimin hanya ingin Jungkook terbebas dari bayang – bayang kekecewaan yang selama ini menghantuinya.

Dead Leaves –

"Hyung" Taehyung meletakkan ranselnya dan sebuket bunga tulip yang ia bawa keatas meja lalu berjalan menghampiri Hoseok yang sedang berdiri dibalkon kamar mereka. Taehyung hendak berkomentar tentang pakaian Hoseok yang terlalu tipis tanpa memakai jaket dan juga berceloteh ini itu mengenai makanan yang tak tersentuh sama sekali diatas nakas, namun Taehyung terhenti ketika melihat ekspresi wajah Hoseok yang begitu pucat.

"Lagi ?" Taehyung bertanya pelan. Hoseok pasti lagi – lagi mengguyur tubuhnya dibawah shower. Haruskah Taehyung membuang semua shower dikamar mandi mereka ? atau jika perlu mencabut seluruh shower digedung apartemen ini ? Ah, tidak perlu. Taehyung hanya bercanda. Tapi Taehyung serius akan membuang showernya jika Hoseok kembali sakit hanya karena suka bermain air dibawah guyuran shower; mendinginkan kepala lebih tepatnya.

Hoseok menggeleng lalu tersenyum samar sebelum berkata "Tidak juga".

Taehyung meraih tangan Hoseok lalu menuntunnya untuk duduk ditepi ranjang. Pemuda mungil itu dengan telaten memeriksa suhu tubuh kekasihnya juga memakaikan jaket hangat untuk Hoseok. Taehyung terlalu paranoid jika itu sudah menyangkut kesehatan Hoseok.

"apa aku harus benar – benar berhenti bekerja menjadi dokter anak dan beralih profesi menjadi dokter pribadimu, hyung ?"

"Aku tidak sakit gigi, dan omong – omong aku baik – baik saja, Tae"

"Baik – baik saja versi Jung Hoseok berbeda dengan baik – baik saja versi Kim Taehyung. Maaf, tapi aku ini dua puluh lima tahun hyung, dan kau tidak bisa membohongiku." Taehyung berdecak sebal, bukan karena sebal dengan Hoseok, tapi mungkin lebih menjurus kesuhu tubuh kekasihnya yang tidak jauh berbeda dengan suhu tubuh Hoseok sebelum Taehyung meninggalkan kekasihnya untuk pergi bekerja pagi tadi. Yang benar saja, Taehyung sudah mengomel ini itu sejak kemarin dan Hoseok sepertinya masih berniat meneruskan hobinya untuk berlama – lama menyapa angin dingin dimalam hari. Well, jika sudah begini mengomel pada Hoseok sama saja seperti mengomel dengan anak kecil.

Taehyung melipat tangannya didepan dada, mengamati gerak – gerik Hoseok yang duduk tidak nyaman sambil memegangi bahu kanannya. Taehyung menghela nafas, dirinya lelah, sangat. Tapi mungkin Hoseok lebih lelah daripada dirinya jadi Taehyung memutuskan untuk memberikan pijatan – pijatan ringan dibahu Hoseok setelah pemuda mungil itu merangkak naik ke ranjang dan duduk dibelakang Hoseok.

"kau lebih baik istirahat, sayang. Aku tahu kau lelah. Jadi mandi terlebih dahulu, makan malam dengan baik dan setelah itu pergi tidur." Taehyung bergumam kata 'tidak' dan tersenyum ringan setelah Hoseok menggenggam tangan mungil yang ada dibahu kanan Hoseok, "aku sudah makan malam bersama dengan Minjae dirumah sakit".

Tidak pernah sedikitpun Taehyung berfikir bahwa Hoseok membebani dirinya, tidak sama sekali. Jika boleh jujur, Taehyung akan sangat senang jika Hoseok mau membaginya bersama Taehyung karena demi apapun Taehyung begitu mencintainya.

Well, sebenarnya Taehyung sedikit menyesal karena telah mengumpati dua orang yang ia sayangi itu beberapa hari lalu. Taehyung hanya tidak suka cara kakak dan adik itu menyimpan masalah. Terlalu rapat, sulit dijamah dan juga sangat sulit diselesaikan. Apalagi kalau bukan keduanya sama – sama keras kepala ? Itu saja. Jadi tidak ada salahnya juga kan sekali – kali Taehyung menyebut kedua kakak beradik itu memiliki sifat yang sama brengseknya. Apa ? Memang kenyataannya seperti itu.

"Tadi sore, Yoongi hyung menelepon" Taehyung berbicara lebih dulu. Mendekatkan kepalanya pada Hoseok agar pemuda dihadapannya ini mendengarnya dengan jelas. "Yoongi hyung bilang dia tidak bisa menghubungimu"

"Ponselku mati sejak kemarin dan aku sama sekali tidak berniat menyentuhnya" Hoseok mendengus pelan sebelum kembali berujar, "apa ada sesuatu yang penting dan mendesak ?"

Taehyung menggeleng pelan lalu berpindah duduk disamping Hoseok untuk berganti memijat lengan kanan Hoseok, "tidak juga. Yoongi hyung hanya bilang jika ada dokter baru yang magang dirumah sakit. Dan Yoongi hyung bilang dokter magang itu sepenuhnya menjadi tanggung jawabmu, tapi berhubung hyung masih cuti, dia akan menggantikanmu untuk sementara waktu" Hoseok mengangguk dan bergumam pelan, "aku yakin Yoongi hyung pasti lebih sibuk dari sebelumnya".

"Omong – omong, sayang. Tidak biasanya kau pulang membawa bunga ? Apa itu ? Tulip putih, ya ? dari siapa ?"

Ah, Taehyung melupakan sesuatu. Ketika hendak membuka pintu apartemen Taehyung tidak sengaja melihat sebucket bunga tulip yang dirangkai dengan model hand-tied yang tergeletak didepan pintu. Setahunya bunga tulip berwarna putih itu adalah simbol permintaan maaf dan Taehyung tidak akan pernah asal – asalan menebak siapa pengirimnya.

"Ah, itu, aku menemukannya didepan pintu apartement, bunga tanpa pengirim dan bunga itu dikirim untukmu, hyung" Taehyung memberikan sebucket bunga tulip putih itu kepada Hoseok yang hanya mengeryit heran. "kenapa tulip putih ? tidak biasanya".

Taehyung terdiam beberapa saat seraya memandangi bunga yang ada dipangkuan Hoseok. Seketika ingatannya terputar pada beberapa hari lalu saat pemuda mungil itu dengan sengaja menyeret Jungkook dan mencekokinya dengan penjelasan – penjelasan yang mungkin tidak akan pernah Jungkook dengar dari Hoseok; atau setidaknya tidak semuanya.

"hyung" Taehyung bergumam pelan ditempat duduknya, kepalanya tertunduk menatap slipo rumah berwarna biru bergaris yang ia kenakan sebelum kembali berucap, "apa hyung akan marah jika aku bertemu Jungkook dan memarahinya ?"

Hening.

Hoseok memilih untuk diam, begitupun dengan Taehyung. Helaan nafas Hoseok seakan menjawab semuanya. Taehyung jadi menyesali mulut kurang ajarnya yang merusak mood Hoseok.

"Hyung"

"Tidak apa – apa, Tae. Kau bebas bertemu siapapun, aku tidak akan melarangmu." Hoseok menarik pergelangan Taehyung bermaksud untuk menyuruhnya untuk duduk dipangkuan Hoseok. Yang lebih tua memeluk Taehyung dari belakang dan menyandarkan dagunya pada bahu mungil Taehyung.

"Apa dia baik – baik saja ?"

...

"Sebenarnya kau ingin menculikku kemana, sih. Taehyung ?"

Yang ditanya hanya tersenyum riang, masih menfokuskan pandangannya pada jalanan lengang yang tengah dilalui nya. Sesekali melongokkan kepalanya menyapa angin segar yang menerpa kulit wajahnya. "Hanya sebuah misi untuk mengusir ribuan ton alphabet yang tersusun dikepalamu, hyung".

Kalau dipikir – pikir, rencana Taehyung mengajaknya pergi kepantai bagus juga. Mungkin akan lebih bagus lagi jika Taehyung mengajaknya kepantai tanpa syarat. Well, hampir satu jam lebih Taehyung mengoceh mengenai apapun yang boleh dan tidak boleh Hoseok lakukan. Mulai dari jangan berenang, jangan berlarian, jangan memakai kaos tipis, harus memakai jaket dan hal – hal lain yang sebenarnya Hoseok tidak yakin akan melakukannya tanpa Taehyung larang sekalipun.

"Tapi idemu ini boleh juga. Otakku sudah kaku, dan aku sangat butuh refresing" Hoseok membuka kaca mobilnya dan menghirup angin segar yang menerpa wajahnya.

Sejuk dan menyenangkan. Hoseok tidak pernah berfikir bahwa angin pantai akan sesejuk ini. Apa memang Hoseok terlalu kaku hingga pemuda itu melupakan ada hawa segar yang dapat ia hirup selain bau obat – obatan dan alkohol tawar ? Well, mungkin Hoseok sedikit terlambat menyadarinya.

Taehyung memarkirkan mobilnya didekat penginapan yang sudah ia pesan tadi malam. Taehyung tidak mengijinkan Hoseok menyetuh stir mobil sebelum Taehyung memastikan kekasihnya itu benar – benar sembuh. Jujur saja, Hoseok, pening kepala dan stir mobil adalah kombinasi yang sangat buruk.

Taehyung merentangkan kedua tangannya lebar – lebar dan memejamkan kedua matanya, menikmati setiap hembusan angin beraroma garam menyentuh seluruh kulitnya. Sejuk sekali. Taehyung tidak bisa membayangkan bagaimana menyenangkannya jika bulan madunya nanti pergi kepantai dan menginap dihotel dengan suguhan pemandangan seperti ini sebagai hiasannya.

"Oh, hyung. Bagaimana ? pantainya bagus bukan ?" Taehyung sedikit tersentak ketika sebuah tangan melingkar indah diperutnya.

"sembilan puluh dua dari seratus" Hoseok bergumam. Bibir Taehyung mengeluarkan kekehan kecil. "jika aku jadi seorang Jung Hoseok, maka aku akan memberinya skor lebih tinggi dari yang diharapkan". Taehyung menggenggam telapak tangan Hoseok dengan erat sebelum kembali berujar, "sayangnya aku bukan Jung Hoseok".

Hoseok tersenyum diperpotongan leher Taehyung. Matanya ikut terpejam menikmati angin yang berhembus statis. Mendengarkan deburan ombak yang samar – samar terdengar juga suara para seagull yang seakan menjadi pelengkap seperti piringan hitam dan gramofon alami.

"Hyung"

"Hmm"

"Suasananya begitu romantis, apa hyung tidak ingin menciumku ?" Hoseok terkekeh pelan, kemudian memutar tubuh ringan Taehyung untuk menghadap dirinya. Kedua onyxnya memindai pemuda mungil dihadapannya ini. Hoseok baru menyadari jika Taehyung lebih kurus dari sebelumnya. Tulang selangkanya begitu menonjol, pun pipinya semakin tirus. Hoseok jadi ragu, apakah Taehyung terlalu serius merawatnya dan lupa jika Taehyung juga harus menjaga kesehatan.

"Kau harus makan lebih banyak lagi, Taehyung-ah" Hoseok menarik hidung mancung Taehyung pelan sebelum mencium pipi Taehyung sekilas. "berkacalah sebelum menyuruhku untuk makan lebih banyak, hyung" Taehyung balas mencium ringan ujung hidung Hoseok.

"Kau tidak tidur dengan baik, hmm ? lihat kau punya lingkaran mata panda" Hoseok mencium kedua kelopak mata Taehyung secara bergantian. Kemudian bibirnya naik mengecup lama kening kekasihnya.

"Aku menyayangimu, sayang. Aku tidak ingin kau juga ikut sakit karena terlalu fokus mengurusku. Aku sudah dewasa, sama sepertimu, aku juga bisa mengurus diriku sendiri. Aku tidak ingin terlalu merepotkanmu. Aku tahu kau lelah, pulang dari rumah sakit larut malam, dan setelahnya kau mengurusi ku yang lemah ini dan yang paling menyebalkan kau sering melewatkan makan malammu. Aku benar, kan ?" Taehyung tersenyum kecil.

"Kau sebenarnya sadar kalau kau lemah hyung, dan seharusnya kau juga sadar kalau kau itu sangat membutuhkanku. Aku sama sepertimu, dengan hyung selalu berada disisiku dan begitupun sebaliknya, itu sudah membuatku sangat senang. Kau membutuhkanku, dan aku membutuhkanmu. Kita saling melengkapi. Bukankah itu perpaduan yang sempurna ?"

"Dan sialnya aku menyetujui itu, sayang" mereka berdua tertawa bersama.

Taehyung mengalungkan kedua tangannya pada leher Hoseok dan menampilkan senyuman kotaknya, "Jadi, kapan kau akan menciumku, hyung ?" Taehyung sesekali menggesekkan hidungnya dengan hidung Hoseok dan itu membuat keduanya kembali tertawa ringan.

"jangan salahkan aku jika setelahnya kau akan ikut terkena flu sepertiku" Taehyung hanya mengangguk pelan tanpa sempat menjawab. Matanya terpejam begitu bibir kering Hoseok menekan bibirnya. Bibir kering Hoseok seakan menggoda bibir Taehyung untuk ikut membasahinya dengan saliva. Mengecupinya ringan dan kemudian saling melumat pelan. Ciuman yang hati – hati dan penuh dengan kasih sayang. Taehyung meremat helaian rambut Hoseok ketika lidah kekasihnya menerobos masuk menyapa setiap deretan gigi – giginya yang rapi, hingga Taehyung melenguh pelan.

Hoseok tidak pernah merasa selega ini sebelumnya, entah mengapa. Mengingat Taehyung yang selalu berdiri kokoh disampingnya dan mendukungnya membuat Hoseok selalu merapalkan pujian kepada Tuhan. Taehyung itu malaikatnya. Yang akan selalu sigap kapanpun Hoseok membutuhkannya.

Hoseok menjadi orang pertama yang melepas pagutannya lalu menarik bibir bawah kekasihnya dengan giginya tanpa mengurangi jarak antar bibir keduanya. Taehyung membuka matanya perlahan, nafasnya tidak teratur dan bibirnya memerah sempurna.

"Kau percaya padaku, kan, hyung ?" Hoseok menyeka saliva yang membasahi bibir Taehyung dengan ibu jarinya lalu mengangguk sambil tersenyum pada kekasihnya. Taehyung tidak tahan untuk tidak mendekap erat Hoseok hanya karena anggukan kecil Hoseok.

Dead Leaves –

Dua hari yang lalu. Starbucks cafe.

"Pantai barat. Tiga hari lagi. Datanglah jika kau ingin meluruskan semuanya. Aku akan membantumu"

"Maaf ?"

"Aku serius, Jungkook."

"Aku tidak mau."

"Kau harus. Atau kalian selamanya akan seperti ini. Sampai mati."

Jungkook menatap nyalang pada pemuda yang ada dihadapannya. Tidak, bukan karena Jungkook tidak memiliki sopan santun. Hanya saja, Jungkook merasa disini ia seakan menjadi penjahat yang sebenarnya. Well, walaupun Jungkook sendiri menyadari kalau dia memang terlalu antagonis.

Yang lebih tua membenarkan posisi duduknya sebelum kembali bercerita, "Dua tahun lalu, tepat dihari ulang tahunmu, paman dan bibi mengalami kecelakaan pesawat, dan tepat dihari itu juga Hoseok hyung berada diambang batas antara hidup dan mati" yang lebih tua mencuri pandang akan reaksi yang lebih muda sesaat, "Hoseok hyung mengalami kecelakaan mobil yang cukup serius setelah mendengar kabar jika pesawat yang ditumpangi paman dan bibi mengalami kecelakaan." Pemuda itu menghela nafasnya, "Aku akan maklum karena kau tidak tahu dan tidak melihat dengan mata kepalamu sendiri kondisi Hoseok hyung saat itu, luka dimana – mana, serpihan kaca yang hampir saja mengiris putus nadi yang ada dilehernya juga tulang bahu kanannya yang patah. Menyedihkan. Bahkan dokter sudah putus asa karena Hoseok hyung tak kunjung bangun dalam kurun waktu yang cukup lama. Dua bulan sepuluh hari."

"Hyung pasti ber–"

"tolong jangan memotong ucapanku, kalau kau tidak ingin aku menceritakan hal yang lebih buruk dari ini, dan aku yakin kau sendiri tidak akan pernah percaya dan menganggapku membual ketika kau mendengarnya dari mulutku" Jungkook memilih untuk diam dan mendengarkan dengan seksama.

"dua bulan sepuluh hari, apa kau tidak berfikir bagaimana tersiksanya Hoseok hyung yang terjebak di portal waktu yang hanya memiliki dua kemungkinan. Memilih berusaha untuk bangun dan hidup, atau menyerah dan mati. Bahkan aku sempat berfikir untuk menyeretmu ke Beijing dan menemui Hoseok hyung karena ia tak kunjung membuka mata" pemuda dihadapan Jungkook menghela nafas kasar.

"Jika kau tahu apa yang diucapkannya pertama kali ketika Hoseok hyung sadar dari masa sekaratnya selama dua bulan lebih, mungkin kau akan berfikir puluhan kali untuk bersikap seperti ini pada kakakmu"

Jantung Jungkook serasa dihantam beribu – ribu ton batu besar ketika ia mendengarkan kalimat pemuda didepannya ini. Matanya panas, dan saat itu juga Jungkook benar – benar merasa menjadi tersangka yang siap untuk ditembak mati ditempat.

"Hari ini tanggal berapa ? apa ulang tahun Jungkook sudah terlewat ? Aku belum sempat mengirimkan kado yang dia minta. Itu yang Hoseok hyung ucapkan ketika matanya barusaja terbuka setelah terpejam begitu lama". Terdapat jeda sejenak setiap kalimatnya.

"Jungkook, aku hanya ingin bertanya beberapa hal padamu. Apa kau tidak lelah terus menerus bermain tikus kucing seperti ini ? Apa kau tidak mau kembali pada keluargamu yang masih tersisa ? Apa kau tidak mau menghibur Hoseok hyung yang sudah berjuang untuk bertahan hidup demi menjagamu ? Apa Hoseok hyung itu begitu brengseknya dihadapanmu ?" Jungkook mengusap matanya dengan punggung tangannya kasar. Jungkook ingin berteriak dan mengumpat, tapi sepertinya itu tidak akan mampu menyelesaikan semuanya.

Pikiran dan hatinya terus saja menolak berkata jika Jungkook membenci Hoseok. Tidak, Jungkook membenci Hoseok karena tidak tahu kebenarannya. Dan mungkin tidak akan pernah tahu jika ia terus saja menghindar dari teritori Hoseok. Jungkook terdiam lama sekali. Dirinya seakan mendapat pukulan keras yang mampu membobol dinding pertahanannya hanya dalam sekali hantam.

"aku tidak bermaksud untuk ikut campur masalah kalian Jungkook, aku hanya ingin memberi tahumu apa yang terjadi sebenarnya. Karena jujur, aku tidak yakin jika Hoseok hyung akan mengatakan ini semua padamu. Hoseok tidak pernah tega melihat adiknya tersiksa, jadi Hoseok hyung lebih memilih untuk mengalah padamu."

Jungkook meresapi seluruh kalimat yang masuk kedalam telinganya, dan Jungkook merasa dibodohi. Dibodohi oleh takdir yang mempermainkan perasaannya. Dan sekali lagi perlu ditegaskan, Jungkook kecewa pada dirinya sendiri.

"Hoseok hyung tahu Jimin itu kekasihmu, begitupun dengan Nyonya Park. Dan berterimakasihlah pada Nyonya Park karena dia sangat baik hati merawatmu dan menyayangimu layaknya anak kandungnya sendiri, setidaknya kau harus tumbuh dengan kasih sayang seorang ibu."

"Hyung aku hanya–"

"Dan jika boleh, aku hanya ingin meminta satu hal padamu, Jungkook. Berhentilah bersikap seolah kau itu adalah pihak yang paling menderita disini. Berhentilah bersikap layaknya anak bau matahari yang hanya bisa memanjat pohon untuk mengambil layangan dan tidak peduli dengan hal – hal yang membuat dirimu sendiri terluka."

Delapan puluh dari sembilan puluh lima, hanya lima belas menit jeda yang terbagi dari sembilan puluh lima menit mereka berbicara hal yang sangat serius. Tepat dimenit ke sembilan puluh enam Jungkook beranjak dari kursinya, berniat untuk keluar dari suasana menegangkan yang sialnya membuat Jungkook semakin merasa dibodohi lebih dalam.

"Hyung sudah selesai, kan ? aku harus pulang, hari ini Mama minta ditemani belanja bulanan" Derintan kursi stainless itu terdengar nyaring ketika Jungkook hendak melangkah. Tiga langkah. Hanya tiga langkah Jungkook berjalan dan suara pemuda yang lebih tua darinya itu memaksa kaki – kaki panjangnya untuk berhenti melangkah

"Aku yakin kau sudah dewasa untuk mencerna semua kata – kataku, Kook-ah, dan aku yakin otak pintarmu itu masih berfungsi dengan baik untuk memikirkan seluruh ucapanku. Jadi, jika kau mau kau bisa datang ke pantai barat jam tujuh malam, tiga hari dari sekarang. Ajak Jimin jika kau mau."

TBC –

Udah ketebakkan siapa Jimin ? Apa hubungan Jimin dan Jungkook. Dan yang paling penting Vhope momentnya udah agak banyakan, kan ya ? hihi. Gatau kenapa saya suka kuki yg tsundere gitu, wks.

Yang terakhir,

Mind to Review ?

Karena serius, review kalian itu vitamin yang paling ampuh untuk membangkitkan ide.