Dead Leaves
Kim Taehyung x Jung Hoseok
Jeon Jungkook ( Jung Jungkook)
Park Jimin
With Other Cast
Preview :
"Hyung aku hanya–"
"Dan jika boleh, aku hanya ingin meminta satu hal padamu, Jungkook. Berhentilah bersikap seolah kau itu adalah pihak yang paling menderita disini. Berhentilah bersikap layaknya anak bau matahari yang hanya bisa memanjat pohon untuk mengambil layangan dan tidak peduli dengan hal – hal yang membuat dirimu sendiri terluka."
Dead Leaves
Chapter 4
Taehyung menatap rerumputan hijau yang bergerak oleh tiupan angin. Sejuk dan menyenangkan, membawa pikirannya kembali ke masa dimana ia selalu bisa dengan bebas bermain tanpa ada yang melarangnya. Masa itu adalah ketika Taehyung berada disekolah menengah pertama. Ketika kakak Taehyung sibuk dengan rutinitas kuliahnya, ketika ayah Taehyung sibuk dengan urusan kantornya, ketika ibu Taehyung sibuk dengan toko bunganya. Semuanya sibuk, dan hanya Taehyung yang tidak sibuk.
Taehyung menatap lautan luas dihadapannya. Lautan sebiru air mediterania itu membuat bibirnya melengkung indah. Matanya terpejam sesaat, menghirup bau air laut yang penuh dengan kesenangan. Hoseok disampingnya, meletakkan kepalanya dipangkuan Taehyung serta tangan kanannya menghalau silau cahaya matahari yang menyapanya.
Taehyung menatap Hoseok lalu tersenyum setelahnya.
Tangannya terulur untuk mengusap surai lembut kekasihnya. Menyalurkan kenyamanan dan ketenangan yang ia miliki untuk Hoseok. Taehyung terlampau paham, Hoseok banyak melalui hal – hal sulit dalam beberapa tahun terakhir. Terlebih lagi sejak pertemuan Hoseok dengan adiknya digereja beberapa minggu lalu.
Omong – omong soal Jungkook, Taehyung jadi kembali khawatir. Apakah Jungkook nantinya akan datang atau tidak. Sedikit banyak, Taehyung merasa bersalah pada Jungkook. Taehyung rasa, ia terlalu kasar membicarakan hal itu pada Jungkook.
Tapi mau bagaimana lagi ? Taehyung sudah tidak tahan lagi untuk tidak menyeret kedua saudara itu kembali berbicara berdua. Kembali menyapa satu sama lain dan juga melihat dua bersaudara itu tertawa bersama.
Tapi jika ini benar-benar gagal, Taehyung tidak tau lagi harus bagaimana.
Taehyung mungkin akan menyerah.
Menyerah pada dua manusia berkepala batu yang begitu ingin ia lunakkan itu.
Atau mungkin, malah semakin gencar menghajar keduanya ?
Entahlah.
"Ugh…"
Taehyung tersadar dari lamunannya ketika merasakan pergerakan Hoseok yang tiba-tiba.
"Apa hyung merasa pusing lagi ?" Hoseok menggeleng, kemudian beralih memeluk perut Taehyung dan kembali memejamkan matanya. Taehyung tersenyum dan membiarkan Hoseok melakukan apa yang dia inginkan.
Setidaknya Taehyung ingin melepas satu persatu beban yang bersarang begitu kuat dibahu Hoseok.
Taehyung menghirup nafasnya dalam-dalam. Mencoba untuk menyakinkan dirinya sendiri bahwa Jungkook akan benar-benar datang hari ini –atau mungkin besok. Dan Taehyung juga berharap banyak pada Jimin agar Jimin bisa membawa Jungkook berdiri berhadapan dengan kakaknya.
"… Jungkook ?"
"Jungkook kau dengar kami tidak, sih ?"
Jungkook mengerjapkan matanya pelan sebelum mengerutkan dahinya bingung.
"Ah, ya.. Aku tidak bisa ikut latihan hari ini, aku ada sesuatu yang harus kuurus" dua orang yang berdiri disamping Jungkook berkeluh bingung. Mereka terlalu bersemangat hingga tidak siap untuk menerima kenyataan bahwa teman seperpopokannya itu sedang mengalami gagal paham.
Jungkook, lagi-lagi melamun.
"Jungkook, tapi–"
" –kami kan ingin mengajakmu pergi ke game center berhubung sekolah pulang cepat hari ini" gumam pemuda yang masih berdiri disamping kursi Jungkook.
Tapi bung, itu sia-sia.
Karena Jungkook sudah terlanjur menggendong ranselnya dan berlari keluar sebelum temannya itu menyelesaikan kalimatnya. Well, Jungkook hanya melambaikan tangan kanannya kemudian melenggang pergi tanpa ingin terseret dalam masalah sekolah lagi.
Jungkook sudah cukup pusing hari ini, ngomong-ngomong.
Jungkook tidak bosan untuk bertanya pada dirinya sendiri, mengapa hari-harinya begitu menyebalkan ? mengapa masa remajanya begitu kelam ? mengapa dimasa mudanya, ia harus mengalami kejadian yang begitu sulit ia terima hingga saat ini. Jungkook hanya ingin hidup layaknya remaja SMA biasa. Sibuk main, sibuk mengerjakan tugas, sibuk bercanda dan sibuk mencari pacar –atau mungkin pengecualian untuk satu itu karena Jungkook sudah punya Jimin disisinya.
Entah untuk yang keberapa kali hari ini Jungkook menghela nafasnya lelah. Benar-benar lelah. Hampir tidak ada celah untuk pikirannya beristirahat. Jungkook terus saja teringat perkataan Taehyung dan juga Jimin tempo hari. Mengingatnya saja membuat Jungkook merasa menjadi seorang pecundang sejati.
Lagi, Jungkook mendengus lelah sembari menendang kerikil yang menghalangi jalannya hingga ia terhenti tepat dihalte bus dekat sekolah.
"Pantai barat. Tiga hari lagi. Datanglah jika kau ingin meluruskan semuanya. Aku akan membantumu" perkataan Taehyung yang satu itu tiba-tiba saja membayangi Jungkook.
"Tiga hari lagi itu hari ini, kan ?" tanya Jungkook pada dirinya sendiri.
"Ahh!" Jungkook mengusak rambutnya kasar, ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa sebenarnya ia ingin sekali pergi dan meninju Hoseok tepat diwajah kemudian berlutut dan meminta maaf. Tapi ego sialan itu benar-benar membelenggu Jungkook hingga saat ini.
Yang saat ini patut dipertanyakan adalah, seberapa tinggi harga diri Jungkook sampai-sampai Jungkook tidak bisa mengucapkan satu kata yang bisa membuat semuanya menjadi jelas ?
Jungkook terlalu melankolis, sepertinya.
Tiga puluh menit waktu perjalanan menuju rumah diisi Jungkook dengan segala sumpah serapah yang ia tujukan pada dirinya sendiri. Apapun itu, dari yang terkotor sampai yang paling laknat sekalipun, tidak ada yang menyamai betapa pecundangnya Jungkook saat ini.
Jungkook kalah pada dirinya dan Jungkook ingin sekali menangisi kerumitan jalan hidupnya.
Jungkook ingin menjadi cengeng, tapi ia terlalu malu.
Sesampainya dirumah setelah tiga puluh menit ditambah sepuluh menit berjalan kaki dari halte bus, Jungkook melenggang begitu saja menuju dapur. Jungkook mendengus kentara, kemudian berjalan menghampiri seorang wanita paruh baya yang sedang sibuk dengan sayur dan bahan-bahan masakan diatas pantry.
Jungkook ingin memeluk dengan erat seseorang yang selama ini memberinya kasih yang berlimpah semenjak ia terpuruk akan keadaan yang menimpanya. Jungkook juga ingin sekali mengatakan semuanya pada wanita paruh baya itu jika dia memiliki waktu yang tepat untuk berbicara.
"Eh, Kookie sudah pulang ?" wanita yang dipeluk Jungkook dari belakang itu tersentak ringan.
"Mama" yang dipanggil mengerutkan dahinya samar, merasa tidak biasa dengan sikap salah satu anaknya ini.
"Ada sesuatu yang terjadi hari ini ?" Jungkook menggeleng.
Entah tidak tau, atau tidak mau tau.
"Ma, sore nanti aku ingin pergi kepantai barat bersama dengan teman-teman, bolehkan ma ?"
"Kenapa tiba-tiba ? kau bisa pergi besok pagi, kan, sayang ?"
"Biasa, acara klub sekolah. Dan mereka mendadak memberitau Jungkoook"
Bohong! Jungkook berbohong lagi setelah ia bersumpah akan berkata jujur pada wanita yang begitu baik hati ini. Jungkook mungkin terlalu terbiasa hidup dalam lingkup kebohongan yang ia pupuk hingga menjebaknya sampai saat ini.
Jungkook terlalu naif, bung.
"Apa Jimin sudah tau ?"
"Jungkook belum memberitaunya, Jungkook tidak ingin mengganggu Jimin hyung. Dia sedang sibuk-sibuknya dengan tugas kampus dan pekerjaannya distudio. Tapi mama tidak perlu khawatir, nanti aku akan memberitau Jimin hyung setelah aku sampai disana" tersenyum diakhir kalimat, Jungkook kemudian meraih sebuah jeruk yang ada didalam kantung kresek kemudian beranjak menuju kamarnya.
"Jungkook akan bersiap ma"
"Dan segera turun untuk makan ya sayang" anggukan lemah Jungkook yang tertangkap oleh penglihatan sang ibu.
"Oke, Jungkook sayang mama"
Sayang.
Sayang.
Sangat sayang.
Jung Hoseok masih berdiri dilobi dengan sekaleng soda ditangannya. Berkali – kali pemuda itu melirik arloji hitam yang melingkar dipergelangan tangannya. Ia sedang menunggu Taehyung yang katanya ingin membeli beberapa keperluan juga makanan ringan di minimarket dua puluh empat jam diblok sebelah. Sudah tiga puluh lima menit –jika Hoseok tidak salah menghitung, dan sepertinya berjalan pulang pergi dari minimarket ke penginapan tidak akan selama itu. Hoseok meneguk sodanya dengan cepat, takut – takut terjadi hal yang tidak menyenangkan dengan Taehyung.
"Hyung mau kemana ?"
Hoseok menghentikan langkahnya ketika Taehyung sudah berada didepan pintu masuk penginapan, kemudian pemuda itu bernafas lega. Taehyung datang dengan tiga paperbag besar yang isinya hampir semuanya penuh. Well, setidaknya Hoseok lega karena Taehyung baik – baik saja.
"Kau belanja lama sekali, sayang. Jadi kupikir aku harus menjemputmu" Hoseok mengambil alih dua paperbag yang dibawa Taehyung. Melihat isinya sejenak lalu berjalan berdampingan dengan Taehyung. "Kenapa membeli banyak sekali kopi dan soda, memangnya berapa hari kita akan melarikan diri dari pekerjaan, sayang ?"
"Hey hey, itu bukan soda, itu minuman isotonik. Setidaknya aku tetap harus memberikan minuman isotonik untuk pemuda dewasa yang malas minum obat ini"
Taehyung menggandeng lengan Hoseok dan tertawa ringan setelahnya. Well, Taehyung memang belanja banyak malam ini untuk berjaga kalau-kalau Taehyung akan menetap lebih lama untuk menunggu si bungsu hingga datang kemari.
"Ah tunggu!" Taehyung berhenti tiba-tiba, begitupun dengan Hoseok.
"Ada apa sayang ?"
"Aku lupa sesuatu hyung, vitamin yang kubeli untukmu tertinggal di apotik seberang jalan. Ehm, hyung kekamar duluan saja, aku akan kembali ke apotik untuk mengambil–" belum sempat Taehyung menyelesaikan kalimatnya, Hoseok sudah lebih dulu mencium bibir Taehyung.
Tolong ingatkan mereka jika ini masih di lobi.
"Berhenti bicara dan kau istirahatlah dikamar, biar aku saja yang mengambil vitamin itu" Hoseok mengusak rambut Taehyung pelan sebelum kembali berujar, "kau ceroboh seperti biasanya, sayang".
"Kita akan mengambilnya berdua"
Dan kalimat Taehyung itu mendapat penolakan mutlak dari Hoseok.
"Aku akan mengambilkannya untukmu"
Hoseok berjalan pelan disepanjang trotoar yang kering. Hari ini tidak ada hujan, tetapi malam ini nampak begitu gelap. Hoseok mendongak, menatap betapa tegasnya sang mendung bergantung dilangit tanpa peduli jika itu akan menghalangi sinar rembulan.
Muram, seperti perasaannya saat ini.
Tapi entah kenapa, rasanya malam ini begitu pas untuk Hoseok merenungkan dirinya sendiri. Hoseok berpikir, mungkin lama kelamaan hatinya akan membeku dan tidak lagi mengenal apa itu rasa sakit. Well, mungkin kali ini Hoseok akan datang kerumah sakit tempatnya bekerja sebagai seorang pasien, bukan lagi seorang dokter.
Jika sudah seperti ini, Hoseok merasa seperti ia dibodohi oleh pekerjaannya. Ia bisa menemukan titik terang disetiap keluhan pasien yang datang padanya, tapi mengapa tidak dengan dirinya. Apa lubang hitam yang menganga itu sudah menyedot habis akal sehatnya ?
Logika ? tidak perlu menanyakan itu. Logikanya sudah lama lenyap sejak ia hampir melayangkan tinju pada adik satu-satunya.
Sejauh ini Hoseok hanya ingin mengerti dirinya sendiri. Mengerti bagaimana cara menerima kenyataan bahwa dirinya telah dibuang oleh adiknya sendiri. Terlihat lucu tapi juga sangat menyedihkan dalam waktu yang bersamaan.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan ?"
Ah, Hoseok terlalu fokus berpikir hingga tidak menyadari jika ia sudah berdiri tepat didepan apoteker.
"Apa ada satu paket vitamin yang tertinggal disini ? Ah, atas nama Kim Taehyung"
"Ah, tuan Taehyung yang tadi" Apoteker itu tersenyum ramah lalu mengambil paperbag kecil dari laci. Hoseok menerimanya kemudian berucap terimakasih sebelum benar-benar meninggalkan apotik.
Hoseok kembali berjalan dengan pelan sembari memasukkan telapak tangannya kedalam saku hoodie abu-abu yang dipakainya. Angin berhembus agak kencang, mungkin sebentar lagi hujan akan turun.
Hoseok menghela nafasnya pelan lalu memejamkan matanya sesaat. Ia mencoba untuk melupakan sejenak semua hal yang begitu mengganggunya. Setidaknya Taehyung mengajaknya kemari tidak untuk bermellow-mellow, tetapi untuk menenangkan pikiran.
Atau mungkin memang Hoseok tidak diijinkan untuk berhenti berpikir.
Terbukti saat Hoseok kembali membuka mata, hal pertama yang dilihat adalah seorang pemuda yang memakai jaket hitam diseberang jalan sana. Pemuda itu berjalan sembari melamun, tampak tidak begitu peduli dengan sekitarnya.
Hoseok Nampak tidak asing dengan wajah putus asa itu.
Dia…
"Jungkook ?" gumam Hoseok pelan. Serius, dia tidak percaya pada penglihatannya sendiri. Atau mungkin dia mulai berdelusi karena banyak berpikir ?
Tapi mungkin tidak.
Hoseok melihat lampu lalu lintas itu berwarna hijau, dan Hoseok masih bisa mendengar dengan jelas orang-orang mulai berteriak panik pada pemuda itu.
Lampu hijau.
Jungkook.
Lampu hijau.
Jungkook.
Lamp–
"JUNGKOOK!"
Sampai akhirnya Hoseok benar-benar membawa kakinya berlari sekuat tenaga untuk menggapai sesuatu yang begitu berharga untuknya. Hoseok menggapai tubuh adiknya dan memeluknya sekuat tenaga, hingga Hoseok tidak sadar jika kejadian itu terjadi begitu cepat.
Satu hal yang Hoseok dengar sebelum semuanya menjadi gelap adalah
"Hyung! Kumohon bertahanlah!"
Bersambung…..
OMAKE
"Jimin-ah"
Yang dipanggil hanya bergumam pelan tanpa mengalihkan pandangannya pada kertas kosong yang teronggok dihadapannya.
Perasaannya sedikit was-was ketika sang mama mulai duduk dikursi hadapan Jimin.
"Apa yang kalian sembunyikan dari mama ?"
Gotcha, tebakanmu tepat bung.
"Mama hanya khawatir dengan Jungkook, kau tau, Jungkook itu anak baik sayang, mama juga sangat menyayanginya. Tapi jika Jungkook perlu sandaran seorang Ibu, kenapa Jungkook tidak datang pada Mama ? Mama tidak akan marah, sama sekali tidak. Tapi…."
Tolong kutuk Jimin sekarang juga. Kutuk mulut Jimin yang tidak bisa berhenti mengumpat pada dirinya sendiri.
"…mencobalah terbuka pada Mama. Mama bahagia jika kalian bahagia, sayang." Wanita paruh baya itu menunduk.
"Dan juga mengenai kakak Jungkook, seseorang menelpon mama dan mengatakan semuanya pada mama. Mama ingin sekali membantu, tapi sepertinya mama tidak pantas untuk masuk lebih dalam ke teritori mereka berdua."
"Mama, maafkan Jimin."
"Maafkan Jimin dan juga Jungkook" ulangnya lagi.
Jimin mendadak bisu. Ia tidak tau lagi apa yang harus ia keluarkan melalui mulutnya. Suara apa yang pantas ia perdengarkan untuk sang mama. Bahkan, ia merasa seperti mendadak menjadi batu.
Diiringi langkah ringan sang mama, wanita paruh baya itu menarik Jimin dalam pelukan hangatnya, mengusap kepala Jimin dengan sayang dan menepuk bahu Jimin sekali.
"Mama mengerti, dan mari kita bicarakan masalah ini lain waktu, sekarang mama ingin kau menyusul Jungkook dan awasi dia. Mama khawatir, Jungkook pergi tidak dalam keadaan baik-baik saja. Mama menyayangi kalian berdua" Wanita paruh baya itu mengusap pelan kepala laki-lakinya ketika Jimin memeluk sang mama dengan erat.
a.n :
IYA INI GAJE ? SIKKI TAU HUEEEEE….
2 chapter terakhir, next chap udah end. Tau gak ? ini aku kebut semalem, jadi jangan kecewa kalo ceritanya makin gaje T^T. Hey, ini udah lamaaaaa banget loh jadi mohon dimaklumi okay..
Dan untuk kak hobagijung tercinta /eaak/ ini kupersembahkan untukmu kak, makasih udah semangatin buat ngelanjutin ff ini :"D Seriuosly, kalo gak berkat kakak aku mungkin belum lanjut ngetik (walaupun hasilnya kacau gini heuheu)
Hey.. kamu yang kemarin protes di the faces two worlds (dan saya berterimakasih karena ditagih deadleaves. Hehe), kamu login dong kak, saya agak susah hubungin kami via pm kalo kamu gak login.. hihi…
Dan makasih buat yang udah mau nunggu ff abal-abal ini, seriusan ternyata ada juga yang nungguin ff sikki hehe /slappd/ mungkin kita bisa berteman di ig ? lets follow nanodaayoo. Kalo sikki gak update, terror aja /gak/
Jangan lupa review ya, juga jika berkenan silahkan baca dan tinggalkan review untuk ff sikki yang baru biar cepet update lagi hehe. Terimakasih.
