Dead Leaves

Jung Hoseok, Kim Taehyung

Jeon (Jung) Jungkook, Park Jimin

Bro!conflict

Chapter 5

...

Dead Leaves

...

"Aku menyakitinya lagi" gumamnya.

"Kau tidak"

"Kau tidak tau brengsek, aku yang melakukannya!" Taehyung menghela nafasnya. Berat, benar-benar berat.

Dia terkejut, tentusaja. Jungkook yang selama ini dikenalnya tidak pernah bersikap sekasar itu pada Taehyung. Taehyung menggeleng pelan, pemuda yang berdiri dengan gusar didepannya ini tampak begitu kacau. Jungkook membutuhkan obat untuk mengobati luka lecet dibeberapa bagian wajahnya, juga Jungkook setidaknya harus mendapatkan disinfektan pada lengan kirinya yang terluka.

"Jungkook…" panggil Taehyung lembut.

"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, dia akan baik-baik saja, percayalah tuhan akan membuatnya bangun kembali."

Jungkook mengusak surainya kasar. Bagaimana dia bisa tenang jika didalam sana, kakak satu-satunya berusaha melawan kematian untuk yang kedua kalinya ?

"Duduklah disini, aku akan mengobati lukamu, setidaknya jika hyungmu bangun, dia tidak akan khawatir karena melihat wajahmu yang penuh luka."

"Aku tidak perlu…"

"Perlu Jungkook, sekarang kau menjadi tanggung jawabku karena kau keluargaku juga"

Dead Leaves

Katakan.

Jungkook hanya ingin mendengar sebuah alasan mengapa hidupnya begitu tidak adil memperlakukannya. Apa ini semua lucu ? apa ini semua pantas untuk dipertontonkan pada hidupnya ?

Dia sungguh tidak tau kenapa.

Jungkook mengelak jika ia berubah menjadi melankolis hanya karena airmata. Tapi tidak, apapun itu dia memang kalah. Kalah pada seluruh ego yang terlalu lama ia pupuk hingga membesar dan menguasai pikirannya.

Jika Jungkook bisa menghentikan dan memutar waktu kembali, dia ingin sekali pergi kembali kemasa kecilnya. Dimana masalah terbesar dalam hidupnya hanyalah pr matematika.

Tapi biar bagaimanapun, waktu tetaplah berjalan kedepan. Menggilas seluruh kejadian yang datang silih berganti menjadi sebuah pelengkap skenario tuhan yang bernama kehidupan. Rasanya ingin sekali Jungkook menertawakan kisahnya yang begitu dramatis.

'apa setiap orang juga mengalami hal-hal sulit seperti ini ?' Tanya nya, setiap kali Jungkook menatap kilauan bintang yang menyebar acak dilangit.

Kemudian, "Hahaha, lucu sekali sih", sesekali kalimat itu muncul bersama dengan seulas senyum miris dan juga hembusan statis angin malam yang dingin.

"Menertawakan diri sendiri lebih masuk akal daripada menertawakan hidup orang lain, bukan ?" pikir Jungkook.

Ngomong-ngomong tentang Jungkook.

Sejak beberapa jam yang lalu ia duduk termenung ditaman rumah sakit. Menunggu sambil berharap-harap cemas akan keadaan seseorang yang begitu penting untuknya, tengah terbaring didalam ruang rawat dengan selang oksigen yang menempel dihidungnya.

Jungkook menyeka hidungnya, berkali-kali pula menyeka ujung matanya. Dia menangis, untuk alasan tertentu yang mungkin tidak akan pernah ia akui selama ini.

Kan sudah dibilang, Jungkook berubah menjadi seorang yang melankolis sekarang.

"Jungkook…" seseorang memanggilnya, lalu tanpa meminta persetujuan langsung saja merangsek memeluk pemuda kacau yang tengah bersusah payah menyembunyikan airmata laknatnya.

Kenapa dia menyebutnya laknat ?

Karena airmata itu datang disaat yang tidak tepat. Airmatanya itu adalah penghancur. Ya, penghancur dinding kokoh yang selama ini susah payah pemuda belasan tahun itu bangun.

"Jungkook, apa kau baik-baik saja ?" Jimin bertanya.

Jimin buta, jelas-jelas Jungkook sedang tidak baik-baik saja.

Tidak, Jimin bertanya hanya untuk basa-basi, pemuda yang lebih tua itu hanya tidak tau bagaimana caranya masuk secara halus dalam situasi ini.

"Mama mengkhawatirkanmu, kau pergi tidak bilang padaku. Kau anggap apa aku ?" Jimin berdalih, alih-alih menenangkan Jimin malah terlihat seperti menginterogasi.

"Kenapa kau seperti ini, setidaknya beritau aku, Jungkook." Setelahnya tidak ada lagi jawaban. Yang ada hanyalah suara isakan pelan Jungkook diatas bahu Jimin.

"Menangislah sepuasmu, aku yakin kau butuh itu. Tidak perlu malu, lelaki juga punya perasaan, adakalanya mereka juga ingin melepas semua beban dengan menangis."

"H-hyung…." Desisan ringan Jungkook mewakili semuanya.

Dead Leaves

"Apa sebelumnya tuan Jung Hoseok pernah menjalani operasi dibagian kepala ?" pria paruh baya yang barusaja berujar itu menautkan kedua telapak tangannya.

"Dua tahun yang lalu, apa terjadi sesuatu, Dok ?" ini Taehyung yang berujar, tiba-tiba saja dia gemetar, tidak tau kenapa.

Dokter itu menghela nafas.

"Beberapa saraf diotaknya terputus karena benturan keras, dan tuan Jung Hoseok juga mengalami pendarahan epidural, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menanganinya, hanya saja kemungkinan terburuk juga tidak dapat dihindari"

"Jelaskan lebih spesifik, kumohon" titah Taehyung. Sungguh, Taehyung memang dokter, tapi dia spesialis gigi jadi dia tidak ingin berbelit-belit dengan segala macam istilah asing yang tidak diketahuinya.

"Kita akan memantau perkembangannya selama dua hari kedepan, dan jika operasinya berhasil tuan Jung Hoseok akan pulih dengan segera"

Taehyung kemudian terdiam. Hanya tubuhnya, didalam pikiran dan hatinya Taehyung terus berteriak dan memaki.

Sialan dan sialan. Apa lagi ini ? Hoseok sekarat dua kali ? punya berapa nyawa sebenarnya kekasihnya itu. Sebegitu menyenangkannya ya bertarung dengan kematian ?

"Terimakasih dokter, dan saya permisi dulu"

Lalu Taehyung keluar. Dia sudah tidak kuat lagi untuk mendengar diagnosa mengerikan tentang kekasihnya. Apapun yang terjadi, Hoseok harus bangun. Apapun yang terjadi.

Taehyung menyeret kaki-kaki lelahnya menuju ruang dimana Hoseok dirawat kemudian masuk secara perlahan.

Miris sekali, sungguh. Sampai-sampai Taehyung tidak tau lagi bagaimana caranya bebicara.

Ini sudah yang kedua kalinya ia melihat Hoseok terbaring menyedihkan seperti ini. Apa ? Dia tidak memaki, hanya saja ingin rasanya ia meninju sesuatu yang bisa membuat rasa marahnya menghilang.

Bedebah macam apa yang tahan untuk main kucing tikus diusia mereka yang sudah bukan kanak-kanak lagi ?

Gila, Taehyung benar-benar gila memikirkannya.

"H-hyung" ujarnya pelan.

"Hyung harus bangun, oke. Setidaknya jangan tidur terlalu lama. Kau lupa kita kemari untuk liburan, aku menuntut itu semua karena aku sama sekali belum merasakan arti dari kata liburan yang sesungguhnya bersamamu. Jadi, bangun, ya ?" Taehyung berdalih.

Diusapnya surai coklat Hoseok yang tak terbalut kain perban, kemudian sebuah kecupan Taehyung sematkan pada dahi Hoseok lama.

Sangat lama.

Seakan Taehyung ingin sekali membagi hidupnya untuk Hoseok.

"Untuk sekarang tidur dulu yang nyenyak, aku akan keluar sebentar menemui seseorang" Taehyung tersenyum sayu. Hanya simbolis, sebenarnya hatinya menangis.

"Bangunlah, aku akan membawakan hadiah yang begitu kau inginkan, sebentar lagi" ujarnya pelan sembari melangkah meninggalkan Hoseok yang terbaring diranjangnya.

Dead Leaves

Taehyung berdiri dilorong rumah sakit sejak beberapa menit yang lalu. Matanya terpaku pada seorang pemuda yang duduk menunduk sembari mengusap mata berkali-kali.

Siapa lagi ?

Bedebah kecil yang hobi main tikus kucing, tentusaja.

Taehyung hanya mengamati dari tempatnya berdiri, sama sekali tidak ada niat untuk beranjak. Taehyung hanya ingin melihat, apasih yang akan dilakukan pemuda yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri itu setelah melihat semua yang belum pernah dilihatnya ? rumit ya ? memang, salahkan saja keadaan ini yang juga semakin hari semakin rumit.

Taehyung mengulas senyum tipis sebelum merogoh celana kain pendeknya untuk mengambil ponsel dan mengetik beberapa digit nomor disana.

Dia harus mulai bertindak sekarang.

"Datanglah sekarang, dia membutuhkanmu" ujar Taehyung pada seseorang diseberang telepon.

Masih ingat dengan Jungkook dan Jimin yang duduk ditaman rumah sakit, bukan ?

Nah, lihat saja sekarang, adegan roman picisan berbumbu angst ini sedang berlangsung.

Tapi tidak, bukan itu poin pentingnya.

Jungkook yang sedari tadi tersedu dibahu Jimin perlahan mulai tenang. Lelah juga menangis lama-lama. Tetapi, itu lebih baik daripada menangis dalam diam, kan ?

Adalah Jimin yang sekarang menatap kosong kearah langit sembari tangannya tidak berhenti mengelus surai coklat pemuda kesayangannya itu. Alih-alih berpikir, Jimin lebih cocok dibilang sedang melamun.

Mungkin, dia sedang membayangkan kalau sekarang bintang sedang asik tertawa.

Ah, tapi tidak mungkin.

Lalu apa ?

Menertawakan tingkah pontang-panting manusia. Bintang sudah terikat disana, tanpa bisa berlari kemanapun mengejar takdir yang sudah terencana oleh tuhan. Jangankan lari, bergerak pun sepertinya tidak bisa. Apa ya ? semacam ilusi.

Kenapa Jimin jadi iri dengan bintang ?

Jawabannya hanya satu.

Karena bintang tidak pernah redup, setidaknya menurut umur manusia.

"hyu..ung ?" Jimin reflek menoleh.

"Aku lagi-lagi kalah" cicit Jungkook.

'Bodoh, kau sudah kalah dari awal, bocah.' Teriak Jimin dalam hati.

"Aku butuh Hoseok hyung, aku tidak mau sendirian lagi" Jimin tersenyum tulus, setidaknya berusaha tulus.

Sendirian ya ? Jadi Jungkook anggap dia apa selama ini ?

Atau mungkin, dalam artian lain. Jimin masih ingin berpikir positif tentusaja.

"Aku menyakiti Hoseok hyung terlalu banyak, aku takut kehilangan keluarga lagi" Jimin mengangguk tanpa suara. Kali ini Jimin setuju, Jungkook masih punya keluarga, dan mungkin akan jadi keluargnya juga dikemudian hari.

"Hoseok hyung terluka karena aku, Hoseok hyung menderita karena aku, aku benar-benar tidak berguna" Jimin masih diam.

"Apa Hoseok hyung mau memaafkan ku ?"

"Tanpa kau minta pun, Hoseok hyung pasti sudah memaafkanmu, kakak macam apa yang tidak bisa memaafkan adiknya sendiri. Dengar Jungkook, aku tidak tau apa yang ada dikepalamu saat ini, tapi jika kau terus berpikir bahwa semua ini adalah salah mu, maka kusarankan untuk berhenti memikirkan hal-hal semacam itu. Kau sama sekali tidak bersalah, ini hanya musibah" Jimin angkat bicara.

"Tapi hyu–"

"Aku tau apa yang akan kau katakan, dan aku tidak ingin mendengarnya. Cukup pikirkan jika kau ingin menyambung kembali hubunganmu yang begitu renggang dengan kakakmu. Tidak perlu alasan, hanya lakukan." Jimin menopang dagunya dengan kedua telapak tangan sebelum kembali berujar, "rumah akan terasa gelap dan dingin tanpa adanya lentera, tidak peduli seberapa kecil lentera itu menyala, maka rumah akan dengan senang hati menerimanya".

"Kau tau, kita bukan lagi anak kecil, kita sudah mulai beranjak dewasa, orang dewasa berpikir menggunakan otak, sedangkan anak kecil, yah, kau tau sendiri bagaimana mereka, bukan ?" Jimin menatap Jungkook sesaat kemudian tersenyum.

"Kau sudah dewasa, Jungkook. Kau tau mana yang buruk dan mana yang baik" lalu Jimin mengusak surai Jungkook dengan pelan.

Biarkan saja remaja yang beranjak dewasa itu berpikir.

Mari doakan kesadaran Jungkook akan realita turut mengubah keadaannya esok hari.

Dead Leaves

"Berhenti melamun, dan masuklah kedalam, Kookie, kau harus makan" suara baritone itu mengagetkan Jungkook yang sedang berdiri didepan pintu ruang inap kakaknya.

Sudah dua hari ini Jungkook berdiam diri didepan pintu ruang rawat Hoseok, tanpa berniat untuk masuk, bahkan tak menyentuh knop pintu sama sekali. Sejujurnya, Jungkook takut. Takut akan semua hal. Termasuk penolakan.

Hey, Jungkook sudah berjanji, tapi tetap tidak berani.

Lelaki macam apa dia.

"Tidak perlu takut, semuanya akan baik-baik saja, Hoseok hyung juga pasti akan senang melihat kau datang" Jungkook tersentak kaget ketika tangannya tiba-tiba ditarik paksa oleh pemuda cantik yang dua hari belakangan ini sering menjejalinya dengan nasi dan sup ayam kedalam mulutnya.

"Ta..tapi hyung"

"Kubilang tidak apa-apa, percayalah, setidaknya bantu dia untuk sembuh, kau ingin minta maaf, bukan ? sekarang cepat hampiri dia"

"Tap...i"

"Jungkook.."

Jungkook menyerah, dia tidak mau lagi melawan.

Dihampirinya Hoseok yang tengah terbaring diranjangnya sembari menatap langit-langit kamar rawatnya. Ngomong-ngomong, Hoseok sudah sadar sejak tiga hari yang lalu. Tetapi, akibat beberapa saraf diotaknya terputus, otot tubuhnya mengalami disfungsi.

Tidak perlu dijelaskan secara detail, kalian tau apa yang terjadi dengan Hoseok, kan ?

"Hyu..hyung" Jungkook berujar pelan.

"Hyung, ini aku Ju..Jungkook"

Kemudian yang diajak bicara menoleh perlahan, seulas senyum tipis terukir dibibirnya yang pucat. Matanya berkaca-kaca, dan Hoseok hanya dapat menggerakkan jari-jari tangannya untuk menggapai tangan Jungkook.

Ah, tidak, Jungkook lah yang kemudian menggenggam jemari kurus Hoseok.

Dilihat dari semuanya, Hoseok ingin sekali memeluk Jungkook, amat sangat ingin. Jika saja dia bisa.

"Aku minta maaf, hyung. Aku benar-benar minta maaf, maafkan aku" Jungkook menangis untuk dirinya sendiri sembari meruntuk dalam hati. Betapa bodohnya dia, mengapa tidak minta maaf pada kakaknya jauh-jauh hari jika tau rasanya setelah minta maaf begitu membuatnya lega.

Mari lihat eksistensi satu manusia yang masih berdiri disamping sofa sembari meletakkan beberapa kotak makanan keatas meja. Taehyung tersenyum simpul, dia sedang berpikir, bagaimana bisa semuanya berakhir begitu menyenangkan sekaligus menyedihkan ?

Dia tidak ingin ambil pusing, dia ingin keluar dari ruangan ini secepatnya dan memberikan waktu untuk mereka berdua.

–atau setidaknya untuk Jungkook agar meminta maaf sampai mulutnya berbusa, walaupun sudah jelas Hoseok tidak pernah menyalahkannya.

Selanjutnya, mari tinggalkan Taehyung dan kembali ke Jungkook.

Jungkook mengusap wajahnya pelan kemudian tersenyum untuk sesaat,

"Cepatlah pulih hyung, dan kita akan kembali pulang kerumah, aku ingin pulang kerumah lagi bersama dengan hyung. Jadi kumohon, cepatlah sembuh"

Hoseok mengangguk sembari tangannya menggenggam lemah jemari Jungkook. Mencoba untuk menjelaskan pada Jungkook bahwa dia juga sangat ingin kembali pulang kerumah dan tinggal bersama Jungkook.

"Sekali lagi, maafkan aku hyung" cicit Jungkook pelan.

Jungkook berdalih dalam hati, menjadi melankolis tidak begitu buruk. Ada saat dimana ia harus sadar bahwa dirinya bukanlah satu-satunya pihak yang paling tersakiti. Jungkook sempat tertawa keras sampai menangis, apa-apaan hidupnya ini, kenapa lucu sekali untuk sekedar dijalani. Tetapi semakin hari dia semakin sadar, apapun kejadian menyakitkan yang pernah dialaminya, semuanya mampu merubahnya menjadi lebih dewasa.

Jungkook sempat iri pada teman-temannya mengenai bagaimana hidupnya bisa bahagia dengan hal-hal yang sederhana. Jungkook, sungguh iri, hingga ingin mati saja rasanya. Lenyap dari dunia agar lepas dari segala hal yang menghantuinya.

Tapi pada akhirnya dia bersyukur, bersyukur akan segala hal yang telah dilaluinya bersama dengan umpatan dan hinaan yang kerap kali keluar dari mulutnya.

Apa ?

Tidak ada yang aneh. Yang aneh hanyalah cara dia menjalani harinya.

Dan untungnya, kakaknya akan selalu ada untuknya walaupun Jungkook sudah menyakitinya berkali-kali.

_END_

p.s :

- pendarahan epidural atau Epidural Hematoma adalah pendarahan yang terjadi antara selaput pembungkus otak (duramater) dan tulang kepala. Ini terjadi akibat retaknya tulang kepala pada trauma kepala yang selanjutnya retakan itu akan menjadi sumber pendarahan. Darah akan berkumpul dan bertambah banyak secara perlahan dalam tempo yang singkat. Dampak buruknya adalah menyebabkan kematian.

a.n :

Gaje ya ? biarin, yang penting udah selesai. Mueheheheeee. Gaada moment hopev disini, maapkeun.

Terimakasih sudah mau menantikan cerita gaje dan absurd ini. Terimakasih review, follow dan favorite nya. Saranghae yeorobundeul…

Ponorogo, 19 Juni 2016 – 29 April 2017

Hosikki.