Umur Cast:

Choi Siwon: 24 tahun

Choi Yesung: 22 tahun

Choi Donghae: 5 tahun

Kim Ryeowook: 24 tahun


UCCHAN MEMPERSEMBAHKAN:

A Little Bit Of Love

Chapter 2: I Never Regret The Fact That I Loved You


RATED: (Eh… ini bisa diubah ke M, nggak sih?/PLAK!/ Ya udah, T aja dulu~!XD)


PAIR: YeWon/WonSung/WonYe/SungWon(Readerdeul: STOP!)


Genre: Hurt/comfort, family, romance, angst(hahahah)


Disclaimer: God, Parents, SM, ELF, Self. Except Yesungie! HE'S MINE! #PLAK


Warn!: OOC, YAOI/BL(Boys!Love), angst gaje, romancenya garing, alur ngadat, super cepat, Fic Request, CRACK PAIR!


DLDR!

:::

SMILEEEEE~~~!(Readerdeul: APAAN SIH?!)


Cip cip cip~

Donghae kecil tampak menggeliat di atas tempat tidurnya. Kedua kelopak matanya mengerjap berkali-kali berusaha beradaptasi dengan cahaya mentari yang masuk melalui jendela kamarnya. Ia berguling-guling sedikit berusaha menyegarkan tubuhnya. Membuang rasa kantuknya, dan membentuk senyuman lebar di bibir tipisnya.

"Ummaaa~! Hae cudah banguuunn~!" teriaknya girang sambil melompat-lompat gaje di atas tempat tidurnya. Bahkan ia baru bangun tidur, tapi sudah seaktif ini. Untung saja dia tidak tidur sekamar dengan Hyukjae, teman seperhyperannya(?). Bisa-bisa kamar bernuansa ikannya ini berubah menjadi pemandangan kapal pecah buah pertarungannya melawan monyet cilik itu.

"Ummaaaa?"

Hening… tak ada balasan.

Donghae mengernyit. Biasanya kalau ia sudah berteriak-teriak sambil lompat-lompat gitu, ummanya pasti akan segera datang untuk memarahinya. Tapi ini…

Dengan sedikit was-was, ikan kecil kita ini turun dari tempat tidurnya, lalu melangkah menuju pintu kamarnya.

Krieet~

"Umma…?" panggilnya setelah membuka sedikit pintu kamarnya.

Masih tak ada jawaban.

Donghae memeluk erat boneka nemonya, lalu melangkah menuju kamar ummanya sambil menyeret-nyeret selimut birunya. "Umma…"

Krieet~…

Donghae membuka pintu kamar ummanya tanpa suara. Mengintip ke dalam, dan terkejut.

Ummanya ada di sana. Tapi sedang menangis. Menangis sambil memanggil-manggil nama appanya.

"Wonnie… hiks… Wonniee…"

Donghae memiringkan kepalanya imut. Kenapa ummanya menangis? Kenapa ummanya memanggil-manggil nama appanya? Kenapa? Semua pertanyaan itu berkecamuk di pikiran mungil Choi Donghae./plak/

Tapi yang dia tahu pasti, hatinya terasa sakit melihat umma yang sangat disayanginya ini menangis. 'Umma… waeyo…? Kenapa umma menangis…?' ingin rasanya Donghae berlari ke arah ummanya itu untuk menenangkan sang umma.

… Tapi kakinya terasa kaku. Tak bisa melangkah sedikitpun. Bibirnya pun serasa kelu.

"Wonnie… hiks… eodiga… hiks… jangan tinggalkan aku sendiri…"

… Sebenarnya apa yang terjadi pada umma dan appanya ini…? Donghae menatap ummanya dengan ekspresi yang tak dapat dibaca.

"Hiks… jangan tinggalkan aku, Wonnie… tak masalah… hiks… tak masalah jika kau mencintai namja ataupun yeoja-yeoja itu… hiks… tapi tolong… tolong jangan tinggalkan aku…"

Kedua obsidian Donghae membulat.

"… Aku menyayangimu, Wonnie…"

:

:

-Café Mouse and Rabbit…

Siwon tampak mengaduk-ngaduk kopinya tanpa selera. Hari ini ia akan bertemu dengan namja yang sangat dicintainya. Namja yang benar-benar dicintainya. Namja yang… mampu membuatnya berdebar-debar ketika dark chocolatenya bertemu dengan chocolate bening itu.

"Hhhh…"

Tapi kenapa perasaan Siwon seakan gelisah…? Bukannya rasa bahagia?

Dia akan meminang namja ini sebentar lagi. Dan itu berarti ia akan berpisah dengan Yesung, namja yang sama sekali tidak dicintainya –atau begitulah menurutnya.

… Tapi kenapa dada namja tampan itu terasa sesak…?

"Wonniee~! Kau sudah lama menunggu?"

Siwon menoleh saat mendengar suara merdu di belakangnya. "A-ah, aniya. Aku baru saja sampai, Wookie ah." ujarnya sambil tersenyum lebar.

Ryeowook mendengus. "Pembohoong~! Kalau kau baru datang, kenapa kopimu sudah dingin begini, heum?" sindirnya sambil duduk di depan Siwon. "Kau sudah mulai berani membohongiku, eoh!"

Siwon menggeleng gugup. "A-aniya! Aku hanya melamun tadi! Tanpa sadar aku menjawab begitu! Heheheh!"

Ryeowook menatapnya sejenak. Namun sebuah senyum langsung terkembang di bibir plumnya. "Jadi?"

Siwon mengernyit mendengar pertanyaan ambigu Ryeowook, sang kekasih. "Jadi apa?"

Ryeowook menggembungkan pipinya kesal. "Jadi kau sudah menceraikan namja aneh itu, bukan?!"

Siwon tergagap. "Err, belum, Wookiee…"

Kedua chocolate Ryeowook membulat. "MWO?! Tapi katanya kau…"

"… Beri aku sedikit waktu, Wookie…" Siwon menghela napas sambil menyandarkan punggungnya. "Lupakan soal Yesung. Bagaimana kabarmu di Paris?"

Ryeowook yang tadinya hendak menyela ucapan Siwon, segera tersenyum lebar. "Menyenangkan! Kau tahu, Siwonniee~! Waktu itu aku bertemu seorang namja tampan yang ternyata dosenku! Dia-"

Siwon menatapnya. Ya, menatapnya. Tapi tidak mendengarkannya. Entah kenapa raganya seakan berada di tempat lain.

… Debarannya dulu saat bersama Ryeowook menghilang…

Hei, bukankah dia begitu mencintai namja manis di depannya ini…?

Lalu mengapa rasanya… biasa saja…?

Ryeowook tidak membuatnya merasa berdebar lagi seperti dulu. Wajah manis Ryeowook sama sekali tidak berubah. Tapi entah kenapa… Siwon merasa ada yang kurang.

Tiba-tiba, sosok Yesung terbayang dalam benaknya. "…"

Apakah dia sudah mulai mencintai namja manis itu…? Siwon menggeleng samar. 'Tidak. Aku memiliki Wookie. Yesung… hanya sebuah produk gagal hasil perjanjianku dengan Mr. Kim. Rasaku pada Kim Yesung hanyalah sebuah rasa simpati. Tidak kurang tidak lebih. Aku hanya mencintai Wookie. Waktulah yang membuat rasa cintaku berkurang. Tapi aku yakin dengan dirinya di sisiku saat ini, rasa cintaku dapat kembali tumbuh! Bahkan lebih besar dari yang sebelumnya!'

'… Tidak. Aku tidak pernah mencintainya. Aku tidak akan pernah mencintai Yesung. Dan itulah kenyataanya.' Dark chocolatenya menyendu. Entah kenapa jantungnya langsung berdenyut menyakitkan saat ia memikirkan hal itu. '…'

"Hei, Wonniee! Jangan diam saja! Bagaimana menurutmu soal dosen tampanku itu?!"

Siwon tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum lembut pada Ryewook setengah tertawa.

"Hmm~… aku cemburu karena kau menceritakan namja lain, Wookiee…"

Ya. Apa yang bisa ia lakukan sekarang…?

Ryeowook menatap Siwon intens. Sebuah luka tak dapat disembunyikan chocolate bening itu. '… Benarkah kau masih mencintaiku, Wonnie…?'

:

:

"Kau mau tambah serealnya, Hae?" tawar Yesung sambil menyodorkan sekotak sereal pada ikan kecilnya. Kini mereka tengah menjalani upacara sarapan bersama. Tanpa sang appa tentu saja.

Yesung sedikit heran karena sedari tadi Donghae tampak murung. Dan menjawab pertanyaan Yesung hanya dengan gumaman. "Hae? Kau kenapa sih? Apa ada yang sakit?" tanyanya khawatir. Tidak biasanya ikan hiperaktifnya ini menjadi pendiam.

Donghae mengangkat wajahnya, menatap raut cemas ummanya. Ia menggeleng kecil. "Anii… Hae baik-baik caja. Hajiman…"

"Ne?"

"Hae belcungguh-cungguh caat becal nanti, Hae akan menikahi umma!"

Kedua obsidian Yesung terbelalak mendengar celetukan malaikat kecilnya ini. "Mwo? Jangan bercanda, Haee! Aish jinjja!" sungut Yesung sambil mengacak-acak surai Donghae. "Sekarang jujur pada umma! Ada apa sebenarnya?"

Donghae menatap Yesung. Masih dengan raut wajah seriusnya. "Hae tidak belcanda, umma. Hae akan menikahi umma dan membahagiakan umma!"

Yesung menatapnya dengan tatapan ambigu. "… Apa maksudmu, Hae…?"

Hae mengaduk-aduk serealnya dengan tidak niat. "Appa cudah gagal membahagiakan umma! Cekalang gililan Hae yang akan membahagiakan umma!"

Yesung mendengus. "Bicara apa kau! Appamu itu tidak pernah gagal membahagiakan umma!" elaknya sambil mencubit hidung Donghae. "Nappeun Hae! Cepat habiskan sarapanmu sebelum umma memukul pantatmu!"

"Tapi umma!" Donghae menatap ummanya sedih. "Hae melihat umma nangic tadi…"

DEG

"E-eh, kau bilang apa, Hae…?" tanya Yesung gugup. "Umma tidak menangis…"

Donghae cemberut. Ia berdiri di atas kursinya, lalu menarik wajah ummanya mendekat. "Hae janji, Hae akan membahagiakan umma!"

Chu~

Yesung terbelalak saat Donghae menciumnya. Hanya cium khas anak-anak, sekedar menempel tanpa lumatan ataupun jilatan. Donghae memang masih polos kalau soal begituan.

Donghae menjauhkan wajahnya dengan tampang serius. "Makanya umma! Tunggu Hae cebental lagi, ne! Hae pacti tidak akan membuat umma menangic! Hae akan jadi namja tampan yang celalu membuat umma telcenyum!"

Yesung menatap anaknya penuh haru. Sungguh bahagia memiliki anak semanis Donghae. Yesung tersenyum lebar, lalu membawa Donghae ke dalam pelukannya. "… Ne… gomawo… Hae…"

Donghae menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang umma. Ia membuka mulutnya hendak bersuara,

"… Dan acal umma tahu caja. Hae mengatakan ini bukan untuk menghibul umma. Tapi Hae belcungguh-cungguh. Hae mencintai umma."

Dikecupnya leher sang umma dengan lembut. "… Hae akan melebut umma dali appa."

:

:

Cklek

"Aku pulang…" gumam Siwon dengan wajah letih. Entah… dia letih karena berpergian… atau hanya karena terlalu lelah dengan perasaannya.

Alisnya bertaut bingung. Biasanya Yesung akan menyambutnya jika dia pulang. Tapi ini… Siwon menggeleng. Apa ini? Dia mengharapkan Yesung menyambutnya? "Hh… aku pasti terlalu lelah…"

"Dali mana, appa…?"

Siwon sontak menoleh ke asal suara. Ia tersenyum lebar saat melihat jagoan kecilnya yang tengah berdiri di anak tangga. Tangan mungilnya dilipat, dan jangan lupakan ekspresi dingin yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Hae? Kau sudah bangun?" tanya Siwon dengan senyum heran. Biasanya hari libur begini Donghae akan tidur sampai siang. Kalaupun ia bangun, pasti ia akan tidur lagi setelah sarapan.

Donghae menggeleng. "Hae menunggu appa." Jawabnya denga nada dingin.

Siwon mengernyit. "Tumben. Ada apa?" tanyanya sambil mendekati Donghae.

"Jangan mendekat!" desis Donghae sambil melangkah mundur satu anak tangga. Siwon langsung menghentikan langkahnya dengan ekspresi bingung. "Appa… apa appa balu caja beltemu dengan noona lain lagi?"

Kedua dark chocolate Siwon terbelalak. "Apa maksudmu, Hae?"

Donghae kembali menggeleng. "Hae cudah tahu, appa! Celama ini Hae mempelcayai appa. Tapi telnyata Hae calah!"

Siwon semakin tidak mengerti maksud anak semata wayangnya ini.

"Appa cudah melukai umma!" kata Donghae lantang. "Appa cudah membuat umma menangic! Appa tukang celingkuh! Yeoja-yeoja yang appa bawa kemali bukan teman kelja appa 'kan?! Mereka celingkuhan appa! Appa pembohong!"

Tangan Siwon terkepal. Rahangnya pun mengeras. "… Apa ummamu memberitahumu?"

Donghae menggeleng dengan wajah datar. "… Tidak. Hae menyimpulkannya cendili. Lagipula tadi pagi Hae tak cengaja melihat umma menangic cambil memanggil-manggil nama appa."

Deg

Siwon menatap Donghae dengan raut wajah yang menegang. Apa yang dikatakan Donghae benar…? Yesung menangis…?

"… Umma cangat menyayangi appa… tapi appa cama cekali tidak menghalgai umma. Bahkan appa menculigai umma mengadukan pelbuatan lendahan appa kepada Hae!" Donghae berbalik dan menaiki satu persatu anak tangga. Tapi langkahnya terhenti di anak tangga terakhir. "Ah… dan Hae juga mau membelitahu cecuatu pada appa."

"Hae akan melebut umma dali appa, dan menikahinya."

"… Tidak cepelti appa, Hae pacti bica membuat umma bahagia!"

Setelah berkata begitu, Donghae melangkah menuju kamarnya tanpa bersuara lagi.

Meninggalkan Siwon yang masih berusaha mencerna perkataan sang aegya.

Kedua dark chocolate itu kembali menyendu.

'Bahkan anakku sendiri sudah berkata begitu padaku…'

:

:

Ia menatap seorang namja manis yang sedang tertidur dengan wajah damai. Tak bersuara sedikitpun. Tak mau mengganggu tidur namja manis itu sepertinya.

Jika dia boleh jujur… dia mulai menyukai namja manis yang selalu keras kepala ini.

… Tapi dia tidak mau jujur. Tidak. Dia harus membohongi perasaannya sendiri.

… Karena jika dia jujur, akan banyak yang terluka. Jadi bolehkah dia mengorbankan perasaan Yesung saja…?

… Atau dia terlalu kejam karena mengorbankan perasaan dan kebahagiaan namja yang sangat mencintainya ini…? Hei… bukan hanya Yesung yang terluka saat ini.

Dia juga.

'Mian, Yesung ah…' jemarinya terangkat untuk membelai lembut surai hitam legam milik Yesung. Sebuah senyum pahit terukir di bibirnya. '… Cepat atau lambat, kau akan mengerti.'

"…" dark chocolatenya menatap intens bibir cherry yang sedang terkatup rapat itu. tak memikirkan apa-apa. Hanya jantungnya yang berdetak kencang. Perlahan, Siwon memajukan wajahnya mendekati Yesung yang masih tertidur itu.

Bibir jokernya hanya menempel. Tanpa melumat atau melakukan hal lainnya. Siwon memejamkan matanya saat merasakan desiran aneh di hatinya. Dan dia tahu pasti desiran apa itu. Desiran yang sangat dikenalnya…

Tak mau membangunkan Yesung, Siwon segera menjauhkan wajahnya. Menatap wajah cantik itu untuk beberapa lama, dan bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.

'… Aku hanya berharap… kau tidak akan terluka semakin dalam, Yesung ah…'

Blam

Dan bersamaan dengan bunyi pintu kamar mandi yang ditutup Siwon itu, sepasang obsidian tampak terbuka. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan yang tak dapat dijelaskan.

Senang, heran, sedih, bingung. Semua ada.

Bahkan ia terlalu bingung hendak merespon bagaimana. Hanya jari mungilnya yang terangkat untuk menyentuh bibir cherrynya.

'… Wonnie menciumku…?'

Dan sebuah senyuman indah terlukis jelas di wajah cantiknya.

'… Aku mencintaimu, Wonnie… meski mungkin tadi kau menciumku…'

'… Hanya sebagai salam perpisahan.'


...

Sudah beberapa hari berlalu, dan Siwon semakin jarang pulang ke rumah.

Ia meninggalkan Yesung dan Donghae, anaknya sendiri di rumah.

… Tapi Yesung tak masalah. Dia hanya menikmati saat-saat bisa bersama dengan Siwon. Walau mungkin hanya dalam pikirannya saja. Saat-saat ia bisa mencintai Siwon sebagai seorang istri resmi.

Karena dia tak tahu kapan Siwon akan menceraikannya. Yang ia tahu, namja tampan itu akan melakukannya cepat, atau lambat.

Itu pasti, bukan…?

:

:

"Umma… becok hali ulang tahun appa, ne?" tanya Donghae yang kini sudah berada di bawah selimut tebalnya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Itu berarti waktunya untuk dia tidur.

Yesung duduk di pinggir ranjang anak manisnya itu sambil tersenyum. "Ne, waeyo?" tanyanya sambil membelai surai brunette Donghae.

Donghae cemberut. "Hae tidak jadi melayakannya, umma!"

Yesung terbelalak. "Eeehh? Wae?!"

"Hae tidak mau melayakan ulang tahun orang acing!"

Pletak

"Auuu! Ummaaa!" rajuk Donghae sambil memegangi kepalanya yang ditabok Yesung.

Yesung menggeleng kesal. "Apa maksudmu orang asing? Dia appamu, Hae!"

Donghae menatap ummanya tajam. "Tapi appa cudah membelikan culat celainya kepada umma!" teriak Donghae dengan wajah merah menahan emosi. "Dia cudah bukan appa Hae lagi! Hae benci dia!"

Yesung diam menatap anak semata wayangnya itu. walau Donghae bukan anak kandungnya, tapi Yesung sudah menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri. Dia sudah sangat menyayangi Donghae…

… Dan yah. Yang dikatakan Donghae memang benar. Tadi pagi, tepat ketika Yesung membuka mata, ia menemukan Siwon sudah berada di sampingnya. Tadinya dia merasa begitu bahagia.

… Tapi semuanya hancur saat Siwon memberikannya surat itu.


FLASHBACK: ON


"Unghh~…" lenguhan kecil terdengar dari bibir kissablenya. Dengan berat, ia berusaha membuka matanya. Namun kedua sarang obsidian itu langsung terbuka lebar saat mengetahui ada sosok lain yang tengah berbaring di sampingnya. "Ah… Wonniee… selamat pagi!" ucapnya sambil tersenyum manis.

Sosok yang dipanggilnya Wonnie itu tidak menyahut. Sosok itu hanya diam sambil memandang langit-langit. Hal itu membuat si manis bingung. "Wonnie…?"

Tanpa menjawab, namja tampan itu memberikan sebuah amplop cokelat besar kepada si manis.

"Apa ini?" tanya namja manis itu bingung. Tapi ia tetap membuka amplop itu, dan membaca selembar kertas yang ada di dalam amplop cokelat itu.

Seketika matanya membelalak. "W-Wonnie…! Ini…"

Siwon melirik ke arahnya. "… Tanda tangani malam ini juga. Aku akan membawanya ke pengacara Jung besok." Setelah berkata begitu, Siwon beranjak dari tidurnya, dan melangkah menuju pintu kamar.

… Meninggalkan Yesung yang hanya menatap kosong sebuah kolom kosong yang belum diisi. Matanya memanas. Tapi tak ada setetes air matanya yang mau menetes.

Dia tahu hari ini akan tiba.

… Tapi dia tidak menyangka hari ini akan tiba secepat ini.

"… Hahaha… sepertinya dia sudah muak denganku…"

Tes tes

"A-ah…? Kenapa aku menangis…?"


FLASHBACK: OFF


Hei, tak ada yang bisa Yesung lakukan lagi, bukan? Rasanya begitu berat menandatangani surat cerai itu. Tapi Yesung tidak ingin egois lagi. Sudah cukup beberapa tahun ini ia menyiksa Siwon dengan kekeraskepalaannya. Siwon tidak mencintainya. Dia tahu itu sejak pertama melihat kedua dark chocolate milik Siwon. Tapi dia menepisnya. Terlalu lama membantahnya, sehingga membawa kehancuran pada dirinya sendiri.

… Dia ingin melihat Siwon bahagia.

Walau dia harus melihatnya, dalam keadaan yang paling menyedihkan.

… Yaitu kehilangan orang yang paling dicintainya.

:

:

Yesung memandangi surat pernyataan cerai yang ada di tangannya. Jam sudah menunjukkan jam 11 malam, Siwon belum juga pulang.

'… Apa yang harus kulakukan…?' batin Yesung sedih. '… Aku masih mencintainya…' ia menggeleng. 'Tidak boleh! Namjachingu Wonnie sudah datang! Aku tak boleh mengganggu mereka lebih dari ini!' dengan penuh tekad, ia mengambil pulpen dari laci mejanya. Tapi tepat sebelum ujung pulpen itu menyentuh kertas, rasa bimbang kembali menyerangnya.

Apakah dia mampu hidup tanpa Siwon…?

"… Dan acal umma tahu caja. Hae mengatakan ini bukan untuk menghibul umma. Tapi Hae belcungguh-cungguh. Hae mencintai umma."

Yesung tersenyum miris. '… Hae…' ya, dia masih memiliki malaikat kecilnya itu. dia tidak sendiri.

… Tapi kenapa tangannya tetap tak mau bergerak…?

BRAK BRAK

"E-eh?" Yesung terlonjak kaget saat mendengar pukulan kasar dipintu rumahnya. Buru-buru ia berlari menuju pintu depan. "C-chakkaman!" teriaknya panik.

Krieet

"Ada yang bisa saya ban-"

Brugh

Yesung terlonjak saat tubuh kekar seorang namja tiba-tiba menabraknya. Ia langsung mengenali pemilik tubuh kekar ini. "W-Wonnie?" panggilnya ragu. '… Bau alkohol?' batin Yesung saat menyadari bau yang janggal dari suaminya itu. "Kau minum, Wonnie?!" tanyanya panik. Selama dia mengenal Siwon, suaminya ini tidak pernah minum alkohol, bahkan meski dia sedang ada masalah.

"Hmm…" gumam Siwon tak jelas. "… Wookieee~… kenapa kau tega…"

Yesung mengernyit. 'Wookie? Apa namjachingunya?' Yesung segera menggeleng. Yang harus dilakukannya sekarang adalah membawa Siwon ke kamar! Dengan susah payah dan beberapa kali hampir terjatuh, akhirnya Yesung berhasil membawa Siwon ke kamarnya. Setelah membaringkan Siwon dan melepas sepatunya, buru-buru Yesung turun ke dapur untuk mengambil segelas air hangat untuk menenangkan Siwon.

Yesung kembali memasuki kamar dengan segelas air di tangan.

"Wonnieee, Wonniee, minum dulu…" ujar Yesung pelan sambil berusaha menyandarkan Siwon ke nightstand ranjang. Siwon menatapnya tanpa berkedip. Tentu saja itu membuat Yesung sedikit malu.

"W-Wonnie-"

"Katanya aku mencintaimu."

Yesung mengernyit. "Wonnie? Kau bicara apa-"

"Dia berkata begitu, lalu bercumbu dengan namja lain tepat di depan mataku."

"…"

"Katanya aku sudah tidak mencintainya. Tapi malah jatuh cinta pada namja aneh sepertimu."

DEG

Yesung tertunduk dengan wajah sedih. Ya… dia pantas menerimanya. Dia memang aneh! Dia akui itu. "…" bibir cherry itu tetap menutup. Takut jika bersuara, maka akan membawa malapetaka baginya.

"… Tapi aku ingin dia tahu. Dia salah."

Yesung mengangkat wajahnya. Menatap Siwon yang masih menatap dirinya dengan tatapan ambigu.

"Aku sama sekali tidak mencintaimu."

DEG

"… Aku tidak ingin mencintaimu." Sebuah guratan emosi mulai nampak diwajah namja tampan itu. "… Kau membuatku muak, Kim Jongwoon."

"A-ap-" Yesung terkejut saat Siwon malah menariknya, dan menindihnya di atas ranjang. Itu mengakibatkan gelas berisi air yang dibawanya, malah pecah karena membentur lantai.

Yesung berusaha berontak, namun tangan Siwon sudah mengunci pergerakannya.

"… Akan kuberikan apa yang kau mau, Kim Jongwoon…" dark chocolate itu menatap tajam obsidian yang mulai berair itu.

Tidak! Yesung tidak mau melakukannya! Dia tidak mau Siwon melakukannya hanya karena emosi! "ANI! WONNIE! LEPASKAN AKU!" bentaknya sambil berontak. "A-ah! Wonnie… appo…" ringisnya saat Siwon mengeratkan cengkramannya di tangan Yesung.

Siwon tak berkata apapun. Ia melepas dasinya sendiri, lalu mengikat kedua tangan mungil Yesung ke bedstand ranjang. Ia bangkit menuju pintu kamar, dan menguncinya.

"Hiks… hiks… Wonnie… jangan… jebal…!" isak Yesung saat melihat Siwon mendekatinya sambil melepas pakaian yang melekat ditubuh atletisnya. "Wonnie…"

Siwon tetap tak menjawab. Ia langsung menindih tubuh Yesung, dan melumat bibir cherrynya dengan kasar. Jemarinya dengan lincah melepas kancing piyama kura-kura Yesung.

"Emph! Wonnieh…! A-andwaeh…!" air mata itu semakin banyak menghiasi wajah manisnya yang sudah benar-benar kacau. Ia berusaha berontak, tapi ikatan Siwon di tangannya benar-benar kuat. Ia yakin ikatan itu akan membekas di tangannya.

"…"

Dan yang paling Yesung benci, Siwon tak mengatakan apapun lagi. Hanya menjamah tubuh dan bibir Yesung. Menusuk hole namja manis itu dengan keras. Dan membuat luka yang begitu dalam di hati namja manis itu.

'… Setidaknya… bicaralah padaku Wonnie…'

Tes tes

'… Kau membuatku bingung…'

Sakit. Sakit saat Siwon memasuki holenya secara paksa, bahkan tanpa persiapan terlebih dahulu. Sakit saat tangan Siwon yang terus mencubit nipplesnya dengan kuat. Sakit saat Siwon merobek holenya, dan membuat darah mengucur dengan deras dari dalam hole yang belum pernah terjamah tersebut.

… Sakit saat Siwon melakukan itu semua tanpa menatap ke arahnya. Ke arahnya yang sedang menangis. Ke arahnya yang berteriak meminta Siwon untuk berhenti. Ke arahnya… yang sudah diam karena tak bisa bersuara lagi.

Yang bisa ia lakukan sekarang hanya mendesah nikmat dan meringis kesakitan.

Tapi percayalah…

… Yesung sama sekali tidak menikmatinya.


-Donghae's Room…

"A-AH! WONNIEE! HIKS…! J-jebal…!"

Kedua kelopak mata mungil itu terbuka. Menampakkan sepasang obsidian yang menegang. '… Umma…?'

"A-AAHH! APPO! APPO, WONNIEEE! HIKS… HENTIKAN… JEBAL…! Geundaee!"

Perlahan, bocah mungil itu turun dari tempat tidurnya, sambil memeluk boneka nemonya dengan perasaan was-was. Ia berlari secepat mungkin menuju kamar ummanya.

TOK TOK

"Umma? Ummaa!" pekik Donghae sambil menggedor-gedor pintu.

"AAHHH!"

Rasa takut semakin menyerang Donghae. Ia berusaha membuka pintu, tapi ternyata pintu dikunci dari dalam. "UMMAAA!" teriaknya sambil kembali menggedor pintu kamar.

"Hiks...! Wonnie…! J-jebal… geun… dae…"

Mata Donghae mulai memanas mendengar teriakan kesakitan ummanya. "UMMA! UMMAA!"

Sungguh. Donghae tidak akan memaafkan Siwon jika sampai melukai ummanya lebih jauh lagi! "UMMAA!" teriaknya sambil berusaha membuka pintu kamar. Dia tahu itu percuma. Tapi dia bisa apa? Dia masih kecil, belum bisa mendobrak pintu. Apalagi pintu kamar orang tuanya ini terbuat dari kayu yang sangat keras.

… Yang bisa ia lakukan sekarang hanya berdoa. Berdoa semoga ummanya akan baik-baik saja! "Umma…! Hiks… Hae takut… umma…!"

"… Hae akan melebut umma dali appa."

Itu bukan sebuah kalimat yang tidak terbukti kebenarannya.

… Terkadang anak kecil jauh lebih bisa mengatakan kebenaran dibandingkan dengan orang dewasa.

Dan bukankah dia salah satunya…?

-Morning…

… Perlahan ia membuka kedua sarang obsidiannya. Menatap langit-langit kamar. Berharap yang terjadi tadi malam itu hanyalah sebuah mimpi buruk. Tapi ketika ia menoleh ke samping, ia tahu. Tadi malam itu nyata.

Rasa sakit kembali menyerang hatinya. Begitu menyakitkan! Seakan hatinya diremas dengan sangat kuat dan diinjak-injak oleh orang yang dicintainya sendiri.

Kembali mengingat kejadian semalam. Sungguh, dia ingin melupakannya. Tapi memori waktu itu terus terputar seperti kaset rusak di benaknya.

Ia berusaha duduk di tempat tidur. Sedikit meringis saat merasakan sakit di holenya. Ia menunduk sedikit dan melihat cairan bening berwarna keputih-putihan terlihat sedikit bercampur dengan cairan merah kental yang ternyata darah.

Ia hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Dia selalu memimpikan Siwon menyentuhnya. Tapi tidak seperti ini.

… Tidak tanpa cinta.

Siwon mabuk. Yesung sadar itu. Yesung juga sadar, Siwon hanya tertekan. Mungkin ada masalah dengan namjachingunya yang dipanggil Wookie itu. Siwon melakukannya secara tidak sadar. Yesung mengerti.

"Aku sama sekali tidak mencintaimu."

… Siwon memang tidak pernah mencintainya.

Yesung tersenyum miris. Apa ciuman lembut Siwon padanya beberapa hari yang lalu itu hanya imajinasinya belaka…? Tapi kenapa terasa begitu nyata…?

Obsidiannya kemudian tertuju pada selembar kertas yang tergeletak di lantai. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya. Ia berdiri, lalu melangkah tertatih untuk memungut kertas itu. setelahnya, ia meraih pulpen yang ada di atas meja nakas.

… Kau sudah bisa menebaknya. Yesung sedang melakukannya…!

Yesung sedang membebaskan Siwon.

Membebaskan Siwon untuk bersama dengan orang yang dicintainya.

Tes

Senyum itu tetap terpasang. Walau air mata sudah menetes dari sarang obsidiannya. Dia bahagia. Walau ada rasa sakit yang teramat sangat di hatinya.

… Setidaknya dengan ini, dia tidak akan menyiksa Siwon dengan keegoisannya lagi.

Sudah cukup. Siwon sudah muak padanya. Dia sudah cukup mendengarnya dari mulut Siwon sendiri.

"Saengil cukha hamnida, Siwon ah…" Yesung melirik Siwon yang masih terlelap dengan senyuman miris. "… Mian sudah memaksamu untuk menikah denganku. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Gumamnya dengan nada yang bergetar samar. "… Terima kasih untuk detik-detik berharga yang sudah kau berikan padaku."

"Saranghaeyo."

Ia menatap wajah tampan itu untuk sejenak. Berusaha merekam setiap inci wajah sempurna milik namja tampan itu. Setelahnya, ia buru-buru berpakaian, dan melangkah menuju pintu kamar yang masih terkunci.

Dibukanya pintu itu dengan pelan –setelah memutar kuncinya. Dan ia menatap sesosok bocah mungil yang duduk bersandar di dinding tak jauh dari pintu kamarnya.

Bocah itu menoleh dengan kedua obsidian membulat. "… Umm… a…"

Dari keadaannya saja, Yesung sudah tahu. Bocah kecil itu tidak tidur sama sekali. Lihat saja kantung mata hitam dan wajah pucatnya. Perlahan bocah itu mencoba berdiri. Ia berjalan terhuyung ke ummanya. Dia langsung memeluk kaki ummanya itu sambil menangis terisak. "Umma… mian Hae tidak bica menyelamatkan umma… Hae payah…"

Yesung menggeleng lalu berjongkok untuk membalas pelukan Donghae –nama bocah kecil itu. Sedikit meringis saat merasakan perih di holenya. "Aniya… Hae sama sekali tidak payah, hm." Bisik Yesung sambil mencium dahi Donghae dengan lembut. "Hae hebat… sangat hebat…" dieratkannya pelukannya pada tubuh mungil Donghae.

Donghae menatap pergelangan tangan ummanya yang memerah. Belum lagi bau-bau aneh yang berasal dari dalam kamar. "… Umma mau pelgi…?" tanyanya pelan.

"… Ya. Appamu tidak bahagia dengan umma. Jadi umma pergi, Hae." Jelas Yesung. Ada rasa sakit yang mendera hatinya saat mengatakan itu. tapi itu memang benar, bukan…?

"… Kalau begitu, Hae ikut umma!"

Yesung sontak menggeleng. "Umma tidak punya apapun, Hae. Umma tidak bisa membiayaimu sekolah. Lebih baik jika kau bersama appamu. Dia bisa membiayaim-"

"Dia bukan appa Hae." Donghae menunduk. "Hae hanya punya umma…" ia menatap Yesung dengan sedih. "Umma membenci Hae…?"

Yesung menatapnya sedih. "Tentu saja tidak, Hae. Umma sangat menyayangimu…" ia tersenyum sambil mengecup pipi chubby Donghae. "Karena itu umma tidak mau kau mengalami kesulitan, Hae…"

"Kalau umma menyayangi Hae, umma haluc teluc belcama dengan Hae!" seru Donghae dengan wajah serius. "Hae akan menjaga umma. Apapun yang teljadi, Hae akan menjaga umma! Hae mencintai umma!" dipeluknya ummanya itu dengan erat. Tak mau melepas walau sedikitpun juga.

Yesung menunduk. Menyembunyikan air mata yang mulai menggenangi kedua sarang obsidiannya. "… Gomawo, Hae… umma menyayangimu…"

"… Ah… tapi sebelum kita pergi… kita harus melakukan sesuatu terlebih dahulu, Hae…"

:

:

Perlahan, kedua kelopak mata itu terbuka. Menampakkan kedua dark chocolate yang begitu kelam. Seakan telah kehilangan cahayanya. Ia melirik ke samping, dan tak menemukan apapun di sana. Hanya selembar kertas yang tampaknya sudah ditanda tangani.

Sebuah senyum tersungging di bibir jokernya. Tapi percayalah, senyuman itu tak seindah kelihatannya.

Ada luka di sana.

Ia perlahan bangun dari tidurnya. Menghela napas panjang, lalu menatap ke arah jam dinding yang tergantung di dinding kamarnya. Sudah jam setengah 8.

Siwon tidak perduli walau ia terlambat. Hei, dia ini direkturnya. Jadi tak akan ada yang menegurnya walau ia tidak masuk sekalipun.

Hari ini ulang tahunnya. Tapi entah kenapa, terasa ada yang kurang…

Ia berdiri, dan melangkah menuju pintu kamarnya. Mungkin segelas air dapat membantunya menjernihkan otaknya.

Siwon menatap sebuah cake cokelat –yang sedikit belepotan– di atas meja. Di samping cake cokelat itu, ada selembar kertas yang berisi tulisan yang sangat dikenalnya.

Siwon mendekati meja, dan memandangi surat berisi tulisan Yesung dengan seksama. Dia tak ingin membacanya. Tapi… tangannya terulur untuk meraih kertas yang tampak masih baru itu.

Dark chocolatenya membaca surat itu dengan tatapan kosong.

'Saengil cukha hamnida, Wonnie! Mian kalau cake cokelatnya berantakan ataupun tidak enak! Hae tidak sengaja menaburkan banyak garam di adonannya!

Aku juga minta maaf karena tidak merayakan ulang tahunmu bersama denganmu! Aku tidak bisa… aku yakin kau akan lebih senang merayakannya dengan namjachingumu.

Maaf aku sudah mengacaukan hubungan kalian. Aku tahu aku salah. Jadi tolong biarkan aku menebusnya! Aku akan menebusnya dengan pergi sejauh mungkin darimu. Kuharap itu cukup. Dan aku harap kau tidak akan muak lagi padaku! Aku akan belajar agar tidak egois, Wonnie. Aku akan berusaha!

Hae memaksa untuk ikut denganku. Jadi aku membawanya, mian Wonnie… aku harap kau bisa melepasnya. Aku tahu kau sangat menyayanginya. Tenang saja, dia juga sangat menyayangimu. ^ ^

Pokoknya aku mengucapkan selamat ulang tahun, dan maaf untuk hari-hari memuakkan yang kau rasakan. Aku ingin kau tahu, aku merasa sangat bahagia pernah bisa mencintaimu, Wonnie. Apapun yang terjadi.

Aku tidak akan pernah menyesalinya. ^v^'

Cintaku tidak membutuhkan apapun.

Apapun yang berbentuk balasan, penolakan, atau apapun juga.

Yang kubutuhkan hanya satu.

… Pengakuanmu.

TBC

Annyeoong~! Ucchan pengen lollipop deh!/ditendang

Bagaimana? Yemma tersiksa yah? Tenang saja! Nanti Wondad juga bakal kesiksa! Nyahahah!XD/plak

Itu si Hae jadi incest yah…==" nggak papalah! Ucchan suka!XD(dikejar readerdeul dengan golok ditangan)

e-hem, UNAS Ucchan udah dekat. Jadi adakah diantara readerdeul sekalian yang mau menyelamatkan Ucchan? Yang mau teriak! (Readerdeul: Krik.)

Tolong doakan Ucchan diUNAS ini ne! Ucchan benar-benar nggak tahu harus ngapain dengan itu MTK n IPA FISIKA!TMT

Btw! Saengil cukhae hamnida Hyukkie noona/slaped/, Wondad, n Zhoumi gege~!^w^ semoga panjang umur, murah rezeki, dan sehat selalu~! Semoga makin mesra juga dengan seme uke masing-masing!XD mian telat banget…T.T

Happy KyuSung day juga! Mian telat seminggu ne…T.T

Yosh, sudah dulu ah, cuap-cuapnya! Sekarang Ucchan mau membalas review~!X3 gomawo udah review ne! Ucchan sangat menghargainya!^w^/


TripleGuest: "Iye, sodara kembar Ucchan itu…/didepak Hae/ ehh… apa ini udah cukup panjang? Eh, gomawo ne, udah ngereview dari awal!^w^v pacarnya adalaaaah… Wookiee~!XD soal janjinya, akan tereveal chapt depan! Uyosh~! Udah Ucchan lanjut! Gomawo reviewnya ne, Estdeul chaan~!^w^"

LittleCloud'sIrizv: "Ya…T.T mungkin itulah takdir kehidupannya…/ditendang Heemeonie/ udah Ucchan lanjut! Gomawo reviewnya ne, Riz chaan~!^w^/"

KyuuLawliet: "Ucchan paham merasaan itu…T_T tapi memang diantara couple-couplenya, Yemma memang paling cocok dijadiin target bullyan~!*tos dengan Kangin*/ditendang jauh-jauh/ ahh, Ucchan lupa nyantumin umur… sudah ada diatas kan? Heheh, mianne!^.^ yoossshhh! Wondad akan menderita sederita-deritanya!XD/plak/ yosh, udah Ucchan lanjuut~! Gomawo reviewnya ne, Law chaan~!^U^v"

cloud-alones: "Ne…T.T(Yemma: SITU YANG NGETIK!) yoosh~! Ucchan akan berjuaaang~!X3 gomawo reviewnya ne, Alone chaan~!\^w^/"

afifah . kulkasnyachangmin: "Yak, namja itu adalah Wookiee~!X3 ne, kuda tak berperasaan!/pletak/ ne~!XD sodara kembar Ucchan itu~!(Donghae: HOEKH!) yosh, udah Ucchan lanjuut~! Gomawo reviewnya ne, Afifah chaan~!^w^"

AuraKim: "Wuaduh, kayaknya udah Ucchan siksa habis-habisan…*lirik atas*/ditendang/ Wookie!X3 nggak, nggak! Ucchan ini setengah yeoja! Yang setengahnya lagi? Khiijkhijkhij, masa nggak tahu~?*wink*(Aura chan geser 500 meter bareng readerdeul lain) udah Ucchan lanjuut~!X3 gomawo reviewnya ne, Aura chaan~!^U^"

jeremy kim84: "Soal perjanjian, akan terjawab dichapt depan!XD/slaped/ne, mereka cerai._./dibantai readerdeul/ yosh, udah Ucchan lanjuut~! Gomawo reviewnya ne, Emy chaan~!^w^v"

sisil . li24: "Iya…! Sudah, biar Yemma sama Ucchan ajah!/dikerok/ yosh~! Emang udah pisah~XD/tendanged/ sudah Ucchan lanjuut~! Gomawo reviewnya ne, Sil chaan!^0^v"

YY: "MiaaaannnnTMT ini udah lebih panjang kann? Bilang iya aja deh!/digampar/ ehh… momen bahagia? Mungkin nanti yah, diakhir-akhir… tapi Ucchan nggak tahu ini fic bisa happy ending atau nggak…/PLAK/ yosh! Mian lama banget updatenya ne! gomawo reviewnya ne, Y chaan!^w^v"

hera3424: "Ehh, dichapt ini udah ketahuan belum motifnya Wonnie?(Readerdeul: krik.) udah Ucchan lanjut! Gomawo reviewnya ne, Hera chaan~!XD"

rina afrida: "Ehh… nasibnya… mungkin…?/dikeroyok Clouds/ ne! udah ditinggalin kok!XD/plak/ er, Ucchan ragu. Soalnya ada Hae yang menjaganya!XD tentu~! Akan Ucchan buat Wondad melarat!/tendanged/ gomawo reviewnya ne, Rina chaan~!X3"

dera elf: "Salam kenaal~!^0^ wuaduh permintaannya banyak banget!0.0 ahh, Yemma memang cocok dianiyaya kok~!XD /tendanged/ ne! Ucchan pasti akan membuat Wondad menderita!*lirik Siwon dengan tatapan predator*/digoreng/ wah, Ucchan nggak yakin soal happy ending…(author lari dikejar readerdeul yang bersenjatakan panah dan sumpitan) bukan si Kyu kok! Si Wookie~!XD aaaaaaaaaaaaaaaahhh! Ini bukan uplat! Mianne… gomawo reviewnya ne, Dera chaaan~!^w^"

yeclouds: "Ne… maafkan aegya manismu ini, mommieeh~…*kiss Yemma*/digeplak Wondad/ itu Wookie~! Heheheh^^" udah Ucchan lanjuut~! Gomawo reviewnya ne, Ye chaan~!^^"

jessica . clouds: "BREENGG~! Salah semua! Yang benar Wookie~!XD/ditendang/ diatas udah menderita banget nggak? Nyahahah!XD/PLAK/ mian! Ini bukan kilat Jessica chaan!T.T gomawo reviewnya ne, Jessica chaan~!^w^"

Fairy . siwoonie: "Hiks… masa sih…?/ditendang/ cinta memang memaksa, Iry chan~!T.T tapi Yemma udah nggak egois lagi kan?^^ wuaduh, Iry chan sadis deh!XD/pletak/ ehh… molla, Ucchan nggak tahu!/geplaked/ wuaduh, mianne! Waktu ngetik Ucchan benar-benar…TwT yoosh~! Udah Ucchan lanjuut! Dan ini sama sekali bukan asap! Telat banget! Gomawo reviewnya ne, Iry chaan~!X3"

m2qs: "Ahh, bukan Kyu kok! Si Wookie!XD yosh, udah Ucchan lanjut nih! Gomawo reviewnya ne, Qs chaan!^0^/"

kyusung0324: "Jinjja?0.0*nyodorin tisu segepok* aa, jangan! Dengan Ucchan aja~!*nyembunyiin baju crossdress dan rambut palsu buat Yemma*/ditendang/ bukan Kyuhyun sih, si Wookie~!XD tapi nanti akan Ucchan adain Kyuppa!:D tenang aja! Nyahahah! Nambah konflik!/ditendang/ sudah Ucchan lanjut! Gomawo reviewnya ne, Kyusung chaan~!^0^b"

ryani clouds: "(menghindari lemparan Ryani chan, tapi salah langkah dan malah kebanting dengan wajah duluan) ehh, mungkin itu memang nasib hidup Yemma!/plak/ tenang aja! Ucchan akan nyiksa Wondad kok!XD muahahah!/pletak/ gomawo reviewnya ne, Ryani chaan~!^w^"


Fyuh~! Selesai juga! Mian kalau ada kelewat ne! Ucchan tetaplah manusia biasa!^w^

#Pray For Korea#Pray For Korea

Singkat kata,

Review pleasee~?X3