Umur Cast:
Choi Siwon: 37 tahun
Choi Yesung: 35 tahun
Choi Donghae: 19 tahun
Shin Donghee: 35 tahun
UCCHAN MEMPERSEMBAHKAN:
A Little Bit Of Love
Chapter 4: Forbidden Things…
RATED: T (Hhh… *buang napas*/plak/)
PAIR: YeWon/WonSung/WonYe/SungWon(Readerdeul: STOP!)
Genre: Hurt/comfort, family, romance, angst(hahahah)
Disclaimer: God, Parents, SM, ELF, Self. Except Yesungie! HE'S MINE! #PLAK
Warn!: OOC, YAOI/BL(Boys!Love), angst gaje, romancenya garing, alur ngadat, super cepat, Fic Request, CRACK PAIR!
DLDR!
:::
SMILEEEEE~~~!(Readerdeul: APAAN SIH?!)
FLASHBACK: ON
Di sebuah sore damai di musim semi, nampak seorang namja tampan yang tengah memejamkan matanya, mendengarkan musik jazz yang mengalun merdu dari bibir beberapa penyanyi café. Jika kau bertanya, namja tampan itu tengah menunggu seseorang.
"… Hhh…" namja tampan berwajah oriental itu menarik napas berat. 'Semoga keputusanku ini benar…' seutas senyum menawan terpasang di wajahnya. Namun senyum itu tidak seindah kelihatannya.
'… Appa menyayangimu, Sungie… appa harap kau mengerti…'
"Mianhamnida saya terlambat, Hangeng ahjussi,"
Namja tampan itu membuka matanya, menangkap sesosok namja tampan berdimples yang duduk di kursi didepannya. "… Aniya, Siwonsshi. Aku juga baru datang." Sebuah senyum hangat menyambut namja tampan berdimples itu. "Kau tahu alasanku memanggilmu…?"
Namja berdimples yang dipanggil Siwon itu mengernyit. "Umm… saya tidak tahu, ahjussi…" jawabnya sopan.
Namja berwajah oriental menghela napas sejenak, kemudian tersenyum. "Aku ingin kau menikah dengan anakku, Kim Yesung."
Kedua dark chocolate milik Siwon terbelalak. "E-eh?! A-ahjussi! Saya tak bisa melakukannya! Saya sudah bilang, saya telah memiliki namjachingu!"
Hangeng tetap berwajah tenang. "Aku tahu itu, Siwonsshi. Tapi kuharap kau mau memikirkannya lagi. Appamu dan aku telah menjodohkan kalian sejak kalian kecil."
Siwon menggeleng. "Mianhamnida, ahjussi. Saya tetap tak bisa melakukannya." Ia hendak berdiri, namun suara pria oriental itu menghentikan langkahnya.
"Aku tidak peduli kau mencintainya atau tidak. Yang penting, nikahi dia. Walau hanya untuk setahun, walau tidak dalam waktu lama. Tolong buat dia bahagia. Buat dia bahagia, dan kau boleh menceraikannya jika namjachingumu itu sudah kembali."
"…"
"Ia akan pergi ke Perancis, bukan…?"
"…" Siwon masih diam. Membisu.
"Kau tahu Siwonsshi…" sebuah senyum ramah kembali terpasang di wajah oriental namja tampan itu. "… Aku akan segera mati." Siwon menoleh ke arahnya. Menatapnya dengan tatapan aneh.
Namja oriental itu memperbaiki posisi duduknya, dan menatap Siwon serius. "Ayo kita buat perjanjian."
FLASHBACK: OFF
…
Aku sedang melakukannya.
Melupakanmu.
Melupakan segalanya tentangmu.
… Tapi…
Apakah aku berdosa…
Karena masih menangis ketika mengingat wajahmu…?
…
… Jawab aku…
Wonnie…
…
-13 Years Later…
Di sebuah dapur rumah minimalis berwarna biru muda, nampak seorang namja manis yang tengah mengaduk-aduk kopi buatannya. Kau pasti tak menyangka dengan wajah manisnya ini, sebenarnya dia sudah berumur 35 tahun.
"Hhh…" ia menghentikan kegiatannya mengaduk-aduk kopi, dan memejamkan matanya. Berpegangan pada counter dapur, berusaha menopang tubuhnya yang entah kenapa terasa sangat lemas. '… Wonnie…' obsidiannya menerawang. '… Kau sedang apa sekarang…?'
Apakah suatu dosa jika ia masih tetap tak bisa melupakan mantan suaminya itu? Apakah suatu dosa jika ia masih tetap mencintai namja tampan itu?
… Dan apakah ia berdosa… membiarkan anak kandungnya sendiri… mencintai dirinya…? Bukan dalam artian cinta ibu dan anak.
… Benar-benar 'cinta'.
"Umma…" sebuah lengan kekar melingkari perutnya. Dapat dirasakannya juga napas hangat yang menerpa telinganya. Dan tanpa berbalikpun, ia sudah tahu siapa pelakunya. "… Hae…"
Namja tampan yang dipanggilnya Hae itu tersenyum lembut. "Aku kaget karena saat aku bangun, kau sudah tak berada di sampingku lagi… aku takut…" ia meraih dagu sang umma dengan perlahan, membuatnya dapat melihat kedua obsidian indahnya. Perlahan dikecupnya bibir cherry itu dengan lembut, penuh cinta.
Si manis memejamkan matanya, merasakan betapa besarnya cinta namja tampan itu padanya. Kecupan lembut itu mulai berubah menjadi lumatan kecil.
"Mhh…" ia mengepalkan tangannya saat merasa lidah anak semata wayangnya itu menyusuri lipatan bibirnya. Perlahan ia membuka mulutnya, memberi akses masuk bagi namja tampan itu. "Eungh… H-Haehh…"
Namja tampan itu membalik tubuh mungil sang umma untuk menghadap tubuh kekarnya, ditekan tengkuknya guna memperdalam ciumannya. Dibelitnya lidah sang umma dengan lembut, memeriksa deretan gigi rapinya, dan memagut bibir yang sudah benar-benar bengkak karena ulahnya itu.
"Khh…"
Ciuman itu tak berlangsung lama, karena si tampan menjauhkan wajahnya, menatap wajah manis sang umma yang berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia tersenyum lembut melihat betapa merahnya wajah sang umma.
"Gomawo untuk morning kissnya, umma…"
:
:
"Umma…" panggil si namja tampan, atau mungkin lebih nyaman kita panggil Donghae saja.
"Ne, Hae…?" sementara sang umma, Yesung, menoleh ke arahnya.
Donghae mengeratkan pelukannya. Kini ia sedang menonton tv dengan Yesung yang duduk dipangkuannya. "Aku sangat mencintaimu, umma…" dikecupnya pipi sang umma lembut. "… Di setiap helaan napasku. Di setiap detak jantungku. Bahkan di setiap pagi aku membuka mata, ataupun saat malam aku menutup mata…"
"… Aku selalu mencintaimu…"
Yesung tersenyum lembut. Donghae selalu menyatakan perasaannya. Di setiap kesempatan yang ada.
… Seakan ia takut, kesempatan itu akan hilang suatu saat nanti.
"… Umma juga… Hae…" Donghae tersenyum hangat, dan mulai memajukan wajahnya untuk mencicipi bibir sang umma lagi.
Mereka ibu dan anak.
… Tapi semuanya begitu rumit. Yesung bahkan sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. Seperti sudah sebuah tradisi Donghae akan menciumnya saat pagi, dan kapanpun yang namja tampan itu inginkan. Tapi Donghae tidak menyalahi aturannya. Ia tidak menyetubuhi ummanya. Seingin apapun dirinya. Dia berjanji, akan menjaga Yesung, dan tidak melakukan hal yang lebih jauh dari ciuman.
Dia tidak akan menyentuh ummanya terlalu jauh. Dia tidak ingin menjadi seperti appanya yang telah melukai sang umma.
Dia berjanji akan menunggu Yesung menerima perasaannya sepenuhnya. Secara utuh. Dan melupakan sang mantan appa yang entah apa kabarnya.
Kapanpun. Dia akan selalu menunggu.
… Tapi dia tidak menyadari bahwa…
… Banyak yang terluka di sini…
-Meanwhile…
Di sebuah gedung besar, nampak seorang namja tampan yang sibuk berkutat dengan kertas-kertas di mejanya.
"Apa anda ingin kopi, sajangnim?" tanya seorang yeoja cantik di depannya.
Namja tampan itu menggeleng. "Tidak, Tiffanysshi. Kau bisa keluar sekarang," tolaknya datar tanpa menatap Tiffany sama sekali.
Yeoja bernama Tiffany itu menggigit bibirnya. "… Sajangnim…"
Siwon –nama namja tampan itu– tetap diam, tidak menggubris yeoja yang dulunya pernah ia ajak ke rumah untuk melukai Yesung. Siwon malah sibuk menandatangani beberapa kertas.
"S-saya menyukai anda…!" ucap Tiffany setelah mengumpulkan segenap keberaniannya.
Gerakan Siwon terhenti. Ia diam sejenak, membuat yeoja bernama Tiffany itu menggigit bibirnya resah. Siwon berdiri dari kursi kantornya, melangkah kearah Tiffany tetap dengan wajah datar.
"Oh ya?" Ia mencondongkan tubuhnya, menatap Tiffany dalam. "… Aku tidak menyukaimu. Yang dulu itu, anggap saja tidak pernah terjadi."
DEG
"Cepat kemasi barang-barangmu, Tiffanysshi. Kau kupecat."
Brak
Drap drap drap
Siwon tetap memasang wajah datarnya meski yeoja cantik bernama Tiffany itu berlari keluar kantornya dengan setengah terisak.
"Memecat sekretarismu lagi, Siwon ah?" seorang namja tampan sayang memiliki sorot mata dingin, melangkah memasuki kantor Siwon, CEO Choi Corp.
Siwon meliriknya dingin. "Bukan urusanmu." Ia kembali melangkah menuju kursinya, dan mendudukkan dirinya sendiri di kursinya yang kelihatan mahal.
Siwon menghela napas, membuka laci mejanya, dan menatap sebuah pigura foto yang tergeletak di sana.
… Foto keluarga kecilnya dulu.
Tatapan Siwon menyendu. Dia sudah mencoba menghubungi Heechul, tapi Heechul malah mendatanginya, dan memukulnya sampai babak belur dengan tangannya sendiri.
"JANGAN DEKATI ANAKKU LAGI!"
Bahkan Siwon masih mengingat jelas suara Heechul saat itu. begitu dingin dan penuh penekanan. Setelah kejadian itu, Siwon benar-benar telah kehilangan jejak istrinya.
'… Aku mencintaimu, Yesung ah… maafkan aku… tolong kembalilah padaku… beri aku kesempatan, sekali lagi… aku janji tidak akan menyakitimu lagi…' Siwon merasa sangat bodoh karena baru menyadarinya saat Yesung telah tidak di sisinya lagi.
Siwon menyesal. Apa itu cukup untuk membawa Yesung kembali padanya…?
"…" Siwon tak menyadari namja tampan di depannya menatapnya dengan tatapan ambigu. "Kau tahu Siwon ah," Siwon meliriknya. "Aku sering melihatmu memandang sedih isi lacimu. Memang apa isinya? Apa sesuatu yang begitu menyedihkan?" tanya namja tampan itu dengan nada mengejek.
Siwon menutup laci mejanya kasar, dan membalas tatapan namja di depannya tak kalah dingin. "… Bukan urusanmu, Kibumsshi."
:
:
FLASHBACK: ON
"U-umma…? Siapa mereka…?" tanya Donghae kecil takut. Dieratkannya pelukannya pada sang umma. Sementara sang umma, Yesung berusaha menghindari dua namja asing di depannya dengan cara melangkah mundur.
Duk
Yesung menggigit bibirnya saat punggungnya beradu dengan dinding beton di belakangnya. Dia terjebak.
"J-jangan mendekat!" bentaknya sambil mengeratkan pelukannya pada Donghae, berusaha melindunginya dari tatapan menjijikkan dua namja di depannya.
"Ayolah manis~! Kami hanya ingin bermain-main sedikit~!"
Yesung terbelalak. "A-ANI! PERGI!" pekiknya histeris. "T-TEUKIE HYUUNG! TOLOONG!"
"Ck, diamlah, manis!" salah seorang namja asing itu merampas Donghae dari gendongan Yesung. Yesung membelalak, apalagi namja asing lain langsung mengunci pergerakannya. "HAE!"
Donghae berontak. "LEPASKAN! LEPASKAN HAE! UMMAA!" pekiknya sambil menggerak-gerakkan kakinya penuh semangat. Sayang sekali tenaganya memang jauh lebih lemah dibanding namja asing yang menahannya ini atau mungkin lebih nyaman kita panggil namja 2.
"Hmm, meski kau sudah memiliki anak, tapi tubuhmu masih seindah ini, maniis~!" sementara namja yang tengah menahan Yesung ini bisa kita panggil namja 1. (Readerdeul: sounds familiar…)
Obsidian Yesung membulat, karena dalam sekejap mata, kemeja yang dipakainya telah dikoyak paksa. "T-tolong jangan…!" suaranya bergetar.
"Ah, masa kami harus melepas namja semanis dirimu…" namja 1 menjilat pipi chubby Yesung dengan seduktif. Yesung memejamkan matanya. Tubuhnya mulai gemetar, jangan lupakan air mata yang mulai menggenangi kedua sarang obsidiannya. Ini menjijikkan! Yesung benci diperlakukan seperti ini! Dia masih punya harga diri!
"Tubuhmu sudah penuh kissmarks begini… apa suamimu yang melakukannya~?"
DEG
Air mata mulai meluncur turun dari kedua sarang obsidiannya. Ah… dia ingat… harga dirinya telah direnggut paksa oleh suami yang sangat dicintainya, Choi Siwon.
"… Hiks…"
Donghae membelalakkan matanya. Amarah langsung menguasai dirinya melihat ummanya menangis begitu. "UMMA! APA YANG KAU LAKUKAN, AHJUSSI MESUM! LEPASKAN UMMA!" bentaknya marah. "LEPASKAN UMM-"
PLAK
"Kau terlalu berisik, bocah!"
BUAKH
BRUGH
Kedua obsidian Yesung membulat melihat tubuh anak semata wayangnya tergeletak di lantai dengan darah yang yang mengucur dari sudut bibirnya. "H-Hae…!"
"Umm… a…! Jang… an… takut…! Hae akan… menyelamatkan… umm… a…" Donghae berusaha bangkit. "AH!" namun tubuh mungilnya kembali menghantam bumi saat kaki namja 2 di belakangnya menindih punggungnya. "… Kh…"
Yesung menggeleng. "ANI! Jangan sakiti dia… jebal…!" pinta Yesung setengah terisak. Dia terluka melihat anaknya diperlakukan seperti itu.
"Baiklah kalau begitu~! Kau harus menurut~!" namja 1 mulai melumat bibir menggairahkan Yesung, sementara sebelah tangannya bermain-main di perut rata Yesung. sementara namja yang tadi menganiyaya Donghae alias namja 2 ikut bergabung.
Yesung memejamkan matanya. Dia takut. Sangat takut. Tapi dia tidak ingin namja-namja asing ini melukai Donghae. "M-mphh…!"
"Umm… a…" Donghae mengepalkan tangannya. 'Hae lemah…! Hae sama sekali tidak bisa melindungi umma…!'
… Apa jika dia kuat, semuanya akan berbeda…?
'Hae harus… melindungi umma…!'
Perlahan Donghae berdiri dengan sisa tenaga yang ia miliki, obsidiannya menatap tajam dua namja yang tengah memperkosa umma kesayangannya itu. Dengan cepat ia melompat ke kaki salah seorang namja, dan meninju 'anu'nya sekuat mungkin.
"ARRGHHH!"
Donghae beralih melompat ke namja lain, dan meremas 'bola' milik namja asing itu sekuat yang ia bisa.
"AWWW!"
Dan kembali terdengarlah jeritan menyakitkan dari para namja asing. Melihat celah untuk lari, Donghae segera menarik tangan ummanya. "Umma! Ayo lari!"
Namun belum sempat Donghae mengajak ummanya berlari jauh, sebuah cengkraman di lengan ummanya telah menghentikannya.
"BOCAH BRENGSEK!"
BUAKH!
"HAE!"
Donghae meringis karena punggungnya menabrak dinding beton di belakangnya. "Uuh…!" ia menggigit bibirnya, menahan tangisnya. Dia tidak mau menangis lagi. Dia ingin kuat. Dan menangis hanya untuk namja lemah seperti ummanya. Dia namja kuat yang harus melindungi namja lemah seperti ummanya! Dia tidak mau jadi namja lemah yang dengan mudahnya menangis!
Baru saja namja 2 akan kembali melayangkan pukulan pada Donghae, ia telah terlebih dahulu ditendang oleh seorang namja asing lain.
"ARGH!"
"Lepaskan dia." Namja tampan itu menatap dingin namja yang memegang lengan Yesung, alias namja 1.
Namja 1 mengernyit. "Kau sadar, ini dua lawan satu loh. Kau pikir bisa mengalahkan kami?" tanyanya remeh sambil melirik tubuh si namja tampan yang tidak terlalu berotot.
Namja tampan itu mengeluarkan smirknya. "Majulah."
"BRENGSEK! BERANI SEKALI KAU MENENDANGKU!" namja tampan itu menghindari tinju dari namja 2 yang ukuran tubuhnya dua kali tubuhnya. Dan dalam satu gerakan, tubuh kekar namja 2 telah dibanting dengan keras ke tanah.
"ARGHH!"
"Sial!" namja 1 melepas pegangannya pada lengan Yesung, dan berlari mendekati namja tampan yang tetap berwajah tenang itu.
Yesung buru-buru mendekati Donghae. "Hae…! Gwenchanayo?" tanyanya khawatir. Diusapnya bibir Donghae yang berdarah.
"Eungh~… ummaa~…" panggil Donghae manja. "Appoooyoooo~…"
Yesung semakin panik. "H-Haee…! Mana? Mana yang sakit? Biar umma obati!" diusapnya pipi Donghae lembut.
"Di sini!" Donghae menunjuk bibirnya yang telah dalam posisi dimonyongkan. "Ciuuum~!"
Yesung terbelalak, namun sebuah senyum langsung menghiasi wajah manisnya. "Dasar anak nakal! Kau hampir membuat umma serangan jantung!" marahnya, namun ia tetap mengecup bibir Donghae sekilas.
Donghae tertawa kecil. "Gomawo, ummaa~!" ucapnya sambil memeluk Yesung manja.
"Kau baik-baik saja?" Yesung menoleh dan mendapati dua namja asing yang nyaris memperkosanya tadi telah tergeletak di tanah. Pingsan.
"A-ah, ne… kamsahamnida telah menolong saya!" Yesung menggendong Donghae dan membungkuk sedikit. Namja tampan itu tersenyum. Ia melepas jaket hoodienya, dan menyodorkannya pada Yesung.
"Em?" Yesung menerima jaket hoodie itu dengan tampang babbo.#Author dikejar Clouds
"Pakailah, tubuhmu penuh dengan kissmark."
PESH~
Wajah Yesung sontak memerah. Ia buru-buru memakai jaket hoodie pemberian namja tampan itu. Sementara itu, ia tak menyadari si namja tampan yang memandanginya tanpa berkedip.
"… Manis…"
Yesung mengangkat wajahnya. "Eh? Mian, apa anda bicara sesuatu?"
Namja tampan itu menggeleng kaget. "A-aniya. Aku tidak bicara apa-apa." Kilahnya sambil menggaruk tengkuknya gugup.
ZIIINGG…
Namja tampan itu mengernyit saat merasakan deathglare yang tertuju padanya. Ia melirik bocah kecil di gendongan Yesung. Bocah itu tengah memandangnya dengan tatapan 'Apa-katamu-tadi?'. Sepertinya dia mendengar gumaman 'manis'nya tadi.
"Umm, mianhamnida jika merepotkan tuan!" Yesung kembali membungkuk. "Ayo Hae, kita harus ke klinik!" ia melirik Donghae yang terluka cukup parah. Donghae hanya mengangguk sambil memeluk Yesung erat.
"Biar saya antar." Namja tampan itu tersenyum hangat.
Donghae sontak menggeleng protes.
Yesung menoleh kearahnya dengan wajah senang. "Jinjja? Kamsahamnida!" ia tersenyum manis. "Ah, maaf karena kurang sopan. Kim Yesung imnida," ia tidak memakai marga Choi lagi, bukan? "Dan ini-"
"Kim Donghae imnida! Suami Kim Yesung dimasa depan! One and only! Jadi jangan berharap bisa memilikinya, tuan asing!" celoteh Donghae sambil memeluk ummanya posesif dan menatap namja tampan di depannya ini dengan pandangan intimidasi.
Pletak
"Aw! Ummaaa!" rajuk Donghae karena Yesung menaboknya. "Kau tidak sopan, Hae!" tegur Yesung kesal. Ia kembali menatap namja tampan di depannya yang masih menatapnya dengan tatapan yang sukar diartikan. "Bisa saya tahu nama anda siapa?" tanyanya ramah.
Namja tampan itu tetap diam. Masih menatap Yesung tak berkedip. Yesung mengernyit. "Tuan?" ia melambaikan tangannya di depan wajah namja tampan itu bermaksud menyadarkannya. Dan sepertinya dia berhasil.
"A-ah, ne." ia tersenyum hangat. "… Kim Kibum imnida."
FLASHBACK: OFF
BUAKH
BUAKH
"Hhh…" Donghae menahan samsak/karung pasir yang digunakannya melatih tinjunya. Ia mengusap keringat yang nampak di pelipisnya dengan handuk yang melingkar di lehernya.
"Jadi itu alasanmu belajar tinju, Hae ah? Untuk melindungi ummamu?" Donghae melirik Leo, sahabatnya di tempat latihan tinju ini. Ia mengangguk dengan wajah datar, dan mulai bersiap-siap meninju samsak yang tergantung di depannya.
"Hmm… alasan yang bagus." Puji Leo. "Tapi aku heran. Kenapa kau hanya mencium ummamu itu? Kau lihat tubuhnya? Tubuhnya benar-benar ramping seperti yeoja! Belum lagi kulit putih susunya!"
Donghae menghentikan gerakannya.
"Aku penasaran, bagaimana rasanya bercinta dengan namja manis sepertinya~! Mencium bibir merah merekahnya~! Dan mengocok junior mungilnya~! Belum lagi hole ketatnya! Ahh, rasanya pasti sangat nik-"
"Jangan berani mengatakan hal seperti itu lagi." Donghae menatap Leo tajam sambil mencengkram kerah kaos namja berambut blonde itu. "Aku akan membunuhmu jika kau berani menyentuhnya seujung jaripun."
Leo memutar caramelnya bosan. "Aku tahu itu, Hae ah. Aku tidak mungkin menyentuh ummamu." Cengkraman di kerahnya mulai mengendur. "Aku hanya heran. Kau bilang kau mencintai ummamu itu. Tapi kau bahkan tidak melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman. Kau harus menegaskan perasaanmu pada ummamu dong!" nasihatnya bijak.
Donghae berdecih sambil kembali memfokuskan pandangannya pada samsak di depannya. "… Aku belum menikahi umma. Jadi aku tidak akan menyentuhnya."
Leo adalah sahabat yang sangat dipercayainya, jadi dia memberitahu soal hubungan terlarangnya dengan sang umma. Dan sampai sekarang, Leo tidak pernah membocorkannya. Sementara itu, teman-temannya yang lain mengira Yesung dan Donghae adalah sepasang kekasih.
BUGH
"… Aku akan menunggu sampai umma membalas perasaanku sepenuhnya, dan melupakan namja brengsek itu."
BUGH
"Walau itu berarti menunggu selamanya."
BUAKH
Brugh
Donghae menatap datar samsak yang telah robek dan jatuh berceceran di lantai karena terkena tinjunya. Napasnya tersengal, tapi sebuah rasa puas memenuhi hatinya.
"… Aku tidak akan menyakiti umma. Karena aku–" ia menatap Leo tajam.
"–Bukan namja brengsek itu."
:::
Di sebuah bangunan megah, nampak seorang namja manis yang sibuk mencatat sesuatu di buku notesnya.
"Tuan Yesung, apa yang harus dilakukan dengan stok mati di gudang?"
Namja manis bernama Yesung itu menoleh ke arah karyawan muda yang menatapnya meminta jawaban. "Ada berapa banyak?"
"Sekitar 500 lebih." Jawab karyawan itu setelah berpikir sejenak.
Yesung mengangguk. "Sisihkan, kita akan menjualnya dalam pengumpulan biaya amal untuk anak-anak panti asuhan."
"Baik, tuan!" karyawan itu membungkuk sejenak lalu berbalik, dan menutup pintu kantor Yesung setelah sebelumnya berjalan keluar.
"Hhh…" Yesung memejamkan matanya sambil mendudukkan dirinya di kursi kayu yang terletak di sudut ruangan. Berusaha merilekskan tubuhnya yang terasa lelah. 'Wonnie… kau sedang apa sekarang…?' pikiran itu kembali menghantuinya. Sudah 13 tahun berlalu, tapi dia sama sekali belum bisa melupakan Siwon, mantan suaminya.
… Dia sudah terlalu mencintai Siwon.
Bahkan dia sudah berusaha menatap kehidupan barunya dengan menjadi manager di butik ummanya yang bercabang di Ontario Kanada, kota yang ditinggalinya kini. Sementara Donghae telah menjadi model terkenal yang sangat digilai para remaja, dan tentu saja Donghae menggunakan nama samaran, Aiden Lee.
Dulu Yesung dan Donghae tinggal bersama Heechul di Perancis selama kurang lebih 10 tahun. Dia pindah ke Kanada setelah berunding dengan ummanya. Yesung tidak menyukai Paris karena terlalu banyak yang mengenalnya, lagipula kehidupan di sana terlalu glamor untuk Yesung.
… Dan sekarang di sinilah dia. Berusaha melupakan Choi Siwon. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. "… Hhh… aku harap… aku bisa memutar waktu, Wonnie…" sebuah senyum miris tersungging di bibir cherrynya. Entah sudah berapa kali nama itu muncul di benaknya. "Setidaknya dengan begitu, aku bisa mencegah diriku sendiri agar tidak menikahimu…"
Dan liquid bening itu kembali meluncur tanpa bisa ia cegah. "… Hiks… Wonnie… aku merindukanmu…"
"… Sangat…!"
Krieet
"Umma?"
Yesung tersentak saat mendengar suara pintu terbuka, ia menoleh dan mendapati Donghae yang menatapnya dengan obsidian membulat. "H-Hae…! Ada apa kau kemari?" tanyanya sambil menghapus air matanya kasar.
Donghae diam. Tetap diposisinya menatap sang umma ambigu.
"Hae?"
"Umma masih mencintai namja itu…?" lirih Donghae, namun masih terdengar oleh telinga Yesung. Dan Yesung berani bersumpah, suara Donghae terdengar sangat menyedihkan, seakan kecewa akan sesuatu.
Yesung menunduk. Dia tidak akan pernah bisa berbohong didepan Donghae. Seakan tanpa ia jawabpun, Donghae telah tahu isi pikirannya. "… Ya…"
Donghae menarik napas berat. Ia melangkah menghampiri sang umma yang masih duduk di kursinya. "… Uljimma, umma…" ia meraih dagu Yesung, menatap dalam obsidian itu. "… Hae di sini, umma. Hae di sini, dan tidak pernah pergi."
Yesung menatapnya dengan sorot yang mengandung begitu banyak penderitaan dan kesedihan.
… Dan Donghae tidak cukup bodoh untuk tidak menyadarinya. Ia meraih pinggang ramping Yesung, mengangkatnya, dan meletakannya di meja kayu yang biasa sang umma pakai untuk menumpuk kertas-kertas statistik penjualan butik. Dipeluknya sang umma erat, sehingga menyisakan jarak yang sangat sempit antara wajah keduanya. Bahkan Yesung dapat merasakan napas mint Donghae yang menerpa wajah manisnya.
"Hae bersungguh-sungguh, umma…" Donghae tersenyum hangat. "Hae akan selalu ada untuk umma…" ia memajukan wajahnya perlahan, membuat Yesung lagi-lagi menutup kedua sarang obsidiannya.
"… Jadi tolong lupakan namja itu…"
Chu~
Dan kedua bibir itu kembali menyatu dengan lembut. Hanya sekedar kecupan tanpa nafsu. Hanya ingin menunjukkan, betapa tulusnya cinta yang dirasakan Donghae pada sang umma.
Ia merengkuh tubuh mungil ummanya tanpa melepas ciuman lembut diantara keduanya. Ia menyayangi ummanya… sangat menyayanginya…
Rasa sayang itu perlahan berubah menjadi cinta.
… Dan rasa cinta itupun mulai berubah menjadi rasa ingin memiliki.
Donghae menginginkan ummanya. Segalanya dari ummanya. Ia ingin memiliki ummanya sepenuhnya. Hanya untuk dirinya sendiri.
"H-Hae…"
Tapi dia tahu.
… Ummanya tidak pernah membalas perasaannya.
:::
-Mid Autumn Café…
"Kau masih membiarkannya menciummu, Yesung ah?"
Yesung diam, tak menjawab pertanyaan Shindong –sahabatnya. Sama seperti Leo, Shindong telah mengetahui fakta tentang Yesung dan Donghae. Dan dia berjanji untuk tutup mulut.
Shindong menatapnya sedih. "Kau tidak bisa begini terus, Yesung ah. Kau memberinya harapan." Ia meneguk kopinya sedikit. Ia lalu kembali menatap Yesung. "Jika kau begini terus, Donghae akan semakin terluka. Aku tahu dia sangat mencintaimu, jangan buat dia berharap jika kau memang tidak mencintainya."
Yesung diam, tetap mengaduk cream soupnya dengan tidak niat. "… Aku tahu itu, Shindong ah…" ia menatap caramel Shindong dengan tatapan lelah. "… Tapi… aku tidak ingin dia kecewa…"
Shindong menghela napas. "Lalu kau pikir… dia tidak akan kecewa jika kau membiarkannya mencintaimu yang sama sekali tidak menatapnya, melainkan masih memikirkan namja dari masa lalumu itu…?" tanya Shindong tepat sasaran.
Yesung menunduk. Tersenyum miris.
"… Aku tidak tahu harus apa, Shindong ah…"
"Putuskan dengan tegas. Apa kau akan menerima cinta Donghae –walau itu memang salah, atau masih mau hidup dibawah bayang-bayang mantan suamimu itu."
Yesung mengangkat wajahnya, menatap Shindong dengan tatapan kosong. "… Aku…"
-YeHae's House…
"Umma…?"
"Ne, Hae…?" sahut Yesung sambil menyamankan dirinya yang kini tengah dipeluk Donghae. Jangan heran, sudah kebiasaan tiap malam Donghae akan tidur bersama Yesung. Tapi tenang saja, mereka tidak melakukan itu kok. Donghae memegang teguh janjinya.
"… Tubuhmu sangat mungil, umma…" Donghae tersenyum lembut sambil mengendus surai raven Yesung yang berbau buah-buahan. "Kau sangat pas dalam pelukanku…"
Yesung mendongak sedikit, menatap obsidian Donghae. "…" ia hanya diam, menatap Donghae dengan tatapan yang ia sendiri bahkan tidak mengerti.
Donghae tetap tersenyum walau ia tak tahu apa yang sedang dipikirkan ummanya kini. Ia meraih tangan mungil ummanya, dan mengecup jemarinya satu persatu tanpa melepas pandangannya dari obsidian indah Yesung.
Tatapan Yesung berubah miris. "… Apa yang akan kau lakukan… jika aku tidak bisa mencintaimu, Hae…?" tanyanya lirih.
Donghae memejamkan matanya, tidak menghentikan kegiatannya mencium jemari mungil sang umma dengan lembut. "Hae akan tetap mencintai umma. Tetap berada di sisi umma, sampai Hae bisa melihat senyum bahagia umma lagi." Ia membuka matanya, menabrakkan obsidian teduhnya pada obsidian indah sang umma. "Hae tidak peduli berapa lama, Hae akan tetap ada untuk umma sampai saat itu tiba…"
Dia tidak sedang menggombal ataupun merayu. Dia bersungguh-sungguh.
Yesung tahu itu. Dan ia merasa seakan ada sebilah belati yang menusuk ulu hatinya. Begitu sakit… dan air mata itu kembali turun. Sudah 13 tahun ini Donghae selalu mencintainya sepenuh hati, tapi dia tidak mendapat balasan apapun dari Yesung.
"Jangan buat dia berharap jika kau memang tidak mencintainya."
Yesung kembali memikirkan perkataan Shindong padanya tadi sore.
… Pernakah ia mengatakan… ia juga mencintai Donghae…? Selama ini, dia hanya berkata 'Nado'… tapi tidak menyatakan langsung pada Donghae. Namun Donghae selalu menerimanya dengan sabar.
Bukankah dia telah gagal sebagai seorang umma…?
"Umma…? Uljimma… jangan menangis…" Donghae mencium sudut mata Yesung, berusaha menghalau air mata yang masih mengalir itu. Direngkuhnya tubuh rapuh itu semakin erat. Mengecupi wajah manis itu berulang kali dengan lembut. "Hae akan selalu menjaga umma…"
Yesung merasa semakin tersiksa dengan perlakuan lembut Donghae padanya.
Donghae berbeda dengan Siwon. Donghae sangat lembut padanya… memperlakukannya dengan baik… menyayanginya sepenuh hati…
… Apa dia mulai mencintai Donghae dengan segala kelembutannya…?
Perlahan kedua baby hand Yesung terangkat untuk menangkup pipi Donghae. Ia menatap obsidian itu dalam. Ingin meyakinkan sesuatu dalam hatinya.
"Umma?"
Yesung memajukan wajahnya, dan mengecup bibir tipis Donghae dengan lembut. Itu hanya berjalan sebentar, karena Yesung kembali menjauhkan wajahnya. "… Selamat malam, Hae…" ia memejamkan matanya, dan meringkuk dalam pelukan hangat Donghae.
Donghae terdiam. Masih mencerna yang baru saja terjadi. Yesung… menciumnya…? Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Apakah ia mempunyai kesempatan untuk memiliki Yesung…?
Ia mengeratkan pelukannya dengan senyum bahagia, tanpa tahu setetes liquid bening kembali meluncur turun dari sarang obsidian yang telah tertutup itu.
'… Mian, Wonnie…'
'… Mian, Hae…'
'… Jeongmal mianhae…'
…
DEG
Siwon memegangi dada kirinya yang terasa sakit. Kedua dark chocolatenya membelalak. Apa itu tadi…? Entah kenapa dia merasakan firasat buruk…
"Sajangnim… gwenchanayo…?" seorang yeoja cantik di depannya menatapnya prihatin. Namanya Jung Jessica, sekretaris baru Choi Siwon. Dan pastinya yeoja ini juga pernah menjadi 'alat' untuk Choi Siwon. Tapi sepertinya Siwon telah benar-benar lupa.
Siwon tetap diam. Tatapannya menyendu. 'Yesung… apa kau baik-baik saja…?'
-The Next Day…
Matahari mulai menyingsing, mengusir sang rembulan. Para bintangpun mulai lenyap, tergantikan oleh awan putih yang tergantung di birunya langit pagi.
Nampak seorang namja manis yang masih asyik mendengkur dalam pelukan seorang namja tampan yang tetap dengan setianya memperhatikan wajah manisnya.
Namja tampan itu bernama Kim Donghae. Sementara namja manis yang berada didekapannya ini, adalah ummanya sendiri, Kim Yesung. '… Kau begitu berharga untukku, umma…' dikecupnya dahi Yesung lembut. 'Salahkah jika aku ingin memilikimu…? Memilikimu seutuhnya…'
Bagaimanapun Donghae adalah manusia biasa. Tentu saja dia sering tergoda melihat Yesung, apalagi saat ummanya itu selesai mandi. Yesung memang punya kebiasaan buruk keluar kamar mandi telanjang bulat karena lupa mengambil handuk. Dan Donghae merasa begitu tersiksa karena harus menahan nafsunya. Bagaimanapun dia tidak mau menjadi seperti Siwon, 'mantan' appanya. Dia tidak mau menyetubuhi Yesung dengan paksa.
Jadi dia menunggu. Selama apapun itu. dia yakin, suatu saat nanti, Yesung pasti bisa membalas perasaannya.
"Eunghh~…" kedua sarang obsidian itu mulat terbuka, tubuhnya sedikit menggeliat berusaha menyamankan tubuhnya yang terasa sedikit kaku.
Donghae tersenyum lembut. "Selamat pagi, umma…"
Pemilik obsidian indah itu mendongak, dan balas tersenyum manis. "Pagi juga, Hae…"
Donghae mencium dahi Yesung sekilas. "Apa tidurmu nyenyak, umma?" tanyanya.
Yesung mengangguk. "Em, kurasa begitu. Terima kasih telah memelukku semalaman, Hae…" dan kedua sarang obsidian itu berubah bentuk menjadi sepasang bulat sabit tatkala sang pemilik tersenyum lebar.
Donghae mengangguk. "Gwenchana umma, Hae senang melakukannya."
"Enghh…! Wonnie…! Hiks…! W-Wonniee…!"
"Gwenchana umma… Hae di sini… uljimma…"
Donghae kembali mengingat kejadian di mana Yesung sering kali mengigaukan nama Siwon dalam tidurnya. Dan yang bisa menenangkannya hanya pelukan hangat Donghae.
Ia merasa begitu sakit saat sang umma menangis sambil memanggil-manggil nama Siwon. '… Aku harap kau akan mencoba membuka hatimu untukku, umma…'
Chu~
Donghae mengecup bibir Yesung lembut. Yesung memejamkan matanya, kedua tangannya meremas kerah piyama Donghae. "Mh…" Yesung mulai membalas lumatan lembut Donghae. Dua namja itu saling memagut, dengan lembut, dan tanpa nafsu sama sekali.
Donghae menjilat bibir Yesung perlahan, Yesung yang mengerti, langsung membuka sedikit mulutnya. Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, Donghae menyelusupkan lidahnya untuk mengeksplor gua hangat ummanya. Lidahnya membelit lidah sang umma dengan lembut dan penuh cinta.
"Umgh…! Eng, H-Haeh…!"
Donghae menahan tangan Yesung di kedua sisi kepala sang umma, dan menindih tubuh mungil Yesung bermaksud memperdalam ciumannya. Tanpa sengaja, miliknya bergesekkan dengan milik Yesung.
"A-ah!" kedua obsidian Yesung membulat saat merasakan sensasi aneh di bagian bawahnya. "Hmphh…! Haeh…!"
Donghae melepas ciumannya, menatap wajah ummanya yang telah memerah dengan napas tersengal. "Umma… Hae mencintai umma…" ia mulai mencium leher putih Yesung, hanya mengecup tanpa menggigit atau apapun juga. Yesung belum menjadi miliknya.
Yesung memejamkan matanya dengan raut wajah ketakutan. Dia belum siap untuk ini. "Kh…!"
Donghae tersenyum miris saat merasa tubuh ummanya bergetar hebat. Ia menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Yesung. "Mianhae, umma…" dikecupnya bibir Yesung sekilas. "Hae akan menunggu sampai umma membalas perasaan Hae…"
Yesung membuka matanya perlahan, menatap kedua obsidian teduh Donghae.
… Yesung tahu Donghae terluka.
"Hae-"
Kriing~
You're like a queen and beautiful~
Kriing~
Donghae meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia mengernyit. "Dari manager…" lapornya, dan hanya mendapati wajah polos Yesung sebagai jawaban. Donghae tersenyum geli melihat ekspresi menggemaskan Yesung. dikecupnya dahi Yesung lembut sebelum menekan tombol answer, dan mendekatkan ponselnya ke telinganya. "Ne, hyung…"
"…"
Kedua obsidian Donghae membulat. "Mwo…?!"
"…"
"T-tapi…"
"…"
"… Baik, hyung… aku mengerti." Donghae mematikan ponselnya lalu meletakkannya lagi ke atas nakas sambil menangkup wajah Yesung dibawahnya. Diciumnya wajah sang umma dengan lembut dan penuh cinta. Yesung tahu dari raut wajahnya, Donghae sedang gelisah.
"Apa yang terjadi, Hae?" tanya Yesung cemas.
Donghae menghentikan kegiatannya, menatap obsidian Yesung dengan tatapan miris. "Hae ada job, umma. Untuk Fashion Show musim panas…"
Yesung mengernyit. "Bukankah itu bagus?"
Donghae menggeleng. "… Shownya di luar negeri…"
Yesung memiringkan kepalanya sedikit. Donghae selalu memintanya ikut di setiap shownya, terutama kalau fashion show yang diikutinya digelar di luar negeri. "… Di mana…?"
Donghae memejamkan matanya. Menghela napas sejenak sebelum kemudian menjawab.
"… Seoul, Korea Selatan."
:::
Cinta datang karena terbiasa.
Itu bukan hanya sekedar kata-kata, 'kan?
Perlahan, rasa itu mulai muncul.
Mengabaikan fakta-fakta bahwa rasa itu muncul dalam hubungan yang tabu.
… Tapi, ia tidak perduli.
Cinta memang buta, bukan…?
TBC
Ini nih, fic yang paling cepat Ucchan selesain. UCCHAN SUKA HAESUNG INCEST!*teriak dengan wajah maniak*/plak/ apa pair utamanya harus Ucchan ganti~?/digampar Wondad/ huhuhu, they just so precious…TwT" Ucchan akhirnya ngambil sekitar 13 tahun kemudian~!XD
7jib~ 7jib~ kenapa yemma nggak ada disitu~?*banting Sooman*/plak
Nah, ngomong apa lagi nih? Oh ya, UCCHAN LULUS! YAY YAY! Tapi selesai pemberitahuan kelulusan, bukannya ngetik FF, Ucchan malah malas-malasan dirumah./plak/ WB, WB, WB… kenapa dirimu harus eksis sih?*nyari kambing hitam*
Ehem, mian Ucchan belum bisa jawab review! Baru sempat ketik review Silent Night series sama Angel Who Lost His Wing! Waktu Ucchan mepet banget, n itu kakak spupu udah bercuap-cuap nyuruh Ucchan berhentiT.T"
Tapi Ucchan udah baca semua review yang masuk~! N Ucchan sangat senang! Gomawo ne, udah repot-repot! Ucchan akan semakin berbenah!^w^v
Singkat kata,
REVIEW PLEASEE~?
