Umur Cast:

Choi Siwon: 37 tahun

Choi Yesung: 35 tahun

Choi Donghae: 19 tahun

Lee Hyukjae: 20 tahun

Lee Sungmin: 36 tahun

Cho Kyuhyun: 35 tahun

Kim Kibum: 34 tahun


UCCHAN MEMPERSEMBAHKAN:

A Little Bit Of Love

Chapter 12: Our Ending


RATED: T (Hhh…/plak)


PAIR: Sudah diputuskan! Silahkan dibaca!^_^b


Genre: Hurt/comfort, family, romance, angst(hahahah)


Disclaimer: God, Parents, SM, ELF, Self. Except Yesungie! HE'S MINE! #PLAK


Warn!: OOC, YAOI/BL(Boys!Love), angst gaje, romancenya garing, alur ngadat, super cepat, Fic Request, Incest, CRACK PAIR!


DLDR!

:::

SMILEEEEE~~~!(Readerdeul: APAAN SIH?!)


:::

Jika pada akhirnya endingku ini tak seindah yang kau duga, tak setepat yang kau duga, pokoknya sangat salah di matamu, ketahuilah satu hal.

Aku bahagia.

:::


-At The Airplane(?)…


Donghae duduk di kursi pesawatnya, lalu menengadahkan kepalanya. Memejamkan matanya saat merasakan letih dan sakit di hatinya. Donghae tidak boleh terlarut pada kesedihannya. Yesung bahagia, dirasanya itu sudah cukup untuk membuat Donghae pergi.

Kedua sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman yang sangat tipis. Dia tidak apa-apa. Dia akan baik-baik saja. tiba-tiba dia teringat soal Hyukjae. Sejak dia pergi dari rumah Hyukjae, dia tidak pernah bertemu lagi dengannya.

"Bocah ikan sok dewasa… yang dulu berjanji akan melamarku… ada didepanku sekarang…"

Donghae terkekeh. Bagaimana bisa Hyukjae terus menunggunya selama ini? Padahal keberadaan Donghae saja Hyukjae tidak tahu. Bisa-bisanya dia mempercayai kata-kata Donghae saat kecil.

Ya, dia masih kecil dan tidak tahu apa-apa.

"…"

"Saranghaeyo…"

Donghae menghela napas. Dia benci perasaan ini. Entah kenapa rasanya Donghae seperti kabur dari Hyukjae. Tapi yah, Donghae tidak tahu harus berwajah seperti apa jika bertemu lagi dengannya. Donghae yakin Hyukjae akan menemukan orang yang lebih baik daripada pengecut sepertinya.

Donghae mengacak surainya kesal. "… Dasar monyet jelek… kenapa kau bisa mencintaiku, huh…?" lirihnya.

"Aku juga tidak tahu!"

Donghae membelalak, dan menoleh ke samping. Nampak wajah cemberut Hyukjae. "Dan jangan panggil aku monyet jelek!"

Donghae megap-megap. "B-bagaimana caranya kau ada di sini?!" bentaknya frustasi. "PRAMUGARI! ADA PENUMPANG GEL- HMP!"

"Jangan berisik, babbo!" marah Hyukjae setelah membungkam mulut Donghae dengan kaos kaki rajutnya.

"Pweh!" Donghae memuntahkan(?) kaos kaki Hyukjae dengan kasar. Ia menatap Hyukjae dingin. "… Kenapa kau ada di sini…?" ulangnya dengan nada rendah yang sangat berbahaya. "Dan darimana kau mendapat uang tiket?! Kau merampok ya?!"

PLETAK

"AUW!"

Hyukjae mendengus sambil menjauhkan majalah yang dipakainya untuk menggeplak kepala Donghae. "Aku punya tabungan, aku juga meminjam uang dari Sungminnie hyung. Jangan menuduh sembarangan ya! Masalah passport, aku juga sudah menyiapkannya dari dulu untuk berjaga-jaga. Jangan asal tuduh sembarangan kalau kau tidak tahu!" marahnya dalam satu napas. "Ah ya, dan aku juga sudah tidak mau menunggumu lagi."

"Mwo?"

"Aku bilang…" Hyukjae memungut kaos kaki rajutnya lalu memakainya. Ia melirik Donghae. "… Aku sudah tidak mau menunggu lagi."

Donghae mengernyit "Ne?"

"Maksudku…" Hyukjae memejamkan matanya. "KAU SUDAH MENINGGALKANKU SELAMA 13 TAHUN, IKAN CUCUT! MASA KAU MAU MENINGGALKANKU LAGI?!"

"Tuan! Jangan berteriak!"

Tanpa mengacuhkan teguran pramugari pesawat, Hyukjae kembali marah-marah. "Kau selalu membuatku menunggu! Bahkan tanpa memberi kabar yang jelas! Aku tidak mau mengalaminya lagi!"

Donghae memicingkan matanya. "… Maksudmu?"

Hyukjae menoleh, dan memberikan gummy smilenya. "Jadi~! Aku akan tinggal denganmu untuk beberapa lama~! Mohon bantuannya Donghaesshi~!"

"Mwo?! Siapa yang mengijinkanmu tinggal denganku?! Shirreo!" tolak Donghae mentah-mentah.

"Siapa bilang aku perlu ijinmu?" dengus Hyukjae sebal. "Pokoknya aku akan tinggal denganmu! Titik!"

Donghae kembali megap-megap. "AISH! Tidak tahu malu! Terserah kau saja!" Donghae membuang muka, menatap keluar jendela pesawat dengan kesal.

Hyukjae tersenyum. Biar saja dia dibilang tidak tahu malu. 'Aku pasti akan membuatmu membalas perasaanku, Hae ah. Aku janji.'

'… Selama apapun itu.'

:

:


-Siwon's House…


Yesung memandangi langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Yang ada di benaknya kini hanyalah Donghae. Sedang apa Donghae sekarang? Apa Donghae baik-baik saja?

Siwon yang sedari tadi berada di sampingnya hanya memandangi Yesung sedih. Sudah hampir sejam setelah mereka sampai ke rumah Siwon. Siwon memang sudah memutuskan untuk merawat sendiri Yesung dirumahnya.

"… Yesungie…" panggil Siwon.

"…"

"Hei… Yesungie… kau dengar aku…?" tanya Siwon dengan suara bergetar. Tapi yang didapatnya hanyalah helaan napas teratur Yesung. wajahnya tetap datar, dengan pandangan kosong ke langit-langit kamar.

Tak ayal air mata Siwon mulai jatuh. Rasanya sakit sekali saat tidak diacuhkan begini. Sepertinya Yesung memang susah sekali melepas kepergian Donghae.

"… Tidurlah Yesungie… kau pasti lelah." Siwon mengelus surai Yesung. ia tersenyum, lalu berbalik hendak pergi, namun ujung bajunya kembali ditarik oleh Yesung. ia menoleh ke arah Yesung, namun yang didapatinya lagi-lagi hanyalah pandangan lurus Yesung ke langit-langit kamar.

Siwon memaksakan dirinya tersenyum. "… Aku akan menemanimu tidur." Siwon merebahkan dirinya di samping Yesung, lalu memakai lengannya sebagai bantal kepala Yesung. ia kemudian berbisik sebelum menutup matanya. "… Saranghaeyo…"

"…" dan Yesung tetap tak merespon apapun. Bahkan saat Siwon sudah terlelap pun Yesung masih tetap terjaga. Yesung perlahan menoleh, memperhatikan wajah Siwon.

Sejujurnya jantungnya terus berdegup kencang sedari tadi. Siwon… Siwonnya… Siwonnya yang selalu dia cintai… kini berada di sampingnya… memeluknya… mencintainya…

Tapi entah kenapa, Yesung takut. Takut Siwon akan berubah lagi. Takut Donghae akan terluka.

… Takut kalau ini semua hanyalah mimpi. Dan ketika ia bangun, ia akan menemukan Donghae di sampingnya.

Perlahan air mata menetes jatuh dari sudut mata Yesung. Dia tahu dia egois. Tak mau melepas Siwon, tapi juga tak ingin melukai Donghae. Siapapun yang Yesung pilih, pasti akan membuat yang lain terluka.

Yesung benci dirinya. Benci pada dirinya yang egois. Dirinya yang plinplan. Dirinya yang seenaknya. Dirinya yang membuat dua orang yang sangat dia cintai terluka.

… Kalau bisa… Yesung ingin ending yang bahagia… dimana dia bisa hidup tenang dan senang bersama suami dan anak yang sangat dicintainya.

Melalui hari bersama-sama, dengan tawa, dengan senyum, pokoknya Yesung ingin ending dimana tidak ada yang terluka. Yesung tahu, impiannya itu sangat konyol dan tidak mungkin terjadi.

… Karena waktu sudah berlalu meninggalkannya. Dan dia sudah tidak bisa kembali lagi.

Tangan Yesung terangkat, membelai wajah Siwon lembut. "… Won… nie…"

"Saranghae…"

DEG

Yesung tersentak saat teringat kata-kata Donghae. Ia sontak berbalik dengan tubuh gemetar. '… Hae…'

… Dia tidak tahu kalau sesungguhnya Siwon belum tidur. Siwon membuka matanya lalu memandangi Yesung yang tidur membelakanginya. Ia dapat melihat tubuh gemetar Yesung, dan mendengar isakkan lirihnya. Yesung menangis.

Tatapan Siwon menyendu.

'… Saranghaeyo, Yesungie… jeongmal saranghaeyo…'

:

:

"Yesungie…" panggil Siwon pada Yesung yang masih duduk di kursi di depan meja makan. "… Makanlah, kau pasti lapar 'kan?"

Yesung masih terdiam, menatap kosong entah kemana. Dan itu membuat Siwon semakin sedih. "… Yesungie…"

Namun lagi-lagi hanya diam yang didapatnya sebagai respon. Siwon diam sejenak, namun ia berdiri, menarik kursinya untuk mendekati Yesung. "Arra, aku akan menyuapimu, Yesungie." Ia mengambil sendok Yesung, dan menyendok nasi dan lauk yang sudah dibuatnya tadi. Ia lalu menyodorkannya pada Yesung.

Namun Yesung tak bergeming. Tetap terdiam. Tak membuka mulutnya walau Siwon berusaha menyuapinya.

Siwon diam. Ia mengembalikan sendok Yesung ke piring(?), lalu menatap Yesung sendu. "Yesungie…" lirihnya.

Namun Yesung tetap diam. Matanya kosong menatap ke arah piring berisi makanannya.

Siwon mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Yesung lembut. "Kau tidak lapar…?"

"…"

Tatapan Siwon memiris. "… Kumohon Yesungie… makanlah… aku tidak mau kau sakit…" lirih Siwon. Namun Yesung masih diam. Tak mampu menjawab.

"… Aku yakin Donghae juga tidak mau kau sakit." Siwon tersenyum melihat perubahan di raut wajah Yesung. "Dia pasti akan sedih kalau tahu kau sakit…"

"…" Perlahan tangan Yesung tergerak mengambil sendok. Iapun mulai makan dalam diam.

Yang bisa Siwon lakukan hanya diam memandangi Yesung yang terus makan.

… Jadi memang Cuma Donghae ya…?

Sebuah senyuman tipis terpampang di wajahnya.

'… Aku kalah, Hae ah…'


-Kanada…


"Yak! Siapa bilang kau boleh tidur di kamarku?!"

Hyukjae melirik Donghae kesal. "Cerewet sekali! Padahal dulu kau seenaknya tinggal di rumahku dan mengklaim kamarku!" dengusnya. "Pokoknya aku tidur di sini! Kau di kamar tamu saja!" suruh Hyukjae seenaknya sambil mengeluarkan pakaiannya dari koper. Mereka baru saja tiba di rumah Donghae 15 menit yang lalu.

Donghae mengacak surainya frustasi. "Tapi kamar di rumah ini Cuma satu!" geramnya. "Aaahh! Pulang kau!" usirnya kejam, tangannya menarik Hyukjae –meminta(read: memaksa)nya untuk keluar dari kamarnya.

"Tidak mau!" tolak Hyukjae sambil mencengkram kasur. "Aku mau tinggal di sini! Titik!"

Donghae merasa akan menangis sekarang…

Kring~

"Ah, ada telepon…" Hyukjae merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Ia mengernyit saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya. "Siwon ahjussi?"

Donghae terdiam mendengar nama Siwon disebut.

Hyukjae mengangkat telepon dari Siwon. "Yeoboseo, ahjussi?" sapanya. "Ne, aku bersama dengan Donghae. Ya ya, dia mengajakku ke Kanada."

Donghae melotot mendengar celetukan Hyukjae. "AKU TIDAK MENGAJAKMU!" jeritnya namun tidak diacuhkan Hyukjae.

"Kau mau bicara dengan Donghae, ahjussi? Arraseo." Hyukjae menyodorkan ponselnya kepada Donghae, dan disambut Donghae dengan ekspresi ragunya.

"… Yeoboseo…?"

"Hae…" terdengar suara lirih Siwon. "Kau menang…"

Donghae mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"

"Yesungie sudah tidak mencintaiku." Donghae melotot. "Dia memang mencintaimu. Aku akan mengantarnya kembali ke Kanada."

Hening sejenak, namun Donghae kembali membuka suara. "Atas dasar apa kau bilang, kalau umma sudah tidak mencintaimu?"

"… Tidakkah kau mengerti, Hae ah?" Donghae dapat merasakan kepedihan dan sakit di setiap kata Siwon. "Hanya kau… hanya kau yang bisa membuatnya bahagia. Hanya kau…"

Donghae mengepalkan tangannya. "HANYA AKU?! KAU TIDAK TAHU BETAPA SEDIHNYA DIA SELAMA INI?!" bentak Donghae emosi. "DIA MENCINTAIMU! BAHKAN SAAT BERSAMA DENGANKUPUN, DIA MASIH TETAP MENCINTAIMU!"

Hyukjae terkejut melihat Donghae yang tampak murka. Ia buru-buru menunduk. Takut bicara yang justru membuat runyam suasana.

"…" tak ada balasan dari Siwon.

"… Dia masih mencintaimu…" suara Donghae memelan. "… Dia hanya belum bisa menerimamu. Biarkan aku bicara padanya."

Hening sejenak, namun tak lama kemudian, Donghae dapat mendengar suara serak yang sangat lirih.

"Hae…?"

Raut wajah Donghae melembut. "Hai, umma…"

"Hae… hiks… aku merindukanmu…" Donghae memejamkan matanya saat mendengar isakkan umma yang sangat dicintainya itu. dadanya terasa sesak.

"Uljimma, umma… Hae tidak suka umma menangis…" ucap Donghae lembut, dan sepertinya itu cukup untuk membuat Yesung menahan isakkannya. "Umma… maukah umma jujur padaku?"

"Ne?"

"… Umma lebih mencintai siapa?" tanya Donghae langsung. "Jangan khawatir umma… aku tidak akan marah. Aku hanya ingin umma jujur pada diri sendiri."

"…"

"Aku tetap anak umma. Aku tetap menyayangimu, aku akan tetap mencintaimu. Sampai kapanpun juga. Aku ingin melihatmu bahagia, umma. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja."

"…"

Donghae tersenyum. "Siapa yang kau cintai, umma…? Siapa yang paling bisa membuatmu bahagia…? Hae atau dia?"

"… Aku…"

Suara Yesung mengecil dan gemetar.

"…"

Donghae tersenyum. Yesung tak bersuara. Dan itu sudah menjawab pertanyaan Donghae. "Aku mengerti. Berbahagialah umma. Teruslah tersenyum. Tetaplah tertawa. Berbahagialah dengannya."


… Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan yang tak terkira untukku juga.


:

:

Siwon memandangi Yesung yang sedari tadi terdiam sambil tetap memegang teleponnya. Wajah Yesung tampak...

…Siwon bingung, kenapa wajah Yesung tampak… melembut…? Padahal sedari tadi yang Siwon temukan hanyalah wajah kosongnya.

'… Ternyata memang hanya Donghae yang mampu membuatmu seperti itu…'

"Yesung…" panggil Siwon pelan, membuat Yesung tersentak. Yesung terdiam di tempatnya, tak menoleh ke arah Siwon. Melirik juga tidak. Hal itu membuat Siwon semakin sedih. "… Mian karena sudah memaksamu menerimaku lagi… aku egois…" Siwon mengepalkan tangannya.

… Ini yang terbaik.

"Aku akan mengantarmu kembali ke Kanada." Siwon tersenyum. "Aku akan memesan tiket. Besok pagi kita berangkat."

Siwon berbalik hendak pergi, meninggalkan Yesung yang masih terpaku.

Namja itu tampak sibuk dengan pikirannya sendiri.


-Esoknya…


Yesung memandang kosong entah kemana. Mereka sampai di bandara sekitar sejam yang lalu. Tapi Yesung tak kunjung bicara. Sementara Siwon di sampingnya tak pernah sedetikpun melepaskan genggamannya.

Seakan Siwon ingin mencintai setiap detik yang tersisa.

Kesempatan baginya menggenggam jari mungil ini.

Karena waktunya tinggal sedikit lagi.

"... Yesungie... terima kasih."

"..."

"Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan untuk bersamamu." Siwon tersenyum, menatap lurus ke depan, berupaya menahan air mata yang sudah tertahan di pelupuk matanya. Mengeratkan genggaman tangannya. "Aku ingin kau tahu, setiap detik yang kulalui bersamamu... aku mencintainya."

"..."

"Mungkin aku akan terdengar bodoh. Tapi hingga kini aku mengharapkan keajaiban. Bahwa... kau akan mencintaiku juga." Siwon mengangguk. "... Tak apa 'kan jika aku bermimpi...?"

"..."

"Bagaimanapun..." Siwon tersenyum. "Kau adalah orang yang kucintai."

"PERHATIAN. PERHATIAN. KEPADA PENUMPANG XX AIR DENGAN TUJUAN PENERBANGAN OHIO KANADA, DIHARAP SEGERA MEMASUKI PESAWAT KARENA PESAWAT AKAN LEPAS LANDAS SEBENTAR LAGI."

"Ah, sudah saatnya, Yesungie. Kajja." Siwon berdiri.

Namun gerakannya terhenti saat sepasang lengan Yesung melingkar di perutnya.

DEG

Mereka berdua terdiam. Siwon masih bingung. Apa yang ingin Yesung katakan? Kenapa memeluknya...? Apa Yesung hanya ingin memeluknya saja? Tanpa ada maksud ataupun keinginan lain? Benarkah? Kenapa itu membuat Siwon takut?

Dia takut Yesung akan melepas pelukannya, dan mengatakan itu hanya kesalahan.

"Wonnie..."

Saat itulah pertahanan Siwon runtuh.

Siwon berbalik, dan membawa Yesung masuk kepelukannya. "Yesung… Yesung…" ia mengeratkan pelukannya. "… Tolong jangan begini…"

Yesung diam.

"Jangan membuatku berharap…"

Yesung mendongak, merasakan tetes-tetes air mengenai lehernya.

… Siwon menangis.

"Aku mencintaimu… aku mencintaimu…"

Yesung memejamkan matanya. Meresapi semua kata-kata yang Siwon racaukan. Dan setiap detik, ia dapat merasakan pelukan Siwon semakin mengerat. Seakan tak mau melepas Yesung lagi. Siwon ingin jujur. Sudah tak mau berbohong lagi.

Kedua tangan Yesung perlahan terangkat, dan ikut membalas pelukan Siwon. "… Wonnie…"

Siwon terpaku ditempatnya.

Yesung mulai merasakan matanya memanas. Mengingat lagi semua kenangannya dengan Siwon. Walau banyak kenangan yang membuat Yesung seakan ingin menangis, tapi mengingat itu kembali entah kenapa membuat Yesung...

... Tak ingin melepaskan pelukan ini lagi.

"Wonnie… hiks… Wonnie…!" air mata Yesung kembali jatuh. "Wonnie…! Jangan tinggalkan aku lagi…! jebal…! Hiks! Jangan pergi… jangan pergi…!"

Wajah Siwon mulai melembut. "… Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi." Siwon mengecup puncak kepala Yesung. "… Aku janji."

Mereka kemudian melonggarkan pelukan mereka, saling menatap dalam ke masing-masing manik. Seakan menyelami jiwa masing-masing. Kemudian entah bagaimana bibir mereka telah bertemu.

Dan walau Siwon masih bisa merasakan tubuh Yesung gemetaran, tapi dia tahu satu hal.

Yesung sudah menerimanya.

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Bisik Siwon di sela ciumannya. "… Dan takkan kubiarkan kau pergi lagi."

"Dan meski jika nanti kau membenciku, kau akan tetap menjadi satu-satunya orang yang paling kucintai di dunia ini."


FIN~/plak


Oke tamat! FF selanjutnya!/plak

Jadi endingnya YeWon ne… hmm… mengapa begitu?/plak

Semoga diterima deh yah!XD nyahahah! Ucchan encok.. ugh, nyelesain 2 Fic dalam satu hari itu susyah yah, apalagi kalo lagi writer block begini… TT

Btw Ucchan berterima kasih atas reviewnya!^^ Ucchan akan berjuang melanjutkan FF yang lain! Sekali lagi terima kasih n mian belum bisa bales review, Ucchan udah encok karena bales review di I say I love you? I lied. Tapi Ucchan juga menghargai review di FF ini! Gomawoyo!^0^

Singkat kata,

Review please~?