Dan entah sejak kapan lumatan itu berubah menjadi pagutan liar. Namun seakan tersadar dari perbuatannya Naruto menarik diri, tangannya terangkat menghapus saliva yang mengalir pada ujung bibir merah Ino. Menundukkan kepalanya pada telinga Ino dan berbisik pelan.

"Kau baru saja bercumbu dengan pelayan nona." Naruto tersenyum miring. Ino membelalakan matanya terkejut.

'WHAT THE HELL' batinnya menjerit histeris.

Naruto by Masashi Kishimoto

Pair

NaruIno

WARN: NO PLAGIAT PLEASE, TYPO DSB

RADAR

Bagian 2

'PLAK'

Ino mendorong dada Naruto dengan kedua tangannya, dengan nafas tersengal dan wajah merah padam menatap Naruto yang sedang memegangi pipinya yang merah tanda lima jari darinya.

"DASAR BAJINGAN MESUM SIALAN."

Dengan santai Naruto mengelus wajah merah padam gadis didepannya, membingkai wajah merah padam sang dara Yamanaka.

"Walau aku bajingan mesum yang katamu sialan, kamu tetap menikmatinya bukan?" Seringai puas terpampang pada wajah rupawan didepannya. Harga diri Ino semakin jatuh, oke memang tadi ia –sedikit- terbuai hanya sedikit. Dan walaupun cumbuan tadi sangat memabukkan membuat akal sehatnya hilang, tetap saja ino bergidik jika mengingat siapa orang yang membuatnya merasakan sensasi seperti itu. Hanya pelayan rendahan, well terdengar jahat tapi itu kenyataan.

Dengan cepat Ino menghempaskan tangan Naruto dari wajahnya, tanpa berkata-kata ia bergegas meninggalkan Naruto diistal oh tentu saja dengan bonus injakan dari boot hitam kesayangannya.


Ino memukul-mukul kepalanya dengan bantal berenda merah dikamarnya, Karin bilang bantal ini sangat empuk dan lembut karena isinya adalah bulu-bulu angsa putih yang dibalut dengan sarung bantal sutra. Tapi persetan dengan semua itu, karena mengapa ia merasakan –dirinya-merasa-bersalah karena telah memaki dan 'sedikit' menyakiti Naruto dengan tamparan dan injakannya.

Ino meraba bibirnya pelan dan memejamkan mata, rasa mint dan nikotin masih berbekas dimulutnya. Apakah pelayan itu merokok? Menelan ludah Ino mengahapus ingatan akan kejadian tadi, oke walaupun ia benci mengatakan tapi kini bagian pusat dirinya basah.

"Ino-chan bagaimana berkuda tadi apakah menyenangkan?"

Ino terduduk kaget diranjang saat suara Karin membahana bergema dikamarnya.

"Kau mengagetkanku saja, (mendengus) apanya yang menyenangkan? Aku tidak jadi berkuda karena pelayanmu yang kurang ajar itu membuat moodku jelek." Dan basah, tambahnya dalam hati.

"Benarkah? Aku sungguh minta maaf jika pelayanku yang tidak sopan itu membuatmu tidak nyaman." Ucap Karin tidak enak seraya berojigi didepan Ino.

"Ie bukan begitu maksudku Karin, lagipula ini bukan salahmu." Ucap Ino panik.

"Baiklah jika begitu, apakah kau tidak bersiap-siap? Sebentar lagi makan malam dimulai." Karin bertanya saat melihat pakaian Ino masih sama dengan yang Ino kenakan saat akan berkuda tadi siang.

"Be-benarkah?" Ino melihat jam dinding menunjukkan pukul 6 lewat 5 menit. Oh tidak.

"Bergegaslah, makan malam dimulai jam 7. Aku menunggumu dibawah Ino-chan."


Ino menatap dirinya di cermin, menatap gaun gading selutut model Sabrina yang melekat ditubuhnya. Seakan-akan gaun karya Christian Dior ini dijahit khusus untuknya. Serta Kristal amor sapphire yang menghias leher jenjangnya.

Apakah dandanannya untuk makan malam kali ini tidak berlebihan. Ino kembali menilik make up tipis diwajahnya, ia tidak memoleskan foundation seperti biasa karena ini hanya acara makan malam biasa, dan ia tidak ingin wajahnya terlalu tebal seperti dempul. Dan rambutnya hanya disanggul rendah biasa tanpa pernak pernik, memperlihatkan bahu telanjangnya. Dan sentuhan terkahir kaki jenjangnya mengenakan stiletto heels hitam hadiah dari sahabatnya sesame desainer, Jimmy Cho.

Ino menuruni tangga perlahan, ia sedikit berdebar mengingat ia terlambat sampai dimeja makan 5 menit. Untung saja dipersimpangan ia melihat Karin, yang terlihat cantik dengan drees marron selutut bertali spageti, Karin mencepol rambutnya dan make up tipis mempercantik dirinya menghilangkan kesan jahil yang selalu ada didirinya.

"Beruntung aku bertemu denganmu, aku sedikit gugup" ucap Ino pelan.

"Seorang Yamanaka sepertimu bisa gugup juga heh," seringai culas menghiasi wajah Karin.

"Aku orang yang tepat waktu, sangat tidak biasa bagiku untuk datang telat seperti ini."

Karin memutar matanya, Ino terlalu hiperbolis.


Ino memakan hidangan didepannya dengan tenang, tak memperdulikan suara Haruno muda didepannya yang tengan berusaha memprovokasi menaikkan amarahnya.

Ino dan Karin baru saja memasuki ruang makan, dan karena kedatangannya yang 'sedikit' telat membuat semua pasang mata menatap kearah mereka. Bisa Ino tangkap beberapa atau hampir semua lelaki diruangan itu menatap Ino dan Karin takjub. Dengan dandanan mereka yang sederhana justru menonjolkan kecantikan mereka, sederhana, elegan dan berkelas.

"Mereka terpesona padamu Ino-chan hihii," Karin berbisik ditelinganya.

"Benarkah? Bukannya mata mereka tertuju padamu?" Ino dan Karin tertawa pelan. Sontak saja kaum adam yang melihatnya terpesona, dan seperti biasa aka nada lirikan iri dan sinis dari kaum hawa yang melihatnya,

'Byur'

"Ups, maafkan aku Karin-chan aku tidak sengaja menumpahkan minumanku. Tiba-tiba saja tanganku licin dan gelasku terlepas begitu saja." Ino menatap tajam rambut pink yang sedang membual didepannya. Baru saja tangan Ino ingin menjambak kepala pink itu, tangan Karin sudah menahannya.

"Ino-chan, aku tidak apa-apa. Kumohon jangan membuat keributan diacara kakak-ku ini," ucap Karin memohon.

"Karin, ayo ganti bajumu. Malam ini kau makan malam denganku dan tidak ada penolakan."

Ucapan tegas seorang pemuda membuat Ino mengatupkan kembali mulutnya yang baru saja ingin mengatakan sesuatu pada Karin. Ughh mengapa akhir-akhir ini banyak orang yang selalu mendahuluinya untuk mengeluarkan kata-kata?

Ino menatap pemuda berambut merah itu dengan curiga.

"Tenang saja aku akan menjaga Karin-chan." Ucap pemuda itu dengan datar, Ino mulai sanksi apakah Karin akan baik-baik saja dengan pemuda tanpa alis yang tampan itu?

"Ino-chan aku baik-baik saja, kau makanlah dulu kita akan bertemu lagi dikamar." Ucap Karin tersenyum pada Ino. Dan seperti biasa belum sempat menjawab Karin sudah pergi dengan pemuda tidak jelas itu. Dan Ino hanya bisa menghela nafas pasrah melangkah menuju kursi kosong didepannya.


Dan kesabaran Ino seakan-akan sedang diuji oleh Kami-Sama, karena ternyata kepala pink itu tiba-tiba saja ada didepannya dengan putri Hyuuga yang katanya anggun dan bersahaja itu. Sedari tadi mulutnya tidak berhenti mengoceh, ohh kasihan sekali Hinata Hyuuga mempunyai teman yang selalu minta dibogem.

"Kau tahu Hinata-chan, Sasuke-kun itu menyukaimu kan mungkin sangking frustasinya simata empat (panggilan ejekan bagi orang berkacamata) itu berubah haluan menjadi lesbi."

"Sa-Sakura-chan tidak baik berburuk sangka."

Jawaban bagus Hyuuga, Ino menambahkan dalam hati. Ino mengernyit jijik melihat Sakura yang mendengus ketika masih mengunyah makanan. Table mennernya sangat-sangat berbeda dengan Hinata.

"Kudengar ia meminta sekamar dengan seorang perempuan berambut pirang!" bisa Ino lihat dari ujung matanya, jika Haruno muda itu melirik terang-terangan padanya. Sabar Ino, sabar.

"Atau aku sudah menduga mungkin sipirang itu hanya memanfaatkan nona muda manja itu agar mendapatkan kakaknya, trik yang sangat murahan bla-bla-bla …"

Menelan kunyahan terakhir Ino membersihkan sudut-sudut bibirnya dengan sapu tangan, lalu berdiri anggun. Tangannya meraih mangkuk Kristal yang berisi sup ayam hangat didepannya. Uhh sayang sekali makanan selezat ini menjadi senjatanya, mubazir rasanya.

"Lalu, kau tau Hin- AWW PANAS, APA YANG KAMU LAKUKAN JALANG?!"

Tersenyum tipis Ino menatap Sakura yang berlepotan cairan lengket didepannya.

"Maafkan aku sungguh, tanganku licin dan tidak sengaja menjatuhkannya. Apakah kau akan memaafkanku yang sungguh tidak sengaja ini." Ino sengaja mengucapkannya dengan nada merajuk.

"KAU-" Ino menutup mulutnya kaget saat melihat tangan kekar menahan pergelangan tangan Sakura yang hampir menamparnya.

"Lepas Naruto-kun, kau tidak lihat apa yang ia perbuat pada tunanganmu ini?"

Apa? Ino tidak salah dengar? Naruto adalah tunangan sirambut pink ini? Astaga pelayan?

"Aku tidak menyangka Haruno-san, seleramu adalah seorang pelayan." Ino tersenyum miring dan memperhatikan Nauro dengan setelan Armani hitam yang membalut tubuh atletisnya dan Oxford black yang menjejak lantai. Apalagi jam tangan Jaeger-LeCoultre yang menghiasi tangannya. Jika dihitung-hitung outfit Naruto bernilai puluhan juta. Siapa sebenarnya Naruto ini?

"Sakura dengar aku bukan lagi tunanganmu, dan kau Yamanaka-san ikut denganku!" ucap Naruto seraya melangkahkan kaki.

Ino hanya terdiam mematung, Naruto sekarang berbeda dengan Naruto yang diistal tidak ada nada ucapan yang mengejek menggoda, yang ada penuh wibawa dan ketegasan.

Naruto membalikkan badannya saat dirasa Yamanaka muda itu tidak menuruti ucapannya, dengan langkah lebar Naruto mendekati Ino.

"Kyaaa apa yang lakukan bajingan mesum!" Ino berteriak seraya memukuli punggung orang yang memanggulnya itu.

"Kau dalam masalah manis." Ucap naruto seraya meremas bokong Ino pelan.

TBC

Taraaa maaf ya pendek lanjutannya kehapus hiks nanti akan Hazel update lagi. Semoga kalian puas dengan tulisan yang Hazel tulis didini hari ini hehe.