"Kyaaa apa yang lakukan bajingan mesum!" Ino berteriak seraya memukuli punggung orang yang memanggulnya itu.

"Kau dalam masalah manis." Ucap Naruto seraya meremas bokong Ino pelan.

Naruto by Masashi Kishimoto

Pair

NaruIno

WARN: NO PLAGIAT PLEASE

RADAR

Bagian 3

Ino memegang kepalanya pelan, ia merasakan dunia sekitarnya berputar. Idiot itu, tidak bisakah pemuda itu menyeret dirinya 'baik-baik'? bukan dipanggul seperti memanggul karung beras seperti ini.

Ino membuka mata mengamati ruangan sekelilingnya, ini bukankah kamarnya sendiri? Untuk apa ia repot-repot dibawa kesini? Tanpa dipaksa tentu saja untuk menghindari amukan Sakura, Ino akan berlari kesini.

Krieet.

Ino pikir yang menyembul adalah kepala merah Karin, namun Ino hanya bisa menelan ludah saat matanya menangkap kepala pirang menyembul sipelayan menyebalkan oh ralat kepala pirang yang-bisa-saja-entah-pelayan-atau-bukan. Mengingat tatapan orang-orang tadi dan cara berpakaian sipirang itu, Ino sanksi apakah ia masih pantas disebut pelayan.

Ino mengalihkan pandangannya, bisa ia rasakan tatapan menusuk dari pemuda tan yang tengan menumpukan badannya disamping pintu kamar.

"Jadi bisa kau sebutkan berapa kesalahanmu Nona selama belum genap 24 jam kita bertemu?"

Ino menolehkan cepat lehernya saat Naruto melontarkan, pertanyaan sarkas itu. Bahkan sangking cepatnya Ino merasakan lehernya sendiri berjengit ngilu. Dengan kekuatan yang ia kumpulkan setengah mati, Ino berdiri tegak.

"Saya tidak mengerti maksud Anda," Ino mendongakkan dagunya, tentu saja ia menolak terintimidasi.

"Benarkah kau tidak mengerti? Atau aku harus mengingatkanmu heum?"

"Bisakah Anda keluar dari kamar saya? Saya membutuhkan istirahat, saya kira Anda tahu betapa lelahnya saya hari ini." Bilang Ino pengecut, tapi untuk saat ini ternyata ia telah kehilangan keberanian untuk menantang sipirang menjengkelkan itu. Apalagi saat ia melihat tatapan dingin yang membuat nyalinya ciut.

Dengan acuh Ino melangkah menuju meja rias, mengeluarkan milk cleanser, face tonic dan kapas dari bag comesticnya. Dengan tangan bergetar (karena merasakan tatapan tajam) Ino mengoleskan milk cleanser pada wajahnya lalu menghapusnya dengan kapas. Juga membasahi kapas selanjutnya dengan face tonic, kini wajah Ino sudah bersih dari make up. Mungkin karena ini adalah kegiatan rutinnya setiap sebelum tidur Ino melupakan keberadaan Naruto. Dan kembali menyadarinya saat ia akan kekamar mandi untuk mencuci mukanya dengan pembersih.

Menghela napas jengkel Ino menatap Naruto, "Anda masih disini?"

"Tentu saja ini kamarku, harusnya kau yang angkat kaki dari sini." Sembari melonggarkan dasinya, Naruto melangkah santai menuju walk in closet (yang baru Ino sadari ada) disamping kiri kamar mandi.

"Tunggu apa maksud Anda? Jelas-jelas ini kamar saya yang sudah diatur nyonya rumah." Ino menahan tangan Naruto.

"Nyonya rumah kheh? Dan kau melupakan tuan rumah, aku heran siapa yang mengundangmu ke acaraku?"

"A-apa maksudmu?" Ino menghilangkan keformalan dan tidak bisa menahan ekspresi kagetnya, yang Ino yakin membuat lelaki didepannya tertawa puas dalam hati.

"Kau bahkan tidak mengenali penyelenggaranya dengan baik, lantas untuk apa kau ada disini? Kau membuang-buang waktumu saja Nona."

'Cucuku mengadakan pesta kecil-kecilan dipedesaan. Semoga kau menikmatinya.'

Ucapan Tsunade tiba-tiba terngiang.

'Cucuku mengadakan pesta kecil-kecilan dipedesaan. Semoga kau menikmatinya.'

'Cucuku mengadakan pesta kecil-kecilan dipedesaan.'

'Cucuku mengadakan pesta'

'Cucuku'

Ino tersentak, ohhh My Lord don't tell me.

"K-K-Kau cucu Tsunade-sama? Jangan bercanda."

"Telat sekali kau menyadarinya." Menyentak tangan Ino, Naruto melanjutkan langkahnya menuju walk in closet.

Ino mematung, tiba-tiba saja tubuhnya merasakan panas dingin. Kami-sama, apa yang telah hamba cantikmu ini lakukan? Ino masih mengingat kelakuan kurang ajarnya tadi siang pada Naruto. Ya ampun, Ino menangkup kedua pipinya yang memerah malu. Jika Naruto adalah cucu Tsunade, berarti besar kemungkinan ia adalah kakak lelaki yang sering Karin ceritakan. Oh sial, ia di jebak Karin. KARIN TUNGGU PEMBALASANKU, sumpah Ino di dalam hati.

Ia akan membalas Karin, namun nanti. Setelah Ino menemukan akar permasalahn kesalahpahaman ini, Ino menyusul Naruto kedalam walk in closet.

"Naruto-san anda harus mendengar dulu penjelasan say- "

Ino melotot kaget saat menemukan Naruto hanya mengenakan boxernya saja, dan shirtless menontonkan bisep dan sixpacknya. Maybe this is a beauty disaster they call it. Oh sial, mengapa Naruto ini seksi sekali.

"Kau ini senang sekali ya melihatku setengah telanjang ini, jangan melihatku seperti itu. Tatapanmu seperti ingin memperkosaku saja."

Ini kembali dibuat ternganga, namun bukan ternganga terpesona seperti tadi melainkan terngangan karena ucapan penuh percaya diri. Ketertarikan Ino pada Naruto jatuh seketika. Lagipula kapan ia tertarik pada Naruto? 'Saat kau melihatnya bermandikan keringat jika kau lupa' bitch sidenya berbicara.

Tanpa berkata-kata Ino keluar dari walk in closet Naruto. Okay ia kehabisan kalimat sarkas untuk membalas perkataan Naruto. Bisa Ino dengar suara tawa Naruto menggema ketika ia meninggalkan walk in closet.

Setelah beberapa saat Ino melihat Naruto menghampiri nya yang sedang duduk di pinggiran ranjang, dan mendengus tidak percaya saat melihat Naruto hanya mengenakan celana khaki cream yang menggantung dipinggul dan jatuh hingga mata kakinya tanpa memakai atasan. Sekali lagi Ino tekankan tanpa memakai atasan apa-apa saudara sekalian.

"Aku pikir, kau benar-benar dijebak oleh adikku itu. Hahaa itu semua terlihat jelas dari ekspresi kagetmu tadi," Ino mendengar Naruto membuka percakapan.

"Dan ucapan Anda sangat-sangat tidak sopan Naruto-san."

"Ucapan ku yang mana ya? Dan lagi jangan berbicara formal padaku."

"Kau sialan, jangan pura-pura lupa brengsek."

"Woaaah, aku memintamu menghilangkan keformalan antara kita bukan berarti kau bebas memakiku Nona. Dan lagi aku heran kenapa kau percaya pada Karin."

"Tentu saja tidak bisakah kau lihat adikmu terdengar sangat meyakinkan, dan semua bukan salahku sepenuhnya." Ino melakukan pembelaan diri.

"Percaya jika aku pelayan?" Naruto menaikkan sebelah alisnya menatap wajah Ino yang memerah malu.

"Bukan salahku juga jika aku percaya, melihatmu yang berpakaian seperti gembel pinggir jalan. Orang-orang akan melihatmu sebagai pelayan yang bertugas membersihkan istal kuda." Ino berucap santai.

"Hahahaa kau gadis yang menarik, kenapa aku baru bertemu denganmu sekarang?" Naruto menatap penuh arti pada Ino, sedangkan Ino hanya mengernyit bingung.

Dan sejak kapan dirinya terbaring dibawah tubuh Naruto, KAMI-SAMA COBAAN APALAGI INI?

TBC

Maafkan tangan Hazel yang gatal ingin publish lanjutan pendek seperti ini hehe. Dan Hazel menulis pendek-pendek karena tidak punya banyak waktu hiks. Sarana juga yg kurang memadai, karena Hazel menulis dilaptop punya kakak Hazel. Sembunyi-sembunyi pula. Hazel bisa digorok jika ketauan menulis cerita seperti ini. Untuk review dan saran terimakasih banyak, Hazel tidak menyangka ada juga orang yang mau membaca cerita ini. Untuk weekend nanti Hazel upayakan untuk update lebih panjang hehe. Hazel upayakan ya bukan janjikan hehee. See ya di next chapter.